• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

II. TINJAUAN PUSTAKA

1. Assumption Cell atau sel – sel asumsi 2 Forecast Cell atau sel – sel peramalan

2.6.3 Tornado Chart

Tornado chart adalah salah satu alat bantu yang disediakan oleh Crystal Ball yang dapat berguna untuk mengukur dampak dari model variabel pada suatu waktu yang bersamaan pada target forecast. Hasilnya ditampilkan dengan Tornado Chart dan Spider Chart. Metode ini berbeda dengan metode berbasis korelasi yang terdapat di Crystal Ball, alat ini menguji setiap asumsi, variabel keputusan, preseden atau sel secara independen. Ketika menganalisi satu variabel, alat ini mem “beku” kan variabel lainnya sebesar nilai basis mereka. Ini mengukur pengaruh dari setiap variabel di forecast cell ketika memindahkan efek dari variabel lain. Metode ini juga dikenal dengan “one-at-a-time-pertubation” atau “parametric analysis” .

Tornado Chart berguna untuk :

a. Mengukur nilai sensitivitas dari suatu variable yang ditetapkan pada saat penggunaan Crystal Ball

b. Dengan cepet menyaring variabel pada model yang telah dibangun untuk menentukan kandidat terbaik yang kemudian ditetapkan sebagai asumsi atau decision variables.

Gambar 1. Grafik tornado (User Manual for Crystal Ball. 2008)

Tornado chart menguji jarak dari setiap variabel pada persentil yang dispesifikasi dan kemudian menghitung nilai forecast (ramalan) dari setiap poin. Tornado chart mengilustrasikan perubahan antara nilai maksimum dan minimum dari nilai forecast (ramalan) setiap variabel. Variabel yang menyebabkan perubahan nilai terbesar akan muncul pada bagian paling atas dan variabel yang menyebabkan perubahan paling kecil akan muncul dibagian paling bawah. Variabel

yang terdapat dibagian atas memiliki efek terbesar terdahadap forecast (peramalan) dan variable dibagian bawah memiliki efek yang paling kecil atau sedikit di forecast (peramalan).

Batang – batang yang terdapat disebelah variabel mewakili selang perubahan nilai forecast terhadap variabel yang diujikan. Yang berada disebelah batang tersebut adalah nilai dari variabel – variabel yang menghasilkan perubahan terbesar pada nilai forecast. Warna dari batang mengindikasikan arah dari hubungan antara variabel – variabel dengan forecast (ramalan). Untuk variabel yang memiliki efek positif atau peningkatan nilai terhadap forecast (peramalan) ditunjukkan dengan warna biru akan menuju arah kanan dan yang menghasilkan penurunan nilai akan kearah kiri dan diindikasikan dengan warna merah. Pada saat hubungan antara variabel dengan forecast (peramalan) tidak terjadi peningkatan atau penurunan yang signifikan hal ini disebut dengan non- monotomic. Dengan kata lain apabila nilai minimum atau maksimum dari rentang forecast tidak terjadi di titik akhir ekstrim pada rentangan uji terhadap variabel, maka variabel memiliki hubungan “non- monotonic’ dengan forecast (peramalan).

III.

METODOLOGI

3.1Lokasi dan Waktu

Penelitian dilakukan pada bulan Maret – Juni 2012 di PT. Krakatau Tirta Industri, Cilegon, Banten.

3.2Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Microsoft Excel dan Crystal Ball

3.2.2 Bahan

Bahan yang digunakan pada penelitian adalah berupa data sekunder terdiri dari : a. Data Harian Hasil Jar Test yang dilakukan oleh Laboratorium Kualitas Air PT.

Krakatau Tirta Industri dari tahun 2001 hingga 2012 b. Data laporan penggunaan aluminium sulfat cair di lapangan c. Data produksi aluminium sulfat cair

d. Data untuk perhitungan biaya produksi dan harga pokok produksi aluminium sulfat cair

3.3Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efisiensi dari penggunaan aluminium sulfat cair sebagai koagulan pada proses koagulasi di PT. Krakatau Tirta Industri. Beberapa tahapan yang dilakukan pada penelitian ini:

3.3.1 Menentukan Dosis Optimum Aluminium Sulfat Bubuk dan Cair

Dengan menggunakan grafik di Microsoft Excel dilakukan perbandingan antara turbiditas dengan pH dan turbiditas dengan warna sesuai dengan nilai yang diperoleh dari pencatatan hasil jar test. Grafik dibuat dengan membandingkan nilai sebelum dan sesudah dilakukan jar test atau pembubuhan koagulan. Data hasil jar test yang digunakan dari tahun 2008 – 2010 untuk alumunium sulfat bubuk sedangkan untuk alumunium sulfat cair adalah data sembilan bulan masa operasi pabrik aluminium sulfat cair (Juli 2011 – April 2012). Dari grafik yang diperoleh dilakukan perhitungan efisiensi dan alkalinitas dosis optimumnya. Langkah yang sama dilakukan untuk menentukan dosis optimum aluminium sulfat cair.

Nilai efisiensi diperoleh dengan menggunakan persamaan : η =

x 100% (6)

dan nilai alkalinitas diperoleh dengan menggunakan persamaan (7) :

1. Diketahui bahwa 6 buah mol HCO3- digunakan untuk masing – masing mol

aluminium yang ditambahkan

2. Nilai mol / L aluminium yang digunakan :

3. mol/ L HCO3- yang digunakan

6 (Nilai mol / L aluminium) 4. Konversi ke Mg/ L

= (mol/ L HCO3- ) (BM HCO3-)

= (mol/ L HCO3- ) (61 gr/ mol)

3.3.2 Melakukan Probabilitas Dosis Aluminium Sulfat Bubuk dengan Kualitas Air

Nilai akhir dari probabilitas yang diperoleh akan disajikan dalam bentuk grafik yang akan menampilkan gambaran dari nilai probabilitas dosis, parameter air yang terdiri dari warna, kekeruhan dan kandungan zat organik. Dari data jar test yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan Crystal Ball sehingga diperoleh nilai probabilitasnya. Nilai probabilitas yang dicari pada penelitian kali ini adalah probabilitas 90%.

1. Langkah awal yang dilakukan adalah dengan meyusun data dosis aluminium sulfat bubuk yang diberikan, warna, kekeruhan atau turbiditas dan kandungan zat organik dari rentang tahun 2001 hingga 2011. Data untuk masing – masing variabel (dosis, warna, kekeruhan dan kandungan zat organik) disusun per bulan dari tahun 2001 hingga 2011. Pengolahan dilakukan satu persatu seperti diwalai dengan dosis untuk bulan januari 2001 – 2011 dilanjutkan dengan dosis untuk bulan februari tahun 2001 hingga 2011 begitu seterusnya dilanjutkan juga untuk parameter lainnya dengan cara yang sama. Lalu dengan menggunakan Crystal Ball dilakukan “Define Assumption” dengan menggunakan distribusi normal

Gambar 4. Kurva Distribusi Normal Crystal Ball

2. “Distribution of Fit” yang dipilih adalah “Normal” dan “Chi Square” untuk Goddes of Fit nya dan dan masukkan “Range” dengan data yang telah disusun, misal dosis bulan Januari dari tahun 2001 hingga 2011 yang diatur secara horizontal.

Gambar 6. Pemilihan Probability

3. Dari nilai percentiles tersebut tersaji nilai percentiles dari 0% hingga 100% dari data tersebut

Gambar 7. Nilai Percentiles yang diperoleh

4. Dari nilai – nilai percentile yang diperoleh tersebut kemudian dapat diperoleh grafik probabilitas untuk masing – masing variabel yang diuji.

3.3.3 Sensitivitas Alumunium Sulfat dengan Kekeruhan dan Warna

Dengan menggunakan grafik Microsoft Excel data berupa dosis aluminium sulfat baik aluminium sulfat bubuk dan cair dibandingkan dengan parameter kualitas air yakni warna dan kekeruhan sehingga dapat terlihat sensitivitas dari peningkatan atau penurunan dosis terhadap warna dan kualitas air.

3.3.4 Perhitungan Biaya Produksi dan Harga Pokok Produksi Alumunium Sulfat Cair Perhitungan biaya produksi dilakukan dengan menjumlahkan seluruh variabel yang terdiri dari :

a. Bahan baku ( Alumina Basah/ Alumina Kering, Asam Sulfat) b. Biaya listrik

c. Biaya penyusutan d. Biaya tenaga kerja e. Biaya perawatan

Untuk penjumlahan harga satuan dikalikan dengan jumlah total masing – masing variabel. Untuk perhitungan penyusutan digunakan Metode garis lurus :

d=

(6)

Dimana :

d = depresiasi / penyusutan P = harga perolehan

F = nilai residu / nilai sisa n = umur ekonomis

3.3.5 Perhitungan Biaya Produksi dan Harga Pokok Produksi Alumunium Sulfat Cair Berdasarkan Nilai di Lapangan

Variabel yang digunakan sama dengan variabel yang digunakan pada perhitungan biaya produksi dan harga pokok produksi alumunium sulfat cair, namun ada sedikit tambahan dengan mengalikan jumlah hari produksi setiap bulannya yang dilakukan oleh pihak pabrik.

a. Bahan baku ( Alumina Basah/ Alumina Kering, Asam Sulfat) b. Biaya listrik

c. Biaya penyusutan d. Biaya tenaga kerja e. Biaya perawatan

Untuk penjumlahan harga satuan dikalikan dengan jumlah total masing – masing variabel. Untuk perhitungan penyusutan digunakan Metode Garis Lurus :

d=

(7)

Dimana :

d = depresiasi / penyusutan P = harga perolehan

F = nilai residu / nilai sisa n = umur ekonomis

3.3.6 Perhitungan Biaya Alumunium Sulfat Powder dan Cair per air

Perhitungan biaya alumunium sulfat powder dan cair per air memerlukan data : a. Harga Pokok Produksi untuk semua aluminium sulfat yang diperoleh dari

perhitungan 3.3.4

b. Rasio pemakaian yang diperoleh dari perbandingan nilai dosis yang diberikan antara di lapangan dan di laboratorium ( jar test)

c. Nilai PPM d. Nilai produksi air

e. Nilai pemakaian alumunium yang diperoleh dari perkalian nilai PPM dengan produksi air

f. Nilai perbandingan pemakaian alumunium sulfat cair dengan aluminium sulfat powder

g. Biaya produksi baik dengan alumina basah, alumina kering dan alumunium powder yang diperoleh dari perkalian harga pokok produksi dengan jumlah pemakaian alumunium

h. Biaya air diperoleh dengan membagikan nilai dari biaya produksi dengan jumlah produksi air

Perhitungan ini disajikan dalam bentuk tabel dan menggunakan bantuan Microsoft Excel.

3.3.7 Perhitungan Sensitivitas

Perhitungan ini dilakukan dengan menggunakan bantuan Crystal Ball. Data yang diperlukan adalah data untuk mengitung biaya produksi yakni :

a. Harga satuan bahan baku dan jumlah bahan baku yang diperlukan b. Biaya penyusutan

c. Biaya tenaga kerja d. Biaya listrik e. Biaya perawatan

Perhitungan dilakukan dengan menggunakan Crystal Ball yang disajikan dalam Tornado Chart. Data variabel biaya produksi merupakan median (nilai tengah) selanjutnya dilakukan asumsi untuk menentukan nilai minimum dan maksimum untuk masing – masing variabel tersebut. Untuk nilai tengah asumsi yang digunakan pada saat Define Asumption adalah triangular. Untuk nilai maksimum dan minimum yang digunakan adalah nilai yang diasumsikan sebelumnya. Nilai yang dijadikan Forecast adalah nilai dari harga pokok produksi yang diperoleh.

Prosedur penelitian dalam bentuk diagram alir dsajikan pada Gambar 9 berikut ini : Tahap I Tahap II Tahap III Analisa kebutuhan dan harga koagulan optimal Variabel proses koagulasi Menentukan pola

Gambar 8. Metode penelitian untuk menentukan nilai dosis koagulan optimal Melakukan analisa terhadap

kebutuhan dan dosis koagulan cair serta parameter kualitas air

yang ingin dicapai Pengumpulan Data

Menghitung kriteria berhasil pemilihan kombinasi koagulan secara kualitas dan harga Menentukan kriteria berhasil pemilihan kombinasi dosis koagulan Menentukan variable proses koagulasi

Membangun fungsi tujuan optimum dosis koagulan

Mengukur prioritas variabel proses koagulasi

Pilihan alternatif dosis koagulan yang akan digunakan

Membangun prioritas variabel operasi untuk menentukan pola

operasi

Menghitung total besaran kesuksesan dari setiap alternatif

operasi

Menentukan Nilai Optimal

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Perusahaan

4.1.1 Profil Perusahaan

PT Krakatau Tirta Industri yang didirikan pada tanggal 28 Februari 1996, merupakan anak perusahaan yang sahamnya 99,99% dimiliki oleh PT Krakatau Steel (Persero) dan 0,01% dimiliki oleh PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (PT KIEC). Perusahaan ini sebelumnya merupakan unit penunjang kegiatan operasional PT Krakatau Steel (Persero) dalam bidang penyediaan air bersih yang mulai beroperasi sejak 1978. Sebagian besar air bersih yang dihasilkan digunakan untuk kebutuhan industri dan sebagian lain untuk kebutuhan masyarakat kota Cilegon.

Air baku yang diolah diambil dari sungai Cidanau yang bersumber dari danau alam Rawa Dano. Air kemudian dialirkan menggunakan pipa diameter 1,4 m sepanjang ± 28km untuk diolah menjadi air bersih di unit pengolahan air, yang terdiri dari beberapa tahapan proses yaitu koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, yang diikuti dengan netralisasi dan desinfeksi. Kapasistas yang terpasang di unit pengolahan air saat ini adalah sebesar 2.000 liter /det, dan digunakan 60% untuk utilisasinya.

4.1.2 Instalasi Pengolahan Air Minum PT. Krakatau Tirta Industri

Proses pengolahan air yang dilakukan oleh PT. KTI terlihat pada Gambar 10 yang menampilkan proses dari sumber air baku hingga air dapat didistribusikan ke konsumen. Proses pengolahan air terdiri dari beberapa tahap yakni koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, netralisasi dan desinfeksi.

Gambar 9. Diagram alir proses pengolahan air PT. Krakatau Tirta Industri (Sumber PT. KTI)

Air baku dari sungai Cidanau di Pump Station I (PS I) sepanjang 27,2 km dipompa ke Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAL) Krenceng, dialirkan ke Distribution Structure (bak

Raw Water Intake

Cidanau Sand Trap

Surge Tank Pump Station I By Pass & Sump Pump Krenceng Reservoir Pump Station II 27.2 km Alum Sulphate Shock Chlorine Distribution Structure Shock Chlorine Sludge Blow of Sump Accelator Clarifier Distribution Chamber Vaccum Tank Sludge Field Green Leaf Filter Wash Water Outlet Sump Reservoir Pump Station III Pump Station IV Consumer Water Tower Lime Hydrate Chlorine Bak Penampung Backwash

pembagi) yang berfungsi untuk mengalirkan air yang datang dari Cidanau maupun Waduk (Pump Station II) ke instalasi pengolahan air dan jika debitnya melebihi kebutuhan pengolahan maka sebagian akan dialirkan ke waduk. Dari bak pembagi air baku masuk ke Distribution Chamber, pada bak ini ditambahkan larutan koagulan alumunium sulfat. Setelah diberi koagulan air masuk ke Accelator (3 unit) dan terjadi proses koagulasi,flokulasi serta sedimentasi dan menghasilkan lumpur slurry yang ditampung di sludge field sebanyak 3 unit dengan kapasitas tampung 12.000 m3/unit, dengan cara diuapkan secara alami maka akan didapatkan lumpur padat. Kemudian lumpur padat secara berkala diambil dan dikumpulkan ditempat penampungan akhir/ limbah padat yang berada di sekitar Waduk Krenceng.

Air dari Accelator mengalir secara gravitasi masuk ke Green Leaf Filter (5 unit filter, tiap unit filter memiliki 4 sel filter sehingga total filter sebanyak 20 sel filter) terjadi proses aerasi, disini air proses mengalami kontak langsung dengan udara luar guna mengurangi bau, warna dan kation yang terlarut (Fe, Al, Mn) dalam air proses. Pada proses filtrasi di Green Leaf Filter digunakan media filter pasir yang berfungsi untuk menyaring sisa partikel yang tidak mengendap pada proses sedimentasi, setelah pasir jenuh oleh partikel, maka filter harus dicuci dengan sistem cuci balik (backwash). Air backwash sebanyak 600 m3/sel mengalir melewati kanal ditampung dalam bak penampungan air backwash yang berfungsi untuk menampung air backwash yang akan diproses kembali masuk dalam Distribution Chamber.

Air setelah mengalami proses filtrasi secara fisik sudah jernih namun perlu ditambahkan larutan kapur untuk proses netralisasi dan penambahan gas klorin untuk membunuh kuman dan bakteri yang berbahaya bagi kesehatan sepert bakteri E. Coli. Air bersih ditampung dalam bak penampungan air bersih (reservoir) dan sebelum air bersih didistribusikan ke konsumen, air dianalisa secara rutin di laboratorium PT. Krakatau Tirta Industri sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No.416/MENKES/PER/IX/1990 mengenai syarat – syarat dan pengawasan kualitas air.

4.2 Dosis Aluminium Sulfat dengan Kualitas Air

4.2.1 Mekanisme Koagulasi di dalam Air

Koloid adalah sekelompok atom atau molekul berukuran sangat kecil yang tidak dapat diendapkan secara gravitasi namun tetap terlarut dalam air. Karena terlarut, koloid bersifat stabil. Stabilitas ini disebabkan oleh terjadinya tolak - menolak diantara partikel koloid (Sincero, 2003). Secara umum koagulasi merupakan proses kimia dimana ion- ion yang muatannya berlawanan dengan muatan koloid dimasukkan ke dalam air, sehingga meniadakan kestabilan koloid. Dalam suatu suspensi koloid mengendap (bersifat stabil) dan terpelihara dalam keadaan terdispensi karena memiliki gaya elektrostatis yang diperoleh dari ionisasi bagian permukaan serta adsorpsi ion – ion dari larutan sekitar. Bila koagulan ditambahkan kedalam air, reaksi yang terjadi antara lain:

a. Pengurangan zeta potensial (potensial elektrostatis) sehingga suatu titik dimana gaya van der walls dan agitasi yang diberikan menyebabkan partikel yang tidak stabil bergabung serta membentuk flok

b. Agresi partikel melalui rangkaian inter partikulat diantara berbagai kelompok reaktif pada koloid

c. Penangkapan partikel kolid negatif oleh flok – flok hidroksida yang mengendap

Pada penggunaan alumunium sulfat sebagai koagulan, air baku harus memilki alkanitas yang memadai agar dapat bereaksi dengan alumunium sulfat menghasilkan flok hidriksida. Reaksi kimia sederhana pada pembentukan flok adalah sebagai berikut:

Al2(SO4)3. 14 H2o + 3 Ca (HCO3)2  2 Al (OH)3 + 3 CaSO4 + 14 H2O + 6 CO2

Pemilihan koagulan sangat penting agar tercapainya proses koagulasi yang baik. Jenis koagulan yang biasanya digunakan adalah koagulan garam logam dan koagulan polimer kationik. Contoh dari koagulan logam diantaranya adalah

a. Aluminium sulfat (Al2(SO4)3. 14 H2O), nilai 14 bervariasi dari 13 – 18

b. Feri klorida (FeCl3)

c. Fero klorida (FeCl2)

d. Feri sulfat ( Fe2 (SO4)3)

Koagulan garam logam yang biasa digunakan adalah tawas atau aluminium sulfat dan koagulan polimer atau sintesis contohnya adalah

a. Poli Aluminium Klorida (PAC) b. Sitosan

c. Currie flock

Koagulan yang digunakan oleh PT. KTI adalah aluminium sulfat bubuk dengan konsentrasi 8% dan aluminium sulfat cair dengan konsentrasi 17% yang merupakan koagulan baru yang digunakan sejak Juli 2011. Pembubuhan dosis koagulan pada proses koagulasi mengacu pada hasil dari jar test yang dilakukan di laboratorium kualitas air PT. KTI setiap harinya dengan batas toleransi peningkatan dosis di bak koagulasi sebesar 5 – 10 ppm.

Prosedur jar test yang dilakukan oleh PT. KTI sama seperti prosedur jar test yang biasa dilakukan. Terdapat enam buah batang pengaduk yang masing – masing mengaduk satu buah gelas dengan kapasitas satu liter. Satu buah gelas berfungsi sebagai kontrol dan kondisi operasi dapat bervariasi diantara lima gelas yang tersisa. Pengadukan dilakukan dengan kecepatan 65 rpm. Pengujian dilakukan setiap harinya, sejak tahun 2007 jar test dalam satu hari dilakukan sebanyak 3 shift yang awalnya hanya dilakuakn 1 shift per hari. Pencatatan hasil jar test berupa beberapa parameter seperti pH, turbiditas, konduktivitas dan warna serta dosis koagulan yang diberikan.

4.2.2 Penentuan Dosis Aluminium Sulfat Bubuk

Penentuan dosis optimum koagulan untuk aluminium sulfat bubuk dapat dilakukan dengan membandingkan nilai parameter air (pH, warna dan turbiditas) sebelum dan sesudah dilakukan jar test. Dengan menggunakan data tahun 2008, 2009 dan 2010 diperoleh beberapa grafik yang menampilkan penurunan nilai parameter air untuk masing – masing dosis yang diberikan. Dilakukan pengelompokan berdasarkan dosis yang diberikan agar dapat terlihat grafik air sebelum dan sesudah dilakukan jar test. Dosis optimum terlihat dari grafik setelah dilakukan jar test yang menghasilkan nilai turbiditas terendah dengan pH mendekati 7. Dosis dapat dikatakan optimum apabila dilakukan perbandingan terhadap parameter warna adalah apabila dosis aluminium sulfat bubuk yang diberikan dapat menurunkan nilai warna air hingga mencapai nilai 20 PtCo (standar nilai warna air bersih PT. KTI).

a. Tahun 2008

Pemberian dosis koagulan aluminium sulfat bubuk yang terjadi selama tahun 2008 berkisar antara 40 – 115 ppm. Hasil parameter air terbaik yang diperoleh pada tahun 2008 adalah pada saat pemberian dosis koagulan aluminium sulfat bubuk sebesar 55 ppm. Penurunan nilai turbiditas sangat signifikan hingga mencapai nilai minimum sebesar 4 NTU. Nilai tertinggi turbiditas air sebelum diberikan koagulan mencapai 225 NTU. Sedangkan untuk pH setelah dilakukan jar test terjadi penurunan namun penurunan nilai tersebut masih mendekati angka 7 dan scenderung berada diatas nilai 6, pH air bersih

terbaik yang diperoleh adalah 6,96 dengan nilai pH tertinggi sebelum jar test sebesar 8,31. Grafik penurunan terlihat pada Gambar 10 dan Gambar 11.

Gambar 10. Turbiditas vs pH sebelum jar test tahun 2008 dosis 55 ppm

Gambar 11. Turbiditas vs pH sesudah jar test tahun 2008 dosis 55 ppm Nilai warna air tertinggi sebelum dilakukan jar test mencapai 1167 PtCo dengan nilai terendah 94 PtCo. Dengan dosis 55 ppm yang diberikan selama tahun 2008 nilai standar warna sebesar 20 PtCo selalu tercapai. Perbandingan antara turbiditas dan warna sebelum dilakukan jar test ditampilkan pada Gambar 12.

Gambar 12. Turbiditas vs warna sebelum jar test tahun 2008 dosis 55 ppm Nilai warna setelah diberikan koagulan selalu mencapai nilai 20 PtCo. Gambar 13 menampilkan grafik ketika nilai 20 PtCo tercapai. Perbandingan dilakukan dengan turbiditas. Walau terjadi keragaman dalam pemberian dosis koagulan namun nilai akir yang diperoleh selalu sama yaitu 20 PtCo sehingga grafik untuk menggambarkan penurunan warna selalu sama bentuknya seperti Gambar 13 yakni berupa garis lurus dengan nilai dari sumbu- y nya yang tetap yakni 20 PtCo.

Gambar 13. Turbiditas vs warna sesudah jar test tahun 2008 dosis 55 ppm b. Tahun 2009

Rentang nilai dosis koagulan aluminium sulfat bubuk yang diberikan selama tahun 2009 adalah 22 – 105 ppm. Hasil dari parameter terbaik yang diperoleh pada tahun 2009 adalah ketika dosis koagulan yang diberikan sebesar 60 ppm. Nilai turbiditas tertinggi sebelum dilakukan pemberian koagulan mencapai 278 NTU dan nilai pH tertingginya sebesar 7,7 seperti terlihat pada Gambar 15. Penurunan nilai turbiditas setelah dilakukan jar test mencapai nilai 4 NTU dengan pH tertinggi 6,79. Nilai pH yang diperoleh secara garis besar cenderung mendekati 7.

Gambar 14. Turbiditas vs pH sebelum jar test tahun 2009 dosis 60 ppm

Nilai pH yang diperoleh cukup baik karena cenderung berada diatas 6 dengan nilai pH terendah yang diperoleh sebesar 5,9. Gambar 14 menampilkan perbandingan kualitas air setelah dilakukan jar test dengan membandingkan pH dan turbiditas.

Gambar 15. Turbiditas vs pH sesudah jar test tahun 2009 dosis 60 ppm

Nilai tertinggi parameter warna sebelum diberikan koagulan mencapai 1480 PtCo dan nilai terendah 87 PtCo seperti yang terlihat pada Gambar 16. Nilai 20 PtCo berhasil dicapai dengan pemberian dosis koagulan alumunium sulfat bubuk sebesar 60 ppm.

Gambar 16. Turbiditas vs Warna sebelum jar test tahun 2009 dosis 60 ppm

c. Tahun 2010

Rentang nilai dosis koagulan aluminium sulfat bubuk yang diberikan selama tahun 2010 adalah 45- 85 ppm. Hasil dari parameter air terbaik yang diperoleh pada tahun 2010 adalah ketika dosis koagulan yang diberikan sebesar 55 ppm. Nilai turbiditas tertinggi sebelum dilakukan pemberian koagulan mencapai 284NTU dan nilai pH tertingginya sebesar 7,39 seperti terlihat pada Gambar 17. Penurunan nilai turbiditas terendah setelah dilakukan jar test mencapai nilai 1,75 NTU dengan pH tertinggi 6,43. Nilai pH yang diperoleh secara garis besar cenderung mendekati 6,5.

Gambar 18. Turbiditas vs pH sesudah jar test tahun 2010 dosis 55 ppm

Nilai tertinggi parameter warna sebelum diberikan koagulan mencapai 1530 PtCo dan nilai terendah sebesar 112 PtCo seperti yang terlihat pada Gambar 19. Dengan pemberian dosis koagulan aluminium sulfat bubuk sebesar 55 ppm nilai 20 PtCo selalu berhasil dicapai.

Gambar 19. Turbiditas vs warna sebelum jar test tahun 2010 dosis 55 ppm

Dari Gambar 12 dan 19 yang menampilkan perbadingan antara nilai turbiditas dengan warna terlihat semakin meningkatnya nilai turbiditas maka nilai warna juga

Dokumen terkait