INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
TINJAUAN PUSTAKA
Nematoda Puru Akar
Nematoda puru akar (NPA), Meloidogyne spp. merupakan salah satu faktor pembatas produksi tanaman. NPA biasa menyerang akar atau organ tanaman yang berada di bawah permukaan tanah dan mengakibatkan terbentuknya puru. Nematoda ini bersifat kosmopolit dan memiliki sebaran inang yang sangat luas, yaitu hampir semua jenis tanaman dan berbagai spesies gulma.
Meloidoyine spp. termasuk dalam ordo Tylenchida, sub ordo Tylenchina, super famili Heteroderoidea, famili Meloidogynidae dan genus Meloidogyne. Siklus hidup nematoda ini terdiri atas telur, larva, dan dewasa. Telur diletakan di luar tubuh betina yang kemudian berkembang menjadi larva. Stadium larva (juvenil) terdiri atas 4 instar yaitu larva instar-1 (L1), instar-2 (L2), instar-3 (L3), intar-4 (L4). Larva instar-1 (L1) mengalami ganti kulit pertama di dalam telur, menjadi larva instar-2 (L2). L2 keluar dari cangkang telur masuk kedalam tanah sebagai stadium infektif. Setelah menemukan tempat infeksi yang cocok, larva mengalami ganti kulit tiga berturut-turut menjadi L3, L4 dan dewasa di dalam jaringan inang. Betina selama hidupnya tetap tinggal di tempat infeksi pada bagian stele dengan bagian posteriornya berada di permukaan akar (Dropkin 1996), sedangkan yang jantan setelah dewasa mengalami metamorfosis berbentuk vermiform meninggalkan akar, hidup bebas di dalam tanah (Kalshoven 1981).
Meloidogyne spp. diketahui menyerang banyak spesies tanaman dan dapat mempertahankan hidupnya pada gulma dan inang alternatif sebelum menemukan tanaman inang utama. Selama kondisi lingkungan tidak mendukung, nematoda ini mempertahankan hidupnya sebagai telur dalam paket gelatin yang resistan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim (Luc et al 1995).
Meloidogyne spp. merupakan nematoda yang berkembang sangat cepat dan mempunyai daya tekan yang tinggi terhadap pertumbuhan tanaman dengan gejala khas pada akar, yaitu bintil-bintil yang sering disebut puru akar (Whitehead 1998). Gejala lain yang ditimbukan oleh nematoda ini yaitu menekan terjadinya nekrosis dan merangsang feeding site dalam bentuk giant cells (sel raksasa) pada tempat
infeksi. Bila terinfeksi berat, tanaman tumbuh kerdil dengan daun yang mengalami klorosis atau memucat.
Pacar Air (Impatiens balsamina L.)
Pacar air (Impatiens basalmina) adalah tanaman herba yang mudah ditanam dan sangat rajin berbunga ini ditengarai berasal dari India. Herba berbatang basah (herbaceus) ini banyak ditanam untuk menghiasi halaman depan rumah atau kebun-kebun, dan pekarangan. Tingginya berkisar antara 30-80 cm. Daunnya tunggal, berbentuk memanjang dengan pinggir bergerigi dan berujung runcing. Bunganya terdiri dari 5 helai kelopak bunga dan warnanya pun beragam. Ada putih, ungu, jingga, merah, magenta atau pink (Jamaluddin 2009).
Tanaman pacar air memiliki efek farmakologis yang bermanfaat di bidang kesehatan. Menurut Hariana (2005) akarnya mempunyai efek sebagai anti-inflamasi (anti-radang), peluruh haid, pereda rematik, kaku leher, kaku pinggang, dan sakit pinggang; bunganya sebagai peluruh haid, menurunkan tekanan darah tinggi, menyembuhkan pembengkakkan akibat benturan, bisul, rematik sendi, gigitan ular tidak berbisa, dan radang kulit; daunnya dapat digunakan untuk mengobati keputihan, nyeri haid, radang usus buntu kronis, anti-inflamasi, tulang patah atau retak, mengurangi rasa nyeri (analgesik), bisul, radang kulit, dan radang kuku dan; bijinya untuk meluruhkan haid, terlambat haid, mempermudah persalinan, dan mengobati kanker saluran pencernaan bagian atas.
Berdasarkan pengamatan dan pelaksanaan praktikum pacar air merupakan tanaman inang yang sangat sesuai bagi berbagai spesies NPA, sehingga dalam penelitian ini pacar air digunakan sebagai tanaman uji untuk mengevaluasi keefektifan seduhan kompos dalam pengendalian NPA.
Kompos
Kompos sebenarnya sudah dikenal dan dipelajari manfaatnya sejak dahulu. Kompos adalah bahan organik seperti daun-daunan, jerami, alang-alang, rumput-rumputan, dedak, serta kotoran hewan yang telah menjadi lapuk (Murbandono 1993).
Menurut Djaja (2008) sebelum mengalami pengomposan, limbah tumbuhan atau kotoran hewan yang masih segar belum berguna bagi tanaman karena unsur
hara yang terkandung masih terikat dalam bentuk yang tidak dapat diserap oleh tanaman. Oleh sebab itu, perlu dikomposkan terlebih dahulu. Selama proses pengomposan unsur hara akan bebas menjadi bentuk yang larut dan dapat diserap oleh tanaman.
Kotoran sapi umumnya banyak mengandung air. Kandungan zat hara kotoran sapi dipengaruhi oleh jumlah hijauan, konsentrat, serta sisa rumput yang tidak termakan. Menurut Sutejo (2008) umumnya kotoran sapi mengandung unsur N, P dan K, sisanya adalah bahan kering dan abu dengan proporsi paling besar (Tabel 1), sadangkan kotoran ayam kandungan unsur haranya lebih tinggi dibandingkan unsur hara kotoran ayam (Tabel 2).
Tabel 1 Kandungan Unsur Hara Kotoran Sapi
Unsur hara Kandungan (%)
Nitrogen (N) 0,40
Fosfor (P) 0,20
Kalium (K) 0,10
Air 85
Sumber: Sutejo 2008
Tabel 2 Kandungan Unsur Hara Kotoran Ayam
Zat gizi Kandungan (%)
Nitrogen (N) 1,00
Fosfor (P) 0,80
Kalium (K) 0,40
Air 55
Sumber: Sutejo 2008
Seduhan Kompos (Compost Tea)
Seduhan kompos (compost tea) merupakan pupuk cair organik dibuat dari bahan kompos yang dimasukkan dalam wadah kemudian direndam dalam air dan diaerasi (disuplai oksigen) dalam jumlah yang cukup yang kaya dengan nutrien dan mikroba (bakteri, fungi, protozoa, nematoda) yang bermanfaat (Nasir 2007), juga dapat meningkatkan kesuburan tanah tidak hanya sebagai pupuk, seduhan kompos juga bersifat toksik bagi patogen tanaman (ROU 2007).
Menurut ROU (2007) seduhan kompos dapat dibuat dengan dua metode yaitu tanpa aerasi dan dengan aerasi. Pada seduhan kompos yang dibuat tanpa aerasi, atau tanpa pasokan oksigen, mikroorganisme yang berada di dalamnya pertumbuhannya tidak optimal. Sementara itu, pada seduhan kompos yang dibuat
dengan metode aerasi, pasokan oksigen dikondisikan terjadi secara kontinu dan dalam jumlah yang cukup besar, cukup optimal untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme yang berada di dalam kompos tersebut.
Pemberian aerasi menciptakan kondisi aerobik, dapat mempertahankan keberadaan dan perkembangan mikroba aerobik yang umumnya menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, dalam kondisi anaerobik, tanpa suplai oksigen, yang berkepanjangan menyebabkan mikroba menguntungkan terhambat perkembangannya (ROU 2007).
Menurut ROU (2007) manfaat dari seduhan kompos dalam bidang pertanian di antaranya adalah peningkatkan penekanan terhadap penyakit, meningkatkan kesehatan tanaman dan mengurangi penggunaan pestisida. Selain itu, pemberian seduhan kompos juga sangat bermanfaat sebagai suplai air dan nutrisi bagi tanaman yang dapat mengurangi kebutuhan pupuk dan biaya yang terkait. Seduhan kompos juga meningkatkan keragaman dan kekayaan mikroorganisme dalam tanah yang dapat meningkatkan kesuburan tanah serta mendukung perkembangan perakaran yang kokoh untuk pertumbuhan tanaman.
METODE
Waktu dan tempat
Penelitian dilakukan di Laboratorium Nematologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor dari bulan April sampai Juli 2010.
Penyiapan Bahan Biakan Meloidogine spp.
Nematoda yang digunakan berasal dari tanaman pacar air terserang oleh Meloidogyne spp. yang diperoleh dari sekitar kampus IPB Dramaga Bogor. Larva instar-2 (L2) diekstrak dari akar pacar air dengan menggunakan metode aerasi selama 48 jam, kemudian diinokulasikan pada tanaman pacar air biakan berumur sekitar 6 minggu yang ditanam dari biji dalam pot di laboratorium. Tanaman biakan nematoda ini dipelihara hingga berumur 6-8 minggu setelah inokulasi L2. Nematoda hasil biakan ini siap digunakan untuk percobaan.
Penyiapan Seduhan Kompos
Kompos yang digunakan teridiri atas dua jenis bahan, yaitu berasal dari kotoran sapi dan dari kotoran ayam, masing-masing diperoleh dari peternakan rakyat dan telah dikomposkan secara alamiah selama 8 minggu. Seduhan kompos disiapkan dengan dua cara, yaitu (1) kompos diencerkan hanya dengan air dan (2) kompos dencerkan dengan air ditambah 1 ml molase tiap liter air. Masing-masing jenis kompos satu bagian diencerkan dengan air 4 bagian (v/v) di dalam ember plastik secara terpisah kemudian diaerasi menggunakan aerator low noise air pump tipe LP-20. Aerasi dilakukan selama 7 hari, kemudian disaring dengan menggunakan saringan 100 mesh. Filtrat seduhan kompos yang diperoleh siap digunakan dalam pengujian.
Penyiapan Media Tanam
Tanah yang digunakan sebagai media tanam dalam penelitian ini adalah tanah latosol berasal dari kebun percobaan IPB Cikabayan yang telah disterilkan dengan menggunakan autoklaf untuk menghindari kontaminasi patogen tular
tanah, termasuk nematoda. Tanah yang sudah disterilkan dimasukkan ke dalam pot-pot plastik kapasitas isi 0,5 liter. Tiap pot diisi 0,4 liter tanah, siap digunakan dalam percobaan. Benih pacar air diperoleh dari tanaman pacar air yang tumbuh (liar) di sekitar kampus IPB Dramaga Bogor. Benih dikeringkan kemudian ditanam dalam pot-pot percobaan dengan kapasitas 0,5 liter.
Metode Percobaan
Pengaruh Seduhan Kompos terhadap Mortalitas L2 Meloidogyne spp. secara In Vitro
Pengujian dilakukan dengan menggunakan filtrat seduhan kompos yang telah disiapkan pada penyiapan bahan butir 2. Perlakuan filtrat masing-masing seduhan kompos diberikan tanpa pengenceran dan diencerkan dengan aquades pada tingkat pengenceran 10-1 dan 10-2. Perlakuan terdiri atas 13 macam, termasuk kontrol, yang dirinci sebagai berikut :
1. Filtrat seduhan kompos sapi tanpa molase tanpa pengenceran (Sa) 2. Filtrat seduhan kompos sapi tanpa molase pengenceran 10-1 (Sa-1) 3. Filtrat seduhan kompos sapi tanpa molase pengenceran 10-2 (Sa-2) 4. Filtrat seduhan kompos sapi ditambah molase tanpa pengenceran (Sm) 5. Filtrat seduhan kompos sapi ditambah molase pengenceran 10-1 (Sm-1) 6. Filtrat seduhan kompos sapi ditambah molase, pengenceran 10-2 (Sm-2) 7. Filtrat seduhan kompos ayam tanpa molase tanpa pengenceran (Aa) 8. Filtrat seduhan kompos ayam tanpa molase pengenceran 10-1 (Aa-1) 9. Filtrat seduhan kompos ayam tanpa molase pengenceran 10-2 (Aa-2) 10. Filtrat seduhan kompos ayam ditambah molase tanpa pengenceran (Am) 11. Filtrat seduhan kompos ayam ditambah molase pengenceran 10-1 (Am-1) 12. Filtrat seduhan kompos ayam ditambah molase (Am) pengenceran 10-2(Am-2) 13. Kontrol, tanpa seduhan kompos (K)
Masing-masing enceran sebanyak 1 ml dimasukan ke dalam cawan Syracuse yang berisi 100 individu L2 Meloidogyne spp. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Pengamatan dilakukan terhadap mortalitas L2 pada 48 jam setelah perlakuan dengan bantuan mikroskop stereo. Mortalitas L2 Meloidogyne spp. dinyatakan dalam persen.
Uji Potensi Seduhan Kompos terhadap Perkembangan Meloidogyne spp. pada Tanaman Pacar Air
Penelitian dilakukan dalam pot-pot plastik berisi 0,4 liter tanah disterilkan yang telah disiapkan. Tiap pot diinfestasi 500 individu L2 Meloidogyne spp. hasil biakan, kemudian diberi perlakuan seduhan kompos.
Aplikasi seduhan kompos dilakukan dengan cara penyiraman pada bagian tanah disekitar perakaran. Penyiraman dilakukan seminggu sekali sejak tanam sampai satu minggu menjelang panen. Tiap kali penyiraman, jumlah seduhan kompos sebanyak 1,33 ml tiap pot. Tanaman percobaan dirawat dengan penyiraman setiap hari dan pembersihan gulma secara periodik. Pengamatan dilakukan 6 minggu setelah tanam terhadap kepadatan akhir NPA yaitu jumlah puru, jumlah telur pada akar, jumlah L2 pada tanah. Selain itu diamati juga bobot tajuk dan bobot akar.
Telur pada akar diekstrak dengan metode Hussey & Beker (1973). Akar berpuru dicuci dengan aquades, dipotong-potong dan direndam dengan larutan 5% NaOCl selama 20 detik, kemudian disaring dengan saringan bertingkat 200, 300 dan 500 mesh, sambil dibilas dengan aquades. Suspensi telur yang tertahan pada saringan 500 mesh dimasukkan ke dalam botol film, kemudian dimasukkan ke dalam cawan Syracuse, untuk diamati kepadatannya di bawah mikroskop.
L2 pada tanah setiap pot diekstrak dengan metode penyaringan bertingkat. Tanah tiap pot dimasukan dalam ember dan ditambah ± 3 liter air kemudian disaring dengan saringan bertingkat 20, 100, 200, dan 400 mesh. Suspensi yang tertahan pada saringan 400 mesh diamati di bawah mikroskop.
Berdasarkan kepadatan akhir (Pa) Meloidogyne spp., di hitung tingkat keefektifan (TE) berdasarkan formulasi Abbot (1925 dalam Sitindaon 2006) pengendalian seduhan kompos dengan menggunakan rumus :
TE = Pa kontrol - Pa perlakuan x 100% Pa kontrol
Pa adalah kepadatan akhir nematoda
Tingkat keefektifan pengendalian dikategorikan sangat efektif (TE ≥ 95%), efektif (75% ≤ TE <95%), cukup efektif (60% ≤ TE < 75%), agak efektif (40% ≤ TE < 60%), kurang efektif (25% ≤ TE <40%), dan tidak efektif (TE < 25%).
Percobaan disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) dan data yang diperoleh diolah melalui sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf 5% dengan menggunakan program SPSS 16.0. Percobaan terdiri dari 13 perlakuan termasuk kontrol. Tiap perlakuan diulang 3 kali dan tiap ulangan terdiri dari 3 pot percobaan. Dengan demikian jumlah keseluruhan terdiri atas 117 pot percobaan.
Kepadatan Mikroba dalam Seduhan Kompos
Jumlah mikroba dalam seduhan kompos dihitung dengan teknik penghitungan koloni pada media PDA. Seduhan kompos yang telah disiapkan (butir 2) diencerkan 10-6 menggunakan aquades steril. Masing-masing sebanyak 1 ml filtrat seduhan kompos disebar pada permukaan media PDA dalam cawan petri, kemudian diinkubasi selama 24 jam dan diamati jumlah koloni yang muncul.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Seduhan Kompos terhadap L2 Meloidogyne spp. secara in vitro Hasil pengujian in vitro menunjukkan bahwa perlakuan seduhan kompos berpengaruh terhadap jumlah L2 Meloidogyne spp. yang mati pada 48 jam setelah perlakuan. Jumlah L2 Meloidogyne spp. yang mati pada semua perlakuan cenderung atau secara nyata lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (Tabel 3).
Tabel 3 Jumlah L2 Meloidogyne spp. mati dalam berbagai perlakuan seduhan kompos secara in vitro
Perlakuana) Jumlah L2 mati b) TE (%)c)
K 23a d) - Sa0 68cd 57,8 Sa-1 71cd 62,2 Sa-2 61bcd 49,6 Sm0 80d 73,9 Sm-1 54abcd 40,0 Sm-2 45abc 28,3 Aa0 76cd 68,9 Aa-1 58bcd 45,7 Aa-2 33ab 13,0 Am0 73cd 64,8 Am-1 51abcd 35,7 Am-2 44abc 27,4
a) Filtrat seduhan kompos sapi tanpa molase tanpa pengenceran (Sa0), pengenceran 10-1 (Sa-1) dan
10-2 (Sa-2); filtrat seduhan kompos sapi ditambah molase tanpa pengenceran (Sm0),
pengenceran 10-1 (Sm-1) dan 10-2 (Sm-2); filtrat seduhan kompos ayam tanpa molase tanpa
pengenceran (Aa0), pengenceran 10-1 (Aa-1) dan 10-2 (Aa-2); filtrat seduhan kompos ayam
ditambah molase tanpa pengenceran (Am0), pengenceran 10-1 (Am-1) dan 10-2 (Am-2) dan; kontrol, tanpa filtrat seduhan kompos (K)
b)
Jumlah L2 mati dari 100 L2 yang diberi perlakuan
c)
Tingkat keefektifan relatif terhadap kontrol
d)
Angka sekolom yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji Duncan = 5%
Seduhan kompos berasal dari kotoran ayam atau kotoran sapi, baik yang tanpa molase maupun yang diberi molase tanpa pengenceran (Sa0, Sm0, Aa0 dan Am0), masing-masing menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda terhadap jumlah L2 Meloidogyne spp. yang mati. Seduhan kompos yang diberi molase dalam proses pembuatannya dalam penelitian ini tidak sepenuhnya memperbaiki keefektifan terhadap L2 Meloidogyne spp., kecuali seduhan kompos kotoran sapi yang tidak diencerkan yang cenderung lebih baik. Ini ditunjukkan pada perlakuan
filtrat seduhan kompos ditambah molase, yang dincerkan (Sm-1, Sm-2, Am-1 dan Am-2) yang cenderung menurunkan jumlah L2 yang mati jika dibandingkan dengan perlakuan filtrat seduhan kompos tanpa molase dengan pengenceran setingkat (Sa-1, Sa-2, Aa-1 dan Aa-2).
Berdasarkan tingkat keefektifan pengendalian (TE), perlakuan-perlakuan filtrat tanpa pengenceran (Sm0, Aa0 dan Am0) menunjukkan tingkat keefektifan paling tinggi, berturut-turut 73,9%, 64,8%, dan 68,9% tergolong cukup efektif (60% ≤ TE < 75%) dan Sa0 dengan TE 57,8 % tergolong agak efektif (40% ≤ TE < 60%), menurut ketegori yang telah ditentukan dalam metode.
Pada perlakuan dengan pengenceran, beberapa perlakuan tergolong cukup efektif (60% ≤ TE < 75%) yaitu Sa-1
dengan TE 62,2%; tergolong agak efektif (40% ≤ TE < 60%) yaitu Sa-2
, Sm-1, Aa-1 dengan TE berturut-turut 49,6 %, 40,0% dan 45,7%; tergolong kurang efektif (25% ≤ TE <40%) yaitu (Sm-2), (Am-1) dan (Am-2) dengan TE berturut-turut 28,6 %, 35,7 % dan 27,4; dan tergolong tidak efektif (TE < 25%) yaitu Aa-2 dengan TE 13,0%.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa filtrat seduhan kompos memiliki kemampuan insektisidal terhadap L2 Meloidogyne spp. secara in vitro, dan tampaknya filtrat seduhan kompos berasal dari kotoran sapi atau ayam yang cenderung paling efektif bila tidak diencerkan. Selain itu, penambahan molase dalam proses pembuatannya tidak memberikan efek dalam peningkatan performa seduhan kompos untuk menekan L2 Meloidogyne spp.
Pengaruh Seduhan Kompos terhadap Meloidogyne spp. pada Tanaman Pacar Air
Hasil penelitian menunjukan bahwa aplikasi seduhan kompos tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah puru, tetapi berpengaruh nyata terhadap kepadatan akhir Meloidogyne spp. (Tabel 4).
Jumlah puru pada tanaman yang mendapatkan berbagai macam perlakuan seduhan kompos tidak berbeda nyata dengan kontrol, menunjukkan bahwa daya infeksi generasi pertama, L2 yang diinfestasikan ke dalam tanah setiap pot, tidak dipengaruhi oleh perlakuan. Diduga pengaruh seduhan kompos secara langsung melemahkan L2 tanpa mempengaruhi kemampuan penetrasi dan infeksi nematoda tersebut ke dalam akar, tetapi menekan perkembangan selanjutnya, terutama
kemampuan nematoda dalam reproduksi. Seduhan kompos yang melemahkan L2 berpengaruh dalam perkembangan nematoda tersebut selanjutnya. Nematoda pada kontrol tidak mendapat pengaruh ini, kemudian dapat berkembang mencapai kapasitas reproduksi secara optimal sesuai dengan kapasitasnya, melampaui reproduksi nematoda yang mendapatkan perlakuan seduhan kompos. Alasan ini yang mendasari kepadatan akhir Meloidogyne spp. pada seluruh tanaman pacar air percobaan yang mendapat perlakuan seduhan kompos secara nyata lebih rendah dibandingkan dengan kontrol. Penurunan reproduksi dapat melalui penurunan jumlah nematoda yang dapat mencapai fase reproduksi, atau menghasilkan telur yang jumlahnya tidak optimum.
Tabel 4 Pengaruh seduhan kompos terhadap jumlah puru dan kepadatan akhir Meloidogyne spp. pada tanaman pacar air
Perlakuan a) Puru Kepadatan akhir
Jumlah b) TE (%) c) Jumlah b) TE (%) c) K 38a - 12.413c - Sa0 29a 24,0 1.143ab 90,8 Sa-1 22a 41,4 1.200ab 90,3 Sa-2 41a -6,0 4.203ab 66,1 Sm0 29a 25,3 1.288ab 89,6 Sm-1 31a 19,8 2.296ab 81,5 Sm-2 52a -35,8 3.784ab 69,5 Aa0 22a 41,7 6.454b 48,0 Aa-1 34a 10,1 996a 92,0 Aa-2 29a 25,6 2.449ab 80,3 Am0 23a 40,4 2.004ab 83,9 Am-1 18a 52,4 1.256ab 89,9 Am-2 13a 66,3 2.532ab 79,6 a)
Keterangan sandi sama dengan Tabel 3
b)
Angka sekolom yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji Duncan = 5%
c)
Tingkat keefektifan relatif terhadap kontrol
Berdasarkan kreteria yang telah ditentukan, pemberian seduhan kompos yang tergolong efektif (75% ≤ TE <95%) adalah 9 perlakuan, yaitu perlakuan Sa0, Sa-1, Sm0, Sm-1, Aa-1, Aa-2, Am-2, Am-1 dan Am0, kemudian 2 perlakuan tergolong cukup efektif (60% ≤ TE < 75%), yaitu Sa-2
dan Sm-2 dan agak efektif (40% ≤ TE < 60%), yaitu Aa0
Pengaruh Seduhan Kompos terhadap Pertumbuhan Tanaman Pacar Air Bobot tanaman pada semua perlakuan seduhan kompos dan kontrol serta antar perlakuan tidak menunjukkan perbedaan nyata. Beberapa kemungkinan diduga berkaitan erat dengan tidak berbedanya bobot tanaman dalam penelitian ini. (1) Tanaman pacar air yang digunakan dalam penelitian ini cukup toleran terhadap serangan nematoda uji; (2) kepadatan awal nematoda yang digunakan masih belum cukup untuk menurunkan bobot tanaman uji; (3) waktu pengamatan (6 MST) masih terlalu dini, sehingga hanya L2 generasi pertama yang berhasil menginfeksi dan membentuk puru akar, ditunjukkan oleh jumlah puru yang tidak berbeda nyata antar semua tanaman uji (Tabel 3).
Tabel 5 Bobot tajuk dan akar tanaman pacar air yang terinfeksi Meloidogyne spp. dalam berbagai perlakuan seduhan kompos
Perlakuan a) Bobot tajuk (g) b) Bobot akar (g) b)
K 3,42a 2,15a Sa0 1,54a 0,95a Sa-1 1,29a 0,83a Sa-2 1,43a 0,99a Sm0 1,53a 1,04a Sm-1 2,25a 1,19a Sm-2 1,75a 0,85a Aa0 1,71a 1,10a Aa-1 1,87a 0,72a Aa-2 1,99a 1,03a Am0 1,53a 0,80a Am-1 1,43a 0,95a Am-2 2,82a 1,70a a)
Keterangan sandi sama dengan Tabel 3
b)
Angka sekolom yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji Duncan = 5%
Mengingat bahwa pengamatan dilakukan 6 MST, ketika infeksi terjadi hanya oleh nematoda generasi pertama belum oleh generasi kedua, hasil penelitian akan berbeda jika waktu pengamatan dilakukan 1-2 minggu kemudian (7-8 MST), ketika generasi kedua sudah menginfeksi tanaman. Intensitas serangan (jumlah puru) pada kontrol akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman perlakuan. Akibatnya, bobot tanaman pada kontrol akan jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan tanaman yang mendapatkan perlakuan seduhan kompos.
Oleh karena itu seyogyanya pengamatan dilakukan paling tidak setelah nematoda generasi kedua, bila perlu sampai generasi ketiga dan seterusnya, sudah menginfeksi tanaman.
Kepadatan Mikroba dalam Seduhan Kompos
Kepadatan mikroba dalam seduhan kompos yang dihitung menggunakan metode pencawanan dengan pengenceran 10-6 pada media PDA, tidak selalu meningkat dengan penambahan molase. Pada seduhan kompos berbahan kotoran sapi penambahan molase sangat meningkatkan kepadatan mikroba, sedangkan pada seduhan kompos berbahan kotoran ayam ditambah molase justru menurun kepadatan mikroba (Tabel 6).
Tabel 6 Kepadatan mikroba dalam seduhan kompos
Perlakuan a) Jumlah mikroba (106 cfu)
Aa 11
Am 7
Sa 37
Sm 362
a)
Aa = seduhan kompos dari kotoran ayam, Am = seduhan kompos dari kotoran ayam + molase, Sa= seduhan kompos dari kotoran sapi, Sm = seduhan kompos dari kotoran sapi + molase
Kandungan bakteri tertinggi dalam biakan ini yaitu pada seduhan kompos yang menggunakan jenis bahan kotoran sapi yang ditambahkan molase sebesar 362 koloni, hal ini ditunjukan juga bahwa seduhan kompos yang menggunakan kotoran sapi lebih baik (Tabel 4).
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Seduhan kompos dari kotoran sapi dan ayam memiliki potensi untuk pengendalian NPA, Meloidogyne spp. pada tanaman pacar air. Potensi pengendalian ditunjukkan oleh tingkat mortalitas L2 dalam uji in vitro dalam cawan Syracuse dan penekanan terhadap kepadatan akhir Meloidogyne spp. dalam uji in vivo pada skala pot di laboratorium.
Antar jenis seduhan kompos, kotoran ayam dan sapi, tidak menunjukan perbedaan pengaruh yang nyata baik dalam uji in vitro dan maupun dalam uji in vivo. Demikian pula penambahan molase dalam proses pembuatan seduhan kompos dan pengenceran tidak meningkatkan performa seduhan kompos dalam penekanan terhadap Meloidogyne spp.
Saran
Pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini (6 MST) masih terlalu dini. Infeksi Meloidogyne spp. baru terjadi oleh L2 generasi pertama. Hasilnya akan menunjukkan tingkat keefektifan yang lebih tinggi jika pengamatan dilakukan ketika nematoda uji generasi ke 2-3 sudah mampu menginfeksi tanaman.
Pengujian perlu dilakukan pada jenis tanaman lain yang sering bermasalah denngan NPA pada tanaman budidaya.
DAFTAR PUSTAKA
Agrios GN. 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Edisi ketiga. Busnia, Penerjemah. Yogyakarta: UGM Press. Terjemahan dari: Plant Pathology, 3th edition.
Akhadi DH. 2008. Teh kompos pupuk berfungsi sebagai pestisida. http://www.technologyindonesia.com.[23 maret 2009].
Akhtar S, Gilani STS, Hasan N. 2004. Persistence of chlorpyrifos and fenpropathrin alone and in combination with fertilizers in soil and their effect on soil microbes. Botani 36(4): 863-870.
Arancon NQ, Galvis P, Edward C, Yardim E. 2003. The tropic diversity of nematode communities in soil treated with vermicompost. Pedobiologia 47: 736-740.
BPS (Badan Pusat Statistik). 2009. Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk, data statistik indonesia,12 Januari 2009. Jakarta: BPS.
Djaja W. 2008. Langkah Jitu Membuat Kompos dari Kotoran Ternak dan Sampah. Jakarta: AgroMedia.
Dropkin VH. 1996. Pengantar Nematologi Tumbuhan. Edisi kedua. Yogyakarta: UGM Press. Terjemahan dari: Introduction to Plant Nematology.
Hariana A. 2005. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya, Seri 2. Jakarta: Penebar Swadaya.
Hussey RS, Barker KR. 1973. A comparison of method of collecting inocula for Meloidogyne spp., including a new technique. Plant Disease 57: 1025-1028.
Ingham E. 2003. Compost tea promises ang particalities. BioCycle 33 No 12.
Jamaluddin M. 2009. Pacar air untuk atasi nyeri haid. http://m.kompas. com/news/read/data/2009.11.12.10301138. [18 November 2010].
Kalshoven LGE. 1981. Pest of Cropin Indonesia. Laan van der, penerjemah. Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve. Terjemahan dari: Dep plagen van de