Bab 4. Kolam Air Tawar
4.4 Tipe-tipe kolam
4.4.3 Tipe kolam berdasarkan aliran air
a. Kolam Air Tergenang (Stagnant Water Pond)
Kolam Air Tergenang ditandai dengan ukuran kolam yang luas dan aliran air yang terbatas. Aliran air yang terjadi dalam kolam air tergenang biasanya dimaksudkan untuk mengganti kehilangan air akibat kebocoran dan penguapan; aliran air ini sangat lemah sehingga tidak mempengaruhi kehidupan jasad renik di dalam kolam. Kolam Air Tergenang ini dapat digunakan untuk membudidayakan berbagai jenis ikan air tawar (Susanto, 1992).
Kolam Air Tergenang juga dapat terbentuk dari proses penyekatan parit dan saluran. Kolam-kolam seperti ini banyak ditemui di Kalimantan Tengah, khususnya di parit-parit yang dibangun di bekas wilayah Pembukaan Lahan Gambut Sejuta Hektar. Kolam tersebut biasa disebut dengan nama Beje oleh masyarakat setempat; Kolam Beje ini dimanfaatkan untuk memerangkap ikan-ikan yang terbawa luapan air sungai (Waspodo, Dohong, dan Suryadiputra, 2004).
b. Kolam Air Mengalir/Kolam Air Deras (Running Water Pond)
Kolam Air Mengalir/Kolam Air Deras biasanya berukuran kecil dan airnya mengalir terus menerus. Debit air pada kolam jenis ini biasanya berkisar antara 50-100 liter/detik. Aliran air yang deras membuat air di kolam ini menjadi kaya akan oksigen namun sangat miskin jasad hidup (makanan alami ikan); karena itu ikan budidaya pada Kolam Air Mengalir sangat tergantung pada masukan makanan buatan berupa pelet. Makanan buatan yang diberikan pada sistem budidaya di Kolam Air Mengalir ini harus bergizi tinggi, dengan kandungan protein tidak kurang dari 40%.
Kolam Air Mengalir sebaiknya dibangun dekat dan berhubungan langsung dengan sumber air, bebas dari lokasi banjir, perbedaan tinggi air antara sumber air dengan permukaan air minimal 30 cm, dan ketinggian lokasi dari permukaan laut kurang dari 800 m. Ukuran Kolam Air Mengalir umumnya berkisar antara 10-100 m2, dengan ukuran panjang 10-20 m, dan lebar antara 2,5-5 m dengan kemiringan dasar 2%-5%. Kolam Air Mengalir umumnya digunakan untuk pembesaran ikan mas (Susanto, 1992; Departemen Kelautan dan Perikanan – Direktorat Perikanan Budidaya, 2004c).
4.5 Keanekaragaman Hayati Kolam
Kondisi ekosistem kolam tidak jauh berbeda dengan ekosistem danau. Perbedaannya hanya terletak pada sistem pengelolaannya, dimana kolam sengaja dikelola dan diatur manusia untuk menghasilkan produksi ikan yang tinggi sedangkan danau secara umum belum banyak dipengaruhi manusia. Dengan demikian keanekaragaman hayati di kolam jauh lebih terbatas dibandingkan danau.
4.5.1 Flora
Kelompok fitoplankton (yang terdiri dari berbagai jenis alga, bakteri hijau, dan protozoa berklorofil) dapat dianggap sebagai kelompok flora paling penting dalam kolam budidaya perikanan. Fitoplankton merupakan makanan alami bagi ikan-ikan budidaya, terutama bagi ikan-ikan yang masih dalam stadia larva. Selain itu fitoplankton merupakan produsen primer utama dalam ekosistem kolam, sehingga fitoplankton memegang peranan penting dalam keberlangsungan rantai makanan dan penyediaan oksigen di kolom perairan. Untuk menjaga ketersediaan fitoplankton (dan juga zooplankton) sebagai makanan alami ikan, pada unit perkolaman biasanya dibangun bak khusus untuk menumbuhkannya. Kelimpahan fitoplankton dalam kolam sangat dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari dan ketersediaan unsur hara. Rasio kandungan unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) di perairan sangat mempengaruhi komposisi jenis-jenis fitoplankton yang tumbuh di perairan. Pemberian pupuk ke dalam kolam biasanya dilakukan untuk menambah kandungan unsur hara di perairan, yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kelimpahan fitoplankton. Walaupun keberadaan fitoplankton di kolam budidaya ikan sangat penting, namun kandungan fitoplankton yang terlalu berlimpah juga dapat menimbulkan masalah bagi kegiatan budidaya. Peledakan populasi fitoplankton (algae blooming) dapat mengakibatkan penurunan kandungan oksigen secara drastis, sehingga dapat menyebabkan kematian ikan-ikan budidaya. Selain itu peledakan populasi plankton jenis Microcystis juga dapat menyebabkan air berbau tidak enak dan ikan-ikan yang dibudidayakan berasa tidak enak jika dimakan. Untuk itu pemberian dosis pupuk dalam kegiatan budidaya harus betul-betul dikontrol agar tidak menyebabkan algae blooming (Susanto, 1992; Odum, 1996; United State - Environmental Protection Agencies (US-EPA), 2003; Lewis dan Miller, 2004).
Selain fitoplankton, jenis flora lain yang biasa ditemukan di kolam budidaya ikan adalah jenis-jenis tumbuhan air tingkat tinggi seperti Eceng gondok (Eichorrnia crassipes), Kiambang (Salvinia sp.), Selada air (Pistia
stratiotes), dan Teratai (Nymphaea spp.). Jenis-jenis tumbuhan air ini
umumnya merupakan gulma bagi kegiatan budidaya perikanan. Namun bagi beberapa jenis ikan, tumbuhan air memegang peranan penting, antara lain sebagai tempat untuk meletakkan telur, subtrat bagi hewan-hewan invertebrata dan alga yang merupakan makanan ikan, dan juga sebagai bahan makanan ikan (Whitten et al., 1987). Di tepi kolam biasanya sengaja ditumbuhkan rumput-rumputan seperti alang-alang yang berfungsi
sebagai peneduh, tempat bersembunyi ikan, dan sarang peneluran. Di bagian atas dan sisi pematang kolam juga biasanya sengaja ditanami rumput atau pohon-pohonan yang berfungsi untuk mencegah erosi maupun sebagai peneduh ikan. Jenis tanaman yang biasa digunakan adalah Lamtorogung (Leucaena glauca), Turi (Sesbania grandiflora), Acasia (Acasia filosa), dan berbagai jenis sayur mayur.
Tanaman air juga dapat bersifat gulma karena ia dapat menghalangi penetrasi cahaya ke dalam air sehingga mengganggu aktifitas fotosintesis fitoplankton. Selain itu tumbuhan air yang bersifat mengambang (misalnya: Eceng gondok dan Teratai) dan mencuat (misalnya Typha spp. atau Buntut kucing) juga menyebabkan tingginya tingkat evaporasi air kolam dan mengurangi kandungan oksigen dalam air. Tumbuhan air mengambang dan mencuat meningkatkan proses evaporasi air kolam karena daun-daun dari tumbuhan air ini melakukan evapotranspirasi; sebagai contoh daun-daun eceng gondok menyebabkan tingkat evaporasi meningkat sampai tiga kali lipat dibandingkan tingkat evaporasi pada permukaan air yang tidak ditumbuhi tumbuhan air, bahkan beberapa kelompok tumbuhan dari kelompok phreatophytes tidak hanya mengevapotranspirasi air yang ada di permukaan tanah saja tetapi juga air yang ada di dalam tanah. Turunnya kandungan oksigen pada kolam-kolam yang ditumbuhi tanaman air mengambang dan mencuat disebabkan karena oksigen yang dihasilkan dari proses fotosintesis tumbuhan-tumbuhan air ini tidak dilepaskan ke dalam kolom air melainkan ke udara bebas; selain itu keberadaan tumbuhan air juga mengganggu aktifitas fotosintesis fitoplankton sehingga produksi oksigen yang dihasilkan oleh fitoplankton menjadi berkurang; kandungan oksigen juga dapat terus berkurang jika terdapat sisa-sisa tumbuhan air yang mati dan mengkonsumsi oksigen untuk proses dekomposisinya (University of Nebraska Lincoln, Pesticide Education Resources, 2004).
4.5.2 Fauna
Kolam merupakan ekosistem yang dibuat untuk keperluan budidaya perairan, khususnya ikan, karenanya ikan merupakan fauna utama pada ekosistem kolam. Jenis-jenis ikan yang disukai di setiap daerah di Indonesia umumnya berbeda-beda, oleh karena itu jenis ikan yang dibudidayakan di suatu daerah disesuaikan dengan kondisi permintaan konsumen/pembeli di masing-masing daerah. Di Jawa Barat dan Bali jenis ikan yang disukai adalah Mas sehingga kegiatan budidaya ikan
jenis ini banyak dikembangkan; untuk Jawa Tengah jenis ikan yang banyak dikembangkan adalah Tawes; sedangkan di Jawa Timur ikan yang banyak dibudidayakan Lele (Whitten, 1999).
Jenis-jenis ikan konsumsi yang biasa dibudidayakan di kolam adalah: Ikan Mas (Cyprinus carpio), Tawes (Barbodes gonionotus, Puntius
orphoides), Gurame (Osphronemus gouramy), Tambakan (Helostoma temminckii), Nila (Oreochromis niloticus), Nilem (Ostoechillus hasseltii),
Sepat siam (Trichogaster pectoralis), Lele (Clarias bathracus), dan Patin (Pangasius pangasius) (Susanto, 1990). Selain jenis-jenis ikan diatas ada tujuh jenis ikan konsumsi lain yang biasa dibudidayakan di kolam namun benihnya dikumpulkan dari sungai-sungai, yaitu: Ikan Sidat (Anguilla spp.), Belut rawa (Monopterus albus), Jambal (Pangasius
djambal), Jelawat (Leptobarbus hoevenii), dan Betutu (Oxyeleotris marmorata) (Susanto, 1990 dalam Whitten, 1999). Selain jenis-jenis
ikan konsumsi, ada banyak jenis ikan hias air tawar yang dibudidayakan di kolam, jumlahnya (baik jenis asli maupun asing) hampir mencapai seratus, jenis-jenis ikan hias tersebut antara lain: Toxoter jaculatrix, Betta
smaragdina, Hemirhamphodon pogonognathus, Monodactylus argentus, Capoeta tetrazona tetrazona, Oryzias javanicus, Apteronotus albifrons,
dan Cyphotilapia frontosa (O-fish: Situs Acuan Informasi Ikan Hias, 2004).
Gambar 4.2 Beberapa jenis ikan konsumsi yang dibudidayakan di kolam air tawar: (a) Mas (Cyprinus carpio), (b) Sepat siam
(Trichogaster pectoralis), Nila (Oreochromis niloticus)
Masing-masing jenis ikan memiliki kebiasaan hidup yang berlainan, khususnya kebiasaan dalam berkembang biak. Contohnya, Ikan Mas membutuhkan alat penempel telur dalam pemijahannya, sedangkan Ikan Mujair dan Nila biasa melubangi dasar kolam untuk bersarang. Karena itu pembangunan kolam dan cara pemeliharaan ikan harus disesuaikan dengan jenis ikan yang dipelihara.
Tabel 4.1 Ciri-ciri bioekologis beberapa jenis ikan yang dibudidayakan di kolam
Sumber: Susanto, 1992
Nama Spesies Nama Lokal Ciri bioekologis
Cyprinus carpio Mas Hidup di kolam yang dasarnya sedikit berlumpur, dengan manipulasi lingkungan (pengeringan dasar kolam dan pemasukan air baru) untuk merangsang pemijahan. Ikan Mas membutuhkan alat penempel telur yang dapat terbuat dari ijuk atau rumput.
Barbodes gonionotus Tawes Hidup di dasar kolam berpasir dengan air jernih yang mengandung sedikit zat organik. Telur Ikan Tawes ini bersifat menyebar di dasar kolam sehingga tidak memerlukan substrat untuk menempel.
Osphronemus
gouramy Gurame Biasa membangun sarang untuk menaruh telur-telurnya pada saat pemijahan; karena itu pada kolam pemijahan disediakan ijuk sebagai bahan pembuat sarang dan pengki atau ranting bambu yang ditempatkan sekitar 20 cm di bawah permukaan air sebagai tempat pembuatan sarang.
Helostoma temmincki Tambakan Hidup di air tenang dan bervegetasi, memakan berbagai jenis tumbuhan. Telur ikan ini bersifat planktonis karena banyak mengandung globul minyak.
Trichogaster pectoralis Sepat siam Hidup pada perairan yang tenang, karenanya pemasukan air tidak diperlukan, kecuali untuk mengganti air yang bocor dan menguap saja. Ikan ini biasa membuat gelembung busa pada subtrat, karena itu pada permukaan air biasa ditanam tumbuhan air mengapung yang menutupi sebagian permukaan kolam.
Osteochilus hasselti Nilem Ikan ini menyukai kolam yang dangkal, teduh, bersubtrat rumput, dan beraliran air deras pada proses pemijahannya, sedangkan untuk menetaskan telur diperlukan kolam yang lebih dalam dengan dasar berpasir. Oleh karena itu kolam pemijahan terletak tersendiri dengan kolam penetasan, kolam pemijahan terletak di sudut atas sedangkan kolam penetasan telur terletak di bawahnya.
Oreochromis niloticus Nila Ikan ini hidup pada kolam yang dasarnya sedikit berlumpur. Kolam pemijahan Ikan Nila berfungsi juga sebagai kolam penetasan dan perawatan benih, induk-induk yang telah menetaskan telurnya biasanya dibiarkan merawat anaknya di kolam pemijahan.
Jenis fauna lain yang dibudidayakan di kolam adalah fauna dari kelompok invertebrata seperti Udang Galah (Macrobrachium rosenbergi), Siput (Pila), dan Tiram air tawar (Meretrix). Selain hewan-hewan budidaya, di ekosistem kolam juga ditemukan zooplankton dan larva-larva serangga seperti nyamuk dan capung yang merupakan sumber makanan bagi ikan-ikan muda. Katak juga sering ditemukan hidup di kolam, juga Ular air yang merupakan predator pemangsa ikan. Binatang air lain yang dapat ditemukan dalam ekosistem kolam adalah dari kelompok benthos yang terdiri dari jenis-jenis siput (seperti Lymnaea rubiginosa dan siput-siput dari famili Thiaridae) serta jenis-jenis cacing. Dari kelompok burung, kadang dijumpai beberapa jenis yang menjadi hama karena memangsa ikan dalam kolam, antara lain yaitu: Cangak abu (Ardea cinerea), Cangak merah (A. purpurea), Kowak-malam abu (Nycticorax nycticorax), Kuntul besar (Egretta alba), Bangau leher-hitam (Ephippiorhynchus asiaticus), Ibis rokoroko (Plegadis
falcinellus), Trinil rawa (Tringa stagnatilis), dan Dara laut-biasa (Sterna hirundo) (Susanto, 1992; Sonobe and Usui, 1993; Rural Development Service
- Department for Environment, Rural, and Food Affairs of England, 2003).