• Tidak ada hasil yang ditemukan

Antibakteri

Antibakteri adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Proses tersebut dilakukan melalui penghambatan sintesis dinding sel, sintesis protein, sintesis asam nukleat, serta menghambat jalur metabolisme sehingga menghancurkan struktur membran sel (Tenover 2006). Antibiotik kloramfenikol bekerja dengan mengikat sub unit 50S ribosom bakteri dan menghambat sintesis protein bakteri. Yang dihambat ialah enzim peptidil trasferase yang merupakan katalisator untuk pembentukan ikatan-ikatan peptida pada proses sintesis protein bakteri (Katzung 1998).

Gambar 1 Mekanisme kerja kloramfenikol dalam sintesis protein (Katzung 1998) Ampisilin adalah antibiotik termasuk golongan penisilin. Mekanisme kerja penisilin dengan cara menghambat pembentukan dinding dan permeabilitas membran sel bakteri melalui penghambatan enzim transpeptidase (Gladwin 1995). Salah satu senyawa antibakteri yang berasal dari tanaman adalah tanin (Endo 2010; Fiuza et al. 2009; Jurenka 2008). Tanin merupakan senyawa polifenol dengan bobot molekul yang besar, larut dalam air dan mampu mengendapkan protein sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri serta mikroorganisme lain seperti kapang dan khamir sehingga biasa disebut sebagai antimikrob. Mekanisme kerja senyawa fenolik sebagai antimikrob dengan cara menghilangkan permeabilitas membran sehingga isi sitoplasma keluar dan menghambat sistem transport elektrolit yang lebih efektif terhadap kapang dan khamir, bakteri gram positif dan juga bakteri gram negatif (Saptarini 2007).

Buah Delima Putih

Gambar 2 Buah Delima Putih

Punica granatum (P. granatum) atau dikenal di Indonesia sebagai buah delima diketahui memiliki sifat sebagai antibakteri. Sifat antibakteri pada kulit delima telah diteliti oleh Al Zoreky (2009), disebutkan bahwa ekstrak metanol 80% memiliki kemampuan paling baik dalam menghambat pertumbuhan 9 jenis bakteri termasuk Staphylococcus aureus (S. aureus) yang resisten terhadap metisilin dan hasil ekstraksi menggunakan air, air-metanol dan dietil eter diketahui memiliki kandungan fenol yang tinggi.

Penelitian yang sama dilakukan oleh Endo et al. (2010); Nauli (2010); Souza et al. (2006); Jurenka (2008) yang mengungkapkan bahwa komponen utama yang bertanggung jawab menghambat pertumbuhan Candida albicans, Candida stellatoidea dan Candida guilliermondii pada ekstrak buah delima adalah tanin atau polifenol. Mekanisme spesifik tidak diketahui secara jelas namun disebutkan bahwa ekstrak dapat menghancurkan membran sel mikroba melalui pengendapan protein.

Buah delima Turki, bersifat sebagai antibakteri, anti jamur dan antioksidan dengan kandungan fenol serta antosianin yang tinggi (Duman et al. 2009). Adapun ekstrak etanol kulit delima yang biasa digunakan sebagai obat tradisional di korea, dapat menghambat pertumbuhan 16 jenis Salmonella (Choi et al. 2009).

Tanaman Dewandaru

Gambar 3 Tanaman Dewandaru

Eugenia uniflora (E. uniflora) dengan nama umum dewandaru merupakan perdu tahunan dengan tinggi ± 5m. Tanaman ini diketahui memiliki sifat sebagai antibakteri. Pernyataan ini didukung oleh Souza et al. (2003) yang menyatakan bahwa E. uniflora banyak dimanfaatkan sebagai antibiotik pada diare dan beragam ekstrak ini sebagai antimikrob menunjukan hasil positif terhadap

Aspergillus flavus, Bacillus subtilis (B. subtilis), Escherichia coli (E. coli),

Klebsiella aerogenes, Mycobacterium phlei, Proteus vulgaris (P. vulgaris),

Pseudomonas aeruginosa (P. aeruginosa), Sarcina lutea, Serratia marcescens,

Shigella dysenteriae, Staphylococcus aureus dan Trichphyton mentagrophytes. Aktivitas antimikrob daun Eugenia uniflora yang dilaporkan oleh Adebayo et al. (1989) memiliki kandungan tanin, glikosida dan alkaloid. Kandungan ini diperoleh melalui ekstrak dengan etil asetat dan metanol dan aktif terhadap E. coli, P. vulgaris, Klebsiella pneumonia dan Aspergillus niger.

Sedangkan Fiuza, et al. (2009) menyatakan bahwa pada analisis menggunakan KLT (Kromatografi Lapis Tipis) menunjukan E. uniflora memiliki kandungan flavonoids dalam fraksi etil asetat dan klorofom, tanin dalam fraksi etil asetat dan terpen dalam fraksi heksan dan klorofom.

Zeolit

Zeolit merupakan mineral hasil tambang yang bersifat lunak dan mudah kering. Zeolit yang digunakan berasal dari Cikalong memiliki warna putih kehijau-hijauan. Zeolit terbentuk dari abu vulkanik yang telah mengendap jutaan tahun silam. Sifat-sifat mineral zeolit sangat bervariasi tergantung dari jenis dan kadar mineral zeolit. Menurut Arif (2011), kandungan mineral zeolit Cikalong terdiri dari Si, Al, Ca, Fe, K, Mg dan Na. Zeolit mempunyai struktur berongga, biasanya rongga ini diisi oleh air serta kation yang bisa dipertukarkan dan memiliki ukuran pori tertentu. Oleh karena itu zeolit dapat dimanfaatkan sebagai penyaring molekuler, senyawa penukar ion, sebagai filter dan katalis.

Tabel 1 Analisis unsur zeolit alam Cikalong

Unsur Kadar (%) Si 68.4 Al 10.3 Ca 9.57 Fe 6.57 K 4.33 Mg 0.570 Na 0.285 Sumber: Arif (2011)

Zeolit adalah mineral senyawa alumino silikat hidrat dengan logam alkali dan alkali tanah dengan rumus empiris (M2+,M2+)O.Al2O3.xSiO2.yH2O, dimana M+ adalah Na atau K, dan M2+ adalah Mg, Ca, atau Fe, x merupakan suatu bilangan 2-10 dan y merupakan bilangan 2-7. Molekul air dapat terjerap pada struktur kristal zeolit sehingga sering dijumpai zeolit mengandung air kristal dan disebut sebagai zeolit terhidrasi. Kandungan air dalam zeolit berkisar 1-35%.

Perbandingan antara atom Si dan Al akan menghasilkan banyak variasi zeolit. Dalam struktur tektosilikat (Gambar 4), beberapa atom Si digantikan oleh atom Al melalui substitusi isomorfik, menghasilkan struktur bermuatan negatif yang berasal dari perbedaan antara tetrahedral (AlO4)5- dan (SiO4)4-.

Gambar 4 Kerangka struktur zeolit (Valdes et al. 2006) Zeolit memiliki sifat kimia, diantaranya:

1. Penjerapan

Pada zeolit alam di dalam pori-porinya terdapat kation-kation atau molekul air. Bila kation-kation atau molekul air tersebut dikeluarkan dari dalam pori dengan suatu perlakuan tertentu maka air akan meninggalkan pori yang kosong. Zeolit yang telah dipanaskan dapat berfungsi sebagai penjerap gas atau cairan (Ginting et al. 2007). Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa zeolit alam mampu dimanfaatkan sebagai adsorben limbah pencemar seperti fosfor, besi, krom dan beberapa logam lainnya (Hrenovic dan Tbiljas 2002; Susetyaningsih et al. 2009).

2. Penukar ion

Ion-ion pada rongga bertujuan untuk menjaga kenetralan zeolit. Ion-ion ini dapat bergerak bebas sehingga pertukaran ion yang terjadi tergantung dari ukuran dan muatan maupun jenis zeolitnya. Sifat sebagai penukar ion dari zeolit antara lain tergantung dari sifat kation, suhu dan jenis anion. Senyawa bersifat anion akan cenderung untuk ditolak dan bahkan tidak mampu untuk direspon dengan baik oleh zeolit (Ginting et al. 2007; Arif 2011)

Berdasarkan hasil analisis menggunakan XRD, pada contoh zeolit alam yang telah diidentifikasi menunjukkan contoh zeolit Cikalong adalah merupakan jenis mordenit Na8(Al8Si40O96).24H2O (Wyantuti 2008). Seperti tampak pada gambar 5 pola difraksi sinar-X zeolit alam asal Cikalong.

Gambar 5 Pola difraksi sinar-X zeolit alam asal Cikalong Tasikmalaya

Menurut Arif (2011) nilai kapasitas tukar kation pada contoh zeolit Cikalong adalah 65 cmol/kg. Nilai kapasitas tukar kation (KTK) ini lebih rendah dibandingkan dengan nilai KTK pada zeolit sintetik yang berkisar diantara 250 sampai dengan 450 cmol/kg. Nilai KTK yang lebih rendah pada contoh zeolit alam ini dikarenakan oleh material ikutan yang terdapat di dalamnya dan mempengaruhi tingkat kemurnian dan keseragaman struktur zeolit itu sendiri. Semakin tinggi suhu yang digunakan untuk proses perlakuan maka nilai KTK akan berubah, naik atau turun menyesuaikan dengan jenis lingkungan perlakuan tersebut. Perlakuan yang melibatkan asam akan menyebabkan proses dealuminasi sehingga menurunkan nilai KTK. Sedangkan perlakuan yang melibatkan basa akan menghasilkan pembentukan senyawa silikat yang ada dipermukaan zeolit dan meningkatkan nilai KTK.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Uji Biofarmaka, Pusat Studi Biofarmaka, Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Balai Pengujian Mutu Produk Peternakan Bogor. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei 2011.

Bahan Uji

Lima tanaman obat

Kulit buah delima, kumis kucing dan biji selasih diambil dari kebun Biofarmaka IPB, daun dewandaru diambil dari desa Tegal Waru Bogor, sedangkan tabat barito diambil dari Kalimantan. Bahan yang diperoleh dibersihkan, ditimbang dan dikeringkan di bawah sinar matahari dengan udara terbuka selama 3 hari atau dikeringkan dalam oven pada suhu 50oC hingga kadar air di bawah 10% kemudian digiling dan selanjutnya disebut simplisia.

Zeolit

Zeolit dalam penelitian ini diperoleh dari daerah Cikalong. Material ini sebelumnya telah digunakan oleh Arif dalam karakterisasi dan modifikasi zeolit alam sebagai bahan media pendeteksi studi kasus kromium heksavalen. Sebelum digunakan dalam formulasi zeolit digerus dan diayak hingga berukuran 100 mesh.

Metode Penelitian

Penelitian ini terdiri dari lima tahap yaitu: pembuatan ekstrak tanaman obat, pengujian aktivitas antibakteri tanaman obat, formulasi 2 ekstrak tanaman obat, formulasi gabungan ekstrak tanaman obat dan zeolit, dan pengujian efektivitas hasil formulasi.

Pembuatan ekstrak tanaman obat

Pembuatan ekstrak tanaman obat ini dilakukan untuk memperoleh ekstrak tanaman obat yang akan digunakan dalam penelitian tanaman obat yang bersifat sebagai antibakteri. Pada tahap ini diambil lima tanaman obat yang sebelumnya telah diketahui memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Proses pengambilan

tanaman dari kebun, pengeringan dengan menggunakan oven pada suhu 50oC, dan penggilingan dimaksudkan untuk memperoleh simplisia yang akan digunakan dalam proses ekstraksi melalui proses maserasi. Maserasi dilakukan melalui perendaman simplisia dengan 3 macam pelarut yaitu air, etanol 30% dan etanol 96% dengan perbandingan 1:10 pada suhu kamar selama 2 x 24 jam. Air rendaman atau supernatan dipisahkan dari endapannya melalui proses filtrasi menggunakan kertas saring (Whatman No.1). Supernatan atau filtrat yang dihasilkan diliofilisasi sehingga diperoleh ekstrak tunggal dari suatu tanaman obat.

Pengujian aktivitas antibakteri

Ekstrak tunggal yang diperoleh dari hasil liofilisasi, diuji aktivitas antibakteri metode difusi agar dengan kertas cakram Kirby-Bauer. Uji aktivitas dilakukan dengan menggunakan tiga bakteri uji. Bakteri golongan gram negatif

Eschericia coli ATCC 25922, gram positif Bacillus cereus ATCC 11778 dan

Staphylococcus aureus ATCC 25923 (Microbiologic). Masing-masing bakteri ditanam pada media pertumbuhan Nutrien Agar (NA) padat kemudian diinkubasikan pada suhu 28oC dan 35oC selama 24 jam, dipanen dan dilarutkan ke dalam NaCl fisiologis sebanyak 10 mL. Suspensi bakteri diukur kekeruhan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 600 nm, dibandingkan dengan standar 0,5 Mc farland, dan suspensi ini dihitung sebagai larutan 108. Suspensi diencerkan dengan Nutrien Broth (NB) hingga mencapai 106, dan bakteri uji siap digunakan.

Suspensi bakteri uji dipipet sebanyak 1 mL pada permukaan media NA padat. Sebagai kontrol positif digunakan kertas cakram berisi antibiotik ampisilin 10 ug (Oxoid CT0003B) dan kloramfenikol 30 ug (Oxoid CT0013B). Ekstrak, kontrol positif serta kontrol negatif dipipet sebanyak 75 uL, diteteskan di atas kertas cakram pada permukaan media yang telah mengandung bakteri uji. Hasil uji aktivitas antibakteri diekspresikan sebagai diameter daerah hambatan pada permukaan media setelah diinkubasi selama 18 - 24 jam pada suhu 28oC bagi B. cereus dan 35oC bagi E. coli dan S. aureus.

Uji Fitokimia

Uji fitokimia dilakukan mengacu pada Harborne (1987). Pengujian dilakukan pada ekstrak dari kulit delima dan daun dewandaru. Kelompok senyawa yang ingin diketahui dalam pengujian ini di antaranya alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, triterpenoid, dan steroid secara kualitatif.

Pada pengujian alkaloid digunakan pereaksi Dragendorf, Meyer, dan Wagner. Sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan dilarutkan dalam 2 mL kloroform, dibasakan dengan 5 tetes NH4OH, ditambah 10 tetes H2SO4 2 M lalu dikocok dengan menggunakan vorteks. Lapisan asam yang terbentuk diteteskan (3 tetes) pada pelat tetes menggunakan pipet. Keberadaan alkaloid ditunjukkan dengan terbentuknya endapan merah jingga dengan pereaksi Dragendorf, endapan putih dengan pereaksi Meyer, dan endapan cokelat dengan pereaksi Wagner.

Uji flavonoid dilakukan dengan menambahkan 3 mL air panas pada sampel, kemudian dididihkan selama 5 menit. Sebanyak 3 tetes larutan diteteskan pada pelat tetes menggunakan pipet, selanjutnya ditambah serbuk Mg, 1 mL HCl pekat, dan 1 mL amil alkohol kemudian dikocok menggunakan vorteks. Terbentuknya warna merah/kuning/ jingga menunjukkan adanya flavonoid.

Uji saponin dilakukan dengan menambahkan 3 mL air panas pada sampel, selanjutnya dipanaskan selama 5 menit dan dikocok 10 detik menggunakan vorteks, kemudian dibiarkan selama 10 menit. Terbentuknya busa yang stabil menunjukkan adanya senyawa saponin. Prosedur uji tanin hampir sama dengan uji saponin. Sampel dipanaskan hingga mendidih selama 5 menit, selanjutnya larutan yang terbentuk ditambah beberapa tetes larutan FeCl3 1%. Terbentuknya larutan berwarna biru tua atau hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin.

Penentuan adanya senyawa triterpenoid dan steroid dilakukan dengan menambahkan 2 mL eter pada sampel. Lapisan eter yang terbentuk diteteskan pada pelat tetes kemudian ditambah 3 tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes asam sulfat pekat. Adanya triterpenoid ditandai dengan terbentuknya warna merah atau ungu, sedangkan adanya steroid ditandai terbentuknya warna hijau atau biru. Formulasi dua ekstrak tunggal tanaman obat

Hasil uji aktivitas antibakteri yang telah dilakukan, memberikan informasi ekstrak tunggal yang memiliki diameter daerah hambatan yang sama atau lebih

besar dengan salah satu atau kedua kontrol positif yang digunakan. Ekstrak tunggal ini kemudian diformulasikan dengan cara menggabungkan dua ekstrak tunggal yang memiliki aktivitas tersebut di atas. Formulasi ini dimaksudkan untuk memperoleh aktivitas yang lebih baik dari ekstrak tunggalnya.

Proses ini dilakukan dengan mencampurkan kedua ekstrak dalam berbagai perbandingan. Perbandingan dilakukan dengan gradasi konsentrasi ekstrak dalam jumlah perbandingan tetap. Masing-masing formula ekstrak gabungan diuji aktivitasnya sehingga diperoleh formula antibakteri yang sama atau lebih besar dari salah satu atau kedua kontrol positif.

Formulasi gabungan ekstrak tanaman obat dan zeolit

Formula ekstrak gabungan hasil formulasi nomor 3, selanjutnya digabungkan dengan zeolit. Formulasi dilakukan dengan cara modifikasi metode yang disampaikan oleh Bektas dan Kara 2004 dengan cara mencampurkan formula ekstrak dengan zeolit pada perbandingan 1:1 yang digoyang selama 24 jam pada kecepatan 150 rpm pada suhu 27oC. Endapan yang dihasilkan dipisahkan dari supernatannya, dicuci dengan masing-masing pelarutnya dan kemudian dikeringkan dengan cara dianginkan di udara terbuka. Sebagian sampel yang diperoleh selanjutnya dipanaskan pada suhu 38oC selama 24 jam, kemudian seluruhnya diuji efektivitasnya.

Pengujian efektivitas hasil formulasi

Uji efektivitas dilakukan terhadap semua komponen bahan uji untuk mendapatkan kurva pertumbuhan bakteri melalui pengamatan selama 24 jam. Metode yang digunakan adalah Metode Tuang SNI 2897-2008.

Zeolit, formula ekstrak sebelum dan sesudah pemanasan, formula gabungan ekstrak-zeolit sebelum dan sesudah pemanasan, kontrol positif dan kontrol negatif dimasukkan sejumlah 25 gram ke dalam 225 mL NB yang telah berisi bakteri uji 0.5 Mc Farland atau pada kisaran absorbansi 0.132 pada panjang gelombang 600 nm. 1 mL sampel uji diambil tiap 1 jam selama 24 jam pada 2 cawan petri yang ditambahkan 20 mL NA atau Plate Count Agar (PCA). Selanjutnya diinkubasi selama 24 jam pada masing-masing suhu inkubasi. Dihitung jumlah koloni pada masing-masing cawan untuk selanjutnya dibuat kurva pertumbuhan sebagaimana yang dimaksud.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembuatan ekstrak tanaman obat

Dalam penelitian ini, hasil pembuatan ekstrak tanaman obat dari 50 gram simplisia diperoleh rendemen ekstrak seperti pada Tabel 2.

Tabel 2 Rendemen hasil ekstraksi 50 gram simplisia dengan metode maserasi terhadap tiga macam pelarut

No. Nama bahan Pelarut Rendemen ekstrak

1. Kulit delima Air 17.38%

Etanol 30% 25.04%

Etanol 96% 21.42%

2. Herbal kumis kucing Air 15.58%

Etanol 30% 35.40%

Etanol 96% 6.57%

3. Tabat barito Air 11.14%

Etanol 30% 18.99%

Etanol 96% 16.93%

4. Daun dewandaru Air 12.60%

Etanol 30% 14.45%

Etanol 96% 20.70%

5. Biji selasih Air -

Etanol 30% -

Etanol 96% 5.00%

Rendemen ekstrak merupakan perbandingan antara berat ekstrak dengan berat contoh dikalikan seratus persen. Besarnya rendemen ekstrak dipengaruhi oleh kehalusan bahan, jenis pelarut dan lama ekstraksi (Bagem 2006). Pada Tabel 2 tampak bahwa rendemen ekstrak terbesar diperoleh dari pelarut etanol 30% dengan rata-rata rendemen sebesar 14.5%-35%. Rendemen ekstrak dengan pelarut air sebesar 11%-17% dan pelarut etanol 96% sebesar 6.5%-21%. Hampir seluruh ekstrak yang dihasilkan berbentuk serbuk kecuali ekstrak etanol 96% biji selasih berbentuk gumpalan yang berminyak. Biji selasih yang dimaserasi dengan menggunakan air dan etanol 30% tidak diperoleh filtratnya, hal ini disebabkan daya serap biji selasih kering terhadap pelarut polar yang sangat besar sehingga biji selasih berubah menjadi gel. Berdasarkan hasil tersebut ekstrak biji selasih tidak digunakan dalam penelitian selanjutnya.

Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak tunggal

Hasil pengujian aktivitas antibakteri diekspresikan sebagai diameter daerah hambatan (DDH) seperti tampak pada Gambar 6. Ekspresi hasil pengukuran terhadap sensitivitas antibakteri didasarkan pada interpretasi zona hambat Kirby bauer seperti yang disampaikan oleh Christoforus (2010) dan dalam Tabel interpretasi zona hambat Kirby bauer (lampiran 2).

Keterangan: EAKD=Ekstrak Air Kulit Delima, EE3KD=Ekstrak Etanol 30% Kulit Delima, EE9KD=Ekstrak Etanol 96% Kulit Delima, CAP=kloramfenikol, AMP=Ampisilin

Gambar 6 Hasil uji aktivitas ekstrak kulit delima pada bakteri Bacillus cereus (B. cereus) ATCC 11778

Tabel 3 Hasil uji aktivitas antibakteri dua belas ekstrak tunggal pada berbagai konsentrasi, kontrol positif kloramfenikol 0.03 mg/mL dan ampisilin 0.01 mg/mL terhadap bakteri B. cereus ATCC 11778

Nama Ekstrak

Diameter Daerah Hambatan (mm) 0.01 mg/mL 0.03 mg/mL 0.75 mg/mL 7.5 mg/mL 15 mg/mL 37.5 mg/mL EAKD 0.00 0.00 0.00 17.02 19.52 22.76 EE3KD 0.00 0.00 0.00 16.98 18.98 19.54 EE9KD 0.00 0.00 12.66 20.48 22.02 24.28 EADW 0.00 0.00 0.00 16.37 17.16 21.70 EE3DW 0.00 0.00 0.00 16.18 17.05 21.81 EE9DW 0.00 0.00 0.00 14.44 16.29 21.61 EAKK 0.00 0.00 0.00 12.93 12.99 18.05 EE3KK 0.00 0.00 0.00 14.34 14.76 18.07 EE9KK 0.00 0.00 0.00 13.04 13.12 17.83 EATB 0.00 0.00 0.00 12.39 12.97 16.68 EE3TB 0.00 0.00 0.00 17.25 18.62 23.14 EE9TB 0.00 0.00 0.00 11.44 12.65 18.37 Kloramfenikol - 23.00 - - - - Ampisilin 12.00 - - - - - AMP CAP EAKD EE9KD EE3KD

Tabel 4 Hasil uji aktivitas antibakteri dua belas ekstrak tunggal pada berbagai konsentrasi, kontrol positif kloramfenikol 0.03 mg/mL dan ampisilin 0.01 mg/mL terhadap bakteri E. coli ATCC 25922

Nama Ekstrak

Diameter Daerah Hambatan (mm) 0.01 mg/mL 0.03 mg/mL 0.75 mg/mL 7.5 mg/mL 15 mg/mL 37.5 mg/mL EAKD 0.00 0.00 0.00 0.00 11.91 15.12 EE3KD 0.00 0.00 0.00 0.00 11.76 15.02 EE9KD 0.00 0.00 0.00 0.00 16.86 19.60 EADW 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 EE3DW 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 13.17 EE9DW 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 13.32 EAKK 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 EE3KK 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10.77 EE9KK 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 13.45 EATB 0.00 0.00 0.00 0.00 11.42 13.96 EE3TB 0.00 0.00 0.00 0.00 15.99 19.82 EE9TB 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Kloramfenikol - 23.00 - - - - Ampisilin 23.00 - - - - -

Tabel 5 Hasil uji aktivitas antibakteri dua belas ekstrak tunggal pada berbagai konsentrasi, kontrol positif kloramfenikol 0.03 mg/mL dan ampisilin 0.01 mg/mL terhadap bakteri S. aureus ATCC 25923

Nama Ekstrak

Diameter Daerah Hambatan (mm) 0.01 mg/mL 0.03 mg/mL 0.75 mg/mL 7.5 mg/mL 15 mg/mL 37.5 mg/mL EAKD 0.00 0.00 0.00 14.76 20.23 23.98 EE3KD 0.00 0.00 0.00 14.89 20.32 23.67 EE9KD 0.00 0.00 12.36 20.47 23.52 25.32 EADW 0.00 0.00 0.00 15.62 18.01 22.51 EE3DW 0.00 0.00 0.00 15.26 17.97 21.55 EE9DW 0.00 0.00 0.00 15.61 17.75 19.36 EAKK 0.00 0.00 0.00 13.04 14.83 15.72 EE3KK 0.00 0.00 0.00 14.09 15.79 21.03 EE9KK 0.00 0.00 0.00 11.64 17.51 20.28 EATB 0.00 0.00 0.00 13.40 15.64 17.46 EE3TB 0.00 0.00 0.00 16.49 19.47 23.77 EE9TB 0.00 0.00 0.00 11.20 15.02 19.75 Kloramfenikol - 22.00 - - - - Ampisilin 27.00 - - - - -

Keterangan: EAKD=Ekstrak Air Kulit Delima, EE3KD=Ekstrak Etanol 30% Kulit Delima, EE9KD=Ekstrak Etanol 96% Kulit Delima, EADW=Ekstrak Air Dewandaru, EE3DW=Ekstrak Etanol 30% Dewandaru, EE9DW=Ekstrak Etanol 96% Dewandaru, EAKK=Ekstrak Air Kumis Kucing, EE3KK=Ekstrak Etanol 30% Kumis Kucing, EE9KK=Ekstrak Etanol 96% Kumis Kucing, EATB=Ekstrak Air Tabat Barito, EE3TB=Ekstrak Etanol 30% Tabat Barito, EE9TB=Ekstrak Etanol 96% Tabat Barito

Tabel 6 Hasil Uji Fitokimia Ekstrak Kulit Buah Delima dan Daun Dewandaru

Komponen Nama Sampel

EAKD EADW Alkaloid - - Hidroquinon - - Tanin + + Flavonoid + - Saponin - - Steroid - - Triterpenoid + + EE3KD EE3DW Alkaloid - - Hidroquinon - - Tanin + + Flavonoid + + Saponin + + Steroid - - Triterpenoid - - EE9KD EE9DW Alkaloid - - Hidroquinon - - Tanin + + Flavonoid + + Saponin + + Steroid - - Triterpenoid + -

Keterangan: (-): tidak terdeteksi komponen, (+): terdeteksi komponen

Hasil uji dua belas ekstrak tunggal menunjukkan bahwa ekstrak memberikan aktivitas mulai konsentrasi 7.5 mg/mL terhadap bakteri B. cereus dan

S. aureus kecuali EE9KD pada konsentrasi 0.75 mg/mL (Tabel 3 dan 5). Sedangkan terhadap E. coli konsentrasi ekstrak mulai menunjukkan aktivitas pada 15 mg/mL dan 37.5 mg/mL (Tabel 4). Konsentrasi ini sama dengan 250 kali konsentrasi kloramfenikol untuk dapat menghambat pertumbuhan B. cereus dan S. aureus, 25 kali pada EE9KD dan 1250 kali untuk dapat menghambat pertumbuhan E. coli. Konsentrasi tersebut kurang menguntungkan jika ekstrak akan digunakan sebagai obat karena diperlukan kadar yang tinggi untuk menghambat pertumbuhan bakteri sehingga perlu dilakukan uji toksisitas serta pemurnian terhadap bahan jika ekstrak akan digunakan sebagai obat.

Tabel 3, 4 dan 5 menunjukkan bahwa aktivitas suatu ekstrak sangat dipengaruhi oleh pelarut yang digunakan pada saat ekstraksi dan masing-masing

ekstrak memiliki efek yang berbeda terhadap masing-masing bakteri. Pada ekstrak kulit buah delima, aktivitas ekstrak dari pelarut air mengandung tanin, flavonoid dan triterpenoid (Tabel 6). Ketiga senyawa ini diketahui bersifat sebagai antibakteri (Endo 2010; Naidu 2000; Sukadana 2008). Ekstrak etanol 30% dan etanol 96% mengandung tanin dan flavonoid ditambah dengan saponin (Tabel 6). Adanya saponin dalam ekstrak dapat meningkatkan kemampuan aktivitas antibakteri. Seperti dijelaskan oleh Michal et al. (2009) bahwa saponin mampu mengikat lipid pada dinding sel Proteus mirabilis sehingga meningkatkan kemampuan antibakteri ampisilin melakukan penetrasi ke dalam sel bakteri. Sehingga dapat dikatakan bahwa tanin, flavonoid dan terpenoid merupakan senyawa yang saling membantu menghambat pertumbuhan bakteri. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pelarut air tidak mampu mengambil kandungan saponin dalam simplisia sehingga mengakibatkan kemampuan ekstrak dalam menghambat pertumbuhan bakteri gram negatif menjadi berkurang.

Aktivitas yang ditunjukkan oleh ekstrak tunggal dalam penelitian ini ditentukan oleh kandungan zat yang bersifat sebagai antibakteri. Aktivitas antibakteri kontrol positif kloramfenikol dengan cara menghambat sintesis protein dan ampisilin yang menghambat pembentukan dinding serta permeabilitas membran sel bakteri dimiliki oleh ekstrak. Hal ini ditunjukkan oleh kemampuan ekstrak kulit delima sebagai antibakteri dengan adanya tanin atau polifenol melalui pengendapan protein (Endo et al. 2010). Mekanisme senyawa fenol sebagai zat antimikroba adalah dengan cara meracuni protoplasma, merusak dan menembus dinding sel, serta mengendapkan protein sel mikroba. Komponen fenol juga dapat mendenaturasi enzim yang bertanggung jawab terhadap germinasi spora atau berpengaruh terhadap asam amino yang terlibat dalam proses germinasi. Senyawa fenolik bermolekul besar sehingga denaturasi terhadap enzim esensial di dalam sel mikroba dengan mudah terjadi meskipun pada konsentrasi yang sangat rendah. Selain tanin, flavonoid juga merupakan bahan yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri seperti yang telah disampaikan Naidu (2000) bahwa flavonoid memiliki spektrum aktivitas antimikroba yang luas dengan mengurangi kekebalan pada organisme sasaran. Hal yang sama diduga

terjadi pada ekstrak daun dewandaru dimana ekstrak memiliki kandungan tanin,

Dokumen terkait