BAB 4. METODE PENELITIAN
5.2. Pembahasan
Trauma okuli merupakan salah satu penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan pada satu mata yang dapat dicegah.23 Trauma okuli dapat dibagi menjadi trauma tajam, trauma tumpul, trauma kimia, trauma termal, trauma fisik, extraocular foreign body, dan trauma tembus berdasarkan mekanisme trauma. Trauma okuli dapat terjadi diberbagai tempat, di rumah tangga, di tempat kerja, maupun di jalan raya.23-24
Penyebab terjadinya trauma okular pada populasi anak berbeda dengan pada orang dewasa. Trauma okular yang terjadi pada anak yang lebih kecil biasanya disebabkan saat bermain dengan anak yang lain. Sedangkan pada anak yang lebih tua dan remaja banyak disebabkan oleh kegiatan olah raga.25 Penyebab lain trauma okular termasuk peluru senjata mainan, tongkat, dan benturan dengan benda tetap.27 Kejadian trauma okular pada anak-anak dapat dihindari dengan pengawasan orang dewasa dan penggunaan alat pelindung mata saat berolah raga.26 Pada penelitian ini trauma tumpul merupakan kasus trauma mata yang terbanyak yaitu dengan penyebab jatuh dan terkena barang sekitarnya, adapun penyebab lainnya alat tulis, mainan anak, dan lain-lain.
Menurut American Academy of Ophthalmology, perbandingan gender pada angka trauma mata adalah 3 atau 4 banding 1, dengan anak yang berusia 8 sampai 15 tahun merupakan kelompok usia terbanyak mengalami trauma mata yang berat dibandingkan dengan kelompok usia yang lainnya.26 Sama halnya dengan penelitian yang saya lakukan yaitu angka kejadian Trauma mata lebih banyak terjadi pada kelompok usia 8-15 tahun yaitu sebanyak 23 kasus (71.9%) sedangkan pada kelompok umur 1-7 hanya terdapat 9 kasus (28.1%). Hal ini dikarenakan anak laki-laki memiliki perilaku lebih agresif dibandingkan dengan anak perempuan. Anak-anak lebih rentan terhadap cedera mata karena mereka belum matang keterampilan, akal sehat terbatas, kecenderungan untuk meniru orang dewasa tanpa memahami risiko, kurangnya emosional kontrol, ketidaktahuan, dan rasa ingin tahu yang alami.26
Pada penelitian ini peneliti mencoba mencari angka kejadian yang terjadi pada anak-anak oleh karena Trauma Mata. Terdapat 32 kasus yang tercatat pada tahun 2014-2015 dengan angka kejadian sebanyak 26 pada anak laki-laki dan 6 kasus pada perempuan, yang di antaranya terjadi pada umur 1-7 tahun sebanyak 9 kasus dan 23 kasus pada kelompok umur 8-15 tahun. Kenyataan ini sesuai dengan penelitian lain di Australia, Madison, dan Baltimore yang menyatakan bahwa laki-laki lebih banyak mengalami trauma okuli dibandingkan perempuan.28
Pada penelitian ini juga dibahas tentang jenis trauma yang terkena. Pada penelitian ini didapati bahwa Trauma Tumpul yang menjadi kasus terbanyak terjadi, yaitu sebanyak 17 kasus (53.1%) sedangkan Trauma Tembus Bola Mata sebanyak 14 kasus (43.8%), dan Trauma Kimiawi sebanyak 1 kasus (3.1%).
Kenyataan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Nirmalan dan Badrinath dalam penelitiannya di India menyatakan bahwa jenis trauma yang paling banyak terjadi adalah trauma tumpul masing-masing sebesar 54% dan 46.94%. Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Vats, yang melakukan penelitian di Rural South Indian mendapatkan bahwa trauma okuli yang paling sering terjadi adalah Extraocular Foreign Body sebesar 37.5%, diikuti oleh trauma tumpul sebesar 29.2%.24,29
Trauma okuli umumnya mengenai satu mata tetapi keterlibatan kedua mata dapat pula terjadi. Penelian ini mendapatkan mata kanan (53.1%) lebih banyak daripada mata kiri (37.5%) maupun kedua mata (9.4%). Pada penelitian sebelumnya melaporkan 72,2% trauma okuli mengenai mata kanan. Hal ini mungkin disebabkan oleh kebanyakan penderita menggunakan tangan kanan untuk melakukan aktivitas.23
BAB 6
SIMPULAN DAN SARAN
6.1. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat di ambil kesimpulan :
Hasil distribusi frekuensi berdasarkan usia ditemukan lebih banyak pada kelompok usia 8-15 tahun
Hasil distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin lebih banyak didapati pada laki-laki.
Hasil distribusi frekuensi berdasarkan jenis trauma lebih banyak terjadi kasus Trauma Tumpul yaitu sebanyak diikuti dengan Trauma Tembus Bola Mata, dan Trauma Kimiawi.
Hasil distribusi frekuensi berdasarkan Mata yang terlibat lebih banyak terjadi pada mata sebelah kanan, diikuti pada mata kiri, dan kedua mata.
Hasil distribusi frekuensi berdasarkan Gambaran Klinis paling banyak terjadi pada Nyeri pada mata diikuti Mata merah, Gangguan penglihatan, Bengkak pada mata, dan yang terakhir kebutaan.
6.2 Saran
1. Bagi Rumah Sakit dan Sarana Kesehatan Lainnya
Pada penelitian ini tidak terlalu banyak dijumpai pasien yang menglalami Trauma Mata, oleh karena itu pihak sarana kesehatan seperti rumah sakit dan lainnya harus tetap memberi edukasi yang baik bagi orang tua agar anaknya terhindar dari Trauma Mata
Rumah sakit serta instansi kesehatan lainnya juga diharapkan untuk meningkatkan lagi kualitas Rekam Medik untuk penelitian selanjutnya
2. Bagi masyarakat luas
Masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan dari anak-anaknya, terutama dengan memperhatikan lingkungan tempat tinggal dan bermain anak
Bagi orang tua yang anaknya telah terkena trauma mata agar lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap anaknya
3. Bagi peneliti selanjutnya
Pada penelitian ini peneliti hanya melihat angka kejadian serta beberapa karakteristik pada pasien Trauma Mata yang terjadi pada anak melalui data yang diperoleh dari data rekam medik. Pada penelitian selanjutnya diharapkan untuk menggunakan alat ukur lainnya seperti kuesioner, microfilament, dan lain sebagainya sebagai acuan serta menambah variabel-variabel lain.
DAFTAR PUSTAKA
1. Apuranto, H. Luka akibat benda tumpul dalam : Buku ajar ilmu kedokteran forensik dan medikolegal. Surabaya : Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
2010. p. 36-38.
2. Asbury, T. Trauma mata dalam : Oftalmologi umum edisi XVII. Jakarta.
Widya Medika. 2008; 373 - 80
3. Khun, F. Piramici, JD. in : Emergency management of trauma ocular, Departement of Opthalmology University of Pecs. Hungary. 2002. p. 71 - 86.
4. Wijana, N. Ilmu penyakit mata. Jakarta: ECG. 1993. 312-26.
5. Parver, L. Eye trauma in : The Neglected Disorder. Arch Ophthalmol.
United States. 1986 ;104 :1452-3.
6. Negrel, AD. Thylefors, B. The global impact of eye injuries. Ophthalmic Epidemiol. Geneva, Switzerland. 1998 ; 5 : 143-69.
7. Scribano, P. Nance, M. Reilly, P. Pediatric nonpowder firearm injuries in : Outcomes in an urban paediatric setting 5th edition. Paediatrics. 1997. 100 : 1-3.
8. Takvam , J. Midefart, A. Survey of eye injuries in Norwegian children in : Acta Ophthalmol. 1993. 71 : 500-505.
9. Aldy, F. Prevalensi kebutaan akibat trauma mata di kabupaten Tapanuli Selatan. Medan. 2009.
10. Netter, FH. bola mata dalam : Atlas anatomi manusia. edisi ke 5. singapore : elsevier. 2013. p. 87.
11. Mescher, AL. Mata dan telinga : organ perasa khusus dalam : Histologi dasar Junquiera teks & atlas. edisi ke 12. jakarta : ECG. 2009. p. 403-404 12. Sherwood, L. Fisiologi Manusia : dari Sel ke Sistem. Jakarta: Penerbit
Buku kedokteran EGC, 2001. p. 161-163.
13. Guyton, AC. Hall, JE. The eye: 1 optics of vision in : Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology 13th Edition. jackson, Mississipi:
Elsevier. 2015. p. 639 - 645.
14. Ilyas, S. Yulianti, SR. Trauma mata dalam : Ilmu Penyakit Mata. edisi ke 5.
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2015. p. 279 - 297.
15. Vaughan, DG. Asbury, T. Eva, PR. oftalmology umum. Jakarta: Widya
American Academy of Opthalmology. 1993. p. 82 - 87.
18. Leisegang, TJ. SLento, GL. Fundamental and principles of othalmology. in Basic and clinical science cours. international opthalmology. section 2.
USA. AAO; 2002-223. p. 30-70.
19. Radjiman, T. ilmu penyakit mata. penerbit airlangga. Surabaya. 1984. p. 1-8.
20. Hassan, R. Alatas, H. Trauma mata dalam : Ilmu kesehatan anak edisi ke 4.
Jakarta : fakultas kedokteran universitas indonesia. 2007. p. 900.
21. McPhee, SJ. Papadakis, MA. Ocular Trauma. In: Current Medical Diagnosis & Treatment 48th edition. United States of America. 2009. P.
165-166.
22. Cockherham GC, Goodrich GL, Weichel ED, Orcutt JC, Rizzo JF, Bowe KS, et al. Eye and Visual Function in Traumatic Brain Injury. J Reha Rese
& Dev [internet]. 2009 [cited 2016 Jun23];46(6). Available from:
http://www.rehab.research.va.gov/jour/09/46/6/Cockerham.html
23. Wong TY, Klein BEK, Klein R. The Prevalence and 5-year Incidence of Ocular Trauma. Ophthalmology 2000; 107: 2196–2202.
24. Nirmalan PK, Katz J, Tielsch JM, Robin AL, Thulasiraj RD, Krishnadas R, et al. Ocular Trauma in a Rural South Indian Population. Ophthalmology Phillips PH, Wiggins RE. Pediatric ophthalmology and strabismus: Ocular Trauma in Childhood section 6. Singapore: American Academy of Ophthalmology; 2011-2012. p 404-11.
27. Lawrence M. Levine, MD : Pediatric ocular trauma and shaken infant syndrome Pediatr Clin N Am 50 .2003. p 137– 148.
28. Katz J, Tielsch JM. Lifetime prevalence of ocular injuries from the Baltimore Eye Surgery. Arch Ophthalmol 1993; 111: 1564–8.
29. Badrinath SS. Ocular trauma. Indian J ophthalmol 1987; 35: 110–1.
LAMPIRAN 1
LAMPIRAN 2
LAMPIRAN 3
LAMPIRAN 4
LAMPIRAN 5
umurkelompok
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
matamerah * traumatumpul Crosstabulation
buta * traumatembus Crosstabulation
gangguanpenglihatan terganggu 13 8 21
buta 4 7 11
Total 17 15 32
gangguanpenglihatan * traumatembus Crosstabulation Count
traumatembus
Total
ya tidak
gangguanpenglihatan terganggu 7 14 21
buta 7 4 11
Total 14 18 32
gangguanpenglihatan * traumakimia Crosstabulation Count
traumakimia
Total
ya tidak
gangguanpenglihatan terganggu 1 20 21
buta 0 11 11
Total 1 31 32
bengkakpadamata * traumatumpul Crosstabulation Count
traumatumpul
Total
ya tidak
bengkakpadamata ya 14 0 14
tidak 3 15 18
Total 17 15 32
bengkakpadamata * traumatembus Crosstabulation Count
traumatembus
Total
ya tidak
bengkakpadamata ya 0 14 14
tidak 14 4 18
Total 14 18 32
bengkakpadamata * traumakimia Crosstabulation Count
traumakimia
Total
ya tidak
bengkakpadamata ya 0 14 14
tidak 1 17 18
Total 1 31 32
nyeripadamata * traumatumpul Crosstabulation Count
traumatumpul
Total
ya tidak
nyeripadamata ya 17 15 32
Total 17 15 32
nyeripadamata * traumatembus Crosstabulation Count
traumatembus
Total
ya tidak
nyeripadamata ya 14 18 32
Total 14 18 32
nyeripadamata * traumakimia Crosstabulation Count
traumakimia
Total
ya tidak
nyeripadamata ya 1 31 32
Total 1 31 32