• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN TEORITIS Pengertian Industri Kecil

Dalam dokumen Vol.15 No.1 Januari 2014 (Halaman 45-47)

INDUSTRI KECIL DI KOTA BANDA ACEHJOURNAL OF ECONOMIC MANAGEMENT & BUSINESS

TINJAUAN TEORITIS Pengertian Industri Kecil

Pembangunan pada sektor industri adalah se- bagian dari usaha pembangunan ekonomi jangka panjang yang diarahkan untuk menciptakan struk- tur ekonomi yang bertitik berat pada sektor in- dustri yang maju. Untuk itu proses industrialisasi harus lebih di manfaatkan melalui pembangunan sektor industri yang lebih eisien dan perluasan lapangan kerja.

Untuk mencapai sasaran pembangunan di bi- dang ekonomi, diharapkan sektor industri kecil memegang peranan secara langsung dan terpadu dalam meningkatkan kemampuan masyarakat, baik secara kualitatif maupun kuantitatif dalam rangka meningkatkan pengolahan sumber daya alam.

Winardi (1998:181) mendeinisikan industri sebagai suatu usaha produktif, terutama dalam bidang produksi atau perusahaan tertentu yang menyelenggarakan jasa-jasa, seperti transportasi yang menggunakan modal dan tenaga kerja.

Pembangunan industri diarahkan ke pemban- gunan industri kecil dan sedang yang bersifat padat karya guna terciptanya pembangunan selanjutnya. Disamping itu juga perlu di usahakan perkemban- gan industri besar dan menengah supaya dapat

mendorong pertumbuhan industri kecil. Ukuran besar dan kecil industri tersebut dinyatakan dalam bentuk besarnya modal yang digunakan, disamp- ing itu ada juga yang menunjukkan besar kecilnya industri dilihat dari sudut tenaga kerja.

Industri Kecil merupakan usaha yang melaku- kan kegiatan mengubah barang dasar menjadi ba- rang jadi atau setengah jadi dan atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dengan jumlah tenaga kerja 5 sampai19 orang. Bila tenaga kerjanya antara 20 sampai100 orang disebut usaha sedang dan lebih dari 100 orang disebut usaha besar (BPS, 2010:32).

Pengertian Industri Kecil menurut Tugiman (1995:6) perlu adanya beberapa pendekatan untuk membuktikan suatu usaha tergolong kedalam in- dustri kecil. Pendekatan-pendekatan tersebut yaitu : pendekatan tenaga kerja , pendekatan omzet, dan pendekatan assets.

Undang-undang No 9 tahun 1995 tentang In- dustri Kecil memberikan pengertian Industri Ke- cil sebagai suatu kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan serta kepemi- likannya sebagaimana diatur undang-undang ini, pasal 1 ayat 2 sebagai berikut:

a. Memiliki kekayaaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 (Dua Ratus juta rupiah), tidak ter- masuk tanah dan tempat usaha.

2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling ba- nyak Rp. 1.000.000.000 (Satu milyar Rupiah). 3. Milik warga negara Republik Indonesia. 4. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak peru-

sahaan atau cabang langsung maupun tidak langsung dengan usaha menengah atau usaha besar.

5. Berbentuk usaha perseorangan, usaha yang tidak berbadan hukum, berbadan hukum yang tidak termasuk koperasi.

Tabel 1

Jumlah Industri Kecil Di Kota Banda Aceh Pada Tahun 2011

No. Jenis Usaha Jumlah Industri Kecil (Unit)

1. 2. 3. 4. 5.

Industri Makanan, Minuman dan Tembakau Industri tekstil, pakaian jadi dan kulit Industri kayu, bambu, rotan dan sejenisya Industri kertas, percetakan dan penerbitan Pengolahan Lainnya 334 186 122 124 154 Jumlah 920

Menurut Girt (1994:6) membedakan industri ke dalam jumlah tenaga kerja atau karyawan yang menggunakan antara lain:

a. Industri kerajinan mempunyai 1 sampai 4 kar- yawan.

b. Industri kecil mempunyai 5 sampai 19 kar- yawan.

c. Industri sedang mempunyai 20 sampai 99 kar- yawan.

d. Industri besar mempunyai lebih dari 100 orang karyawan.

Menurut BPS, (2010:83) sektor industri di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dapat dig- olongkan sebagai berikut :

a. Industri besar, yaitu industri yang mengguna- kan tenaga penggerak 60 sampai 300 orang ke atas.

b. Industri menengah, yaitu industri yang meng- gunakan tenaga penggerak antara 20 sampai 59 orang tenaga kerja atau tenaga kerja 100 sampai 299 orang.

c. Industri kecil yaitu industri yang mengguna- kan tenaga penggerak kurang dari 20 pekerja atau tenaga kerja kurang dari 100 Orang. Badan Pusat Statistik (BPS, 2010:71) mem- berikan pengertian tentang Industri Kecil yaitu usaha yang melakukan kegiatan usaha mengubah barang dasar menjadi barang setengah jadi atau barang jadi atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya, dengan jumlah tenaga kerja 5 sampai 19 orang.

Kriteria Industri Kecil

Dilihat dari berbagai kriteria, suatu industri dapat diklasiikasikan ke dalam tingkatan-tingka- tan tertentu. Secara umum penggolongan industri didasarkan pada kriteria-kriteria isik yaitu banyak modal yang digunakan serta jumlah karyawan atau tenaga kerja yang diperkerjakan dalam keg- iatan industri tersebut, baik dengan menggunakan mesin maupun tanpa menggunakan mesin.

Menurut Hadi (1995:20), mengkategorikan in- dustri dalam tiga ukuran yaitu:

a. Industri besar yaitu industri yang memper- kerjakan buruh 100 orang atau lebih tanpa menggunakan mesin atau industri yang mem-

perkerjakan buruh 50 orang atau lebih tetapi menggunakan mesin.

b. Industri sedang yaitu industri yang memper- kerjakan buruh 10 sampai 99 orang tanpa menggunakan mesin atau memperkerjakan 5 sampai 49 orang dengan menggunakan mesin. c. Industri kecil yaitu industri yang memperker- jakan buruh 1 sampai 9 orang tanpa mengguna- kan mesin atau industri yang memperkerjakan buruh 1 sampai 4 orang dengan menggunakan mesin.

Pengertian Tenaga Kerja

Simanjuntak (1985:2) tenaga kerja mencakup penduduk yang sudah bekerja atau sedang beker- ja, yang sedang mencari pekerjaan dan yang mel- akukan kegiatan lain seperti sekolah dan mengu- rus rumah tangga. Bagi pencari kerja, bersekolah dan mengurus rumah tangga, walaupun sedang tidak bekerja mereka dianggap sewaktu-waktu dapat ikut serta untuk bekerja. Pengertian tenaga kerja dan bukan tenaga kerja hanya oleh batas umur. Untuk Indonesia batasan umur yang diang- gap tenaga kerja minimal berusia 15 tahun tanpa batas umur maksimum. Dengan kata lain yang dimaksud tanaga kerja di Indonesia adalah pen- duduk yang berusia 15 tahun ke atas, sedangkan bukan tenaga kerja adalah penduduk yang berusia 15 tahun ke bawah.

Manullang (1995:5) menyebutkan bahwa te- naga kerja terbagi atas dua yaitu angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Kelompok yang terma- suk dalam angkatan kerja adalah golongan yang bekerja dan golongan yang menganggur atau mencari pekerjaan, sedangkan yang termasuk bu- kan angkatan kerja adalah mereka yang berseko- lah, mengurus rumah tangga dan penerima penda- patan.

Sedangkan menurut Tjiptoherianto (1996:4) yang dimaksud dengan tenaga kerja adalah pen- duduk pada usia kerja 15-64 tahun, dapat pula di- katakan bahwa tenaga kerja adalah jumlah seluruh penduduk dalam suatu negara dapat memproduksi barang-barang dan jasa-jasa jika ada permintaan terhadap tenaga kerja mereka dan jika mereka mau berpartisipasi dalam aktivitas tersebut.

Pada dasarnya kebutuhan tenaga kerja dida- sarkan pada pemikiran bahwa tenaga kerja dalam

masyarakat mempakan salah satu faktor yang potensial dalam pembangunan ekonomi secara keseluruhan. Kesempatan kerja yang tersedia dan kualitas tenaga kerja yang digunakan akan me- nentukan proses pembangunan ekonomi dengan pengertian bahwa tenaga kerja mempakan sumber daya untuk menjalankan proses produksi dan juga sebagai pasar barang dan jasa. Dalam hal ini, ke- butuhan tenaga kerja tergantung dari kesempatan kerja yang tersedia dalam suatu perekonomian. Penelitian Sebelumnya

Triwahyudi (1999:59) dalam sebuah peneli- tian di Daerah Kota Banda Aceh menyebutkan bahwa peranan industri kecil dalam pertumbu- han ekonomi di Kota Banda Aceh masih sangat relatif kecil. Keadaan ini dapat dilihat dari analisis kontribusi industri kecil terhadap nilai produksi yang dihasilkan (PDRB) oleh daerah Kota Banda Aceh yaitu pada tahun 2006 sumbangan sebesar 27,66 persen tahun 2007 sebesar 24,70 persen dan tahun 2008 sebesar 22,17 persen. Sehingga dapat disimpulkan peranan sektor industri kecil dalam pertumbuhan ekonomi di Kota Banda Aceh dipan- dang masih relatif kecil.

Kakisina (2003:12) yang meneliti posisi stra- tegi perbankan mikro dalam pembiayaan usaha mikro kecil, dan menengah di Provinsi Papua berpendapat bahwa peranan Lembaga Keuangan Mikro seperti Badan Perkreditan Rakyat sangat strategi untuk pengembangan UMKM yang tidak terlayani oleh jasa bank-bank komersial besar. Pertumbuhan UMKM di Papua selain menunjuk- kan keberhasilan Lembaga Keuangan Mikro yang membiayainya juga merupakan kekuatan perkem- bangan Lembaga Keuangan Mikro itu sendiri.

Masyhuri (2003) menyebutkan bahwa diskusi dari prepektif sosial terhadap ketenagakerjaan di Indonesia ternyata sedikit banyak dapat memberi- kan visi lain tentang produktiitas tenaga kerja Indonesia. Dari diskusi tersebut terlihat bahwa hubungan sosial yang kurang serasi, menciptakan situasi yang tidak kondusif terhadap tumbuhnya semangat kompetitif di kalangan pekerja, yang pada gilirannya berpengaruh pula pada mun- culnya sikap yang cepat puas diri terhadap hasil pekerjaan, inisiatif yang terbatas, dan bahkan si- kap yang skeptis dan statis di kalangan pekerja.

Wijono (2005:31) dalam penelitiannya ten- tang “Pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro Sebagai Salah Satu Pilar Sistem Keuangan Na- sional: Upaya Konkrit Memutus Mata Rantai Kemiskinan” mengungkapkan bahwa pengen- tasan kemiskinan dapat dilakukan dengan memu- tus mata rantai kemiskinan itu sendiri, antara lain dengan memperluas akses Usaha Kecil dan Mikro dalam mendapatkan fasilitas permodalan yang tidak hanya bersumber dari lembaga keuangan formal tapi juga dari lembaga keuangan mikro. LKM ternyata mampu memberikan berbagai jenis pembiayaan kepada UKM walaupun tidak sebesar lembaga keuangan formal, sehingga dapat men- jadi alternatif pembiayaan yang cukup potensial mengingat sebagian besar pelaku UKM belum memanfaatkan lembaga-lembaga keuangan. Hipotesis

Berdasarkan kerangka teori dan permasalahan, hipotesisnya adalah tenaga kerja berpengaruh sig- niikan terhadap nilai produksi pada industri kecil di kota Banda Aceh.

METODE PENELITIAN

Dalam dokumen Vol.15 No.1 Januari 2014 (Halaman 45-47)