BAB IV HASIL PENELITIAN
4.7 Total Kerugian Ekonomi Pada Pasien BPJS
Panyabungan
No Kelas Perawatan Direct Cost (Rp)
Tabel 4.9 Lanjutan
No Kelas Perawatan Direct Cost (Rp)
TOTAL 30.634.600 13.729.250 104.363.850
RATA-RATA 2.517.628 381.368 2.898.996
Berdasarkan tabel 4.9 dapat diketahui biaya yang dikeluarkan BPJS dan pasien dalam pengobatan malaria di RSUD Panyabungan periode Juli-Desember 2017. Total biaya yang dikeluarkan BPJS dalam pengobatan (direct cost) pasien malaria adalah sebesar Rp. 30.634.600,- dengan rata-rata Rp. 2.517.628. Selain itu pasien juga mengeluarkan biaya terkait hilangnya produktivitas (indirect cost) dengan total Rp. 13.729.250,- dan rata-rata Rp.381.368.
BAB V PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Responden
Mengingat bahwa kerugian ekonomi akibat menderita malaria tidak hanya dialami oleh pasien saja namun juga pendamping, maka berdasarkan umur responden, peneliti mengambil sampel penelitian dari seluruh kategori umur dan kemudian dikelompokkan pada kategori usia produktif dan tidak produktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kategori usia produktif (15-65 tahun) memiliki jumlah yang lebih tinggi dibandingkan dengan usia tidak produktif yaitu mencapai 58%. Tingginya penderita malaria pada usia produktif akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap kerugian ekonomi bagi pasien itu sendiri maupun keluarga dan pemerintah. Hal ini dikarenakan pada usia produktif kebanyakan dari mereka sudah bekerja dan memiliki penghasilan, sehingga jika sakit akan memberikan dampak terhadap turunnya produktivitas kerja dan berdampak pada penurunan penghasilan.
Berdasarkan jenis kelamin, ternyata responden terbanyak yang menderita malaria adalah laki-laki yaitu berjumlah 40 orang (61%). Penyebab banyaknya responden laki-laki yang terkena malaria berhubungan dengan resiko untuk terkena malaria yang lebih tinggi pada laki-laki karena aktivitas/ pekerjaan mereka dan juga dengan kondisi lingkungan sebagai tempat kerja. Hal ini sesuai dengan penelitian Sitompul (2016) yang menjelaskan bahwa di Kabupaten Batubara menunjukkan responden laki-laki lebih banyak yang menderita malaria
yaitu 56% dari total seluruh sampel penelitian. Sementara penelitian Hafizah dkk (2011) juga menunjukkan pasien malaria yang berjenis kelamin laki-laki lebih besar dibanding perempuan yaitu sebanyak 80,52%.
Berdasarkan jenis pekerjaan yang dimiliki oleh responden yang berusia produktif, sebagian besar bekerja sebagai pedagang (11%) dan buruh (8%). Bagi responden yang bekerja sebagai pedagang, penghasilan mereka tergantung dari seberapa banyak pembeli yang datang setiap harinya. Mereka berjualan atau membuka warung/tokonya dari pagi hingga malam. Oleh karena itu, tidak ada penghasilan yang akan didapatkan para pedagang jika mereka sakit karena warung atau toko yang mereka miliki akan ditutup selama di rumah sakit. Untuk responden yang bekerja sebagai buruh, dimana sebagian besar adalah merupakan buruh tani, mereka dibayar perhari sesuai dengan pekerjaan mereka. Akibatnya, apabila mereka tidak bekerja selama dirawat inap maka mereka tidak akan mendapat upah dan penghasilan.
Responden yang bekerja sebagai PNS, dalam penelitian ini banyak ditemui pasien dan pendamping yang berprofesi sebagai guru. Berdasarkan hasil wawancara, responden menyebutkan bahwa ketika mereka sakit tetap ada potongan gaji yang diberikan sesuai dengan jumlah jam mengajar yang hilang sebesar Rp.2000,-/ jam. Jika mereka izin, dalam hal ini karena mendampingi pasien maupun karena alasan lain tetap saja akan diberi potongan gaji yaitu sebesar Rp.5.000,-/ jam. Oleh karena itu perhitungan pendapatan yang hilang pada responden yang bekerja sebagai guru PNS ini didasarkan pada jumlah jam mengajar yang hilang selama sakit atau saat mendampingi pasien dikalikan
dengan standar potongan gaji yang sudah ditetapkan.
Tingkat penghasilan responden yang berusia produktif dan telah bekerja terbanyak mempunyai penghasilan antara Rp.1.000.000 - Rp.2.000.000,- per bulan yaitu sebanyak 14 orang (45%). Besarnya penghasilan responden dengan rata-rata Rp.1.683.710,-/ bulan menunjukkan jumlah pendapatan responden yang
masih dibawah nilai UMK Mandailing Natal tahun 2017 yaitu sebesar Rp. 2.096.250,-. Hal ini menunjukkan bahwa responden memiliki keterbatasan
dalam menabung penghasilannya setiap bulan karena uang tersebut hanya cukup untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Sehingga jika responden menderita suatu penyakit maka disamping kehilangan pendapatannya juga akan menimbulkan ketidakberdayaan ekonomi yang mendorongnya jatuh miskin.
Rendahnya rata-rata pendapatan responden tidak hanya menurunkan kemampuan dalam upaya pengobatan namun juga terhadap upaya pencegahan malaria. Hal serupa sesuai dengan hasil penelitian Dalimunthe (2008) dalam Sitompul (2016), tentang faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pencegahan malaria di Mandailing Natal, bahwa penghasilan mempunyai pengaruh signifikan terhadap pencegahan malaria. Masyarakat dengan penghasilan diatas UMR lebih baik 16,2 kali dalam pencegahan malaria.
Berdasarkan penjamin, pasien yang dijamin oleh BPJS lebih banyak dibandingkan dengan pasien umum. Sementara jenis kelas perawatan yang dipilih, kebanyakan pasien berada di kelas III yaitu sebesar 41%. Hal ini dikarenakan pada pasien BPJS yang dirawat inap sebanyak 44% adalah merupakan penerima bantuan iuran (PBI), hal ini sejalan dengan data kepesertaan jaminan kesehatan di
Kabupaten Mandailing Natal tahun 2016 yang menunjukkan bahwa PBI jumlahnya cukup besar yaitu sebanyak 59,37%. Sementara pada pasien umum, sebanyak 37% responden memilih kelas I sebagai pilihan untuk mendapatkan pelayanan rawat inap dikarenakan biaya perawatannya yang cukup terjangkau.
Berdasarkan lama hari dirawat inap (length of stay), terbanyak sejumlah 50% responden dirawat berkisar 1-2 hari. Sementara rata-rata secara keseluruhan adalah selama 3 hari rawat. Hasil penelitian Yanuar (2003) juga menunjukan pasien malaria yang dirawat inap di RSUD Sungailiat Kabupaten Bangka rata-rata sebanyak 3 hari. Berbeda dengan hasil penelitian Hafizah dkk (2011) yang menunjukkan lama rawat yang lebih lama pada pasien yang dirawat di RSUD Ulin Banjarmasin Kalimantan Selatan, yaitu berkisar 4-7 hari.
5.2 Direct Cost Pasien Malaria Rawat Inap
Berdasarkan wawancara terhadap pegawai yang ada di bagian keuangan rumah sakit menjelaskan bahwa pasien malaria (umum) yang dirawat inap di RSUD Panyabungan tetap dikenakan biaya pelayanan dan pengobatan sesuai dengan tarif (unit cost) yang sudah ditetapkan oleh pemerintah daerah. Hal ini disebabkan karena sebagian besar pasien malaria yang dirawat inap di rumah sakit selalu disertai dengan penyakit penyerta seperti diare, demam tifoid, Gastroenteritis dan ISPA sehingga memungkinkan pemberian obat-obatan yang beragam. Namun, obat antimalaria ACT (Artemisinin Based Combination) seperti artesunat dan amodiakuin digratiskan oleh pihak rumah sakit.
Penelitian ini menunjukkan berapa besar kerugian ekonomi yang dialami dari sisi pasien dan pemerintah melalui kebijakan pengobatan gratis bagi peserta JKN. Tinggi rendahnya pengeluaran pasien selama mendapatkan pelayanan rawat inap tergantung kepada pilihan kelas rawat inap, lama hari rawat, dan jenis penyakit penyerta yang membuat pasien menerima obat yang lebih beragam. Pada pasien (umum) secara keseluruhan rata-rata biaya pengobatan yang dikeluarkan adalah Rp.525.650,- sementara pada pasien (BPJS) adalah Rp.2.517.628,-.
A. Biaya Obat
Untuk mengetahui biaya obat, peneliti meminta bantuan dari petugas apoteker di instalasi farmasi rumah sakit untuk menghitung berapa besar biaya obat dari setiap pasien malaria. Informasi mengenai jenis dan dosis obat yang diberikan pada pasien bisa dilihat dari status pasien di rumah sakit yang terdiri dari obat-obat peros dan obat injeksi. Setelah dilakukan perhitungan total biaya obat seluruh pasien (umum) malaria dalam satu hari rawat adalah Rp.1.066.740,- dengan rata-rata Rp.35.558,-.
B. Biaya Kunjungan Dokter Spesialis
Biaya kunjungan dokter spesialis dilihat dari unit cost rumah sakit, dimana besarannya tergantung jenis kelas rawat yang dipilih pasien. Semakin tinggi tingkatan kelas rawat inap yang dipilih maka semakin tinggi pula biayanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya visit dokter spesialis pasien (umum) malaria dalam satu hari adalah Rp.320.000,- dengan rata-rata Rp.10.667,-.
C. Biaya Jasa Dokter dan Petugas Ruangan
Biaya jasa dokter dan petugas ruangan dilihat dari unit cost rumah sakit, dimana besarannya tidak tergantung jenis kelas rawat yang dipilih pasien. Setiap kelas perawatan sama-sama dikenakan tarif Rp.30.000,-/hari. Total biaya jasa dokter dan petugas ruangan pasien (umum) malaria dalam satu hari adalah Rp.900.000,-.
D. Biaya Jasa perawat
Biaya jasa perawat dilihat dari unit cost rumah sakit, dimana besarannya tidak tergantung jenis kelas rawat yang dipilih pasien. Setiap kelas perawatan sama-sama dikenakan tarif Rp.5.000,-/hari. Total biaya Jasa perawat pasien (umum) malaria dalam satu hari adalah Rp.150.000,-.
E. Biaya Pemeriksaan Laboratorium
Biaya pemeriksaan laboratorium dilihat dari unit cost rumah sakit, dimana besarannya tidak tergantung jenis kelas rawat yang dipilih pasien. Setiap kelas perawatan sama-sama dikenakan tarif Rp.40.000,-/hari. Total biaya pemeriksaan laboratorium pasien (umum) malaria dalam satu hari adalah Rp.1.200.000,-.
F. Biaya Rawat Inap
Biaya rawat inap dilihat dari unit cost rumah sakit, dimana besarannya tergantung jenis kelas rawat inap yang dipilih pasien. Semakin tinggi tingkatan kelas rawat inap yang dipilih maka semakin tinggi pula biayanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya rawat inap pasien (umum) malaria dalam satu hari adalah Rp.2.370.000,- dengan rata-rata Rp.79.000,-.
G. Biaya Administrasi
Biaya administrasi dilihat dari unit cost rumah sakit, dimana besarannya tidak tergantung jenis kelas rawat yang dipilih pasien. Setiap kelas perawatan sama-sama dikenakan tarif Rp.15.000,-/pasien. Total biaya administrasi pasien (umum) malaria adalah Rp.450.000,-.
5.3 Indirect Cost Pasien Malaria Rawat Inap
Indirect Cost adalah sejumlah biaya yang terkait dengan hilangnya produktivitas akibat menderita penyakit malaria, termasuk biaya transportasi, biaya hilangnya produktivitas dan biaya pendamping (anggota keluarga yang menemani pasien). Responden akan mengeluarkan biaya untuk transportasi ke dan dari rumah sakit. Biaya transportasi tersebut tergantung jarak tempuh antara tempat tinggal dan rumah sakit serta jenis kendaraan yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angkutan yang paling sering digunakan seluruh responden ke rumah sakit adalah becak dan angkot dengan rata-rata pengeluaran pasien pulang dan pergi sebesar Rp.15.000,-.
Pasien yang dirawat inap dijaga oleh anggota keluarganya yang berjumlah 1-2 orang. Sebagian besar dari mereka menginap di ruang rawat inap rumah sakit.
Hal ini tentunya akan menambah pengeluaran keluarga/ pendamping untuk memenuhi kebutuhannya selama menjaga pasien. Pengeluaran tersebut selain dari biaya transportasi, mereka juga mengeluarkan biaya konsumsi dan kebutuhan lainnya yang diperlukan. Biaya pengeluaran konsumsi setiap anggota keluarga yang mendampingi tergantung dari jenis makanan dan jumlahnya, seperti nasi bungkus, jajanan, minuman dan kebutuhan lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang mendampingi pasien selama dirawat inap mengeluarkan rata-rata biaya konsumsi sebesar Rp.121.000,-.
Sementara rata-rata pengeluaran pendamping untuk transportasi pulang dan pergi rumah sakit sebesar Rp. 28.000,-. Pengeluaran transportasi pendamping lebih besar dikarenakan sebagian besar keluarga yang mendampingi pasien selama dirawat sebanyak 2 orang.
Biaya hilangnya produktivitas adalah pendapatan yang hilang akibat sakit malaria karena tidak bisa bekerja. Dalam penelitian ini diukur berdasarkan hilangnya pendapatan dari pasien dan pendamping akibat sakit malaria. Cara menghitung biaya hilangnya produktivitas yaitu dengan menghitung jumlah hari rawat inap pasien dikalikan dengan pendapatan perhari pasien atau pendamping.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan yang hilang akibat sakit malaria ini cukup besar dan berpengaruh terhadap ekonomi keluarga.
Responden yang berusia produktif dan telah bekerja sebagian besar bekerja sebagai pedagang dan buruh. Dengan demikian, tentu saja jika responden sakit maka mereka tidak bisa bekerja selama dirawat inap dan akan kehilangan pendapatannya. Biaya hilangnya produktivitas dalam penelitian ini terbatas hanya pada saat pasien mendapatkan perawatan inap di rumah sakit, begitu juga dengan pendamping yang dihitung berdasarkan lamanya ia menemani pasien di ruangan.
Jumlah biaya hilangnya produktivitas tentunya akan lebih besar lagi mengingat setelah pasien keluar dan meninggalkan ruangan perawatan, masih membutuhkan waktu beberapa hari lagi untuk rehabilitasi dan istirahat sampai dipastikan sembuh total dan siap kembali bekerja seperti biasanya.
Hasil penelitian menunjukkan rata-rata pendapatan pasien usia produktif dan telah bekerja yang hilang dengan lama hari rawat 3 hari adalah Rp.176.927,- dan pendamping Rp. 88.146,-. Sementara pada pasien usia tidak produktif tidak mengalami kehilangan pendapatan karena belum bekerja, namun pendamping pasien tersebut tetap kehilangan pendapatannya dengan rata-rata Rp.136.836,-.
Tabel berikut akan menggambarkan berapa besar pengeluaran responden usia produktif dan tidak produktif terkait hilangnya produktivitas (indirect cost) selama dirawat inap yang dibagi berdasarkan kategori jarak tempat tinggal ke rumah sakit.
Tabel 5.1 Indirect Cost Responden Selama Di Rawat Inap Berdasarkan Kategori Jarak Tempat Tinggal Ke RSUD Panyabungan.
KATEGORI RATA-RATA INDIRECT COST
DEKAT Rp.305.654
SEDANG Rp.521.646
JAUH Rp.594.167
5.4 Total Kerugian Ekonomi Akibat Sakit Malaria
Total kerugian ekonomi adalah merupakan penjumlahan dari pengeluaran yang terkait langsung dengan perawatan dan hilangnya produktivitas. Berdasarkan hasil penelitian total biaya yang dikeluarkan seluruh pasien (umum) yang dirawat inap periode Juli - Desember 2017 adalah Rp.23.673.470,- dengan rata-rata total kerugian ekonomi setiap pasien (umum) adalah Rp.840.717,-. Total biaya minimal adalah Rp.237.525,- sedangkan biaya maksimal Rp.1.475.640,-.
Sedangkan total kerugian ekonomi pada pasien (BPJS) sebesar Rp.104.363.850,- dengan rata-rata setiap pasien sebesar Rp. 2.898.996. Total biaya minimal adalah
ekonomi diatas merupakan besarnya biaya yang harus dikeluarkan pasien, keluarga pasien maupun pemerintah melalui kebijakan kesehatan gratis akibat pasien jatuh sakit dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Pada pasien BPJS, tarif INA-CBG‟s merupakan biaya yang dikeluarkan terkait pengobatan malaria, dianggap sebagai kerugian ekonomi juga karena besarnya anggaran yang seharusnya dialokasikan ke pembangunan sarana dan infrastruktur sektor lainnya dialihkan untuk menanggung beban biaya pengobatan dan perawatan pasien. Perbedaan besar kecilnya biaya setiap responden tersebut disebabkan karena adanya perbedaan kelas rawat inap yang dipilih responden, lamanya hari rawat, biaya obat, pekerjaan dan pendapatan perhari, serta jarak tempuh tempat tinggal ke rumah sakit yang memberikan dampak terhadap tinggi rendahnya biaya transportasi.
Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan responden masih dibawah nilai UMK Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2017 bisa menjadi suatu masalah yang perlu diperhatikan lebih serius lagi oleh pemerintah daerah.
Hal tersebut menjadi gambaran bahwa mereka yang menderita malaria belum bisa hidup layak dan memenuhi semua kebutuhan keluarganya sehingga kondisi keuangan mereka akan menjadi lebih sulit lagi jika harus kehilangan pendapatan akibat tidak bisa bekerja karena sakit.
WHO (2002) menyebutkan bahwa Pada tingkat mikro yaitu pada tingkat individual dan keluarga, kesehatan adalah dasar bagi produktivitas kerja dan kapasitas untuk belajar di sekolah. Tenaga kerja yang sehat secara fisik dan mental akan lebih enerjik dan kuat, lebih produktif, dan mendapatkan penghasilan
yang tinggi. Pada tingkat makro, penduduk dengan tingkat kesehatan yang baik merupakan masukan (input) penting untuk menurunkan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan.
Kesehatan yang buruk seseorang menyebabkan biaya bagi orang tersebut karena menurunnya kemampuan untuk menikmati hidup, memperoleh penghasilan atau bekerja dengan efektif. Kesehatan yang lebih baik memungkinkan seseorang untuk memenuhi hidup yang lebih produktif. Kesehatan yang buruk individu dapat memberikan dampak dan ancaman bagi orang lain. Jadi pelayanan kesehatan yang lebih baik akan memberikan manfaat bagi individu dan masyarakat keseluruhan jika membawa kesehatan yang lebih baik. Status kesehatan penduduk yang baik meningkatkan produktivitas, meningkatkan pendapatan perkapita, meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara.
Orem et all (2012) menjelaskan bahwa negara-negara yang merupakan daerah endemis mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah daripada negara lain yang tidak ada kasus malaria. Selain itu pendapatan perkapita penduduk lebih rendah sehingga program penanggulangan penyakit malaria sangat berpengaruh positif terhadap pembangunan ekonomi.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Dari penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil penelitian penderita malaria yang dirawat inap di RSUD Panyabungan periode Juli - Desember 2017 lebih banyak pada usia produktif yaitu mencapai 58% dan berjenis kelamin laki-laki sebanyak 61%. Berdasarkan jenis pekerjaan pada pasien yang berusia produktif, sebagian besar bekerja sebagai pedagang dan buruh. Sementara pada usia tidak produktif sebagian besar adalah merupakan pelajar.
2. Total pengeluaran pasien malaria rawat inap (umum) yang terkait langsung dengan perawatan kesehatan (direct cost) di rumah sakit lebih rendah dibandingkan total pengeluaran pemerintah untuk perawatan malaria pada pasien (BPJS). Selisih total biaya pengobatan antara pasien umum dan
BPJS adalah mencapai Rp. 14.865.105 dengan selisih rata-rata Rp. 1.991.978.
3. Total pengeluaran pasien malaria rawat inap (umum) yang terkait dengan hilangnya produktivitas (indirect cost) di rumah sakit lebih rendah dibandingkan dengan pasien (BPJS). Selisih total biaya hilangnya produktivitas mencapai Rp. 4.782.250 dengan selisih rata-rata Rp.66.301.
4. Total kerugian ekonomi pasien (umum) secara keseluruhan lebih rendah dibandingkan pasien (BPJS). Selisih total kerugian ekonomi mencapai Rp. 80.690.380 dengan selisih rata-rata Rp. 2.058.279.
5. Biaya pengobatan pada pasien umum lebih rendah dibandingkan tarif INA–CBG‟s dilatarbelakangi oleh perbedaan standar tarif yang diterapkan, lama dirawat serta diagnosis/prosedur.
6.2 Saran
1. Masyarakat perlu menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan dengan menerapkan dan meningkatkan upaya PHBS di rumah tangga.
2. Masyarakat harus termotivasi mendaftarkan dirinya sebagai peserta JKN untuk menghindari pengeluaran biaya terkait pengobatan suatu penyakit, khususnya penyakit malaria.
3. Rumah Sakit Umum Daerah Panyabungan perlu meningkatkan kualitas pengobatan pasien, sehingga jumlah hari tidak produktif atau length of stay penderita selama dirawat inap semakin singkat.
4. Pemerintah Daerah dan Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal perlu menyusun strategi dan regulasi yang lebih efektif untuk mendukung kebijakan dan sumber daya dalam pelaksanaan eliminasi malaria.
5. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial perlu meninjau kembali efisiensi biaya terkait standar tarif INA – CBG‟s yang ditetapkan pada kode diagnosa B50.9 dengan deskripsi INA – CBG‟s penyakit infeksi bakteri dan parasit lain-lain (ringan).
DAFTAR PUSTAKA
Andiarsa, D., Suryatinah, Y., Indriyati, L., Hairani, B., dan Meliyanie, G., 2015.
Pengaruh Kejadian Malaria Terhadap Hilangnya Hari Produktif Masyarakat di Indonesia. Jurnal, Vol. 18 No. 2. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
As‟ad, H., Asiah, H., dan Haerani. 2012. Kerugian Ekonomi (Economic Loss) Pasien Rawat Inap Usia Produktif Pada Lima Penyakit di RSUD Mamuju. Jurnal AKK, Vol 1 No 1. Makassar: Universitas Hasanuddin.
Dipublikasi September 2012.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Mandailing Natal. 2017. Sensus Ekonomi 2016 Analisis Hasil Listing Potensi Ekonomi Kabupaten Mandailing Natal.
Mandailing Natal : BPS Kabupaten Mandailing Natal.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Mandailing Natal. 2017. Kondisi Kesehatan Penduduk Kabupaten Mandailing Natal. Mandailing Natal : BPS Kabupaten Mandailing Natal.
Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal. 2016. Laporan Pengendalian Penyakit Malaria Tahun 2015. Mandailing Natal : Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal.
Dinas Kesehatan Sumatera Utara. 2016. Laporan Pengendalian Penyakit Malaria Tahun 2015. Medan : Dinas Kesehatan Sumatera Utara.
Hafizah, N dan Mustofa, 2011. Analisis Biaya dan Tatalaksana Pengobatan Malaria Pada Pasien Rawat Inap di RSUD Ulin Banjarmasin Kalimantan Selatan Periode Tahun 2006-2009. Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi Vol. 1 No. 1.Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Dipublikasi Maret 2011.
Harijanto, P. N., Nugroho, A., Gunawan, C. A., 2010. Malaria dari Molekuler ke Klinis Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Kantor Pusat Penanggulangan Malaria Kabupaten Mandailing Natal. 2016. Profil Malaria 2015 Kabupaten Mandailing Natal. Panyabungan: Kantor Pusat Penanggulangan Malaria Kabupaten Mandailing Natal.
Kemenkes RI. 2008. Pelayanan Kefarmasian Untuk Penyakit Malaria. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
. 2013. Pedoman Penerapan Kajian Farmakoekonomi. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
. 2017. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Lubis, A. F., 2009. Ekonomi Kesehatan. Medan : USU Press.
Machfoedz, Ircham., 2013. Metodologi Penelitian Kuantitattif dan Kualitatif.
Yogyakarta: Fitramaya
Murthi, B., Trisnantoro, L., Probandari, A., Maryanti, A. H., Hardanto, D., Mubasysyir, H., Wisnuputri, T., 2006. Perencanaan dan Penganggaran Untuk Investasi Kesehatan di Tingkat Kabupaten dan Kota.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Notoatmodjo, S., 2002. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S., 2012. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Nuraini, 2012. Gambaran Pengobatan dan Analisis Biaya Terapi Pneumonia Pada Pasien Anak di Instalasi Rawat Inap RS”X” Tahun 2011. (Tesis).
Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
RSUD Panyabungan. 2017. Profil RSUD Panyabungan. Mandailing Natal : RSUD Panyabungan
Sanchez, L. A., 2005. Pharmacoeconomics: Principle, Methods and Aplications, di dalam Dipiro, J. T., Yee, G., Matzge, Z. R., Wells, B. G., and Posey, L.
M., Pharmacoterapy: A Pathophysiologic Approach. Ed ke-6, The McGraw-Hill Companies, Inc, USA. Hlm 1956-1958.
Saryono dan Anggraeni., M. D., 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif dalam Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Sayati, D., 2015. Bahan Ajar Ekonomi Kesehatan. Palembang : STIK Bina Husada.
Sitompul, I. S., 2016. Kerugian Ekonomi (Economic Loss) Akibat Malaria di Kabupaten Batubara Tahun 2014.(Tesis). Medan : Universitas Sunatera Utara.
Soedarto. 2011. Malaria. Jakarta : CV Sagung Seto.
Sorontou, Y., 2013 . Ilmu Malaria Klinik. Jakarta: EGC.
Sucipto, C. D., 2015. Manual Lengkap Malaria. Tangerang: Gosyen Publishing.
Tjiptoherijanto, P., Soesetyo, B., 1994. Ekonomi Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit.
WHO. 1991. Management of Serve and Complicated Malaria A Practical Handbook. Geneva: World Health Organization.
WHO. 2017. World Malaria Report 2017. Geneva: World Health Organization
www.depkes.go.id/article/view/18021300001/indonesia-dan-i-the-global-fund-i-luncurkan-dana-hibah-baru-untuk-percepat-akselerasi-akhiri-epidemi.html Yanuar, Ferri., 2003. Biaya Akibat Sakit (cost of illness) malaria: Studi kasus di RSUD Sungailiat Kabupaten Bangka Tahun 2003.(Tesis). Jakarta:
Universitas Indonesia.
Lampiran 1. Kuesioner Penelitian
ANALISIS BIAYA PENGOBATAN MALARIA PADA PASIEN RAWAT INAP DI RSUD PANYABUNGAN KABUPATEN MANDAILING NATAL
TAHUN 2018
Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost) A. Identitas Responden/ Pasien
Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost) A. Identitas Responden/ Pasien