• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.2 Deskripsi Data

4.4.4 Treaths (Ancaman)

Treaths (Ancaman) adalah kondisi yang mengancam dari luar organisasi. Ancaman ini dapat juga mengganggu organisasi tersebut. Ancaman

ini bisa berupa dari persaingan, kebijakan pemerintah, atau kondisi lingkungan sekitar. Dinas Perikanan Kabupaten Lebak dalam pengembangan potensi perikanan tangkap juga memiliki hambatan yang disebabkan oleh faktor eksternal, sehingga akibatnya pengembangan potensi perikanan tangkap ini belum optimal. Salah satu hambatan tersebut adalah perkembangan industri, seperti halnya diungkapkan oleh Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lebak sebagai berikut :

“Berkembang industri yang menggunakan fasilitas laut diantaranya seperti pabrik semen atau pabrik yang dibangun di pinggir pantai yang menggunakan transportasi laut sehingga banyak kapal-kapal tongkang yang mengganggu nelayan, dan membuat kabur ikan-ikan.” (Wawancara dengan Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lebak, 20 Februari 2017, 10.00 WIB, di Ruang Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lebak)

Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa hal yang mengancam dari luar organisasi Dinas Perikanan yaitu salah satunya perkembangan industri, dimana industri ini menggunakan fasilitas laut, diantaranya seperti di Bayah ada pabrik semen, atau pabrik lainnya yang dibangun di pinggir pantai, ditambah menggunakan transportasi laut seperti kapal tongkang, akibatnya akan mengganggu nelayan, dan ikan-ikan juga akan kabur. Hal serupa juga diungkapkan oleh Kepala Sub Bidang Program dan Keuangan sebagai berikut :

“Terganggunya wilayah area penangkapan ikan, contohnya dengan berdirinya pabrik semen, bisa mengganggu area penangkapan ikan, bisa juga pendakalan alur pelayaran. Untuk di Kecamatan Wanasalam, kemaren itu ada rencana pengeboran minyak, yang katanya hasilnya itu akan diangkut melalui Wanasalam, otomatis akan mengganggu.”

(Wawancara dengan Kepala Sub Bidang Program dan Keuangan, 9 Februari 2017, Pukul 15.05 WIB, di Ruang Sekretariat)

Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa selain di Kecamatan Bayah yang ada pabrik semen, di Kecamatan Wanasalam juga pernah ada aktifitas pengeboran minyak, dimana nanti hasilnya itu akan diangkut melalui Wanasalam, hal itu pun akan mengganggu wilayah area penangkapan ikan, dan nelayan sekitar akan terganggu dengan adanya aktifitas tersebut. Hal yang sama juga ditambahka oleh Kepala Bidang Pembudidaya Ikan sebagai berikut :

“Ketika kita tidak bisa memenuhi, dengan keterbatasan armada ukuran yang besar sedikit, sehingga perubahan cuaca. Kapal-kapal juga terbatas dalam melakukan penangkapan. Nah itu supply, untuk permintaan kan tetap sehingga supply nya dari luar Jakarta, nah ini mengganggu dalam hal kualitas dari ikan berasal tersebut, dikhawatirkan mengandung formalin. Supplier dari Jakarta, ikan – ikannya itu tidak menjamin kualitasnya. Karena permintaan ikan di kita cukup tinggi sedangkan perubahan cuaca, jadi secara otomatis produksi menurun sedangkan permintaan tetap tinggi, jadi supply ke yang lain.” (Wawancara dengan Kepala Bidang Pembudidaya Ikan, 13 Februari 2017, Pukul 13.40 WIB, di Ruang Bidang Pembudidaya Ikan)

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa hal yang mengancam salah satunya dengan perubahan cuaca, dan keterbatasan armada ukuran yang besar, sehingga kapal juga dalam penangkapan ikan akan terbatas. Kondisi seperti ini, untuk permintaan atas ikan itu kan tetap besar, namun memang persediaan yang kurang, akhirnya pada mengirim ikan dari Jakarta.akibatnya memang kita tidak bisa menjamin kesegaran dari ikan tersebut, dan kekhawatiran dalam penggunaan formalin pada ikan. Resiko yang dihadapi oleh para nelayan yang ada di Kecamatan Wanasalam. Hal serupa juga

ditambahkan oleh Kepala Seksi Bidang Pemberdayaan Nelayan Kecil sebagai berikut :

“Penurunan kualitas perairan, seperti di Bayah ada pabrik semen, yang buang limbah ke sungai. Adanya industrialisasi. Persaingan bisnis, persaingan usaha karena keterbatasan armada.di wanasalam menggunakan kapal dibawah 5GT, namun nelayan pendatang seperti dari Jakarta, Sumatera kapal besar, dan ada alat tangkap yang memadai.” (Wawancara dengan Kepala Seksi Pemberdayaan Nelayan Kecil, 3 Februari 2017, Pukul 10.10 WIB, di Ruang Bidang Pemberdayaan Nelayan Kecil dan Pembudidaya Ikan )

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa salah satu ancaman yaitu penurunan kualitas perairan, dengan adanya pabrik semen yang membuang limbahnya ke sungai, inilah satu akibat dari insudtrialisasi. Kemudian persaingan bisnis, persaingan usaha karena keterbatasan armada yang ada di Kecamatan Wanasalam, mayoritas menggunakan kapal di bawah 5 GT, namun nelayan pendatang seperti dari Jakarta, Sumatera, Jawa kapal-kapal besar, dilengkapi dengan alat tangkap yang memadai. Hal yang sama ditambahkan oleh Kepala Seksi Bidang Pengelolaan TPI sebagai berikut :

“Cuaca dan alam karena kita samudera. Cuaca ekstrem yang melanda. Adanya industri-industri, asalkan kewajiban-kewajiban seperti ada CSR tidak masalah.” (Wawancara dengan Kepala Seksi Bidang Pengelolaan TPI, 3 Februari 2017, Pukul 09.05 WIB, di Ruang Bidang Perizinan dan Pengelolaan TPI)

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa faktor dari luar yang bisa mengancam yaitu cuaca dan alam, karena Kecamatan Wanasalam ini sebelah utaranya langsung berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, maka cuaca ekstrem yang melanda. Selanjutnya adanya industri-industri yang

berkembang, namun apabila memang Cooperate Social Responsibility (CSR) yang diberikan untuk wilayah setempat, itu tidak masalah, yang perlu diperhatikan industri tersebut tidak mengganggu atau merusak wilayah sekitar. Hal yang sama ditambahkan oleh salah satu nelayan yang ada di Kecamatan Wanasalam yaitu :

“Seperti bom, bukan orang sini tapi dari lampung yang ada di pulau tinjil. Sampai sekarang masih ada, segala sesuatu akan terjadi walaupun tidak diperbolehkan. Tapi kita sarana belum memadai, seperti kapal patrol, untuk kesananya. Hanya ada kantornya saja. Dilakukan selalu sengaja, supaya hasil tangkapan besar.” (Wawancara dengan nelayan yang ada di Kecamatan Wanasalam, 24 Februari 2017, Pukul 10.00 WIB, di Rumahnya)

Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa yang mengancam nelayan itu salah satunya, ancaman bom di laut, itu yang melakukan bukan orang Wanasalam, tapi orang Lampung biasanya di Pulau Tinjil, sekarang pun itu masih suka ada, padahal memang tidak diperbolehkan. Tapi kelemahan kita sarana yang belum memadai seperti kapal patroli, sehingga kalau ada kejadian itu, tidak ada yang langsung menindak, karena mereka langsung kabur dengan kapal cepatnya. Alasannya menggunakan bom tersebut, yaitu untuk mendapatkan tangkapan ikan yang besar. Hal yang sama juga ditambahkan oleh salah satu nelayan juga di Kecamatan Wanasalam sebagai berikut :

“Kita tersaingi oleh kapal dengan alat tangkap yang modern. Disini kebanyakan alat tradisional. Kalau ada pendatang yang menggunakan alat tangkap modern, disitulah kami merasa terancam, kami tidak bisa menyaingi, seperti kapal besar, walaupun itu ZEE tapi ada dampak karena disana mereka membuat rumah ikan, sehingga ikan itu terhalang.” (Wawancara dengan nelayan di Kecamatan Wanasalam, 23 Februari 2017, Pukul 20.15 WIB, di Rumahnya)

Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa nelayan yang ada di Kecamatan Wanasalam ini mayoritas menggunakan alat tangkap tradisional, sedangkan mereka tersaingi oleh kapal lain yang sudah menggunakan kapal dengan alat tangkap yang modern. Biasanya yang sudah modern ini adalah pendatang. Walaupun memang itu wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), tapi ada dampaknya. Kapal besar itu membuat rumah ikan, sehingga ikan akan terhalang, dan nelayan kecil mendapatkan ikan yang sedikit. Hal yang sama juga ditambahkan oleh salah satu masyarakat yaitu Sekretaris Desa Muara sebagai berikut :

“Dilihat dari teknologi juga, kadang ada persaingan. Selanjutnya mengenai kebijakan atau aturan yang ada Misalnya tidak diperbolehkannya menangkap benur (bayi lobster), sekarang lagi trendnya penangkapan benur. Sekarang nelayan tidak menangkap ikan lagi, pada beralih ke penangkap benur. Benur juga lebih mahal dijualnya,” (Wawancara dengan Sekretaris Desa Muara, 24 Februari 2017, Pukul 14.15 WIB, di Kantor Desa Muara)

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa selain teknologi juga yang menjadi ancaman karena akan ada persaingan, namun untuk sekarang ada kebijakan pemerintah atas pelarangan mengambil benur/bayi lobster, karena nelayan disini khususnya wilayah TPI Tanjung Panto hampir semuanya pindah ke penangkapan benur, bukan lagi ikan yang diburu. Adanya pelarangan oleh pemerintah, akhirnya nelayan-nelayan ini melakukan hal yang illegal. Padahal benur ini harganya lebih mahal dijualnya, nantinya benur ini akan di kirim ke Vietnam untuk dikembangkan menjadi lobster, dan nanti dibeli lagi oleh Indonesia.

Sangat disayangkan memang, kita memiliki potensi yang luar biasa tapi kenapa negeri kita sendiri tidak bisa mengembangkannya, karena baru Vietnam yang bisa, untuk mengembangkan benur ini. Seharusnya Indonesia bisa melakukan studi banding misalnya kesana, untuk mempelajari, dan nantinya diterapkan di negeri sendiri. Dalam penangkapan benur juga akan lebih meningkatkan kesejahteraan nelayan, karena harga jualnya yang tinggi, namun sekarang terhalang oleh kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.

Hal-hal yang mengancam dari luar organisasi Dinas Perikanan itu, maka memang dibutuhkan cara untuk menghadapi hal yang manjadi ancaman dari luar organisasi ini, seperti halnya yang diungkapkan oleh Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lebak sebagai berikut :

“Ya karena kita keterbatasan kewenangan, paling kita bisa istilahnya “berteriak” kepada mereka yang telah mengganggu kehidupan nelayan supaya bisa ada kontribusi kepada nelayannya seperti CSR.” (Wawancara dengan Kepala Dinas Perikanan Kabuapten Lebak, 20 Februari 2017, Pukul 10.00 WIB, di Ruang Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lebak)

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa, dalam menghadapi ancaman tersebut, kurang maksimal karena memang keterbatasan kewenangan, dinas hanya bisa berbicara atau penengah kepada mereka yang telah mengganggu kehidupan nelayan, supaya nantinya ada kontribusi untuk nelayan, seperti adanya Coorporate Social Responsibility (CSR) ini. Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Sub Bidang Program dan Keuangan sebagai berikut :

“Kita harus mengidentifikasi, lalu kita sampaikan. Walaupun saya tidak tahu untuk mengenai musyawarah perizinan pengeboran tersebut, biasanya hanya pihak kecamatan yang diundang.” (Wawancara dengan Kepala Sub Bidang Program dan Keuangan, 9 Februari 2017, Pukul 15.05 WIB, di Ruang Sekretariat)

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa seperti adanya mengenai pengeboran minya itu, pihak dinas harus mengidentifikasi, lalu kita sampaikan ke pihak perusahaan, di hadapan nelayan juga. untuk solusi ke depannya, biasanya dinas ini sebagai fasilitatornya, karena memang adanya keterbatasan kewenangan tadi. Hal yang sama juga ditambahkan oleh Kepala Bidang Pembudidaya Ikan sebagai berikut :

“Sebetulnya supplier dari luar tidak masalah, Cuma kita harus benar-benar meningkatkan dalam hal pengawasan, kita bekerjasama dengan disperindag juga mengantisipasi masuknya ikan yang berformalin.” (Wawancara dengan Kepala Bidang Pembudidaya Ikan, 13 Februari 2017, Pukul 13.40 WIB, di Ruang Bidang Pembudidaya Ikan)

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa memang untuk adanya supply dari luar tidak masalah, namun memang hal yang mengancam itu mengenai penggunaan formalin tadi, sehingga Dinas Perikanan harus bekerjasama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak dalam mengawasi ikan-ikan yang dipasok dari luar, dan mengantisipasi supaya sampai tidak terjadi. Memang disini yang harus benar-benar dilakukan dalam pengawasannya. Hal yang serupa juga ditambahkan oleh Kepala Seksi Pemberdayaan Nelayan Kecil sebagai berikut :

“Harus mengikuti teknologi, harus meningkatkan kapasitas diri sendiri dengan belajar lebih banyak yang lebih canggih dan modern, dan menggunakan alat tangkap yang efisien tapi tidak menggunakan alat

tangkap dilarang.” (Wawancara dengan Kepala Seksi Bidang Pemberdayaan Nelayan kecil, 3 Februari 2017, Pukul 10.10 WIB, di Ruang Bidang Pemberdayaan Nelayan Kecil dan Pembudidaya Ikan) Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa cara untuk menghadapi ancaman yang terjadi dari luar organisasi yaitu salah satunya dengan mengikuti teknologi, serta meningkatkan kapasitas diri sendiri dengan belajar lebih banyak lagi, supaya bisa lebih canggih dan menjadi modern. Selain itu juga menggunakan alat tangkap yang efisien, namun tetap yang tidak melanggar aturan berlaku. Hal yang sama juga ditambahkan oleh Kepala Seksi Bidang Pengelolaan TPIsebagai berikut :

“Lebih waspada, karena dari alam. Kalau cuaca sudah ekstrem tidak usah dipaksakan. Kalau untuk industri, dinas disini lebih mengingatkan mengenai langkah-langkah AMDAL, dan kewajiban-kewajiban perusahaan yang harus dipenuhi.” (Wawancara dengan Kepala Seksi Bidang Pengelolaan TPI, 3 Februari 2017, Pukul 09.05 WIB, di Ruang Bidang Perizinan dan Pengelolaan TPI)

Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa untuk ancaman dari luar, tepatnya alam seperti cuaca ekstrem, dinas mengingatkan kepada nelayan untuk tidak melaut, dan jangan mengambil resiko. Sedangkan untuk pengembangan industri dinas mengingatkan kepada oihak industri untuk melaksanakan langkah-langkah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL), serta kewajiban yang perlu dipenuhi oleh pihak industri tersebut. Hal yang sama diungkapkan oleh Kepala UPTD TPI Kabupaten Lebak yaitu :

“Untuk masalah cuaca kami menghimbau dengan program simail, kepada para nelayan hanya diminta no hp lalu nanti diberikan info cuaca dari BMKG. Kemudian UPTD yang mengirim broadcastnya.”

(Wawancara dengan Kepala UPTD TPI Kabupaten Lebak, 23 Februari 2017, Pukul 14.00 WIB, di Kantor UPTD TPI Kabupaten Lebak

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa memang untuk ancaman dari cuaca itu, UPTD TPI memiliki sebuah program, yaitu namanya Simail. Jadi nanti nelayan ini hanya diminta no Hp nya, nanti kemudian akan diberikan informasi mengenai cuaca. Untuk info cuaca ini langsung dari BMKG, kita kerjasama. Selanjutnya UPTD ini nanti mengirimkan broadcastnya, supaya nanti nelayan mengetahui kondisi cuaca untuk hari itu, apakah aman untuk melaut atau tidak. Hal serupa juga diungkapkan oleh pihak masyarakat yaitu Sekretaris Desa Muara sebagai berikut :

“Bingung juga kalau mengenai kebijakan atau aturannya, harus dibenahi dulu. Melakukan evaluasi, dan perencanaan ulang. Sehingga harus berpikir bahwa kenapa negara lain bisa mengembangkan benur, tapi kenapa di Indonesia belum, lebih respon atas apa yang terjadi.” (Wawancara dengan Sekretaris Desa Muara, 24 Februari 2017, Pukul 14.15 WIB, di Kantor Desa Muara)

Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa, selaku masyarakat bingung mengenai ancaman yang berupa kebijakan dari pemerintah. Harus adanya kajian lagi mengenai kebijakan tersebut, melakukan evaluasi, dan perencanaan ulang. Sehingga harus bisa berpikir bahwa kenapa Indonesia belum bisa mengembangkan benur, sedangkan negara lain. Kemudian lebih respon atas apa yang terjadi sebenernya di lapangan.

Akan menjadi kerugian, kalau kita mempunyai potensi yang besar namun tidak bisa memanfaatkan potensi tersebut untuk memajukan Indonesia, khususnya mensejahterakan masyarakat nelayan. adanya kerjasama yang baik

antara pemerintah kabupaten, provinsi dan pusat dalam perumusan kebijakan. Ditambah benur ini juga mempunyai harga jual yang tinggi, jangan sampai nelayan di kita terbiasa melakukan hal yang illegal, karena untuk kebutuhan hidup mereka.

Hal-hal yang mengancam terjadi di luar dari organisasi itu, dalam bidang perikanan memang tidak jauh beda dengan bidang lain. Seperti halnya karena faktor alam, adanya persaingan, kemudian mengenai kebijakan pemerintah. Itu semua yang harus pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Perikanan dalam menghadapi ancaman tersebut, karena apabila tidak dihadapi ancaman tersebut selalu akan datang, dan kalau tidak dihadapi dengan baik, ancaman tersebut akan merugikan masyarakat nelayan, bahkan pemerintah daerah Kabupaten Lebak. Harus adanya kerjasama yang pula antara pemerintah daerah dengan nelayan yang di Kecamatan Wanasalam, kerjasama yang baik juga akan menghasilkan yang baik untuk semuanya, tidak ada pihak yang dirugikan satu sama lain terhadap ancaman tersebut.

Keterbatasan dalam pemahaman bagi nelayan ini, menjadi tantangan untuk pemerintah, harus menemukan cara untuk bisa nelayan ini bisa paham, dan mau ikut diajak kerjasama, karena nelayan ini mempunyai watak yang keras, bagaimana pemerintah mencari solusi untuk hal itu. Supaya bisa memanfaatkan peluang dan menghidari ancaman dengan cara yang baik dan efisien untuk dilaksanakannya.

Dokumen terkait