• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tjara mengurus kerugian

Dalam dokumen PENERBIT D J AM B ATAN (Halaman 142-146)

Sebagai telah diuraikan maka jang tertanggung atau jang menuntut gantd-nigi diwadjibkan membuktikan tuntutannja tadi.

Ini dapat dilaksanakan oleh si penuntut sendiri ataupun oleh orang lain jang chusus mendjalankan pekerdjaan penuntutan itu, jaitu ahli-ahli penaksir.

Djalan jang pertama, jaitu oleh si penuntut sendiri dapat dipergunakan ' dalam hal penuntutan ganti-rugi jang sederhana, akan tetapi bila penuntutan ini sulit dan 'berbelit-belit, maka dengan sendirinja lebih berfaedah djika pekerdjaan ini dilaksanakan oleh para ahli itu. Disamping penggantian kerugian, m aka para penanggung harus djuga membiajai pekerdjaan ahli- ahli penaksir tadi.

Selain dari pada itu maika ada ikatanja 'kantor-kantor dalal, jang disamping pekerdjaan mereka memberi perantaraan dalam lapangan asuransi, djuga memberi perantaraan dalam mengurus 'hal-hal. penuntutan ganti-rugi.

Dalam hal demikian mereka mendapat pembajaran, biasanja sebesar 1 % dari djumlah kerugian, .pembajaran mana dilakukan oleh pihak tertanggung, djadi tidak oleh penanggung.

Ini berarti 'bahwa dalam membajar penggantian kerugian itu, jang djuga biasanja dilakukan oleh kantor-dalal .jang berkepentingan, djumlah kerugian terlebih dahulu dikurangkan dengan 1% selaku biaja kepada kantor-dialal tersebut.

Aturan-aturan menurut Undang-undang Hukum

Sebagai telah diuraikan ldbih dahulu, maka K.U.H.P. sedikit sekali mengan­ dung aturan terhadap proseduie jang 'harus dilakukan dalam hal mengurus sesuatu tuntutan ganti-rugi pada asuransi pengangkutan.

Dalam polis pengangkutanpun tidak tersebut apa-apa tentang 'hal ini, ber­ lainan sekali dengan polis kebakaran atau poKs auto.

Dalam polis-polis kebakaran dan auto adalah termuat aturan-aturan chusus mengenai petundjuk untuk mengurus penuntutan ganti-rugi.

Dalam polis pengangkutan 'hanja termuat aturan bahwa bila terdjadi se­ suatu kerugian, supaja jang tertanggung melapurkan? hal ini seleikas mungkin kepada kantor atau perseorangan jaing namanja serta alamatnja disebut dalam aturan tadi. Kantor atau perseorangan itu akan mengurus kerugian jang dilapurkan padanja. .

Hanja idalam fasal 712 K.U.H.P. disebut apa-apa tentang penaksiran kerugian terhadap barang-barang jang harus dilakukan oleh ahli-ahli.

Seterusaja dalam fasal 746 disebut, bahwa segala pertanggungan djawab dari pihak penanggung tenbapus, bila jang tertanggung tidak memenuhi 'ke- wadjibannja sesuai dengan aturan-aturan dari Undang-undang tersebut.

Peujelesaiau ganti-rugi dalam praktek

Dalam praUct6k terkenal tiga rupa tuntutaii ganti-rugi, ialah :

1. Mengenai kerugian terhadap barang-barang jang masuk ke Indonesia, atau barang-barang im por;

2. Mengenai kerugian terhadap barang-barang jang diangkut dalam Indone­ sia, meliwati laut, darat maupun u d ara;

3. Mengenai penuntutan ganti-rugi diluar wilajah Indonesia, j akui barang barang impor maupun ekspor.

r n

i

1. Penuntutan ganti-rugi mengenai barang-barang jang masuk ke Indonesia. B al ini dipengaruhi oleh fas-al 712 K U.H.P. Biasaoja pengiriman barang ke Indonesia, barang-impor, diasuransikan dalam mata, uang asing, kadang- kadang dalam mata uang kita, dan ada kalanja dalam kedua-<dua mata uang ilu.

Masing-masing memerhifcan prosedure sendiri-sendiri dalam penjelesaian claim jang bersangkutan.

Dengan semdirinja hai penjelesaian claim dari polis jang dibuat dalam mata uang kita,-jaitu dalam mata uang Rupiah adalah jang paling mudah sekali.

Dalam hal ini jang bersangkutan menerima penggantian kerugian itu dalam mata uang kita djuga.

Dalam pengiriman barang-barang impor jang diasuransikan dalam mata uang asing itu, maka penggantian kerugian djuga diperkirakan dalam mata uang asing tersebut, akan tetapi jang menuntut ganti-rugi menerima peng­ gantian itu dalam rrraita uang kita, jaitu Rupiah.

Biasaaja hal ina diJaicsanalcan dengan perantaraan Baok jang mengurus impor jang bersangkutan.

Pada pengiriman barang-barang impor jang diasuransikan dalam mata uang asing, sedang harga „indusemen” jang bersangkutan dipertanggungkan dalam mata uang Rupiah, maka penggantian kerugian akan dilakukan setjara kombinasi dari kedoa-dua maita uang tadi. Dengan kata lain kerugian ter­ hadap barang-barang diperkirakan d akun mata uang asing, serta dibayar melalui Bank dalam mata uang Rupiah, sedang kerugian „indusemen” diper­ kirakan dan dibajar langsung kepada jang berkepentingan dalam maita uang Rupiah.

2. Penuntutan ganti-rugi terhadap pengiriman dalam wilajah Indonesia Oleh karena pengiriman berupa ini dengan sendirinja bamja dapat diasuran­ sikan dalam mata uang Rupiah, malka penuntutan ganti-rugi akan diselesai­ kan seperti diuraikan dialas taifi, jafcnj mengenai penuntutan ganti-rugi barang impor jang dipertanggungkan dalam mata uang Rupiah.

3. Penuntutan ganti-rugi diluar negeri

Penggantian kerugian jin g dilaiksanaikan diluar negeri harus dengan sendirraja v diartekan dalam maita uang luar negeri.

Hamja dalam hal-hal seperti tersebut di bawah ini, dapatlah penuntutan ini dilakukan diluar negeri, jaikoi:

a. Dalam hal pengiriman barang ekspor atau bagasi keluar Indonesia, b. Dalam hal pengiriman barang impor, bila kerugian terdjadi sebelumnja

barang-barang itu tiba di Indonesia,

c. Dalam hal terdjadinja General Average diluar negeri.

Untiik hal-hal ini jang tertanggung memfbotuhfkan peogantaraan ahli-ahli penjelesai kerugian.

Dalam kebanjakan hal peflgantaraan ini dilakukan d e h ahli-ahli jang dinamakan „claim an d/or settimg agente”, jang diangkat atau ditundjuk oleh pihak penanggung, ¿justru untuk menguras penggantian kerugian jang bersangkutan.

Kadang-kadang ahli-ahli ini diangkat diUmdjuk oleh Lloyds di London. Dalam hal demikian maka dalam polis harus disebutkan nama dan alamat ahli tersebut, supaja bila perlu jang berkepentingan dapat mengadakan per­ hubungan dengan mereka.

Ada pula maskapai-maskapai asuransi jang menjebufckan dalam polis- polis mereka daftar-daftar nama-nama dan alamat-alamat dari aihli-ahM di- sekelittng dunia.

' Adakalanja terdjadi, bahwa salaih suaiu kerugian a/taiu kerusakan harus diselesaikan pada suatu tempat atau pelabuhan jang tidak disebut dalam daftar alamait.

Dalam bal ini maka biasanja Lloyds-agen* setempat dapat menrbeii per- tolongannja dan bila pada tempat atau pelabuhan itu djuga tidak ada Lloyds- agent, maka biasaaija para penanggung dapat mmjetudjui bila keterangan jang bersangkurtan mengenai kerukan itu diberikan oleh jang berwadjib setempat, misalnja kepala pabean dan sebagainja.

Sudaih njata bahwa dalam keterangan ibu bainns disebut semua hal-ihwal , jang perlu bagi pihak penanggung dan jang dapait digunakan oleh mereka untuk mendaipat gambaran d'jelas tentang penuntutan penggantian kerugian itu.

Lazknnja para penanggung mengadakan perbedaan antara „claim-agent” dan „settling-agent”.

„Claim-'agent” hanja melakukan pemeriksaan dan memberi lapuran jang bersangkutan, pelapuran mana dinamakan „espertise-rapport”.

Bagian kedua, ialah „settlrng-agent” atau djuga dinamakan „clafcn-settling- agent” tidak hanja memberi lapuran tentang kedj adian dan' besa*rnija 'kerukan atau kerusakan, akan tetapi djuga berkuasa untuk membajar penggantian kerugian jang bersangkutan ataupun berhak menolak sesuatu penuntutan ganrtMugi itu dan dengan demikian ia bertindak atas nama dan untuk maskapai asuransi jang diwakilinja. _

Kekuasaan ini diitjantuorikan dalam suatu surat kuas» jang dinamakan ,.power of attomey” dan jang diberikan oleh maskapai asuransi jang ber­ sangkutan kepada claim settling agent itu..

Tak perlu diterangkan disini baihwa dalam hal pembajaran sesuatu keru­ gian diluar negeri oleh salah suatu settling-agent dari maskapai asuransi jang ♦ berkedudukan di Indonesia, maka Undang-undang jang bersangkutan dam

Dalam dokumen PENERBIT D J AM B ATAN (Halaman 142-146)