BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3. Tujuan dan Manfaat Pegadaian
Sifat usaha pegadaian pada prinsipnya menyediakan pelayanan bagi kemanfaatan masyarakat umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan yang baik. Oleh karena itu perum pegadaian bertujuan sebagai berikut;
a. Turut melaksanakan dan menunjang pelaksanaan kebijaksanaan dan program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya melalui penyaluran uang pembiayaan/pinjaman atas dasar hukum gadai.
13 Madani, Aspek Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia,(Jakarta:Prenadamedia Group,2015),hal.175
b. Pencegahan praktek ijon, pegadaian gelap, dan pinjaman tidak wajar lainnya.
c. Pemanfaatan gadai bebas bunga pada gadai syariah memiliki efek jaring pengaman sosial karena masyarakat yang butuh dana mendesak tidak lagi dijerat pinjaman/pembiayaan berbasis bunga.
d. Membantu orang-orang yang membutuhkan pinjaman dengan syarat mudah.
Adapun manfaat pegadaian, antara lain;
1. Bagi nasabah: tersedianya dana dengan prosedur yang relative lebih sederhana dan dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan pembiayaan/kredit perbankan.
Disamping itu, nasabah juga mendapat manfaat penaksiran nilai suatu barang bergerak secara professional.
2. Bagi perusahaan pegadaian:
a. Penghasi lan yang bersumber dari sewa modal yang dibayarkan oleh peminjam dana
b. Penghasilan yang bersumber dari ongkos yang dibayarkan oleh nasabah memperoleh jasa tertentu.
c. Pelaksanaan misi perum pegadaian sebagai BUMN yang bergerak dibidang pembiayaan berupa pemberian bantuan kepada masyarat yang memerlukan dana dengan prosedur yang relatif sederhana.
d. Berdasarkan PP No. 10 Tahun 1990, laba yang diperoleh digunakan untuk:
(1) Dana pembangunan semesta (55%) (2) Cadangan umum (20%)
(3) Cadangan tujuan (5%) (4) Dana social (20%).14 4. Jasa dan Produk Pengadaian Syariah
Layanan jasa serta produk yang ditawarkan oleh Pegadaian Syariah adalah sebagai berikut:
1. Pemberian pinjaman atau pembiayaan atas dasar hukum gadai Syaratnya harus terdapat jaminan berupa barang bergerak, seperti emas, elektronik, dan lain-lain. Besarnya pemberian pinjaman ditentukan oleh pegadaian, bergantung pada nilai dan jumlah barang yang digadaikan.
2. Penaksiran nilai barang Jasa ini diberikan bagi mereka yang menginginkan informasi tentang taksiran barang yang berupa emas, perak, dan berlian. Biaya yang dikenakan adalah ongkos taksiran barang.
14 Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keungan Syariah,(Jakarta:Prenadamedia Group,2009),hal.394
3. Penitipan barang (ijarah) Barang yang dapat dititipkan, antara lain sertifikat motor, tanah, dan ijazah. Pegadaian akan mengenakan biaya penitipan bagi nasabahnya.
b. Gold counter Merupakan fasilitas penjualan emas yang memiliki sertifikat jaminan sebagai bukti dan keasliannya.15 5. Akad Perjanjian Gadai
a. Akad al-Qardu al-Hasan
Akad al-qardhu al-hasan yaitu suatu akad yang dibuat oleh pihak pemberi gadai dengan pihak gadai dalam hal transaksi gadai harta benda yang bertujuan untuk mendapatkan uang tunai yang diperuntukkan untuk konsumtif.16
Rukun dari akad qardhu hasan yang harus dipenuhi dalam transaksi ada beberapa:
1) Pelaku akad, yaitu muqtaridh (peminjam), pihak yang membutuhkan dana, dan muqridh (pemberi pinjaman), pihak yang memiliki dana 2) Objek akad, yaitu qardh (dana)
3) Tujuan, yaitu „iwad atau countervalue berupa pinjaman tanpa imbalan
15 Ilham Abdi Prawira,” Analisis Hukum Terhadap Produk Arrum Haji di Pegadaian Syariah”, Jurnal Az-Zarqa,Vol.10,No.1, (Juni 2018),hal.16
16 Madani, Aspek Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia,(Jakarta:Prenadamedia Group,2015),hal.177
4) Sighah, yaitu Ijab dan Qabul
Sedangkan syarat dari akad qardhu Hasan yang harus dipenuhi dalam transaksi, yaitu:
a) Kerelaan kedua belah pihak,
b) Dana digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat dan halal.17
b. Akad al-Mudharabah
Akad Mudharabah yaitu suatu akad yang diberikan oleh pihak pemberi gadai (rahin) dengn pihak penerima gadai (murtahin).
Pihak pemberi gadai (rahin) atau orang yang menggadaikan harta benda sebagai jaminan untuk menambah modal usahanya atau pembiayaan produktif.
c. Akad Ba‟I al-Muqayadah
Akad ba‟I al-muqayadah yaitu akad yang dilakukan oleh pemilik sah harta benda barang gadai dengan pengelola barang gadai agar harta benda dimaksud mempunyai manfaat produktif.18
17 Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2008),hal 48
18 Madani, Aspek Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia,(Jakarta:Prenadamedia Group,2015),hal.177
B. Landasan Syariah
1. Dasar Hukum Syariah
Tidak semua orang memiliki kepercayaan untuk memberikan pinjaman/utang kepada pihak lain. Untuk membangun suatu kepercayaan, diperlukan adanya jaminan (gadai) yang dapat dijadikan pegangan.19 Gadai hukumnya mubah berdasarkan dalil Al-quran, Hadis, dan Ijma’. Dasar gadai dari Al-quran adalah firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah(2):383
“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan, barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Menurut tafsir Al-Qur’anul Karim yang diterjemahkan oleh H. M. Nur Idris, peraturan-peraturan yang harus diikuti dalam perkara hutang piutang supaya dapat terjamin hak yang berpiutang. Demikian pula sebaliknya, supaya
19 Burhanuddin S, Aspek Lembaga Keungan Syariah, (Yogyakarta:Graha Ilmu, 2010),hal.170
tidak menimbulkan salah faham atau salah perhitungan di kemudian hari.
Dalam keterangan itu terlihat jelas kesungguhan ajaran Islam dalam memimpin umatnya tentang memelihara hartanya secara halal, sehingga dapat menjamin kelancaran berdagang dan berusaha dengan pasti, melalui saluran hutang piutang. Barangkali tidak ada suatu perusahaan, perdagangan, perseroan, dan segala macam usaha yang terlepas sama sekali dari hutang piutang. Besar kecil perusahaan itu senantiasa tersangkut oleh keadaan itu.20
2. Dasar Hukum Positif
Selain itu, secara praktik dasar hukum gadai syariah di Indonesia telah diatur dalam:
1. Bab XIV Pasal 372 hingga pasal 412 Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah21
2. Fatwa DSN-MUI No.25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn 3. Fatwa DSN-MUI No.26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn Emas 4. Fatwa DSN-MUI No.09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan
Ijarah
5. Fatwa DSN-MUI No.10/DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah 6. Fatwa DSN-MUI No.43/DSN-MUI/VII/2004 tentang Ganti Rugi22
20 Nur Idris, Tafsir Al-Qur‟anul Karim, (Jakarta: Perkumpulan Haji Muhammad Nur Idris, 2015),hal.246
21 Madani, Aspek Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia,(Jakarta:Prenadamedia Group,2015),hal.173
C. Pembiayaan
1. Pengertian Pembiayaan
Produk pembiayaan merupakan salah satu produk unggulan di Lembaga Keuangan Syariah Khususnya bagi lembaga seperti Bank Syariah, Koperasi Syariah serta Pegadaian Syariah. Pembiayaan atau financing merupakan pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain guna mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga.23 Sedangkan menurut M. Syafi’I Antonio, menjelaskan bahwa pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank yaitu pemberian fasilitas dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan deficit unit. Menurut Undang-Undang Perbankan No. 10 tahun 1998 adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai tertentu untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.24
Sedangkan menurut Undang-Undang Perbankan Syariah No. 21 Tahun 2008, pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa:
a. Transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah.
22 Burhanuddin S, Aspek Lembaga Keungan Syariah, (Yogyakarta:Graha Ilmu, 2010),hal.171
23 M. Nur Rianto Al Arif, Lembaga Syariah suatu Kajian Teoritis Praktis , (Bandung: CV Pustaka Setia, 2012), hal 281.
24 Kasmir, Manajemen Perbankan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), hal 73
b. Transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik.
c. Transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam dan istishna’.
d. Transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang dan qardh Transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multi jasa, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Syariah dan/atau Unit Usaha Syariah (UUS) dan pihak lain yang mewajibkan pihak-pihak yang dibiayai dan/ atau diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan Ujrah, tanpa imbalan atau bagi hasil.25 2. Tujuan Pembiayaan
Pemberian suatu fasilitas pembiayaan mempunyai tujuan tertentu, tujuan pemberian pembiayaan tersebut tidak akan terlepas dari misi bank tersebut didirikan .adapaun tujuan utama pemberian pembiayaan adalah antara lain:
a. Mencari keuntungan
Yaitu bertujuan untuk memperoleh hasil dari pemberian pembiayaan tersebut. Hasil tersebut terutama dalam bentuk
25 Zuwardi,” Analisis Pengaruh Dana Pihak Ketiga Έdpkή, Capital Adequacy Ratio Έcarή, Dan Non Perfoming Financing Έnpfή Terhadap Pembiayaan Έstudi Pada Bus Dan Uus Di Indonesia Periode 2014ͳ2018ή”, Jurnal Imara,Vol.3,No.2, (Desember 2019),hal.144
keuntungan yang diterima dari usaha uang dikelola oleh bank dan nasabah.
Keuntungan ini penting untuk kelangsungan hidup bagi bank jika bank yang terus menerus menderita kerugian, maka besar kemungkinan bank tersebut akan dilikuidir (dibubarkan).
b. Membantu usaha nasabah
Tujuannya adalah untuk membantu usaha nasabah yang memerlukan dana, baik dana investasi maupun dana untuk modal kerja. Dengan dana tersebut maka pihak debitur akan dapat mengembangkan dan memperluaskan usahanya.
c. Membantu pemerintah
Bagi pemerintah semakin banyak pembiayaan yang disalurkan oleh pihak perbankan maka semakin baik, mengingat semakin banyak pembiayaan berarti adanya peningkatan pembangunan diberbagai sector. Keuntungan bagi dengan menyebarnya pemberian pembiayaan adalah:
1) Penerimaan pajak, dari keuntungan yang diperoleh nasabah dari bank
2) Membuka kesempatan kerja
3) Meningkatkan jumlah barang dan jasa 4) Menghematkan devisa Negara
5) Meningkatkan devisa Negara 26 3. Fungsi Pembiayaan
Ada beberapa fungsi dari pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah kepada masyarakat penerima, diantaranya:
a. Meningkatkan daya guna uang
Para pengusaha menikmati pembiayaan dari bank untuk memperluas/memperbesar usahanya baik untuk peningkatan produksi, perdagangan maupun untuk usaha-usaha rehabilitas ataupun memulai usaha baru. Pada asasnya melalui pembiayaan terdapat suatu usaha peningkatan produktivitas secara menyeluruh.
Dengan demikian, dana yang mengendap di bank (yang diperoleh dari para penyimpan uang) tidaklah diam dan disalurkan untuk usaha-usaha yang bermanfaat, baik kemanfaatan bagi pengusaha maupun kemanfaatan bagi masyarakat.
b. Meningkatkan daya guna barang
Produsen dengan bantuan pembiayaan bank dapat memproduksi bahan mentah menjadi bahan jadi sehingga utility dari bahan tersebut meningkat. Selain itu, produsen dengan bantuan pembiayaan dapat memindahkan barang dari
26 Kasmir, Dasar-Dasar Perbankan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hal 105
suatu tempat yang kegunaannya kurang ke tempat yang lebih bermanfaat.
c. Meningkatkan peredaran uang
Pembiayaan yang disalurkan via rekening-rekening koran pengusaha menciptakan pertambahan peredaran uang giral dan sejenisnya seperti cek, bilyet giro, wesel dan sebagainya. Melalui pembiayaan, peredaran uang kertas maupun giral akan lebih berkembang oleh karena pembiayaan menciptakan kegairahan berusaha maka pengguna uang akan bertambah, baik kualitatif apalagi secara kuantitatif.
d. Menimbulkan gairah berusaha
Kegiatan usaha sesuai dengan dinamikannya akan selalu meningkatkan usaha tidaklah selalu diimbangi dengan peningkatan kemampuan yang berhubungan dengan manusia lain yang mempunyai kemampuan. Karena itu pengusaha akan selalu berhubungan dengan bank untuk memperoleh bantuan permodalan guna meningkatkan usahanya. Bantuan pembiayaan yang diterima pengusaha dari bank inilah kemudian yang digunakan untuk memperbesar volume usaha dan produktivitasnya.
e. Stabilitas ekonomi
Dalam ekonomi yang kurang sehat, langkah-langkah stabilisasi pada dasarnya diarahkan pada usaha-usaha untuk pengendalian inflasi, meningkatkan ekspor, rehabilitasi prasarana, dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok rakyat.
Untuk menekan arus inflasi dan terlebih-lebih lagi untuk usaha pembangunan ekonomi maka pembiayaan bank memegang peranan yang penting.
f. Sebagai jembatan untuk meningkatkan pendapatan nasional Para pengusaha yang memperoleh pembiayaan tentu saja berusaha untuk meningkatkan usahanya. Peningkatan usaha berarti meningkatkan profit. Apabila rata-rata pengusaha, pemilik tanah, pemiliki modal dan buruh/karyawan mengalami meningkatan pendapatan maka pendapatan negara via pajak akan bertambah, penghasilan devisa bertambah dan penggunaan devisa untuk urusan konsumsi berkurang, sehingga langsung atau tidak melalui pembiayaan, pendapatan nasional akan bertambah.27
4. Manfaat Pembiayaan
a. Manfaat Pembiayaan bagi Bank
27 Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah.(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2014),hal.308
Bagi bank yang bersangkutan hasil dari penyaluran dana diharapkan bank dapat meneruskan dan mengembangkan usahanya agar tetap survival dan meluas jaringan usahanya sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat dilayani.
b. Manfaat Pembiayaan bagi Debitur
1) Meningkatkan usaha nasabah. Pembiayaan yang diberikan oleh bank kepada nasabah memberikan manfaat untuk memperluas volume usaha. Pembiayaan untuk membeli bahan baku, pengadaan mesin dan peralatan, dapat membantu nasabah untuk meningkatkan volume produksi dan penjualan.
2) Biaya yang diperlukan dalam rangka mendapatkan pembiayaan dari bank syariah relatif murah, misalnya biaya profosi.
3) Nasabah dapat memilih berbagai jenis pembiayaan berdasarkan akad yang sesuai dengan tujuan penggunaannya.
4) Bank dapat memberikan fasilitas lainnya kepada nasabah, misalnya transfer dengan menggunakan wakalah, kafalah, hawalah, dan fasilitas lainnya yang dibuthkan oleh nasabah.
5) Jangka waktu pembiayaan disesuaikan dengan jenis pembiayaan dan kemampuan nasabah dalam membayar
kembali pembiayaannya, sehingga nasabah dapat mengestimasi keuangannya dengan tepat
c. Manfaat Pembiayaan bagi Masyarakat Luas
1) Mengurangi tingkat pengangguran. Pembiayaan yang diberikan untuk perusahaan dapat menyebabkan adanya tambahan tenaga kerja karena adanya peningkatan volume produksi, tentu akan menambah jumlah tenaga kerja.
2) Melibatkan masyarkat yang memiliki profesi tertentu, misalnya akuntan, notaris, dan asuransi. Pihak ini diperlukan oleh bank untuk mendukung kelancaran pembiayaan.
3) Penyimpanan dana akan mendapatkan imbalan berupa bagi hasil lebih tinggi dari bank apabila bank dapat meningkatkan keuntungan atas pembiayaan yang disalurkan.
4) Memberikan rasa aman bagi masyarakat yang menggunakan pelayanan jasa perbankan misalnya Letter of credit, bank garansi, transfer, kliring, dan layanan jasa lainnya.28
28Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta: Prenada Media Grub,2016),hal.113.
D. Haji
1. Pengertian Haji
Rukun Islam yang kelima adalah naik haji ke baitullah. Bagi orang Islam yang sudah mampu maka diwajibkan untuk naik haji. Haji yaitu berkunjung ke tanah suci atau ka’bah baitullah untuk melakukan amal ibadah tertentu sesuai dengan syarat, rukun, dan waktu yang telah ditentukan.29
Menurut bahasa haji berarti menyengaja. Dalam bahasa Arab, haji bisa dibaca dengan hajj atau hijj, meskipun pada dasarnya kata haji sering dibaca hijj. Jika dibaca hajj, haji berarti keterikatan kemampuan dengan gerakan gerakan khusus. Jadi rajul mahjuj berarti laki-laki yang menyengaja. Hanya saja, kata hajj atau hijj kemudian biasa diartikan sebagai sengaja pergi ke makkah untuk melangsungkan manasik haji.
Menurut istilah, haji bermakna menyengaja pergi ke Baitullah pada waktu-waktu tertentu untuk memuliakan dan menganggungkannya.
Ibadah haji mempunyai sejumlah amalan yang harus dilakukan juga pada waktu tertentu, yang semuanya tidak akan sah apabila tidak dibarengi dengan niat atau keinginan yang kuat dan perjalanan yang jauh.30
29 Muhammad Sholikhin, Keajaiban Haji dan Umrah, (Jakarta : Erlangga, 2013), hal.2
30 Ablah Muhammad al-Kahlawi, Haji dan Umrah untuk Wanita, (Jakarta: Zaman, 2015), hal.124
2. Rukun Haji
a. Ihram: niat mengerjakan ibadah haji
b. Wuquf: berdiam diri di Padang Arafah, dimulai pada tanggal 9 Dzulhijjah saat tergelincirnya matahari sampai terbitnya matahari pada tanggal 10 Dzulhijjah .
c. Tawaf: berputar, mengelilingi Ka‟bah sebanyak tujuh kali putaran.
Tawaf dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad, dimana posisi Ka‟bah berada sebelah kiri jamaah haji yang akan melakukan tawaf, kemudian berputar kebalikan dari arah jarum jam.
d. Sa‟i: lari kecil diantara bukit Shofa dan Marwah, sebanyak tujuh kali putaran.
e. Tahallul: diperbolehkannya atau dibebaskannya seseorang yang sedang melakukan ibadah haji dari hal- hal yang dilarang selama ihram, yang ditandai dengan memotong atau mencukur sebagian atau seluruh rambut, atau paling sedikit tiga helai rambut bagi kaum perempuan.31
3. Syarat Wajib Haji
a. Islam. Artinya, setiap orang yang tidak beragama Islam, baik laki-laki maupun perempuan, tidak wajib melaksanakan ibadah haji.
31 Muhammad Sholikhin, Keajaiban Haji dan Umrah, (Jakarta : Erlangga, 2013), hal.3
b. Dewasa (Balig). Artinya, tidak ada kewajiban haji bagi anak kecil, baik laki-laki maupun perempuan. Seandainya dia sudah pernah berhaji dan meguasai manasiknya, dia tetap wajib berhaji jika sudah dewasa, tetapi dia tetap berhak mendapatkan pahala dari ibadah haji yang telah dikerjakannya saat kecil.
c. Berakal. Artinya, orang gila tidak diwajibkan mengerjakan haji karena tidak menanggung beban kewajiban agama apapun. Dia baru wajib mengerjakan ibadah haji ketika sudah sembuh.
d. Merdeka, bukan budak. Adanya waktu dan kemampuan materi menjadi syarat bagi wajibnya haji yang keduanya tentu tidak dimiliki oleh seorang budak atau hamba sahaya.
e. Mampu. Syarat wajib haji yang kelima adalah mampu (al-istitha‟ah). Istilah mampu (al-istitha‟ah) dalam konteks ibadah haji dibagi menjadi dua, yaitu mampu sendiri (bi al-nafs) dan mampu karena orang lain (bi al-ghayr).32
E. Istitha’ah Ibadah Haji 1. Pengertian Istitha’ah
Istitha‟ah menurut bahasa berasal kata istatha‟a, yastathi‟u, yang berarti “mampu, sanggup, dan dapat”, Kata ini berakar atha‟a yathi‟u, yang berarti taat, patuh, dan tunduk.15Istitha‟ah adalah kata
32 Ablah Muhammad al-Kahlawi, Haji dan Umrah untuk Wanita, (Jakarta: Zaman, 2015), hal.137
yang mengandung makna kesanggupan yaitu dimana seseorang yang melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuannya. Jika tidak sanggup maka ia disebut tidak mampu.
Istitha‟ah dalam berhaji adalah mampu melaksanakan haji dari segi fisik, biaya, dan perjalanan aman. Maksudnya, kemampuan fisik yaitu seseorang yang ingin menunaikan ibadah haji, tidak mengidap penyakit yang menghalanginya untuk pergi haji atau sangat memberatkannya. Kemampuan biaya yaitu mempunyai dana untuk membiayai perjalanan haji seperti untuk makan, minum, pakaian, bayar utang dan sejenisnya, Sedangkan aman yaitu orang yang menjalankan haji tidak menemui halangan seperti dicegat musuh.33
2. Istitha’ah (Mampu) Menurut Ulama Fikih
Para ulama sepakat, ada tiga kemampuan yang harus dipenuhi dalam meliputi ibadah haji, yaitu: kemampuan kesehatan, kemampuan material/finansial , kemampuan keamanan.
a. Menurut Mazhab Hanafi
Ulama Hanafiyah menjelaskan bahwa istitha‟ah haji meliputi tiga hal yakni fisik, finansial, dan keamanan.Yaitu:
33 Zurinal & Aminuddin,Fiqh Ibadah, (Jakarta: Lembaga Penelitian Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah,2008), hal 186
1. Kesanggupan fisik artinya kesehatan badan. Yang artinya, tidak wajib haji karena sakit, lumpuh, orang buta (meskipun ada yang menuntunnya), orang tua yang renta yang tidak dapat duduk sendiri di atas kendaraan, orang tahanan, dan orang yang dilarang oleh penguasa untuk berangkat haji, maka ia tidak wajib untuk haji. Karena Allah SWT telahmensyaratkan haji sesuai dengan kesanggupan.
2. Kesanggupan finansial adalah memiliki bekal, dan kendaraan. Yaitu, mampu menanggung biaya pulang pergi serta punya kendaraan, yang merupakan kelebihan dari biaya tempat tinggal, serta keperluan lain. Harus lebih dari nafkah keluarga yang dinafkahinya sampai waktu kepulangannya.
3. Kesanggupan dari sisi keamanan adalah jalan biasanya aman, meskipun dengan membayar uang suap jika perlu. Dan bagi keamanan wanita menurut pendapat Abu Hanifah wanita harus diiringi oleh mahramnyayang baligh dan berakal atau remaja yang terpercaya, punya hubungan darah atau perkawinan.
b. Menurut Mazhab Maliki
Ulama malikiyah menjelaskan kemampuan adalah bisa tiba di Mekkah menurut kebiasaan, dengan berjalan kaki atau berkendaraan artinya kesanggupan berangkat saja, adapun kesanggupan untuk pulang tidak termasuk hitungan. Kesanggupan itu meliputi yaitu:
1. Kekuatan badan. Artinya, dapat tiba di Mekah menurut kebiasaan, dengan berjalan ataupun dengan berkendaraan.
2. Adanya bekal yang cukup sesuai dengan kondisi orang dan sesuai pula dengan kebiasaan mereka itu sendiri, jalan kaki bisa menggantikan kendaraan, bagi orang yang mampu, dan keterampilan kerja yang mendatangkan pemasukan yang cukup bisa membuat seseorang tidak perlu membawa bekal atau uang dan bisa dikatakan cukup sebagai ganti bakal.
3. Tersedianya jalan, yaitu jalan yang dilalui (darat atau laut) dan biasanya jalan ini aman. Dan jika biasanya tidak aman maka itu tidak wajib haji, Adapun bagi wanita dia harus disertai oleh suami atau salah satu mahramnya.
c. Menurut Mazhab Syafi‟i
Ulama Syafi‟iyah menjelaskan untuk kesanggupan menunaikan sendiri ibadah haji, adapun syarat yang meliputi kesanggupan fisik, finansial dan keamanan, yaitu
1. Kemampuan fisik. Artinya, orang yang dipandang sehat ialah orang yang mempunyai kekuatan fisik yang memungkinkan ia sampai di Mekkah untuk melakukan ibadah haji, tanpa mengalami kesulitan yang berarti, bahkan, menurutnya, orang buta pun diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji apabila ia mempunyai penuntun yang akan menuntunnya selama dalam perjalanan dan ibadah haji.
2. Kemampuan finansial, dengan adanya bekal beserta wadahnya, serta ongkos keberangkatan ke Mekah dan kepulangan ke kampung halaman. Pendapat imam Syafi‟i berbeda dengan pendapat imam Maliki. Imam Syafi‟i memandang bahwa pekerjaan di tengah perjalanan itu tidak dibebani haji, alasannya, ada kemungkinan dia tidak mendapatkan pekerjaan karena sesuatu hal, dan
sekalipun tetap mendapatkan pekerjaan, maka itu akan banyak kesukaran. Adanya kendaraan (sarana transportasi) yang sesuai dengan status seseorang dengan cara membelinya dengan harga rata-rata, bekal dan kendaraan ini disyaratkan harus lebih dari utangnya (yang sudah jatuh temponya maupun yang belum ), baik utang itu kepada manusia maupun kepada Allah (seperti nazar dan kafarat), maupun menafkahi kepada orang-orang yang harus dinafkahinya selama kepergian dan kepulangannya agar mereka tidak terbengkalai. Adanya air dan
sekalipun tetap mendapatkan pekerjaan, maka itu akan banyak kesukaran. Adanya kendaraan (sarana transportasi) yang sesuai dengan status seseorang dengan cara membelinya dengan harga rata-rata, bekal dan kendaraan ini disyaratkan harus lebih dari utangnya (yang sudah jatuh temponya maupun yang belum ), baik utang itu kepada manusia maupun kepada Allah (seperti nazar dan kafarat), maupun menafkahi kepada orang-orang yang harus dinafkahinya selama kepergian dan kepulangannya agar mereka tidak terbengkalai. Adanya air dan