• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. PA I....................................... 1

3. Tujuan dan ruang lingkup PAI

C. Pedoman pengembangan kuikulum muatan lokal 1. Pengertian kurikulum muatan lokal

2. Tujuan muatan lokal

3. Bahan pengajaran muatan lokal 4. Strategi pelaksanaan

5. Penilaian muatan lokal BAB III : Kajian Obyek Penelitian.

A. Kondisi umum SDI Hidayatullah Semarang Terdiri dari :

1. Sejarah perkembangan SDI Hidayatullah

2. Visi, misi dan tujuan SDI Hidayatullah Semarang. 3. Keadaan guru, dan karyawan,

4. Keadaan siswa 5. Sarana dan prasarana, 6. Struktur organisasi, 7. Letak geografis

B. Pengembangan Kurikulum PAI di SDI Hidayatullah. M eliputi:

1. Perencanaan 2. Pelaksanaan 3. Penilaian

Bab IV : Analisis Hasil Penelitian

A. Analisis Pengembangan Kurikulum PAI Muatan Lokal di SDI Hidayatullah.

1. Perencanaan 2. Pelaksanaan 3. Penilaian

B. Faktor pendukung dan penghambat dalam pengembangan kurikulum PAI muatan lokal SDI Hidayatullah.

C. Peranan kurikulum PAI muatan lokal dalam upaya peningkatan mutu pendidikan agama Islam SDI Hidayatullah.

BAB V : Penutup A. Kesimpulan B. S ara n -S ara n C. Penutup DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

17

BAB II

PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI MUATAN LOKAL A. Pengembangan Kurikulum

1. Pengertian Kurikulum

Secara harfiah kurikulum berasal dari bahasa latin, curriculum

yang berarti bahan pengajaran. Ada pula yang mengatakan kata tersebut berasal dari bahasa Perancis courier yang berarti berlari.10

Selanjutnya dilihat dari segi perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan dunia pendidikan, definisi kurikulum sebagaimana disebutkan di atas kemudian dipandang sudah ketinggalan zaman. Saylor dan Alexander sebagaimana dikutip S. Nasution, misalnya mengatakan bahwa kurikulum bukan hanya saja memuat sejumlah mata pelajaran, akan tetapi

termasuk juga di dalamnya segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan X

yang diinginkan, baik usaha tersebut dilakukan dilingkungan sekolah maupun di luar sekolah.16 17

Di samping itu, kurikulum dalam pengertian ini, masih secara tegas memisahkan kegiatan intrakurikuler, korikuler, dan ekstrakurikuler.

Maksud kegiatan intrakurikuler adalah kegiatan proses belajar-mengajar yang dilakukan pada jam-jam pelajaran teijadwal, yang waktunya telah

ditentukan dalam struktur program kurikulum. Kegiatan korikuler adalah kegiatan yang dilakukan di luar jam terjadwal, yang bertujuan agar siswa mendalami dan menghayati bahan yang dipelajari dalam kegiatan

16 S. Nasution, Pengembangan Kurikulum, Citra Adirya Bakti, Bandung, 1991, cet. Ke-4, him. 9.

intrakurikuler. Sedangkan kegiatan ekstrakurikuler dimaksudkan kegiatan yang dilakukan di luar jam terjadwal serta dilaksanakan pada waktu tertentu, untuk mengembangkan wawasan pengetahuan siswa. Misalnya, karya wisata, koperasi, OSIS, dan sebagainya. Semua kegiatan tersebut mempunyai pengaruh terhadap proses perkembangan kepribadian siswa.IS

Jadi kurikulum ialah suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancangkan secara sistematik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.* 19

2. Fungsi Kurikulum

Sehubungan dengan pengertian dasar kurikulum, maka fungsi kurikulum difokuskan pada tiga aspek berikut:

1. Fungsi kurikulum bagi sekolah yang bersangkutan, yaitu sebagai alat untuk mencapai seperangkat tujuan pendidikan yang diinginkan dan sebagai pedoman dalam mengatur kegiatan sehari-hari.

2. Fungsi kurikulum bagi tataran tingkat sekolah, yaitu sebagai pemeliharaan proses pendidikan dan penyiapan tenaga keija.

3. Fungsi bagi konsumen, yaitu sebagai keikutseriaan dalam memperlancar pelaksanaan program pendidikan dan kritik yang membangun dalam penyempurnaan program yang serasi.

1S Drs. A. Hamid Syarief, Pengembangan Kurikulum, Bina Ilmu, Surabaya, 1996, him. 5. 19 Prof. Drs. H. Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, Rineka Cipta, 2004,

19

3. Pengertian Pengembangan Kurikulum

Banyak istilah yang sering digunakan untuk menyatakan perubahan suatu kurikulum, Misalnya, pembinaan kurikulum dan pengembangan kurikulum.

Pembinaan kurikulum (curriculum im provem ent curriculum

building) adalah kegiatan yang mengacu pada usaha untuk melaksanakan, mempertahankan, dan menyempurnakan kurikulum yang telah ada, guna memperoleh hasil yang lebih maksimal. Pelaksanaan kurikulum itu sendiri diwujudkan dalam proses belajar-mengajar sesuai dengan prinsip-prinsip dan tuntunan kurikulum yang telah dikembangkan sebelumnya bagi

20

jenjang pendidikan atau sekolah tertentu/

Dengan demikian, pembinaan kurikulum disekolah dilakukan, setelah melalui tahap kegiatan pengambangan kurikulum, atau setelah terbentuknya kurikulum baru. Kegiatan pembinaan kurikulum didasarkan atas kurikulum yang telah diterapkan di sekolah yang bersangkutan. Dalam penerapannya, pembinaan kurikulum dilakukan oleh guru, kepala

sekolah, dan tenaga kependidikan lainnya, melalui upaya

mentransformasikan program pendidikan kepada anak didik atau melalui kegiatan pengajaran (belajar mengajar). Kegiatan pembinaan dapat diusahakan melalui, misalnya, melaksanakan kurikulum sebaik-baiknya, melengkapi alat-alat yang tersedia baik kuantitatif maupun kualitatif, meningkatkan ketrampilan guru dan murid dalam proses belajar mengajar, 20

20 Oemar Hamalik, A dm inistrasi dan Supervisi Pendidikan, M andar Maju, Bandung, him.

melengkapi ruang praktikum untuk pelajaran tertentu dan kegiatan- kegiatan sejenis.21 22

Pengembangan kurikulum {curriculum development/ curriculum

planning/ curriculum design) sebagai tahap dari pembinaan, yakni kegiatan yang mengacu untuk menghasilkan suatu kurikulum baru. Dalam

kegiatan tersebut meliputi penyusunan-penyusunan, pelaksanaan,

penilaian, dan penyempurnaan.

4. Asas-Asas Pengembangan Kurikulum

Kurikulum sebagai rencana pendidikan mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam keseluruhan kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan perkembangan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum memerlukan landasan- landasan kuat dan kokoh yang didasarkan atas hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Suatu landasan kurikulum dapat dijadikan titik tolak, artinya pengembangan kurikulum dapat disebabkan oleh suatu pembaruan tertentu. Misalnya, penemuan teori belajar baru dan perubahan tuntunan masyarakat terhadap fungsi sekolah. Di samping itu, landasan kurikulum dapat dipandang sebagai titik akhir, artinya pengembangan kurikulum harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat mewujudkan perkembangan tertentu, seperti; kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntunan sejarah masa lampau, perbedaan latar belakang

21 Drs. A. Hamid Syarief, Op. C it., him. 33.

22 W inamo Surachmad, Pem binaan dan Pengem bangan K urikulum , Depdikbud., 1977, him, 15.

21

siswa, nilai-nilai filsafat suatu masyarakat, dan tuntunan-tununan kebudayaan tchentu.

Dalam uraian berikut akin dibahas landasan-landasan (asas-asas) pengembangan kurikulum yang berhubungan dengan; landasan filosofis, sosiologi (sosial budaya), psikologi, dan organisatoris,

a. Landasan Filosofis

Landasan filosofis dimaksudkan, bahwa ajaran filsafat

memegang peranan penting sebagai landasan pengembangan

kurikulum. Menurut bahasa, kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, yakni Philosophic/, yang terdiri atas kata Philien atau Philare, artinya cinta (love) dan kata Shopia atau Sophos, artinya kebijaksanaan

(wisdom). Jadi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Menurut istilah filsafat diartikan berpikir mengenai hakekat segala sesuatu secara radikal, universal, dan sistematis. Maksud berpikir radikal adalah berpikir tentang sesuatu sampai pada akar permasalahan yang menjadi obyek filsafat. M.salnya, mengenai manusia, kosmos, kebudayaan, dan sejenisnya. Universal dimaksudkan bahwa pembahasan mengenai masalah tersebut dihubungkan dengan masalah lain yang lebih luas. Maksud berpikir sistematis adalah berpikir sesuatu dengan tata urutan pemikiran-pemikiran filsafat. Karena itu, pembahasan filsafat terletak pada hakekat pemaparan sesuatu, yakni untuk menentukan pemikiran yang serba tertinggi, akhir, dan mencangkup segalanya/3 23

b. Landasan Sosiologi (Sosial Budaya)

Ada dua pertimbangan ‘sosial budaya’ dijadikan landasan dalam pengembangan kurikulum:

1) Setiap orang dalam masyarakat selalu berhadapan dengan masalah anggota masyarakat yang belum dewasa dalam kebudayaan. Yakni, manusia yang belum mampu menyesuaikan dengan cara-cara kelompoknya. Sebab, individu lahir tidak berdaya dan individu memperoleh kebudayaan melalui interaksi dengan lingkungan budaya, keluarga, masyarakat sekitar sekolah. Sekolah mempunyai tugas khusus untuk memberikan pengalaman kepada mereka dengan salah satu alat yang disebut kurikulum.

2) Kurikulum dalam setiap masyarakat merupakan refleksi dari cara orang berfikir, berasa, bercita-cita atau kebiasaan. Karena itu, untuk membina struktur dan fungsi kurikulum, perlu memahami kebudayaan.24

c. Landasan Psikologi

Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Kurikulum adalah upaya untuk menentukan program pendidikan untuk mengubah perilaku manusia. Karena itu, dalam pengembangan kurikulum harus berlandaskan pada psikologi sebagai refrensi dalam menentukan apa d*n bagaimana perilaku tersebut harus dikembangkan. Dengan kata lain, pentingnya psikologi, terutama

23

dalam bagaimana kurikulum tersebut harus disusun, bagaimana kurikulum diberikan dalam bentuk pengajaran, dan bagaimana proses

belajar siswa dalam mempelajari kurikulum. Sebagaimana

dikemukakan di atas bahwa ada dua psikologi yang memiliki kaitan antara psikologi dengan kurikulum, yakni Psikologi Perkembangan dan Psikologi Belajar.25

d. Landasan Organisatoris

Kurikulum, sebagaimana diuraikan sebelumnya, adalah pengalaman dan kegiatan siswa di bawah tanggung jaw ab guru dan sekolah. Pengalaman dan kegiatan tersebut harus disusun sedemikian rupa agar lebih efektif dan efisien dalam penyampaian terhadap siswa. Untuk itu, diperlukan adanya organisasi kurikulum. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa organisasi kurikulum adalah struktur kurikulum berupa kerangka umum program-program pengajaran yang akan disampaikan kepada murid.26

23 Drs. A. Hamid Syarief, OP. C it., him. 44.

26 Burhan Nurgiantoro, D asar-D asar Pengem bangan K urikulum Sekolah (Sebuah Pengantar Teoritis dan Pelaksanaannya), BPFE UGM, 1988, him. 111.

5. Komponen-Komponen Pengembangan Kurikulum

Dalam kurikulum, jika diuraikan secara struktural, akan dijumpai sejumlah komponen sebagai berikut:

1. Komponen tujuan kurikulum

Pada dasarnya, tujuan Kurikulum adalah tujuan dari setiap program pendidikan yang akan diberikan pada anak didik.27 28 Sebagaimana dijelaskan pada uraian sebelumnya, kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Ini berarti, kurikulum adalah cara dan sarana dari proses pelaksanaan pendidikan.

2. Komponen Isi/ bahan kurikulum

Ada sejumlah kriteria yang dapat diperhatikan dalam pemilihan bahan kurukulum, yakni:

a. Bahwa kurikulum harus sesuai, tepat, dan bermakna bagi perkembangan siswa, artinya sejalan dengan tahap perkembangan siswa.

b. Bahwa kurikulum harus mencerminkan kehidupan sosio­ kultural, artinya sesuai dengan kehidupan nyata dan kebudayaan masyarakatnya.

c. Bahwa kurikulum harus dapat mencapai tujuan yang di dalamnya mengandung aspek intelektual, emosional, sosial, dan moral agama."

27

Nana Sudjana, Pem binaan dan Pengem bangan K urikulum d i Sekolah, Sinar Baru, 1989, him. 21.

Komponen strategi pelaksanaan kurikulum

Strategi kurikulum adalah usaha untuk menerjemahkan bahan yang tercantum dalam kurikulum agar dapat menjadi pengalaman siswa. Strategi pelaksanaan kurikulum berhubungan dengan bagaimana kurikulum itu dilaksanakan disekolah. Seperti dijelaskan di atas, bahwa kurikulum itu masih merupakan rencana, ide, atau harapan, yang harus diwujudkan secara nyata di sekolah, sehingga mampu mengantarkan anak didik mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum tidak akan mencapai hasil maksimal, jika pelaksanaannya tidak menghasilkan sesuatu yang baik bagi anak didik. Komponen strategi pelaksanaan kurikulum meliputi; pengajaran, penilaian, bimbingan, dan penyuluhan, serta pengaturan kegiatan sekolah secara keseluruhan.29

Komponen evaluasi kurikulum

Mengingat pentingnya evaluasi itu, maka alat yang digunakan dalam evaluasi harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Alat evaluasi harus sesuai dengan sasaran yang hendak dituju. b. Alat yang digunakan harus terpercaya (valid).

c. Alat yang digunakan harus terandalkan (reliable). d. Alat evaluasi harus signifikan atau dapat dipercaya.30

Winamo Surachmad, Op. Cit., him. 11

3. Prinsip Efisiensi

Prinsip Efisiensi berhubungan dengan perbandingan antar hasil yang dicapai dengan usaha yang dijalankan, atau biaya yang dikeluarkan. Suatu usaha dikatakan efisien, apabila hasil yang dicapai itu telah sesuai dengan usaha atau biaya yang dikeluarkan. Sebaliknya, jika hasil yang dicapai tidak sebanding dengan apa yang dikeluarkan, maka dapat dikatakan tidak efisien.33

4. Prinsip Kontinuitas (Kesinambungan)

Kesinambungan dimaksudkan adanya hubungan yang saling menjalin antara berbagai tingkat dan jenis program pendidikan, terutama mengenai bahan pengajaran.34

5. Prinsip Fleksibilitas

Fleksibilitas dapat diartikan adanya semacam ruang gerak yang memberikan sedikit kebebasan dalam bertindak. Dalam

pengembangan kurikulum, prinsip fleksibilitas mencangkup

fleksibilitas murid dalam memilih program pendidikan dan fleksibilitas bagi guru dalam pengembangan program pengajaran. Fleksibilitas dalam memilih program pendidikan dapat diwujudkan dalam bentuk pengadaan program-program pilihan yang dapat berbentuk jurusan/ program spesialisasi, ataupun program-program

33 Ibid, him. 72. 34 Ib id; him. 72.

28

pendidikan ketrampilan yang dapat dipilih murid atas dasar kemampuan dan minatnya.35

6. Prinsip Berorientasi pada Tujuan

Dengan prinsip ini dimaksudkan agar semua kegiatan pengajaran mendasarkan dan mengacu pada tujuan yang akan dicapai. Tujuan-tujuan tersebut hendaknya dirumuskan secara spesifik dan operasional, sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung sehingga kedua kegiatan tersebut mempunyai arah yang jelas.36 37

7. Prinsip Pendidikan Seumur Hidup

Konsep pendidikan seumur hidup merupakan konsep pendidikan yang mengarah pada ide pendidikan, yang memberikan kesempatan bagi setiap warga negara untuk mempunyai kesadaran dan kemauan, selalu membuka diri, mengembangkan kemampuan, dan kepribadian melalui kegiatan belajar. Belajar tidak harus terikat dengan sistem pendidikan sekolah, melainkan belajar mandiri sepanjang hidup {life long education).1,1

8. Prinsip Sinkronisasi

Prinsip sinkronisasi dimaksudkan adanya sifat yang searah dan setujuan dengan semua kegiatan yang dilakukan oleh kurikulum.

Kegiatan-kegiatan kurikuler yang diinginkan, bukan saling

menghambat kegiatan kurikuler lain yang dapat mengganggu keterpaduan. Kurikulum sebagai suatu sistem merupakan sebuah

35 Ib id him. 73. 36 Ibid; him. 73. 37 Ibid., him. 73

komponen yang harus bersilat padu dan membentuk satu kesatuan yang utuh. Dengan keterpaduan semua komponen yang ada dalam sistem itu, semua kegiatan yang diarahkan oleh satu komponen dengan komponen lain tidak bertentangan. Kurikulum yang bersifat sinkron

akan memungki.ikan tercapainya tujuan pendidikan yang

' O

diharapkan.

7. Pengembangan Kurikulum Pada Tingkat Lembaga

1. Perumusan Tujuan Institusional

Maksud tujuan institusional adalah rumusan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang diharapkan dimiliki oleh siswa, setelah mereka menyelesaikan keseluruhan program pendidikan pada suatu jenjang lembaga pendidikan sekolah tertentu. Misalnya, tujuan institusional pendidikan dasar, tujuan institusional pendidikan dasar berciri khas agama Islam, SMU, Madrasah Aliyah, dan sejenisnya. Penetapan tujuan institusional suatu jenis pendidikan sekolah harus didasarkan fungsi atau misi sosial suatu lembaga pendidikan yang bersangkutan. Jenis pendidikan umum, misalnya, pada hakikatnya mempunyai tiga fungsi sosial, yakni:

a. Menyiapkan siswa agar menjadi warga negara yang berjiwa Pancasila.

b. Membekali siswa yang tidak dapat melanjutkan pendidikan dengan kemampuan ketrampilan fungsional. *

30

c. Membekali siswa untuk melanjutkan pelajarannya 39 2. Penetapan Isi dan Struktur Kurikulum

Penetapan isi kurikulum adalah memilih dan menetapkan sejumlah bidang studi, atau sejumlah mata pelajaran, atau sejumlah pengalaman yang akan diajarkan kepada siswa, sehingga dapat menopang tercapainya tujuan. Penetapan isi kurikulum tersebut banyak tergantung pada tujuan institusional dapat menyebabkan perbedaan bidang studi atau mata pelajaran sebagai isi kurikulum sekolah.

Ada sejumlah alasan, mengapa perlu menetapkan isi kurikulum sebagai program pendidikan, antara lain:

1. Tugas dan tanggung jaw ab sekolah sangat terbatas dalam mencerdaskan anak didik, baik waktu maupun sumber yang tersedia.

2. Adanya perkembangan tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang sangat cepat sehingga tidak memungkinkan diikuti oleh perubahan kurikulum secara tiba-tiba.

3. Adanya beberapa jenjang dan tingkat pendidikan sesuai dengan tujuan dan hakikat perkembangan anak yang sesuai dengan strategi jenjang pendidikan sekolah dan perlunya kesinambungan antar jenjang sekolah.

39 Conny R. Semiawan dan Soediyarto, M encari Strategi Pengem bangan Pendidikan N asional, Gresindo, ‘Editor, 1991, him. 77.

4. Pendidikan sekolah merupakan subsistem dari pendidikan seumur hidup sehingga perlu adanya kesatuan antara pendidikan dalam keluarga, di sekolah, dan di masyarakat. Karena itu, isi kurikulum harus sesuai dengan hakikat pendidikan dalam keluarga dan masyarakat.40

3. Penyusunan Strategi Pelaksanaan Kurikulum

Kegiatan ini berhubungan dengan pelaksanaan kurikulum di sekolah. Kegiatan-kegiatan tersebut mencangkup. 1) Pelaksanaan pengajaran, 2) Mengadakan penilaian, 3) Mengadakan bimbingan penyuluhan/ karier, dan 4) Mengadakan/ melaksanakan administrasi dan supervisi.41

C. Pendidikan Agama Islam (PAI) 1. Pengertian PAI

Pendidikan agama Islam adalah pendidikan dengan melalaui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, mengahayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yangt telah diyakini secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akherat kelak.

40 Nana Sujana, Dasar-Dasar Proses Belajar-M engajar, Sinar Baru, 1989, him. 2-4. 41 Drs. A. Hamid SyarieC Op. C it., him. 114.

3 2

2. Dasar PAI

Al-Qur’an dan Sunnah Nabi adalah sumber dan dasar ajaran Islam yang orisinal. Ajaran substantif dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang merupakan nilai Ilahiyah harus dilaksanakan oleh setiap muslim.

Karena itu merupakan standar norma atau nilai yang memberikan motivasi dan bimbingan bagi manusia dalam perilaku sosialnya.42

3. Tujuan dan ruang lingkup PAI

a. Tujuan PAI

PAI bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.43

b. Ruang lingkup PAI

Untuk mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam, maka ruang lingkup materi Pendidikan Agama Islam (Kurikulum 1994) pada dasarnya mencakup tujuh unsur pokok, yaitu : Al-Qur’an Hadits, keimanan, syari’ah, ibadah, muamalah, akhlak, dan tarikh (sejarah Islam) yang menekankan pada perkembangan politik. Pada kurikulum 1999 dipadatkan menjadi lima unsur pokok, yaitu : Al-Qur’an,

42 Drs. H. M. Chabib Thoha, M. A., Dan Drs. Abdul M u’ti, M. E d , PBM -PA1 D i Sekolah E ksistensi D an p ro ses B elajar M engajar P endidikan A gam a Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,

1998. him. 33.

6. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum

Prinsip merupakan pedoman untuk mengarahkan kegiatan orang yang bekeija dalam suatu lapangan tertentu. Demikian pula, dalam usaha pengembangan kurikulum membutuhkan sejumlah prinsip dasar yang dipakai sebagai pedoman, agar kurikulum yang dihasilkan sesuai dengan keinginan yang diharapkan semua pihak, yakni; sekolah, murid, orang tua, masyarakat dan pemerintah.

Prinsip prinsip dasardalam pengembangan kurikilum antara lain: 1. Prinsip Relevansi

Secara umum, istilah relevansi pendidikan dimaksudkan adanya kesesuaian atau keserasian antara hasil pendidikan (lulusan sekolah) dengan tuntunan kehidupan yang ada di masyarakat. Atau dengan kata lain, pendidikan itu dianggap relevan, jika hasil pendidikan fungsional bagi pendidikan.31

2. Prinsip Efektivitas

Efektivitas suatu kegiatan berhubungan dengan sejauh mana, apa yang direncanakan atau diinginkan dapat terlaksana atau tercapai. Suatu usaha dikatakan efektif, jik a usaha itu mampu mendekati perencanaan yang telah ditentukan. Sebaliknya, usaha itu tidak efektif, jika usaha itu makin jauh dengan apa yang direncanakan.32

31 Drs. A. Hamid Syarief, Op. C it., him. 70. 32 Ibid, him. 71.

33

keimanan, akhlak, fiqih, dan bimbingan ibadah serta tarikh / sejarah Islam yang lebih menekankan pada perkembangan ajaran agama, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Dokumen terkait