• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV WUJUD KERJASAMA INTERNASIONAL TAIWAN DI ASIA

1. Taiwan- Jepang

Terlepas dari one China policy yang dianut oleh Jepang dengan RRT sebagai Tiongkok yang diakui, Jepang tidak dapat mengingkari posisi penting Taiwan dalam pencapaian kepentingan nasionalnya, begitu pun halnya bagi Taiwan. Hubungan ekonomi dan perdagangan antara Taiwan dengan Jepang merupakan salah satu yang paling signifikan dibuktikan dengan besarnya lingkup kerjasama di bidang ekonomi dan tingginya volume perdagangan di antara keduanya.

Pentingnya kerjasama di bidang ini salah satunya ditunjukkan oleh penyelenggaraan konferensi tahunan oleh kedua negara yang dimulai sejak tahun 1976, dan diberi nama Japan-Taiwan Economic and Trade Conference.

Konferensi ini sesuai dengan namanya diadakan sebagai wadah untuk membahas

55 isu-isu terkait bidang ekonomi perdagangan, termasuk di dalamnya penandatanganan berbagai MoU (Memorandum of Understanding) yang menjadi solusi dari permasalahan yang dibahas di dalam konferensi tersebut.

Seperti yang dapat dilihat pada pelaksanaan konferensi yang ke 42 di tahun 2017 yang berlangsung di Tokyo pada tanggal 21-22 November, pada konferensi ini Taiwan dan Jepang mengagendakan 50 hingga 60 isu sebagai pembahasan utama yang meliputi kebijakan ekonomi, pertanian, kehutanan, perikanan dan hak kekayaan intelektual74. Di akhir konferensi kedua belah pihak yang diwakili oleh representasi dari masing-masing lembaga yang menaungi hubungan Taiwan dengan Jepang, yaitu Chiou I-jen, kepala Taiwan-Japan Relations Association, dan Mitsuo Ohashi, kepala Japan-Taiwan Exchange Association75, berhasil menandatangani dua MoU terkait kerjasama dalam memerangi penyelundupan obat-obatan terlarang dan kerjasama di bidang kebudayaan76.

Sebagai tindak lanjut dari penandatanganan MoU khususnya terkait bidang kebudayaan, Taiwan memberikan izin kepada Jepang untuk membuka Japanese Cultural Center pada tanggal 27 November di Taipei, dengan harapan membuka corong yang lebih lebar bagi masyarakat Taiwan untuk memahami lebih dalam mengenai kebudayaan Jepang.

74http://focustaiwan.tw/news/aeco/201711140023.aspx, diakses pada 5 November 2018

75https://taiwantoday.tw/news.php?unit=2,6,10,15,18&post=125413, diakses pada 5 November 2018

76http://focustaiwan.tw/news/aipl/201711220024.aspx, diakses pada 5 November 2018

56 Kerjasama di atas merupakan satu dari sekian banyak kerjasama yang berhasil dibangun di antara keduanya. Penulis secara khusus memberikan perhatian kepada pelaksanaan konferensi di bidang ekonomi dan perdagangan antara Jepang dengan Taiwan mengingat hal ini merupakan rutinitas tahunan yang telah berlangsung sejak tahun 1976, empat tahun pasca putusnya hubungan diplomatik di antara keduanya. Dibukanya ruang bagi kedua pihak untuk membahas isu penting yang mengikat keduanya seperti yang terjadi pada konferensi ini menunjukan level respek yang setara terhadap satu sama lain, dimana secara tidak langsung Jepang sebagai negara yang notabene mengakui RRT sebagai Tiongkok yang sah melihat posisi Taiwan sebagai entitas politik yang masuk ke dalam partner penting dalam kebijakan luar negerinya.

Hubungan penting keduanya juga ditunjukkan oleh beberapa kerjasama ekonomi lainnya yang dapat dikatakan merupakan titik penting dalam sejarah hubungan keduanya pasca putusnya hubungan diplomatik. Kebijakan pembebasan visa di tahun 2005 oleh pemerintah Jepang kepada penduduk Taiwan, open skies agreement di tahun 2011, Japan-Taiwan Mutual Cooperation on the Liberalization, Promotion and Protection of Investment di tahun 2011, dancivil fishery agreement di tahun 2013 merupakan beberapa kerjasama yang penting untuk dibahas.

Meskipun harus menunggu 12 tahun lamanya untuk pemerintah Jepang melakukan hal yang sama dengan pemerintah Taiwan, yaitu mengeluarkan kebijakan penghapusan visa, akhirnya pada tahun 2005 Jepang turut memberlakukan kebijakan ini. Kebijakan ini dilatarbelakangi oleh pelaksanaan

57 Aichi Expo di Jepang pada tanggal 11 Maret hingga 25 September 2005. Untuk memudahkan warga Taiwan yang akan berkunjung ke Jepang untuk menghadiri kegiatan tersebut, Jepang mengeluarkan resolusi untuk membebaskan visa bagi penduduk resmi Taiwan yang akan menghadiri kegiatan tersebut. Dan tentunya dikarenakan oleh tingginya antusiasme warga Taiwan akan hal ini, pemerintah Jepang kemudian memberlakukan pembebasan visa kepada penduduk Taiwan secara permanen77.

Berdasarkan pernyataan yang dibuat pada halaman website kementerian luar negeri Jepang, dimulai sejak Juli 2017 penduduk dari negara atau wilayah yang diberikan pembebasan visa bisa mendapatkan manfaat dari kebijakan ini apabila tujuan berkunjung ke Jepang adalah untuk keperluan wisata, perdagangan, konferensi, mengunjungi keluarga dan lain-lain yang bukan merupakan aktivitas yang mendapatkan bayaran (bekerja) dan tidak melebihi waktu yang diperbolehkan oleh pemerintah Jepang. Untuk warga Taiwan sendiri diberikan akses bebas visa untuk kunjungan maksimal hingga 90 hari di Jepang dan hanya untuk penduduk resmi Taiwan dengan paspor yang memuat personal identification number78.Setelah kebijakan ini diberlakukan, peningkatan kunjungan dari penduduk Taiwan ke Jepang mencapai angka signifikan dengan total penduduk Taiwan ke Jepang mencapai lebih dari 1.180.000 orang di tahun 2005, dan lebih dari 850.000 orang pada Januari hingga Agustus 2006, dimana

77Chen Wenshou, C.X. George Wei, op cit, Hal 98

78https://www.mofa.go.jp/j_info/visit/visa/short/novisa.html, diakses pada tanggal 5 November 2018.

58 angka ini adalah 2.5 %79 lebih tinggi dibanding jumlah kunjungan di periode yang sama di tahun 2005 sebelum pembebasan visa diberlakukan.

Di tahun-tahun berikutnya perjanjian antara Taiwan dan Jepang terkait lalu lintas penduduk semakin menunjukkan peningkatan. Tidak hanya kebijakan pembebasan visa, pada tahun 2011 keduanya juga berhasil menandatangani open skies agreement. Perjanjian ini ditandatangani oleh kedua belah pihak pada tanggal 10 November 2011, dilatarbelakangi oleh tingginya kunjungan penduduk untuk wisata dan bisnis dari masing-masing pihak ke wilayah satu sama lain80.

Di bawah perjanjian ini, pembatasan terhadap jumlah pesawat untuk rute-rute yang telah ditentukan akan dihapus. Pada saat perjanjian dibuat maskapai yang mendapatkan manfaat dari perjanjian ini adalah Japan Airlines (JAL), All Nippon Airways (ANA) and Taiwan's China Airlines and EVA Airways.

Perjanjian ini juga memberikan jaminan kepada maskapai Taiwan untuk mendapatkan jumlah penerbangan tidak terbatas ke seluruh wilayah Jepang, kecuali Tokyo81.

79Chen Wenshou, C.X. George Wei, loc cit

80https://taiwantoday.tw/news.php?unit=2&post=2086, diakses pada tanggal 5 November 2018

81https://www.vir.com.vn/taiwan-japan-sign-open-skies-agreement-10726.html, diakses 5 November 2018

59 Tabel 4.1: Kunjungan Penduduk Taiwan dan Jepang

No Tahun

Jumlah Pengunjung

Taiwan Ke Jepang Jepang ke Taiwan

1 2012 1.465.753 1.432.315

2 2013 2.210.821 1.421.550

3 2014 2.829.821 1.634.790

4 2015 3.677.075 1.627.229

5 2016 4.167.512 1.895.702

6 2017 4.564.100 1.898.854

Sumber: Taiwan Tourism Bureau dan JTB Tourism Research & Consulting Co, tahun 2017 dan 2018

Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan sejak diberlakukannya kedua kebijakan ini peningkatan akan jumlah kunjungan penduduk antar Taiwan dan Jepang terjadi, terkhusus setelah 2011 kunjungan keduanya bahkan menembus angka yang signifikan, terutama untuk kunjungan penduduk Taiwan ke Jepang.Meskipun terdapat perbedaan yang cukup jauh antara total jumlah penduduk Taiwan yang mengunjungi Jepang dengan total jumlah penduduk Jepang yang mengunjungi Taiwan, namun masing-masing menempati posisi ketiga dan kedua sebagai negara dengan penduduk yang paling banyak mengunjungi Jepang untuk penduduk Taiwan dan Taiwan untuk penduduk Jepang.

60 Perbedaan yang signifikan ini disebabkan oleh beragamnya jenis destinasi yang dituju oleh khususnya penduduk Jepang, dimana Taiwan menempati posisi kelima sebagai yang paling dikunjungi oleh penduduk Jepang pada tahun 2012 hingga 2013 dan posisi keempat pada tahun 2014 hingga 2016 dengan posisi pertama, kedua dan ketiga dipegang oleh Amerika Serikat, Korea Seatan dan RRT82. Sehingga, meskipun secara persentase penduduk Jepang menempati posisi kedua sebagai penduduk asing yang paling banyak mengunjungi Taiwan setelah RRT, hal ini tidak cukup signifikan jika dibanding dengan jumlah penduduk Taiwan yang mengunjungi Jepang, karena banyaknya negara tujuan lain yang menjadi pilihan destinasi dari penduduk Jepang seperti yangdijelaskan sebelumnya. Angka kunjungan tinggi yang ditunjukkan oleh penduduk Taiwan ke Jepang disebabkan oleh posisi Jepang sebagai destinasi terfavorit penduduk Taiwan yang menempati posisi kedua setelah Singapura berdasarkan survei yang dilakukan oleh Taiwanese Public Opinion Foundation83. Kesimpulan lain yang dapat ditarik dari tabel di atas adalah, Taiwan dan Jepang menunjukkan hubungan yang semakin saling ketergantungan antara satu sama lain. Dengan jumlah kunjungan yang mencapai angka jutaan per tahun memperlihatkan besarnya keuntungan yang didapat masing-masing pihak.

Ditandatanganinya perjanjian open skies memberikan gambaran tentang semakin pentingnya posisi satu sama lain bagi keduanya. Kenyataan bahwa Jepang memberikan perlakuan yang serupa kepada Taiwan perihal aturan visa

82https://www.tourism.jp/en/tourism-database/stats/outbound/, diakses 3 Desember 2018

83 https://www.japantimes.co.jp/news/2017/03/20/national/singapore-japan-canada-top-list-taiwanese-favorite-countries/#.XAQQ7GgzbIU, diakses pada 3 Desember 2018.

61 juga menunjukkan potensi Taiwan yang penting dalam memaksimalkan keuntungan ekonomi Jepang. Hal ini bagi Taiwan menjadi salah satu bargaining power untuk ―mengikat‖ Jepang agar selalu berada pada posisi yang membawa keuntungan bagi Taiwan, terutama untuk tujuan jangka panjang terkait isu Taiwan-RRT dan upaya Taiwan untuk memperluas gerak di komunitas internasional.

Di tahun 2013, Taiwan-Jepang menunjukkan pencapaian di bidang perikanan. Setelah 17 tahun perundingan yang dimulai sejak tahun 1996, kedua pihak akhirnya menyepakati kesepakatan pada tanggal 10 April 2013 yang dikenal dengan Japan - Taiwan fisheries agreement. Perjanjian yang ditandatangani oleh masing-masing representasi, Liao Liou-yi dari Taiwan dan Mitsuo Ohashi dari Jepang (keduanya merupakan ketua dari Association of East Asian Relations sebelum berganti nama menjadi Taiwan-Japan Relations Association dan ketua dari Interchange Association yang kini dikenal dengan Japan-Taiwan Exchange Association) berisi beberapa poin penting.

Berdasarkan perjanjian ini kedua pihak berhak melakukan aktivitas penangkapan ikan tanpa intervensi dari aturan masing-masing di area yang masuk ke dalam aturan perjanjian. Sederhananya, kedua belah pihak tidak hanya berhak untuk melakukan aktivitas di zona ekonomi eksklusifnya masing-masing, namun juga diberi akses untuk dapat melakukan hal yang sama di zona ekonomi eksklusif pihak lainnya, tanpa perlu untuk mengikuti aturan dari pihak yang lain, dimana pengawasan terhadap aktivitas nelayan dilakukan oleh masing-masing pemerintah terkait.

62 Area yang dimaksud di dalam perjanjian adalah wilayah perairan bagian selatan yang terbentang di garis 27 derajat lintang utara dan berada di bagian utara Pulau Yaeyama dan Miyako yang dimiliki oleh Jepang84. Untuk mempermudah berikut adalah gambarnya.

Gambar 4.1: Peta Designated Area Japan-Taiwan Fisheries Agreement

Sumber: Taiwan Ministry of Foreign Affairs, tahun 2013

Gambar di atas menunjukkan peta daerah yang diikat oleh perjanjian.

Dimana daerah berlabel B dan C merupakan cakupan dari area yang dimaksud oleh perjanjian sekaligus area dimana zona ekonomi eksklusif keduanya saling tumpang tindih. Di daerah B, seperti yang dijelaskan sebelumnya, merupakan

84https://www.mofa.gov.tw/en/News_Content.aspx?n=539A9A50A5F8AF9E&sms=37B41539382 B84BA&s=E80C25D078D837BB, diakses pada tanggal 7 November 2018

63 daerah dimana peraturan dan hukum terkait aktivitas perikanan satu pihak tidak berlaku untuk kapal penangkap ikan pihak lainnya.

Aturan yang mengikat kapal penangkap ikan yang beroperasi di daerah ini berada di bawah kekuasaan pemerintahnya masing-masing. Di daerah C, atau yang disebut sebagai special cooperation zone, nelayan Taiwan diberikan kewenangan untuk melakukan aktivitas secara bebas tanpa adanya gangguan dari pemerintah Jepang. Terkhusus untuk daerah 1,2 dan 3, seperti keterangan pada gambar merupakan perluasan untuk daerah penangkapan ikan Taiwan dimana luasnya mencapai 4530 km2 apabila disetarakan dengan luas di daratan85.

Gambar 4.2: Peta Zona EkonomiEkslusif Jepang-Taiwan yang saling tumpah tindih

Sumber: Yoshiyuki Ogasawara, 2015

85The Taiwan-Japan Fisheries Agreement— Embodying the Ideals and Spirit of the East China Sea Peace Initiative. Taiwan Ministry of foreign Affairs.

64 Ditandatanganinya perjanjian ini membuat nelayan Taiwan lebih bebas untuk melakukan aktivitasnya dan secara langsung membuat potensi hasil tangkapan nelayan Taiwan lebih besar dikarenakan perluasan daerah tangkapan yang dijamin bebas dari kontrol pemerintah Jepang. Perjanjian ini juga mengakhiri praktek Jepang yang dianggap diskriminatif terhadap nelayan Taiwan yang memasuki zona ekonomi eksklusif Jepang. Sebelum penandatanganan perjanjian ini, pemerintah Jepang menerapkan kontrol yang ketat terhadap kapal nelayan Taiwan, perlakuan ini bersikap diskriminatif karena Jepang tidak menerapkan kebijakan yang sama terhadap nelayan RRT, yang telah lebih dahulu menandatangani perjanjian serupa dengan Jepang86. Untuk memudahkan kedua belah pihak dalam mengevaluasi perjanjian dan menyelesaikan hal-hal yang perlu untuk dibahas kembali di kemudian hari, dibentuklah Taiwan-Japan Fishery Committee berdasarkan prinsip kesetaraan yang sesuai dengan semangat yang dibawa oleh perjanjian ini, yaitu kesetaraan dan timbal-balik.

Berbicara tentang kemajuan hubungan ekonomi Taiwan dengan Jepang tidak bisa lepas dari signifikansi hubungan dagang dan investasi yang telah berjalan selama beberapa dekade, bahkan sebelum keduanya memutuskan hubungan diplomatik. Keduanya merupakan parner dagang yang penting bagi satu sama lain, terlihat dari posisi keduanya yang berada di posisi 5 besar untuk parner perdagangan terbaik.

86Yoshiyuki Ogasawara. 2015. Ma Ying-jeou's Doctoral Thesis and Its Impact onthe Japan-Taiwan Fisheries Negotiations, Dalam Journal of Contemporary East Asia Studies, Vol 4 No. 2. Routledge Taylor and Frances Group. Hal 84

65 Untuk kegiatan ekspor, Jepang merupakan tujuan ekspor keempat Taiwan di tahun 2017, memenuhi 6.55 % total ekspor Taiwan, sedangkan Taiwan merupakan tujuan ekspor keempat Jepang yang memenuhi 5.82% total ekspor Jepang. Untuk kegiatan impor, Jepang merupakan sumber impor kedua Taiwan dengan persentasi 16.17 % dari total kebutuhan impor Taiwan. Di saat yang sama posisi Taiwan bagi Jepang adalah sebagai sumber impor keenam dengan total impor yang berhasil dari Taiwan mencakup 3.78 % dari total kebutuhan impor Jepang.Secara garis besar, Jepang merupakan parner dagang ketiga terbaik bagi Taiwan, dan Taiwan menempati posisi keempat bagi Jepang87.Dimana komoditas ekspor dan impor antara keduanya didominasi oleh jenis komoditas antara lain:

peralatan elektronik, perlengkapan mesin, kendaraan (tidak termasuk rel kereta api), plastik dan peralatan kedokteran dan teknik serta besi dan baja88.

Untuk investasi sendiri, Jepang merupakan investor terbesar keempat di Taiwan, dengan total investasi sebesar kurang lebih US$ 20.8 milyar. Di akhir September 2018, investasi asing Jepang (foreign direct investment) mencapai 10.348 proyek, dengan 49 % diantaranya meliputi perdagangan eceran dan grosir, perumahan, konstruksi, dan asuransi.

Investasi kedua tertinggi Jepang di Taiwan berada pada bidang manufaktur bahan-bahan kimia, elektronik dan produk logam. Di lain pihak, total investasi Taiwan di Jepang mencapai US$ 9.1 miliar. Perusahaan Taiwan juga terlihat

87https://www.trade.gov.tw/english/Pages/Detail.aspx?nodeID=661&pid=652139&dl_DateRange=

all&txt_SD=&txt_ED=&txt_Keyword=&Pageid=0, diakses 8 November 2018

88http://www.worldsrichestcountries.com/, diakses 3 Desember 2018

66 semakin aktif dalam mengadakan kerjasama dengan Jepang dalam bidang manufaktur semikonduktor, dan elektronik89.

Di tahun 2012, Perusahaan Taiwan Hon Hai Precision Industry (perusahaan manufaktur elektronik terbesar dunia) memulai negosiasi dengan Sharp (perusahaan Jepang) untuk membeli saham utama di perusahaan tersebut.

Pada tanggal 30 Maret 2016. Hon Hai berhasil melakukan pembelian terhadap 66% saham Sharp dengan harga US$ 3.5 miliar.

Dan di bulan Juli 2013, CTBC (yang juga dikenal dengan Chinatrust Commercial Bank) salah satu institusi keuangan terbaik Taiwan mencapai perjanjian buyout (pembelian semua saham) dengan pemegang saham utama dari Tokyo Star Bank90. Di tahun 2014, akuisisi berhasil dilakukan oleh CTBC, dengan pembelian saham sebesar US$ 510 juta atau setara dengan ¥52 miliar. Hal ini sekaligus menandai pertama kalinya kepemilikan bank Jepang diambil alih oleh asing91.

Kemajuan dalam hubungan investasi keduanya tidak lepas dari perjanjian investasi yang berhasil disepakati dan ditandatangani pada tanggal 22 September 2011. Japan-Taiwan Mutual Cooperation on the Liberalization, Promotion and Protection of Investment berisi 26 pasal yang secara garis besar memberikan keuntungan dalam hal menciptakan lingkungan investasi yang stabil dan

89Ibid

90http://www.tokyofoundation.org/en/articles/2014/japan-taiwan-business-alliance-1, diakses pada 8 November 2018

91 https://www.reuters.com/article/tokyo-star-bank-ctbc-holding/tokyo-star-bank-says-taiwans-ctbc-has-completed-acquisition-idUST9N0NY08720140605, diakses pada 8 November 2018

67 terinstitusionalisasi, meningkatkan hubungan keduanya di bidang industri dan menyediakan mekanisme yang memberikan kewenangan kepada kedua pihak untuk menyelesaikan sengketa/perselisihan melalui arbitrase internasional92.

Dokumen terkait