• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.TINJAUAN PUSTAKA Gerakan Sosial dan AIM

Dalam dokumen Prosiding Konferensi APSSI Vol 1.compressed (Halaman 76-100)

GERAKAN SOSIAL DUKUNG IBU MENYUSUI DI SUMATERA BARAT Novita Saseria

2.TINJAUAN PUSTAKA Gerakan Sosial dan AIM

Gerakan sosial adalah tindakan kolektif untuk mendorong atau menghambat perubahan dalam masyarakat atau dalam kelompok yang menjadi bagian masyarakat itu (Turner & Killian, 1972). Sedangkan menurut Giddens (1993), gerakan sosial adalah suatu upaya kolektif diluar lingkup lembaga-lembaga yang mapan.

Gerakan wanita sebagai salah satu bentuk gerakan sosial hendaknya mampu mendorong perubahan dalam masyarakat. Gerakan wanita di Indonesia tercatat menjelang akhir abad ke-19. Tokoh wanita pada jaman itu adalah Kartini. Kartini pernah menulis:

“Siapakah yang akan menyangkal bahwa wanita memegang peranan penting dalam hal pendidikan moral dalam masyarakat. Dialah orang yang sangat tepat pada tempatnya. Ia dapat menyumbang banyak (atau boleh diatakan terbanyak) untuk meninggikan taraf moral masyarakat. Alam sendirilah yang memberikan tugas itu padanya. Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pangkuannya lah seorang anak pertama-tama belajar, merasa, berpikir dan berbicara, dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh kehidupan anak”

“Tangan ibulah yang dapat meletakkan dalam hati sanubari manusia unsur pertama kebaikan atau kejahatan, yang nantinya akan sangat berarti dan berpengaruh pada kehidupan selanjutnya. Tidak begitu saja dikatakan bahwa kabaikan ataupun kejahatan itu diminum bersama susu ibu”

Perkumpulan wanita ketika itu sangat erat hubungannya dengan pergerakan kebangsaan Indonesia di berbagai bidang dengan tujuan khusus yaitu memajukan kerjasama untuk kemajuan wanita. Perkumpulan tersebut bergerak terutama di bidang pendidikan, disamping keterampilan lainnya seperti memasak dan menjahit. Selain itu ada juga perkumpulan yang bersifat keagamaan. Menjelang tahun 1928 perkumpulan wanita berkembang semakin pesat. Ruang lingkup dan cara perjuangan perkumpulan- perkumpulan tersebut beraneka ragam. Ada yang menganut paham nasionalisme, ada yang berhaluan politik dan ada yang tidak mencampuri urusan politik sama sekali5. Bentuknya pun beraneka ragam mulai dari perkumpulan keluarga saja, yang sekarang dikenal dengan perkumpulan arisan, sampai dengan yang memiliki tujuan yang konkret, inilah yang sekarang dikenal dengan organisasi wanita.

Perkumpulan wanita pada awal abad ke-20 ini mulai tersebar di Pulau Jawa, Jakarta, Semarang, Madiun, Malang, Cirebon, Pekalongan, Indramayu, Surabaya, Rembang, Tasikmalaya, Sumedang, Cianjur, Ciamis, Cicurug, Kuningan, Sukabumi, Magelang, Pemalang, Tegal, Jogjakarta, Garut. Kemudian semakin berkembang di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi.

Di Sumatera Barat, pada tahun 1914, berdiri perkumpulan “Kerajinan Amai Setia” di Koto Gadang. Dengan tujuan meningkatkan derajat kaum wanita dengan mengajarkan baca-tulis huruf Arab dan Latin, mengatur rumah tangga, membuat kerajinan tangan, bahkan mengatur pemasarannya. Kerajinan Amai Setia mendirikan sekolah yang merupakan sekolah pertama untuk anak perempuan di Sumatera. Sekolah yang diprakarsai Kerajinan Amai Setia ini mempengaruhi gerakan wanita di Sumatera Barat. Pada tahun 1922 Dinniyah Putri School didirikan. Sampai dengan saat ini, Dinniyah Putri School masih menjadi salah satu tempat pendidikan yang bermutu dan menghasilkan lulusan yang berprestasi di berbagai bidang.

Saat ini perkumpulan atau organisasi wanita sudah tidak dapat dihitung lagi jumlahnya. Perkumpulan wanita semakin berani, tegas dan terbuka. Mengikuti perkembangan teknologi dan bergerak semakin luas. Perkumpulan ini memiliki misi masing-masing dan bergerak secara kolektif. Gerakan ini sudah makin terorganisir dan bahkan telah banyak yang berbentuk organisasi yang berbadan hukum.

Gerakan sosial dimana orang-orang yang berkumpul didalamnya saling terkait lebih mungkin terorganisir daripada persatuan yang dibentuk. Organisasi gerakan sosial adalah sebuah organisasi yang kompleks atau formal yang mengidentifikasi tujuannya beserta pilihannya dalam sebuah gerakan sosial atau berlawanan dengan sebuah gerakan dan mencoba untuk mengimplementasikan tujuan-tujuannya (Mc Carthy, 2015). AIMI merupakan sebuah organisasi dalam sebuah gerakan sosial dukung ibu menyusui di Indonesia.

AIMI terbentuk pada tanggal 21 April 2007 di Jakarta. Berawal dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) untuk bayi. Komunitas ini dilatarbelakangi karena melihat dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta. Selain itu upaya sosialisasi mengenai pentingnya ASI bagi kesehatan dan imunitas bayi serta penyebaran informasi mengenai ASI dinilai masih sangat kurang. Kondisi ini diperparah pula dengan belum adanya dukungan kepada keluarga Indonesia, terutama ibu-ibu untuk mendapatkan akses informasi selengkap mungkin mengenai ASI baik dari rumah sakit tempat melahirkan dan tenaga kesehatan.

AIMI memiliki visi, pertama, menaikkan persentase angka ibu-ibu menyusui di Indonesia. Kedua, menaikkan prosentase bayi yang diberikan ASI eksklusif di Indonesia. Ketiga, agar setiap ibu di Indonesia memiliki bekal pengetahuan dan informasi yang cukup mengenai pentingnya pemberian ASI kepada bayi mereka. Keempat, agar setiap ibu di Indonesia mendapatkan dukungan penuh untuk menyusui bayinya secara eksklusif selama 6 bulan dan meneruskannya sampai 2 tahun atau lebih. Kelima, agar Pemerintah, perusahaan-perusahaan dan pihak ketiga lainnya sadar akan pentingnya ASI dengan mendukung penuh pemberian ASI kepada bayi-bayi di Indonesia. Keenam, agar masyarakat luas mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang ASI, dan memberikan dukungan dalam rangka mensukseskan pemberian ASI bagi bayi-bayi Indonesia.

Sedangkan visi AIMI, pertama, memberikan informasi, pengetahuan dan dukungan bagi para ibu untuk menyusui bayinya secara eksklusif selama 6 bulan dan meneruskannya sampai 2 tahun atau lebih. Kedua, memberikan masukan untuk pemerintahan, perusahaan dan instansi swasta agar mereka mengetahui pentingnya pemberian ASI, dengan tujuan agar pihak-pihak tersebut dapat memberikan dukungan bagi suksesnya pemberian ASI. Ketiga, memberikan pendidikan kepada lingkungan masyarakat akan pentingnya ASI dengan terus-menerus memberikan pengetahuan dan informasi

terkini mengenai ASI. Keempat, mensosialisasikan risiko pemberian susu formula kepada bayi yang berusia kurang dari 2 tahun.6

Berawal dari dua ruang maya, www.asyforbaby.blogspot.com dan milis asyforbaby

(sekarang [email protected]). Pada tahun 2006, milis merupakan salah satu media komunikasi yang cukup punya pengaruh penting. Media ini dipilih karena para penggunanya merasakan kenyamanan bersosialisasi untuk berbagi hal yang sama. Berbagi informasi dan dukungan positif dari lingkungan sekitar agar seorang bayi bisa mendapatkan haknya yaitu ASI dan sang ibu bisamendapatkan kesempatan menyusui dimanapun dan kapanpun. 7

Blog menjadi sebuah forum komunikasi bagi siapapun yang membutuhkan dan anggota milis terus bertambah. Pertumbuhan tersebut mendorong anggota milis untuk saling bertatap muka. Pertemuan ini melahirkan banyak ide dan wacana. Akhirnya pada tanggal 21 April 2007, bertempat di Jakarta Selatan, sebuah pertemuan menghasilkan deklarasi berdirinya Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia.

AIMI semakin memiliki eksistensi dengan hadir di beberapa kegiatan baik nasional maupun internasional dari tahun 2007 sampai dengan 2016 antara lain kegiatan di istana negara bersama Duta ASI ibu Ani Yuhoyono, training dan seminar bersama NGO internasional (IBFAN, UNICEF dll), mengikuti One Asia Breastfeeding Partners Forum, advokasi dengan pemerintah dan terlibat dalam penyusunan peraturan terkait ASI, turun ke daerah bencana, dan kegiatan lainnya. Sampai dengan tahun 2016, AIMI telah memiliki 15 cabang di seluruh Indonesia dan menerbitkan beberapa buku yang ditulis oleh pengurusnya.

Air Susu Ibu (ASI)

ASI menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif pada Pasal 1 ayat 1 adalah cairan hasil sekresi kelenjar payudara ibu. Menurut Wikipedia ASI adalah susu yang diproduksi oleh manusia untuk konsumsi bayi dan merupakan sumber gizi utama bayi yang belum dapat mencerna makanan padat. ASI diproduksi karena pengaruh hormon prolaktin dan oksitosin setelah kelahiran bayi. ASI pertama yang keluar disebut kolostrum yang baik untuk pertahanan tubuh bayi melawan penyakit.

Berbagai kajian dalam dua dekade terakhir makin mmperlihatkan bahwa ASI adalah nutrisi terlengkap dan terbaik.Nilai nutrisi ASI lebih besar dibandingkan susu formula, karena mengandung lemak, karbohidrat, protein dan air dalam jumlah yang tepat untuk pencernaan, perkembangan otak dan pertumbuhan bayi. Kandungan nutrisinya yang unik menyebabkan ASI memiliki keunggulan yang tidak dapat ditiru oleh susu formula manapun. Susu sapi mengandung jenis protein yang berbeda yang mungkin baik untuk anak sapi, tetapi bayi manusia sulit mencernanya. Bayi yang mendapat susu formula mungkin saja lebih gemuk dibanding bayi yang mendapat ASI, tetapi belum tentu lebih sehat8.

24 jam setelah ibu melahirkan adalah saat yang penting untuk keberhasilan menyusui selanjutnya. Bayi dianjurkan disusui secara eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan dan pemberian ASI dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI, idealnya selama 2 tahun pertama kehidupan. Kolostrum yang keluar beberapa jam pertama kehidupan berfungsi melapisi saluran cerna agar kuman tidak dapat masuk ke dalam aliran

6 http://aimi-asi.org/about/

7Adenita, Breastfriends Inspirasi 22, 2013, Buah Hati. Tangerang, hal 25

darah dan akan melindungi bayi sampai sistem imunnya (sistem kekebalan tubuh) berfungsi dengan baik.

Banyak penelitian yang menilai pengaruh jangka pendek dan panjang dari menyusui terhadap kesehatan bayi dan anak. Menyusu eksklusif selama 6 bulan terbukti memberikan risiko yang lebih kecil terhadap berbagai penyakit infeksi. Menyusu dapat berpengaruh terhadap perkembangan intelektual anak. Anak yang disusui mempunyai intelegensia dan emosi yang lebih matang yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosialnya di masyarakat. Menyusui juga memberi keuntungan untuk ibu karena praktis dan meningkatkan kadar antibodi dalam darah sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya infeksi setelah melahirkan, mengurangi pendarahan post partum, mengurangi resiko kanker payudara, kanker ovarium dan osteoporosis.

Tidak hanya bagi ibu dan bayi, menyusui juga memberikan keuntungan bagi keluarga, sistem pelayanan kesehatan, pemberi kerja dan negara secara keseluruhan. Keluarga dapat karena tidak perlu membeli susu formula. Bayi jarang sakit, sehingga lebih jarang berobat ke dokter dan rawat inap sehingga dapat menurunkan anggaran negara.

Menyusui memiliki cukup banyak tantangan, misalnya dukungan dari lingkungan sekitar dan tempat bekerja. Ibu menyusui yang bekerja membutuhkan lingkungan yang bersih, suasana yang nyaman, jadwal kerja yang fleksibel. Idealnya, fasilitas perawatan bayi disediakan di tempat kerja. Apabila tempat bekerja tidak memiliki program menyusui, ibu harus meminta kepada atasannya untuk merancang kebutuhan tersebut. Hal ini telah diatur oleh Perauran Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Asi Eksklusif pasal 30 ayat 3 yaitu pengurus tempat kerja dan penyelenggaran tempat sarana umum harus menyediakan fasilitas khusus untuk menyusui dan/atau memerah ASI sesuai dengan kondisi kemampuan perusahaan. Selanjutnya dalam Pasal 34 pengurus tempat kerja wajib memberikan kesempatan kepada ibu yang bekerja untuk memberikan asi eksklusif kepada bayi atau memerah asi selama waktu kerja di tempat kerja.

Secara keseluruhan proses menyusui melibatkan 4 faktor yaitu, bayi, payudara, ASI dan otak ibu. Kita seringkali meremehkan peran otak ibu dalam proses menyusui (Badriul Hegar, 2010). Perasaan depresi, marah dan nyeri harus dihindarkan saat menyusui karena dapat menghambat produksi ASI. Karena itu dukungan dari lingkungan sekitar sangat mempengaruhi keberhasilan menyusui.

Menyusui sudah menjadi kebutuhan dasar manusia. Para ahli sejarah menemukan bukti-buki tentang menyusui. Di Peru, ditemukan sebuah artefak keramik tanah liat berbentuk ibu menyusui yang berasal dari kebudayaan Monche (1-800SM). Di India karya Brahmana menuliskan para wanita india menyusui sejak abad ke-2 menyusui anak- anaknya. Di agama Hindu, Dewi Parvati, digambarkan sedang menyusui putranya dewa pengetahuan dan kecerdasan, Ganesha. (Adenita, inspirasi 22)

Media Massa dan Teori Norma dan Budaya

Media massa adalah alat yang digunakan untuk mengirim pesan ke khalayak besar. Media massa merupakan sumber kekuatan alat kontrol, manajemen, dan inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti kekuatan atau sumber daya lainnya (MC.Quail.2005:3). Media massa membantu memperbanyak, menduplikasi atau memperkuat pesan untuk disebarkan ke khalayak yang lebih besar9.

Fungsi dari media massa adalah (Mc.Quail. 1994:70):10

1. Informasi, menyediakan informasi tentang peristiwa dan kondisi dalam masyarakat dan dunia Menunjukkan, hubungan kekuasaan, Memudahkan inovasi adaptasi dan kemajuan.

9Brent D Ruben, dkk, Komunikasi dan Perilaku Manusia, PT. Rajagrafindo Persada, 2013, hal 209 10 http://www.landasanteori.com/2015/10/pengertian-media-massa-definisi-fungsi.html

2. Korelasi, menjelaskan, menafsirkan, mengomentari makna peristiwa dan informasi, menunjang otoritas dan norma-norma yang mapan, melakukan sosialisasi, mengkoordinasikan ngbeberapa kegiatan, membentuk kesepakatan dan menentukan urutan prioritas.

3. Kesinambungan, mengekspresikan budaya dominant dan mengakui keberadaan kebudayaan khusus (subculture) serta perkembangan budaya baru, meningkatkan dan melestarikan nilai-nilai.

4. Hiburan, menyediakan hiburan, pengalihan perhatian dan sarana relaksasi, meredakan ketegangan sosial.

5. Mobilisasi, mengkampenyakan tujuan masyarakat dalam bidang politik, pembangunan, ekonomi, pekerjaan dan agama.

Media massa dapat dibagi menjadi 3 kelompok : 1. Media Massa Cetak

Media massa yang dicetak dalam lembaran kertas. 2. Media Massa Elektronik

Media massa yang isinya disebarluaskan melalui suara atau gambar dan suara dengan menggunakan teknologi elektro.

3. Media Online (Online Media, Cybermedia), yakni media massa yang dapat kita temukan di internet (situs web).

Media cetak adalah suatu media statis yang mengutamakan fungsinya sebagai media penyampaian informasi. Maka media cetak terdiri dari lembaran dengan sejumlah kata, gambar, atau dalam tata warna dan halaman putih, dengan fungsi utama untuk memberikan informasi atau menghibur. Media cetak juga adalah suatu dokumen atas segala hal yang dikatakan orang lain dan rekaman peristiwa yang ditangkap oleh jurnalis dan diubah dalam bentuk kata-kata, gambar, foto, dan sebagainya (Ardianto & Lukiati , 2004: 99). Media cetak seperti koran, tabloid, majalah, buku dan bulletin.

Media elektronik merupakan media komunikasi atau media massa yang menggunakan alat-alat elektronik (mekanis), media elektronik kini terdiri dari (Muda, 2005: 4) radio, film dan televisi.

Media online muncul dikenal juga sebagai media baru. Media baru muncul di hampir semua aspek kegiatan sosial dan professional kontemporer. Fenomena tersebut terbukti saat ini pengguna internet bertambah dari tahun ke tahun. Membentuk teori-teori baru dalam komunikasi massa dan media. Penelitian-penelitian satu dekade terakhir dikembangkan dalam memahami sistem media baru. Pengguna internet di Indonesia pun mengalami kenaikan yang cukup pesat.

Dampak media baru telah dan akan berhasil membentuk gerakan sosial yang baru. Gerakan sosial pada umumnya memiliki empat elemen yaitu jaringan organisasi, identitas kolektif bersama, memobilisasi masyarakat untuk bergabung dengan cara yang tidak konvesional dan dalam rangka mencapai suatu tujuan sosial (Peter:2005). Elemen-elemen telah dimiliki AIMI sebagai oragnisasi yang tersebar di seluruh Indonesia dan berafiliasi dengan organisasi internasional mengajak masyarakat untuk bersama-sama mendukung ibu menyusui agar tercapai target MDGs.

Teori Norma Budaya atau The Cultural Norms Theory dari Melvin L DeFleur menjelaskan bahwa media massa secara selektif menyajikan dan menekankan ide-ide, nilai-nilai atau norma-norma dengan memperkuat atau mengubahnya11. Teori ini memiliki hakikat bahwa media massa melalui penyajiannya yang selektif dan penekanannya pada tema tertentu, menciptakan kesan pada khalayak di mana norma budaya umum mengenai topik yang diberi bobot itu, dibentuk dengan cara tertentu.

11 https://ethicsinpr.wikispaces.com/Cultural+norms

Norma adalah suatu patokan dalam berperilaku yang memungkinkan seseorang menentukan apakah tindakannya itu akan dinilai oleh orang lain yang juga merupakan ciri bagi orang lain untuk menolak atau mendukung dari perilakunya (Robert M. Z. Lawang)12. Norma dapat berupa aturan yang mengatur perilaku dalam situasi tertentu di masyarakat.

Menurut teori norma budaya media komunikasi dapat menciptakan keyakinan baru mengenai hal -hal di mana khalayak sedikit banyak telah memiliki pengalaman sebelumnya.

3.METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan dengan metode kualitatif. Menurut Afrizal (2014), kualitatif didefinisikan sebagai metode penelitian ilmu-ilmu sosial yang mengumpulkan dan menganalisis data berupa kata-kata (lisan maupun tulisan) dan perbuatan-perbuatan manusia serta peneliti tidak berusaha menghitung atau mengkuantifikasikan data kualitatif yang telah diperoleh dan demikian tidak menganalisis angka-angka. Teknik pengumpulan data dengan pengumpulan dokumen, wawancara dan observasi terlibat. Observasi partisipan yaitu peneliti ikut berpartisipasi sebagai anggota kelompok yang diteliti.13. Peneliti menjadi bagian dan diterima menjadi bagian dalam kehidupan manusia yang diteliti. Peneliti melakukan hal-hal yang mereka lakukan dengan cara mereka. Analisis data mulai dilakukan dari tahap pengumpulan data sampai tahap penulisan laporan, yaitu analisis berkelanjutan (ongoing analysyis).14

4.TEMUAN DAN PEMBAHASAN

Menurunnya tingkat pemberian ASI Eksklusif di Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi harus disadari sebagai tanggung jawab bersama seluruh lini dan lapisan masyarakat. Menyadari setiap orang dapat mendukung dan dukungan setiap orang penting maka sekumpulan wanita melakukan sebuah gerakan. “Jangan pernah meremehkan kekuatan dari kumpul-kumpul. Karena disinilah tersimpan energi besar dan limpahan ide untuk melakukan hal besar secara bersama-sama. Ketika waktu begitu sempit untuk bertemu, bukan berarti kumpul-kumpul tidak bisa dilakukan melalui media yang berbeda, mailing list”. 15 Beginilah awal perkumpulan wanita yang bergerak bersama ini terbentuk. Mailing list (milis) tersebut merupakan wadah diskusi terkait permasalahan sekitar ASI dan mencari solusi yang relevan bersama-sama. Dukungan secara moril disampaikan, berbagi pengalaman membuat mereka merasa berada di tempat yang nyaman. Tanpa sadar, ruang maya membuat ikatan yang emosional diantara mereka.

Milis ini semakin berkembang dan memberi ide untuk bertemu tatap muka sesama anggotanya. Pertemuan tersebut melahirkan banyak ide dan wacana. Semangat dari dan untuk ibu menyusui ini melahirkan sebuah gerakan. Gerakan yang kemudian melahirkan organisasi, AIMI. Organisasi nirlaba diluar pemerintah sebagai bentuk tindakan kolektif untuk mendorong atau menghambat perubahan dalam masyarakat terkait pentingnya ASI dan ancaman gagal menyusui. Sampai dengan tahu 2016 eksistensi AIMI semakin diakui, aktivitas dalam melindungi, mempromosikan dan mendukung kegiatan menyusui terlihat dari berbagai daerah sampai dunian internasional. Bahkan membentuk Koalisi Advokasi ASI yang beranggotakan AIMI, WHO, MERCY CORPS, SELASI, PERINASIA, HKI, KAKAK, Klasi-YOP, IBCLC Indonesia, dan YLKI. Koalisi ini terbentuk karena belum banyak pihak yang memahami tentang keunggulan menyusui dan pemberian ASI pada

12 http://www.seputarpengetahuan.com/2015/11/15-pengertian-norma-menurut-para-ahli-terlengkap.html 13Rachmat Kriyantono, 2006, Teknik Praktik Riset komunikasi, Kencana, Jakarta

14Afrizal, 2014, Metode Penelitian Kualitatif, PT Rajagrafindo Persada, Depok. 15Adenita, Breastfriends Inspirasi 22, 2013, Buah Hati, hal 25

bayi. Belum bayak pula yang mengetahui resiko dari pemakaian susu formula dan bahwa terdapatnya peraturan yang mengatur pemasaran dari produk-produk pengganti ASI.

AIMI merupakan wujud dukungan masyarakat yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif dalam BAB VI tentang Dukungan Masyarakat Pasal 37 ayat (1) Masyarakat harus mendukung keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif baik secara perorangan, kelompok, maupun organisasi. Ayat (2) Dukungan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui: a. pemberian sumbangan pemikiran terkait dengan penentuan kebijakan dan/atau pelaksanaan program pemberian ASI Eksklusif; b. penyebarluasan informasi kepada masyarakat luas terkait dengan pemberian ASI Eksklusif; c. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program pemberian ASI Eksklusif; dan/atau d. penyediaan waktu dan tempat bagi ibu dalam pemberian ASI Eksklusif.

Pelaksanaan dukungan dari masyarakat dilakukan sesuai dengan kemampuan sumber daya yang tersedia. Pelaksanaan dukungan dari masyarakat dilakukan dengan berpedoman pada 10 (sepuluh) langkah menuju keberhasilan menyusui untuk masyarakat, yaitu: a. meminta hak untuk mendapatkan pelayanan inisiasi menyusu dini ketika persalinan; b. meminta hak untuk tidak memberikan asupan apapun selain ASI kepada Bayi baru lahir; c. meminta hak untuk Bayi tidak ditempatkan terpisah dari ibunya; d. melaporkan pelanggaran-pelanggaran kode etik pemasaran pengganti ASI; e. mendukung ibu menyusui dengan membuat Tempat Kerja yang memiliki fasilitas ruang menyusui; f. menciptakan kesempatan agar ibu dapat memerah ASI dan/atau menyusui Bayinya di Tempat Kerja; g. mendukung ibu untuk memberikan ASI kapanpun dan dimanapun; h. menghormati ibu menyusui di tempat umum; i. memantau pemberian ASI di lingkungan sekitarnya; dan j. memilih Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Tenaga Kesehatan yang menjalankan 10 (sepuluh) langkah menuju keberhasilan menyusui. Laporan Worlds Breastfeeding Trends Initiative (WBTi) 2012, angka menyusui Indonesia rangking 49 dari 51 negara.

Sumber : http://www.worldbreastfeedingtrends.org

Di Provinsi Sumatera Barat masih terdapat 10.457 bayi dari total 33.623 bayi yang belum mendapatkan kesempatan untuk menyusu secara eksklusif pada ibunya atau sebesar 68,8%. Walaupun angka ini relatif lebih baik dari daerah lain di Indonesia tetapi sebanyak 10.457 bayi masih perlu diperjuangkan haknya. Data lain menyebutkan durasi menyusui semakin bertambah usia bayi semakin pendek. Sementara rekomendasi WHO menyusui dilanjutkan sampai dengan bayi berusia 2 tahun. Tentu saja kekhawatiran para aktivis ASI banyak bayi atau anak berusia diatas 1 tahun yang belum genap berusia 2 tahun belum mendapatkan asupan yang sesuai dengan standar WHO.

AIMI SUMBAR menjadi cabang ke 14 di Indonesia, dimulai dengan dibentuknya kelompok pendukung ASI tahun 2013, AIMI SUMBAR diresmikan tahun 2015. Peresmian ini dihadiri oleh Gubernur Provinsi Sumatera Barat dan Ibu Walikota Padang. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sendiri telah menerbitkan Peraturan Daerah No 14 Tahun 2015 tentang Pemberian ASI Eksklusif dan Pemerintah Kota Padang sedang menyusun

Dalam dokumen Prosiding Konferensi APSSI Vol 1.compressed (Halaman 76-100)