Perusahaan menyadari bahwa situasi lingkungan eksternal dan internal Perusahaan telah mengalami perkembangan yang diikuti dengan semakin kompleksnya risiko kegiatan usaha Bankan dan meningkatnya kebutuhan akan praktek tata kelola yang sehat (Good Corporate
Governance). Sebagai tanggapan terhadap kondisi tersebut, Perusahaan telah mengimplementasikan kerangka menajemen risiko yang memadai mengacu pada pilar-pilar dan ketentuan yang tercantum dalam peraturan dan ketentuan otoritas yang disesuaikan dengan tujuan, kebijakan, ukuran dan kompleksitas usaha serta kemampuan Perusahaan, yang meliputi: 1. Pengawasan Aktif dari Dewan Komisaris dan Direksi;
2. Kecukupan Kebijakan, Prosedur, dan Penetapan Limit;
3. Kecukupan proses Identifikasi, Pengukuran, Pengawasan, dan Pengendalian risiko, serta sistem informasi Manajemen Risiko;
4. Sistem Pengendalian Internal.
Kerangka tersebut digunakan Perusahaan sebagai bagian integral dari menetapkan strategi, struktur organisasi, kebijakan dan pedoman serta memperkuat infrastruktur manajemen risiko guna mempertahankan tingkat kesehatan bank dan memastikan bahwa semua risiko yang dihadapi dapat diidentifikasi, diukur, dikendalikan, dimitigasi dan dilaporkan dengan baik serta aktivitas usaha yang dilakukan Perusahaan tidak menimbulkan kerugian yang melebihi kemampuan Perusahaan atau dapat mengganggu kelangsungan usaha Perusahaan.
Penerapan manajemen risiko dilakukan secara konsolidasi baik dari sisi konvensional dan Unit Usaha Syariah (UUS), antara lain terkait pengelolaan risiko atas produk-produk Dana Pihak Ketiga, portofolio kredit dan pembiayaan, pengelolaan likuiditas, dan aktivitas operasional.
Perusahaan telah menerapkan konsep 3 (tiga) Baris Pertahanan (three lines of defenses), membagi fungsi-fungsi di dalam organisasi yang terlibat di dalam manajemen risiko menjadi tiga kelompok, yaitu Pemilik risiko (risk owner), pengawas risiko (risk overseer), dan penyedia pemastian independen. Di samping itu, organisasi dapat pula melibatkan pihak eksternal sebagai lapis tambahan.
Lapis pertama adalah pemilik risiko yang bertanggung jawab mengelola risiko, dan menerapkan pengendalian internal dalam pekerjaan sehari-hari, serta melakukan tindakan korektif dalam mengatasi kelemahan pada proses dan pengendalian. Lapis kedua adalah fungsi atau unit organisasi yang membantu membangun, memantau pengendalian lapis pertama, dan memastikan lapis pertama melakukan tanggung jawabnya dengan memadai. Fungsi ini dilakukan oleh satuan kerja manajemen risiko (risk management group), satuan kerja kepatuhan (compliance group), dan penjaminan mutu (quality assurance). Lapis ketiga adalah audit internal yang memastikan secara independen pelaksanaan dari Lapis pertama dan Lapis kedua terhadap tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian internal.
Untuk Lapis tambahan dilakukan oleh auditor eksternal dan regulator yang memberikan tambahan informasi penerapan manajemen risiko bank kepada para pemangku kepentingan.
Perusahaan telah membentuk komite yang membantu Direksi dan Dewan Komisaris dalam mengendalikan dan memitigasi risiko yang secara potensial dihadapi oleh Perusahaan. Risk
Manement Group (RMG) telah dibentuk secara independen terhadap unit-unit operasional dan
bertanggung jawab langsung kepada Direktur Manajemen Risiko dan Kepatuhan. Adapun tugas dan tanggung jawab Risk Management Group (Satuan Kerja Manajemen Risiko) antara lain mencakup:
a. Memberikan masukan kepada Direksi dalam penyusunan kebijakan, strategi, dan kerangka manajemen risiko;
b. Mengembangkan prosedur dan alat untuk identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko;
c. Mendesain dan menerapkan perangkat yang dibutuhkan dalam penerapan manajemen risiko; d. Memantau implementasi kebijakan, strategi, dan kerangka manajemen risiko yang
direkomendasikan oleh Komite Manajemen Risiko dan yang telah disetujui oleh Direksi; e. Memantau posisi/eksposur risiko secara keseluruhan, maupun per risiko termasuk
pemantauan kepatuhan terhadap toleransi risiko dan limit yang ditetapkan;
f. Melakukan stress testing guna mengetahui dampak dari implementasi kebijakan dan strategi manajemen risiko terhadap portofolio atau kinerja Perusahaan secara keseluruhan;
g. Mengkaji usulan aktivitas dan/atau produk baru yang dikembangkan oleh suatu unit tertentu Perusahaan. Pengkajian difokuskan terutama pada aspek kemampuan Perusahaan untuk mengelola aktivitas dan/atau produk baru termasuk kelengkapan sistem dan prosedur yang digunakan serta dampaknya terhadap eksposur risiko Perusahaan secara keseluruhan; h. Memberikan rekomendasi kepada satuan kerja bisnis dan/atau kepada Komite Manajemen
Risiko terkait penerapan manajemen risiko antara lain mengenai besaran atau maksimum eksposur risiko yang dapat dipelihara Perusahaan;
i. Mengevaluasi akurasi dan validitas data yang digunakan oleh Perusahaan untuk mengukur risiko bagi Perusahaan yang menggunakan model untuk keperluan intern;
j. Menyusun dan menyampaikan laporan profil risiko kepada Direktur Utama, Direktur Manajemen Risiko, dan Komite Manajemen Risiko secara berkala atau paling kurang secara triwulanan. Frekuensi laporan harus ditingkatkan apabila kondisi pasar berubah dengan cepat;
k. Melaksanakan kaji ulang secara berkala dengan frekuensi yang disesuaikan kebutuhan Perusahaan, untuk memastikan:
1. kecukupan kerangka Manajemen Risiko; 2. keakuratan metodologi penilaian Risiko; dan 3. kecukupan sistem informasi Manajemen Risiko.
Pandemi Covid 19 berdampak terhadap aktivitas bisnis dan operasional Perusahaan selama Triwulan I 2021 antara lain tercermin pada Risiko Kredit dimana Perusahaan melakukan restrukturisasi untuk debitur yang usahanya terkena dampak Covid 19 dengan mengacu pada POJK 48/POJK.03/2020 dan POJK No. 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical dampak penyebaran Covid 2019 dan Perusahaan menerapkan prinsip kehati-hatian dan selektif dalam pemberian kredit, Perusahaan menyalurkan kredit ke sektor-sektor tertentu yang masih memiliki prospek dan kepada Debitur yang terdampak
Covid-19 yang masih memiliki prospek usaha. Dari sisi operasional, Perusahaan mengambil langkah antisipatif penyebaran virus di lingkungan kantor dengan melakukan split operation unit
critical, work from home, pembentukan Tim Gugus Covid 19, melakukan sosialisasi protokol
kesehatan dan tindakan pencegahan lainnya sehingga cukup berpengaruh terhadap aktivitas operasional Perusahaan secara keseluruhan baik di cabang maupun kantor pusat. Namun demikian, sejauh ini seluruh aktivitas operasional dapat terkendali dan berjalan dengan baik. Perusahaan melakukan pengelolaan terhadap 8 (delapan) jenis risiko, yang antara lain sebagai berikut:
1. Risiko Kredit
Risiko kredit adalah risiko yang terjadi akibat kegagalan pihak lawan (counterparty) memenuhi liabilitasnya, yang timbul dari aktivitas fungsional Perusahaan seperti perkreditan (penyediaan dana), treasury, investasi dan pembiayaan perdagangan (trade finance).
Dalam mengelola risiko kredit, Perusahaan memiliki appetite dalam menetapkan jumlah portofolio kredit untuk setiap segmen usaha yaitu: Korporasi, Retail, Mikro, dan Consumer, baik untuk konvensional maupun syariah.
Risk Management Group (Satuan Kerja Manajemen Risiko) berupaya secara bertahap
menyempurnakan metodologi identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pelaporan informasi risiko yang efektif, dan mengkaji secara berkala kerangka manajemen risiko yang ada untuk meminimalisasi berbagai risiko usaha yang dihadapi.
Selama Triwulan I 2021, Bank secara berkesinambungan telah dan/atau akan melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam proses kredit antara lain dilakukan beberapa perubahan berupa:
Perubahan Segmentasi dan besaran Plafon dari masing-masing segmen kredit dengan tujuan meminimalkan risiko konsentrasi kredit dari debitur inti;
Perubahan Struktur Organisasi dimana Credit Analyst (Credit Management Group(CMG) dan Corporate Credit Analyst(CCA)) menjadi pihak independen dari unit bisnis dalam proses pemberian kredit dan/atau pembiayaan, CMG&CCA menjadi berada di Direktorat
Compliance & Risk Management dan bertanggung jawab kepada Compliance & Risk Management Director;
Perubahan Struktur Organisasi Loan Recovery menjadi pihak yang independen dari unit bisnis dan Credit Analyst sehingga menjadi lebih independensi dan obyektif dalam menentukan dan menjalankan strategi penagihan yang akan dilakukannya. Selanjutnya Loan Recovery berada di Direktorat Compliance & Risk Management dan bertanggung jawab kepada Compliance & Risk Management Director;
Fungsi Early Warning akan digiatkan oleh CMG dan CCA untuk mendeteksi dini kinerja, prospek dan kemampuan membayar debitur untuk meminimalkan potensi gagal bayar dan/atau turun kolektibilitas yang berdampak pada penambahan pembentukan CKPN; Credit Administration and Control (CAC) akan memastikan dan memperkuat fungsi
Monitoring atas Pemenuhan Covenant dan Pemenuhan kelengkapan Dokumen;
Risk Management Group bekerja sama dengan pemilik risiko (Unit Business, CCA, Loan
Recovery) akan memantau dan melaporkan antara lain perkembangan Restrukturisasi
Covid 19 terhadap portofolio bank, per sector ekonomi, perkantor wilayah, persegmentasi, kualitas kredit dan pembentukan CKPN secara bulanan sampai relaksasi Covid 19 berakhir di 31 Maret 2022;
Risk Management Group melakukan uji ketahanan (stress testing) dengan tujuan mengukur
potensi NPL, penambahan pembentukan CKPN dan ketahanan modal bank secara berkala. Selain itu, risiko kredit dikelola melalui penetapan kebijakan-kebijakan dan proses-proses yang meliputi kriteria pemberian kredit dan persetujuan kredit, penetapan harga, pemantauan, pengelolaan kredit bermasalah dan manajemen portofolio.
Perusahaan telah memiliki kebijakan dan pedoman tertulis terkait dengan kegiatan perkreditan yang antara lain, mengatur prosedur analisa kredit, persetujuan kredit, pencatatan dan pengawasan kredit, dan restrukturisasi kredit. Kebijakan dan prosedur tersebut dievaluasi/dikaji secara berkala untuk disesuaikan perubahan kondisi serta arah kebijakan Perusahaan agar potensi risiko dapat dimitigasi.
Proses pemantauan kualitas kredit sampai dengan penanganan kredit bermasalah terus ditingkatkan dengan berbagai strategi yang dimonitor secara periodik untuk memastikan agar kualitas portofolio kredit tetap terjaga. Pengelolaan kredit yang efektif dapat meminimalkan kerugian dan mengoptimalkan penggunaan modal yang dialokasikan untuk risiko kredit. Selain itu, mengelola sumber daya manusia secara kuantitas dan kualitas, serta mempersiapkan kebijakan dan prosedur kerja.
Proses underwriting kredit telah dikaji ulang dengan melakukan revisi maupun menerbitkan beberapa kebijakan perkreditan disetiap segmen kredit termasuk kewenangan dalam memutus kredit, Monitoring Kredit, Ketentuan Penanganan Kredit/Pembiayaan yang Terdampak Penyebaran Covid-19 dan lainnya.
Selain itu, untuk mendukung pertumbuhan kredit yang sehat Bank juga mengadakan training dan workshop antara lain pelatihan mengenai Analisa Kredit, Pembiayaan Haji, Credit Scoring
Development, Bank Garansi Sharing Session Internal terkait kredit/pembiayaan dengan
pembahasan diantaranya terkait isu-isu legal, pencadangan kredit, penanganan kredit bagi debitur yang terdampak Covid-19, mekanisme penilaian agunan, ketentuan Internal Bank,
Credit Analyst, Early Warning, Produk Trade Finance, dan lainnya.
Perusahaan juga telah mengembangkan Digital Loan. Dalam penerapannya telah dilakukan implementasi One Limit System untuk mengukur repayment capacity setiap applicant, serta dilakukan analisa performance monitoring. Perusahaan juga telah melakukan tinjauan atas pengembangan scoring dan dilakukan validasi model secara berkala.
Selain itu, terkait dengan masa Pandemi Covid-19, Perusahaan juga telah menyusun strategi dan action plan untuk aktivitas perkreditan, yang akan lebih fokus pada debitur saat ini
(existing) terutama yang terdampak dan akselerasi proses restrukturisasi bagi debitur yang
terdampak, penghentian sementara penyaluran kredit (untuk segmen non korporasi) dan fokus pada supervisi perpanjangan kredit serta secara selektif menerapkan pembatasan pencairan terhadap unused credit facility/kelonggaran tarik fasilitas kredit dan memberikan penyaluran kredit kepada debitur-debitur yang memiliki jaminan/agunan yang memadai dan dan sektor-sektor yang masih memiliki prospek usaha.
Dalam hal penanganan Pembiayaan Bermasalah, Perusahaan telah melakukan sejumlah
action diantaranya melakukan restrukturisasi kredit, eksekusi Hak Tanggungan, AYDA dan
pemasaran jaminan melalui media digital dan non digital.
Sejak bulan Januari 2020, Perusahaan telah mengimplementasikan PSAK No. 71 dalam hal pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai kredit sesuai dengan penetapan Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI). Perusahaan telah membangun infrastruktur dan sistem IT yang dapat melakukan proses Classification &
Cakupan penurunan nilai berdasarkan PSAK No. 71 (IFRS 9) telah memperhitungkan kerugian di masa mendatang (expected credit loss model).
Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) dengan menggunakan metode Expected Credit
Loss sesuai dengan ketentuan PSAK No. 71 (IFRS 9) menghitung penurunan nilai pada
Portofolio (1) Kredit; (2) Treasury; (3) Trade Finance baik untuk On B/S maupun Off B/S setiap bulan. Perusahaan melakukan permodelan Probability Of Default, Loss Given Default,
Exposure At Default, dan Forward Looking Macroeconomic information untuk semua
segmentasi portofolio instrumen keuangan sesuai dengan metodologi yang telah ditentukan oleh Perusahaan.
Pengukuran Cadangan Kerugian Kredit Ekpektasian
Mulai 1 Januari 2020, perhitungan Perusahaan mengacu pada PSAK No. 71 yang memperkenalkan metode kerugian kredit ekspektasian dalam mengukur kerugian instrumen keuangan akibat penurunan nilai. Berbeda dengan PSAK No. 55 sebelumnya yang mengakui kerugian kredit pada saat peristiwa kerugian kredit terjadi, PSAK No. 71 mensyaratkan pengakuan segera atas dampak perubahan kerugian kredit ekspektasian setelah pengakuan awal aset keuangan. Perusahaan mengembangkan permodelan parameter risiko seperti PD (Probability of Default), LGD (Loss Given Default) dan EAD (Exposure at Default) yang digunakan sebagai komponen perhitungan kerugian kredit ekspektasian.
PSAK No. 71 mensyaratkan entitas untuk mengelompokkan aset keuangan ke dalam tiga tahapan penurunan nilai (stage 1, stage 2 dan stage 3) dengan menentukan apakah terjadi peningkatan risiko kredit yang signifikan. Perusahaan mengukur cadangan kerugian sejumlah kerugian kredit ekpektasian 12 bulan untuk aset keuangan yang memiliki risiko kredit rendah pada tanggal pelaporan (stage 1) dan kerugian kredit sepanjang umur untuk aset keuangan yang mengalami peningkatan risiko kredit yang signifikan (stage 2). Pada setiap tanggal pelaporan, entitas menilai apakah risiko kredit atas instrumen keuangan telah meningkat secara signifikan (SICR) sejak pengakuan awal. Dalam melakukan penilaian tersebut, entitas membandingkan risiko gagal bayar pada saat pengakuan awal serta mempertimbangkan informasi yang wajar dan terdukung yang tersedia tanpa biaya atau upaya berlebihan, yang merupakan indikasi peningkatan risiko kredit secara signifikan (SICR) sejak pengakuan awal. Secara umum, aset keuangan dengan tunggakan 30 hari atau lebih dan belum mengalami penurunan nilai akan selalu dianggap telah mengalami peningkatan risiko kredit yang signifikan (SICR). Aset keuangan hanya akan dianggap mengalami penurunan nilai dan kerugian kredit ekspektasian sepanjang umurnya diakui, jika terdapat bukti objektif penurunan nilai yang dapat diobservasi, termasuk antara lain gagal bayar atau mengalami kesulitan keuangan yang signifikan.
Dalam menghitung kerugian kredit ekspektasian, Perusahaan memperhitungkan pengaruh dari proyeksi makroekonomi. Selain itu, Perusahaan juga menentukan bobot probabilitas untuk kemungkinan terjadinya sebuah skenario makro tersebut. Berbagai variabel makroekonomi digunakan dalam permodelan PSAK No. 71 tergantung pada hasil analisis statistik kesesuaian variabel dengan data historis pembuatan model penurunan nilai. Perhitungan kerugian kredit ekspektasian dan proyeksi makroekonomi tersebut direviu oleh Perusahaan secara berkala. Variabel yang digunakan Perusahaan antara lain GDP, nilai inflasi, nilai kurs dan lain-lain. Sehubungan dengan adanya pandemi COVID-19 yang telah menimbulkan ketidakpastian ekonomi global dan domestik, Perusahaan senantiasa melakukan identifikasi dan pemantauan secara berkelanjutan dan tetap berjaga-jaga untuk melakukan pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai atas debitur yang telah mendapatkan fasilitas restrukturisasi.
Berikut adalah eksposur maksimum instrumen keuangan dalam laporan posisi keuangan dan
rekening administratif yang terkait risiko kredit pada periode 31 Maret 2021 dan 31 Desember 2020:
Stage 1 Stage 2 Stage 3 Syariah Jumlah
Laporan Posisi Keuangan
Diukur pada nilai wajar melalui laba rugi
Efek-efek
Reksadana 66.156 - - - 66.156 Tagihan Derivatif 583 - - - 583 Aset Lain-lain
Diukur pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain
Efek-efek
Obligasi korporasi 2.708.083 - - - 2.708.083
Diukur pada biaya perolehan dimortisasi
Giro pada bank lain - pihak ketiga 4.687.613 - - - 4.687.613 Penempatan pada bank lain
Call money - - - - -Efek-efek
Obligasi korporasi 134.056 - - 209.260 343.316 Tagihan atas wesel ekspr 9.862 - - - 9.862 Kredit yang diberikan (termasuk
pembiayaan prinsip syariah) 11.813.457 2.315.924 964.953 4.103.324 19.197.658 Tagihan akseptasi 217.844 - 119.800 - 337.644 Pendapatan yang masih akan diterima 258.391 - - 27.490 285.881 Aset lain-lain 138.549 - 864 - 139.413
Jumlah 20.034.594 2.315.924 1.085.617 4.340.074 27.710.053 31 Maret 2021
Stage 1 Stage 2 Stage 3 Syariah Jumlah
Laporan Posisi Keuangan
Diukur pada nilai wajar melalui laba rugi
Efek-efek
Reksadana 69.407 - - - 69.407 Aset Lain-lain
Diukur pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain
Efek-efek
Obligasi korporasi 2.726.968 - - - 2.726.968
Diukur pada biaya perolehan dimortisasi
Giro pada bank lain - pihak ketiga 2.158.349 - - - 2.158.349 Penempatan pada bank lain
Call money 100.000 - - - 100.000 Efek-efek
Obligasi korporasi 131.602 - - 10.375 141.977 Kredit yang diberikan (termasuk
pembiayaan prinsip syariah) 11.164.733 3.203.055 950.123 5.159.381 20.477.292 Tagihan akseptasi 153.617 - 119.800 - 273.417 Pendapatan yang masih akan diterima 226.310 - - 17.458 243.768 Aset lain-lain 167.834 - 864 - 168.698
Jumlah 16.898.820 3.203.055 1.070.787 5.187.214 26.359.876 31 Desember 2020
Eksposur maksimum risiko kredit tercermin dari persentase setiap kategori kredit yang diberikan terhadap jumlah kredit. Portofolio kredit yang diberikan terdiversifikasi ke dalam 20 jenis sektor ekonomi, dimana untuk posisi 31 Maret 2021 dan 31 Desember 2020, kelompok sektor ekonomi yang memperoleh penyaluran kredit terbesar dari Perusahaan adalah sektor ekonomi Perdagangan Besar dan Eceran dan Industri Pengolahan.
Sebagai bagian dari manajemen portofolio, Perusahaan juga melakukan pemantauan perkembangan risiko portofolio kredit melalui perhitungan Credit Risk Profile yang menggambarkan potensi risiko inheren dan efektifitas kualitas penerapan manajemen risiko.
Perusahaan juga melakukan monitoring perkembangan dan kualitas portofolio berdasarkan konsentrasi per kategori portofolio, 25 debitur besar, sektor industri, sektor wilayah, jenis produk, tujuan penggunaan, dan jenis valuta. Dengan demikian, Perusahaan dapat mengambil langkah-langkah antisipasi dan mitigasi risiko secara portofolio maupun secara individu dan juga melalui penyempurnaan proses penerapan manajemen risiko kredit, baik melalui penyempurnaan kebijakan perkreditan maupun pengembangan sistem informasi kredit yang memadai.
Berikut adalah eksposur risiko kredit atas aset Perusahaan (termasuk pembiayaan yang diberikan berdasarkan prinsip syariah) pada tanggal 31 Maret 2021 dan 31 Desember 2020:
Telah jatuh tempo Belum jatuh tempo tetapi tidak
dan tidak mengalami mengalami Mengalami
penurunan nilai penurunan nilai penurunan Jumlah Giro pada bank lain 4.689.156 - - 4.689.156 Penempatan pada bank lain
Diukur pada biaya perolehan
diamortisasi - - - -Efek-efek
Diukur pada nilai wajar
melalui laba rugi 66.739 - - 66.739 Diukur pada nilai wajar melalui
penghasilan komprehensif lainnya 353.178 - - 353.178 Diukur pada biaya perolehan
diamortisasi 2.708.083 - - 2.708.083 Kredit yang diberikan 18.223.355 - 974.303 19.197.658 Tagihan akseptasi 217.844 - 119.800 337.644 Pendapatan yang masih akan diterima 285.881 - - 285.881 Aset lain-lain 138.549 - 854 139.403 Jumlah 26.682.785 - 1.094.957 27.777.742
31 Maret 2021
Telah jatuh tempo Belum jatuh tempo tetapi tidak
dan tidak mengalami mengalami Mengalami
penurunan nilai penurunan nilai penurunan Jumlah Giro pada bank lain 2.158.349 - - 2.158.349 Penempatan pada bank lain
Diukur pada biaya perolehan
diamortisasi 100.000 - - 100.000 Efek-efek
Diukur pada nilai wajar
melalui laba rugi 69.407 - - 69.407 Diukur pada nilai wajar melalui
penghasilan komprehensif lainnya 141.977 - - 141.977 Diukur pada biaya perolehan
diamortisasi 2.164.968 - - 2.164.968 Kredit yang diberikan 19.483.913 - 993.379 20.477.292 Tagihan akseptasi 265.212 - 119.800 385.012 Pendapatan yang masih akan diterima 243.768 - - 243.768 Aset lain-lain 167.834 - 864 168.698 Jumlah 24.795.428 - 1.114.043 25.909.471