BAB IV UPACARA ADAT DI KOMUNITAS
B. Tradisi / Perlon Udhunan
Tradisi udhunan oleh masyarakat setempat sering disebut pula
perlon udunan. Tradisi ini sudah lama dilaksnakan oleh masyarakat Pekuncen, khususnya trah Bonokeling. Udhunan adalah salah satu bahasa Jawa dari kata dasar udhun yang bermakna ”turun”. Perlon
atau upacara udhunan merupakan ungkapan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena mereka telah berhasil melampaui bulan suci Ramadhan. Jadi, upacara udhunan ada hubungannya dengan upacara unggahan. Artinya, kedua tradisi itu merupakan rangkaian dari kehadiran bulan suci Ramadan di Desa Pekuncen. Hal ini tentunya ada kaitannya dengan agama Islam yang menganggap bahwa bulan Romadhan adalah bulan yang baik untuk ”mesuh budhi”
(membersihkan diri). Pada bulan tersebut manusia khususnya umat Islam mencoba meningkatkan iman kepada Allah SWT. Selama satu bulan umat Islam berusaha meningkatkan iman (keyakinan) dengan cara menahan diri dari nafsu dan memperbanyak ibadah. Oleh karena itu, dengan selesainya mesuh budi selama satu bulan tersebut manusia merasa lahir kembali, bersih kembali sehingga perlu untuk disyukuri. Dengan kata lain, tradisi udhunan merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena telah diberi kekuatan sehingga mampu menjalankan ibadah dengan menahan hawa nafsunya selama satu bulan.
Maksud dilaksanakannya upacara udhunan adalah sebagai ungkap-an rasa hormat masyarakat Pekuncen, khususnya trah dari ungkap-anak cucu Kyai Bonokeling. Para anak cucuk dari trah Bonokeling sampai saat ini masih sangat menghormati para leluhurnya yang ada di Desa Pekuncen. Hari pelaksanaan upacara udhunan tidak jauh berbeda dengan upacara unggahan, yaitu pada hari Jum’at atau Selasa pada bulan Syawal setelah lebaran berlangsung. Kalau upacara unggahan
dilaksanakan di akhir bulan Ruwah (mendekati bulan Puasa), sedangkan upacara udhunan dilakukan setelah memasuki bulan Syawal, selesai lebaran. Bulan tersebut dianggap sebagai momen yang tepat untuk bersilaturahmi dan saling meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukannya. Dengan kata lain, upacara udhunan merupakan salah satu ajang untuk silaturahmi anak cucuk trah Bonokeling. Pada saat itu anak cucu trah Bonokeling saling bersalaman saling memaafkan atas kesalahannya.
Prosesi upacara udhunan sama seperti pada saat pelaksanaan unggahan ke makam Bonokeling. Sehari sebelum pelaksanaan upacara udhunan para anak cucu trah Bonokeling mulai mengumpulkan bahan
makanan (baik hasil bumi maupun hewan sembelihan) di rumah Kyai Kunci. Bahan makanan tersebut berasal dari anak cucu Bonokeling yang ada di wilayah Pekuncen dan sekitarnya (Banyumas). Setelah terkumpul kemudian bahan makanan tersebut kemudian dibagi dan diantarkan ke rumah para bedogol untuk dimasak esok harinya (kecuali hewan yang akan dimasak becek).
Pada hari pelaksanaan, diawali dengan penyembelihan hewan oleh Bapak Kayim. Setelah semua hewan disembelih, selanjutnya dibersihkan dengan ”air sumur suci” yang ada di sebelah timur makam Kyai Bonokeling. Selesai dibersihkan, kemudian dibawa kembali ke kombleks Bale Malang. Di sini, semua hewan tersebut dibersihkan bulunya dengan cara dibakar.
foto 18. Kambing-kambing yang tekah dibersihkan bulunya dengan cara dibakar (Dokumen pemerintah Desa Pekuncen)
Setelah dibersihkan bulunya, hewan tersebut dikeluarkan isinya dan selanjutnya dibawa ke sungai Pasir untuk dibersihkan kembali. Sekembalinya dari sungai Pasir dan dianggap sudah bersih, hewan tersebut kemudian dipotong-potong sesuai ukuran (relatif kecil) untuk dimasak gulai atau becek. Dalam memasak becek atau gulai ini semuanya dikerjakan oleh orang laki-laki.
foto 19. Para petugas sedang memotong daging kambing untuk dimasak gulai/becek
(Dokumen Pemerintah Desa Pekuncen).
Sementara perempuan memasak yang lain seperti nasi dan lauk pauk yang lain dan tempatnya terpisah. Mereka mangolah masakannya di rumah Kyai kunci dan juga para kyaibedogol sebagai pembantu kyai kunci. Setelah selesai, masakan-masakan tersebut dikumpulkan dibawa ke Balai Malang untuk dibuat nasi tumpeng atau nasi ambeng.
foto 20. Nasi ambeng yang diatasnya diberi gulai daging kambing (Dokumen Tim Peneliti)
Nasi ambeng tersebut selanjutnya diberi daging kambing yang sudah dimasak becek (gulai). Nasi ambeng tersebut juga dilengkapi lauk pauk yang dimasak oleh ibu-ibu yang diberi tugas. Lauk pauk itu dibungkus tersendiri, terpisah dari nasi ambeng. Lauk pauk berisi: kerupuk, sayu mie/bihun, serundeng, sayu kacang panjang dan lainnya sesuai dengan bahan yang dibawa oleh para anak cucu tersebut. Jadi, tidak ada kententuan yang pasti tentang lauk atau sesaji yang dibuat untuk acara udhunan itu. dengan kata lain, apa yang disajikan di saat acara tersebut bisa saja setiap tahun berganti, sesuai selera mereka yang memberi atau membawanya. Perempuan yang diberi tugas untuk memasak juga tidak sembarangan. Artinya tidak semua perempuan dari anak cucu trah Bonokeling diperbolehkan ikut kegiatan memasak tersebut. Anak cucu yang diberi tugas memasak adalah merupakan keturunan dari mereka yang dahulu juga diberi tugas tersebut. Dengan kata lain, semua kegiatan dalam rangka perlon udhunan dikerjakan oleh mereka sesuai dengan garis keturumannya masing-masing.
foto 21. Aktivitas ibu-ibu memasak untuk keperluan perlon udhunan
Pada sore hari, para anak cucu melakukan pisowanan ke makam Kyai Bonokeling. Sebelum masuk ke kompleks makam tersebut, mereka harus membersihkan diri (membasuh muka, tangan, dan kaki) terlebih dahulu di tempat yang sudah disediakan (pesucen). Setelah bersuci mereka baru diperkenankan mamsuk ke makam dengan cara antri satu per satu.
Selesai anak cucu mengadakan pisowanan di makam Kyai Bonokeling, tahap selanjutnya yaitu mbabar. Mbabar pada upacara
udhunan ini dipimpin oleh sang Kyai Kunci dengan diikuti oleh anak cucu yang ada di Pekuncen. Pada kesempatan ini sang kyai tersebut menyampaikan atau membacakan satu per satu permohonan dari para anak cucu trah Bonokeling. Tempat yang digunakan untuk mbabar
pada saat perlon udhunan tidak lagi di Bale Mangu, namun sudah turun yaitu di kompleks Bale Malang
foto 22. Peserta perlon udhunan mengikuti tahap mbabar di kompleks Bale Malang (Dokumen Pemerintah Desa Pekuncen)
Selesai mbabar yang di sampaikan oleh Bapak Kyai Kunci, tahap selanjutnya yaitu tahap terakhir. Tahap terakhir dari perlon udhunan
mereka (kyai bedogol) yang diberitugas oleh Kyai Kunci. Para anak cucu trah Bonokeling kemudian makan bersama di kompleks Bale Malang tersebut. Mereka makan tidak menggunakan peralatan seperti piring dan sendok, tetapi memakai daun jati sebagai alas yang sudah disediakan oleh petugas. Dengan dibacakannya doa dan makan bersama maka berakhirlah rangkaian upacara udhunan trah Banakeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas.
foto 23. Acara makan bersama di kompleks Bale Malang (Dokumen Pemerintah Desa Pekuncen)
Upacara atau perlon udhunan hanya diikuti oleh mereka yang tinggal di wilayah Pekuncen dan sekitarnya. Oleh karena itu, peserta upacara udhunan tidaklah sebanyak pada upacara unggahan yang diikuti oleh para anak cucu dari berbagai wilayah di luar Kabupaten Banyumas. Upacara udhunan, walaupun tidak ada ketentuan yang pasti, namun ini sudah tradisi dari sejak dahulu.
Pelaksanaan upacara udhunan ini tentunya mempunyai makna yang cukup dalam bagi trah Bonokeling. Upavara tersebut sebagai ungkapan rasa syukur mereka kepada leluhurnya dan Tuhan Yang Maha Kuasa, karena telah memberikan keselamatan sehingga dapat
melampaui bulan suci Ramadhan dengan baik. Selain itu, adanya tradisi tradisi tersebut juga dapat meningkatkan hubungan sosial, yaitu rasa solodaritas sesama anggota trah Bonokeling. Mempererat hubungan batin di antara anggota sehingga dapat mempertahankan eksistensi trah Bonokeling di Banyumas, khususnya di Desa Pekuncen sebagai pusat dari komunitas adat tersebut.