BAB IV. KONTEKSTUALISASI ISTILAH RIBA
F. Transaksi-transaksi yang mengandung unsur riba
Dalam penjelasan sebelumnya bahwa dalam urusan ibadah, kaidah hukum yang berlaku adalah bahwa semua hal dilarang, kecuali yang ada ketentuan berdasarkan Al-Qur‟an dan sunnah, sedangkan dalam urusan muamalah, semuanya diperbolehkan kecuali ada dalil yang melarangnya. Penyebab terlarangnya sebuah transaksi adalah disebabkan faktor-faktor, sbb:
1. Haram zatnya (haram li dzâtihi)
Transaksi diharamkan karena objek/barang dan atau jasa yang ditransaksikan juga haram seperti minuman keras, bangkai daging babi dan sebagainya. Jadi, transaksi jual-beli minuman keras adalah haram meskipun akad jual-belinya sah. Dengan demikian, jika ada nasabah yang mengajukan pembiayaan pembelian minuman keras kepada bank dengan menggunakan akad murabahah, maka walaupun akadnya sah tetapi transaksinya ini menjadi dilarang karena objek transaksinya haram.
2. Haram selain zatnya (haram li ghairih)
Dalam hal ini, Adiwarman A. Karim menyebutkan, bahwa yang dimaksud adalah diantaranya melanggar prinsip “‟an tarâdhin minkum” seperti tadlis (penipuan), baik dalam kuantitasnya, kualitasnya, harga dan waktu penyerahan. Dan yang kedua adalah melanggar prinsip “lâ
tadzlimûn wa lâ tudzlamûn” seperti taghrir,35 ikhtikar, bai‟ najasy, riba,
35
Taghrir atau gharar adalah istilah dalam kajian hukum Islam yang berarti keraguan, tipuan atau tindakan yang bertujuan untuk merugikan orang lain. Gharar dapat berupa suatu akad yang mengandung unsur penipuan karena tidak adanya kepastian, baik mengenai ada atau tidaknya objek akad, besar kecilnya jumlah, maupun kemampuan menyerahkan objek yang disebutkan di dalam akad tersebut. (Dahlan, Abdul Aziz, Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996. hal.399). secara operasional gharar bisa diartikan kedua belah pihak dalam transaksi tidak memiliki kepastian terhadap barang yang menjadi objek transaksi baik terkait kuantitas, kualitas, harga dan waktu penyerahan barang sehingga pihak kedua dirugikan. (Adiwarman A. Karim dan Oni Sahroni. Riba, Gharar dan Kaidah-Kaidah Ekonomi Syari‟ah: Analisis Fikih dan Ekonomi, Depok: PT RajaGrafindo Persada, hal.77)
maysir dan risywah.36 Adapun maqhashid (tujuan) dari dilarangnya gharar agar tidak ada para pelaku akad yang dirugikan, karena tidak memperoleh haknya. Dan demi mencegah terjadinya perselisihan dan permusuhan diantara para pelaku akad.
3. Tidak sah atau tidak lengkap akadnya
Dalam sebuah transaksi dapat menjadi batal atau tidak sempurna akadnya jika terjadi salah satu atau lebih ciri-ciri berikut ini: tidak terpenuhi rukun dan syaratnya, terjadi ta‟alluq, dan terjadi “two in one”.
a. Pada umumnya rukun dalam muamalah ada tiga (pelaku, objek, ijab-kabul/akad). Dalam pembahasan terkait dengan kesepakatan ini, maka akad mungkin menjadi tidak sah jika terdapat kesalahan atau kekeliruan objek, paksaan dan penipuan.
b. Ta‟alluq terjadi jika dikaitkan pada dua akad yang saling berhubungan. Maka berlaku nya akad 1 tergantung akad dua, contohnya si A menjual barang kepada si B dengan syarat si B harus menjual kembali barang itu. Dalam kasus ini, disyaratkan bahwa akad pertama berlaku efektif jika akad 2 dilaksanakan. Penerapan syarat ini mencegah terpenuhinya rukun.
c. “Two in one” adalah keadaan dimana sebuah transaksi diikuti oleh dua akad sekaligus sehingga terjadi sesuatu yang tidak pasti mengenai akad mana yang diberlakukan. Hal ini terjadi jika objek sama, pelaku sama dan jangka waktu yang sama. Dalam hal ini pula terjadi gharar/ketidakpastian dan ketidakjelasan akad mana yang berlaku.
Akad dalam muamalah telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan sesuai dengan perkembangan manusia dari waktu ke waktu. Menurut Hasbi Asshiddiqy dalam bukunya, Pengantar Fiqh Muamalah menyatakan bahwa hal penting yang harus ada dalam akad disebut
36
Perbedaan tadlis dan taghrir adalah bahwa dalam tadlis, yang terjadi adalah pihak A tidak mengetahui apa yang diketahui pihak B, sedangkan dalam taghrir, baik pihak A maupun pihak B sama-sama tidak memiliki kepastian mengenai sesuatu yang ditransaksikan, gharar ini terjadi bila kita memperlakukan sesuatu yang seharusnya bersifat pasti (certain) menjadi tidak pasti (uncertain). ikhtikar adalah rekayasa pasar dalam supply, mengupayakan adanya kelangkaan barang baik dengan menimbun stok, menjual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga sebelum langka, dan mengambil untung terlalu tinggi. Bai‟ najasy adalah rekayasa pasar dalam demand, yaitu jika seorang produsen menciptakan permintaan palsu, seolah-olah ada banyak permintaan terhadap suatu produk sehingga harga jual produk itu akan naik. Maysir adalah perjudian yaitu suatu permainan yang menempatkan salah satu pihak harus menanggung beban pihak yang lain akibat permainan tersebut. Risywah atau suap menyuap yaitu memberi sesuatu kepada pihak lain untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya. (Adiwarman A. Karim, Bank Islam: Analisis Fikih dan Keuangan, …, hal.32-35)
sebagai rukun. Adapun rukun akad yakni, „aqid (pelaku akad), mahal al‟aqd/ma‟qud alaih (objek), dan ijab-qabul/shighah al-„aqd (yaitu ucapan atau perbuatan yang mengisyaratkan kehendak kedua belah pihak). Walaupun dalam melaksanakan ijab-qabul itu sebagian ahli fikih menekankan bahkan diantaranya mewajibkan secara lisan, akan tetapi secara umum diperbolehkan dengan cara kitâbah (tulisan), isyarat, maupun dengan ta‟thi (saling memberi, seperti dalam transaksi swalayan).37
Sayyid Sabiq menyatakan bahwa sebuah akad dapat menjadi batal jika terdapat paksaan (ikrah), ajakan yang menipu (khilabah), adanya salah sangka (ghalath), dan cacat yang muncul belakangan (ikhtilath at-tanfiz). Menurutnya jika ada cacat dalam akad itu maka pihak pelaku akad berhak memilih meneruskan atau membatalkan akad.38
Dalam akad terdapat 2 macam yaitu akad tabarru‟ dan akad tijarah (social dan komersial). Jika akad tabarru‟ sudah disetujui maka tidak bisa langsung berpindah menjadi akad tijarah terkecuali atas persetujuan para pelaku akad. Oleh karena itu, dalam akad tabarru‟ (sosial) tidak diperbolehkan meminta imbalan/tambahan. Sedangkan dalam akad tijarah (komersil) diperbolehkan meminta imbalan. Begitupula jika akad ijarah sudah disepakati maka boleh diubah menjadi akad tabarru‟. Contoh akad tabarru‟ adalah hadiah, hibah, wakaf, sedekah dan lain-lain yang sifatnya untuk menolong atau untuk kepentingan social. Sedangkan contoh akad tijarah adalah investasi, sewa menyewa, jual-beli dan lain-lain yang sifatnya mendapatkan keuntungan dan bisnis.39
Dengan demikian, dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam konteks sekarang, bunga dapat dikatakan riba jika: 1) mengandung unsur kezaliman/eksploitasi, karena riba dapat dikategorikan sebagai transaksi yang bersifat eksploitatif dengan mengambil untung besar secara tidak wajar, 2) disyaratkan diluar akad/kesepakatan yang pertama (setelah jatuh tempo), Karena hal itu dapat menimbulkan perselisihan antara kedua belah pihak. Sebagaimana ketika turunnya ayat-ayat riba, yaitu yang terjadi pada masa Jahiliyah, 3) mengandung unsur gharar/ketidakjelasan, yaitu tidak memiliki kepastian terhadap barang yang menjadi objek transaksi, baik terkait kualitas, kuantitas, harga dan waktu penyerahan, sehingga bisa merugikan salah satu pihak atau keduanya.
37
Hasbi Asshiddiqy, Pengantar Fiqh Muamalah, Semarang: Pustaka Rizki,1997. hal.30-31.
38
Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, Bandung: PT al-Ma‟arif, hal.40.
39