• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.4. Pengaruh Langsung, Tidak Langsung dan Total Pengaruh Variabel Motivasi dan Keharmonisan Hubungan Serikat Pekerja dan Manajemen

5.4.3. Total Pengaruh (Total Effect)

Untuk mengukur total pengaruh dengan perhitungan sebagai berikut:

a. Total pengaruh variabel motivasi (X1) terhadap kinerja (Z) dengan penerapan

good corporate governance (Y) sebagai intervening sebesar:

Total Pengaruh = 0,406 + 0,023 = 0.429 (42.9 %)

b. Pengaruh variabel keharmonisan hubungan serikat pekerja dan manajemen (X2)

terhadap kinerja (Z) dengan penerapan good corporate governance (Y) sebagai

intervening sebesar :

Good Corporate Governance (Y) Motivasi (X1) Keharmonis an Hubungan Serikat Pekerja dan Manajemen (X2) Kinerja (Z) p1 = 0.406 p2 = 0.119 p3 = 0.014 p4 = 0.132 p5 = 0.056 p6 = 0.560 e1 = 0.596 e2 = 0.9801 Besarnya nilai residual dari jalur path p1 dan p2 adalah e1 = (1-0.228)2 =

0.5960 (59,60 %) dan besarnya nilai residual dari jalur path p3, p4 dan p5 adalah e2 =

(1-0.010) 2 = 0.9801 (98,01 %).

Atas hal tersebut maka dapat digambarkan analisis jalur sebagai berikut :

Gambar 5.7 : Diagram Path Analysis

Kajian mengenai corporate governance meningkat dengan pesat seiring

dengan terbukanya skandal keuangan berskala besar (misalnya skandal Enron, Tyco,

dari good corporate governance. Krisis ekonomi yang terjadi di kawasan Asia

Tenggara dan negara lain terjadi bukan hanya akibat faktor ekonomi makro namun

juga karena lemahnya corporate governance yang ada di negara-negara tersebut,

seperti lemahnya hukum, standar akuntansi dan pemeriksaan keuangan (auditing)

yang belum mapan, pasar modal yang masih under-regulated, lemahnya pengawasan

komisaris, dan terabaikannya hak minoritas. Hal ini berarti bahwa good corporate

governance tidak saja berakibat positif bagi pemegang saham, namun juga bagi

masyarakat yang lebih luas berupa pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh sebab itu

berbagai lembaga-lembaga ekonomi dan keuangan dunia seperti World Bank dan

International Monetary Fund sangat berkepentingan terhadap penegakan corporate governance di negara-negara penerima dana karena mereka menganggap bahwa corporate governance merupakan bagian penting sistem pasar yang efisien.

Upaya pengembangan good corporate governance ditujukan untuk

mendorong optimalisasi alokasi atau penggunaan sumber daya perusahaan agar

pertumbuhan dan kesejahteraan pemilik perusahaan terjaga. Corporate governance

pada dasarnya menyangkut masalah pengendalian perilaku para eksekutif puncak

perusahaan untuk melindungi kepentingan pemilik perusahaan (pemegang saham).

Masalah ini muncul karena adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengelola

perusahaan. Pemilik sebagai pemasok modal perusahaan mendelegasikan

kewenangan atas pengelolaan perusahaan kepada professional manager. Akibatnya,

para eksekutif. Pemegang saham mengharapkan manajemen bertindak secara

profesional dalam mengelola perusahaan.

Setiap keputusan yang diambil seharusnya didasarkan pada kepentingan

pemegang saham dan resources yang ada digunanakan semata-mata untuk

kepentingan pertumbuhan (nilai) perusahaan. Meskipun demikian, yang sering terjadi

adalah bahwa keputusan yang diambil oleh manajemen tidak semata-mata untuk

kepentingan perusahaan tapi juga untuk kepentingan para eksekutif. Bahkan dalam

banyak kasus, keputusan dan tindakan yang diambil seringkali hanya menguntungkan

eksekutif dan merugikan perusahaan. Dengan kata lain, manajemen mempunyai

agenda (kepentingan) yang berbeda dengan kepentingan pemilik.

Secara umum, corporate governance merupakan sarana, mekanisme, dan

struktur yang berperan sebagai pengawasan. Pengelolaan perusahaan yang terbuka

(transparan) akan mencegah terjadinya penyimpangan yang ada di organisasi,

sehingga tujuan pencapaian kinerja dapat maksimal dicapai.

Pegawai dan perusahaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Pegawai memegang peran utama dalam menjalankan roda kehidupan perusahaan.

Apabila karyawan memiliki produktivitas dan motivasi kerja yang tinggi, maka laju

roda pun akan berjalan kencang, yang akhirnya akan menghasilkan kinerja dan

pencapaian yang baik bagi perusahaan. Di sisi lain, bagaimana mungkin roda

perusahaan berjalan baik, kalau pegawainya bekerja tidak produktif, artinya pegawai

tidak memiliki motivasi yang tinggi, tidak ulet dalam bekerja dan memiliki moril

apabila pengembangan kinerja pegawai dimulai dari peningkatan motivasi. Untuk

meningkatkan motivasi dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu mendorong

karyawan untuk bekerja dengan sebaik-baiknya. Rangsangan atau dorongan tersebut

bersifat intern dan ekstern serta harus dapat dirasakan manfaatnya yaitu dengan

merubah sikap pegawai dalam pelaksanaan tugasnya sehingga dapat dicapai hasil

yang maksimal. Dorongan yang bersifat intern merupakan dorongan yang timbul dari

dalam hati nurani masing-masing individu tanpa dipengaruhi faktor-faktor dari pihak

luar.

Oleh karena itu, dasar pertama menumbuhkan motivasi agar dapat berhasil

dan terus berkembang, tidak hanya memuaskan kebutuhan dalam hal materi saja,

namun lebih jauh adalah memenuhi kebutuhan non materi yakni kebutuhan rohani.

Dorongan yang bersifat ekstern timbul dari rangsangan dari luar individu, misalnya

dari kondisi lingkungan kerja, atau pemberian fasilitas yang diberikan kepada

pegawainya.

Khasali (2008) menyatakan seorang pemimpin haruslah mampu menjadi

motivator dan menggerakkan pegawainya. Seorang pemimpin harus menciptakan

pembaharuan dengan pemikiran-pemikirannya yang akhirnya diikuti anak buahnya.

Sedangkan Robbins (2001), menyatakan motivasi adalah kesediaan untuk

mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan

Martha (2005) menyatakan bahwa dalam memotivasi pegawainya seorang

pemimpin harus mengubah sikap dirinya sendiri, yang pada gilirannya

mengizinkannya untuk memandang orang di sekelilingnya dengan berbeda. Misalnya

sebelumnya melihat rekan kerjanya sebagai orang yang wajib melaksanakan

instruksinya, tapi sekarang melihat mereka sebagai rekan-rekan yang kompeten

dengan pengalaman dan gagasan yang bernilai. Seorang pemimpin haruslah berani

menjalin hubungan dengan orang lain dan mengetahui tentang pegawainya, dari mana

mereka berasal, tim olah raga yang paling disukai, dan hal-hal semacam itu.

Kadangkala seorang pemimpin mau duduk, bercakap-cakap selama beberapa menit,

dan benar-benar mendengarkan semua yang mereka katakan, memastikan setiap

orang memperoleh apa yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaannya.

Flipo (1992) menyatakan pemberian rangsangan motivasi kepada bawahan

dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti : (a) Motivasi tidak langsung;

merupakan kegiatan manajemen yang secara implisit mengarahkan kepada upaya

memenuhi motivasi internal serta kepuasan kebutuhan individu dalam organisasi. (b)

Motivasi langsung : merupakan pengaruh kemauan pegawai yang secara langsung

atau sengaja diarahkan kepada internal motif pegawai dengan jelas memberikan

rangsangan yang lebih terarah. (c) Motivasi negatif : merupakan kegiatan yang

disertai ancaman dan hukuman terhadap pegawai yang tidak mau atau tidak mampu

melaksanakan perintah yang diberikan. (d) Motivasi positif : merupakan kegiatan

tertentu misalnya memberikan promosi, memberikan insentif dan kondisi kerja yang

lebih baik dan sebagainya.

Keharmonisan hubungan serikat pekerja dengan manajemen dapat diartikan

sebagai adanya suatu hubungan yang selaras dan seimbang dalam ruang lingkup

pekerjaan dan entitas bisnis yang ada. Hak-hak tenaga kerja dan keberadaan serta

peran serikat pekerja. Dalam perjalanannya setiap pekerja berhak untuk membentuk

atau tidak membentuk, menjadi anggota atau tidak menjadi anggota Serikat Pekerja

atas pilihannya sendiri. Pembentukan Serikat Pekerja dilaksanakan atas

keinginan/kehendak pekerja tanpa adanya paksaan atau intervensi.

Didalam perusahaan kebebasan Serikat Pekerja dalam operasional perusahaan

harus memperhatikan terselenggaranya keseimbangan kepentingan dan tujuan antara

perusahaan dengan pekerja untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan dan

meningkatkan kesejahteraan karyawan. Tujuan pembentukan Serikat Pekerja antara

lain memberikan perlindungan kepada pekerja/karyawan, pembelaan hak dan

kepentingan anggota, peningkatan kesejahteraan anggota, dan sebagai mediator atau

penyalur aspirasi pekerja. Dengan kata lain Serikat Pekerja berfungsi sebagai pihak

dalam pembuatan Perjanjian Kerja Bersama antara pekerja dengan perusahaan,

sebagai pihak mediator dalam hal perselisihan hubungan industrial dan pemutusan

hubungan kerja, sebagai wakil pekerja dalam kelembagaan hubungan industrial,

sebagai sarana pelaksanaan hubungan industrial yang harmonis, dinamis, demokratis,

dan berkeadilan, serta sebagai perencana, pelaksana, dan penanggung jawab apabila

BAB VI

Dokumen terkait