• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRIPLE HELIX DAN KEMERLANGAN PERGURUAN TINGG

Dalam dokumen JURNAL EKONOMI DAN BISNIS (Halaman 44-52)

X4 : Jumlah anggota keluarga (orang) X 5 : Luas bangunan rumah (m 2 )

TRIPLE HELIX SEBAGAI PINTU GERBANG PERGURUAN TINGGI MENUJU KECERMELANGAN

3. TRIPLE HELIX DAN KEMERLANGAN PERGURUAN TINGG

Sejak abad 18, pemerintah dan industri telah menjadi lembaga sosial besar di seluruh dunia, sedangkan universitas masih merangkak menuju hal itu, pada hal universitas memegang peranan penting dalam mengembangkan masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Sesungguhnya universitas memiliki keunggulan dibanding lembaga lainnya, karena universitas mempunyai pusat penelitian dan pengembangan yang berkaiatan dengan industri dan pemerintahan, memiliki mahasiswa yang dapat dijadikan sebagai sumber inovasi yang berkesinambungan, dan menghasilkan sarjana yang menerapkan ilmunya di tengah-tengah masyarakat, industri dan pemerintahan. Namun demikian, secara faktual lulusan perguruan tinggi belum memiliki kompetensi sebagaimana diharapkan dunia industri atau lembaga pengguna lainnya. Bertolak dari kenyataan inilah, perguruan tinggi harus meningkatkan kapasitasnya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga universitas menjadi tempat bertanya baik bagi industri maupun pemerintah. Bila hal itu dapat terwujud maka universitas akan meraih kecemerlangannya di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan negara.

Untuk mencapai kecemerlangan itu, maka perguruan tinggi harus melakukan 3 tahapan langkah strategis, yakni :

1) Revitalisasi lembaga riset, pusat kajian dan inkubator untuk menghasilkan inovasi baru

dalam berbagai bidang yang dapat diaplikasikan dalam dunia industri dan pemerintahan.

2) Menjalin kerjasama yang intens dengan dunia industri dan pemerintah sehingga dapat dikembangkan disain dan produk berbasis IPTEK.

3) Transformasi konten kurikulum sehingga selaras dengan kebutuhan industri dan

pemerintahan.

Dengan 3 langkah strategis ini, maka perguruan tinggi mampu melakukan transfor-masi dari Teaching University ke Research University dan menjadi Entrepreneurial University.

Gambar 2. Triple Helix dan Kecemerlangan Perguruan Tinggi

Untuk mengimplementasikan hal ini sudah pasti membutuhkan dukungan dana yang memadai, dan penyediaan sumberdaya manusia yang kompeten. Oleh sebab itu, perguruan

tinggi harus menetapkan rencana induk riset berbasis sains dan teknologi sehingga sumber-

sumber pembiayaan dapat diarahkan untuk setiap jenis riset. Peluang sumber pembiayaan riset tidak hanya berasal dari lembaga dalam negeri (pemerintah dan swasta) tetapi juga dari luar negeri, dan hal ini sudah banyak dilakukan perguruan tinggi di Indonesia tetapi sayangnya tidak berkelanjutan. Beberapa contoh dapat dikemukakan disini antara lain : produk padi unggulan hasil kerjasama IPB dengan Balitbang Departemen Pertanian, produk baja tahan peluru untuk kenderaan militer hasil kerjasama ITB dengan Dephankam, Disain kapal kargo kerjasama ITS dan PT PAL, dan lain-lain. Bagaimana dengan perguruan tinggi swasta ?

Perguruan tinggi swasta walaupun belum mampu menghasilkan produk atau disain bebasis IPTEK dalam kerangka triple helix, tetapi prinsip memulai dari hal yang kecil juga memiliki makna yang berarti. Untuk memulai dari hal yang kecil tentu harus dimulai dari diri sendiri, dan kita sadar bahwa kita tahu bahwa kita tidak tahu. Bila seluruh komponen civitas akademika perguruan tinggi memiliki prinsip itu diyakini suatu saat akan menghasilkan karya bermutu yang pantas dibanggakan.

Visi Universitas HKBP Nommensen membangun Indonesia dari Sumatera Utara akan semakin mudah teruwujud bila UHN mampu menjadi bagian yang integral triple helix dalam sistem inovasi regional dan nasional. Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi dan berbasis pemecahan masalah, penjaminan mutu kegiatan tri dharma perguruan tinggi,

Research University Revitalisasi : -Lembaga Riset Transformasi Kurikulum Kerjasama dengan Industri Kerjasama dengan Pemerintah Entrepreneurial University

pengembangan research day, dan pengembangan kewirausahaan mahasiswa merupakan unsur triple helix dalam meningkatkan kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologi. Unsur-unsur triple helix ini perlu dikembangkan secara konsisten dan berkelanjutan serta bersinergi dengan dunia industri dan pemerintah untuk menghasilkan inovasi baru berbasis IPTEK, sehingga perguruan mampu mereformasi dan mentransformasi diri dari teaching university menjadi research university.

4. PENUTUP

Perguruan tinggi adalah bagian penting dari model triple helix dalam sistem inovasi

regional dan nasional. Perguruan tinggi sebagai pusat ilmu pengetahuan dan teknologi (center

of exellent) memiliki posisi strategis dalam menciptakan masyarakat berbasis pengetahuan, dan transformasi menuju peradaban modern. Perguruan tinggi dengan segala keterbatasannya haruslah bersinergi dengan industri dan pemerintah, sehingga mampu menghasilkan inovasi baru, dan menciptakan strategi pembangunan yang dipandu universitas untuk menjawab tantangan pembangunan di berbagai bidang.

Untuk mencapai perguruan tinggi yang cemerlang yakni Research University atau Entrepreneurial University, perguruan tinggi harus mereformasi diri dengan 3 langkah strategis, yakni Revitalisasi lembaga riset, pusat kajian dan inkubator untuk menghasilkan inovasi baru dalam berbagai bidang yang dapat diaplikasikan dalam dunia industri dan pemerintahan; menjalin kerjasama yang intens dengan dunia industri dan pemerintah sehingga dapat dikembangkan disain dan produk berbasis IPTEK; dan transformasi konten kurikulum sehingga selaras dengan kebutuhan industri dan pemerintah.

Perguruan tinggi sebagai aktor dalam sistem inovasi harus didukung oleh kemampuan sumberdaya manusia yang handal dan pembiayaan yang memadai. Oleh sebab itu setiap insan akademik haruslah mengembangkan budaya meneliti dalam rangka peningkatan kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perguruan tinggi juga dituntut untuk mendisain rencana induk penelitian sehingga kerjasama dengan dunia industri dan pemerintah dapat lebih terarah, dan memungkinkan perolehan sumber-sumber dana riset yang memadai. Memulai riset tidak harus dalam skala besar, tetapi dalam skala kecilpun akan memberikan output yang berarti bila kita sungguh menyadari kita tahu bahwa kita tidak tahu.

DAFTAR REFERENSI

Aiman, S., L. Hakim, dan M. Simamora. 2004, National Innovation System of Indonesia: A Journey

and Challenges, The first Asialic International Conference on ‘ Innovation Systems and

Cluster : Challenges and Regional Integration’, Bangkok, Thailand, 1-2 April 2004. Etzkowitz, H. and Leydesdorff, L., 2000. The Dynamic of Innovation: from National System and

“Mode 2” to a Triple Helix of University-Industry-Government Relations, Research Policy 29: 109-123.

Etzkowitz, H. 2007. University-Industry-Government : The Triple Helix Model of Innovation.

Theme Paper for Triple Helix VI Conference, Singapore, 16 – 18 May, 2007.

Intarakumnerd, P., P. Chairatna, . and T. Tangchitpiboon, 2002, National Innovation System in Less Succesful Developing Countries: The Case of Thailand, Research Policy 31: 1445-1457.

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN, MOTIVASI DAN DISIPLIN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA BALAI TEKNIK KESEHATAN LINGKUNGAN DAN

PEMBERANTASAN

PENYAKIT MENULAR (BTKL-PPM) KELAS I MEDAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Raya Panjaitan

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas HKBP Nommensen Abdi Sugiarto

Dosen Pascasarjana Universitas HKBP Nommensen

Abstract

Intention of research this is the to assess and analysis how far influence between Leadership styles, Motivation and Job Discipline to employee performance in BTKL-PPM Kelas I Medan Office. Population in research this is the all employees at BTKL-PPM Kelas I Medan of 59 one who all populations are referred made as sampel. Method of data intake that used in research this is the method of survey. Whereas method Analisis Data is conducted with testing pass by double linear equation that consist of four variables that is Leadership styles(X1), Motivation(X2), Job Discipline(X3) that become free variable whereas Employee Perfomance(Y) is variable is bound, until linear equation in research this is the Y = ß0 + ß1X1 + ß2X2 + ß3X3+ €. This Research bent on to express existing research problems that is:

”How far Leadership styles influence, Motivation, and Job Discipline to employee performance in Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL-PPM) Kelas I Medan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia”.

Research Result that conducted at employee BTKL-PPM Kelas I Medan indicates that Leadership styles, Motivation, and Job Discipline jointly influences Kinerja. Level of influence between Leadership styles, Motivation and Job Discipline to employee performance as high as 0.789 or 78,09% that show Leadership styles ability, Motivation, and employee performance in explaining variation that happened at employee performance as high as 78,9%. Whereas Leadership styles, Motivation, and Job Discipline in partial to employee performance at BTKL-PPM office Kelas I Medan shows only Job Disciplin that have significant influence.

Keyword : Leadership styles, Motivation, Job Discipline and Employee Performance 1. PENDAHULUAN

Pelayanan publik dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan tuntutan kepada pemerintah dalam hal ini adalah pegawai negeri, untuk dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat. Sebagai abdi negara dan abdi masyarakat, pegawai negeri sipil dituntut tanggung jawab yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pelayanan publik biasanya diselenggarakan oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. Kuatnya tuntutan masyarakat akan pelayanan yang lebih baik, maka memaksa berbagai instansi pemerintah untuk mendorong peningkatan kinerja yang prima. Ketika sorotan masyarakat madani terhadap tugas-tugas pelayanan managemen pemerintahan kepada masyarakat semakin meningkat, aparatur harus siap memberikan pelayanan yang lebih baik, artinya tidak memperlambat atau mempersulit pelayanan kepada masyarakat.

Aparatur pemerintah di tuntut untuk lebih menyadari fungsinya sebagai abdi Negara dan masyarakat, punggawa yang baik, sehingga mereka semakin mampu melaksanakan tugas- tugas pemerintahan dan tugas pembangunan secara optimal, serta tugas-tugas pelayanan pemerintahan dan tugas pembangunan secara optimal serta tugas-tugas pelayanan masyarakat

yang lebih bermutu, yaitu : pelayanan yang “cepat, tepat,murah, aman dan pasti, tidak diskriminatif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sesuai Undang-undang no. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah atau Otomi Daerah membawa konsekuensi logis bagi pemerintah daerah yaitu adanya pemberdayaan aparatur supaya lebih professional, responsive, dan transfaran. Dalam hal ini peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting, karena pada dasarnya perilaku manusia dapat mempengaruhi setiap tindakan dalam menapai tujuan yang akan di capai.

Salah satu pelayanan publik yang saat ini memjadi sorotan masyarakat adalah pelayanan Kesehatan di Kantor Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL-PPM) Kelas I Medan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Instansi pemerintah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah Kantor Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL-PPM) Kelas I Medan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia..

Saat ini pelayanan di Kantor Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL-PPM) Kelas I Medan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sedang melakukan pembenahan dalam hal pelayanan kepada masyarakat. Pembenahan dibidang pendayagunaan pegawai termasuk didalamnya pengambil kebijakan. Bila pegawai dapat bekerja secara maksimal dan didukung oleh pengambil kebijakan (pimpinan organisasi) maka pelayanan publik akan dapat ditingkatkan.

Faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi kinerja pegawai antara lain kepemimpinan, motivasi dan disiplin Kerja pegawai dalam melaksanakan tugasnya. Kenyataan menunjukan bahwa tidak sedikit pegawai yang tidak disiplin pada saat jam kerja, akibat dari ketidak disiplinan tersebut berdampak negatif terhadap kinerja. Beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap kedisiplinan pegawai adalah tingkat kondisi seseorang, motivasi dan kepemimpinan.

Bertolak dari latar belakang masalah tersebut maka secara operasional permasalahan

yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut : ”Apakah ada pengaruh antara Gaya

Kepemimpinan, Motivasi dan Disiplin Kerja terhadap Kinerja pegawai di Kantor Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL-PPM) Kelas I Medan

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia?”

Tujuan dari penelitian ini adalah : Untuk mengkaji dan menganalisis sejauh mana pengaruh antara Gaya Kepemimpinan, Motivasi dan Disiplin Kerja terhadap kinerja pegawai di Kantor Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL- PPM) Kelas I Medan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Dengan tercapainya tujuan penelitian ini, maka diharapkan hasilnya akan bermanfaat sebagai berikut :

1. Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah, khususnya para pegawai di Kantor Balai

Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL-PPM) Kelas I Medan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam upaya meningkatkan kualitas kinerja mereka.

2. Memberikan konstribusi pemikiran dalam rangka mengetahui pengaruh efektifitas

kepemimpinan, motivaswi dan disiplin kerja pegawai terhadap kinerja pegawai di Lingkungan di Kantor Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL-PPM) Kelas I Medan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sekaligus menjadi masukan kepada pimpinan kantor Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL-PPM) Kelas I Medan Kementerian Kesehatan

Republik Indonesia dan seluruh pegawai dalam rangka meningkatkan kinerja di unit kerjanya masing-masing.

Kerangka Teoritis

Gaya kepemimpinan pada dasarnya mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu. Pengertian gaya kepemimpinan yang demikian ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Davis dan Newstrom (1995) yang menyatakan bahwa pola tindakan pemimpin secara keseluruhan seperti yang dipersepsikan atau diacu oleh bawahan.

Robbins (2001:166) mengemukakan pendapatnya bahwa motivasi didefinisikan sebagai kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan -tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya untuk memenuhi sesuatu kebutuhan individu. Dengan demikian indicator Motivasi dalam penel itian ini adalah :

1. Motivasi ekternal, yang meliputi : (a) hubungan antar pribadi, (b)

pengkajian/honorium, (c) supervise Kepala Kantor, (d) kondisi kerja.

2. Motivasi Internal, yang meliputi : (a) dorongan untuk bekerja, (b) kemajuan dalam

karier, (c) pengakuan yang diperoleh, (d) rasa tanggung jawab dalam pekerjaan, (e) minat terhadap tugas, (f) dorongan untuk berprestasi.

David Mc. Clelland (dalam Owens 1987:129) mengemukakan adanya pemuasan kebutuhan personil yang menimbulkan motivasi mereka, yaitu: kebutuhan prestasi, kebutuhan kekuasaan, dan kebutuhan afiliasi. David Mc Cleand, melalui riset empiris, telah mengemukakan bahwa para usahawan, ilmuwan dan ahli mempunyai tingkat motivasi prestasi di atas rata-rata. Motivasi prestasi seorang usahawan tidak semata-mata ingin mencapai keuntungan , tetapi dia mempunyai keinginan yang kuat untuk berprestasi. Seseorang dianggap mempunyai motivasi prestasi yang tinggi apabila dia mempunyai keinginan untuk berprestasi lebih baik dari pada yang lain dalam banyak situasi.

Mc Clelland, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran Motivasi, yakni:

a. Tanggung jawab dalam menyelesaikan masalah yaitu kesediaan individu untuk

menanggung segala sesuatu yang telah menjadi konsekuensinya.

b. Mempunyai tujuan yang sesuai kemampuan, yaitu kemampuan individu untuk mencapai

tujuan pribadi secara realitik, aktif, efektif dan efisien.

c. Daya tahan terhadap tekanan yaitu kemampuan individu dalam mengatasi kesulitan-

kesulitan yang dihadapi, agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya guna melangsungkan aktivitas/pekerjaan.

d. Ketidakpuasan yaitu sikap positif individu yang selalu berpandangan baik dalam

menghadapi segala hal tentang diri, harapan, dan kemampuan.

e. Kepercayaan diri yaitu sikap positif individu tentang dirinya bahwa ia mengerti sungguh-

sungguh akan apa yang dilakukan.

Davis (2002: 112) “Disiplin adalah tindakan manajemen untuk memberikan semangat

kepada pelaksanaan standar organisasi, ini adalah pelatihan yang mengarah pada upaya membenarkan dan melibatkan pengetahuan-pengetahuan sikap dan perilaku pegawai sehingga

ada kemauan pada diri pegawai untuk menuju pada kerjasama dan prestasi yang lebih baik”.

Maryoto, (2000:91), kinerja karyawan adalah hasil kerja selama periode tertentu dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, misal standar, target/sasaran atau kriteria yang telah disepakati bersama. Gibson (1996:70) menyatakan kinerja adalah hasil yang diinginkan

dari perilaku. Kinerja individu merupakan dasar dari kinerja organisasi. Penilaian kinerja mempunyai peranan penting dalam peningkatan motivasi ditempat kerja.

Kerangka Pemikiran

Berikut ini dikemukakan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini untuk memahami fenomena gaya kepemimpinan, motivasi dan disiplin kerja di Kantor Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL-PPM) Kelas I Medan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, khususnya tentang pengaruh gaya kepemimpinan, motivasi, dan disiplin terhadap kinerja pegawainya. Alur pemikiran tersebut dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Pengaruh Gaya kepemimpinan, Motivasi dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Pegawai di

BTKL – PPM Kelas I Medan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Hipotesis

Berdasarkan identifikasi, perumusan masalah, kajian pustaka, kerangka pemikiran dan paradigma penelitian di atas, maka hipotesis yang dapat diuraikan untuk penelitian ini

adalah sebagai berikut : “Ada pengaruh yang signifikan antara Gaya kepemimpinan, Motivasi

dan Disiplin Kerja terhadap Kinerja Pegawai di Kantor Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL-PPM) Kelas I Medan Kementerian Kesehatan

Republik Indonesia.”

2. METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada Pegawai di Kantor Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL-PPM) Kelas I Medan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan survey dengan jenis penelitian Deskriptif Kuantitatif. Pendekatan survey adalah kegiatan mengumpulkan data sebanyak- banyaknya mengenai fakta-fakta yang merupakan pendukung terhadap penelitian, dengan maksud untuk mengetahui status, gejala menentukan kesamaan status dengan cara membandingkan dengan standard yang sudah dipilih dan atau ditentukan (Arikunto, 2005)

Gaya Kepemimpinan : 1. Structure initiating

Motivasi Kerja :

1. Intrinsik

Kinerja Pegawai (Y)

(1) Kualitas pekerjaan

(2) Kuantitas Pekerjaan

(3) Supervisi yang diperlukan

(4) Kehadiran

Disiplin : 1. Preventif

Jenis penelitian berupa deskriptif kuantitatif, yaitu untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Gaya Kepemimpinan, Motivasi, dan Disiplin Kerja terhadap Kinerja pegawai di kantor Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL-PPM) Kelas I Medan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Menurut Sugyono (2006), penelitian deskriptif dilakukan untuk mengetahui nilai variabel independen. Adapun sifat

penelitian adalah explanatory research yaitu menguraikan dan menjelaskan pengujian mengenai

konsep baru atau pencarian sebab akibat antar variabel.

Populasi target penelitian ini adalah semua pegawai di Kantor Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL-PPM) Kelas I Medan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang berjumlah 59 orang. Sampel penelitian menggunakan teknik sampel jenuh dimana semua anggota populasi di angkat menjadi sampel penelitian.

Untuk memperoleh data yang sesuai dengan permasalahan penelitian digunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut : (1). Studi dokumentasi, yaitu pengumpulan data dengan cara mempelajari, menelaah berbagai buku-buku, penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh orang lain, serta dokumentasi yang ada relevansinya dengan masalah yang diteliti. (2) Kuisioner, yaitu berupa daftar pertanyaan yang disusun untuk disebarkan kepada resfonden.

Alat pengumpul data dikembangkan dengan kuisioner yang berbentuk skala likert

dengan alternatife jawaban untuk masing-masing variable dan diberi skor 1 – 5 sebagai berikut

: Selalu/Sangat Setuju/sangat tinggi/sangat penting, Sering/Setuju/tinggi/penting, Kadang-

kadang/Ragu-ragu/cukup tinggi/cukup penting, hampir tidak pernah/tidak

setuju/rendah/kurang penting, tidak pernah/sangat tidak setuju/rendah sekali/tidak penting. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey penjelasan (explanatory survey method) dengan pendekatan kuantitatif melalui korelasi dan analisis jalur. Analisis ini akan digunakan dalam menguji besarnya pengaruh yang ditunjukkan oleh koefisien Korelasi antara variable Gaya Kepemimpinan (X1), motivasi kerja (X2) dan displin

kerja (X3) terhadap kinerja pegawai (Y).

Metode analisis yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan ekonometrika atau regresi yang dimaksudkan untuk mengetahui Pengaruh variabel-variabel bebas terhadap variabel terikatnya. Model regresi yang dilakukan pada penelitian ini adalah regresi linier berganda. Berdasarkan rancangan penelitian sebelumnya, Pengaruh variabel terikat dan variabel bebas dinyatakan sebagai berikut :

ε

X

β

X

β

X

β

β

Y

0

1 1

2 2

3 3

Keterangan : Y = Kinerja Pegawai X1 = Gaya Kepemimpinan X2 = Motivasi X3 = Disiplin Kerja

= Variabel Penganggu

0 = Konstanta 2 1

,

= Koefisien Estimasi Model

Persamaan tersebut akan diestimasi dengan menggunakan metode OLS dan akan digunakan program SPSS untuk mengestimasinya.

3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen JURNAL EKONOMI DAN BISNIS (Halaman 44-52)

Dokumen terkait