• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Brucella spp.

Sir William Burnett pada tahun 1779 menemukan kasus demam pada tentara yang diakibatkan oleh adanya mikroorganisme. Penemuan ini dilanjutkan oleh Jeffery Allen Marston yang mendeskripsikan Malta fever secara lebih terperinci. Tahun 1855 Sir David Bruce seorang mikrobiologis dari tentara Inggris menemukan Micrococcus melitensis kemudian dilanjutkan oleh Bernhard Bang seorang veterinerian yang menemukan Bacterium abortus yang menginfeksi ternak, kuda, domba dan kambing. Alice Evans seorang bakteriologis dari Amerika telah menemukan persamaan morfologi dan patologi

antara Bang’s Bacterium abortus dengan Bruce’s Micrococcus melitensis.

Berdasarkan penemuan di atas kemudian Sir David Bruce memberikan nomenklatur Brucella abortus dan Brucella melitensis. Klasifikasi B. abortus menurut Ficht (2010), Godfroid et al. (2011) dan Moreno et al. (2002) sebagai berikut : Kingdom : Bacteria Phylum : Proteobacteria Class : Alphaproteobacteria Ordo : Rhizobiales Family : Brucellaceae Genus : Brucella Spesies : Brucella Abortus

Bruselosis disebabkan oleh bakteri dari genus Brucella yang terdiri dari 10 spesies dengan induk semang yang berbeda beda. Komponen dinding sel Brucella spp. baik pada strain halus (smooth) yaitu Brucella melitensis (B. melitensis), Brucella abortus dan Brucella suis (B. suis) maupun pada strain kasar (rough) seperti Brucella canis (B. canis) dan Brucella ovis (B. ovis) terdiri dari peptidoglikan, protein dan membran luar yang terdiri dari lipoprotein dan lipopolisakarida (LPS). LPS inilah yang menentukan virulensi bakteri dan bertanggung jawab terhadap penghambatan efek bakterisidal di dalam sel makrofag. B. melitensis, B. suis B. abortus dianggap sebagai spesies yang paling patogen untuk manusia dan sebagai induk semang preferensial masing-masing adalah ruminansia kecil, babi, dan sapi (Godfroid et al. 2010; Xafier et al.

2010). B. abortus menyerang sapi, bison (Bison spp.) kerbau (Bubalus bubalus), African buffalo (Syncerus caffer), rusa, dan unta. Brucella spp. strain kasar mempunyai virulensi lebih rendah pada manusia dan secara lengkap disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1 Spesies dan potensi zoonosis Brucella spp. (Godfroid et al. 2010)

B. abortus termasuk gram negatif dan berbentuk coccobacilli atau batang pendek dengan panjang 0.6-1.5 μm dan lebar 0.5-0.7 μm. Bakteri ini sering

dijumpai single dan jarang berpasangan atau kelompok kecil. Karakteristik bakteri ini adalah fakultatif intraseluler dan mempunyai bentuk konstan kecuali pada kultur yang sudah tua kadang pleomorphic (lebih dari 1 bentuk). Bakteri ini bereplikasi di sel makrofag dari induk semang (Munir 2009). Secara mikroskopis dapat digambarkan sesuai dengan Gambar 1.

Spesies Biovar Morfologi Induk Patogenitas

Koloni Semang pada manusia

B. melitensis 1,2,3 smooth domba, kambing tinggi B. abortus 1-6, 9 smooth Ternak tinggi B. suis 1,3 smooth Babi tinggi 2 smooth babi hutan, terwelu rendah 4 smooth rusa kutub, caribou tinggi 5 smooth tikus gurun sedang Brucella neotamae smooth rodensia tidak B. ovis rough domba jantan tidak B. canis rough Anjing sedang Brucella pinnipedialis smooth anjing laut ? Brucella ceti smooth Ikan paus ? Brucella microti smooth tanah, tikus, rubah ? Brucella inopinata smooth manusia ?

Gambar 1. Brucella spp. secara mikroskopik.

Suhu pertumbuhan optimum berkisar 36-38 °C yang mana sebagian besar strain dapat tumbuh pada suhu 20 °C - 40 °C, sedangkan pH optimum 6.6-7.4, dan di media kultur berkisar 6.8. Suhu 63 °C selama 7–10 menit dapat membunuh bakteri ini (Adams & Moss 2008) Koloni berbentuk bulat, konvek, seperti mutiara putih dengan diameter 1-2 mm, garis pinggir yang halus (smooth), transparan dan warnanya pucat madu. Koloni kasar berwarna kuning, opak, friable dan sulit terlarut dalam cairan. Koloni mukoid mempunyai bentuk sama dengan koloni kasar kecuali kelarutannya, mukoid mudah larut (Walker 1999). Semakin lama di biakan kultur koloni akan semakin membesar dan cenderung berwarna gelap. Bentuk koloni halus pada subkultur akan mengalami perubahan ke bentuk kasar (rough) dan kadang-kadang ke bentuk mukoid (Garridino-Abellan et al. 2001).

Sifat biokimia bakteri ini secara umum dapat menghasilkan urease, oksidasi katalase positif dan dapat mereduksi nitrit menjadi nitrat. Perbedaan spesies dan biovar di dalam Brucella spp. pada kemampuan mengoksidasi karbon, memetabolisme asam glutamat, ornitin, lisin, dan ribosa. Perbedaan itu juga terletak pada kemampuan memproduksi H2S serta kerentanan terhadap bakteriofag, pewarna fusin, tionin atau aglutinasi terhadap antisera epitop lipopolisakarida (LPS) tertentu. B. abortus terdiri dari 9 biovar, yang mana biovar 1 paling penting. Tahun 1968 sampai 1991 dari 399 sampel sebanyak 75.3% berhasil diisolasi B. abotus biovar 1 dari hewan dan manusia di Amerika Latin (Xafier et al. 2010). Secara lengkap sifat B. abortus dan spesies yang lainnya disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Karakteristik biovar dan spesies dalam genus Brucella spp. (Whatmore 2009).

Spesies Biovar Urease

CO2 H2S Media Aglutinasi antiserum

Tionin fusin A M R B. abortus 1 (+)b (+) (+) (-) (+) (+) (-) (-) 2 (+) (+) (+) (-) (-) (+) (-) (-) 3 (+) (+) (+) (+) (+) (+) (-) (-) 4 (+) (+) (+) (-) (+) (-) (+) (-) 5 (+) (-) (-) (+) (+) (-) (+) (-) 6 (+) (-) (+) (+) (+) (+) (-) (-) 7 (+) (-) (+) (+) (+) (+) (+) (-) 9 (+) (-) (+) (+) (+) (-) (+) (-) B. suis 1 (+) (-) (+) (+) (-) (+) (+) (-) 2 (+) (-) (-) (+) (-) (+) (+) (-) 3 (+) (-) (-) (+) (+)d (+) (-) (-) 4 (+) (+) (+) (+) (-) (+) (-) (-) 5 (+) (-) (-) (+) (+) (-) (-) (-) B. melitensis 1 (+) (-) (-) (+) (-)e (-) (+) (-) 2 (+) (-) (-) (+) (+) (+) (-) (-) 3 (+) (-) (-) (+) (+) (+) (+) (-) B. ovis (-) (-) (-) (+) (+) (-) (-) (+) B. canis (+) (-) (-) (+) (-) (-) (-) (+) B. neotamae (+) (-) (+) (-) (-) (+) (-) (-) B. ceti (+) (-) (-) (+) (+) (+) (-) (-) B. pinnipedialis (+) (+) (+) (+) (+) (+) (-) (-) B. microti (+) (-) (-) (+) (+) (-) (+) B. inopinata (+) (-) (+) (+) (+) (-) (+)f

Keterangan : b Strain is negative but most field strains are positive d Some strains of this biotype are inhibited by fuchsin e Some isolates may be resistant to fuchsin. f Weak agglutination.

Tempat predileksi B. abortus di plasenta ruminansia, cairan fetus, kelenjar mamari, persendian dan testis (Munir 2009). Bakteri ini mempunyai ketahanan yang lama dengan berbagai kondisi. Daya tahan bakteri Brucella dalam susu dan produknya disajikan dalam Tabel 3.

Tabel 3 Daya tahan Brucella spp. dalam susu dan produk susu (Garridino-Abellan et al. 2001)

Menurut Noor (2006) bakteri dapat bertahan selama 2 hari dalam kotoran/limbah kandang yang bagian bawah (suhu lebih tinggi dari pada bagian atas), 4 hari dalam tanah kering, 66 hari dalam tanah lembab, dan 15-185 hari dalam tanah becek. Bakteri ini juga mampu bertahan di air minum ternak 5-114 hari, air limbah 3-150 hari (Sudibyo 1998). Bakteri ini mampu bertahan pada suhu rendah terutama dibawah titik beku, oleh karena itu produk olahan dari susu segar yang terkontaminasi menjadi sumber penularan ke manusia yang mengonsumsinya. Daging, jerohan, dan organ seperti hati, paru-paru dan ginjal

Produk Spesies Suhu (°C) pH Daya tahan

Susu B. abortus 71.7 5-15 detik

38 4 < 9 jam

25-37 24 jam

0 18 bulan

B. abortus 4 6 minggu B. melitensis 4 4 minggu Ice cream B. abortus 0 30 hari Butter B. abortus 8 142 hari Cheese:

Various B. abortus 5-57 hari

Various B. melitensis 15-100 hari

Feta B. melitensis 4-16 hari

Pecorino B. melitensis < 90 hari

Roquefort B.abortus 20-60 hari

B. melitensis

Camembert B. abortus < 21 hari

Erythrean B. melitensis 44 hari

Cheddar B. abortus 6 bulan

White B. melitensis 1-8 minggu Whey B. abortus 17-24 4.3-5.9 < 4 hari B. abortus 5 5.4-5.9 > 6 hari

mempunyai risiko lebih kecil sebagai sumber penularan, karena biasanya dikonsumsi dalam kondisi matang (Corbel 2006).

Komponen LPS dari outer cell membranes Brucella spp berbeda baik secara struktur dan fungsi dari gram negatif yang lainnya. Perbedaan Brucella spp. dibandingkan dengan bakteri patogen lainnya adalah tidak mempunyai faktor virulensi klasik seperti eksotoksin, kapsul, flagela, fimbre, plasmid, fase lisogenik, variasi antigenik, sitolisin atau sistem sekresi tipe I, II, atau III yang berperan dalam karakteristik mekanisme patogenik. Sekresi tipe IV dari B. abortus (T4SS) telah berhasil diidentifikasi dan menentukan ketahanannya di dalam sel fagositik mononuklear (Munir 2009; Purchell et al. 2007).

Cara Penularan

Penularan utama pada hewan terjadi melalui kontak dengan bahan yang terkontaminasi plasenta, fetus, cairan fetus, dan cairan vagina dari sapi abortus atau partus. Penularan yang lainnya juga terjadi melalui kontak dengan kulit, selaput konjungtiva, secara inhalasi (mukosa saluran pernafasan), per-oral (mukosa gastrointestinal/orofaring), vertikal, dan kontak dengan susu terkontaminasi. Penularan secara veneral tidak terlalu penting, yang lebih penting adalah penularan dari semen yang terkontaminasi melalui inseminasi buatan. Ruminansia lebih sering asimtomatik setelah abortus yang pertama, akan tetapi bersifat karier dan mengeluarkan bakteri melalui air susu. Selain melalui air susu bakteri juga dikeluarkan melalui urine, feses, cairan higroma, air liur, hidung dan okular. Bakteri dapat menyebar melalui cairan muntah termasuk padang rumput, pakan dan air yang tercemar (Neta et al. 2010; CFSPH 2009; Xavier et al.2010).

Penularan pada manusia terjadi dengan cara mengonsumsi susu yang terkontaminasi dan produk susu non-pasteurisasi atau daging yang tidak dimasak. Penularan dari lingkungan terjadi melalui inhalasi, selaput konjungtiva, atau melalui kulit yang terluka dari debu yang terkontaminasi. Bruselosis pada manusia berhubungan dengan pekerjaan seperti peternak, inseminator dan karyawan rumah potong hewan serta pengolahan produk hewan yang melakukan kontak dengan cairan atau jaringan fetus abortus dan karkas dari hewan terinfeksi melalui mukosa atau kulit yang lecet. Analis laboratorium dan pekerja pabrik vaksin tertular dari kultur bakteri. Penularan dari manusia ke

manusia jarang dilaporkan, meskipun pernah dilaporkan melalui transfusi darah, transplantasi sumsum tulang atau hubungan seksual. Infeksi pada bayi terjadi karena melalui transplasenta atau peroral dari konsumsi air susu ibu yang terinfeksi. Infeksi kongenital juga mungkin terjadi melalui sirkulasi darah atau infeksi pada waktu lahir dari urin maupun feses ibunya (CFSPH 2009; Corbel 2006; Xafier 2010).

Patogenesis

Bakteri masuk ke dalam tubuh melalui mukosa port entery kemudian masuk ke dalam sel limfoepitel dan difagositosis oleh sel neutrofil dan sel makrofag kemudian masuk ke dalam limfoglandula. Patogenisitas terkait dengan produksi lipopolisakarida yang tersusun oleh poly N-formyl perosamine O chain, Cu- Zn superoxide dismutase, erythrulose phosphate dehydrogenase. Secara umum fagositosisi gagal karena bakteri ini mempunyai zat antifagositosit yaitu protein 5 guanin monofosfat yang mampu bertahan dan bereplikasi di dalam sel neutrofil. Apabila sistem pertahanan tidak mampu mengatasi adanya infeksi maka akan muncul bakteriemia setelah 10-20 hari dan persisten selama 30 hari sampai 2 bulan pascainfeksi. Setelah bakteremia pada sapi bunting maka bakteri akan masuk kedalam plasenta sapi bunting dan daerah ambing. Infeksi pada sapi yang tidak bunting akan menuju ke daerah ambing dan sering tanpa gejala klinis ataupun lesi. Bakteri dalam makrofag akan bersirkulasi dalam jaringan limfoid dan terlokalisir dalam sistem retikuloendotel hati, limfa dan sumsum tulang belakang ginjal, persendian yang mengakibatkan adanya radang sendi dan higroma. Higroma terjadi karena adanya infeksi pada membran persendian sehingga berisi cairan jernih, fibrin, maupun nanah sehingga terlihat adanya benjolan yang sangat mencolok (Garradino-Abellan 2001; Munir 2009; Neta et al. 2010)

Bakteri yang bereplikasi terutama di sel makrofag atau neutrofil dalam cairan susu mempunyai peran yang sangat penting untuk terjadinya re-infeksi. Sapi yang terinfeksi di dalam kelenjar ambing, ketika bunting kembali akan mengalami bakteremia dan dapat menginfeksi uterusnya. Penyebaran ke dalam kelenjar susu melalui migrasi sel neutrofil dalam sistem peredaran darah umum dan bereplikasi di dalam alveoli dan ductus, dan selanjutnya menyebar ke dalam kelenjar getah bening supramamari. Penyebaran ke dalam kelenjar susu merupakan fase kedua dari infeksi dan sering mengakibatkan mastitis

limfoplasmasitik interstisial (Adams 2002). Sapi yang ditransportasikan 80% telah positif mengandung Brucella spp. dalam nodus limfe supramamari dan kelenjar mamari serta mengsekresikan ke dalam cairan tubuhnya (Al-majali 2005).

Sistem pertahanan seluler yang paling berperan adalah sel makrofag dan limfosit T, meskipun antibodi spesifik juga berperan. Proses immunitas tergantung dari spesies yang terinfeksi, umur, status kekebalan, status kebuntingan, dan virulensi serta dosis infeksi (Corbel 1997; Neta et al. 2010). Respon serologik pasca infeksi pada infeksi alami akan muncul setelah 2 sampai 4 minggu, akan tetapi respon ini sangat bervariasi dan bahkan kadang-kadang tidak terjadi. Invasi bakteri pada uterus yang bunting akan menghasilkan antibodi dalam jumlah besar dan berlangsung terus menerus. Respon humoral pada awal infeksi akan diproduksi IgM diikuti IgG dan IgG2 serta IgA (Neta et al. 2010). Sapi dara lebih resisten terhadap paparan B. abortus, semakin rentan seiring dengan perkembangan seksual dan kebuntingan. Pedet terinfeksi di dalam uterus atau diberikan susu yang terkontaminasi, biasanya memiliki respon antibodi sementara setelah terinfeksi, namun, dapat terus mengeluarkan bakteri selama beberapa minggu setelah pemberian susu berhenti. Sebagian kecil tapi penting sapi dara yang terinfeksi sejak awal akan menunjukkan seronegatif namun dapat menginfeksi anaknya pada kebuntingan pertama (Munir 2009).

B. abortus di ruminansia dapat melewati pertahanan tubuh induk semang dan menuju target jaringan embrio dan trofoblas. Pertumbuhannya tidak hanya di dalam sel fagosom akan tetapi juga di sitoplasma dan rough reticulum endoplasmik yang menyebabkan kematian janin dan aborsi. Bakteri menghambat fusi fagosom dan lisosom dalam makrofag dan bereplikasi dalam retikulum endoplasma. Bakteri yang tidak di fagosit oleh makrofag akan merusak sel induk semang dan menyebar ke sel yang lainnya. Bakteri ini juga dapat bereplikasi di jaringan ekstraseluler induk semang. Gambaran histopatologis dari respon seluler dapat terlihat adanya pembentukan abses sampai infiltrasi limfositik dan selanjutnya pembentukan granuloma pada kondisi nekrosis (Munir 2009; Neta et al. 2010; Xefier et al. 2009).

Konsentrasi eritritol dan hormon steroid tinggi pada jaringan fetus kebuntingan trisemester tiga, uterus bunting dan saluran kelamin jantan. Kandungan eritrotol sangat disukai oleh B. abortus karena dapat dimetabolisme sebagai sumber karbon dan energi, sehingga perkembangbiakan bakteri dalam

sapi bunting sangat pesat dan pada saat abortus ditemukan 1010 bakteri per gram jaringan organ abortus (Purchel et al. 2007). Perkembangbiakan bakteri ini menyebabkan infiltrasi sel inflamasi, nekrosis trofoblas, vaskulitis, dan ulserasi pada alantokorion, sehingga menggangu metabolisme fetus dan mengakibatkan abortus. Selain faktor diatas peningkatan kortisol dengan estrogen dan progesteron akan meningkatkan jumlah prostaglandin F2 alfa yang akan meningkatkan kontraksi uterus sehingga mengakibatkan abortus (Munir 2009).

Plasentitis juga dapat mengakibatkan abortus, hal ini terjadi karena B. abortus menyerang sel tropoblastik yang menekan respon mudulator pro inflamasi selama tahap awal infeksi. Spesies dari Brucella ini mempunyai ferroselator yang menyebabkan bakteri ini mampu bertahan di intraseluler dan bermultireplikasi serta bertahan pada infeksi kronis dengan membentuk fosfotidilkolin. Selain itu spesies ini juga mempunyai enzim katalase sehingga menghasilkan H2O2 dan D-alanyl-D-alanine carboxypeptidase (DAP) yang mengakibatkan resisten terhadap sel induk semang terutama oleh Nitrat Oksida. Kemampuan untuk membentuk urease membantu ketahananya dalam infeksi peroral. DAP banyak terdapat di sel eukariot dan jarang sekali di sel prokariot (Munir 2009).

Penularan sering terjadi secara peroral melalui saluran pencernaan. Bakteri diinternalisasi oleh M sel dalam peyer patch, kemudian menyebar ke dalam kelenjar getah bening regional dan berkembangbiak di dalam makrofag secara fakultatif intraseluler. Selanjutnya menyebar melalui aliran darah munuju ke jaringan yang lainnya, terutama di rahim sapi bunting (Xavier et al. 2010). Meskipun infeksi dapat terjadi melalui kulit, konjungtiva atau aerosol rute yang paling umum infeksi pada sapi adalah melalui saluran pencernaan dan infeksi menyebar ke dalam kelenjar getah bening lokal. Invasi ke dalam pembuluh limfatik diikuti dengan bakteremia yang menyebabkan infeksi berjalan sistemik (Neta et al. 2010).

Masa inkubasi B. abortus pada sapi berkisar 53-251 hari (Megid et al. 2010). Infeksi pada pedet bersifat self limiting. Lama inkubasi berbanding terbalik dengan masa kebuntingan, oleh karena masa inkubasi lebih lama jika menginfeksi hewan pada awal kebuntingan. Abortus dan bayi lahir mati biasanya terjadi dua minggu sampai lima bulan setelah infeksi. Kerugian reproduksi terjadi selama paruh kebuntingan kedua (CFSPH 2009). Masa inkubasi bruselosis pada manusia 8-20 hari (Garradino abellan 2001), 2-3 minggu bahkan bisa

sampai beberapa bulan (Corbel 2006), sedangkan menurut CFSPH (2009) sulit ditentukan berkisar 5 hari sampai tiga bulan dan sebagian besar terlihat jelas dalam waktu dua minggu. Penularan melalui aerosol dari agen bioterorisme mempunyai masa inkubasi yang lebih pendek (CFSPH 2009).

Patogenesis penyakit pada manusia sangat mirip dengan ternak. Rute utama infeksi dari Brucella spp. melalui membran mukosa orofaring, saluran pernafasan atas dan konjungtiva. Rute potensial lainnya dari mukosa saluran reproduksi pria dan wanita. Bakteri secara umum mampu melewati sistem pertahanan seluler tubuh dari induk semang dan berhasil masuk ke dalam kelenjar getah bening terdekat melalui saluran getah bening (Seleem et al. 2010). Brucella spp. masuk, bertahan dan berkembang dalam sel fagosit dan non fagosit induk semangnya misalnya sel makrofag, sel dendrite (DCs), dan sel trofoblast. Karakteristik dari bruselosis pada manusia adalah infeksi persisten dalam jaringan limfoid dan menyebabkan lesi peradangan dalam saluran reproduksi wanita hamil (Munir 2009).

Gejala Klinis

Gejala Klinis pada Sapi

Tahap awal infeksi pada sapi terlihat gejala klinis utama yaitu abortus, still birth atau mati lemah dan gejala lainnya seperti orkitis, epididimitis, higroma, artritis, metritis, mastitis subklinis. Abortus terjadi pada usia kebuntingan 5-8 bulan. Gejala abortus pada sapi sebagian besar hanya sekali meskipun terjadi plasentitis dan kebuntingan kedua biasanya normal. Hewan yang mampu bertahan akan menjadi karier dan berpotensi mnegeluarkan bakteri. Tahap kedua akan terjadi infeksi persisten di kelenjar mamari dan supramamari, serta limfonodus genital (Ahmed et al. 2010; Garridino-Abellan et al. 2001; Megid et al. 2010; Seleem 2010). Mastitis menyebabkan terjadinya penurunan produksi susu sekitar 25% dan bakteri akan shedding secara terus menerus atau intermittent di dalam susu dan genital secretions. B. abortus juga dapat ditemukan dalam, urin, susu segar, air mani, tinja dan cairan higroma (Capparelli et al. 2008; Corbel 2006; Megid et al. 2010).

Gejala Klinis pada Manusia

Bruselosis pada manusia merupakan penyakit multisistemik dengan gejala klinis berspektrum luas, meskipun secara umum asymptomatis (tanpa gejala).

Gejala klinis pada manusia sangat bervariasi. Bruselosis dimulai sebagai penyakit demam undulant yang bersifat intermittent dan reintermittent dengan tanda-tanda nonspesifik seperti flu, demam, malaise sakit kepala, nyeri punggung, mialgia dan keringat basah terutama di malam hari. Disebut dengan demam undulant karena terjadi variasi suhu, 37 °C di pagi hari dan 40 °C pada siang hari serta malam hari menggigil disertai kelemahan (Seleem et al. 2010). Gejala lain seperti splenomegali, hepatomegali, batuk dan nyeri dada pleuritik kadang-kadang terlihat. Gejala klinis pencernaan termasuk anoreksia, mual, muntah, diare, dan sembelit sering terjadi pada orang dewasa tapi jarang pada anak-anak. Jika penyakit ini tidak segera diobati maka akan persisten sampai beberapa minggu bahkan beberapa bulan. Faktor–faktor yang mempengaruhi timbulnya infeksi pada manusia sebenarnya banyak faktor antara lain status kekebalan individu, rute infeksi, dosis infeksi, dan jenis spesies Brucella (Whatmore 2009).

Gejala klinis sebagian besar berlangsung selama dua sampai empat minggu dan dapat sembuh sendiri. Demam intermittent berselang 2 sampai 14 hari. Sebagian besar penderita dengan gejala klinis demam undulant dan dapat sembuh total dalam waktu 3 sampai 12 bulan, bahkan ada beberapa menjadi kronis. Komplikasi yang sering terjadi artritis, spondilitis, epididimo-orkitis dan malaise kronis. Tanda-tanda neurologis seperti meningitis, ensefalitis dan neuropati perifer terjadi sekitar 5% kasus. Gejala seperti insomnia, anoreksia, sakit kepala, impotensi dan depresi juga bisa terlihat.

Endokarditis adalah salah satu komplikasi yang paling serius, dan menyebabkan kematian pada kasus yang fatal. Organ dan jaringan lain juga dapat dipengaruhi, sehingga berbagai sindrom termasuk nefritis, dermatitis, vaskulitis, limfadenopati, trombosis vena dalam, hepatitis granulomatosa, kolesistitis, osteomielitis, anemia, leukopenia dan trombositopenia. Gejala umum termasuk berat badan lahir rendah, demam, pertumbuhan terhambat, sakit kuning, hepatomegali dan splenomegali. Beberapa bayi baru lahir dengan bawaan bruselosis mengalami gangguan pernapasan berat, hipotensi, muntah dan tanda-tanda sepsis. Demam pada bruselosis pada manusia mirip dengan demam enterik, malaria, demam rematik, tuberkulosis, kolesistik, tromboflebitis, infeksi jamur, penyakit autoimun dan tumor (Ashford et al. 2004; Seleem et al. 2010).

Metode Diagnostik

Pemeriksaan bakteriologi terhadap bruselosis dapat dilakukan dengan isolasi dan identifikasi bakteri penyebab dari isolasi susu segar, ulasan vagina, darah, membran fetus, fetus aborsi, dan limfoglandula. Identifikasinya dilakukan dengan metode pewarnaan gram dan uji biokimia. Metode kultur menggunakan media basal dan media selektif serta harus ditambahkan dengan antibiotik dan 2-5% serum bovine atau equine. Sampel yang digunakan dapat berupa organ fetus abortus (isi abdomen, limfa, dan paru-paru), membran fetus, sekeresi vagina, susu, semen, dan cairan radang sendi atau higroma. Selain itu juga dapat berasal dari karkas seperti sistem retikulo-endotelia dari kelenjar mamari, kelenjar getah bening, limfa dan uterus (OIE 2009). Rata-rata kultur dapat tumbuh mulai dari 3-4 hari akan tetapi tidak boleh disimpulkan negatif sebelum inkubasi 8-10 hari. Gold standard untuk bruselosis pada manusia adalah dengan kultur dari sampel darah, sumsum tulang, kelenjar getah bening atau cairan serebrospinal dengan spesifisitas tinggi namun sensitifitas rendah karena sulitnya tingkat pertumbuhan. Sensitifitas metode kultur pada fase akut sebesar 91% sedangkan fase kronis 74% (Seleem et al. 2010).

PCR adalah teknik yang didasari oleh penggunaan oligonukleotida pendek sebagai primer dan taq DNA polymerase sebagai enzim untuk menggandakan rangkaian DNA dengan target sekuen yang telah ditetapkan pada lokus yang spesifik terhadap Brucella. Metode PCR digunakan untuk identifikasi spesies dan biovar diantara Brucella spp. (Al-Dahouk & Tomasso 2005; Ocampo-Sosa et al. 2005). Metode PCR untuk deteksi bruselosis saat ini berkembang dengan pesat, baik dari pengembangan metode maupun pengembangan jenis sampel uji (Bricker 2002). BaSS PCR dapat membedakan hasil positif karena infeksi alam atau akibat vaksinasi S19 (Ewalt & Bricker 2003). Multipleks PCR yang pertama kali dikembangkan adalah AMOS PCR bertujuan untuk efisiensi waktu dan jumlah sampel dengan menggunakan banyak primer sehingga dalam satu kali uji dapat membedakan spesies dalam genus Brucella (B. abortus, B. melitensis, B. ovis dan B. suisi) dan vaksin S19 maupun RB51 (Bricker et al. 2003; Garcia-Yoldi et al. 2006; Matope et al. 2009).

Pengembangan metode PCR yang lain seperti PCR – RFLP, AP (arbitrarily primed)-PCR, RAPD (random amplified polymorphic DNA)-PCR, REP (repetitive extragenic palindromic sequences)-PCR, ERIC (enterobacterial repetitive

intergenic consensus sequences)-PCR, specific multiplexing (AMOS-PCR based on the repetitive DNA sequence IS711), multi-locus analysis of variable number tandem repeats (VNTRs) and PCR-RFLP (Bricker 2002; Al-Dahouk & Tomasso 2005). Metode deteksi brucellosis pada manusia saat ini dikembangkan light cycler real-time polymerase chain reaction (PCR) assay dengan serum dan

Dokumen terkait