• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.2 SELAMETAN PADA SUKU JAWA SUMATERA

2.2.2 Tradisi Selametan Pada Suku Jawa Sumatera

Masyarakat Jawa sangat dikenal dengan keberagaman kebudayaannya yang sampai saat ini masih terlaksana. Keberadaan mereka pada umumnya akan ditunjukkan dengan adanya tradisi yang mereka lakukan. Sama halnya seperti masyarakat Jawa yang melakukan transmigrasi ke daerah Sumatera yang masih melakukan tradisi daur hidup atau yang disebut dengan selametan. Selametan merupakan tradisi yang sangat mendarah daging bagi masyarakat Jawa dikarenakan mereka percaya bahwa selametan lambang kesatuan serta memiliki arti yang berupa permohonan untuk suatu keselamatan.

Keberagaman suku dalam satu lingkungan menjadi penyebab utama terjadinya akulturasi. Serupa dengan masyarakat Jawa Sumatera pada saat ini yang tetap melaksanakan tradisi selametan namun sudah tidak sesuai seperti tradisi selametan di Jawa. Geertz mengatakan bahwa masyarakat Jawa pada umumnya melaksanakan tradisi selametan dengan tujuan spiritual dan solidaritas sosial. Spiritual bermakna harmonisasi antara kedua kekuatan natural dan supranatural, dan solidaritas merupakan kesadaran kolektif.

Masyarakat Jawa Sumatera saat ini melakukan tradisi selametan dengan tujuan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Rangkaian acara tradisi

selametan juga mengundang sanak saudara serta tetangga untuk berkumpul dan melakukan doa-doa.

Tampak dari penjelasan diatas bahwa tradisi selametan yang diungkap oleh Geertz sudah sangat berbeda dengan tradisi selametan yang dilakukan saat ini. Saat ini masyarakat lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta, dan tidak lagi memanggil roh-roh yang telah tiada. Pendekatan supranatural telah dihilangkan dari tradisi selametan Jawa Sumatera.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 METODE MIXED-DESIGN

Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah mixed-method design (campuran) merupakan strategi penelitian yang mengkombinasi antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Hal ini diawali dengan survei yang luas untuk menggeneralisasi hasil untuk populasi dan kemudian ditahap selanjutnya pada kualitatif yang dilakukan dengan wawancara terbuka. Salah satu bentuk penelitian yang menggunakan metode campuran adalah bentuk Indigenous Psychology.

3.2 PENDEKATAN INDIGENOUS PSYCHOLOGY

Indigenous merupakan salah satu bentuk penelitian yang menggunakan kedua

sumber data, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif yang digunakan termasuk catatan lapangan, wawancara pribadi, dan focus group discussion (FGD).

Sedangkan metode kuantitatif yang digunakan termasuk diantaranya menghitung presentase data kualitatif untuk melihat gambaran tentang penyebaran keberagaman yang diperoleh dari data.

Indigenous Psychology merupakan studi ilmiah tentang perilaku atau pikiran manusia yang asli, tidak berasal dari daerah yang lain dan dirancang untuk masyarakat daerah tersebut (Kim & Berry, 1993). Indigenous Psychology ini

mendukung pembahasan mengenai pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan yang dimiliki seseorang dan akan mengkaji aspek-aspek tersebut dalam kontek yang ada.

Teori, konsep, dan metodenya dikembangkan secara indigenous yang disesuaikan dengan fenomena psikologi yang kontekstual. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan ilmu pengetahuan yang tepat, sistematis, universal secara teoritis maupun empiris.

3.3 METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan Indigenous Psychology yang mengarahkan penelitian pada perilaku dan orang-orang dalam lingkungan Indigenous Psychology (Kim & Berry, 1993).

3.3.1 Karakteristik Subjek Penelitian dan Team Penilai

Subjek penelitian dan lima (5) orang penilai yang digunakan dalam penelitian ini harus memenuhi kriteria kriteria yang telah ditentukan, yaitu:

1. Orang Jawa yang bertempat tinggal di Sumatera Utara

2. Orang Jawa yang melaksanakan tradisi selametan.

3.3.2 Jumlah Subjek

Jumlah subjek penelitian yang akan digunakan adalah sebanyak 113 orang.

3.3.3 Pengumpulan Data

Langkah pertama prosedur penelitian adalah dengan membuat pertanyaan open ended yang akan diberikan kepada subjek penelitian sebagai

instrument penelitian. Instrument penelitian dibuat dengan bentuk open-ended karena berguna untuk memberikan Jawaban yang luas atau respon dimana pertanyaannya tidak memeiliki Jawaban khusus (Kim & Park, 2006).

Selanjutnya, Jawaban dari instrumen penelitian akan dikategorikan berdasarkan kata kunci yang dianggap sama oleh 5 orang penilai yang telah diarahkan. Kategori-kategori ini nantinya digunakan sebagai dasar analisis deskriptif.

3.3.4 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di berbagai tempat. Pengambilan data dilakukan di Kota Medan, Kota Binjai, Dan Kota Sidikalang. Diskusi serta pengkategorian data antara peneliti dengan penilai dilakukan di salah satu rumah tim penilai. Pemprosesan data dan hasil data lapangan dilakukan di rumah peneliti.

3.3.5 Alat Bantu Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data penelitian, peneliti meminta beberapa bantuan, yaitu:

1. Bantuan beberapa masyarakat Jawa untuk mengelompokkan data lapangan sebagai penilai.

2. Lembar instrumen dan identitas subjek.

3.4 PROSEDUR PENELITIAN 3.4.1 Tahap Persiapan Penelitian

Dalam melakukan penelitian terdapat beberapa tahapan yang harus diperhatikan, yaitu :

1. Peneliti melihat fenomena yang terjadi di masyarakat yang dalam penelitian ini adalah budaya selametan pada masyarakat Jawa.

2. Peneliti melihat penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan penelitian mengeai budaya selametan.

3. Peneliti merangkum teori yang dihubungkan dengan budaya selametan sebagai teori pendukung untuk penelitian. Peneliti menyusun pertanyaan terbuka yang berhubungan dengan budaya selametan sebagai instrument penelitian untuk mengumpulkan data. Pertanyaan tersebut disusun oleh peneliti serta dosen pembimbing berdasarkan hal yang berhubungan dengan budaya selametan yang diperoleh dari studi-studi dan diskusi dengan dosen pembimbing. Dari studi dan diskusi tersebut disusun pertanyaan terbuka.

1. Apa arti tradisi selametan bagi Bapak/Ibu?

2. Mengapa Bapak/Ibu melakukan tradisi selametan?

3. Apa yang Bapak/Ibu dapatkan dari pelaksanaan tradisi selametan?

4. Bagaimana cara melakukan tradisi selametan?

4. Peneliti bekerja sama dengan beberapa orang dalam penyebaran lembar pertanyaan untuk pengumpulan data.

5. Peneliti bekerja sama dengan beberapa orang Jawa sebagai penilai data.

3.4.2 Tahap Pelaksanaan Penelitian

Pada tahap pelaksanaan penelitian ini dilakukan dengan dua tahapan yaitu pengumpulan data dan kategorisasi data. Pengumpulan data dilakukan pada akhir Januari 2018 yang dilakukan setelah instrument penelitian yang berupa open-ended questionnaire. Instrument penelitian ini berisi 4 pertanyaan terbuka yang disusun untuk dapat menjelaskan makna budaya selametan. Penyebaran dilakukan dengan metode snow-ball sampling, yaitu suatu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi, memilih dan mengambil sampel dalam suatu jaringan atau rantai hubungan yang menerus (Nurdiani, 2014). Partisipan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah orang Jawa. Penyebaran instrument sebagai proses pengumpulan data dilakukan di Kota Medan, Kota Binjai, dan Kota Sidikalang.

Mayoritas partisipan berasal dari Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.

Setelah data terkumpul semua, tahap selanjutnya adalah melakukan tabulasi data dengan cara menyalin seluruh respon partisipan kedalam computer agar respon pasrtisipan dapat dengan mudah dianalisis. Data yang telah tersaji dalam computer adalah hasil dari rangkaian proses pada tahapan pengumpulan data.

Tahapan selanjutnya adalah kategorisasi. Pada penelitian ini, kategorisasi dilakukan oleh 5 orang penilai. Sebelumnya dilakukan focus

group discussion antara peneliti dengan penilai. Focus group discussion adalah bentuk diskusi yang didesain untuk memunculkan informasi mengenai keinginan, kebutuhan, sudut pandang, kepercayaan dan pengalaman yang dikehendaki peserta (Paramita & Kristiana, 2013). Diskusi yang dilakukan fokus mengenai langkah-langkah dan tujuan kategorisasi sehingga peneliti menjadi pengendali utama dalam diskusi. Peneliti menjelaskan bahwa penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran suatu budaya yaitu budaya selametan. Dalam hal ini penilai diperlukan untuk memilah data yang telah ada sehingga didapatkan kelompok-kelompok data sebagai salah satu hasil penelitian. Peneliti juga menjelaskan alasan 5 orang penilai dipilih karena memiliki latar belakang yang mirip dengan karakteristik latar belakang subjek penelitian sehingga dapat lebih memahami data yang didapatkan dan memudahkan dalam mengelompokkannya. Selanjutnya peneliti menjelaskan bahwa peneliti akan membagikan lembaran-lembaran respon dari subjek penelitian. Kemudian dilanjutkan dengan kategorisasi, yaitu mengumpulkna respon yang dianggap sama ke dalam kategori. Setelah selesai penilai memberikan hasil dari proses tahapan kategorisasi data.

Tahap selanjutnya yang dilakukan peneliti adalah proses analisis data.

dari hasil kategorisasi peneliti menemukan temuan penelitian, dimana temuan tersebut dijelaskan serta dipaparkan dengan tujuan agar lebih mudah dimengerti.

Dalam melaksanakan penelitian ini, peneliti mengalami beberapa kendala. Pertama, pada saat pegambilan data, peneliti kesulitan menemui setiap subjek dikarenakan subjek bekerja seharian. Kedua, peneliti kesulitan karena harus menulis kembali ucapan atas respon pertanyaan dari kuesioner yang terutama pada orang tua.

BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini, akan dibahas mengenai keseluruhan hasil penelitian dari data yang telah diperoleh. Pembahasan meliputi gambaran umum subjek penelitian, hasil penelitian, temuan penelitian serta pembahasan mengenai temuan utama maupun temuan tambahan penelitian lainnya.

4.1 GAMBARAN PENELITIAN

Partisipan dalam penelitian ini adalah orang yang bersuku Jawa yang telah berpindah tempat tinggal dari pulau Jawa dan menetap di daerah Sumatera Utara.

Sebanyak seratus tiga belas (113) partisispan ini diperoleh dari penyebaran instrument penelitian di Medan, Binjai, dan Sidikalang.

Rincian demografi partisipan dapat dilihat pada table 4.1.

Tabel 4.1 Data Demografi Partisipan

Jumlah Persentase

Usia

21-30 tahun 19 16,814

31-40 tahun 55 48,672

41-50 tahun 26 23,008

>50 tahun 13 11,500

Suku Jawa 113 100

Asal Perantauan

Pulau Jawa 42 37,168

Pulau Sumatera 71 62,831

Tempat Tinggal Pulau Sumatera 113 100

4.2 HASIL PENELITIAN

4.2.1 Kategorisasi Berdasarkan Aitem

Hasil penelitian merupakan hasil yang didapatkan dari sebuah penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti. Pada penelitian ini, hasil penelitian yang didapatkan berupa respon-respon yang telah dikategorisasi.

a. Hasil Kategorisasi pada aitem satu

Kategorissi yang dilakukan pada respon-respon aitem pertama (“Apa arti tradisi selametan bagi Bapak/Ibu?”), ditemukan 3 kategori.

Berikut hasil persentase kategorisasinya.

Tabel 4.2 Kategorisasi Aitem Satu

Jumlah Persentase

Ungkapan syukur 85 75,221

Doa selametan hidup 23 20,354

Hajatan yang dilakukan 5 4,424

Jumlah 113 100

Dari tabel diatas tampak bahwa sebagian besar partisipan (75.2%) menganggap bahwa arti tradisi selametan adalah sebagai ucapan syukur yang didapatkan dari hasil jawaban uangkapan rasa syukur kepada Allah SWT, menunjukkan rasa syukur. (20,3%) mengatakan sebagai doa untuk mendapatkan keselametan yang didapatkan dari hasil jawaban memohon diberi keselamatan hidup, sebagai doa keselamatan serta ungkapan syukur, dan sisanya menyatakan bahwa selametan adalah bentuk hajatan yang didapatkan dari hasil jawaban syukuran yang wajib dilakukan. Selain itu ada juga yang mengangkapkan bahwa selametan sebagai bentuk rasa syukur pada nenek moyang.

b. Hasil Kategorisasi pada aitem dua

Kategorissi yang dilakukan pada respon-respon aitem kedua (“Mengapa Bapak/Ibu melakukan tradisi selametan?”), ditemukan 3 kategori. Berikut hasil persentase kategorisasinya.

Tabel 4.3 Kategorisasi Aitem Dua

Jumlah Persentase

Ajaran Budaya 108 95,575

Syukur 4 3,540

Silaturahmi 1 0,884

Jumlah 113 100

Dari tabel diatas diketahui bahwa lebih dari (95%) dari para partisipan melakukan selametan dengan alasan karena hal itu adalah tradisi atau ajaran budaya yang didapatkan dari hasil jawaban partisispan

“mengikuti tradisi budaya, melestarikan budaya. Kurang dari (5%) yang melakukan selametan dengan alasan mengungkapkan rasa syukur ataupun silaturahmi yang didapatkan dari hasil jawaban partisipan “sebagai bentuk rasa syukur, dan untuk menjaga silaturahmi.

c. Hasil kategorisasi pada aitem tiga

Kategorissi yang dilakukan pada respon-respon aitem ketiga (“Apa yang Bapak/Ibu dapatkan dari pelaksanaan tradisi selametan?”), ditemukan 4 kategori. Berikut hasil persentase kategorisasinya.

Tabel 4.4 Kategorisasi Aitem Tiga

Jumlah Persentase

Anugerah 55 48,672

Keselametan Hidup 23 20,353

Hubungan Silaturahmi 22 19,469

Perasaan Damai 13 11,504

Jumlah 113 100

Dari tabel diatas diketahui bahwa para partisipan mendapat manfaat yang berbeda-beda dari tradisi selametan, dan jawaban mereka cukup bervariasi. Mayoritas (48.6%) mengatakan bahwa mereka percaya dengan mengadakan tradisi selametan mereka mendapatkan anugerah yang didapatkan dari hasil jawaban partisipan “kebahagiaan, berkah, dan karunia”. (20.3%) dari partisipan percaya dengan melaksanakan selametan mereka mendapat keselametan seperti yang dikatakan pasrtisispan “mendapat keselamatan serta perlindungan dari marabahaya”.

Sementara sisanya menjawab hubungan silaturrahmi (19.4%), dan perasaan puas atau damai (11.5%).

d. Hasil kategorisasi pada aitem empat

Kategorissi yang dilakukan pada respon-respon aitem keempat (“Bagaimana cara melakukan tradisi selametan?”), ditemukan 2 kategori. Berikut hasil persentase kategorisasinya.

Tabel 4.5 Kategorisasi Aitem Empat

Jumlah Persentase

Berkumpul, berdoa, dan makan bersama

107 94,690

Bersedekah 6 5,309

Jumlah 113 100

Dari tabel diatas tampak bahwa cara melakukan tradisi selametan menurut 94.6% partisipan adalah dengan berkumpul, berdoa, dan makan bersama, yang ditunjukkan dari hasil jawaban partisispan “berkumpul bersama dan berdoa bersama, mengundang saudara serta tetangga dan dilanjut dengan doa dan makan bersama. Namun ada pula sebagian kecil (5.3%) yang melakukan tradisi selametan dengan cara yang sedikit berbeda, yaitu dengan dengan mengundang anak yatim dan fakir miskin lalu berkumpul, berdoa, dan kemudian makan bersama seperti selametan

pada umumnya. Selain itu ada juga yang mengungkapkan bahwa “berdoa dan mempersembahkan makanan untuk nenek moyang”.

4.2.2 Kategorisasi Berdasarkan Hasil Kategorisasi Peraitem

Setelah dilakukan kategorisasi per aitem, selanjutnya adalah memilih kategorisasi yang memiliki jumlah persentase tertinggi dari setiap aitem. Dari 12 kategorisasi awal yang terbentuk, terdapat 4 kategorisasi yang memiliki jumlah persentase tertinggi. Berikut merupakan kategorisasi yang memiliki persentase tertinggi dari setiap aitem.

Tabel 4.6 Kategorisasi persentase tertinggi dari setiap aitem

Jumlah Persentasi

Ungkapan syukur 85 23,943

Ajaran Budaya 108 30,422

Anugerah 55 15,492

Berkumpul, berdoa, dan makan bersama

107 30,140

Jumlah 355 100

Berdasarkan tabel kategorisasi, dapat diketahui bahwa makna tradisi selametan pada masyarakat suku Jawa di Sumatera bagian Utara yang tertinggi adalah dengan berkumpul, berdoa, dan makan yang dilakukan dengan bersama-sama. Makna tradisi selametan digambarkan secara berurutan berdasarkan persentasenya pada diagram 4.1.

Diagram 4.1 Makna Tradisi Selametan Pada Masyarakat Suku Jawa Sumatera Utara

4.3 PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

4.3.1 Makna Tradisi Selametan Pada Masyarakat Suku Jawa Sumatera Dengan Spiritual Dan Solidaritas

Pada pendahuluan penelitian, disebutkan bahwa beberapa peneliti menganggap teori spiritual dan teori solidaritas dapat menggambarkan makna

0

Tradisi Selametan pada Masyarakat Suku Jawa Sumatera Utara

selametan. Namun, setelah dilakukan penelitian ini, terlihat ada beberapa hal sama dan berbeda dengan teori tersebut. Pembahasan mengenai perbandingan antara makna tradisi selametan dengan teori spiritual dan teori solidaritas akan dijelaskan satu per satu di bawah ini.

4.3.1.1 Pembahasan Makna Tradisi Selametan Pada Masyarakat Suku Jawa Sumatera Dengan Spiritual

Pada kajian telah dibahas bahwa makna selametan dapat dijelaskan dengan teori spiritual. Spiritual memiliki cakupan untuk kesatuan, untuk keterhubungan, transendensi, yang merupakan potensi tertinggi yang dimiliki setiap manusia. Hal ini serupa dengan hasil penelitian ungkapan syukur yang lebih mengarah pada transendensi yang masyarakat percayai sebagai sang pencipta. Berdoa juga merupakan cara masyarakat mendekatkan diri kepada sang pencipta.

Dimensi dari spiritual yaitu dimensi vertikal yang merupakan hubungan dengan pencipta yang menuntun kehidupan seseorang. Dimensi ini mirip dengan kategori persentase makna selametan yang didapatkan dari penelitian ini yaitu pada kategori (1) ungkapan syukur. Pada makna selametan, ungkapan syukur dilakukan dengan tradisi selametan yang menuntun seseorang lebih dekat kepada sang penciptanya. Sedangkan dimensi horizontal adalah hubungan seseorang dengan diri sendiri dengan orang lain dan dengan lingkungan. Dimensi ini mirip dengan kategori persentase makna selametan yang didapatkan dari penelitian ini yaitu pada

kategori (4) berkumpul, berdoa, dan makan bersama. Pada makna selametan, berkumpul, berdoa, dan makan bersama merupakan bentuk dalam pelaksanaan tradisi yang bertujuan untuk menyatukan individu dengan orang lain.

Walaupun dari hasil kategorisasi persentase terlihat sama dengan teori dimensi spiritual, namun teori spiritual tidak bisa seutuhnya dianggap sama dengan makna selametan. Karena dalam makna selametan kategori persentasi pada nomor (2) ajaran budaya dan (3) anugerah tidak dapat dijelaskan pada teori spiritual. Teori spiritual lebih menjelaskan pada tujuan serta hubungan individu dengan penciptanya dan individu dengan individu lainnya. Sedangkan dalam makna selametan, ajaran budaya merupakan hal yang digunakan sebagai alasan melakukan selametan serta anugerah merupakan imbalan yang akan didapatkan setelah melakukan selametan.

4.3.1.2 Permbahasan Makna Tradisi Selametan Pada Masyarakat Suku Jawa Sumatera Dengan Solidaritas Sosial.

Selain dengan teori spiritual, teori solidaritas sosial juga dianggap sama dengan makna selametan. Solidaritas sosial dibagi kedalam dua tipe, yaitu mekanis dan organis. Solidaritas sosial mekanis lebih mencerminkan ikatan sosial, utamanya kepercayaan bersama, cita-cita, dan komitmen moral. Tipe solidaritas sosial mekanis memiliki kemiripan dengan hasil penelitian kategorisasi persentase yaitu (2) ajaran budaya (4) berkumpul,

berdoa, dan makan bersama. Pada makna selametan, ajaran budaya, berkumpul, berdoa, dan makan bersama merupakan cerminan dalam ikatan sosial, dimana ajaran serta hal yang dilakukan bersama-sama dalam tradisi selametan akan menyatukan setiap individu. Sedangkan solidaritas sosial organis lebih mencerminkan individu bertahan dalam satu kelompok dikarekan adanya kebutuhan masing-masing saja. Tipe solidaritas sosial organis kurang dapat menjelaskan makna selametan dikarenakan pada hasil penelitian kategorisasi persentase rata-rata individu menunjukkan hal yang selaras dalam melakukan tradisi selametan.

Walaupun dua dari empat kategorisasi dapat dijelaskan dengan teori solidaritas sosial, namun hal ini tidak dapat sepenuhnya menjelaskan makna selametan. Kategorisasi persentase (1) ungkapan syukur tidak bisa dijelaskan dalam solidaritas, dikarenakan ungkapan syukur adalah cara individu berterimakasih kepada yang diyakini. Dan kategorisasi persentasi (3) anugerah merupakan imbalan yang akan di dapatkan.

4.3.2 Hasil Penelitian Makna Tradisi Selametan Pada Masyarakat Suku Jawa Sumatera

Dari proses kategorisasi dihasilkan 4 (empat) kategori yang menjadi karakteristik makna tradisi selametan, yaitu (1) Ungkapan syukur, (2) Ajaran Budaya, (3) Anugerah, dan (4) Berkumpul, berdoa, dan makan bersama.

Kategori satu (1) ungkapan syukur merupakan bentuk dari makna tradisi selametan yang dilakukan masyarakat Jawa di Sumatera bagian Utara.

Ungkapan syukur yang dilakukan masyarakat Jawa Sumatera bagian Utara umumnya ditujukan kepada sang pencipta yang masyarakat percayai sebagai Tuhan. Hal ini sama dengan pendapat Geerzt yang mengatakan bahwa kaum santri melakukan tradisi selametan yang percaya kepada Allah STW. Selain itu dua (2) dari 113 pasrtisipan juga percaya bahwa ungkapan syukur bukan hanya pada Tuhan tetapi pada nenek moyang juga, hal ini mungkin sama dengan penelitian Geertz yang mengatakan bahwa kaum abangan percaya kepada roh-roh dalam praktik selametan. Tetapi pada umumnya, arti tradisi selametan pada masyarakat Jawa Sumatera lebih kepada ungkapan syukur yang tujukan kepada Allah SWT.

Kategori dua (2) ajaran budaya merupakan alasan masyarakat Jawa Sumatera bagian Utara untuk melakukan tradisi selametan. Dengan adanya ajaran budaya masyarakat bisa menciptakan ikatan kesatuan yang ada dalam masyarakat Jawa Sumatera. Hal ini berbeda dengan masyarakat Jawa yang berada di pulau Jawa yang menganggap bahwa setiap apapun yang terjadi dalam hidup harus dilakukan tradisi selametan. Jadi selametan yang dilakukan di pulau Jawa sudah sangat mendarah daging pada diri mereka. Sementara masyarakat Jawa yang berada di Sumatera menganggap melakukan selametan atas dasar ajaran yang diterapkan dalam budaya.

Kategori tiga (3) anugerah yang diungkapkan oleh masyarakat Jawa Sumatera meliputi atas kebahagian, kesenangan, serta berkah. Anugerah dianggap sebagai bentuk balasan yang didapatakan dari pelaksanaan tradisi selametan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Sumatera. Selain anugerah, keselamatan dan hubungan silaturahmi juga akan didapatkan masyarakat suku Jawa Sumatera dalam melaksanakan tradisi Selametan. Gauthama & Alkadri (2003) mengatakan bahwa selametan ditujukan agar tidak ada gangguan apapun didalam kehidupan manusia, seperti yang terdapat dalam falsafah Jawa yaitu memayu hayuning bawana yang memiliki arti kebebasan dari rasa ketakutan, kemiskinan, kelaparan, kekurangan, dan perdamaian. Hal diatas menunjukkan bahwa hal yang akan didapatkan dari tradisi selametan pada masyarakat Jawa yang berada di pulau Jawa dengan masyarakat Jawa Sumatera tidak jauh berbeda. Karena pada umumnya ketika seseorang melakukan suatu hal yang berorientasi pada Tuhan makan akan merasakan kenyamanan, damai, bahagia, dan juga kesejahteraan secara psikologis Dahlenburg (1999).

Kategori empat (4) berkumpul, berdoa, dan makan bersama merupakan bentuk atau cara yang dilakukan dalam tradisi selametan. Dengan mengundang para tetangga ataupun sanak saudara tradisi baru akan dilakukan.

Diawali dengan membaca ayat-ayat suci Al-qur’an secara bersama-sama kemudian melakukan doa yang di pimpin oleh satu orang dan diakhiri dengan

jeda. Pada saat jeda biasanya para tamu akan melakukan perbincangan-perbincangan. Kategori sedekah juga diungkap sebagai cara melakukan selametan. Sedekah yang dilakukan dengan membagikan rezeki kepada orang yang dianggap kurang mampu. Dalam hal ini sebenernya tujuan dari pelaksanaan tradisi selametan yaitu bersedakah, namun dalam penerapan sudah berbeda-beda yang dilakukan masyarakat Jawa Sumatera. Selain hal diatas, berdoa dan mempersembahkan makanan untuk nenek moyang kita adalah cara beberapa orang Jawa Sumatera dalam melakukan tradisi selametan. Pemberian persembahan terhadap nenek moyang dianggap serupa dengan pendapat yang diungkapkan oleh Geertz bahwa masyarakat Jawa kaum abangan mempersembahkan makanan serta hal lainnya kepada roh-roh.

Tetapi pada umumnya masyarakat Jawa Sumatera melakukan tradisi selametan hanya dengan berkumpul, berdoa, dan makan bersama.

4.3.3 Pembahasan Makna Tradisi Selametan Pada Masyarakat Suku Jawa Dengan Hasil Penelitian Lainnya

Pada hasil penelitian (Darmoko, 2002) yang berjudul ruwatan:

upacara pembebasan malapetaka tinjauan sosiokultural masyarakat Jawa.

Dikatakan dalam pelaksanaan upacara ruwatan adanya situasi dan kondisi sacral, yaitu pembacaan mantra-mantra oleh dalang disertai sesajen dan pembakaran kemenyan, juga bunyi-bunyian gamelan, yang akan memunculkan daya magic tinggi. Hal ini pada dasarnya untuk mengadakan

kontak/hubungan dengan dunia supranatural (gaib). Penelitian lain yang berjudul pergeseran nilai-nilai religius kenduri dalam tradisi Jawa oleh masyarakat perkotaan, juga mengatakan bahwa dalam suatu tradisi kenduri tidak pernah lepas dari perlengkapan serta sesaji yang beragam.

Perlengkapan-perlengkapan tersebut memiliki makna serta nilai filosofis yang

Perlengkapan-perlengkapan tersebut memiliki makna serta nilai filosofis yang

Dokumen terkait