• Tidak ada hasil yang ditemukan

P ENGARU FUNG

TINJAUAN PUSTAKA Peranan Air pada Tanaman

Air merupakan sumber kehidupan bagi seluruh makhluk hidup. Air mempunyai peranan sangat penting karena air merupakan bahan pelarut bagi kebanyakan reaksi dalam tubuh makhluk hidup. Air juga digunakan sebagai medium enzimatis. Air sangat penting bagi tumbuhan, karena 30% sampai 90% berat tumbuhan tersusun atas air. Tumbuhan menggunakan air pada proses fotosintesis. Mineral-mineral yang diserap oleh akar harus terlarut juga dalam air (Astuti dan Dewi, 2008).

Dalam siklus hidup suatu tanaman, mulai dari perkecambahan sampai tumbuh dan berkembang, tanaman selalu membutuhkan air. Fungsi air bagi tanaman diantaranya sebagai unsur esensial di dalam protoplasma, pelarut garam-garam, gas dan zat lain dalam proses translokasi, pereaksi fotosintesis dan berbagai proses hidrolisis, esensial untuk menjaga turgiditas, pembukaan stomata, serta sebagai penyangga bentuk daun muda yang berlignin sedikit. Kebutuhan air pada tanaman dapat dipenuhi melalui tanah dengan jalan penyerapan oleh akar. Besarnya air yang diserap oleh akar tergantung ketersedian atau kadar air tanah yang ada dan laju transpirasi. Pada kondisi kadar air tanah rendah atau berada di bawah kapasitas lapang, dan dalam kondisi laju evapotranspirasi melebihi laju absorbsi air, maka tanaman akan dihadapkan pada kondisi cekaman air atau kekeringan (Sasli, 2004).

Air dapat membatasi pertumbuhan dan produktivitas pertumbuhan hampir di segala tempat, baik karena periode kering tak terduga maupun curah hujan normal yang rendah sehingga diperlukan pengairan yang teratur (Salisbury dan Ross, 1995). Pengaruh ketersediaan air terhadap pertumbuhan tanaman sangat besar. Kekurangan air pada tanaman yang diikuti berkurangnya air pada daerah perakaran berakibat pada aktivitas fisiologis tanaman (Khaerana et al., 2008).

Pengaruh Cekaman Kekeringan pada Tanaman

Pengaruh ketersediaan air terhadap pertumbuhan tanaman sangat besar. Kekurangan air pada tanaman yang diikuti berkurangnya air pada daerah perakaran berakibat pada aktivitas fisiologis tanaman. Mekanisme yang terjadi pada tanaman yang mengalami cekaman kekeringan adalah dengan mengembangkan mekanisme

respon terhadap kekeringan. Pengaruh yang paling nyata adalah mengecilnya ukuran daun untuk meminimumkan kehilangan air (Khaerana, 2008). Kekurangan air akan mengganggu aktivitas fisiologis maupun morfologis, sehingga mengakibatkan terhentinya pertumbuhan. Defisiensi air yang terus menerus akan menyebabkan perubahan yang tidak dapat balik (irreversible) dan pada gilirannya dapat menyebabkan tanaman mati (Haryati, 2003).

Cekaman kekeringan mempengaruhi semua fase pertumbuhan tanaman, baik pertumbuhan vegetatif maupun pertumbuhan generatif, yang pada akhirnya akan mempengaruhi hasil tanaman. Cekaman kekeringan pada saat pertumbuhan vegetatif akan mempengaruhi ukuran dan intensitas source (daun dan akar). Cekaman kekeringan pada saat pertumbuhan generatif akan mempengaruhi intensitas dan durasi source serta ukuran dari sink (misalnya buah atau bagian lain yang dipanen). Ukuran, intensitas dan durasi source serta ukuran sink akan mempengaruhi asimilasi total, dan akhirnya mempengaruhi hasil tanaman (Haryati, 2003).

Pengaruh dari cekaman air terhadap tanaman menurut Munns (2002) dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa tingkatan waktu, yaitu mulai dari menit, jam, hari, minggu dan bulan.

Tabel 1. Respon Tanaman terhadap Cekaman Kekeringan Menurut Waktu Waktu Pengaruh yang terlihat pada saat cekaman air

Menit Penyusutan seketika laju pemanjangan daun dan akar yang kemudian

diikuti dengan penyembuhan sebagian.

Jam Laju pemanjangan akar kembali normal tapi lebih rendah dari laju sebelumnya

Hari Pertumbuhan daun lebih dipengaruhi daripada pertumbuhan akar. Laju mekarnya daun berkurang

Minggu Ukuran akhir daun tanaman dan/atau jumlah pucuk lateral tanaman terus berkurang

Bulan Mengubah saat pembungaan, sehingga terjadi penyusutan produksi biji/ Menyusutkan produksi biji.

Cekaman kekeringan dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu kekurangan suplai air di daerah perakaran atau laju kehilangan air (evapotranspirasi) lebih besar dari absorbsi air meskipun kadar air tanahnya cukup (Sasli, 2004). Tanaman-tanaman yang tumbuh pada kondisi cekaman kekeringan akan mengurangi jumlah stomata sehingga menurunkan laju kehilangan air. Penutupan stomata dan serapan CO2 bersih pada daun berkurang secara pararel (bersamaan) selama kekeringan. Proses asimilasi karbon terganggu sebagai akibat dari rendahnya ketersediaan CO2 pada kloroplas karena cekaman air yang menyebabkan terjadinya penutupan stomata. kekeringan yang hebat akan merubah/membatasi proses asimilasi, translokasi, penyimpanan dan penggunaan karbon fotoasimilat secara terpadu (Sasli, 2004).

Rumput sebagai Hijauan Makanan Ternak

Rumput memegang peranan penting dalam penyediaan pakan hijauan bagi ternak ruminansia di Indonesia. Rumput sebagai hijauan makanan ternak telah umum digunakan oleh peternak dan dapat diberikan dalam jumlah besar. Selanjutnya dikatakan pula bahwa rumput mengandung zat-zat makanan yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup ternak, seperti air, lemak, serat kasar, beta-N, mineral serta vitamin.

Secara umum hijauan makanan ternak dapat dibagi menjadi empat yaitu, hijauan segar asal rumput, hijauan segar asal kacangan, hijauan segar selain rumput dan kacangan, dan jerami. Untuk dapat tumbuh dengan baik, tanaman memerlukan kondisi lingkungan yang sesuai dengan sifat tanaman tersebut. Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti : curah hujan, suhu, cahaya, tipe tanah, struktur tanah, dan ketersediaan hara tanah (Nurhayati, 2002). .

Menurut Reksohadiprodjo (1985) rumput tropika terbagi dua yaitu rumput tropika daerah basah dan rumput tropika daerah kering. Adaptasi iklim rumput daerah tropika basah antara lain rumput jenis ini responsif terhadap hari yang pendek atau bersifat netral (perubahan vegetatif ke generatif bisa terjadi pada jangka waktu kurang dari 12 jam), hidup pada temperatur hangat dengan curah hujan >1000 mm setiap tahunnya, sedangkan rumput tropika kering hidup di daerah kering dan bersifat tahan penggembalaan berat serta tahan kekeringan.

Rumput Rhodes (Chloris gayana Kunth)

Rumput menahun ini berstolon dan tumbuh tegak. Karangan bunga berbentuk malai bentuk jari, dengan 6 sampai 15 malai satu sisi yang panjangnya 6 sampai 10 cm terkumpul di ujung pada tangkai batang. Jumlah malai tergantung dan sangat sensitif terhadap pemupukan. Rumput Rhodesmerupakan rumput asli daerah Afrika Selatan dan Afrika Timur, lalu meluas sampai ke Afrika Barat. Rumput ini termasuk jenis rumput yang berumur panjang, mempunyai jaringan perakaran yang kuat, luas dan dalam sehingga dapat membentuk granula-granula tanah yang baik, rumput ini tumbuh baik di iklim sub-tropis seperti di Afrika, Australia, Jepang, Amerika Selatan, dan Timur Tengah.

Gambar 1. Chloris gayana Kunth

Sumber : Dokumentasi pribadi

Menurut Moore (2006) Secara morfologis rumput ini hidup di padang rumput terbuka. Rumput Rhodes atau Chloris gayana tumbuh di tanah yang kondisinya mempunyai kisaran luas sesuai jika ditanam di daerah tropika dengan curah hujan tahunan 650-1200 mm. Masih dapat tumbuh dengan baik pada setiap jenis tanah dan juga tahan kering. Pada keadaan yang sangat basah pertumbuhannya agak kerdil, dan berwarna kekuning-kuningan.

Rumput Chloris gayana Kunth adalah rumput yang baik untuk padang rumput rotasi di daerah tropik, palatable dan tahan padang pengembalaan serta tahan injakan, mudah dikembangkan dengan biji dan menutup dengan cepat (Reksohardiprojo, 1985). Ditambahkan pula bahwa rumput Rhodes cepat membentuk pertanaman yang penuh dengan perakaran dan responsif terhadap pemupukan nitrogen. Produksi berat kering (BK) umumnya berkisar dari kira-kira

sampai 10-25 ton/ha, tergantung dari varietas, kesuburan tanah, kondisi lingkungan, dan frekuensi pemotongan.

Rumput Paspalum notatum

Rumput ini dikenal dengan nama rumput Bahia (Amerika Serikat), jengi brillo (Kosta Rika), batatais (Brasil), Paraguay paspalum (Zimbabwe), tejona (Kuba). Memiliki akar yang berserat bentuk padat, bahkan di tanah berpasir rawan- kekeringan. Daun-bilah umumnya berbulu di pinggiran dan kurang dari 1 cm lebar. Mempunyai bibit yang subur atau mudah berkembang baik (prolifically) selama musim panas, biji batang 30-75 cm tinggi, biasanya dengan dua (kadang-kadang tiga), masing-masing panjangnya 6 cm. Biji berbentuk oval, kekuningan-hijau, mengkilap dan berdiamter sebesar 3 mm.

Gambar 2 Paspalum notatum

Sumber: Dokumentasi pribadi

Tanaman ini tumbuh pada musim semi, panas dan gugur, dengan curah hujan minimal 750 mm pertahun. Memiliki toleransi terhadap kekeringan yang cukup baik, karena akarnya tumbuh mendalam, dapat hidup pada berbagai jenis tanah, tetapi paling cocok adalah tanah berpasir. Suhu optimum untuk pertumbuhan rata-rata 20,2 °C. Tanaman ini tumbuh baik pada pH 4,5-6,5 memiliki produksi BK berkisar 40 ton/ha tergantung iklim (Newman, 2010)

Rumput Paspalum dilatatum

Paspalum dilatatum yang dikenal dengan nama rumput australi, rumput dallies (Indonesia), berasal dari Brazil, Argentina, Uruguay (Amerika Selatan). Rumput ini memiliki kandungan protein kasar berkisar antara 13,4-18,5% , lemak kasar 1,3-2,4 %, serat kasar 24,4-34,8 % dan Beta-N 40,1-48,6 %, kecernaan BK sekitar 50-63 %. Bentuk adaptasi rumput ini cocok pada jenis tanah berstruktur

sedang sampai berat, tapi yang paling baik adalah pada tanah berat yang basah dan subur. Hidup pada ketinggian 0-2000 m (dataran rendah sampai pegunungan). Rumput ini dapat memberikan pengaruh yang cukup berbahaya pada domba karena pengaruh dari senyawa cyanogenic glikosida yang terdapat dalam rumput ini, walaupun HCN nya relatif rendah (42 ppm). Kelebihan konsumsi dapat mengakibatkan ternak mengalami diare.

Gambar 3. Paspalum dilatatum

Sumber : Dokumentasi pribadi

Rumput ini termasuk rumput berumur panjang, tumbuh tegak yang bisa mencapai tinggi 60-150 cm, tumbuh di daerah rendah dengan curah hujan sekitar 750 mm, dan meluas setidaknya ke lereng yang lebih rendah yang lebih tinggi curah hujannya (sampai sekitar 1.700 mm) dengan suhu berkisar 22,5 0C- 30 0C, berdaun rimbun yang berwana hijau tua. Tanaman ini toleran terhadap kekeringan karena sistem perakarannnya luas dan dalam, serta tahan genangan air, rumput ini juga merupakan rumput gembala yang baik, tahan injak, dan renggut serta palatable dan memiliki kandungan gizi yang tinggi. Sebagai rumput potong, rata-rata produksinya bisa mencapai 50-70 ton per tahun/ha ( Nahak, 2011).

Mikoriza Arbuskula (FMA)

Mikoriza merupakan salah satu bentuk simbiosis mutualistik antara cendawan (mykes) dan perakaran (rhiza) tumbuhan tingkat tinggi. Adanya bentuk asosiasi antara cendawan mikoriza dan akar, sebenarnya adalah suatu bentuk “parasitism” dimana cendawan menyerang sistem perakaran tetapi tidak sebagaimana halnya parasit yang berbahaya (patogen). Dalam hal ini cendawan tidak merusak atau membunuh inangnya tetapi memberikan keuntungan kepada tanaman inangnya

dengan mensuplai mineral anorganik yang berasal dari tanah untuk tanaman inang dan sebaliknya cendawan dapat memperoleh karbohidrat dan faktor pertumbuhan lainnya dari tanaman inang (Rungkat, 2009). Secara umum mikoriza di daerah tropis tergolong dalam dua tipe berdasarkan struktur dan cara infeksinya terhadap tanaman inangnya yaitu : ektomikoriza dan endomikoriza (Rungkat, 2009).

Struktur utama dari Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) adalah arbuskula, vesikula, hifa eksternal dan spora antara lain yaitu (Dewi, 2007) : (1) Arbuskula adalah struktur hifa yang bercabang-cabang seperti pohon-pohon kecil yang mirip haustorium (membentuk pola dikotom), berfungsi sebagai tempat pertukaran nutrisi antara tanaman inang dengan jamur. (2) Vesikel merupakan suatu struktur berbentuk lonjong atau bulat, mengandung cairan lemak, yang berfungsi sebagai organ penyimpanan makanan atau berkembang menjadi klamidospora, yang berfungsi sebagai organ reproduksi dan struktur tahan. (3) Hifa eksternal merupakan struktur lain dari FMA yang berkembang di luar akar. Hifa ini berfungsi menyerap hara dan air di dalam tanah. (4) Spora, merupakan propagul yang bertahan hidup dibandingkan dengan hifa yang ada di dalam akar tanah. Spora terdapat pada ujung hifa eksternal dan dapat hidup selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Perkecambahan spora bergantung pada lingkungan seperti pH, temperatur dan kelembaban tanah serta kadar bahan organik.

Bentuk struktur arbuskula, vesikula, hifa eksternal dan spora dapat dilihat pada Gambar 4.

(a) (b) (c) (d) Gambar 4. Bentuk Struktur (a) Arbuskula (b) Vesikula (c) Hifa Eksternal (d) Spora

Sumber : Dokumentasi pribadi.

Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) yang menginfeksi sistem perakaran tanaman inang akan memproduksi hifa secara intensif sehingga tanaman bermikoriza akan mampu meningkatkan kapasitasnya dalam penyerapan unsur hara dan air serta

meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (Brundrett et al., 1996). Beberapa manfaat yang dapat diperoleh tanaman inang dari adanya asosiasi FMA adalah sebagai berikut : (1) meningkatkan unsur hara, (2) meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan, (3) tahan terhadap serangan patogen akar, dan (4) FMA dapat memproduksi hormon dan zat pengatur tumbuh.

Hubungan Mikoriza dengan Tanaman

Simbiosis antara mikoriza dan tanaman inangnya (jamur, tanah, dan akar tanaman) merupakan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan) (Brundrett, 2000). Simbiosis ini meliputi penyediaan fotosintat oleh inang untuk jamur dan sebaliknya tanaman inang memperoleh nutrien yang diambil oleh tanah dari jamur. Pada asosiasi ini infeksi pada akar tidak menyebabkan penyakit.

Mikoriza dikenal efektif dalam meningkatkan penyerapan hara, terutama akumulasi fosfor dan dan biomassa dari banyak tanaman di dalam tanah dengan kandungan fosfor yang rendah (Rungkat, 2009). Turk et al. (2006) mengatakan bahwa peran utama dari FMA adalah untuk menyediakan fosfor bagi akar tanaman yang terkena infeksi, karena fosfor adalah salah satu unsur yang sangat tidak mobil di dalam tanah, meskipun jika fosfor ditambahkan di tanah dalam bentuk segera larut, fosfor tersebut akan menjadi tidak mobil seperti fosfor organik dan kalsium fosfat.

Rungkat (2009) menjelaskan bahwa tanaman yang bermikoriza biasanya tumbuh lebih baik dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Mikoriza memiliki peranan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman, peranan mikoriza bagi tanaman sebagai berikut : a) mikoriza meningkatkan penyerapan unsur hara, b) mikoriza melindungi tanaman inang dari pengaruh yang merusak yang disebabkan oleh stres kekeringan, c) mikoriza dapat beradaptasi dengan cepat pada tanah yang terkontaminasi, d) mikoriza dapat melindungi tanaman dari patogen akar e) mikoriza dapat memperbaiki produktivitas tanah dan memantapkan struktur tanah. Pada tanaman rumput pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan juga cukup baik.

Tanah Latosol

Pembentukan Latosol biasanya terdapat di daerah tropik dan subtropik dengan curah hujan dan suhu yang tinggi. Pada daerah ini gaya-gaya hancuran bekerja lebih cepat dan lebih besar pengaruhnya daripada di daerah sedang. Di daerah tropik proses hidrolisis dan oksidasi berlangsung sangat intensif dan mineral- mineral silikat cepat hancur. Sifat Latosol yang utama adalah warna merah dan kuning, terutama pada horison B tetapi bila lapisan atas tererosi biasanya akan berwarna cokelat dan kelabu. Sifat lain yang penting dari Latosol adalah terbentuknya keadaan granular, keadaan ini akan merangsang drainase dalam keadaan sangat baik (Buckman dan Brady, 1974).

Latosol Darmaga menurut taksonomi tanah (USDA, 1975), termasuk kedalam Oxic Dystropept. Tanah ini terletak pada zona fisiografi Bogor bagian barat dan berbahan induk batuan vulkanik kuarter gunung Salak yang bersusunan Andesitik dengan asosiasi Augit. Sifat kimia dan fisik dari tanah Oxic Dystropept Darmaga adalah KTK tanah lebih dari 16 me/100 g liat, retensi kation dengan NH4Cl lebih dari 12 me/100 g liat, potensi kesuburan alaminya cukup baik yang dicirikan oleh kandungan Augit dan Plagioklas intermedier cukup banyak pada fraksi 200-20 mikro. Tingkat kesuburan NPK rendah sampai sedang, sangat responsif terhadap pemupukan P, permeabilitasnya agak lambat sampai dengan sedang (Yogaswara, 1977).

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Kaca Agrostologi Fakultas Peternakan IPB, Laboratorium Agrostologi, Laboratorium Nutrisi Ternak Perah, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Pelaksanaan penelitian dimulai bulan Juli 2010 sampai dengan Juli 2011.

Materi

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: pols Chloris gayana, Paspalum notatum, Paspalum dilatatum, tanah Latosol, pupuk KCl dan NPK, dan FMA yang diperoleh dari Labolatorium Bioteknologi Hutan dan Lingkungan Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati LPPM IPB. Peralatan yang digunakan timbangan, pot, alat penyiram tanaman, pecahan batu, plastik, sekop tanah, amplop cokelat, gunting, solatip, penggaris dan oven.

Prosedur

Persiapan jenis rumput

Tiga jenis rumput yaitu, Chloris gayana, Paspalum notatum, Paspalum dilatatum, masing-masing 20 pols.

Persiapan Media Tanam

Sebagai media tumbuh digunakan jenis tanah Latosol dari daerah Darmaga dengan cara mengambil lapisan tanah bagian atas pada kedalaman 0-20 cm. Tanah tersebut dicampur dengan pupuk kandang secara merata dengan perbandingan 9:1 (v/v), yaitu tanah sebanyak 4,5 kg dan pupuk kandang sebanyak 0,5 kg.

Penanaman

Rumput ditanam di dalam pot kapasitas 5 kg tanah, setiap pot ditanam 4 individu pols rumput. Sebelum penanaman diberikan perlakuan dengan penambahan FMA sebanyak 20 gram setiap pot tanaman (untuk pot yang mendapat penambahan mikoriza). Tanaman ditumbuhkan terlebih dahulu selama satu bulan sebelum mendapatkan perlakuan penyiraman. Setelah tumbuh dengan baik maka dapat dimulai perlakuan yaitu dengan disiram dan tidak disiram. Dosis pemberian pupuk NPK setelah tanaman tumbuh selama satu bulan adalah 3 gram per pot tanaman.

Perlakuan Kekeringan

Sebelum perlakuan kekeringan dimulai, semua pot mendapatkan perlakuan yang sama yaitu disiram satu kali sehari. Kemudian pot diberi plastik mulsa yang dibentuk bulat dengan diameter ± 35 cm untuk menutupi permukaan pot. Pada perlakuan tidak disiram (S1) plastik mulsa diselotip di sekeliling pot sedangkan pada perlakuan disiram (S0) diberi celah yang tidak diselotip untuk memudahkan proses penyiraman. Perlakuan dimulai pada keesokan harinya dan dihitung sebagai H0. Pada pot perlakuan S0 dilakukan penyiraman setiap pagi sedangkan untuk perlakuan S1 tidak dilakukan penyiraman sampai tanaman mati dan ini berarti perlakuan dihentikan kemudian dilakukan pemanenan.

Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman, pembersihan gulma dan pemberantasan hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan satu kali sehari yaitu pada pagi hari. Pembersihan gulma dilakukan secara manual yaitu dengan cara mencabut gulma. Penyemprotan hama dilakukan apabila tanaman terkena hama. Penyemprotan menggunakan pestisida yang terbuat dari bahan organik, yaitu dengan sistem kerja langsung kontak terhadap hama yang menyerang rumput sehingga tidak meninggalkan residu yang dapat mempengaruhi tanaman selama penelitian.

Panen

Pemanenan dilakukan setelah semua tanaman perlakuan tidak disiram (S1) berada dalam kondisi titik layu permanen. Kemudian semua tanaman dipanen pada semua perlakuan untuk memperoleh berat kering tajuk dan akar yang selanjutnya akan dioven.

Pengamatan

Pengamatan dilakukan setiap empat hari sekali dengan mengukur pertambahan tinggi vertikal tanaman dan pengambilan sampel tanah untuk mengukur kadar air tanah.

Rancangan dan Analisis Data Rancangan percobaan

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dengan 4 perlakuan 5 ulangan. Jenis rumput yang digunakan, yaitu Paspalum notatum, Paspalum dilatatum, Chloris gayana. Setiap jenis rumput dilakukan penelitian secara terpisah.

Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: M0S0 = Tanpa mikoriza dan disiram tiap hari

M0S1 = Tanpa mikoriza dan tidak disiram M1S0 = Dengan mikoriza dan disiram tiap hari M1S1 = Dengan mikoriza dan tidak disiram

Model

Model statistik yang digunakan adalah sebagai berikut : Yij = μ + ρi + εij

Keterangan: i = 1, 2, 3, 4 j = 1, 2, 3, 4

Yij = Nilai pengamatan perlakuan ke-i dan ulangan ke-j μ = Nilai rataan umum

ρi = Pengaruh perlakuan ke-i εij = Pengaruh galat

Peubah yang Diamati

Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah:

Tinggi tanaman, jumlah anakan, kadar air tanah, infeksi akar, berat kering tajuk, berat kering akar, indeks sensitivitas kekeringan.

Tinggi Tanaman : Pengukuran pertambahan tinggi vertikal tanaman dimulai dari

bagian tanaman di atas permukaan tanah sampai ujung tanaman dengan menggunakan pita ukur.

Pertambahan tinggi vertikal tanaman = Tt – T0

Keterangan : T0 = tinggi vertikal awal tanaman (cm) Tt = tinggi vertikal akhir tanaman (cm)

Pertambahan tinggi tanaman diukur dengan cara meluruskan daun, kemudian mengukur dari permukaan tanah sampai daun paling panjang.

Jumlah Anakan : Anakan dihitung bila telah ada daun yang terbuka dengan sempurna pada setiap jenis rumput.

Kadar Air tanah : Sampel tanah diambil sebanyak 5 g pada masing-masing pot tanaman kemudian dimasukkan ke dalam oven 105 ºC selama 24 jam. Setelah itu timbang berat sampel setelah dioven. Kadar air didapat dari berat sampel sebelum dimasukkan ke oven dikurangi berat sampel setelah dioven dibagi berat sampel setelah dioven kemudian dikalikan 100%.

       

Keterangan : W0 = berat sampel tanah sebelum dioven Wt = berat sampel tanah setelah dioven

Infeksi Akar : Banyaknya infeksi diukur dengan melihat persentase akar yang terinfeksi oleh hifa. Untuk menghitung banyaknya akar yang terinfeksi oleh fungi mikoriza arbuskula terlebih dahulu dilakukan teknik pewarnaan akar yang dikembangkan oleh Phyllip dan Hayman (1970). Pewarnaan akar dilakukan dengan cara akar dicuci kemudian dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam tabung, lalu ditambahkan larutan KOH 10% dan tabung ditutup. Setelah 24 jam KOH dibuang dan diganti dengan yang baru kemudian didiamkan selama 24 jam. Akar dicuci dan disaring dengan saringan kemudian dipotong-potong sepanjang 5 cm, dimasukkan ke dalam tabung dan dibiarkan selama 24 jam setelah mengalami penambahan larutan HCl 2%. Larutan diganti dengan larutan destaining dibiarkan selama 24 jam dan simpan pada tabung film.

Untuk menghitung infeksi akar, potongan akar dengan panjang 1 cm diambil sebanyak 10 buah, kemudian diletakkan di gelas preparat dan ditutup dengan cover glass. Agar tidak goyang diberikan PVLG, bila belum dapat dihitung, akar yang terinfeksi dapat disimpan di lemari pendingin. Persentase jumlah akar yang terinfeksi dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop stereo dengan rumus sebagai berikut:

Berat Kering Tajuk dan Akar : Pengukuran berat kering tajuk dan akar dilakukan pada akhir percobaan, untuk keperluan tersebut tajuk dan akar dengan cara dioven pada suhu 70 ºC selama 48 jam, setelah itu batang ditimbang. Berat kering tajuk dan akar yang diperoleh dinyatakan dalam satuan gram/pot.

Indeks Sensitivitas Kekeringan : Toleransi tanaman rumput terhadap cekaman kekeringan dinilai dengan indeks sensitivitas terhadap kekeringan (S) dengan rumus

(Fischer dan Maurer, 1978): S = (1-Y/Yp)/(1-X/Xp), Y = nilai respon jenis rumput

pada perlakuan cekaman kekeringan (S1), Yp = nilai respon rata-rata empat jenis rumput pada perlakuan cekaman kekeringan (S1), X = nilai respon jenis rumput pada perlakuan disiram setiap hari (S0), Xp = nilai respon rata-rata empat jenis rumput pada perlakuan disiram setiap hari (S0). Peubah setiap jenis rumput dikelompokkan menjadi toleran(T) jika ISK 0,5; agak toleran (AT) jika 0,5 < ISK 1,0; dan peka

Dokumen terkait