PERHITUNGAN BAKTERI DENGAN METODE HITUNGAN CAWAN
11 Tuang TBUD 1,95 x 10 8 2,8 x 10 8 Sebar TBUD 2,63 x 10 8 8,3 x 10
12 Tuang 49 - 72
Sebar 48 124 80
Keterangan:
TBUD : Terlalu Banyak Untuk Dihitung 3.2. Pembahasan
Bakteri terdapat berkoloni di berbagai tempat. Dalam satu koloni bakteri terdapat sangat banyak sel bakteri. Untuk mengetahui jumlah bakteri pada suatu bahan maka dapat dilakukan penghitungan jumlah bakteri. Metode yang dapat digunakan untuk menentukan jumlah mikrobe di dalam bahan pangan terdiri terdiri metode hitungan cawan, Most Probable Number (MPN), dan metode hitungan mikroskopis langsung, serta metode turbidimetri (Hadioetomo, 1990). Dalam praktikum ini digunakan metode hitungan cawan.
Prosedur yang paling menentukan dalam metode hitungan cawan tuang adalah pengenceran. Suatu bahan yang diperkirakan mengandung lebih dari 300 sel mikroba per ml, per gram, atau per cm2 memerlukan perlakuan pengenceran sebelum ditumbuhkan pada medium agar di dalam cawan petri, sehingga setelah diinkubasi akan terbentuk koloni dalam cawan tersebut dalam jumlah yang dapat
dihitung, di mana jumlah yang terbaik adalah 30-300 koloni. Larutan yang digunakan untuk pengenceran dapat berupa larutan buffer fosfat, larutan garam fisiologi 0,85%, atau larutan Ringer (Hadioetomo, 1990). Larutan fisiologi yang digunakan dalam pengenceran pada praktikum ini adalah larutan garam fisiologi 0,85%.
Hadioetomo (1990) menyatakan bahwa metode hitungan cawan dapat dibedakan atas metode tuang (pour plate) dan metode permukaan (surface/spread plate). Kedua metode tersebut dilakukan dalam praktikum ini, namun istilah yang digunakan berbeda yaitu metode cawan tuang dan cawan sebar.
Menurut Hadioetomo (1990) prinsip dari metode hitungan cawan adalah jika sel mikroba yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar maka sel mikroba tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop. Metode hitungan cawan merupakan cara yang paling sensitif untuk menentukan jumlah mikroba karena hanya sel yang masih hidup yang dihitung, beberapa jenis mikroba dapat dihitung sekaligus, dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari satu sel mikroba dengan penampakan pertumbuhan yang spesifik.
Hasil praktikum dari masing-masing kelompok menunjukkan hasil yang bervariasi. Hampir semua kelompok mendapatkan hasil TBUD (Terlalu Banyak Untuk Dihitung). Metode hitungan cawan dapat dikatakan berhasil jika jumlah koloni bakteri yang diperoleh semakin kecil pada akhir pengenceran. Hal ini dapat terjadi akibat kesalahan prosedur pengenceran atau kerja yang tidak aseptik.
Prosedur pengenceran yang tidak tepat akan mengakibatkan bakteri yang diencerkan tidak tersebar merata, sehingga ketika pengenceran dilanjutkan bakteri yang terencerkan semakin sedikit. Akhirnya bakteri yang terhitung pada cawan tuang ataupun cawan gores menjadi kurang dari 30 koloni.
Kerja yang tidak aseptik akan menyebabkan terjadi kontaminan yang dapat berkembang menjadi koloni pada media cawan tuang maupun sebar. Akibatnya kontaminan tersebut akan terhitung, sehingga koloni bakteri dalam satu cawan petri menjadi lebih dari 300 koloni. Sesuai dengan Hadioetomo (1990), bahwa beberapa jenis mikroba dapat dihitung sekaligus pada metode hitungan cawan.
Metode hitungan cawan memiliki kelemahan-kelemahan antara lain, hasil perhitungan tidak menunjukkan jumlah sel mikroba yang sebenarnya karena beberapa sel yang berdekatan mungkin membentuk satu koloni, medium dan kondisi berbeda mungkin menghasilkan nilai yang berbeda, mikroba yang ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk koloni yang jelas dan kompak serta tidak menyebar, memerlukan persiapan dan waktu inkubasi yang lama sehingga pertumbuhan koloni dapat dihitung (Hadioetomo, 1990).
Jumlah koloni pada pengenceran 10-4, 10-5, dan 10-6 seharusnya cenderung semakin sedikit. Hal ini sesuai dengan tujuan pengenceran, yaitu agar pada saat ditumbuhkan dalam cawan petri, koloni yang terbentuk jumlahnya dapat dihitung. Jumlah koloni yang lebih banyak pada pengenceran yang lebih besar mengindikasikan kesalahan prosedur baik dalam pengenceran maupun kerja yang aseptik. Menurut Hadioetomo (1990) ketelitian akan lebih tinggi jika digunakan dua cawan petri untuk setiap pengenceran.
Bakteri yang dipakai pada praktikum ini adalah Pseudoalteromonas sp..
Pseudoalteromonas sp. merupakan bakteri gram negatif yang berbentuk batang atau basilus. Habitat umumnya berada di perairan laut, terutama pada karang koral atau spons. Bakteri ini dapat mencegah biofouling, yaitu rusaknya karang akibat organisme yang menempel pada suatu karang melebihi daya tampung karang dan bermanfaat sebagai elemen daur ulang, detoxifikasi, dan sebagai bahan produksi apabila membentuk biofilm (Answer, 2007).
Berikut ini taksonomi dari bakteri Pseudoalteromonas sp. Kingdom : Bacteria
Phylum : Proteobacteria
Class : Gamma Proteobacteria Ordo : Alteromonadales Famili : Alteromonadaceae Genus : Pseudoalteromonas
Species : Pseudoalteromonassp. (Answer, 2007)
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Hasil praktikum dari masing-masing kelompok menunjukkan hasil yang bervariasi. Hampir semua kelompok mendapatkan hasil TBUD (Terlalu Banyak Untuk Dihitung). Metode hitungan cawan dapat dikatakan berhasil jika jumlah koloni bakteri yang diperoleh semakin kecil pada akhir pengenceran. Hal ini dapat terjadi akibat kesalahan prosedur pengenceran atau kerja yang tidak aseptik. 4.2. Saran
Sebagian besar praktikan masih belum dapat bekerja secara aseptik dan sesuai prosedur yang benar, oleh karena itu diharapkan untuk praktikum selanjutnya agar praktikan lebih siap dan hati-hati dalam melakukan prosedur kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Answer. 2007. Pseudoalteromonas. http://answer.com/topic/pseudoalteromonas. Ayuzar, Eva. 2008. Mekanisme Penghambatan Bakteri Probiotik Terhadap
Pertumbuhan Vibrio harveyi pada Larva Udang Windu (Penaeus monodon) [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana. Institut pertanian Bogor.
Hadioetomo, Ratna. 1990. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Meha, Deliana. 2003. Patogenesitas Vibrio harveyi dengan Penanda Resistan Rifampisin (Rf-R) dan Green Fluorescent Protein (GFP) pada Larva Udang Windu (Penaeus monodon Fab.) [Skripsi]. Bogor: Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Rajab, Fahmi. 2006. Isolasi dan Seleksi Bakteri Probiotik dari Lingkungan
Tambak dan Hatchery Untuk Pengendalian Penyakit Vibriosis pada Larva Udang Windu (Penaeus monodon) [Skripsi]. Bogor: Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Praktikum ke-7 Tanggal : 7 November 2012 m.k. Mikrobiologi Akuakultur Kelompok : XI
Asisten : Rahman
Adni Zein
Dewi Nurhayati Firsty Rahmatia Titi Nur Cahyati Dendi Hidayatullah Wahyu Afrilasari Nurlita Christyaningsih