• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Tentang Kondisi Pemulung

Profesi pemulung dapat digolongkan ke dalam definisi kerja sektor informal, yaitu sebagai bagian dari sistem ekonomi yang tumbuh untuk menciptakan kerja dan bergerak di bidang produksi serta barang dan jasa dan dalam usahanya menghadapi keterbatasan modal, keterampilan, dan pengetahuan. Keberadaan pemulung jalanan dapat ditinjau dari beberapa demensi sosial yang ada, antara lain dimensi sosial budaya, dimensi sosial ekonomi, dan dimensi lingkungan.

a. Kondisi Pemulung Ditinjau Dari Dimensi Sosial Ekonomi

Sebenarnya keberadaan pemulung berperan dalam pembangunan meskipun tampaknya remeh. Di samping perannya dalam menciptakan lapangan kerja untuk dirinya sendiri dalam memenuhi penghasilan untuk keluarga atau biasa disebut Laskar Mandiri. Oleh karena itu, seharusnya para pemulung mendapatkan pembinaan yang tepat agar dapat menempatkan diri dalam masyarakat.

Selain itu, pemulung turut serta dalam menghemat devisa Negara dalam kegiatan ekonominya, terutama dalam penyiapan bahan baku yang murah dari barang-barang bekas. Seperti, gelas, plastik, besi, kaleng, kertas, karton, dan sebagainya. Barang-barang itu akan diolah kembali oleh pabrik-pabrik dengan proses daur ulang untuk dijadikan barang-barang yang bermanfaat dan turut menggiatkan kegiatan ekonomi.

Meskipun peranan pemulung sangat vital dalam mata rantai jaringan transaksi barang-barang bekas, namun mereka tidak berdaya untuk mempertahankan “haknya” sesuai dengan

pengorbanan yang telah mereka berikan. Ini dapat terlihat dari harga barang-barang bekas dari pemulung relatif murah jika dibandingkan dengan harga jual pengepul ke pabrik-pabrik.

b. Kondisi Pemulung Ditinjau Dari Dimensi Sosial Budaya

Ditinjau dari kondisi sosial budaya, para pemulung digolongkan ke dalam kelompok masyarakat yang memiliki sub kultur tersendiri, yaitu kultur yang memcerminkan budaya atau kebiasaan-kebiasaan hidup dari golongan masyarakat miskin. Tata nilai dan tata norma yang ada berbeda dengan tata nilai dan tata norma dalam masyarakat, dan biasanya cenderung dinilai negatif. Namun dari sudut pandang mereka, apa yang ada itu tidak dianggap sebagai suatu yang kurang baik, walaupun oleh sebagian besar masyarakat cara hidup mereka dianggap kurang wajar, karena tampak menyimpang dari tujuan yang biasa diidam-idamkan oleh warga masyarakat oleh masyarakat pada umumnya. Pada dasarnya para pemulung ingin hidup bebas, tidak mau terikat dengan aturan dan norma, sehingga bila dibandingkan dengan kondisi yang ada di kalangan warga masyarakat lainnya timbul perbedaan yang mencolok, terutama pada segi estetika, etika, dan idealisme hidup.

Dalam kehidupan pemulung yang tergolong masyarakat miskin, rasa estetika tanpaknya sangat rendah. Misalnya, mereka tidak merasa perlu berpenampilan rapi. Terkadang, walaupun belum mandi mereka sudah berkeliaran kemana-mana dengan pakaiaan kumal dan kotor. Berpenampilan seperti itu tentu saja kurang diterima masyarakat di tempat umum, karena mengganggu pemandangan dan menyebarkan bau yang kurang sedap terhadap orang-orang sekelilingnya. Rasa etika hidup juga banyak dijumpai hal-hal yang kurang baik. Seolah-olah mereka tidak mengenal rasa malu. Pakaiaan yang mereka kenakan kurang sopan untuk dikenakan di tempat umum. Sedangkan tentang idealisme hidup, mereka tidak terlalu berpikir ke depan. Mereka mengutamakan kebutuhan sesaat. Oleh karena itu, banyak diantara pemulung

cenderung beristirahat mencari barang-barang bekas apabila merasa telah mendapatkan sejumlah uang untuk beberapa hari.

Walaupun pemulung digolongkan ke sub kultur semacam ini, namun sebenarnya mereka masih memiliki kondisi sosial budaya yang lebih baik daripada gelandangan dan pengemis. Mereka memiliki etos kerja yang lebih tinggi. Hasrat untuk mandiri cukup besar, sehingga pemulung lebih bisa diarahkan dan dibina kepada kehidupan yang lebih baik.

c. Kondisi Pemulung Ditinjau Dari Dimensi Lingkungan

Ditinjau dari dimensi lingkungan peran pemulung sangat besar. Mereka ikut andil dalam menciptakan kebersihan di lingkungan perkotaan. Dengan jalan mengurangi volume sampah dari jenis yang justru tidak dapat atau sukar hancur secara alamiah. Meskipun secara kuantitatif pengurangannya kecil, sehingga kurang terlihat pengaruhnya. Sedangkan di lain pihak, dalam kegiatannya mengumpulkan barang-barang bekas, para pemulung tidak atau kurang memikirkan kebersihan dan keindahan lingkungan. Ternyata mereka merasa tidak wajib untuk turut menjaga keindahan dan kebesihan lingkungan. Seperti, banyak diantara mereka dengan seenaknya mendirikan gubuk-gubuk luar di sembarang tempat dan menumpuk barang-barang bekas di depan gubuk mereka.

Perlu ditinjau dampak dari keberadaan pemulung terhadap aspek lingkungan yang lain, dalam hal ini sejauh mana pengaruhnya terhadap sistem keamanan lingkungan. Ternyata tidak semua pemulung berperilaku jujur, terkadang ada juga yang mau mengambil hak milik orang lain yang bukan barang-barang bekas. Dengan kenyataan yang demikian itu maka kehadiran para pemulung di lingkungan daerah pemukiman sering menimbulkan curiga dan khawatir pada sebagian penduduk.

Komunitas pemulung merupakan salah satu komunitas yang memadati perkotaan. Komunitas yang sehari-harinya bekerja mengumpulkan pulungan ini, dapat dimasuki oleh siapa saja, meskipun tidak memiliki keahlian sekalipun. Persaingan yang tinggi di perkotaan, menuntut kemampuan dan keahlian di berbagai bidang bagi masyarakat, menyebabkan masyarakat yang tidak dapat mengembangkan kemampuannya, harus mencari pekerjaan yang tidak menuntut keahlian. Dan pekerjaan pemulung pun menjadi salah satu pilihan. Dengan melihat volume sampah di perkotaan yang begitu tinggi, menyebabkan lahan pekerjaan pemulung semakin banyak.

Munculnya komunitas pemulung di daerah perkotaan merupakan suatu wujud kemiskinan di perkotaan itu sendiri. Laju pertumbuhan yang semakin meningkat, semakin menyebabkan keterpurukan ekonomi yang belum mapan. Lapangan pekerjaan yang tidak sejalan dengan pertumbuhan pendudukan, menyebabkan banyaknya masyarakat yang pengangguran sehingga menyebabkan munculnya pekerjaan di sektor informal seperti pemulung. Penghasilan yang sedikit tidak sesuai dengan pemenuhan kebutuhan dasar, menyebabkan rendahnya kesejahteraan masyarakat pemulung, yang terlihat dari keikutsertaan anak dalam memulung.

Selain itu, tingkat kepedulian masyarakat perkotaan yang sangat jauh berbeda dengan masyarakat pedesaan, menimbulkan sifat individualis yang ingin bertahan sendiri tanpa memperhatikan kepentingan msyarakat lainnya. Misalnya, dalam hal membuang sampah masyarakat perkotaan cenderung tidak memperhatikan keseimbangan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya. Sehingga hal ini akan menyebabkan ketidaknyamanan terhadap masyarakat yang lainnya. Kawasan kumuh yang dihuni oleh berbagai komunitas masyarakat yang salah satunya komunitas pemulung, merupakan suatu bukti kemiskinan di perkotaan.

Ketertarikan masyarakat migran untuk menetap di perkotaan memberikan perubahan tata ruang kota akibat peningkatan penduduk, sehingga menjadikan wilayah di perkotaan semakin sempit, yang menimbulkan munculnya daerah kumuh. Munculnya komunitas- komunitas baru di daerah perkotaan menjadi akibat dari peningkatan kependudukan, sehingga masyarakat perkotaan cenderung memiliki sifat hidup berkelompok. Begitu juga dengan pemulung, yang tergabung atas kesamaan pekerjaan, menyebabkan intensitas tatap muka sesama pemulung semakin tinggi, dikarenakan bertemu di jalanan ketika mencari pulungan, atau bahkan ketika menjual hasil pulungan mereka di tauke yang sama.

Semakin banyaknya sektor informal yang muncul di perkotaan, semakin menunjukkan bahwa persaingan dalam mencari lapangan kerja dalam sector formal semakin tinggi. Kemampuan dan keahlian sangat dibutuhkan untuk mampu bersaing, dan jika tidak memiliki keduanya, maka muncullah komunitas penduduk yang membuka lapangan kerja di sector informal seperti komunitas pemulung ini. Maka dapat disimpulkan, semakin banyaknya pemulung dalam suatu daerah perkotaan, menjadi wujud kemiskinan di daerah perkotaan itu juga.

2.3 Pendidikan dan Mobilitas Sosial

Setiap individu dalam masyarakat memiliki status sosialnya masing-masing. Status merupakan perwujudan atau pencerminan dari hak dan kewajiban individu dalam tingkah lakunya. Status sosial sering pula disebut sebagai kedudukan atau posisi, peringkat seseorang dalam kelompok masyarakatnya. Pada semua sistem sosial, tentu terdapat berbagai macam kedudukan atau status.

Menurut Pitirim Sorokin (Kamanto, Sunarto: 2004) mengukur status sosial seseorang dapat dilihat dari: jabatan, pendidikan dan luasnya ilmu pengetahuan, kekayaan, politis,

keturunan dan agama. Kelas sosial timbul karena adanya perbedaan dalam penghormatan dan status sosial seseorang. Misalnya, seorang anggota masyarakat dipandang terhormat karena memiliki status sosial yang tinggi, dan seorang anggota masyarakat dipandang rendah karena memiliki status sosial yang rendah. Dengan demikian masyarakat berusaha menaikkan status sosialnya salah satunya dengan melalui pendidikan yang tinggi.

Pendidikan berkaitan erat dengan segala sesuatu yang bertalian dengan perkembangan manusia mulai perkembangan fisik, kesehatan keterampilan, pikiran, perasaan, kemampuan sosial, sampai kepada perkembangan Iman. Perkembangan ini membuat manusia menjadi lebih sempurna, membuat manusia meningkatkan hidupnya dan kehidupan alamiah menjadi berbudaya dan bermoral.

Oleh karena itu, pendidikan diyakini masyarakat sebagai salah satu tempat untuk merubah nasib, dengan adanya pendidikan tinggi sesorang bisa memiliki pekerjaan yang menjanjikan masa depannya, dipandang terhormat oleh masyarakat dan dipandang dapat memegang peran untuk kemajuan masyarakat, sehingga hampir semua orang mementingkan pendidikan untuk memperbaiki status ekonomi dan sosialnya.

Pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa pendidikan mampu meningkatkan status sosial seseorang. Hal ini karena pendidikan itu sendiri mempunyai peran yang penting bagi diri sendiri maupun masyarakat setempat. Hal tersebut bisa dilihat mulai dengan menilik fungsi-fungsi pendirian lembaga pendidikan. Rafil Karsidi dalam salah satu tulisannya menyebutkan berbagai fungsi lembaga pendidikan yang dikaitkan dengan realitasnya. Fungsi-fungsi tersebut secara ringkasnya adalah sebagai berikut:

1. Lembaga pendidikan mempersiapkan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan.

Jika proses perjalanan pendidikan sepanjang masa ditinjau secara menyeluruh, maka dapat dilihat kenyataan bahwa kemajuan dalam pendidikan beriringan dengan kemajuan ekonomi secara bersamaan. Peserta didik yang menamatkan sekolah diharapkan sanggup melakukan pekerjaan sesuai dengan kebutuhan dunia pekerjaan. Semakin tinggi pendidikannya, maka semakin besar kesempatannya untuk memperoleh pekerjaan yang layak.

2. Sebagai alat transmisi kebudayaan.

Fungsi transmisi kebudayaan masyarakat kepada peserta didik menurut Vembrianto (1990) dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (1) transmisi pengetahuan dan keterampilan; dan (2) transmisi sikap, nilai-nilai dan norma-norma. Transmisi pengetahuan mencakup pengetahuan tentang bahasa, sistem matematika, pengetahuan alam dan sosial serta penemuan-penemuan teknologi. Dari segi transmisi sikap, nilai-nilai dan norma-norma masing-masing lembaga dalam konteks karakter sosiokultural juga tidak bisa dipungkiri peran dan fungsinya. Di lembaga pendidikan, peserta didik tidak hanya mempelajari pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga sikap, nilai-nilai dan norma-norma.

3. Mengajarkan peranan sosial.

Pendidikan diharapkan membentuk manusia sosial yang dapat bergaul dengan sesama manusia sekalipun berbeda agama, suku bangsa, pendirian dan sebagainya. Ia juga harus dapat menyesuaikan diri dalam situasi sosial yang berbeda-beda. Lebih dari itu, peserta didik diharapkan mampu dan memiliki peranan yang baik dengan memberikan sumbangsihnya atas berbagai permasalahan sosial di sekitarnya.

Semenjak diterapkannya sistem pendidikan yang bisa dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat di seluruh penjuru tanah air maka secara otomatis telah mendobrak tembok ketimpangan sosial masyarakat feodal dan menggantinya dengan bentuk mobilitas terbuka. Sekolah menjadi tempat yang paling strategis untuk menyalurkan kebutuhan mobilitas vertikal dalam kerangka stratifikasi sosial masyarakat.

5. Menyediakan tenaga pembangunan.

Bagi negara-negara berkembang, pendidikan dipandang menjadi alat yang paling ampuh untuk menyiapkan tenaga produktif guna menopang proses pembangunan. Kekayaan alam hanya mengandung arti bila didukung oleh keahlian. Maka karena itu manusia merupakan sumber utama bagi negara.

6. Menciptakan integrasi sosial.

Dalam masyarakat yang bersifat heterogen dan pluralistik, terjaminnya integrasi sosial merupakan fungsi pendidikan sekolah yang cukup penting. Masyarakat Indonesia mengenal bermacammacam suku bangsa masing-masing dengan adat istiadatnya sendiri, bermacam-macam bahasa daerah, agama, pandangan politik dan lain sebagainya. Dalam keadaan demikian bahaya disintegrasi sosial sangat besar. Oleh karena itu, tugas pendidikan di lembaga pendidikan yang terpenting adalah menjamin integrasi sosial. Upaya yang telah dilakukan untuk itu misalnya dengan mengajarkan bahasa nasional, mengajarkan pengalaman-pengalaman yang sama melalui keseragaman kurikulum dan buku-buku pelajaran.

7. Kontrol sosial.

Ketika permasalahan sosial begitu kompleks dan rumitnya, seperti soal kemiskinan, pengangguran, dan kekerasan, di sinilah pendidikan memiliki peran fungsionalnya sebagai

kontrol atau stabilisator agar permasalahan tersebut tidak berlarut-larut atau meminimalisir agar efeknya tidak meluas. Karena fungsi-fungsi tersebut, maka pendidikan dipercaya masyarakat dapat meningkatkan kesejahteraan hidup.

2.4 Teori Fungsionalisme

Dalam tahun 1940-an, Parsons mulai menekankan arti penting fungsionalisme sebagai suatu teori sosiologis. Usaha Parsons yang sistematis dan maksimal dalam membangun teori fungsional ialah The Social System. Parson melihat sistem sosial sebagai satu dari tiga cara dimana tindakan sosial bisa terorganisir (Poloma, 2004: 171). Disamping itu terdapat dua system tindakan lain yang saling melengkapi yaitu: sistem kultural yang mengandung nilai dan simbol-simbol serta sistem kepribadian para pelaku individual. Bilamana sistem sosial dilihat sebagai sebuah sistem parsial, maka masyarakat itu dapat berupa setiap jumlah dari sekian banyak sistem-sistem yang kecil misalnya keluarga, system pendidikan, dan lembaga keagamaan.

Pemikiran Talcott Parsons, ketika pernah menjadi ahli biologi, banyak berpengaruh pada rumusan teori fungsionalismenya. Baginya, masyarakat manusia tak ubahnya seperti organ tubuh manusia, dan oleh karena itu masyarakat manusia dapat juga dipelajari seperti mempelajari tubuh manusia (Suwarsono, 2006:11). Pertama, seperti struktur tubuh manusia yang memiliki berbagai bagian yang saling berhubungan satu sama lain. Oleh karena itu, masyarakat , menurut Parsons juga memiliki berbagai kelembagaan yang saling terkait dan tergantung sama lain. Untuk hal ini, Parsons menggunakan konsep “sistem” untuk menggambarkan koordinasi harmonis antarkelembagaan tersebut.

Kedua, karena setiap bagian tubuh manusia memiliki fungsi yang jelas dan khas (specific), maka demikian pula setiap bentuk kelembagaan dalam masyarakat. Setiap lembaga dalam masyarakat melaksanakan tugas tertentu untuk stabilitas dan pertumbuhan masyarakat tersebut. Parsons merumuskan istilah “fungsi pokok” (fungtional imperative) untuk menggambarkan empat macam tugas utama yang harus dilakukan agar masyarakat tidak “mati” yang terkenal dengan sebutan AGIL (adaptation to the environment, goal attainment, integration, and latency). Lembaga ekonomi menjalankan fungsi adaptasi lingkungan, pemerintah bertugas untuk pencapaian tujuan umum, lembaga hukum dan agama menjalankan fungsi integrasi, dan yang terakhir, keluarga dan lembaga pendidikan berfungsi untuk usaha pemeliharaan.

Analogi dengan tubuh manusia mengakibatkan Parsons merumuskan konsep “keseimbangan dinamis-stasioner” (homeostatic equilibrium). Jika satu bagian tubuh manusia berubah, maka bagian lain akan mengikutinya. Ini maksudnya untuk mengurangi ketegangan intern dan mencapai keseimbangan baru. Demikian pula halnya masyarakat. Masyarakat selalu mengalami perubahan, tetapi teratur. Perubahan sosial yang terjadi pada satu lembaga akan berakibat pada perubahan di lembaga lain untuk mencapai keseimbangan baru. Dengan demikian, masyarakat bukan sesuatu yang statis tetapi dinamis, sekalipun perubahan itu amat teratur dan selalu menuju pada keseimbangan baru.

Berikutnya Parsons merumuskan konsep “faktor kebakuan dan pengukur” (pattern variables), dalam rangka menjelaskan perbedaan masyarakat tradisional dan masyarakat modern. Faktor kebakuan dan pengukur ini menjadi alat utama untuk memahami hubungan sosial yang langgeng, berulang dan mewujud dalam system kebudayaan, yang bagi Parsons merupakan sistem yang tertinggi dan terpenting.

Selanjutnya Parson menyatakan, bahwa masyarakat tradisional belum merumuskan fungsi-fungsi kelembagaannya secara jelas (fungctionally diffused) dan karenanya akan terjadi pelaksanaan tugas yang tidak efisien, sebaliknya masyarakat modern telah merumuskan secara jelas tugas masing-masing kelembagaan (fungctionally specific). Dalam hal ini, tugas lembaga keluarga dan pendidikan yang sejalan menjadi salah satu pedoman keberhasilan dari keberhasilan sistem. Dengan demikian keempat prasyarat fungsional itu berkaitan dengan hubungan system dan lingkungannya serta sarana-sarana melalui mana penyelesaian ini harus dipenuhi.

Jika pada masyarakat modern fungsi lembaga sudah dirumuskan secara jelas, salah satunya lembaga pendidikan, maka akan sangat mempengaruhi lembaga keluarga yang mana keduanya bertugas untuk usaha pemeliharaan. Pendidikan itu sendiri merupakan salah satu karakteristik manusia modern menurut Alex Inkeles. Teori Alex Inkeles menekankan tentang lingkungan material dalam hal ini lingkungan pekerjaan. Teori pada dasarnya berbicara tentang pentingnya faktor manusia sebagai komponen penting penopang pembangunan dalam hal ini manusia modern. Bagi Inkeles (Suwasono: 2006, 30-32) menyebutkan bahwa karakteristik dari manusia modern adalah:

1. Terbuka terhadap pengalaman baru. Ini berarti bahwa manusia modern selalu berkeinginan untuk mencari sesuatu yang baru.

2. Manusia modern akan memiliki sikap untuk semakin independen terhadap berbagai bentuk otoritas tradisional, seperti orangtua, kepala suku (etnis), dan raja.

3. Manusia modern percaya akan ilmu pengetahuan, termasuk percaya akan kemampuannya menundukkan alam semesta.

5. Manusia modern memiliki rencana jangka panjang. Mereka selalu merencanakan sesuatu jauh di depan dan mengetahui apa yang akan mereka capai dalam waktu lima tahun ke depan misalnya.

6. Manusia modern aktif terlibat dalam percaturan politik. Mereka bergabung dengan berbagai organisasi kekeluargaan dan berpartisipasi aktif dalam urusan masyarakat lokal. Lebih jauh bahwa kurikulum teknis seperti Matematika, Kimia, Biologi, bukan merupakan faktor yang bertanggungjawab terhadap penyerapan nilai dan pembentukan manusia modern. Bagi Inkeles, justru kurikulum informal seperti misalnya kecenderungan tenaga pengajar pada nilai- nilai barat, pemakaian buku- buku barat, dan melihat film- film barat, membantu penyerapan nilai- nilai modern. Kedua, jenis pekerjaan yang diukur dari satuan pabrik, memiliki pengaruh independen terhadap pembentukan nilai- nilai modern. Jika terjadi keterlambatan sosialisasi karena misalnya seseorang telah tidak mengalami pendidikan formal, maka orang tersebut masih memiliki kesempatan untuk menjadi manusia modern jika ia bekerja pada pabrik yang berskala besar. Dari hasil penelitiannya, mereka berkesimpulan bahwa pendidikan adalah yang paling efektif untuk mengubah manusia dan pengalaman kerja dan pengenalan terhadap media massa.

Namun jika dikaji lebih jauh, pendidikan formal yang pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup orang miskin, menghasilkan kerjasama yang merata bagi semua yang mengeyam pendidikan formal, ataupun alasan lain yang menimbulkan ketertarikan bagi berbagai kalangan untuk mencapai pendidikan formal tidaklah dapat dilafalkan dalam kehidupan suatu Negara berkembang. Sebagai akibatnya, maka berkembanglah kesadaran dalam berbagai Negara sedang membangun bahwa perluasan pendidikan formal tidak selalu sama dengan perluasan belajar, bahwa kepentingan yang ekslusif dari para anak didik dan guru terhadap pemilikan

ijazah sekolah dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi tidak perlu dihubungkan dengan kemampuan murid yang telah diperbaiki untuk melakukan pekerjaan produktif, bahwa pendidikan yang hampir seluruhnya berfungsi sebagai alat investasi saja yang nantinya belum tahu akan digunakan kemana jika tidak memiliki suatu kemampuan lain (Todaro, 1978: 435).

Maka bagi pemulung, pendidikan formal menjadi salah satu sasaran yang ingin mereka capai demi mampu bersaing serta mampu menerima proses modernisasi di daerah perkotaan. Meskipun tidak mengetahui bagaimana substensi pendidikan di masa depan bagi kehidupan mereka, namun setidaknya dengan mendapatkan pendidikan formal, mampu menaikkan prestise

mereka dalam lingkungan perkotaan. Melihat jenis pekerjaan pemulung yang berada di sector informal, dikarenakan kemampuan yang tidak memadai untuk bekerja di pabrik ataupun perkantoran, maka pendidikan menjadi wadah untuk mampu menerima pengaruh modernisasi yang mana diperlukannya fungsi lembaga keluarga untuk menghasilkan usaha yang maksimal dari lembaga pendidikan dan keluarga, sehingga fungsi pokok yang dirumuskan oleh Parsons, mencapai keseimbangan.

2.5 Persepsi Keluarga Sebagai Agen Sosialisasi Pendidikan bagi Anak

Persepsi merupakan pemahaman akan sesuatu hal yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, sehingga mampu membentuk pola pikir seseorang terhadap hal tersebut. Sosialisasi adalah proses mengembangkan kebiasaan, nilai-nilai, perilaku dan motif untuk dapat menjadi anggota masyarakat. Proses tersebut bermula dari keluarga sebagai tempat anak melakukan kontak pertama dan berkembang terus selama kehidupan anak. Pengertian ini juga mencakup mengenai proses transaksi dengan orang lain dalam lingkungan sekolah, maupun

dengan teman sebayanya. Sosialisasi bergantung pada proses internalisasi standar-standar sosial yang berlaku dalam kelompok. Anak-anak menerima standar sosial tersebut atau tidak tergantung pada rasa aman yang dirasakan oleh anak tersebut di dalam kelompoknya.

Persepsi keluarga terhadap pendidikan sangat dipengaruh oleh mediator yang memperkenalkan peran penting dari pendidikan itu sendiri. Keluarga sebagai agen sosialisasi pertama dalam proses perkembangan si anak, sangat berpengaruh penting dalam memperkenalkan pendidikan. Sebelum memperkenalkan, maka keluarga harus memiliki pemahaman akan dasar-dasar pendidikan serta kepentingannya di masa mendatang. Fasilitas yang mendukung, akan semakin meningkatkan keingintahuan si anak dalam mencapai pendidikan yang lebih baik.

Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, baik orangtua, sanak keluarga, orang dewasa lainnya atau teman sebayanya. Apabila lingkungan sosial tersebut memfasilitasi atau memberikan peluang terhadap perkembangan anak secara positif, maka anak akan dapat mencapai perkembangan sosialnya secara matang.

Agen sosialisasi adalah kelompok- kelompok dimana suatu individu mendapatkan proses

Dokumen terkait