BAB V PEMBAHASAN
5.4 Total Kerugian Ekonomi Akibat Sakit Malaria
Total kerugian ekonomi adalah merupakan penjumlahan dari pengeluaran yang terkait langsung dengan perawatan dan hilangnya produktivitas. Berdasarkan hasil penelitian total biaya yang dikeluarkan seluruh pasien (umum) yang dirawat inap periode Juli - Desember 2017 adalah Rp.23.673.470,- dengan rata-rata total kerugian ekonomi setiap pasien (umum) adalah Rp.840.717,-. Total biaya minimal adalah Rp.237.525,- sedangkan biaya maksimal Rp.1.475.640,-.
Sedangkan total kerugian ekonomi pada pasien (BPJS) sebesar Rp.104.363.850,- dengan rata-rata setiap pasien sebesar Rp. 2.898.996. Total biaya minimal adalah
ekonomi diatas merupakan besarnya biaya yang harus dikeluarkan pasien, keluarga pasien maupun pemerintah melalui kebijakan kesehatan gratis akibat pasien jatuh sakit dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Pada pasien BPJS, tarif INA-CBG‟s merupakan biaya yang dikeluarkan terkait pengobatan malaria, dianggap sebagai kerugian ekonomi juga karena besarnya anggaran yang seharusnya dialokasikan ke pembangunan sarana dan infrastruktur sektor lainnya dialihkan untuk menanggung beban biaya pengobatan dan perawatan pasien. Perbedaan besar kecilnya biaya setiap responden tersebut disebabkan karena adanya perbedaan kelas rawat inap yang dipilih responden, lamanya hari rawat, biaya obat, pekerjaan dan pendapatan perhari, serta jarak tempuh tempat tinggal ke rumah sakit yang memberikan dampak terhadap tinggi rendahnya biaya transportasi.
Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan responden masih dibawah nilai UMK Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2017 bisa menjadi suatu masalah yang perlu diperhatikan lebih serius lagi oleh pemerintah daerah.
Hal tersebut menjadi gambaran bahwa mereka yang menderita malaria belum bisa hidup layak dan memenuhi semua kebutuhan keluarganya sehingga kondisi keuangan mereka akan menjadi lebih sulit lagi jika harus kehilangan pendapatan akibat tidak bisa bekerja karena sakit.
WHO (2002) menyebutkan bahwa Pada tingkat mikro yaitu pada tingkat individual dan keluarga, kesehatan adalah dasar bagi produktivitas kerja dan kapasitas untuk belajar di sekolah. Tenaga kerja yang sehat secara fisik dan mental akan lebih enerjik dan kuat, lebih produktif, dan mendapatkan penghasilan
yang tinggi. Pada tingkat makro, penduduk dengan tingkat kesehatan yang baik merupakan masukan (input) penting untuk menurunkan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan.
Kesehatan yang buruk seseorang menyebabkan biaya bagi orang tersebut karena menurunnya kemampuan untuk menikmati hidup, memperoleh penghasilan atau bekerja dengan efektif. Kesehatan yang lebih baik memungkinkan seseorang untuk memenuhi hidup yang lebih produktif. Kesehatan yang buruk individu dapat memberikan dampak dan ancaman bagi orang lain. Jadi pelayanan kesehatan yang lebih baik akan memberikan manfaat bagi individu dan masyarakat keseluruhan jika membawa kesehatan yang lebih baik. Status kesehatan penduduk yang baik meningkatkan produktivitas, meningkatkan pendapatan perkapita, meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara.
Orem et all (2012) menjelaskan bahwa negara-negara yang merupakan daerah endemis mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah daripada negara lain yang tidak ada kasus malaria. Selain itu pendapatan perkapita penduduk lebih rendah sehingga program penanggulangan penyakit malaria sangat berpengaruh positif terhadap pembangunan ekonomi.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Dari penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil penelitian penderita malaria yang dirawat inap di RSUD Panyabungan periode Juli - Desember 2017 lebih banyak pada usia produktif yaitu mencapai 58% dan berjenis kelamin laki-laki sebanyak 61%. Berdasarkan jenis pekerjaan pada pasien yang berusia produktif, sebagian besar bekerja sebagai pedagang dan buruh. Sementara pada usia tidak produktif sebagian besar adalah merupakan pelajar.
2. Total pengeluaran pasien malaria rawat inap (umum) yang terkait langsung dengan perawatan kesehatan (direct cost) di rumah sakit lebih rendah dibandingkan total pengeluaran pemerintah untuk perawatan malaria pada pasien (BPJS). Selisih total biaya pengobatan antara pasien umum dan
BPJS adalah mencapai Rp. 14.865.105 dengan selisih rata-rata Rp. 1.991.978.
3. Total pengeluaran pasien malaria rawat inap (umum) yang terkait dengan hilangnya produktivitas (indirect cost) di rumah sakit lebih rendah dibandingkan dengan pasien (BPJS). Selisih total biaya hilangnya produktivitas mencapai Rp. 4.782.250 dengan selisih rata-rata Rp.66.301.
4. Total kerugian ekonomi pasien (umum) secara keseluruhan lebih rendah dibandingkan pasien (BPJS). Selisih total kerugian ekonomi mencapai Rp. 80.690.380 dengan selisih rata-rata Rp. 2.058.279.
5. Biaya pengobatan pada pasien umum lebih rendah dibandingkan tarif INA–CBG‟s dilatarbelakangi oleh perbedaan standar tarif yang diterapkan, lama dirawat serta diagnosis/prosedur.
6.2 Saran
1. Masyarakat perlu menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan dengan menerapkan dan meningkatkan upaya PHBS di rumah tangga.
2. Masyarakat harus termotivasi mendaftarkan dirinya sebagai peserta JKN untuk menghindari pengeluaran biaya terkait pengobatan suatu penyakit, khususnya penyakit malaria.
3. Rumah Sakit Umum Daerah Panyabungan perlu meningkatkan kualitas pengobatan pasien, sehingga jumlah hari tidak produktif atau length of stay penderita selama dirawat inap semakin singkat.
4. Pemerintah Daerah dan Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal perlu menyusun strategi dan regulasi yang lebih efektif untuk mendukung kebijakan dan sumber daya dalam pelaksanaan eliminasi malaria.
5. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial perlu meninjau kembali efisiensi biaya terkait standar tarif INA – CBG‟s yang ditetapkan pada kode diagnosa B50.9 dengan deskripsi INA – CBG‟s penyakit infeksi bakteri dan parasit lain-lain (ringan).
DAFTAR PUSTAKA
Andiarsa, D., Suryatinah, Y., Indriyati, L., Hairani, B., dan Meliyanie, G., 2015.
Pengaruh Kejadian Malaria Terhadap Hilangnya Hari Produktif Masyarakat di Indonesia. Jurnal, Vol. 18 No. 2. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
As‟ad, H., Asiah, H., dan Haerani. 2012. Kerugian Ekonomi (Economic Loss) Pasien Rawat Inap Usia Produktif Pada Lima Penyakit di RSUD Mamuju. Jurnal AKK, Vol 1 No 1. Makassar: Universitas Hasanuddin.
Dipublikasi September 2012.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Mandailing Natal. 2017. Sensus Ekonomi 2016 Analisis Hasil Listing Potensi Ekonomi Kabupaten Mandailing Natal.
Mandailing Natal : BPS Kabupaten Mandailing Natal.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Mandailing Natal. 2017. Kondisi Kesehatan Penduduk Kabupaten Mandailing Natal. Mandailing Natal : BPS Kabupaten Mandailing Natal.
Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal. 2016. Laporan Pengendalian Penyakit Malaria Tahun 2015. Mandailing Natal : Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal.
Dinas Kesehatan Sumatera Utara. 2016. Laporan Pengendalian Penyakit Malaria Tahun 2015. Medan : Dinas Kesehatan Sumatera Utara.
Hafizah, N dan Mustofa, 2011. Analisis Biaya dan Tatalaksana Pengobatan Malaria Pada Pasien Rawat Inap di RSUD Ulin Banjarmasin Kalimantan Selatan Periode Tahun 2006-2009. Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi Vol. 1 No. 1.Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Dipublikasi Maret 2011.
Harijanto, P. N., Nugroho, A., Gunawan, C. A., 2010. Malaria dari Molekuler ke Klinis Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Kantor Pusat Penanggulangan Malaria Kabupaten Mandailing Natal. 2016. Profil Malaria 2015 Kabupaten Mandailing Natal. Panyabungan: Kantor Pusat Penanggulangan Malaria Kabupaten Mandailing Natal.
Kemenkes RI. 2008. Pelayanan Kefarmasian Untuk Penyakit Malaria. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
. 2013. Pedoman Penerapan Kajian Farmakoekonomi. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
. 2017. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Lubis, A. F., 2009. Ekonomi Kesehatan. Medan : USU Press.
Machfoedz, Ircham., 2013. Metodologi Penelitian Kuantitattif dan Kualitatif.
Yogyakarta: Fitramaya
Murthi, B., Trisnantoro, L., Probandari, A., Maryanti, A. H., Hardanto, D., Mubasysyir, H., Wisnuputri, T., 2006. Perencanaan dan Penganggaran Untuk Investasi Kesehatan di Tingkat Kabupaten dan Kota.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Notoatmodjo, S., 2002. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S., 2012. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Nuraini, 2012. Gambaran Pengobatan dan Analisis Biaya Terapi Pneumonia Pada Pasien Anak di Instalasi Rawat Inap RS”X” Tahun 2011. (Tesis).
Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
RSUD Panyabungan. 2017. Profil RSUD Panyabungan. Mandailing Natal : RSUD Panyabungan
Sanchez, L. A., 2005. Pharmacoeconomics: Principle, Methods and Aplications, di dalam Dipiro, J. T., Yee, G., Matzge, Z. R., Wells, B. G., and Posey, L.
M., Pharmacoterapy: A Pathophysiologic Approach. Ed ke-6, The McGraw-Hill Companies, Inc, USA. Hlm 1956-1958.
Saryono dan Anggraeni., M. D., 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif dalam Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Sayati, D., 2015. Bahan Ajar Ekonomi Kesehatan. Palembang : STIK Bina Husada.
Sitompul, I. S., 2016. Kerugian Ekonomi (Economic Loss) Akibat Malaria di Kabupaten Batubara Tahun 2014.(Tesis). Medan : Universitas Sunatera Utara.
Soedarto. 2011. Malaria. Jakarta : CV Sagung Seto.
Sorontou, Y., 2013 . Ilmu Malaria Klinik. Jakarta: EGC.
Sucipto, C. D., 2015. Manual Lengkap Malaria. Tangerang: Gosyen Publishing.
Tjiptoherijanto, P., Soesetyo, B., 1994. Ekonomi Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit.
WHO. 1991. Management of Serve and Complicated Malaria A Practical Handbook. Geneva: World Health Organization.
WHO. 2017. World Malaria Report 2017. Geneva: World Health Organization
www.depkes.go.id/article/view/18021300001/indonesia-dan-i-the-global-fund-i-luncurkan-dana-hibah-baru-untuk-percepat-akselerasi-akhiri-epidemi.html Yanuar, Ferri., 2003. Biaya Akibat Sakit (cost of illness) malaria: Studi kasus di RSUD Sungailiat Kabupaten Bangka Tahun 2003.(Tesis). Jakarta:
Universitas Indonesia.
Lampiran 1. Kuesioner Penelitian
ANALISIS BIAYA PENGOBATAN MALARIA PADA PASIEN RAWAT INAP DI RSUD PANYABUNGAN KABUPATEN MANDAILING NATAL
TAHUN 2018
Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost) A. Identitas Responden/ Pasien 1. Nama Responden :
2. Umur : (L/P)
3. Alamat :
4. Pekerjaan :
1) Belum/ Tidak Bekerja 6) Petani/ Pekebun 2) Mengurus Rumah Tangga 7) Pedagang
3) PNS 8) Buruh
4) Karyawan Swasta 9) Pelajar/ Mahasiswa
5) Wiraswasta 10) Lainnya, sebutkan :
5. Berapa hari saudara bekerja dalam 1 minggu: hari Penghasilan Per Bulan : Rp.
Penghasilan Per Hari : Rp.
6. Berapa jauh jarak tempat tinggal saudara dengan rumah sakit ? km.
7. Alat transportasi saudara dari tempat tinggal - rumah sakit (pergi) dan dari rumah sakit - tempat tinggal (pulang):
Jika menggunakan kendaraan pribadi, berapa biaya bensin yang dikeluarkan ?
Rp.
Jika menggunakan kendaraan umum, berapa ongkos yang dibayarkan ? Rp.
B. Keluarga Yang Menunggu Pasien (Pendamping)
1. Apakah selama dirawat bapak/ ibu ada yang menunggu/ menjaga?
a. Ya b. Tidak
2. Jika Ya, siapa saja yang menunggu bapak/ ibu selama dirawat No. Nama Pekerjaan Jumlah
3. Jika yang menunggu bapak/ibu bekerja apakah ia harus tidak masuk kerja untuk menunggu pasien ?
a. Ya b. Tidak
4. Berapa biaya yang dikeluarkan satu orang penunggu pasien?
Jenis Biaya Biaya (Rp)
Transportasi: dari tempat tinggal-rumah sakit (pergi) dan dari rumah sakit-tempat tinggal
3. Jajanan (makanan kecil, kue, permen, dll)
4. Kebutuhan lainnya
VIP Utama Kelas I Kelas II Kelas III VIP Utama Kelas I Kelas II Kelas III
Rerata Biaya Langsung (Biaya Pengobatan Malaria) Tiap Kelas Rawat Inap
TOTAL COST
Ke las I Ke las II Ke las III Ke las I Ke las II Ke las III
Lampiran 3. Surat Izin Penelitian
Lampiran 4. Surat Keterangan Selesai Penelitian
Lampiran 5. Dokumentasi Penelitian
Gambar 6.1 Penyebaran kuesioner penelitian
Gambar 6.2 Rekam Medis Pasien