BAB II TINJAUAN PUSTAKA
E. Transparansi, Akuntabilitas dan Pengendalian
m) Keberpihakan terhadap kelompok rentan
Organisasi memiliki keberpihakan yang jelas kepada kelompok rentan (ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, lansia, difabel/ penyandang cacat, pengidap HIV AIDS, minoritas seks) di setiap tahapan dan dampak pengelolaan bantuan kemanusiaan. Indikatornya:
i) Adanya kebijakan dan program yang berorientasi kepada kelompok rentan (ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, lansia, difabel/
penyandang cacat, pengidap HIV AIDS, minoritas seks);
ii) Penerima manfaat langsung dari program dan organisasi adalah sebagian besar merupakan kelompok rentan;
iii) Adanya kebijakan tentang perlindungan terhadap penerima manfaat.
E. Transparansi, Akuntabilitas dan Pengendalian Dalam
Menurut Agus Dwiyanto21, konsep transparansi pada pelayanan publik menunjuk pada suatu keadaan dimana segala aspek dari proses penyelenggaraan pelayanan bersifat terbuka dan dapat diketahui dengan mudah oleh masyarakat yang membutuhkan. Untuk mengetahui apakah suatu pelayanan publik sudah transparansi atau tidak22, ada 3 indikator yang dapat digunakan untuk mengukur transparansi pelayanan publik:
1. Mengukur tingkat keterbukaan proses penyelenggaraan pelayanan publik. Penilaian terhadap tingkat keterbukaan di sini meliputi seluruh proses pelayanan publik, termasuk di dalamnya adalah persyaratan, biaya dan waktu yang dibutuhkan serta mekanisme atau prosedur pelayanan yang harus dipenuhi;
2. Indikator kedua dari transparansi menunjuk pada seberapa mudah peraturan dan prosedur pelayanan dapat dipahami oleh pengguna dan masyarakat yang lain;
3. Indikator ketiga dari transparansi pelayanan adalah kemudahan untuk memperoleh informasi mengenai berbagai aspek penyelenggaraan pelayanan publik. Semakin mudah masyarakat memperoleh informasi mengenai berbagai aspek penyelenggaraan pelayanan publik maka semakin tinggi transparansi.
Menurut Mohamad Mahsun23, transparansi berarti bahwa individu, kelompok, atau organisasi dalam hubungan akuntabilitas diarahkan tanpa adanya kebohongan atau motivasi tersembunyi, dan bahwa seluruh informasi lengkap dan tidak memiliki tujuan menghilangkan data yang berhubungan dengan masalah tertentu.
21Agus Dwiyanto, 2014, Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, hlm. 236
22Agus Dwiyanto, 2014, loc. cit. hlm. 240
23Mohamad Mahsun, 2016, Pengukuran Kinerja Sektor Publik, Yogyakarta: BPFE Yogyakarta, hlm. 92
Dari penjelasan-penjelasan pengertian transparansi tersebut, dapat diartikan bahwa transparansi merupakan kunci untuk dapat tercapainya akuntabilitas dalam pelaksanaan atau penyelenggaraan pengumpulan sumbangan uang atau barang, dan dapat juga diartikan bahwa akuntabilitas dapat hidup dan berkembang dalam suasana yang transparan, namun kenyataannya pada saat ini dalam setiap penyelenggaraan pengumpulan sumbangan uang atau barang pada umumnya masih belum dilakukan dengan transparan.
2. Akuntabilitas
Dapat dikatakan akuntabilitas diperlukan pada hampir setiap aktivitas oleh masyarakat modern pada saat ini, termasuk pada penyelenggaraan pengumpulan sumbangan uang atau barang. Dengan akuntabilitas dapat diukur dan dinilai mengenai pertanggungjawaban dari setiap aktivitas, berikut ini beberapa pengertian mengenai akuntabilitas.
Menurut Agus Dwiyanto24, akuntabilitas adalah suatu derajat yang menunjukkan tanggung jawab aparat atas kebijakan maupun proses pelayanan publik yang dilaksanakan oleh birokrasi pemerintah. Dalam hal ini ada dua bentuk akuntabilitas, yakni:
a. Akuntabilias eksplisit (atau secara konseptual dapat disebut answerability) adalah pertanggungjawaban seorang pejabat atau pegawai pemerintah manakala dia diharuskan untuk menjawab atau menanggung konsekuensi dari cara-cara yang mereka gunakan dalam melaksanakan tugas-tugas kedinasan.
24Agus Dwiyanto, Op. cit., hal 98.
b. Akuntabilitas implisit berarti bahwa setiap pejabat atau pegawai pemerintah secara implisit bertanggung jawab atas kebijakan, tindakan atau proses pelayanan publik yang dilaksanakan.
Menurut Mohamad Mahsun25, akuntabilitas dapat dipahami sebagai kewajiban pihak pemegang amanah untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya kepada pihak pemberi amanah yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut.
Dengan mengacu kepada pengertian-pengertian akuntabilias tersebut, pada penyelenggaraan pengumpulan sumbangan uang atau barang, menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada yang memberi izin dan publik merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan. Agar pertanggungjawaban yang telah dibuat memiliki kredibilitas perlu dilakukan audit oleh lembaga yang independen.
Bentuk atau format laporan pertanggungjawaban penyelenggaraan pengumpulan sumbangan uang atau barang perlu ditetapkan agar memudahkan di dalam melakukan pengendalian. Muatan atau substansi dari laporan pertanggungjawaban penyelenggaraan pengumpulan sumbangan uang atau barang, minimal harus memuat atau mencantumkan :26
a. Nomor dan tanggal ijin;
25Mohamad Mahsun, Op. Cit. hlm. 83
26Usulan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Penyelenggaraan Sumbangan, hlm. 21.
b. Batas waktu pelaksanaan/penyelenggaraan;
c. Tempat pelaksanaan/penyelenggaraan;
d. Jumlah SDM yang melaksanakan/menyelenggarakan;
e. Jenis pengumpulan sumbangan;
f. Daftar rincian penerimaan sumbangan (dengan format yang telah ditetapkan), dilengkapi dengan dokumen pendukung diantaranya yaitu rekening koran;
g. Daftar rincian penyaluran/pendistribusian sumbangan (dengan format yang telah ditetapkan), dilengkapi dengan dokumen pendukung yaitu tanda terima dari penerima sumbangan;
h. Saldo sumbangan ada atau tidak ada harus dicantumkan;
i. Jika terdapat saldo sumbangan, harus dibuat penjelasan atas saldo tersebut;
j. Hasil audit jika telah diaudit.
3. Pengendalian
Untuk dapat terlaksananya transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pengumpulan sumbangan uang atau barang perlu adanya suatu pengendalian. Fungsi pengendalian dapat dilakukan oleh masyarakat dan lembaga atau instansi yang ditunjuk. Terdapat beberapa pengertian pengendalian.
Dengan memahami pengawasan sebagai salah satu fungsi manajemen akan memberikan kejelasan bahwa pengawasan diperlukan, terutama untuk menjawab pertanyaan apakah kegiatan-kegiatan yang sedang berjalan dalam organisasi sudah sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Sesuai dengan pengertian pengendalian sebagaimana dikemukakan oleh para ahli, jika dikaitkan dengan pelaksanaan pengumpulan sumbangan uang atau barang, diperlukan adanya bentuk sistem pengawasan untuk
menjamin terlaksananya transparansi dan akuntabilitas. Adapun bentuk sistem pengawasan sebagai wujud dari pengendalian diantaranya yaitu:
a. Adanya media, baik cetak maupun elektronik yang dikelola oleh lembaga independen, secara khusus untuk menyampaikan penganduan atau keluhan atas penyelenggaraan pengumpulan sumbangan uang atau barang;
b. Dilakukan audit oleh lembaga independen, untuk mengukur dan mengetahui kualitas pertanggungjawaban yang telah dibuat;
c. Dilaksanakannya reward and punishment atas penyelenggaraan pengumpulan sumbangan uang atau barang, untuk efektifitas pengendalian;