HAKIKAT DEFINISI DAN KONTEKS KOMUNIKASI
G. Konteks-konteks komunikasi lainnya
2. TIPOLOGI MODEL
Kita dapat menggolongkan model dengan berbagai cara. Gerharf J.
Hanneman dan William J. McEwen, menggambarkan taksonomi model yang mudah dipahami, dalam suatu grafik, yang melukiskan derajat abstraksi yang berlainan. Dari kiri ke kanan, tampak bahwa derajat abstraksi model tersebut menurun. Model mental merepresentasikan proses mental internal, yang tampaknya tidak begitu relevan buat kita. Model yang mungkin lebih penting adalah model simbolik yang terdiri dari model matematik (misalnya E=mc2) dan model verbal; lalu model fisik yang terdiri dari model ikonik dan model analog.
Figur 3.2
Sumber: Mary B. Cassata dan Molefi K. Asante. Mass Communication:
Principles and Practices. New York: Macmillan, 1979, hal. 64 Semua model
Model simbolik Model fisik
Model mental Model matematik Model verbal Model ikonik Model ikonik
52 Model verbal adalah model atau teori yang dinyatakan dengan kata-kata, meskipun bentuknya sangat sederhana. Definisi-definisi komunikasi yang dirumuskan dalam kalimat-kalimat, seperti definisi Lasswell, definisi Pearson dan Nelson, definisi Tubbs dan Moss dan lain-lainnya yang termasuk dalam model verbal ini, juga termasuk model verbal George Gerbner dan model SMCR David Berlo yang akan dibahas dalam bab ini. Model verbal sangat berguna, terutama untuk menyatakan hipotesis atau menyajikan hasil penelitian.
Model verbal ini sering dibantu dengan grafik, diagram atau gambar.
Raymond S. Ross menyebut model demikian sebagai model verbal-piktorial.
Model grafik atau model diagramatik secara skematis menampilkan apa yang dapat disajikan dengan sekedar kata-kata. Contoh model ini adalah model struktur organisasi yang sering kita lihat, yang dilihat dari prespektif komunikasi organisasi, menunjukkan jabatan-jabatan suatu organisasi, tingkat-tingkat jabatan dan hubungan kerja (komunikasi formal) berbagai jabatan tersebut. Contoh lain model ini adalah peta yang menggambarkan jarak oada oermukaan bumi dan kalender yang merepresenrasikan waktu. Dalam bab ini model diagramatik, model grafik atau model verbal-piktorial proses komunikasi terutama akan disajikan melalui berbagai model umum (general model) yang melukiskan fenomena komunikasi dari berbagai pakar komunikasi.
Model fisik secara garis besar terbagi dua, yakni model ikonik yang penampilan umumnya (rupa, bentuk, tanda-tanda) menyerupai objek yang dimodelkan, seperti model pesawat terbang, boneka, mannequin, maket sebuah gedung atau sebuah kompleks perumahan dan sebagainya. Untuk melihat kegunaan model yang melukiskan suatu fenomena sosial, seperti komunikasi ada baiknya kita memulainya dengan mengkaji model ikonik ini seperti yang dibahas Irwin D.J. Broos berikut ini.
Sebagian model ikonik, selain menyerupai objek aslinya, juga menunjukkan sebagian fungsi penting objek yang dimodelkan tersebut. Contoh terbaik model ikonik adalah model kendaraan seperti pesawat terbang, kapal laut, kereta api dan mobil yang meskipun tampak rumit sebenarnya merupakan versi sederhana dari
53 kendaraan-kendaraan tersebut yang cara beroperasinya jauh lebih rumit. Perangkat yang ditunjukkan model pesawat terbang misalnya boleh jadi meliputi mesin pesawat, interior pesawat, kendali yang dapat dioperasikan dan bahkan mekanisme radionya. Kita dapat mempelajari masalah pesawat terbang lewat konstruksi dan operasi model fisik tersebut, sebagaimana ilmuwan dapat mempelajari fenomena alam lewat model yang merepresentasikannya.
Model pesawat terbang jauh lebih mudah dipelajari daripada pesawat terbang yang sebenarnya karena berbagai alasan. Model lebih menyenangkan fitangani dan dimanipulasi. Model juga lebih sederhana daripada pesawat terbang yang sebenarnya dan prinsip-prinsip bekerjanya mungkin juga lebih jelas. Namun tentu saja ada bahaya oversimplifikasi. Sebagian ciri pesawat terbang yang sebenarnya mungkin terabaikan bila kita terlalu memperhatikan modelnya. Inilah resiko mempelajari fenomena lewat model.
Sebenarnya para ilmuwan menggunakan model pesawat terbang untuk mempelajari kinerja pesawat terbang yang asli. Mereka membangun replika berdasarkan skala dan menguji model ini dalam terowongan angin (wind-tunnel).
Ini merupakan proses yang jauh lebih efisien daripada membangun pesawat terbang berukuran-penuh dan kemudian mengujinya dalam terowongan angin.
Namun itu tidak berarti para insinyur pesawat terbang itu mempercayai model tersebut sepenuhnya, sehingga mereka juga menguji pesawat terbang berukutan penuh selain menguji modelnya. Jadi model sebenarnya tidak dimaksudkan sebagai alat yang memberi informasi lengkap dan berguna mengenai objek atau fenomena yang dimodelkan. Apakah suatu model itu bermanfaat atau tidak akan dikaji lewat pengalaman, dengan membandingkan kinerja objek yang sebenarnya dengan kinerja replikanya.
Menurut Bross, model menyajikan suatu proses abstraksi. Pesawat terbang yang sebenarnya mempunyai banyak atribut seperti bentuk, berat, wara, cara kerja dan sebagainya. Hanya sebagian saja dari sekian banyak atribut yang ditiru dalam model tersebut. Model terowongan angin misalnya, hanya meniru bentuk. Akan tetapi, kinerja aerodinamika bergantung terutama pada satu ciri ini; ciri-ciri
54 lainnya kurang atau tidak relevan. Inilah contoh proses abstraksi yang efektif. Hal itu memungkinkan kita memfokuskan perhatian pada suatu fenomena yang jauh lebih sederhana tanpa kehilangan fakta bahwa rincian telah di abaikan. Bentuk abstraksi ini, konstruksi suatu model fisik, digunakan dalam berbagai cabang ilmu, teknik dan industri. Model digunakan untuk merancang gatis pantai, jembatan, sistem persediaan air dan semua jenis produk dari boneka hingga pesawat terbang.
Dalam dunia ilmu, model fisik kadang-kadang digunakan untuk tujuan pengaharan. Dalam ilmu kedokteran misalnya, digunakan model manusia yang dilengkapi dengan organ-organ tubuh bagian dalam seperti otak, jantung, paru-paru, empedu, otot dan sebagainya. Model bumi (globe) ada kalanya juga digunakan dalam pelajaran geografi untuk menunjukkan permukaan bumi, baik daratan maupun lautan atau letak suatu tempat di permukaan bumi. Model tata surya yang dapat kita lihat di planetarium adalah model yang berguna juga bagi para peminat astronomi. Dilukiskan, misalnya matahari adalah pusat tata-surya dan planet beredar dalam orbitnya masing-masing mengelilingi matahari. Dulu, menurut aastronom pengikut Ptolemeus, bumilah yang dianggap sebagaipusat tata surya. Model tata surya jelas menunjukkan perubahan model yang dilandasi oleh penelitian mengenai penomena yang sebenarnya.
Anda perhatikan, tata surya sebenarnya dapat dijelaskan baik dengan model fisik ataupun dengan model verbal. Bola-bola kecil yang disebut planet dapat digantikan dengan symbol yang mepresentasikan Merkurius, Venus, Bumi, Mars dan sebagainya. Meskipun tanpa sadar atau setengah sadar, kita sebenarnya sering menggunakan model verbal dalam pemikiran kita. Bross, menyatakan model verbal punya peran penting dalam mengembangkan ilmu pengtahuan, terutama dalam tahap penjalajahan awal suatu topic atau presentasi hasil. Model verbal menghadapi banyak kesulitan, karena keterbatasan bahasa dank arena itu model verbal sering diganti atau dilengkapi dengan model tematik yang menjelaskan fenomena secara lebih sederhana. Penggunaan model tematik untuk menghitung kapan akan terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan dan wilayah mana saja di
55 bumi yang akan ―tertutupi‖ gerhana selanjutnya. Bila ramalan itu terjadi, model tersebut dapat digunakan untuk meramalkan peristiwa serupa yang akan datang.
Bila model tersebut gagal meramalkan peristiwa itu, sang ilmuwan harus mencari model lain. Ini terjadi misalnya pada model yang dirancang para astronom pengikut Ptolemeus yang disinggung di muka. Selain mengganggap bumi sebagai pusat tata-surya, mereka mengira planet bergerak dalam suatu lingkaran. Ketika ramalan itu tidak terbukti mereka harus memperbaiki model-model yang mereka rancang. Ada perbaikan pada model yang dihasilkan, namun tetap saja kurang memuaskan, karena asumsi mereka keliru: menganggap bumi sebagai pusat tata-surya. Dibutuhkan waktu sedemikian lama sehingga akhirnya suatu model yang lebih sederhana dengan matahari sebagai pusat tata-surya diterima secara luas.
Sejauh ini kita telah membahas terutama model-model yang merepresentasikan ilmu alam. Bagaimana dengan model-model sosial, seperti ilmu komunikasi? Pada dasarnya model komunikasi juga punya sifat dan fungsi yang mirip dengan model lainnya yang sudah dibahas. Hanya saja, oleh karena dalam ilmu sosial, termasuk komunikasi, sering terdapat berbagai perspektif, maka lazimnya terdapat berbagai model untuk menjelaskan fenomena yang diamati. Oleh karena sifat fenomena sosial yang sangat cair, dinamis dan berubah ubah yang membedakan perilaku manusia dengan perilaku objek alam yang dianggap statis, pembuatan model fenomena sosial menjadi lebih sulit. Bukanlah hal yang aneh bila terdapat dua model komunikasi yang tampak bertentangan, seperti model stimulus respons (S-R) dan motel interaksional.
Berdasarkan paradigma berbeda, ilmuwan sosial yang objektif, yang menganggap bahwa ada keteraturan dalam perilaku manusia, seperti prilaku alam, tidak jarang menggunakan model matematik, misalnya dalam bentik hipotesis yang harus diuji lewat perhitungan statistik. Sedangkan ilmuwan sosial berbandangan subjektif, yang menganggap bahwa manusia aktif biasanya lebih banyak menggunakan model verbal. Akan tetapi, untuk menjelaskan fenomena komunikasi secara umum atau mendasar, kedua kubu tersebut sama-sama sering menggunakan model diagramatik, sebagai salah satu versi dari model simbolik.
56 Hanya saja penggunaan model diagramatik juga memang lebih lazim dikalangan ilmuwan positif daripada di kalangan ilmuwan fenomenologis, seperti model-model komunikasi bersifat linerar (mekanistik), yang dibahas dalam buku ini.
Tidak dapat disangkat, model komuniikasi linear ini hingga sekarang masih populer di kalangan ilmuwan komunikasi.