TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Transmigrasi 2.1.1 Pengertian Transmigrasi
Martono (1986) mengemukakan bahwa transmigrasi, apabila dilihat dari definisi demografi, adalah bagian dari migrasi yang merupakan salah satu komponen perubahan atau pertumbuhan penduduk dengan tujuan pembangunan. Dengan kata lain, transmigrasi merupakan perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain dalam rangka pembentukan masyarakat baru untuk membantu pembangunan baik bagi daerah yang didatangi ataupun yang ditinggalkan dalam rangka pembangunan nasional.
2.1.2 Kebijakan Transmigrasi
Kebijakan transmigrasi dalam Panca Matra Transmigrasi Terpadu, yaitu melalui rumusan “transmigrasi merupakan pemindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain dalam rangka pembentukan masyarakat baru untuk membantu pembangunan daerah yang ditinggal dan daerah yang didatangi dalam rangka pembangunan nasional”. Kepres No.1 Tahun 1973 menetapkan pulau-pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok sebagai daerah asal transmigrasi. Ada empat macam ukuran (kriteria) untuk menentukan prioritas pemindahan penduduk dari pulau-pulau tersebut di atas yaitu:
1. Daerah yang terkena bencana alam
2. Daerah kritis (tanah gundul, daerah aliran sungai, dan sebagainya) 3. Daerah yang penduduknya terlalu padat
4. Daerah yang terkena pembangunan (umpamanya untuk pembangunan dam)
Pemindahan penduduk disini bukanlah tanpa beban dan resiko. Penduduk adalah manusia. Orang-orang telah lama hidup dan bekerja bersama dan menghasilkan kebudayaan, dipindahkan dan ditempatkan dalam suatu wilayah pemukiman baru. Mereka bercampur dan bergaul dengan kelompok yang sama-sama dipindahkan (dari berbagai wilayah) maupun kelompok manusia yang ditemui (penduduk setempat). Oleh karena itu, melalui transmigrasi dipindahkanlah berbagai sistem dari kebiasaan dan cara-cara sistem wewenang dan kerja sama, sistem tingkah laku dan kebiasaan-kebiasaan manusia. Transmigrasi mempercepat perubahan pengelompokan dan penggolongan manusia dan membentuk jalinan hubungan sosial dan interaksi sosial yang baru. Pemindahan penduduk yang dilakukan dalam rangka program transmigrasi berarti membentuk pola hidup bersama yang baru, yang akan melahirkan manusia-manusia baru dan akan menumbuhkan masyarakat baru (Arman, 2006).
2.1.3 Jenis Transmigrasi
Pemerintah mengupayakan jenis-jenis transmigrasi yaitu transmigrasi umum, transmigrasi swakarsa atau transmigrasi spontan, dan transmigrasi lokal. Transmigrasi umum adalah transmigrasi dimana semua biaya untuk transmigrasi adalah ditanggung oleh pemerintah. Transmigrasi swakarsa atau transmigrasi spontan adalah transmigrasi yang dilakukan penduduk dengan sebagian biaya ditanggung sendiri tetapi masih diatur oleh pemerintah. Transmigrasi lokal adalah pemindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain yang masih satu Pemerintahan Daerah Provinsi (Arman, 2006).
9
2.1.4 Peranan Transmigrasi dalam pembangunan
Menurut Martono (1986) dalam Singarimbun dan Swasono (1986), apabila dilihat secara demografi, transmigrasi dipandang sebagai suatu upaya untuk mencapai keseimbangan penyebaran penduduk, juga dimaksudkan untuk menciptakan perluasan kesempatan kerja. Transmigrasi ini juga dinilai membantu mempercepat terwujudnya trilogi pembangunan, yaitu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, serta stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.
2.1.5 Pemindahan penduduk yang harus ditangani secara lintas sektoral.
Transmigrasi memindahkan penduduk atau manusia dalam rangka pembentukan masyarakat baru, maka penanganannya harus dilakukan dengan melibatkan berbagai sektor. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa dalam definisi penduduk dan masyarakat terdapat berbagai komponen secara eksistensial di dalamnya terdapat manusia, nilai budaya, jalinan hubungan dan interaksi, kebutuhan perubahan dan sebagainya. Dalam pemindahan masyarakat itu sudah termasuk tujuan dalam wujud masyarakat baru. Hal ini tidak semua mungkin ditangani oleh satu sektor pembangunan, apabila oleh satu subsektor pembangunan, berbagai sektor harus dilibatkan, atau dengan perkataan lain penanganannya harus lintas berbagai kegiatan dan spesialisati sektor-sektor (Tjiptoherijanto, 1986).
2.2. Pemberdayaan Komunitas 2.2.1 Pengertian Pemberdayaan
Istilah pemberdayaan (empowerment), muncul sekitar pertengahan 1990-an sebagai isyarat terjadinya perubah1990-an paradigma pemb1990-angun1990-an. Pada mul1990-anya, paradigma modernisme telah mendominasi dalam perencanaan maupun praktik pembangunan. Dalam paradigma tersebut menurut Sanderson (1993), paling tidak terdapat tiga asumsi pokok sebagai dasar yang melatarbelakanginya, yaitu salah satunya adalah keterbelakangan cenderung dilihat sebagai suatu “keadaan asli” (original state); suatu keadaan masyarakat yang telah ada dalam aneka bentuknya. Keterbelakangan itu terjadi akibat belum masuknya kapitalisme sehingga untuk keluar dari keterbelakangan, kapitalisme-lah jawabanya.
Keterbelakangan merupakan akibat dari banyaknya kekurangan yang ada dalam suatu masyarakat seperti kekurangan kapital, sehingga untuk mengatasiya diperlukan formulasi kapital baru melalui difusi modal dan teknologi. Masyarakat terbelakang biasanya tidak mempunyai semacam kesadaran, atau mentalitas yang menawarkan perkembangan. Kemajuan baru terjadi jika orang telah mengadopsi pemikiran rasional, nilai-nilai yang berorientasi masa depan, dan sistem etika. Sementara itu, umumnya nilai-nilai lokal masyarakat dianggap tidak kondusif bagi pencapaian kemajuan. Secara empiris, paradigma modernisme menyebabkan berbagai persoalan ketimpangan di masyarakat. Sajogyo (1982) menyebutnya dengan istilah modernization without development, pembangunan yang justru menyebabkan polarisasi kesenjangan antara pemilik modal dan kaum miskin karena program-program pembangunan cenderung bias teknokratis, sentralistis, dan tidak “membumi”.
11
Kritik terhadap ideologi modernisme, telah berkembang paradigma pembangunan yang berpusat pada rakyat (people-centered development) yang lebih memberi tempat kepada rakyat untuk turut serta dalam merencanakan, melaksanakan, serta mengawasi proses pembangunan. Dalam wadah paradigma inilah wacana pemberdayaan (empowerment) mulai tumbuh. Pemberdayaan merupakan upaya untuk mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki masyarakat (Wahyono et.al, 2001). Jadi, pendekatan pemberdayaan masyarakat (community empowerment) dalam pengembangan masyarakat (community development) adalah penekanan pada pentingnya masyarakat lokal yang mandiri sebagai suatu sistem yang mengorganisasi diri mereka sendiri. Sistem pengorganisasian ini diharapakan dapat dijadikan suatu modal dalam mengembangkan diri mereka masing-masing.
2.2.2 Pemaknaan komunitas
Ife dalam Tonny (2000) mengemukakan komunitas (community) dalam perspektif sosiologi adalah warga setempat yang dapat dibedakan dari masyarakat yang lebih luas (society) melalui kedalaman perhatian bersama (a community of intersest) atau oleh tingkat interaksi yang tinggi (an attachment community). Para anggota komunitas memiliki kebutuhan bersama (common needs). Jika tidak ada kebutuhan yang bersama maka warga setempat tersebut tidak bisa dikatakan sebagai komunitas. Komunitas (community) mengandung pengertian sebagai satu kesatuan masyarakat yang ukurannya relatif kecil sehingga terjadi hubungan yang intensif ke dalam daripada ke luar dan memiliki kesamaan tertentu. Suatu
komunitas merupakan kumpulan orang-orang yang memiliki tingkat keeratan atau hubungan yang relatif kuat. Karakteristik komunitas terdiri dari:
1. Primordial community, yakni komunitas yang memiliki kesamaan suku, agama dan ras.
2. Occupation community, yakni komunitas yang anggotanya memiliki kesamaan pekerjaan/profesi.
3. Spacial community, yakni komunitas yang terbentuk karena kesamaan tempat tinggal.
2.2.3 Dimensi Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan masyarakat memiliki dua dimensi pokok yaitu kultural dan dimensi struktural (Tonny, 2002). Dimensi kultural meliputi upaya untuk perubahan prilaku ekonomi, peningkatan pendidikan, sikap terhadap pengembangan teknologi, serta kebiasaan masyarakat setempat. Dimensi struktural meliputi upaya perbaikan struktural sosial yang meningkatkan dan mempercepat solidaritas petani dan nelayan dengan cara berhimpun dalam suatu kelompok dan organisasi yang mampu memperjuangkan kepentingan mereka.
2.2.4 Elemen Pemberdayaan Masyarakat
Menurut Tonny (2000) dalam Pemberdayaan terdapat dua elemen penting. Elemen tersebut merupakan elemen yang sarat dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Tanpa elemen tersebut suatu pemberdayaan tidak dapat dikatakan berjalan. Elemen tersebut terbagi menjadi elemen partisipasi dan elemen kemandirian.
Partisipasi. Menurut Tonny (2003), partisipasi adalah proses aktif dimana inisiatif diambil oleh masyarakat sendiri, dibimbing oleh cara berfikir mereka
13
sendiri, dengan menggunakan sarana dan proses (lembaga dan mekanisme) dimana mereka dapat melakukan kontrol secara efektif. Definisi ini memberikan pengertian bahwa masyarakat diberi kemampuan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan permasalahan serta kemampuan untuk mengelola potensi yang di miliki secara mandiri.
Partisipasi dikategorikan menjadi dua, yaitu pertama, partisipasi yang dilibatkan dalam tindakan yang telah dipikirkan dan dikontrol oleh orang lain.
Kedua, partisipasi yang membentuk atau membangun kekuatan untuk keluar dari masalah yang sedang dihadapi. Menurut Slamet dalam Sumodiningrat (1999), partisipasi masyarakat diartikan sebagai keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan. Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, partisipasi dilakukan mulai dari penggalian potensi-potensi yang dapat dibangun oleh masyarakat setempat, pembinaan teknologi dan keterampilan tersebut. Menurut Coheb dan Uphoff dalam Tonny (2003), keterlibatan masyarakat dimulai dari tahap pembuatan keputusan, penerapan keputusan, dan penikmatan hasil.
Kemandirian. Menurut Sumodiningrat (1999), kemandirian mengandung arti bahwa proses pembangunan diciptakan dari, oleh dan untuk setiap anggota masyarakat. Sehubungan dengan konsep pemberdayaan masyarakat, kemandirian dikategorikan menjadi tiga yaitu kemandirian material, kemandirian intelektual, dan kemandirian manajemen. Kemandirian material merupakan kemampuan produktif guna memenuhi kebutuhan dasar pada waktu krisis. Kemandirian intelektuan merupakan pembentukan dasar pengetahuan yang memungkinkan mereka menanggulangi bentuk-bentuk dominasi dari pihak luar. Kemandirian
manajemen merupakan kemampuan untuk membina diri dan menjalani serta mengelola kegiatan kolektif.
Verhagen (1996) mengemukakan kemandirian adalah suatu kondisi dimana seorang individu atau kelompok tidak lagi bergantung pada bantuan dan kedermawanan pihak ketiga. Suatu kelompok mandiri berarti mereka telah mengembangkan kemampuan organisasional, produktif, dan analitik yang memadai sehingga mampu merancang dan melaksanakan suatu strategi yang dapat memberikan sumbangan secara efektif. Kemandirian tersebut juga dapat dirasakan manfaatnya oleh tiap anggota kelompok karena mereka telah dapat mengembangkan diri mereka untuk kepentingan dan harapan mereka sendiri dalam kelompok tersebut.
2.3 Evaluasi Program
2.3.1 Definisi Evaluasi Program
Farida (2000) dalam bukunya mengemukakan pemahaman evaluasi dengan memakai contoh kasus pendidikan. Evaluasi adalah penelitian yang sistematik atau yang teratur tentang manfaat atau guna berbagai objek (Join committee, 1981). Kelompok Konsorsium Evaluasi Standford menolak definisi evaluasi yang menghakimi, karena evaluator bukanlah wasit yang menentukan suatu program berguna atau tidak.
Evaluasi dapat mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi formatif yaitu untuk perbaikan dan pengembangan program yang sedang berjalan dan fungsi sumatif yang dipakai sebagai pertanggungjawaban, keterangan, seleksi atau kelanjutan program. Jadi evaluasi hendaknya dapat membantu pengembangan, implementasi,
15
kebutuhan suatu program, perbaikan program, pertanggungjawaban, seleksi, motivasi, menambah pengetahuan dan dukungan dari mereka yang terlibat.
Evaluasi yang dilakukan sendiri oleh pelaksana proyek dianggap kurang efektif oleh sebab itu diperlukan evaluator yang independent. Farida (2000) mengemukakan kriteria yang harus dilayani oleh evaluator supaya evaluasi betul-betul bermanfaat dan berguna yaitu sebagai berikut :
1. Evaluasi dapat mempunyai lebih dari seorang audiensi.
2. Masing-masing audiensi mungkin mempunyai kemungkinan yang berbeda. 3. Kebutuhan audiensi harus dirumuskan dengan jelas pada waktu memulai
evaluasi.
Evaluator dituntut untuk mempunyai ciri-ciri tertentu yang memerlukan latihan yang memadai. Ciri-ciri tersebut antara lain mengerti dan mengetahui teknik pengukuran, metode penelitian, mengerti tentang kondisi sosial dan hakekat objek evaluasi, mempunyai kemampuan human relation serta bertanggung jawab dan jujur. Evaluasi sering dilakukan oleh suatu tim karena sulit mencari orang yang memiliki begitu banyak kemampuan. Langkah-langkah dan prosedur yang dilakukan oleh evaluator harus sejalan dengan fungsi evaluasi yaitu memfokuskan evaluasi, mendesain evaluasi, mengumpulkan informasi, menganalisis informasi, melaporkan hasil evaluasi, mengelola evaluasi dan mengevaluasi evaluasi.
Committee on Standard for Educational Evaluation (Join Committee, 1981) yang diketuai oleh Daniel Stufflebeam mengembangkan standar untuk kegiatan evaluasi yaitu:
b. Accuracy (secara tekhnik tepat). c. Feasibility (realitik dan teliti).
d. Proppriety (dilakukan dengan legal dan etik).
Evaluasi yang baik adalah yang memberikan dampak positif pada perkembangan program.
Farida memberikan beberapa pengertian kepada istilah-istilah yang dipakai didalam bukunya, seperti pengertian program, sponsor, audiensi dan instrumen. Program adalah sesuatu yang dicoba lakukan seseorang dengan harapan akan membawa hasil atau pengaruh (Joan L. Herman & Cs dalam Farida, 2000). Sponsor adalah orang atau organisasi yang meminta evaluasi dan membayar untuk itu. Audiensi orang yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan evaluasi, seperti pemakai program, peminat dan pelanggan.
2.3.2 Model Evaluasi
1. Model Evaluasi CIPP
Model ini mengusulkan pendekatan yang berorientasi pada pemegang keputusan (a decision oriented evaluation approach structured). Untuk melayani para manajer dan administrator dibuatlah pedoman kerja yang membagi evaluasi menjadi empat macam :
1) Contect evaluation to serve planning decision. Konteks evaluasi ini membantu merencanakan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan dicapai oleh program dan merumuskan tujuan program.
2) Input evaluation, structuring decision. Evaluasi ini menolong mengatur keputusan, menentukan sumber-sumber yang ada alternatif yang akan
17
diambil, apa rencana dan strategi yang akan diambil untuk mencapai kebutuhan serta bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya.
3) Process evaluation to serve implementing decision. Evaluasi proses membantu mengimple-mentasikan keputusan.
4) Product evaluation, to serve recycling decision. Evaluasi produk untuk menolong pembuat keputasan dalam membuat keputusan selanjutnya. Huruf pertama dari model ini dijadikan ringkasan dan model ini terkenal dengan nama model CIPP stufflebeam.
2. Model Stake atau Model Countenence
Stake (1967) menekankan adanya dua dasar kegiatan dalam evaluasi ialah
descriptions dan judgement dan membedakan tiga tahap dalam program pendidikan, yaitu : Antecedents (konteks), Transaction (proses) dan Outcomes
(output). Matrik description menunjukkan Intents (hasil) dan Observations (efek) atau yang sebenarnya terjadi. Judgement mempunyai dua aspek yaitu standard
dan judgement. Stake juga mengatakan apabila kita menilai suatu program maka kita melakukan perbandingan antara satu program dengan program lain (relatif) atau perbandingan yang absolut yaitu satu program dengan standar yang ditetapkan. Pada model ini penekanannya adalah evaluator yang membuat penilaian tentang program yang akan dievaluasi.
2.3.3 Pendekatan-pendekatan Evaluasi
Proses pengevaluasian memiliki enam pendekatan (Farida, 2000). Pendekatan yang dimaksud adalah berkaitan dengan tujuan dari pengevaluasian yang dilakukan. Pendekatan yang dilakukan menilai dari segi mana baiknya
proses evaluasi dijalankan. Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam mengevaluasi suatu program yang diantaranya:
1. Pendekatan Eksprimental
Tujuan dari pendekatan ini adalah memperoleh kesimpulan yang bersifat umum tentang dampak suatu program dengan menciptakan situasi yang dikontrol, seperti membandingkan kelompok yang menerima program dan yang tidak. Pendekatan ini membuat evaluator sebagai orang ketiga yang objektif dalam menarik kesimpulan.
2. Pendekatan yang berorientasi pada pencapaian tujuan
Pendekatan ini memakai tujuan program sebagai kriteria untuk menentukan sampai sejauh mana program telah berhasil. Model ini memberikan petunjuk tentang tentang perkembangan program.
3. Pendekatan yang berfokus kepada keputusan
Pendekatan ini menekankan peranan informasi yang sistematik untuk pengelola program dalam menjalankan tugasnya. Pada pendekatan ini evaluator memerlukan 2 macam informasi dari klien. Pertama ia harus mengetahui butir-butir keputusan penting pada setiap periode selama program berjalan. Kedua ia perlu mengetahui macam informasi yang mungkin akan sangat berpengaruh untuk setiap keputusan. Keunggulan program ini ialah perhatiannya terhadap kebutuhan pembuat keputusan dan kerelevanan keputusan program.
4. Pendekatan yang berorientasi kepada pemakai
Pada pendekatan ini evaluator lebih terlibat dalam kegiatan program, mereka lebih bertindak sebagai orang dalam daripada sebagai konsultan
19
luar. Penedekatan ini dilakukan dengan bersahabat, evaluator mencari pengetahuan tentang fungsi program dan keperluan orang-orang yang mempengaruhi keputusan. Pende-katan ini membuat evaluator dapat memberikan ide kepada kelompok pemakai, menerima saran mereka dan mengadaptasikan evaluasi sesuai dengan kebutuhan pemakai atau klien. Evaluator harus seorang yang komunikatif, karena interaksi dengan orang-orang program dan klien mempengaruhi kegunaan hasil evaluasi.
5. Pendekatan yang responsif
Pendekatan ini berusaha mencari pengertian suatu isu dari berbagai sudut pandang dari semua orang yang terlibat, berminat, dan yang berkepentingan dengan program. Evaluator bertujuan berusaha mengerti urusan program melalui berbagai sudut pandang yang berbeda. Evaluasi responsif memiliki cirri-ciri penelitian yang kualitatif apa adanya. Evaluator harus dilatih tekhnik-tekhnik penelitian kualitatif. Pendekatan ini memiliki kelebihan memiliki kepekaan terhadap berbagai titik pandang.
6. Goal Free Evaluation (Evaluasi bebas tujuan)
Ciri-ciri evaluasi ini adalah ; evaluator sengaja menghindar untuk mengetahui tujuan program, tujuan yang telah dirumuskan terlebih dahulu tidak menyempitkan fokus evaluasi, berfokus pada hasil yang sebenarnya dan bukan pada hasil yang telah direncanakan, hubungan dengan orang-orang program dibuat seminimal mungkin dan evaluasi dimungkinkan akan ditemukannya dampak yang tidak diramalkan.
Scriven (1996) dalam Farida (2000) membedakan evaluasi menjadi 2 yaitu formatif dan sumatif. Evaluasi formatif dilaksanakan selama program berjalan untuk memberikan informasi kepada pemimpin program sebagai bahan perbaikan program. Sedangkan evaluasi sumatif dilaksanakan pada akhir program untuk memberikan informasi kepada konsumen yang potensial tentang manfaat atau kegunaan program. Selain evaluasi formatif dan sumatif ada juga evaluasi internal dan eksternal, yang mana evaluasi ekternal dilakukan oleh orang diluar program dan evaluasi internal dilakukan oleh orang dari dalam program.
2.4 Konsep Kesejahteraan
Kesejahteraan erat kaitannya dengan kebutuhan seseorang. Tingkat kesejahteraan adalah merupakan konsep yang digunakan untuk menyatakan kualitas hidup seseorang pada suatu wilayah pada kurun waktu tertentu. Konsep kesejahteraan memiliki sifat relatif, yaitu tergantung bagaimana penilaian masing-masing individu terhadap kesejahteraan itu sendiri. Keadaan sejahtera yanng dimiliki seseorang dapat berbeda dengan keadaan sejahtera orang lain. Terpenuhinya kebutuhan makan nasi tiap hari untuk seorang buruh adalah dapat dikatakan sejahtera, namun lain halnya dengan seorang pengusaha besar (Pangemanan, 1996).
Menurut Yosep (1996) dalam Saharti (1998), definisi kesejahteraan mencakup dua pendekatan yaitu pendekatan makro dan pedekatan mikro. Pendekatan makro memandang bahwa kesejahteraan dapat dinyatakan dengan indikator-indikator yang telah disepakati secara ilmiah, sehingga ukuran kesejahteraan masyarakat berdasarkan data-data empiris suatu masyarakat. Pendekatan makro ini disebut juga pendekatan makro objektif karena mencakup
21
keadaan kesejahteraan suatu wilayah, negara atau provinsi. Konsep Kesejahteraan untuk setiap individu berbeda dan bersifat relatif sehingga dapat dikemukakan beberapa kriteria dan indikator kesejahteraan. BPS dan beberapa instansi lain menggunakan indikator kesejahteraan sebagai indikator sosial.