Dalam penjelasan D.S Marga Singgih titik temu ajaran Tridharma adalah pada akhirnya menjai manusia yang sempurna. Menurut Kwee Tek Hoay yang mencoba mencari aspek-aspek yang sama dari ketiga agama ini untuk membuktikan bahwa tujuan ketiga agama itu adalah serupa Misalnya ia mengatakan bahwa ketiga agama itu akhirnya membawa orang pada keadaan kebahagiaan sempurna. Taoime menunjukkan jalan kepada manusia untuk manunggal dengan sumber utama bernama Too (Tao atau Dao). Buddisme memberitakan bagaimana seseorang dapat manunggal dengan Wet (hukum) Kebenaran atau Dharma dan dengan demikian mencapai Nirwana. Konfusianisme menunjukkan bagaimana seseorang dapat hidup menurut watak asli dan dengan demikian mencapai Seng Djin (Manusia Sempurna). Kwee Tek Hoay akhirnya mengatakan bahwa walaupun metode yang berbeda akan tetapi tujuannya adalah sama.40
Selain itu berikut cara atau langkah mencapai kebahagiaan sejati, yaitu:
a. Dalam Agama Buddha
Untuk mencapai tingkat tertinggi dalam hal ini kita sebut Nirwana. Ada beberapa langkah yang harus diterapkan yaitu dengan menjalankan Delapan
39 HT. Djuntak (Alih Bahasa), Kitab-kitab Suci Tri Dharma, Semarang: Litbang Matrisia Jateng, 2010.
Hal. 1
40 Marga Singgih “ Tridharma The Way of Life “hal. 35
25
Jalan Utama (Jalan Mulia Berunsur Delapan)41 yang akan membawa kita ke Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha, yaitu :
Wisdom (Paññā)
1. Pengertian Benar (sammä-ditthi) Right view 2. Pikiran Benar (sammä-sankappa) Right intention Sila sebagai pelajaran untuk manusia menjadi manusia agung dan ada 3 utas tali yang diperlukan42 untuk itu yakni:
1. Mengembangkan atau menggemilangkan kebajikan yang bercahaya.
Kebajikan yang bercahaya tidak mengenal perbedaan yang hanya berdasarkan bentuk bentuk dalam dunia ini. Kebajikan yang bercahaya adalah satu dengan langit, bumi dan manusia. Manusia agung merupakan kebajikan yang bercahaya dalam dirinya selalu bersinar dan manunggal dengan Thian-Te -Jin (Langit-Bumi-Manusia).
2. Mencintai sesama mengembangkan kebajikan yang bercahaya adalah perwujudan dari penunggalan dengan langit, bumi dan manusia. Mencintai sesama adalah fungsi yang diperlukan dalam mengamalkan penunggalan
41 Narada Mahatera. Buddha dan Ajarannya (terjemahan)(Kuala Lumpur Misionary society ed. Ke-3 1977)hal. 342
42M.P Sasanaputera Satyadharma, Edt. Jo Priastana, “Permata Tridharma” cet: Pertama, hal.112-113
26
tersebut di mulai mencintai orang tua sendiri maka ia pun akan mencintai orang tua orang lain, ia akan mencintai semua makhluk. Hal ini berarti ia telah merealisasikan manunggal pada semua.
3. Berdiam dalam puncak kebaikan, yaitu membabarkan dari berkembangnya kebajikan yang bercahaya dan perwujudan dari mencintai sesamanya. Orang yang telah berada dalam puncak kebaikan, baginya yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Ia yang mengikuti perubahan dan keadaan kewajaran seimbang (natural mean).
Ketiga utas tali tersebut pada singkatnya adalah Cay beng beng tek, Cay cin bin, dan Cay ci it ci sian. Serta tingkatan pencapaian manusia dalam konfusianisme ada dua. Pertama Kuncu yaitu manusia berakhlaq tinggi manusia bijaksana manusia susila dan manusia berbudi luhur. Kedua Seng Jin adalah Nabi.43
c. Dalam Agama Tao
Tek adalah sumber dari mana timbulnya atau adanya benda-benda. Apabila watak dasar benda-benda di kembangkan mereka berarti kembali kepada Tek.
apabila Tek menjadi sempurna dapatlah Tek disamakan dengan asal dari semua benda-benda.44
Bagaimana mengembangkan kebajikan (Tek) dalam mencapai kesadaran Tao?
dalam hal ini dijelaskan bahwa ada 3 cara untuk mengembangkan kebajikan (Tek) 1. Gejala hidup yang kehilangan watak sejati nya. Dalam Tao Te Ching pasal
12: “lima warna membuat mata buta, lima nada suara membuat telinga menjadi tuli, lima macam rasa membuat mulut buta rasa.” Pasal 18
43 M.P Sasanaputera Satyadharma, Edt. Jo Priastana, “Permata Tridharma” cet: Pertama, hal. 113
44 M.P Sasanaputera Satyadharma, Edt. Jo Priastana, “Permata Tridharma” cet: Pertama, hal. 186
27
“apabila kebenaran agung terbengkalai begitu kebijaksanaan luhur dikumandangkan tumbuhlah kepalsuan-kepalsuan; setelah keluarga-keluarga timbul keadaan tidak selaras tentu akan disusun dengan adanya anak bakti dan orang tua yang penuh kasih; Negara-negara morat marit akan dikenalah menteri-menteri yang jujur; apabila tidak ada kemerosotan watak kebajikan sejati tentu akan tidak diperlukan adanya atau munculnya itu dan ini.
2. Yang kedua adalah sikap dan langkah pasif atau statis. Dalam Tao Te Ching pasal 29 ada dua hal, pertama jauhkan sifat yang melampaui batas atau ekstrim dan yang kedua hindari watak atau sifat agung-agungan.
Dalam pasal 46 “tidak merasa puas selalu adalah lebih berbahaya daripada malapetaka. Keinginan-keinginan untuk memiliki bahayanya lebih besar daripada pelanggaran-pelanggaran terhadap prinsip-prinsip hidup. Dalam pasal 19 “kembangkan kesederhanaan dan berkokok sifat-sifat yang wajar ciutkan keakuan dan kurangnya keinginan-keinginan. Dalam Chuang Tze halaman 139 “hanya orang yang berbakti luhur bisa terjadi dalam dunia modern tanpa dirinya menjadi pusat perhatian khalayak ramai. Beliau menerima jalan dan cara hidup manusia lainnya tanpa kehilangan dirinya.
3. Yang ketiga langkah-langkah atau usaha yang aktif. Dalam Tao Te Ching pasal 49 “terhadap orang baik bersifat baik, terhadap orang yang tidak baik akupun bersikap baik; demikianlah kebajikan dari kebaikan. Terhadap orang yang jujur bersikap jujur, terhadap orang yang tidak jujur akupun bersikap jujur; demikianlah adanya kebajikan dari kejujuran
Puncak kemanusiaan dalam agama Tao dalam Kitab Kemudian Dan Ketenangan Batin (Ceng-Ceng Keng) “Demikian murni tentang batinnya, perlahan-
28
lahan memasuki Tao sejati. Setelah masuk kedalam Tao sejati dapatlah dikatakan ia memperoleh Tao. Sebenarnya tiada sesuatu yang diperolehnya, hanya dengan maksud agar bermanfaat bagi semua manusia, maka digunakanlah kata-kata “memperoleh Tao (Tek Too). Bagi orang yang menyadari hal ini, ia boleh menyiarkan Tao para nabi.45
Pertemuan dari ketiga ajaran telah menghasilkan suatu pandangan hidup yang memupuk pikiran Tridharma yang toleran, penuh bakti,sederhana dan bebas dalam sikap hidupnya serta praktis cara berpikir.
Dalam kehidupan sehari-hari penulis melihat pemakaian atribut atau symbol agama seperti kelahiran mengadakan upacara kepada trinabi lebih pada nabi yang tertua yaitu Lo Cu, dalam upacara perkawinan lebih cenderung kepada Kong Hu Cu dan biasanya kematian telihat jelas dalam upacara cenderung kepada Buddha.46
Ritus kelahiran tradisional Cina bervariasi dalam bentuk dan ekspresi berdasarkan perbedaan. Namun demikian, sebagian besar orang akan merayakannya termasuk lima ritus utama untuk perayaan anak yaitu, saat lahir, ketika berusia tiga hari, seratus hari,satu bulan dan satu tahun. Rinciannya sebagian besar identik kecuali untuk beberapa perbedaan kecil sesuai dalam tradisi Tao.
Khong Hu Chu tidak mempersoalkan keagamaan dalam perkawinan, baik untuk Pria maupun wanitanya, meskipun beda kepercayaan atau keyakinannya diserahkan pada penganutnya masing-masing tapi lebih ke dalam tradisi Kong Hu Chu. Dalam tradisi Tionghoa memang tidak bisa dipisahkan dengan aliran agama Buddha Tridharma. Banyak keturunan Tionghoa sudah tidak mengerti apa makna yang tersirat dari upacara kematian dalam tradisi Tionghoa. Upacara kematian dalam Agama Buddha tentu saja tidak persis sama seperti upacara kematian dalam tradisi Tionghoa tetapi mereka lebih mengambil tradisi tersebut.
45M.P Sasanaputera Satyadharma, Edt. Jo Priastana, “Permata Tridharma” cet: Pertama, hal. 189
46 Lihat kematian Kwee Tek Hoay dihubungkan dengan hari Asada 6 juli 1952 dalam tradisi agama Buddha, D.S Marga Singih, Tridharma Selayang Pandang, hal. 41
29 BAB III