Budi Daya dan Sifat Tanaman Mentimun
Tanaman mentimun (Cucumis sativus L.) termasuk satu keluarga (famili) dengan melon (C. melo L.), waluh (C. mochata Duch), semangka (Citrulus vulgaris Schard) yaitu keluarga Cucurtabitaceae. Tanaman mentimun tergolong tanaman angiospermae (biji terdapat di dalam buah) dan biji ini juga yang digunakan sebagai alat perkembangbiakan (Cahyono 2003). Berdasarkan cara pemuliaannya terdapat dua jenis mentimun yaitu mentimun hibrida dan menyerbuk terbuka. Jenis mentimun hibrida adalah jenis mentimun hasil persilangan dua induk atau lebih yang memiliki sifat-sifat unggul sehingga keturunannya akan memiliki sifat lebih baik dari induknya. Jenis mentimun menyerbuk terbuka adalah jenis mentimun hasil persilangan bebas alami oleh angin ataupun serangga sehingga jenis ini dapat diperbanyak sendiri oleh petani (Sumpena 2007).
Beberapa varietas mentimun yang komersial dan banyak diusahakan petani adalah Spring swallow, Pretty swallow, Japan file, Susu S251, Farmer 368, Vario F1, Calista, Venus, Pluto, Mars, Yupiter, dan Asian Star 22. Varietas-varietas tersebut memiliki ciri masing-masing diantaranya tahan penyakit embun bulu, tahan serangan ZYMV, memiliki ukuran buah yang besar, usia panen yang relatif singkat, tekstur buah yang renyah, dan percabangan yang kuat (Departemen Pertanian 2007).
Mentimun merupakan tanaman semusim. Kondisi yang sesuai untuk mentimun dapat tumbuh dengan baik adalah kondisi yang lembab atau tempat kering yang subur. Tanaman ini tumbuh dengan menjalar atau merambat. Batang mentimun basah dan berbuku-buku serta dapat tumbuh mencapai 50 cm sampai 250 cm. Ruas atau buku pada batang utama berukuran 7 sampai 10 cm dan diameter 10 sampai 15 nm. Pada batang utama tumbuh cabang anakan yang diameternya lebih kecil dari batang utama. Bagian yang aktif tumbuh adalah pucuk batang (Imdad & Nawangsih 2001).
Daun mentimun dibedakan menjadi dua jenis yaitu daun primer (pemula) dan daun normal. Daun primer adalah daun yang pertama kali tumbuh dan tidak
mengalami perkembangan lebih lanjut atau perubahan morfologi. Daun normal adalah daun yang tumbuh setelah daun primer. Daun ini mengalami perkembangan dan perbedaan bentuk dengan daun primer. Daun normal terdiri atas helaian daun (lamina), tangkai daun, dan ibu tulang daun. Lamina mempunyai bangun dasar bulat atau bagian ginjal dan bagian ujung daun runcing berganda. Pangkal daun berlekuk dan tepi daun bergerigi ganda. Ukuran daun dewasa dapat mencapai 20 cm berwarna hijau tua hingga hijau muda, permukaan daun berbulu halus dan berkerut (Imdad & Nawangsih 2001).
Mentimun merupakan tanaman berumah satu (monoecious) dan bersifat
monoecishpolygam (pada satu tanaman terdapat bunga jantan, betina, dan bunga banci). Bunga mentimun merupakan bunga sempurna. Perhiasan bunga terdiri dari kelopak bunga (calyx) dan mahkota bunga (corolla). Kelopak bunga berwarna hijau muda, berbentuk ramping, dan berjumlah 5 buah. Mahkota bunga berwarna kuning cerah, berbentuk bulat, dan berjumlah 5-6 buah. Jika bunga mekar diameter mahkota berukuran 30-35 nm (Cahyono 2003). Bunga jantan muncul bila intensitas cahaya lebih dari 12 jam dan bunga bentina akan muncul bila pencahayaan kurang dari 12 jam (George 2010).
Bakal buah berada di bawah kelopak bunga. Bakal buah ini berupa bangun yang menonjol (menggelembung). Ketika perkembangan buah, bakal buah ini akan membesar sehingga kelopak dan mahkota bunga terdorong menempel pada pucuk buah (Gambar 1). Buah mentimun merupakan buah sejati tunggal yaitu terbentuk dari satu bunga dan satu bakal buah (Imdad & Nawangsih 2001). Buah mentimun muda berwarna antara hijau, hijau gelap, hijau muda, dan hijau keputihan sampai putih, tergantung kultivar sementara buah mentimun tua berwarna cokelat, cokelat tua bersisik, kuning tua. Diameter buah mentimun antara 12 cm sampai 25 cm (Sumpena 2001).
Biji mentimun berwarna putih, putih kekuningan, berbentuk bulat lonjong (oval) dan pipih. Biji mentimun diselaputi oleh lendir, saling melekat pada ruang- ruang tempat biji tersusun, dan jumlahnya sangat banyak. Biji-biji ini dapat digunakan untuk perbanyakan atau pembiakan (Cahyono 2003).
bunga
Gambar 1 Bunga mentimun terdorong oleh bakal buah
Satu tumbuhan dapat menghasilkan 20 buah, namun dalam budidaya biasanya jumlah buah dibatasi untuk menghasilkan ukuran buah yang baik. Buah berwarna hijau ketika muda dengan larik-larik putih kekuningan. Semakin buah masak warna luar buah berubah menjadi hijau pucat sampai putih. Bentuk buah memanjang seperti torpedo. Daging buah merupakan perkembangan dari mesokarp, berwarna kuning pucat sampai jingga terang. Buah dipanen ketika masih setengah masak dan biji belum masak fisiologi. Buah yang matang biasanya mengering dan biji dipanen, warnanya hitam (Sumpena, 2007).
Sifat-sifat Penting Squash mosaic comovirus
SqMV masuk kelompok Comovirus, famili Comoviridae. Virus ini dikenal juga dengan nama cucurbit ring mosaic virus, muskmelon mosaic virus, pumpkin mosaic comovirus (CPC 2007). SqMV pertama kali menginfeksi Cucurbita pepo
di California. Partikel SqMV berbentuk isometrik dengan diameter 30 nm dan memiliki RNA utas tunggal. SqMV merupakan virus yang stabil dalam sap kasar pada suhu ruang selama 7 hari atau dalam keadaan beku selama lebih dari lima tahun. Virion tidak memiliki selubung atau nucleocapsid berbentuk isometric (CPC 2007).
SqMV dapat menginfeksi banyak spesies tanaman dari famili Cucurbitaceae, namun sangat jarang menginfeksi semangka (Citrullus lunatus Thung) (Sikora 1994). SqMV dilaporkan di Israel dapat menginfeksi anggur Mediterania
(Ecbalium elaterium) dengan gejala mosaik kuning yang ringan dan beberapa isolat SqMV dapat menginfeksi semangka. Selain itu, SqMV dilaporkan di Maroko juga dapat menginfeksi Chenopodium album (Campbell 1985). Pada tanaman C. melo, C. sativus, C. pepo, C. moschata, C. maxima yang terinfeksi SqMV menunjukkan gejala sistemik, bercak bercincin, dan deformasi daun (Campbell 1985). Gejala pada buah C. melo berupa perubahan bentuk buah yang menjadi tidak normal dengan terbentuknya tonjolan pada permukaan buah atau bentuk buah menjadi lebih kecil dibandingkan ukuran normalnya (CPC 2007).
SqMV ditularkan oleh setidaknya 14 spesies serangga yang umumnya kelompok kumbang (Coleoptera). Vektor-vektor tersebut antara lain famili Chrysomelidae (Acalymma trivittata, Atranchya sp, Aulacophora similis, dan
Diabrotica undecimpunctata) dan Coccinellidae (Epilachna sp.). Berdasarkan lama virus dalam tubuh serangga, hubungan SqMV dengan serangga vektornya digolongkan nonpersisten yang artinya virus berada di dalam tubuh serangga dalam waktu yang sangat singkat. Penularan virus terjadi ketika periode makan. Serangga mengkonsumsi tanaman terinfeksi, virus akan menempel pada alat mulut serangga lalu menyebar ketika serangga makan tanaman lain yang belum terinfeksi (Campbell 1971).
Efisiensi Virus Terbawa Benih
Benih merupakan salah satu komponen utama dalam produksi tanaman. Menurut Agarwal dan Sinclair (1996) sekitar 90% dari tanaman di seluruh dunia berkembang biak dengan benih. Benih tanaman yang membawa patogen akan terganggu pertumbuhannya, vigor benih menurun, dan mengalami penurunan produksi tanaman. Patogen yang terbawa benih diantaranya adalah dari golongan cendawan, bakteri, fitoplasma, virus, dan viroid.
Benih dapat terinfeksi virus karena tanaman inangnya terinfeksi secara sistemik. Sekitar 20% virus patogen tanaman ditularkan melalui benih. Virus patogen tanaman yang dilaporkan terbawa benih antara lain adalah BCMV (Bean common mosaic potyvirus), ToMV (Tomato mosaic tobamovirus), TMV (Tobaco mosaic tobamovirus), RTBV (Rice tungro bacilliform virus), PRSV (Papaya
ringspot potyvirus), CMV, TRSV, ZYMV, WMV, dan SqMV (Agarwal & Sinclair 1996).
Patogen terbawa benih adalah patogen yang ditularkan dari tanaman inang yang terinfeksi (Koenraadt & Remeeus 2007). Benih yang telah membawa virus pada umumnya memiliki pertumbuhan yang kurang optimal. Gangguan pertumbuhan dapat berupa penuruan vigor pada benih, pertumbuhan yang lambat, terjadi mosaik, nekrosis, maupun malformasi pada daun, ukuran tanaman tidak normal atau terjadi pengerdilan, hingga penurunan produksi tanaman yang terinfeksi. Hal ini disebabkan karena virus mengganggu proses replikasi di dalam sel tanaman sehingga fisiologi tanaman telah terganggu sejak awal masa pertumbuhan (Matthews 1991).
Virus dapat menginfeksi benih melalui jalur infeksi sistemik virus pada seluruh jaringan tanaman hingga ke bagian reproduksi tanaman seperti tepung sari dan ovul. Pembentukan biji yang gamet yang bila terinfeksi virus kemungkinan akan menghasilkan benih yang juga mengandung virus. Virus bertahan pada embrio benih seperti yang terjadi pada SqMV. Virus yang menginfeksi tepung sari dan ovul dapat juga bertahan pada endosperma benih seperti TMV pada benih tomat. Beberapa penularan melalui benih juga dapat disebabkan karena virus bertahan pada jaringan kulit benih (seed coat) seperti pada ToMV. Virus tidak terbawa pada tepung sari dan ovul melainkan terdapat di bagian luar benih sehingga tidak mengganggu.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan sejak Februari 2011 sampai Agustus 2011. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Institut Pertanian Bogor di Cikabayan, Dramaga dan Laboratorium Virologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Survei dan Identifikasi Virus yang Menginfeksi Mentimun Pengambilan Sampel
Sampel berasal dari pertanaman mentimun milik petani di desa Situgede, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Daun mentimun yang dikumpulkan sebagai sampel adalah daun yang menunjukkan gejala terserang virus. Sampel daun dibedakan berdasarkan tipe gejalanya yaitu bintik kuning, mosaik kuning, mosaik hijau, mosaik hijau-kuning, mosaik hijau keriting, mosaik kuning-hijau- keriting, dan keriting.
Deteksi Virus pada Sampel Daun dari Lapangan
Infeksi virus diidentifikasi dengan metode ELISA tidak langsung (indirect ELISA) dengan menggunakan beberapa antiserum yaitu antiserum untuk CMV, ZYMV, SqMV, WMV, dan TRSV. Penggunaan beberapa jenis antiserum tersebut bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis virus yang menyerang tanaman mentimun di lapangan. Pengujian ini juga untuk menentukan isolat SqMV yang akan digunakan untuk penelitian lebih lanjut.
Perbanyakan Inokulum SqMV
Inokulum SqMV diperbanyak pada tanaman mentimun dengan cara penularan mekanis. Isolat SqMV diperoleh dari sampel daun yang positif terinfeksi SqMV dan memiliki titer virus paling tinggi. Cairan perasan tanaman (sap) ditularkan pada tanaman mentimun yang berumur tujuh hari setelah tanam.
Sap tanaman dipersiapkan dengan menggerus sebanyak 0.2 g daun dalam bufer fosfat dengan perbandingan 1:10 (b/v). Inokulasi dilakukan pada kotiledon tanaman yang telah ditaburi dengan karborundum (600 mesh) dengan cara mengoleskan sap tanaman sakit pada permukaan kotiledon dengan menggunakan jari. Setelah pengolesan, kotiledon tersebut dibilas dengan aquades mengalir (Bos 1990). Tanaman yang telah diinokulasi dipelihara dan diamati gejala yang timbul. Setelah empat belas hari, daun yang menunjukkan gejala dipanen dan diawetkan menggunakan nitrogen cair lalu disimpan pada suhu -80 0C.
Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Mentimun Penanaman Benih
Media tanam disiapkan yaitu berupa campuran tanah dan pupuk kandang (1:1) yang telah disterilkan dengan mengunakan otoklaf. Polybag berukuran 35 cm x 35 cm diisi dengan media sebanyak tiga per empat bagian. Benih mentimun yang akan ditanam terlebih dahulu direndam dalam fungisida selama 1 jam lalu ditiriskan. Benih lalu ditanam pada polibag yang telah disiapkan dalam kondisi basah. Benih ditanam pada kedalaman 3 cm dengan letak calon akar (bagian yang runcing) berada di bagian bawah.
Benih mentimun yang digunakan berasal dari toko pertanian, terdiri dari lima varietas yaitu Vario F1, Calista F1, Venus, Yupiter, dan Japan file. Penggunaan varietas-varietas tersebut didasarkan pada varietas yang banyak digunakan oleh petani, mudah diperoleh, dan banyak dikonsumsi masyarakat.
Pemupukan dan Penyiraman
Pupuk NPK 15:15:15 diberikan dua tahap. Tahap pertama diberikan 1 minggu setelah inokulasi. Pemupukan tahap kedua diberikan ketika tanaman memulai masa generatif yaitu ketika terjadi pemunculan bunga pertama. Pada masa pengisian buah, tanaman disemprot dengan pupuk Gandasil B. Penyiraman dilakukan setiap pagi hari. Air diberikan pada tanaman di dalam polibag sehingga air tidak dapat tersimpan. Penyiraman harus diberikan sesuai kebutuhan tanaman dan memenuhi standar waktu, cara, dan jumlah yang tepat.
Pengikatan dan Pemangkasan
Tanaman mulai diikat pada umur 2 minggu setelah tanam (MST). Batang mentimun diikat pada tali sehingga tanaman dapat merambat (Gambar 2a). Pemangkasan dilakukan terhadap wiwilan (kuncup daun yang hanya menghasilkan daun). Cabang anakan diatur agar tidak mengganggu tanaman di dekatnya, caranya adalah dengan memangkas bagian pucuk cabang anakan sehingga pertumbuhan diarahkan pada pembesaran buah.
Pemanenan
Mentimun yang ditanam dapat berbuah pada usia 32 sampai 50 hari tergantung varietas (Lampiran 1). Buah yang dipanen untuk kepentingan konsumsi adalah buah yang telah matang penuh ditandai dengan warna hijau yang seragam (Gambar 2b). Pemetikan dapat dilakukan dengan memotong sebagian tangkai atas. Pemetikan dapat dilakukan dengan bantuan gunting atau pisau sehingga bidang potong rata dan beraturan. Pemetikan dapat dilakukan setiap hari, karena proses pematangan buah berlangsung 7 sampai 10 hari setelah bunga mekar. Buah yang dipanen dengan kepentingan sebagai benih adalah buah mentimun yang tua, ditandai dengan warna kulit buah sudah putih atau kuning tergantung varietas.
Gambar 2 Tanaman merambat pada tali yang disediakan (a) ; Buah mentimun siap panen (b)
b
a
Jumlah tanaman terserang Jumlah tanaman
Inokulasi SqMV pada Lima Varietas Mentimun
Inokulasi dilakukan pada tanaman berusia 7 hari setelah tanam. Sumber inokulum adalah daun sampel tanaman yang telah diuji dan positif terinfeksi SqMV. Tahapan inokulasi diawali dengan persiapan sap tanaman. Sebanyak 0.2 g daun digerus dalam bufer fosfat dengan perbandingan 1:10 (b/v). Inokulasi dilakukan pada kotiledon tanaman yang telah ditaburi dengan karborundum (600 mesh) dengan cara mengoleskan sap tanaman sakit pada permukaan kotiledon dengan menggunakan jari. Setelah pengolesan, kotiledon tersebut dibilas dengan aquades mengalir (Bos 1990). Tahapan inokulasi dilakukan terhadap lima varietas tanaman. Jumlah tanaman yang diinokulasi adalah 10 tanaman untuk setiap varietas.
Pengamatan dilakukan terhadap masa inkubasi dan kejadian penyakit. Masa inkubasi adalah waktu gejala pertama kali muncul setelah tanaman diinokulasi. Kejadian penyakit untuk setiap varietas dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
% kejadian penyakit = x 100%
Pengamatan terhadap perkembangan penyakit mosaik dilakukan dengan mengamati perkembangan gejala yang muncul dan pengukuran titer virus pada masa vegetatif, masa berbunga, dan masa berbuah. Pengukuran titer virus dilakukan dengan metode indirect-ELISA.
Deteksi SqMV Terbawa Benih
SqMV dilaporkan sebagai patogen terbawa benih. Pada penelitian ini dilakukan pengujian untuk mengetahui jumlah benih yang membawa SqMV. Pengujian terhadap benih dibedakan menjadi dua bagian yaitu pengujian terhadap benih yang dibeli dari toko pertanian (F1) dan pengujian terhadap benih dari tanaman percobaan di rumah kaca (F2). Benih diuji dengan metode growing-on test yaitu benih ditumbuhkan pada media tanam di tempat pembibitan hingga berusia 7 hari setelah tanam (Gambar 3). Bagian tanaman (bibit) yang digunakan untuk pengujian adalah daun pertama yang muncul.
Jumlah benih terinfeksi Jumlah benih yang ditanaman
Total benih yang diuji untuk setiap varietas mentimun berjumlah 30 benih. Deteksi SqMV dilakukan dengan metode DIBA (Dot Immunobinding Assay). Persentase virus terbawa benih dihitung dengan rumus sebagai berikut:
% virus terbawa benih = x 100%
Gambar 3 Benih ditanam pada baki persemaian (growing on test)
Metode Indirect-ELISA
Metode ELISA tidak langsung dilakukan berdasarkan prosedur umum
Indirect ELISA (Agdia Inc, Indiana USA). Teknik deteksi diawali dengan tahapan persiapan antigen. Antigen disiapkan dengan menggerus 0.2 g daun mentimun dalam plastik tebal dan ditambah GEB (General Extract Buffer) pH 7.4.
Perbandingan daun dengan GEB adalah 1:10 (b/v). Sebanyak 100 µl antigen
diisikan pada sumuran plat mikrotiter, kemudian diinkubasi semalaman pada suhu 4 0C. Setelah inkubasi, cairan dalam plat mikrotiter dibuang dan diisi dengan 100
µl bloking solution yaitu skim milk 2%. Penggunaan bloking solution berfungsi untuk menutupi bagian sumuran yang tidak berikatan dengan antigen virus. Plat mikrotiter lalu diinkubasi selama 30 menit pada suhu 37 0C kemudian dicuci
menggunakan 200 µl PBST (phosphate buffer saline tween-20) sebanyak lima
kali.
Tahap deteksi selanjutnya adalah menyiapkan antiserum SqMV yaitu dengan mengencerkan antiserum SqMV dalam conjugate buffer dengan perbandingan 1:200. Sebanyak 100 µl antiserum diisikan ke dalam setiap sumuran plat mikrotiter lalu diinkubasi selama 2 jam pada suhu 37 0C. Plat mikrotiter dicuci kembali dengan PBST sebanyak lima kali. Masing-masing
sumuran lalu diisi dengan 100 µl campuran antibodi kedua (goat anti rabbit-IgG,
Agdia). Antibodi ini telah dilabel dengan phosphatase dan diencerkan dalam
conjugate buffer dengan perbandingan 1:5000. Plat mikrotiterdiinkubasi kembali selama 2 jam pada suhu 37 0C lalu dicuci dengan PBST.
Tahap deteksi selanjutnya adalah mengisi plat mikrotiter dengan 100 µl substrat PNP (paranitrophenyl phosphate) dan diinkubasi selama 30 sampai 60 menit pada suhu ruang. Apabila warna berubah kuning, maka reaksi segera
dihentikan dengan 50 µl NaOH 3 M. Hasil ELISA diukur dengan menggunakan
ELISA reader (Bio-rad model 550 microplate reader) pada panjang gelombang 405 nm. Hasil ELISA dinyatakan positif jika nilai absorbans sampel yang diuji 2 kali lebih besar dari nilai kontrol negatif tanaman sehat (Matthews 1993).
Metode DIBA (Dot Immunobinding Assay)
Metode DIBA dilakukan berdasarkan Mahmood et al. 1997 dalam Opriana 2009. Membran nitroselulosa (HybondTM –P, Amersham Bioscience UK) sebelum digunakan direndam dalam metanol 100% selama 10 detik dan dikering anginkan. Jaringan daun tanaman yang diduga terinfeksi SqMV digerus dalam
tris buffer saline (TBS) dengan perbandingan 1:10 (b/v) (TBS: Tris-HCl 0.02 M dan NaCl 0.15 M, pH 7.5). Cairan perasan tanaman tersebut selanjutnya
diteteskan ke atas membran nitroselulosa sebanyak 10 µl. Setelah tetesan sampel
kering, membran direndam di dalam 10 ml larutan blocking non fat milk 2% dalam TBS yang mengandung Triton X-100 dengan konsentrasi akhir 2%. Membran kemudian diinkubasi pada suhu ruang sambil digoyang dengan kecepatan 50 rpm selama 2 jam dengan menggunakan shaker (EYELA multi shaker MMS). Membran kemudian dicuci 5 kali dengan dH2O, tiap pencucian
berlangsung 5 menit sambil digoyang dengan kecepatan 100 rpm. Membran
selanjutnya direndam dalam 5 ml TBS yang mengandung antibodi SqMV 5 µl
ditambah non fat milk dengan konsentrasi akhir 2% dan kemudian membran diinkubasi semalam pada suhu kamar sambil digoyang dengan kecepatan 50 rpm. Membran kemudian dicuci sebanyak 5 kali dengan Tween 0,05% dalam TBS (TBST). Membran selanjutnya direndam dalam 5 ml TBS yang mengandung
konjugat 5 µl (goat anti rabbit-IgG, Agdia) ditambah non fat milk dengan konsentrasi akhir 2% dan kemudian membran diinkubasi selama 60 menit sambil digoyang dengan kecepatan 50 rpm. Membran selanjutnya dicuci kembali dengan TBST, kemudian membran direndam selama 5 menit dalam substrate buffer
(Tris-HCl 0.1 M, NaCl 0.1 M dan MgCl 5 mM) yang mengandung nitro blue tetrazolium (NBT) 66 µl dan bromo chloro indolit phosphate (BCIP) 30 µl. Bila
reaksi positif akan terjadi perubahan warna putih menjadi ungu pada membran nitroselulosa yang telah ditetesi cairan perasan tanaman dan reaksi dapat dihentikan dengan merendam membran dengan dH2O.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Identifikasi Virus pada Pertanaman Mentimun
Bogor dikenal sebagai salah satu daerah sentra pertanian khususnya tanaman hortikultura seperti buah-buahan, cabai, tomat, kacang panjang, dan mentimun. Desa Situgede merupakan salah satu kawasan pertanian di Bogor dengan komoditas yang beraneka ragam diantaranya padi, jagung, singkong, cabai, bengkuang, paria, pepaya, pisang, kacang panjang, talas, dan mentimun.
Mentimun yang dibudidayakan di daerah Situgede adalah jenis timun lalapan yang langsung dijual ke pasar. Varietas yang ditanam petani adalah mentimun hibrida Vario F1. Penggunaan varietas ini dianggap lebih menguntungkan oleh petani karena hasil yang banyak dan usia panen yang relatif cepat.
Survei dilakukan pada lahan seluas 1600 m2 dengan jumlah total tanaman sebanyak 6000 tanaman. Tanaman contoh yang diamati berjumlah 180 tanaman dengan usia 5 MST. Hasil pengamatan menunjukkan terdapat 112 tanaman atau sebanyak 62.22% tanaman mentimun yang menunjukkan gejala infeksi virus. Gejala yang terlihat di lapangan beraneka ragam tetapi gejala yang umum muncul dapat dikelompokan menjadi bintik kuning (A), mosaik kuning (B), mosaik hijau (C), mosaik hijau keriting (D), mosaik hijau kuning (E), mosaik kuning-hijau- keriting (F), dan keriting (G) (Tabel 1). Tanaman yang menunjukkan gejala tersebut selanjutnya diuji terhadap beberapa antiserum yaitu SqMV, CMV, ZYMV, WMV, dan TRSV dengan metode ELISA.
Dari tujuh sampel daun mentimun yang diuji, terdapat tiga sampel yang memberikan reaksi positif terhadap SqMV yaitu sampel B, D, dan E dengan nilai absorbansi ELISA berturut-turut 0.7660, 0.7825, dan 0.8155. Ketiga sampel tersebut menunjukkan reaksi yang negatif terhadap virus lain yang diuji yaitu CMV, WMV, ZYMV, dan TRSV. Empat sampel lainya (A, C, F, dan G) bereaksi negatif terhadap semua antiserum yang diuji. Dengan demikian, keempat sampel tanaman tersebut bebas dari infeksi SqMV, CMV, WMV, ZYMV, dan TRSV. Gejala yang muncul kemungkinan disebabkan oleh infeksi virus lain atau organisme lain. Menurut Pracaya (2010) gejala menguning pada daun dapat
disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum. Gejala mosaik ataupun keriting juga dapat muncul pada tanaman yang kekurangan unsur hara. Daun tanaman yang kekurangan kalium akan berkerut dan mengalami klorosis. Gejala mosaik
vein banding juga dapat disebabkan oleh virus lain seperti Potato Virus Y (PVY).
Tabel 1 Jenis virus yang menginfeksi tanaman mentimun di Desa Situgede, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor berdasarkan hasil ELISA
Jenis sampel Reaksi sampel terhadap antiserum
CMV SqMV TRSV WMV ZYMV
A (bintik kuning) B (mosaik kuning) C (mosaik hijau)
D (mosaik hijau keriting) E (mosaik hijau kuning)
F (mosaik hijau kuning keriting) G (keriting) - - - - - - - - + - + + - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Keterangan: - = sampel memberikan reaksi negatif terhadap antiserum
+ = sampel memberikan reaksi positif terhadap antiserum
CMV= Cucumber mosaic comovirus; SqMV= Squash mosaic comovirus; TRSV= Tobacco ring spot potyvirus; WMV= Watermelon mosaic potyvirus; ZYMV= Zuchini mosaic potyvirus
Gejala khas dari tanaman terinfeksi SqMV adalah mosaik kuning dan hijau. Pada gejala lanjut pembuluh daun akan berwarna pucat sedangkan bagian daun yang lain berwarna hijau normal (Babadoost 1999). Mosaik merupakan gejala yang paling umum muncul pada tanaman yang terinfeksi virus. Hijau daun terlihat tidak normal dan seolah terdapat batasan antara warna hijau normal, hijau pucat ataupun kuning. Gejala mosaik yang diekspresikan tanaman bergantung pada virus yang menginfeksi. Setiap virus memiliki gejala yang khas pada masing-masing tanaman inangnya. Gejala mosaik yang semakin luas merupakan tanda bahwa virus mampu bereplikasi dan virus dapat menyebar hingga menyerang titik tumbuh tanaman (Bos 1964).
Berdasarkan pengukuran nilai absorbans hasil ELISA, sampel E memiliki titer virus yang paling tinggi (0.8155). Sampel E selanjutnya digunakan sebagai sumber inokulum untuk penelitian berikutnya. Perbanyakan sumber inokulum SqMV dilakukan pada mentimun varietas Yupiter. Gejala mosaik hijau rata-rata muncul setelah 6 hari dari waktu inokulasi. Gejala mosaik hijau semakin jelas
seiring dengan pertumbuhan tanaman (Gambar 4). Konfirmasi infeksi SqMV