• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Temuan Penelitian

1. Tinjauan Tentang Financial Technology (Fintech)

Fintech berasal dari istilah Fintech berasal dari istilah financial technology atau teknologi finansial. Menurut The NationalDigital Research Centre (NDRC), di Dublin, Irlandia, mendefinisikan fintech sebagai “ innovation infinancial services”

atau “inovasidalam layanan keuangan fintech” yang merupakan suatu inovasi pada sektor finansial yang mendapat sentuhan teknologi modern. Transaksi keuangan melalui fintech ini meliputi pembayaran, investasi, peminjaman uang, transfer, rencana keuangan dan pembanding produk keuangan. Saat ini terdapat 142 perusahaan yang bergerak dibidang fintech yang teridentifikasi.50

Financial Technology (Fintech) merupakan hasil gabungan antara jasa keuangan dengan teknologi yang akhirnya mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat, yang awalnya

50 Ernama Santi, skripsi, “pengawasan otoritas jasa keuangan terhadap financial technology ( peraturan otoritas jasa keuangan nomor 77/pojk.01/2016)”, dalam diponegoro law journal, Vol. 6, No. 3. 2017, h. 2

52

dalam membayar harus bertatap muka dan membawa sejumlah uang kas, kini dapat melakukan transaksi jarak jauh dengan melakukan pembayaran yang dapat dilakukan dalam hitungan detik saja.51

Industri financial technologi (fintech) merupakan salah satu metode layanan jasa keuangan yang mulai populer di era digital sekarang ini. Dan pembayaran digital menjadi salah satu sektor dalam industri FinTech yang paling berkembang di Indonesia. Sektor inilah yang kemudian paling diharapkan oleh pemerintah dan masyarakat untuk mendorong peningkatan jumlah masyarakat yang memiliki akses kepada layanan keuangan.52

Secara global, industri Fintech terus berkembang dengan pesat. Terbukti dari bermunculannya perusahaan startup di bidang ini serta besarnya investasi global di dalamnya.Khususnya di Indonesia, bisnis ini berkembang sangat pesat hingga menarik perhatian seluruh pebisnis di Indonesia.53

b. Sejarah Financial Technology

Fintech di dunia digital diawali dengan kemajuan teknologi di bidang keuangan. Perkembangan komputer serta jaringan internet ditahun 1966 keatas membuka peluang besar bagi para pengusaha finansial untuk mengembangkan bisnis mereka secara global. Di era 1980-an, bank mulai menggunakan sistem pencatatan data yang

51 https://www.bi.go.id/financial-Technology, diakses pada tanggal 11 Oktober 2019 pukul 10.00 wib

52 Budi Wibowo, “analisa regulasi fintech dalam membangun perekonomian di Indonesia” Tesis Magister Tekhnik Elektro, (Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Mercubuana, 2018), h. 2

53 Budi Wibowo, ibid., h. 3

mudah diakses melalui komputer. Dari sini benih-benih fintech mulai muncul di back office bank serta fasilitas permodalan lainnya. Di tahun 1998, E-Trade membawa fintceh menuju arah yang lebih terang dengan memperbolehkan sistem perbankan secara elektronik untuk investor. Berkat pertumbuhan internet ditahun 1990-an, model finansial E-Trade semakin ramai digunakan. Salah satunya adalah situs brokerage saham online yang memudahkan investor untuk menanamkan modal mereka.54

Tahun 1998 adalah saat dimana bank mulai mengenalkan online banking untuk para nasabahnya. Fintech pun menjadi semakin mudah digunakan masyarakat luas, juga makin dikenal. Pembayaran yang praktis dan jauh berbeda dengan metode pembayaran konvensional membuat perkembangan fintech semakin gencar.

Layanan finansial yang lebih efisien dengan menggunakan teknologi dan software dapat dengan mudah diraih dengan fintech.55

c. Perkembangan Fintech di Indonesia

Sebagai negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara dan terbesar keempat di dunia, Indonesia merupakan pasar besar bagi fintech. Menurut Indonesia's Fintech Association (IFA), jumlah pemain fintech di Indonesia tumbuh 78% pada tahun 2015-2016.

54 https://www.scribd.com/document/390150022/SEJARAH-FINTECH, diakses pada tanggal 20 Januari, pukul 23.00 wib

55 https://www.scribd.com/document/390150022/SEJARAH-FINTECH, Ibid.

54

Sampai November 2016, IFA mencatat sekitar 135 hingga 140 perusahaan startup yang terdata.56

Kehadiran fintech di Indonesia diperkuat dengan momentum pertambahan jumlah middle-class and affluent consumer (MAC) yang diprediksi oleh Boston Consulting Group (BCG) akan melonjak dari 74 juta orang pada 2013, menjadi 141 juta orang pada 2020. MAC merupakan kelompok masyarakat yang secara sosial-ekonomi akan mulai menggunakan uangnya antara lain untuk kebutuhan rumah tangga, kendaraan dan layanan keuangan.57

Fintech disambut baik oleh pemerintah dan regulator.

Presiden Joko Widodo berharap fintech dapat berperan untuk memfasilitasi pembiayaan usaha mikro dan mengkoneksikan kebutuhan pembiayaan usaha di berbagai penjuru tanah air, yang muaranya untuk meningkatkan inklusi keuangan. Perhatian besar pemerintah terhadap pentingnya peningkatan inklusi keuangan dapat dipahami karena merujuk pada hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2016, diketahui Indeks Literasi Keuangan sebesar 29,66% dan Indeks Inklusi Keuangan sebesar 67,82%.58

Untuk itu OJK telah menerbitkan Peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016 Tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang

56 https://www.pwc.com/id/en/media-centre/pwc-in-news/2017/indonesian/fintech-dan-transformasi-industri-keuangan.html, diakses pada tanggal 20 Januari 2019, pukul 23.15 wib

57 https://www.pwc.com/id/en/media-centre/pwc-in-news/2017/indonesian/fintech-dan-transformasi-industri-keuangan.html, diakses pada tanggal 20 Januari 2019, pukul 23.20 wib

58 https://www.pwc.com/id/en/media-centre/pwc-in-news/2017/indonesian/fintech-dan-transformasi-industri-keuangan.html, diakses pada tanggal 20 Januari 2019, pukul 23.23 wib

Berbasis Teknologi Informasi atau Peer-to-peer (P2P) Lending, yang akan disusul dengan ketentuan lain terkait fintech agar regulasi kian jelas dan lengkap. Besarnya potensi yang dimiliki membuat fintech perlu diberikan ruang untuk bertumbuh.

d. Dasar Hukum Fintech

1) Peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Sesuai dengan kewenangannya yang diatur dalam UU No.21/2011, OJK menyiapkan sejumlah aturan untuk mengatur dan mengawasi perkembangan jenis usaha sektor jasa keuangan yang menggunakan kemajuan teknologi atau disebut financial technology (Fintech). OJK membentuk “Tim Pengembangan Inovasi Digital Ekonomi dan Keuangan” yang terdiri dari gabungan sejumlah satuan kerja di OJK untuk mengkaji dan mempelajari perkembangan fintech dan menyiapkan peraturan serta strategi pengembangannya. Waluyanto selaku Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK menyatakan:59

“OJK secara intensif terus mempelajari perkembangan fenomena fintech ini, agar OJK dapat mengawal evolusi ekonomi ini supaya mampu mendukung perkembangan industri jasa keuangan ke depan dan terus menjamin perlindungan konsumen”.

Kehadiran fintech, bagi OJK sebagai otoritas diindustri jasa keuangan merupakan peluang untuk terus meningkatkan perkembangan sektor jasa keuangan termasuk mendorong

59 Fithri Hadi, “Siapkan Aturan Pengembangan FinancialTechnology”, dalam Siaran Pers pada Direktorat Operasional dan Sarana Sistem Informasi OJK, SP 99/DKNS/OJK/10/2016.

56

program inklusi keuangan. Namun juga menjadi tantangan bagi OJK untuk memastikan keandalan, efisiensi dan keamanan dari transaksi online tersebut agar tidak merugikan konsumen.60

(OJK) mengeluarkan Peraturan OJK Nomor 13/POJK.02/2018 tentang Inovasi Keuangan Digital di Sektor Jasa Keuangan sebagai ketentuan yang memayungi pengawasan dan pengaturan industri financial technology (fintech).

Sebelumnya OJK telah mengeluarkan peraturan mengenai fintech peer to peer lending melalui POJK 77/POJK.01/2016 Tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.61

2) Peran Bank Indonesia (BI)

Bank Indonesia oleh Undang-Undang Negara Republik Indonesia ditugaskan selaku Otoritas Sistem Pembayaran mengambil beberapa inisiatif guna memastikan tren pertumbuhan fintech dapat memberi manfaat yang optimal bagi masyarakat, tidak menciptakan gejolak pada sistem keuangan, dan senantiasa didukung kerangka pengaturan yang memadai. Hal ini juga erat kaitannya dengan tugas Bank Indonesia untuk senantiasa menjaga efektivitas transimisi kebijakan moneter dan memelihara stabilitas sistem keuangan.

60 Fithri Hadi, “Siapkan Aturan Pengembangan FinancialTechnology”, Ibid.

61 https://finance.detik.com/moneter/d-4192994/ojk-terbitkan-aturan-baru-soal-fintech-ini-isinya, diakses pada tanggal 20 Januari 2020 pukul 00.15 wib

Karena kredibilitas seluruh sistem keuangan dapat terganggu apabila kepercayaan masyarakat tidak dijaga dengan baik oleh fintech yang melakukan aktivitas layaknya bank atau lembaga keuangan non-bank.62

Bank Indonesia terus mengikuti dan mendalami perkembangan inovasi teknologi pada layanan jasa keuangan yang ditawarkan oleh fintech. Dengan pesatnya perubahan-perubahan yang terjadi, regulasi tidak seharusnya mendahului inovasi. Namun regulasi perlu selalu berada di dekat inovasi.

Dalam hal ini, pendirian BI- FTO (BI Fintech Office) adalah sebagai upaya untuk menjaga level of playing field melalui rezim regulasi yang berimbang dan proporsional tanpa harus mematikan laju inovasi. Sebagai gugus tugas yang diposisikan dekat dengan industriterdapat 4 fungsi utama yang akan dilakukan oleh BI-FTO, yaitu:63

a) Sebagai katalisator/fasilitator bagi pertukaran ide inovatif pengembangan fintech di Indonesia.

b) Sebagai business intelligence, dimana BI- FTO akan secara rutin memberikan update melalui diseminasi hasil kajian dan pertemuan termasuk dengan kementerian dan otoritas terkait serta lembaga internasional.

62 Agus D.W. Martowardojo, “Sambutan Gubernur Bank Indonesia”, dalam Launching Bank Indonesia Fintech Office, Jakarta, 2016. h. 2.

63 Agus D.W. Martowardojo, ibid, h. 3.

58

c) Fungsi asesmen. Dalam hal ini, BI-FTO akan melakukan pemantauan dan pemetaan atas potensi manfaat sekaligus risiko dari inovasi model bisnis dan produk yang ditawarkan. Hasil asesmen tersebut akan menjadi dasar bagi perumusan kebijakan di Bank Indonesia.

d) Fungsi koordinasi dan komunikasi, yang berperan memberikan pemahaman atas kerangka pengaturan yang ada, dan mendorong harmonisasi regulasi lintas otoritas.

Seiring dengan adanya BI-FTO diharapkan ikatan jejaring pelaku fintech dengan otoritas akan semakin erat. Dengan secara konsisten meningkatkan basis pengetahuan atas proses dan fungsi yang dilakukan oleh fintech, BI-FTO akan dapat berkontribusi dalam menciptakan industri fintech yang sehat. Sebagai bagian dari fungsi asesmen yang dilakukan BI-FTO, diperkenalkan didalamnya sebuah inisiatif yang dinamakan Regulatory Sandbox.

Inisiatif ini dapat dianalogikan sebagai sebuah laboratorium yang digunakan bersama oleh pelaku fintech dan regulator untuk menguji model bisnis dan produk/layanan sebelum masuk ke dalam rezim perizinan secara penuh. Pengujian ini dilakukan dalam lingkungan terbatas untuk memastikan identifikasi dan mitigasi seluruh risiko yang mungkin timbul. Pembatasan tersebut diberikan dalam bentuk perizinan terbatas pada layanan, jangka waktu, dan/atau wilayah penyelenggaraan.

Melalui Regulatory Sandbox, regulator dapat memonitor secara intensif keberlangsungan fintech dalam parameter risiko yang terjaga. Selain digunakan untuk evaluasi, hal ini juga akan memberikan ruang bagi regulator untuk mengambil langkah antisipatif dan korektif di waktu yang tepat apabila diperlukan.

Lebih lanjut, data yang dihasilkan sepanjang proses monitoring dan pendampingan dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kualitas respon kebijakan.64

Bank Indonesia mencermati kuatnya inovasi teknologi dalam area perdagangan. Pertumbuhan dan adopsi e-commerce oleh masyarakat Indonesia begitu luar biasa. Terminologi “pasar”

sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli saat ini sepenuhnya telah dapat diwujudkan secara maya. Meskipun tidak lagi harus dilakukan dengan tatap muka secara fisik, tetapi kebutuhan transaksi melalui sistem pembayaran tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas jual-beli.

Adapun Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial (PBI Tekfin) diterbitkan dengan pertimbangan sebagai berikut:65

a) Perkembangan teknologi dan sistem informasi terus melahirkan berbagai inovasi yang berkaitan dengan teknologi finansial;

64 Agus D.W. Martowardojo, “Sambutan Gubernur Bank Indonesia”, Ibid. h. 3.

65 https://www.bi.go.id/id/peraturan/sistem-pembayaran/Pages/PBI_191217.aspx, diakses pada tanggal 21 Januari 2020, pukul 07.00

60

b) Perkembangan teknologi finansial di satu sisi membawa manfaat, namun di sisi lain memiliki potensi risiko;

c) Ekosistem teknologi finansial perlu terus dimonitor dan dikembangkan untuk mendukung terciptanya stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, serta sistem pembayaran yang efisien, lancar, aman, dan andal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan dan inklusif;

d) Penyelenggaraan teknologi finansial harus menerapkan prinsip perlindungan konsumen serta manajemen risiko dan kehati-hatian;

e) Respons kebijakan Bank Indonesia terhadap perkembangan teknologi finansial harus tetap sinkron, harmonis, dan terintegrasi dengan kebijakan lainnya yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.

3) Peran DSN-MUI

Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendukung penyusunan peta jalan financial technology (fintech) syariah yang diinisiasi Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS). DSN merupakan lembaga yang bertanggung jawab memberi rekomendasi atau opini syariah

pada fintech yang hendak mendaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).66

Sampai saat ini, DSN-MUI telah menerbitkan fatwa-fatwa yang berhubungan dengan FinTech. Di antaranya fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan oleh MUI yakni fatwa nomor 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah dan 117/DSN-MUI/II/2018 tentang Layanan Pembiayaan Berbasis Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah.67

Mengingat sebagaimana transaksi telah dijelaskan dalam Al-Qur‟an surat An Nisa ayat 29 sebagai berikut:

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, jangnlah kalian memakan harta-harta kalian di antara kalian dengan cara yang batil, kecuali dengan perdagangan yang kalian saling ridha. Dan

66 https://republika.co.id/berita/pxuy88370/dukungan-dsn-dalam-pengembangan-emfintechem-syariah, diakses pada tanggal 21 Januari pukul 07.00

67 https://tazkia.ac.id/id/blog/2019/01/29/fintech-dari-perspektif-syariah-bagaimanakah/, diakses pada tanggal 21 Januari 2020, pukul 08.14 WIB

62

janganlah kalian membunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Allah itu Maha Kasih Sayang kepada kalian:”(QS-Annisa, Ayat 29)68

Selain fatwa, DSN MUI juga melakukan pengawasan terhadap FinTech syariah. Model pengawasannya yang dilakukan oleh DSN-MUI sampai saat ini mencakup dua bentuk. Pertama, Lembaga Keuangan/Bisnis Syariah yang sudah memiliki otoritas yang mengatur dan mengawasi dalam hal ini seperti bank, Industri Keuangan non Bank (IKNB), entitas pasar modal, uang elektronik, koperasi/BMT, bursa komoditas, maka diperlukan pengajuan izin usaha dan pengaturan sesuai otoritas berwenang.69

e. Jenis-Jenis Financial Technology (FinTech)

Perusahaan-perusahaan rintisan (startup) yang bermunculan di Indonesia memiliki karateristik tersendiri dalam menjalan jenis bisnis yang dijalankan yang berbasis Financial Technology.

Berikut penggolongan jenis Financial Technology:

1) Management Asset

Kesibukan operasional perusahaan, seperti penggajian, pengelolaan karyawan, sistem pembiayaan, dan lain-lain.

Sekarang banyak startup yang melihat hal itu sebagai peluang

68 Departemen Agama, Al-qur‟an dan Terjemahnya, (Jakarta : Departemen Agama RI, 2007), h. 122.

69 https://tazkia.ac.id/id/blog/2019/01/29/fintech-dari-perspektif-syariah-bagaimanakah/ , Ibid. pukul 08.14

untuk membuka bidang usaha. Jojonomic misalnya, salah satu jenis startup yang bergerak dibidang manajemen aset.

Perusahaan ini menyediakan platform Expense Management System untuk membantu berjalannya sebuah usaha lebih praktis dan efisien. Dengan adanya startup seperti Jojonomic ini, masyarakat Indonesia dapat lebih paperless, karena semua rekapan pergantian biaya yang semula dilakukan manual, cukup dilakukan melalui aplikasi untuk persetujuan pergantian biaya tersebut.70

2) Crowd Funding

Crowd funding adalah startup yang menyediakan platform penggalangan dana untuk disalurkan kembali kepada orang-orang yang membutuhkan. Seperti korban bencana alam, korban perang, mendanai pembuatan karya, dan sebagainya.

Penggalangan dana tersebut dilakukan secara online. Salah satu contoh startup crowd funding terbesar adalah Kitabisa.com. Startup ini diciptakan sebagai wadah agar dapat membantu sesama dengan cara yang lebih mudah, aman, dan efisien.

3) E-Money

E-Money atau uang elektronik, sebagaimana namanya, adalah uang yang dikemas ke dalam dunia digital, sehingga dapat dikatakan dompet elektronik. Uang ini umumnya dapat

70 https://www.duniafintech.com/pengertian-dan-jenis-startup-fintech-di-indonesia/, Akses Tanggal 05/10/2019, Pukul 06.06 WIB.

64

digunakan untuk berbelanja, membayar tagihan, dan lain-lain melalui sebuah aplikasi. Salah satu dompet elektronik itu adalah Doku. Doku merupakan sebuah aplikasi yang dapat dengan mudah diunggah di smartphone. Doku dilengkapi dengan fitur link kartu kredit dan uang elektronik atau cash wallet, yang dapat digunakan untuk berbelanja baik secara online maupun offline kapan dan di mana saja melalui aplikasi tersebut.71

4) Insurance

Jenis startup yang bergerak di bidang insurance ini cukup menarik. Karena biasanya asuransi yang selama ini merupakan asuransi konvensional, di mana dengan mensisihkan sejumlah uang perbulan sebagai iuran wajib untuk mendapatkan manfaat dari asuransi tersebut di masa depan.

Jenis asuransi startup tidak semua berjalan demikian. Ada pula startup asuransi yang menyediakan layanan kepada penggunanya berupa informasi rumah sakit terdekat, dokter terpercaya, referensi rumah sakit, dan sebagainya.

HiOscar.com adalah satu jeni startup seperti ini. Startup ini dibangun dengan tujuan untuk memberikan cara yang sederhana, intuitif, dan proaktif dalam membantu para pelanggannya menavigasi sistem kesehatan mereka. Startup ini berkolaborasi dengan para provider atau dengan para dokter

71 https://www.duniafintech.com/pengertian-dan-jenis-startup-fintech-di-indonesia/, Akses Tanggal 05/10/2019, Pukul 06.06 WIB.

kelas dunia dan rumah sakit terbaik yang ingin bekerja sama untuk membantu mengelola kesehatan para anggotanya.72 5) Peer to peer (P2P) Lending

Peer to peer (P2P) Lending adalah startup yang menyediakan platform pinjaman secara online. Urusan permodalan yang sering dianggap bagian paling vital untuk membuka usaha, melahirkan ide banyak pihak untuk mendirikan startup jenis ini. Dengan demikian, bagi orang-orang yang membutuhkan dana untuk membuka atau mengembangkan usahanya, sekarang ini dapat menggunakan jasa startup yang bergerak di bidang p2p lending. Adalah Uangteman.com salah satu contoh startup yang bergerak di bidang ini. Startup ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan finansial masyarakat dengan cara cukup mengisi formulir di website uangteman.com dalam waktu sekitar 5 menit dan memenuhi persyaratannya.

6) Payment Gateway

Bertumbuhnya perusahaan e-commerce memicu pula semakin banyak didirikannya startup yang menjadi jembatan penghubung antara e-commerce dengan pelanggan, terutama dalam hal sistem pembayaran. Layanan yang disediakan startup untuk e-commerce ini disebut dengan layanan payment gateway. Payment gateway memungkinkan masyarakat

72 https://www.duniafintech.com/pengertian-dan-jenis-startup-fintech-di-indonesia/, Akses Tanggal 05/10/2019, Pukul 06.06 WIB.

66

memilih beragam metode pembayaran berbasis digital (digital payment gateway) yang dikelola oleh sejumlah startup.

Dengan demikian akan meningkatkan volume penjualan e-commerce. Payment gateway satu di antaranya adalah iPaymu.73

f. Perkembangan Fintech Global

Fintech secara Global menunjukkan secara pesat Fintech berkembang di berbagai sektor, mulai dari startup pembayaran, peminjaman (lending), perencanaan keuangan (personal finance), investasi ritel, pembiayaan (crowdfunding), remitansi, riset keuangan, dan lain-lain. Pelaku FinTech Indonesia masih dominan berbisnis payment (43%), pinjaman (17%), dan sisanya berbentuk agregator, crowdfunding dan lain-lain.74

g. Cakupan Bisnis Tekhnologi Finansial Indonesia

Jenis teknologi finansial cukup beragam, mulai dari pengelolaan aset, penggalangan dana, e-money, peer to peer lending, payment gateway, remittance, saham, hingga meliputi bidang asuransi. 75 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklasifikasikan fintech di Indonesia ke dalam dua kategori.

Fintech 2.0 untuk layanan keuangan digital yang operasikan lembaga keuangan seperti Mandiri Online besutan Bank Mandiri.

73 https://www.duniafintech.com/pengertian-dan-jenis-startup-fintech-di-indonesia/, Akses Tanggal 05/10/2019, Pukul 06.06 WIB.

74 Ernama Santi, pengawasan otoritas jasa keuangan terhadap financial technology ( peraturan otoritas jasa keuangan nomor 77/pojk.01/2016, diponegoro law journal, Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017.

75 Dunia Fintech.Com. Apa Itu Fintech Dan Jenis Startup Fintech Di Indonesia. 2017.

Https://www.Duniafintech.Com/ . Diakses Tanggal 12 Maret 2018

Fintech 3.0 untuk startup teknologi yang punya produk dan jasa inovasi keuangan. Badan internasional pemantau dan pemberi rekomendasi kebijakan mengenai sistem keuangan global, Financial Staility BoaIrd (FSB) membagi fintech dalam empat kategori berdasarkan jenis inovasi.

Pertama, payment, clearing dan settlement. Ini adalah cakupan fintech yang memberikan layanan sistem pembayaran baik yang diselenggarakan oleh industri perbankan maupun yang dilakukan Bank Indonesia seperti Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS), Sistem Kliring Nasional BI (SKNBI) hingga BI scripless Securities Settlement System (BI-SSSS).

Contohnya, Kartuku, Doku,iPaymu, Finnet dan Xendit.

Kedua, e-aggregator. Jenis fintech ini menggumpulkan dan mengolah data yang bisa dimanfaatkan konsumen untuk membantu pengambilan keputusan. Startup ini memberikan perbandingan produk mulai dari harga, fitur hingga manfaat. Contohnya, Cekaja, Cermati, KreditGogo dan Tunaiku.

Ketiga, manajemen resiko dan investasi. Fintech ini memberikan layanan seperti robo advisor (perangkat lunak yang memberikan layanan perencanaan keuangan dan platform e-trading dan e-insurance. Contohnya, Bareksa, Cekpremi dan Rajapremi.

Keempat, peer to peer lending (P2P). Fintech ini mempertemukan antara pemberi pinjaman (investor) dengan para pencari pinjaman dalam satu platform. Nantinya para investor akan mendapatkan

68

bunga dari dana yang dipinjamkan. Contohnya, Modalku, Investree, Amartha dan KoinWorks.76

Dari keempat bidang itu, crowdfunding dan peer to peer landing masuk dalam pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sementara payment, settlement, dan clearing masuk dalam ranah BI. Alasannya jika sudah masuk ke proses bayar-membayar, ada perputaran uang, menjadi tanggungjawab Bank Indonesia.

Sementara kedua bidang lainnya akan masuk ke ranah BI jika kedua bidang tersebut memberlakukan sistem pembayaran. Dengan perkembangan startup yang ada, banyak pula investor baik dari individu maupun institusi yang melirik perusahaan startup sebagai lahan untuk berinvestasi.

h. Islamic Peer to Peer Lending

Islamic Peer to Peer Lending sama saja dengan P2P Lending yaitu kegiatan pinjam meminjam antar perseorangan namun dalam hal ini menggunakan prinsip etis sesuai syariah Islam. Sistem yang dibangun didasarkan pada Islamic Finance dengan segala aturan dan larangan. Praktisi masih sangat jarang, masih banyak yang menggunakan praktik konvensional. Peluang investasi pada konsep ini dipandu oleh nilai-nilai moral dan etika.

Misalnya, tidak mendukung kegiatan yang tidak halal seperti terlibat dalam perjudian, senjata atau yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Terutama menciptakan dampak yang jauh lebih positif,

76 Intan Fathimi, “Analisis SWOT terhadap Pengimplementasian Teknologi Finansial pada Bank X Cabang Y Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur”,Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Medan: FEBI UIN, 2018), h. 27. t.d.

dalam hal produksi dan pertumbuhan dalam kegiatan ekonomi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Investasi yang dijalankan

dalam hal produksi dan pertumbuhan dalam kegiatan ekonomi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Investasi yang dijalankan

Dokumen terkait