Pembaptisan Sida-sida yang baru kita bicarakan merupakan salah satu dari banyak indikasi bahwa baptisan Kristen diajarkan dan dipraktekkan oleh jemaat-jemaat abad pertama (2:38; 22:16). Hal ini tidak sama dengan baptisan Yohanes, yang merupakan baptisan karena pertobatan (13:24; 19:4). Tetapi hal itu lebih menunjukkan pernyataan kepada umum tentang persamaan identitas dengan Kristus.
Baptisan selalu menyusul kelahiran baru (2:41; 8:12; 18:8) dan untuk wanita sama dengan pria (8:12) dan orang bukan Yahudi sama dengan orang Yahudi (10:48). Rumah tangga dibaptis (10:47,48; 16:15; 16:33), tetapi sekurang-kurangnya dalam dua kasus tersebut ada implikasi bahwa semua anggota keluarga sudah percaya. Tidak pernah disebutkan bahwa bayi-bayi dibaptis.
Orang-orang percaya dibaptis langsung setelah mereka bertobat (8:36; 9:18; 16:33). Nampaknya berdasarkan pengakuan imannya dalam Kristus. Tidak diperlukan masa percobaan untuk menyatakan realitas pengakuan iman mereka. Tentu saja ada kemungkinan bahwa ancaman akan aniaya akan menghambat orang untuk mengaku iman [pada Yesus] dengan mudah.
Baptisan tidak mempunyai kekuatan menyelamatkan. Hal ini dapat dilihat dalam kasus Simon (8:13). Walaupun dia telah menyatakan iman dan dibaptis, hatinya ‘seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan’ (8:23). Hatinya ‘tidak lurus di hadapan Tuhan’ (8:21).
Seperti yang telah disebutkan, cara pembaptisan adalah diselam (8:38, 39) –Filipus dan Sida-sida “keduanya turun ke dalam air . . . setelah mereka keluar dari air. . . .” Pada akhir-akhir inibanyak pengikut baptisan percik atau penuangan air yang mengakubahwa baptis selam dilakukan oleh murid-murid pada abad pertama.
Baptisan dua kali tampaknya berhubungan dengan pengampunan dosa. Pada hari Pentakosta Petrus berkata, “Bertobatlah, dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu . . .” (2:38). Dan kemudian Ananias berkata kepada Saulus, “Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!” (22:16). Dalam
kedua contoh ini, perintah diberikan kepada orangYahudi; tidak ada orang bukan Yahudi pernah diminta dibaptis untuk pengampunan dosa. Pada baptisan orang percaya, seorang Yahudi mengumumkan
penolakan hubungannyadengan bangsa yang menolak dan menyalibkan Mesias. Dasar pengampunannya adalah iman kepada Tuan Yesus. Harga yang harus dibayar untuk pengampunannya adalah darah Tuhan yang mahal. Cara pengampunan dosanya ditunjukkan adalah melalui baptisan air, karena baptisannya memindahkan dia dari dasar Yahudi dan memindahkannya ke dasar Kekristenan.
Rumusan baptisan, “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19), tidak muncul dalam Kisah Para Rasul. Orang Samaria dibaptis dalam nama Tuan Yesus (8:16), dan hal yang sama terjadi pada murid-murid Yohanes (19:5). Namun hal ini tidak perlu berarti bahwa rumusan Tritunggal tidak digunakan. Frasa, “dalam nama Tuan Yesus,” dapat berarti “dengan otoritas dari Tuan Yesus.”
Murid-murid Yohanes dibaptis dua kali –pertama oleh baptisan Yohanes untuk pertobatan, kemudian pada saat kelahiran baru, dengan baptisan orang percaya (19:3,5). Hal ini menyiapkan standar “baptisan ulang” untuk mereka yang menjadi Kristen atau dibaptis sebelum mereka diselamatkan.
C. Kelahiran Baru Saulus dari Tarsus (9:1-31)
9:1,2Pasal 9 menandai titik perubahan pokokKisah Para Rasul. Sampai saat ini, Petrus menduduki tempat penting karena dia
berkhotbah kepada bangsa Israel. Mulai sekarang, Rasul Paulus secara bertahap menjadi tokoh terkemuka, dan penginjilan akan semakin banyak dibawakan kepada orang bukan Yahudi.
Saulus dari Tarsus kira-kira berusia 30 tahun saat itu. Secara umum para rabi memandang dia sebagai salah satu orang muda yang paling memberi harapan bagi agama Yahudi. Dengan semangatnya, dia melebihi semua teman-temannya.
Ketika dia memperhatikan pertumbuhan iman Kekristenan, yang dikenal sebagai ‘Jalan Tuhan,’41 dia melihatnya sebagai ancaman untuk agamanya sendiri. Karena itu, dengan kekuatan yang tampaknya tidak terkalahkan, dia merencanakan untuk menghancurkan sekte yang membahayakan ini. Contohnya, dia memiliki otoritas resmi dari Imam Besar untuk menggeledah Damsyik di Siria untuk mencari
murid-murid Yesus untuk menangkap . . . dan membawa mereka ke Yerusalem untuk penghakiman dan penghukuman.
9:3-6 Rombonganperjalanannya mendekati kota Damsyik. Tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia, menyebabkan Saulus jatuh ke tanah. Dia mendengar suatu suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapakahengkau menganiaya Aku?” Ketika Saulus bertanya, “Siapakah Engkau Tuhan?” dia dijawab, “Akulah Yesus yang kau aniaya itu.”
Untuk menerima emosi Saulus saat ini, kita perlu mengingat bahwa dia percaya Yesusdari Nazaret sudah mati dan dikuburkan di tanah pemakaman di Yudea. Karena pemimpin kelompok sudah dibinasakan, sekarang hanya perlu menghancurkan para pengikutnya. Maka bumi akan bebas dari kutukan ini.
Sekarang dengan kekuatan yang melemah, Saulus tahu bahwa Yesus sama sekali tidak mati, tetapi Dia sudah dibangkitkan dari kematian dan sudah dimuliakan di sebelah kanan Tuhandi sorga! Pemandangan dari Juruselamat yang muliaitulah yang mengubahkan keseluruhan hidup Saulus.
Saulus juga menyadari pada hari dia menganiaya para murid Yesus, dia juga telah menganiaya Tuhan sendiri. Rasa sakit yang diderita anggota Tubuh di bumi juga dirasakan oleh Kepala dari Tubuh di sorga.
Untuk Saulus, hal itu mula-mula adalah ajaran, kemudian tugas. Mula-mula, dia diajari tentang siapakah Yesus. Kemudian dia dikirim masuk ke Damsyik di mana dia akan menerima tugas-tugasnya.
9:7-9 Teman-teman seperjalanannya sangat terkejut saat itu. Mereka mendengar suara dari sorga, tetapi bukan kata-kata yang terucapkan yang didengar oleh Saulus (22:9). Mereka tidakmelihat Tuhan; hanya Saulus yang telah melihat-Nyadan dipanggil untuk menjadi rasul pada saat itu.
Orang Farisi yang bangga itu sekarang dituntun . . . masuk ke Damsyik di mana dia tinggal tiga hari . . . tanpa penglihatan. Selama itu dia tidak makan dan minum.
9:10-14 Dapatlah dibayangkan hasil dari berita ini di kalangan orang Kristen di Damsyik. Mereka tahu bahwa Saulus dalam perjalanan untuk menangkap mereka. Mereka telah berdoa memohon pertolongan dari Tuhan. Mungkin mereka juga berani berdoa untuk pertobatan Saulus. Sekarang mereka mendengar bahwa musuh utama dari Iman [Kristen] telah berbalik menjadi Kristen. Mereka hampir tidak percaya
akan apa yang didengarnya.
Ketika Tuhan memerintahkan Ananias, salah satu orang percaya di Damsyik, untuk mengunjungi Saulus, Ananias mengeluarkan semua firasatnya tentang orang ini. Tetapi ketika diyakinkan bahwa Saulus sekarang berdoa dan bukan menganiaya, maka Ananias pergi ke rumah Yudas di Jalan Lurus.
9:15,16 Tuhan mempunyai rencana yang indah untuk Saulus: “. . . Orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Tujuan utama Saulus menjadi rasul adalah untuk bangsa-bangsa lain (orang bukan Yahudi], dan tugas ini akan membawa dia
menghadap raja-raja. Tetapi dia juga akan berkhotbah kepada orang-orang sebangsanya berdasarkan hubungan darah, dan disinilah dia akan mengalami aniaya yang luar biasa.
9:17,18 Dengan kemurahan dan kasih Kristen, Ananias
menunjukkan persahabatan kepada orang yang lahir baru itu dengan menumpangkan tangan ke atasnya, memanggilnya “Saulus, saudaraku,” dan menjelaskan maksud kedatangannya. Supaya Saulus dapat melihat lagi dan dipenuhi Roh Kudus.
Harus diperhatikan di sini, bahwa Roh Kudus diberikan kepada Saulus melalui penumpangan tangan dari murid biasa. Ananias disebut orang awam oleh para komentator. Bahwa Tuhan memakai seseorang yang bukan rasul, tentu saja hal ini merupakan suatu teguran bagi orang yang mencari jalan untuk mengkhususkan hak-hak spiritual bagi kaum rohaniwan.
Ketika seseorang benar-benar bertobat, beberapa hal pasti terjadi. Ada tanda-tanda tertentu yang menunjukkan perubahan sejati. Hal ini terjadi pada Saulus dari Tarsus. Apa saja tanda-tanda itu? Francis W. Dixon menuliskan beberapa di antaranya:
1. Dia bertemu Tuhan dan mendengar suara-Nya (Kis. 9:4-6). Dia menerima pewahyuan dari Tuhan, dan hanya itu yang dapat meyakinkan dia dan membuat dia menjadi pengikut yang rendah hati dan setia.
2. Dia dipenuhi keinginan untuk setia kepada Tuhan dan melakukan kehendak-Nya(Kis. 9:6).
4. Dia dibaptis (Kis 9:18)
5. Dia bersatu dalam persekutuan dengan pengikut Tuhan (Kis. 9:19).
6. Dia mulai bersaksi dengan penuh kuasa (Kis. 9:20). 7. Dia bertumbuh dalam anugerah (Kis. 9:22).