Pemekaran Wilayah Pengertian, maksud dan tujuan
Menurut Rustiadi et al. (2011) wilayah dapat didefinisikan sebagai unit geografis dengan batas-batas spesifik tertentu dimana komponen-komponennya memiliki arti di dalam pendeskripsian perencanaan dan pengelolaan sumberdaya pembangunan. Batasan wilayah tidaklah selalu bersifat fisik dan pasti tetapi seringkali bersifat dinamis. Dengan demikian istilah wilayah menekankan interaksi antar manusia dengan sumberdaya-sumberdaya lainnya yang ada di dalam suatu batasan unit geografis tertentu.
Terlepas dari unsur politis yang menyelimutinya, bahwa tujuan mulia dilakukannya pembangunan daerah dalam konteks pemekaran wilayah adalah kesejahteraan. Pemekaran wilayah juga akan mewujudkan birokrasi pemerintahan menjadi lebih efektif dan efisien. Secara umum, pemekaran wilayah merupakan suatu proses pembagian wilayah menjadi lebih dari satu wilayah, dengan tujuan meningkatkan pelayanan dan mempercepat pembangunan. Menurut Juanda (2007), tujuan ideal dari pemekaran wilayah adalah dapat diwujudnyatakannya melalui peningkatan profesionalisme birokrat daerah untuk dapat menyelenggarakan pemerintahan yang efektif dan efisien, dapat meningkatkan pelayanan dasar publik, menciptakan kesempatan lebih luas untuk masyarakat serta dapat akses langsung pada unit-unit pelayanan publik yang tersebar dengan mudah dijangkau oleh masyarakat pedesaan maupun kota.
Pemekaran wilayah kabupaten/kota menjadi beberapa kabupaten/kota baru pada dasarnya merupakan upaya meningkatkan kualitas dan intensitas pelayanan pada masyarakat. Effendy (2008) menyatakan bahwa pemekaran wilayah dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui: 1) peningkatan pelayanan kepada masyarakat, 2) percepatan pertumbuhan kehidupan demokrasi, 3) percepatan pelaksanaan pembangunan perekonomian, 4) percepatan pengelolaan potensi suatu daerah, dan 5) peningkatan keamanan dan ketertiban. Kemudian Saefulhakim dalam Agusniar (2006) menyatakan bahwa terciptanya wilayah administrasi baru, secara logika harus dapat menciptakan hal-hal sebagai berikut: 1) mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dan memberikan kewenangan lebih kepada masyarakat lokal untuk mengelola potensi sumberdaya wilayah secara arif, 2) partisipasi dan rasa memiliki dari masyarakat meningkat, 3) efisiensi, produktivitas serta pemeliharaan kelestarianya, 4) kumulasi dari nilai tambah secara lokal dan kesejahteraan masyarakat masyarakat meningkat, 5) prinsip keadilan dan kesejahteraan yang berkeadilan lebih tercipta, sehingga ketahanan nasional semakin kuat. Hal ini perlu diupayakan agar tidak mengakibatkan kesenjangan yang signifikan dimasa mendatang. Selanjutnya dalam suatu usaha pemekaran wilayah akan diciptakan ruang publik baru yang merupakan kebutuhan kolektif semua warga wilayah baru. Ruang publik baru ini akan mempengaruhi aktivitas seseorang atau masyarakat sehingga merasa diuntungkan karena pelayanannya yang lebih maksimal. Akhirnya pemekaran wilayah ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, peningkatan sumber daya secara berkelanjutan, meningkatkan keserasian perkembangan antar wilayah dan
12
antar sektor, memperkuat integrasi nasional yang secara keseluruhan dapat meningkatkan kualitas hidup.
Riyadi dan Bratakusumah (2004) berpendapat bahwa pengembangan wilayah merupakan upaya untuk memacu perkembangan sosial ekonomi, penurunan kesenjangan antar wilayah dan pemeliharaan kelestarian lingkungan hidup di suatu wilayah. Tentu saja upaya ini sangat diperlukan karena kondisi sosial ekonomi, budaya dan keadaan geografis yang ada disetiap wilayah sangat berbeda-beda, sehingga diperlukan perlakuan yang berbeda-beda pula dan pengembangan wilayah bertujuan untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah. Beberapa konsep pengembangan wilayah, antara lain: 1) mendorong dekonsentrasi wilayah, dimana konsep ini bertujuan untuk menekan tingkat konsentrasi wilayah dan untuk membentuk struktur ruang yang tepat, terutama pada beberapa bagian dari wilayah non-metropolitan, 2) membangkitkan kembali daerah terbelakang sebagai daerah yang memiliki karakteristik tingginya tingkat pengangguran, pendapata perkapita yang rendah, dan rendahnya tingkat fasilitas pelayanan masyarakat, 3) memodifikasi sistem kota, merupakan sebagai pengontrol urbanisasi menuju pusat- pusat pertumbuhan, yakni dengan adanya pengaturan sistem perkotaan maka telah memiliki hirarki yang terstruktur dengan baik. Hal ini diharapkan akan dapat mengurangi migrasi penduduk ke kota besar.
Dasar Hukum dan Syarat Teknis Pemekaran Wilayah
Payung hukum terjadinya pemekaran wilayah yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, kemudian diperbarui dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang mengatur ketentuan mengenai pembentukan daerah dalam Bab II tentang Pembentukan Daerah dan Kawasan Khusus. Oleh karena itu, masalah pemekaran wilayah juga termasuk dalam ruang lingkup pembentukan daerah. Undang-Undang nomor 32 Tahun 2004 menentukan bahwa pembentukan suatu daerah harus ditetapkan dengan undang-undang tersendiri. Ketentuan ini tercantum dalam Pasal 4 ayat (1). Kemudian, ayat (2) pasal yang sama menyebutkan bahwa undang-undang pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain mencakup nama, cakupan wilayah, batas, ibukota, kewenangan menyelenggarakan urusan pemerintahan, penunjukan penjabat kepala daerah, pengisian keanggotaan DPRD, pengalihan kepegawaian, pendanaan, peralatan, dokumen, serta perangkat daerah. Legalisasi pemekaran wilayah dicantumkan dalam pasal yang sama pada ayat (3) yang menyatakan bahwa pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih. Kemudian ayat (4) menyebutkan bahwa pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa pembentukan daerah hanya dapat dilakukan apabila telah memenuhi syarat administratif, teknis, dan fisik kewilayahan. Bagi provinsi, syarat administratif yang wajib dipenuhi meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan bupati/walikota yang akan menjadi cakupan wilayah provinsi bersangkutan, persetujuan DPRD provinsi induk dan gubernur, serta rekomendasi dari pemerintah pusat melalui Menteri Dalam Negeri. Sedangkan untuk kabupaten/kota, syarat administratif yang juga harus dipenuhi meliputi adanya persetujuan DPRD kabupaten/kota dan bupati/walikota bersangkutan, persetujuan
13 DPRD provinsi dan gubernur, serta rekomendasi dari Menteri Dalam Negeri. Selanjutnya, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menetapkan syarat teknis dari pembentukan daerah baru harus meliputi faktor yang menjadi dasar pembentukan daerah yang mencakup faktor-faktor di bawah ini, antara lain: 1) kemampuan ekonomi, merupakan cerminan hasil kegiatan usaha perekonomian yang berlangsung disuatu daerah propinsi, kabupaten/kota, yang dapat diukur dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan penerimaan daerah sendiri, 2) potensi daerah, merupakan cerminan tersedianya sumber daya yang dapat dimanfaatkan dan kesejahteraan masyarakat yang dapat diukur dari lembaga keuangan, sarana ekonomi, sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana transportasi dan komunikasi, sarana pariwisata dan ketenagakerjaan, 3) sosial budaya, merupakan cerminan yang berkaitan dengan struktur sosial dan pola budaya masyarakat, kondisi sosial masyarakat yang dapat diukur dari tempat peribadatan, tempat kegiatan institusi sosial dan budaya, serta sarana olahraga, 4) sosial politik, merupakan cerminan kondisi sosial politik masyarakat yang dapat diukur dari partisipasi masyarakat dalam politik dan organisasi kemasyarakatan, 5) kependudukan, merupakan jumlah total penduduk suatu daerah, 6) luas daerah, merupakan luas tertentu suatu daerah, 7) pertahanan dan keamanan merupakan kesiapan system pertahanan dan kondisi keamanan yang kondusif, 8) faktor-faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah, meliputi paling sedikit 5 kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi, dan paling sedikit 5 kecamatan untuk pembentukan kabupaten, dan 4 kecamatan untuk pembentukan kota, lokasi calon ibukota, sarana, dan prasarana pemerintahan.
Pembentukan daerah otonom baru tidak boleh mengakibatkan daerah induk menjadi tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah, dengan demikian baik daerah yang dibentuk maupun daerah induknya harus mampu menyelenggarakan otonomi daerah, sehingga tujuan pembentukan daerah dapat terwujud. Oleh karena itu dalam usulan pembentukan daerah baru harus dilengkapi dengan kajian daerah.
Pendidikan
Sebagaimana menurut Conyers (1994) bahwa keuntungan investasi pelayanan sosial tidaklah dapat diukur dengan kriteria ekonomis, seperti naiknya pengeluaran atau pendapatan keuangan, walaupun mungkin mempunyai beberapa dampak tak langsung terhadap pembangunan ekonomi. Pendidikan, misalnya merupakan investasi yang meningkat mungkin dapat dicarikan alasan bahwa di satu pihak dianggap sebagai cara mencapai perkembangan ekonomi melalui tenaga-tenaga terampil atau di lain pihak pendidikan merupakan hak dasar yang berlaku bagi rakyat secara keseluruhan. Perencanaan pendidikan akan semakin erat kaitannya dengan perencanaan dan sumber tenaga kerja yang didasarkan pada ramalan akan kebutuhan berbagai jenis kategori tenaga terampil serta adanya keyakinan bahwa kebutuhan ini akan terpenuhi, namun apabila pendidikan dilihat sebagai bentuk hak sosial yang mendasar, maka adalah mungkin memperdebatkan kelengkapan sumber daya yang hampir tak terbatas, paling tidak seluruh penduduk telah memperoleh kesempatan yang sama untuk mencapai tingkat pendidikan tertentu.
14
langsung terhadap pembangunan ekonomi. Pendidikan, misalnya merupakan investasi yang meningkat mungkin dapat dicarikan alasan bahwa di satu pihak Infrastruktur Pendidikan
Menurut Amirin (2011), bahwa infrastruktur pendidikan disebut juga sarana dan prasarana pendidikan. Kerap kali istilah itu digabung begitu saja menjadi sarana-prasarana pendidikan. Dalam bahasa Inggris sarana dan prasarana itu disebut dengan facility (facilities). Jadi, sarana dan prasarana pendidikan akan disebut
educational facilities. Sebutan itu jika diadopsi ke dalam bahasa Indonesia akan menjadi fasilitas pendidikan. Fasilitas pendidikan artinya segala sesuatu (alat dan barang) yang memfasilitasi (memberikan kemudahan) dalam menyelenggarakan kegiatan pendidikan. Definisi secara umum tentang sarana pendidikan sebagai segala macam alat yang digunakan secara langsung dalam proses pendidikan dan
prasarana pendidikan adalah segala macam alat yang tidak secara langsung digunakan dalam proses pendidikan. Sarana pendidikan adalah segala macam alat yang digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar, sementara prasarana pendidikan tidak digunakan dalam proses atau kegiatan belajar-mengajar. Erat terkait dengan sarana dan prasarana pendidikan itu, dalam daftar istilah pendidikan dikenal pula sebutan alat bantu pendidikan (teaching aids), yaitu segala macam peralatan yang dipakai guru untuk membantunya memudahkan melakukan kegiatan mengajar. Alat bantu pendidikan ini yang pas untuk disebut sebagai sarana pendidikan. Jadi, sarana pendidikan adalah segala macam peralatan yang digunakan guru untuk memudahkan penyampaian materi pelajaran.
Selanjutnya Amirin (2011) juga menyatakan jika dilihat dari sudut murid, sarana pendidikan adalah segala macam peralatan yang digunakan murid untuk memudahkan mempelajari mata pelajaran dan prasarana pendidikan adalah segala macam peralatan, kelengkapan, dan benda-benda yang digunakan guru (dan murid) untuk memudahkan penyelenggaraan pendidikan. Perbedaan sarana pendidikan dan prasarana pendidikan adalah pada fungsi masing-masing, yaitu sarana pendidikan untuk memudahkan penyampaian/mempelajari materi pelajaran sedangkan prasarana pendidikan untuk memudahkan penyelenggaraan pendidikan
Terdapat lima faktor yang harus ada pada proses belajar mengajar yaitu ; guru, murid, tujuan, materi dan waktu. Ketidakadanya salah satu dari faktor tersebut, maka proses belajar mengajar tidak mungkin terjadi. Walaupun sudah memenuhi lima faktor tersebut, proses belajar mengajar terkadang memperoleh hasil yang tidak maksimal. Hasil yang maksimal dapat ditingkatkan apabila didukung dengan sarana dan prasarana penunjang yang memadai. Bafadal (2004) menyatakan bahwa prasarana pendidikan adalah semua perangkat perlengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah.
Fungsi dan Tujuan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
15 mencerdaskan dan mendewasakan anak didik. Dalam pengertian sempit, pendidikan berarti pembuatan atau proses pembuatan untuk memperoleh pengetahuan. Menurut Marimba (1981) bahwa pendidikan merupakan suatu bimbingan atau pimpinan dilakukan secara sadar yang dilakukan oleh seorang pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak menuju terbentuknya kepribadian prima. Upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional adalah untuk menciptakan masyarakat madani, yaitu suatu masyarakat yang berperadaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang sadar akan hak dan kewajibannya, demokratis, bertanggung jawab, berdisiplin, menguasai sumber informasi dalam bidang ilmu pengetahuan teknologi dan seni, budaya dan agama. Proses pendidikan yang berlangsung haruslah menciptakan arah yang sejalan dengan upaya pencapaian masyarakat madani. Dampak dari proses perubahan dunia yang cepat berdampak pada perubahan nilai dan menciptakan perbedaan dalam melihat berbagai nilai yang berkembang dalam masyarakat. Pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk dan menciptakan masyarakat sesuai dengan yang diharapkan. Keberadaan pendidikan, apa yang dicita-citakan masyarakat dapat diwujudkan melalui anak didik sebagai generasi masa depan. Adapun tujuan pendidikan sebagaimana diungkapkan oleh Sastrawijaya dalam Idi (2011) adalah mencakup kesiapan jabatan, keterampilan memecahkan masalah, penggunaan waktu senggang secara membangun, dan sebagainya karena tiap siswa/anak mempunyai harapan yang berbeda. Tujuan pendidikan secara umum menyangkut kemampuan luas yang akan membantu siswa untuk berpartisipasi dalam masyarakat.
Lebih jauh, ada sejumlah fungsi dan peranan pendidikan bagi suatu masyarakat, seperti diungkapkan oleh Wuradji dalam Idi (2011): 1) fungsi Sosialisasi yaitu proses reproduksi budaya dimaksudkan upaya mendidik anak-anak untuk mencintai dan menghormati tatanan lembaga sosial dan tradisi yang sudah mapan adalah menjadi tugas sekolah. Masa-masa permulaan pendidikan merupakan masa sangat penting bagi pembentukan dan pengembangan serta pengadopsian nilai-nilai ini, 2) fungsi kontrol sosial yaitu sekolah dalam menanamkan nilai-nilai dan loyalitas terhadap tatanan tradisional masyarakat harus berfungsi sebagai lembaga pelayanan sekolah untuk melakukan mekanisme fungsi kontrol sosial, 3) fungsi pelestarian budaya yaitu sekolah disamping mempunyai tugas mempersatu budaya-budaya etnik yang beraneka ragam juga perlu melestarikan budaya-budaya daerah yang masih layak dipertahankan, 4) fungsi seleksi, latihan dan pengembangan tenaga kerja yaitu sekolah mengajarkan bagaimana menjadi seseorang yang akan memangku jabatan tertentu, patuh terhadap pimpinan, rasa tanggungjawab akan tugas, disiplin mengerjakan tugas sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Sekolah juga mendidik agar seseorang dapat menghargai harkat dan martabat manusia, memperlakukan manusia sebagai manusia, dengan memperhatikan segala bakat yang dimilikinya demi keberhasilan dalam tugasnya, 5) fungsi pendidikan dan perubahan sosial yaitu pendidikan mempunyai fungsi untuk mengadakan perubahan sosial, memiliki beberapa fungsi: (a) melakukan reproduksi budaya, (b) difusi budaya, (c) mengembangkan analisis kultur terhadap kelembagaan-kelembagaan tradisional, dan (d) melakukan perubahan yang lebih mendasar terhadap institusi-institusi tradisional yang telah ketinggalan, 6) fungsi sekolah dan masyarakat yaitu hubungan timbal balik pendidikan di sekolah dan
16
masyarakat sangat besar manfaat dan artinya bagi kepentingan pembinaan dukungan moral, materiil, dan pemanfaatan masyarakat sebagai sumber belajar.
Partisipasi Stakeholder Pengertian partisipasi
Terdapat banyak definisi mengenai partisipasi diantaranya adalah sebagai berikut: 1) bahwa seseorang yang berpartisipasi sebenarnya mengalami keterlibatan dirinya/egonya yang sifatnya lebih daripada keterlibatan dalam pekerjaan atau tugas saja, yang berarti keterlibatan pikiran dan perasaannya (Allport dalam Sastropoetro 1988:12), 2) partisipasi dapat didefinisikan sebagai keterlibatan mental/pikiran dan emosi/perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan (Davis dalam Sastropoetro 1988:13), 3) partisipasi adalah kerjasama antara rakyat dan pemerintah dalam merencanakan, melaksanakan, melestarikan dan mengembangkan hasil pembangunan (Soetrisno 1995:207)
Menurut FAO dalam Mikkelsen (2003:64): 1) partisipasi adalah kontribusi sukarela dari masyarakat kepada proyek tanpa ikut serta dalam pengambilan keputusan, 2) partisipasi adalah pemekaan (membuat peka) pihak masyarakat untuk meningkatkan kemauan menerima dan kemampuan untuk menanggapi proyek- proyek pembangunan, 3) partisipasi adalah suatu proses yang aktif, yang mengandung arti bahwa orang atau kelompok yang terkait, mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasannya untuk melakukan hal itu, 4) partisipasi adalah pemantapan dialog antara masyarakat setempat dengan para staf yang melakukan persiapan, pelaksanaan, monitoring proyek, agar supaya memperoleh informasi mengenai konteks lokal, dan dampak-dampak social, 5) partisipasi adalah keterlibatan sukarela oleh masyarakat dalam perubahan yang ditentukannya sendiri, 6) partisipasi adalah keterlibatan masyarakat dalam pembangunan diri, kehidupan, dan lingkungan mereka.
Schubeller (1996:3) menyatakan, bahwa partisipasi tidak dapat dipisahkan dari pemberdayaan dan menurutnya ada 4 pendekatan strategi partisipasi yaitu: 1)
community–based strategies merupakan bentuk paling dasar dari pembangunan partisipatif, 2) area-based strategies merupakan bentuk umum dari program- program pemerintah, 3) functionally-based strategies merupakan struktur fungsional dari sistem infrastruktur sebagai kerangka referensi, 4) process-based strategies merupakan seluruh proses manajemen infrastruktur sebagai kerangka referensi.
Pengertian tentang partisipasi secara formal adalah turut sertanya seseorang, baik secara mental maupun emosional untuk memberikan sumbangan kepada proses pembuatan keputusan mengenai persoalan dimana keterlibatan pribadi orang yang bersangkutan melaksanakan tanggung jawab untuk melakukannya (Talizuduhu 1990:103 dalam Chusnah 2008). Selanjutnya Korten dalam
Khadiyanto (2007: 28-29) mendefinisikan partisipasi sebagai suatu tindakan yang mendasar untuk bekerjasama yang memerlukan waktu dan usaha, agar menjadi mantap dan hanya berhasil baik dan terus maju apabila ada kepercayaan. Lain halnya dengan definisi partisipasi menurut Suherlan dalam Khadiyanto (2007: 29).
17 Menurutnya, partisipasi diartikan sebagai dana yang dapat disediakan atau dapat dihemat sebagai sumbangan atau kontribusi masyarakat pada proyek-proyek pemerintah.
Pengertian stakeholder
Istilah stakeholder sudah sangat populer. Kata ini telah dipakai oleh banyak pihak dan hubungannnya dengan berbagai ilmu atau konteks, misalnya manajemen bisnis, ilmu komunikasi, pengelolaan sumberdaya alam, sosiologi, dan lain-lain. Lembaga-lembaga publik telah menggunakan secara luas istilah stakeholder ini ke dalam proses-proses pengambilan dan implementasi keputusan. Stakeholder sering dinyatakan sebagai para pihak, lintas pelaku, atau pihak-pihak yang terkait dengan suatu issu atau suatu rencana.
Freeman (1984) mendefinisikan stakeholder sebagai kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi dan atau dipengaruhi oleh suatu pencapaian tujuan tertentu. Menurut Hatry dalam Rosyada (2004:276) menyatakan bahwa stakeholder
adalah salah satu kategori masyarakat sekolah, yang merupakan unsur-unsur sekolah yang jika salah satu unsur tersebut tidak ada, maka proses persekolahan tersebut menjadi terganggu. Definisi ini lebih diperjelas dalam Kamus Manajemen Mutu yang menyatakan bahwa stakeholder adalah kelompok atau individu di dalam atau luar organisasi yang mempengaruhi dan yang dipengaruhi oleh pencapaian misi, tujuan dan strategi organisasi biasanya terdiri atas pemegang saham, karyawan, pelanggan, pemerintah dan peraturannya.
Tingkatan dalam partisipasi
Arstein (1969) dalam Chusnah (2008), menyatakan delapan tangga tingkat partisipasi yaitu: kesatu, manipulation (manipulasi). Tingkat partisipasi ini merupakan tingkatan paling rendah yang memposisikan masyarakat hanya dipakai sebagai pihak yang memberikan persetujuan dalam berbagai badan penasehat. Dalam hal ini tidak ada partisipasi masyarakat yang sebenarnya dan tulus, tetapi diselewengkan dan dipakai sebagai alat publikasi dari pihak penguasa. Kedua,
theraphy (terapi/penyembuhan) yaitu berkedok melibatkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan, para ahli memperlakukan anggota masyarakat seperti proses penyembuhan pasien dalam terapi. Meskipun masyarakat terlibat dalam kegiatan namun pada kenyataannya kegiatan tersebut lebih banyak untuk mendapatkan masukan dari masyarakat demi kepentingan pemerintah. Ketiga, informing
(informasi) yaitu memberikan informasi kepada masyarakat tentang hak-hak mereka, tanggungjawab dan berbagai pilihan, dapat menjadi langkah pertama yang sangat penting dalam pelaksanaan partisipasi masyarakat. Meskipun yang sering terjadi adalah pemberian informasi satu arah dari pihak pemegang kekuasaan kepada masyarakat, tanpa adanya kemungkinan untuk memberikan umpan balik atau kekuatan untuk negosiasi dari masyarakat. Dalam situasi saat itu terutama informasi diberikan pada akhir perencanaan, masyarakat hanya memiliki sedikit kesempatan untuk mempengaruhi rencana. Keempat, consultation (konsultasi) yaitu mengundang opini masyarakat, setelah memberikan informasi kepada mereka, dapat merupakan langkah penting dalam menuju partisipasi penuh dari masyarakat. Meskipun telah terjadi dialog dua arah, akan tetapi cara ini tingkat keberhasilannya rendah karena tidak adanya jaminan bahwa kepedulian dan ide masyarakat akan diperhatikan. Metode yang sering seperti proses penyembuhan pasien dalam terapi.
18
Meskipun masyarakat terlibat digunakan adalah survei, pertemuan lingkungan masyarakat, dan dengar pendapat dengan masyarakat.
Selanjutnya, kelima, placation (penentraman/perujukan) yaitu pada tingkat ini masyarakat mulai mempunyai beberapa pengaruh meskipun beberapa hal masih tetap ditentukan oleh pihak yang mempunyai kekuasaan. Pelaksanaannya beberapa anggota masyarakat dianggap mampu dimasukkan sebagai anggota dalam badan- badan kerjasama pengembangan kelompok masyarakat yang anggota-anggotanya wakil dari berbagai instansi pemerintah. Walaupun usulan dari masyarakat diperhatikan sesuai dengan kebutuhannya, namun suara masyarakat seringkali tidak didengar karena kedudukannya relatif rendah atau jumlah mereka terlalu sedikit dibanding anggota dari instansi pemerintah. Keenam, partnership (kerjasama) yaitu pada tingkat ini, atas kesepakatan bersama, kekuasaan dalam berbagai hal dibagi antara pihak masyarakat dengan pihak pemegang kekuasaan. Hal ini disepakati bersama untuk saling membagi tanggung jawab dalam perencanaan dan pembuatan keputusan serta pemecahan berbagai masalah. Terdapat kesamaan kepentingan antara pemerintah dan masyarakat. Ketujuh, delegated power (pelimpahan kekuasaan) yaitu pada tingkat ini masyarakat diberi limpahan kewenangan untuk memberikan keputusan dominan pada rencana atau program tertentu. Upaya memecahkan perbedaan yang muncul, pemilik kekuasaan harus mengadakan tawar menawar dengan masyarakat dan tidak dapat memberikan tekanan-tekanan dari atas. Jadi masyarakat diberi wewenang untuk membuat keputusan rencana dan rencana tersebut kemudian ditetapkan oleh pemerintah, dan kedelapan, citizen control
(kontrol masyarakat) yaitu pada tingkat ini masyarakat memiliki kekuatan untuk mengatur program atau kelembagaan yang berkaitan dengan kepentingan mereka. Mereka mempunyai kewenangan dan dapat mengadakan negosiasi dengan pihak-