• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.1 Kebijakan Publik.

2.1.1 Definisi Kebijakan Publik

Menurut Dewey (1972) dalam Wayne Persons (2005:41) bahwa kebijakan publik menitikberatkan pada apa yang ia katakan sebagai „publik dan problema-problemanya.

Kebijakan publik membahas soal bagaimana isu-isu dan persoalan tersebut disusun (constructed) dan didefinisikan, dan bagaimana semuanya itu diletakkan dalam agenda kebijakan.

Anderson dalam Budi Winarno (2002:15) merumuskan kebijakan sebagai langkah tindakan secara sengaja dilakukan oleh seorang aktor atau sejumlah aktor berkenaan dengan adanya masalah atau persoalan tertentu yang dihadapi. Sedangkan menurut Woll (1966) dalam Hessel Nogi Tangkilisan (2003:2) dalam pelaksanaan kebijakan publik terdapat tiga tingkat pengaruh sebagai implikasi dari tindakan pemerintah yaitu :

1). Adanya pilihan kebijakan atau keputusan yang dibuat oleh politisi, pegawai pemerintah atau yang lainnya yang bertujuan menggunakan kekuatan publik untuk mempengaruhi kehidupan masyarakat.

2). Adanya output kebijakan, dimana kebijakan yang diterapkan pada level ini menuntut pemerintah untuk melakukan pengaturan, penganggaran, pembentukan personil dan membuat regulasi dalam bentuk program yang akan mempengaruhi kehidupan masyarakat.

3). Adanya dampak kebijakan yang merupakan efek pilihan kebijakan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat

Jadi pada dasarnya, studi kebijakan publik berorientasi pada penyelesaian masalah nyata yang terjadi di tengah masyarakat. Dengan demikian, analisis kebijakan publik secara umum merupakan ilmu terapan dan berperan sebagai alat atau ilmu yang berusaha untuk memecahkan masalah. Pada konteks ini, kebijakan publik memiliki beragam perspektif, pendekatan maupun paradigma sesuai dengan fokus dan lokus dari obyek penelitian atau

obyek kajian. Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam mendefinisikan kebijakan ialah bahwa pendefinisian kebijakan tetap harus mempunyai pengertian mengenai apa yang sebenarnya dilakukan, ketimbang apa yang diusulkan dalam tindakan mengenai suatu persoalan tertentu. Definisi kebijakan publik akan lebih tepat bila definisi tersebut mencakup pula arah tindakan atau apa yang dilakukan dengan cepat dan tepat.

Berkaitan dengan hal tersebut, Charles O. Jones (1977) sebagaimana dikutip Hessel Nogi Tangkilisan (2003:3) mengatakan bahwa kebijakan terdiri dari komponen-komponen:

- Goal atau tujuan yang diinginkan.

- Plans yaitu pengertian yang spesifik untuk mencapai tujuan.

- Program, yaitu upaya yang berwenang untuk mencapai tujuan.

- Decision, atau keputusan, yaitu tindakan-tindakan untuk menentukan tujuan, membuat rencana, melaksanakan dan mengevaluasi program.

- Efek, yaitu akibat-akibat dari program (baik disengaja atau tidak, primer atau sekunder).

Dari penjelasan diatas, kebijakan publik menjadi suatu keputusan dari lembaga yang berwenang yang mengikat bagi orang banyak pada tataran strategis atau bersifat garis besar dibuat oleh pemegang otoritas publik, yaitu pemerintah dengan mengharapkan tujuan dan rencana yang telah disusun agar mencapai apa yang diinginkan. Sebagai keputusan (decision) yang mengikat masyarakat, maka kebijakan publik haruslah mengambil tindakan yang tepat dengan membuat perencanaan, pengimplementasian, serta menilai atau mengevaluasi atas hasil yang telah dilakukan. Selanjutnya mengkritisi efek atau dampak dari program yang telah dilaksanakan apakah sesuai yang diharapkan atau malah sebaliknya.

Sedangkan menurut Riant Nugroho (2002:129) mengemukakan kebijakan publik dalam bukunya Public Policy, sebagai berikut :

“Kebijakan publik merupakan setiap keputusan yang dibuat oleh negara, sebagai strategi untuk merealisasikan tujuan dari negara. Strategi untuk mengantar masyarakat pada masa awal, memasuki masyarakat pada masa transisi, untuk menuju kepada masyarakat yang dicita-citakan. Dengan demikian, kebijakan publik menjadi sebuah fakta strategis dari pada fakta politis ataupun fakta teknis. Sebagai sebuah strategis, maka didalam kebijakan

publik sudah terangkum preferensi-preferensi politis dari para aktor yang terlibat di dalam kebijakan khususnya pada proses perumusan”

Dari definisi diatas dapat dianalisis bahwasanya kebijakan publik secara umum dipandang sebagai sebuah konsep awal rencana pemerintah baik pusat dan daerah, maupun organisasi publik yang dirancang melalui perundang-undangan seperti UU, peraturan presiden, dan peraturan daerah (perda) yang menjadi aturan untuk mewujudkan suatu program-program kebijakan yang telah dibentuk oleh pemerintah untuk kepentingan masyarakat.

Berdasarkan definisi-definisi tentang kebijakan sebagaimana dijelaskan diatas penulis dapat simpulkan bahwa kebijakan publik merupakan keputusan pemerintah untuk memecahkan masalah- masalah yang telah diutarakan dengan tindakan yang rasional yang dilakukan oleh para aktor kebijakan disuatu negara. Dalam penelitian ini, peneliti mengangkat mengenai masalah implementasi suatu kebijakan yang berupa Program Deli Serdang BERSERI dalam pelaksanaan pengelolaan sampah dan lingkungan hidup di daerah Kecamatan Lubuk Pakam.

2.2 Implementasi Kebijakan.

2.2.1 Definisi Implementasi Kebijakan

Beberapa definisi studi menurut Jones (1977) dalam tangkilisan (2003:17) menganalisis beberapa dimensi dari implementasi pemerintahan mengenai program-program yang telah disahkan, kemudian menentukan implementasi, juga membahas aktor-aktor yang terlibat, dengan memfokuskan pada birokrasi yang merupakan lembaga eksekutor. Jadi implementasi merupakan suatu proses yang dinamis yang melibatkan secara terus menerus usaha-usaha untuk mencari apa yang akan dapat dilakukan. Dengan demikian implementasi

mengatur bagi kegiatan-kegiatan yang mengarah pada penempatan suatu program kedalam tujuan kebijakan yang diinginkan.Ada tiga kegiatan utama yang paling penting dalam implementasi keputusan adalah :

1. Penafsiran yaitu merupakan kegiatan yang menterjemahkan makna program kedalam pengaturan yang dapat diterima dan dapat dijalankan.

2. Organisasi yaitu merupakan unit atau wadah untuk menemptkan program k.edalam tujuan kebijakan.

3. Penerapan yang berhubungam dengan perlengkapan rutin bagi pelayanan, upah, dan lain-lainnya.

Dalam hal ini, masalah kegiatan fungsional dari sudut institusional, dimana organisasi bisa dilihat dari aktor atau badan-badan sebagai implementor dengan memfokuskan diri pada peranan birokrasi. Penafsiran terhadap rencana kebijakan ke dalam proses implementasi hanya dilakukan oleh organisasi birokrasi pemerintah dan pihak-pihak yang lain yang terlibat dalam pelaksanaan program kebijakan. Suatu program kebijakan akan berhasil bila penafsiran oleh badan-badan eksekutif, birokrat dan beberapa pihak lain yang terlibat dalam menyelenggarakan program program tertentu. Suatu program dapat dengan ditunjukkannya apakah keberadaan penafsiran masih mencukupi atau tidak.

Selain pengertian diatas, implementasi kebijakan menurut Lester dan Stewart (2000) dalam Solahuddin Kusumanegara 2010:115 mendifinisikan sebagai berikut :

Bahwa implementasi kebijakan dipahami juga sebagai proses, output, dan outcome.

Implementasi dapat di konseptualisasikan sebagai proses karena didalamnya terjadi beberapa rangkaian aktivitas yang berkelanjutan. Implementasi didiartikan sebagai output, yaitu melihat apakah aktivitas dalam rangka mencapai tujuan program telah sesuai dengan arahan implementasi sebelumnya atau malah mengalami penyimpangan-penyimpangan.

Akhirnya implementasi dikonseptualisasikan sebagai outcomes ini berfokus pada akibat yang ditimbulkan dari adanya implementasi kebijakan, yaitu apakah implementasi suatu kebijakan mengurangi masalah atau bahkan menambah masalah baru dalam masyarakat.

Dari penjelasan diatas, bahwa implementasi kebijakan sebagai suatu rangkaian kegiatan setelah suatu kebijakan dirumuskan. Implementasi menjadi tahap yang sangat menentukan didalam proses kebijakan, karena tanpa implementasi yang efektif maka perancang keputusan yang telah dibuat dinilai akan terancam gagal dan tidak berhasil

dilaksanakan. Dalam hal mengembangkan suatu proses pemikiran mengenai hal tentang implementasi berjalan dengan baik, sesungguhnya tidak hanya menyangkut perilaku dan sikap oleh badan atau lembaga administratif yang berperan dan bertanggungjawab untuk melaksanakan program beserta pelaksanaannya yang menjadi kelompok sasaran, namun juga diperhatikan dengan adanya jaringan kekuatan-kekuatan politik, ekonomi, dan sosial dan mempengaruhi perilaku dari semua pihak yang terlibat dan pada akhirnya berpengaruh terhadap tujuan kebijakan,baik yang positif maupun negatif .

Sedangkan implementasi menurut Tangkilisan (2003:1) dikemukakan bahwa implementasi kebijakan sebagai :

“Tahap pembuatan keputusan diantara pembentukan sebuah kebijakan-kebijakan seperti halnya pasal-pasal sebuah undang-undang legislatif, pengeluaran sebuah peraturan eksekutif, pelolosan keputusan pengadilan, atau keluarnya standar peraturan dan konsekuensi dari kebijakan bagi masyarakat yang mempengaruhi beberapa aspek kehidupannya. Jika sebuah kebijakan diambil secara tepat, maka kemungkinan kegagalan pun masih bisa terjadi, jika proses implementasi tidak tepat. Namun bagi sebuah kebijakan yang cukup berpotensi sekalipun jika diimplementasikan buruk bisa gagal untuk mencapai tujuan para perancangnya.”

Dari beberapa definisi implementasi dapat disimpulkan bahwa implementasi dapat diartikan sebagai proses pelaksanaan dari kebijakan yang telah dirumuskan sebelumnya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perlu pula ditambahkan bahwa proses implementasi untuk sebagian besar dipengaruhi oleh macam tujuan-tujuan yang akan dicapai oleh cara tujuan itu dirumuskan. Dengan demikian, implementasi merupakan tahap yang sangat menentukan keberhasilan didalam proses kebijakan, karena melalui tahap ini, keseluruhan prosedur kebijakan dapat dipengaruhi oleh tingkat pencapaian yang maksimal yang diharapkan bagi semua implementor yang terlibat didalamnya.

Dalam penelitian ini, peneliti mengangkat salah satu contoh kebijakan publik yang dijewantahkan dalam sebuah program. Program yang disebut disini adalah Deli Serdang BERSERI yang dijalankan oleh pemerintah khususnya Dinas Lingkungan Hidup untuk

melaksanakan pengelolaan lingkungan yang bersih, sehat, rindang, dan indah di daerah Kabupaten Deli Serdang.

2.2.2 Model – Model Implementasi Kebijakan

A. Model Donald Van Meter dan Carl Van Horn.

Menurut Samodra, Yuyun, dan Agus (1994:19) bahwa model yang dikembangkan berdasarkan pada pendekatan top-down pada awalnya digagas oleh Donald Van Meter dan