BAB 3 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
3.1 Tujuan
3.1.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui nilai akurasi metode BCG untuk pemeriksaan albumin menggunakan reagen buatan sendiri
2. Untuk mengetahui nilai presisi metode BCG untuk pemeriksaan albumin menggunakan reagen buatan sendiri
3. Untuk mengetahui nilai linearitas metode BCG untuk pemeriksaan albumin menggunakan reagen buatan sendiri
4. Untuk mengetahui nilai reportable range metode BCG untuk pemeriksaan albumin menggunakan reagen buatan sendiri
5. Untuk mengetahui nilai limit deteksi dan limit kuantitas metode BCG untuk pemeriksaan albumin menggunakan reagen buatan sendiri
6. Untuk mengetahui nilai uji recovery metode BCG untuk pemeriksaan albumin menggunakan reagen sendiri
7. Untuk mengetahui uji interference metode BCG untuk pemeriksaan albumin menggunakan reagen buatan sendiri
8. Untuk mengetahui stabilitas hasil pemeriksaan albumin menggunakan reagen buatan sendiri
26 3.2 Manfaat Penelitian
Diharapkan reagen BCG buatan sendiri dapat digunakan sebagai reagen alternatif yang lebih ekonomis dengan jaminan kualitas yang baik terhadap hasil pemeriksaan albumin dan dapat digunakan sebagai reagen untuk pemeriksaan albumin serum khususnya di Laboratorium Kimia Klinik
27 BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif dengan studi perbandingan. Perbandingan dilakukan dengan cara membandingkan metode uji, yaitu metode BCG yang menggunakan reagen buatan sendiri dan metode uji yang menggunakan reagen komersial sebagai metode pembanding Bahan pemeriksaan yang digunakan dalam pemeriksaan albumin menggunakan bahan pemeriksaan serum kontrol konsentrasi normal dan patologis. Pengujian dilakukan dengan cara menguji akurasi, presisi, linearitas, reportable range, recovery, interference dan stabilitas.
Pengujian akurasi dilakukan terhadap 5 variasi konsentrasi serum kontrol berdasarkan pedoman CLSI Experimental Ptotocol 9 dan 15 sehingga didapatkan nilai Total Error pada masing-masing Medical Decision Levels albumin yang kemudian dibandingkan dengan nilai TEa albumin. Pengukuran akurasi dilakukan dengan pengulangan sebanyak 40 kali. Pengukuran presisi dilakukan pengulangan pengukuran masing-masing serum kontrol sebanyak 20 kali. Pengukuran linearitas dan reportable range pada 5 konsentrasi serum kontrol dengan pengulangan masing-masing 5 kali. Pengukuran recovery dengan menggunakan bahan pemeriksaan serum kontrol yang ditambahkan larutan standar albumin dengan dilakukan pengulangan sebanyak 4 kali dan pengukuran interference dengan menggunakan bahan pemeriksaan serum kontrol yang ditambahkan kontrol darah normal dilakukan pengulangan sebanyak 4 kali. Pengukuran stabilitas hasil pemeriksaan dilakukan dalam rentang waktu 1 jam.
28 4.2 Matrik Penelitian
Skema 4.1 Matrik Penelitian
4.3 Cara Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari hasil pengukuran setiap parameter validasi metode BCG dengan menggunakan reagen buatan sendiri dan reagen komersial pada pemeriksaan albumin.
4.4 Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah reagen buatan sendiri dan serum kontrol 4.5 Waktu dan Tempat Penelitian
Waktu penelitian dilakukan pada bulan Juni 2017 – Oktober 2018 yang dilakukan di Laboratorium Kimia Klinik Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Bandung.
Dibandingkan Dengan
29 4.6 Alat, Bahan dan Cara Kerja 4.6.1 Alat
Fotometer Kenzamax, Mikropipet (10, 100, 1000 µL), tabung reaksi kecil, rak tabung, tip kuning, tip biru, tabung aliquot, tissue, neraca analitik, spatula, botol timbang, labu ukur, pipet volume, kertas hisap, gelas kimia, batang pengaduk, pH meter, botol reagen, centrifuge, vortex dan tabung reaksi besar.
4.6.2 Bahan
a. Serum kontrol konsentrasi normal dan patologis b. Reagen BCG buatan sendiri
Buffer sitrat pH 4.2 : 30 mmol/L Bromocresol Green : 0.26 mmol/L Tween 20
c. Reagen Komersial
Larutan standar albumin : 5 g/dL Buffer sitrat pH 4.2 : 30 mmol/L Bromocresol Green : 0.26 mmol/L Larutan surfaktan
d. Aquabidest
e. Larutan Hemolisat ± 4 g/dL 4.7 Tahapan Penelitian
1. Membuat reagen Bromocresol Green buatan sendiri a. Disiapkan alat dan bahan yang diperlukan
b. Dibuat larutan Buffer sitrat 0.1 M pH 4.2 dengan cara melarutkan 21.014 g asam sitrat monohidrat (C8H807H20) dalam 1 L aquabidest (Larutan A) dan 29.41 g trisodium sitrat dehidrat (C6H5Na3O7.2H2O) dalam larutan 1 L aquabidest (Larutan B)
c. Diambil 540.0 mL larutan A dan 460.0 mL larutan B ke dalam gelas kimia kemudian dicampurkan sehingga didapatkan larutan buffer sitrat 0.1 M sebanyak 1 L
30
d. Diambil sebanyak 300 mL larutan buffer sitrat tadi kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 1 L dan ditambahkan aquabidest hingga batas volume untuk mendapatkan larutan buffer sitrat 30 mmol/L, dituangkan ke dalam gelas kimia dan diukur pH nya menggunakan pH meter dengan rentang pH yang diinginkan sebesar 4.20±0.05
e. Ditimbang 0.1815 g bromocresol green pada botol timbang
f. Dituang sedikit demi sedikit bromocresol green yang telah ditimbang ke dalam gelas kimia berisi larutan buffer sitrat tadi sambil diaduk perlahan hingga homogen
g. Ditambah larutan surfaktan Tween 20, kemudian diaduk sampai homogen
h. Dipindahkan larutan tersebut ke dalam botol reagen kemudian diberi label
2. Preparasi Reagen BCG buatan sendiri a. Disiapkan 10 botol reagen bersih
b. Dimasukkan reagen BCG buatan sendiri yang telah jadi sebanyak 100 mL ke dalam masing-masing botol reagen
c. Diberi label masing-masing botol reagen dengan penomoran dari 1 sampai dengan 10
d. Dicari panjang gelombang maksimal reagen BCG buatan sendiri dengan menggunakan spektrofotometer
3. Preparasi Bahan Pemeriksaan
Bahan pemeriksaan yang digunakan terdiri dari serum kontrol normal dan serum kontrol patologis. Masing-masing serum kontrol dilarutkan dengan aquabidest, kemudian dipisahkan dan dimasukkan ke dalam aliquot dengan pembagian sebagai berikut :
a. Untuk uji presisi disiapkan 5 buah aliquot yang masing-masing diisi 200 µL serum kontrol normal dan 5 buah aliquot yang masing-masing diisi 200 µL serum kontrol patologis
b. Untuk uji akurasi, linearitas dan reportable range dilakukan proses pengenceran serum kontrol menjadi 5 konsentrasi serum kontrol
31
c. Untuk uji recovery dan interference digunakan serum kontrol normal serum dimasukkan ke dalam empat buah aliquot yang masing-masing diisi sebanyak 100 µL untuk membuat baseline sample dan spike sample uji recovery dan uji interference
Cara membuat baseline sample dan spike sample untuk uji recovery :
Untuk baseline sample, dilakukan pengenceran terhadap serum dengan perbandingan 1 : 9, yaitu 10 µL aquabidest ditambahkan ke dalam 90 µL serum
Untuk spike sample, ditambahkan sejumlah analit uji berupa larutan standar albumin 5 g/dL dengan perbandingan 1 : 9, yaitu 10 µL larutan standar albumin ditambahkan ke dalam 90 µL serum sehingga konsentrasi yang ditambahkan sebesar ±0.5 g/dL
Cara membuat baseline sample dan spike sample untuk uji interference :
Untuk baseline sample, dilakukan pengenceran terhadap serum dengan perbandingan 1 : 9, yaitu 10 µL aquabidest ditambahkan ke dalam 90 µL serum
Untuk spike sample, ditambahkan sejumlah analit penggangu berupa larutan standar hemoglobin ± 4 g/dL dengan perbandingan 1 : 9, yaitu 10 µL larutan hemolisat ditambahkan ke dalam 90 µL serum sehingga konsentrasi yang ditambahkan adalah sebesar ± 0.4 g/dL
4. Uji Akurasi dilakukan pengukuran terhadap 5 jenis konsentrasi serum kontrol yang masing-masing konsentrasi diukur dengan menggunakan reagen BCG buatan sendiri sebanyak 8 kali pengulangan dan reagen BCG komersial sebanyak 8 kali pengulangan, serta dilakukan selama 5 hari 5. Uji presisi dilakukan pengukuran konsentrasi serum kontrol normal dan
patologis masing-masing sebanyak 4 kali pengulangan dan dilakukan selama 5 hari
32
6. Uji linearitas dilakukan pengukuran terhadap 5 jenis konsentrasi serum kontrol yang masing-masing konsentrasi diukur absorbannya sebanyak 5 kali pengulangan dan dilakukan selama 1 hari
7. Uji reportable range dilakukan pengukuran terhadap 5 jenis konsentrasi serum kontrol yang masing-masing konsentrasi diukur sebanyak 5 kali pengulangan dan dilakukan selama 1 hari
8. Uji limit deteksi dilakukan pengukuran absorban pada 20 blanko (reagen uji) yang dilakukan selama 1 hari
9. Uji limit kuantitas digunakan data dari hasil perhitungan uji limit deteksi 10. Uji recovery dilakukan pengukuran terhadap spike sample dan baseline
sample yang masing-masing konsentrasi diukur sebanyak 4 kali pengulangan dan dilakukan selama 1 hari
11. Uji interference dilakukan pengukuran terhadap spike sample dan baseline sample masing-masing konsentrasi diukur sebanyak 4 kali pengulangan dan dilakukan selama 1 hari
12. Uji Stabilitas hasil pemeriksaan dilakukan pembacaan hasil pemeriksaan dalam rentang waktu 1 jam
13. Ke-8 parameter pengujian validasi metode tersebut dilakukan terhadap pemeriksaan albumin metode BCG
Prinsip : Albumin dengan bromocresol green pada suasana pH 4.2 akan mengubah warna indikator dari kuning hijau menjadi hijau biru. Intensitas warna yang terbentuk sebanding dengan konsentrasi albumin dalam sampel yang diukur pada fotometer dengan panjang gelombang 630 nm.
Cara Kerja Pemeriksaan Albumin metode BCG :
Tabel 4.1 Pemeriksaan Albumin Metode BCG
Blanko Standar Kontrol
Sampel stabil sampai 30 menit.
33 4.8 Cara Pengolahan Data
Untuk pengukuran linearitas, data yang diperoleh diolah menggunakan uji statistik korelasi dan uji one way Anova. Pengukuran presisi, akurasi, reportable range, limit deteksi, limit kuantitas, recovery, interference dan stabilitas, data yang diperoleh diolah dengan uji statistik deskriptif menggunakan Microsoft Excel dengan formula sebagai berikut :
a. Presisi
Keterangan :
CV : Coefficient of varian (Koefisien variasi) SD : Standar deviasi/ simpangan baku
X : Rata-rata hasil pengukuran berulang bahan kontrol b. Akurasi
Keterangan :
TEcalc : Total error hitung TE : Total error alloable SE : Systematic error
RE : Random error
c. Limit Deteksi
Y = X absorban blanko + 3 SD absorban blanko Persamaan garis regresi dari linearitas
Y = a+ bx Keterangan :
Y : absorban LOD x : konsentrasi LOD a : intercept
b : slope d. Limit Kuantitas
LoQ = 3LoD
34 e. Uji Recovery
[
] Keterangan :
C1: Konsentrasi analit dalam sampel ditambah sejumlah analit tertentu C2: Konsentrasi analit dalam sampel
C3: Konsentrasi analit yang ditambahkan kedalam sampel f. Uji Interference
Rerata selisih = selisih konsentrasi spike sampel – selisih konsentrasi baseline sampel
g. Uji stabilitas hasil pemeriksaan
Hasil uji pemeriksaam albumin pada saat sampel direaksikan dengan reagen yang telah mencapai titik akhir reaksi dibandingkan dengan hasil uji pemeriksaan albumin yang disimpan dalam jangka waktu 1 jam
35 BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Pembuatan Reagen Albumin Buatan Sendiri
Pembuatan reagen albumin dimulai dengan membuat larutan buffer sitrat 30 mmol/L yang kemudian ditambah dengan bromocresol green dan surfaktan tween 20. Surfaktan tween 20 dipergunakan sebagai pengganti brij 35 dikarenakan kesulitan dalam pengadaannya. Reagen albumin buatan sendiri selanjutnya dimasukkan ke dalam botol reagen dan siap dipergunakan (lampiran 1).
5.2 Penentuan Panjang Gelombang Maksimal
Penentuan panjang gelombang maksimal dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan pengujian validasi metode. Penentuan panjang gelombang ini menggunakan sfektrofotometer dan didapatkan panjang gelombang maksimal untuk reagen albumin metode BCG buatan sendiri yaitu 626.5 nm. Pengukuran panjang gelombang maksimal juga dilakukan pada reagen albumin metode BCG komersial dan diperoleh panjang gelombang maksimal yaitu 627 nm (Lampiran 2). Untuk selanjutnya dipilih panjang gelombang 630 nm untuk pemeriksaan albumin serum supaya pemeriksaan albumin dapat dilakukan dengan menggunakan fotometer dan sesuai dengan kit insert reagen albumin metode BCG komersial yang juga menggunakan panjang gelombang 630 nm untuk pemeriksaan albumin serumnya (Lampiran 3).
5.3 Data Kontrol Serum
Pada penelitian ini digunakan 2 jenis kontrol serum, yaitu kontrol serum normal dan kontrol serum patologis. Nilai True Value (TV) kontrol serum normal untuk pemeriksaan albumin adalah 3.10 g/dL dengan nilai simpangan sebesar 0.183. Sedangkan nilai Nilai True Value (TV) kontrol serum patologis adalah 4.57 g/dL dengan nilai simpangan sebesar 0.273. Untuk kepentingan penelitian batas kontrol yang ditetapkan adalah ± 1SD. Berikut merupakan data range kontrol serum baik kontrol serum normal maupun patologis :
36
Tabel 5.1 Range Serum Kontrol Range Kontrol Kontrol Serum
Normal
5.4 Uji Stabilitas Reaksi
Untuk mengetahui stabilitas reaksi dari reagen albumin buatan sendiri dilakukan pengukuran albumin setiap 5 menit yang dilakukan selama 65 menit (Lampiran 4). Selama 65 menit masih menunjukkan hasil yang stabil dan tidak adanya pengendapan seperti halnya pada penelitian sebelumnya. Hal ini kemungkinan dikarenakan adanya penambahan surfaktan yang tidak dilakukan pada penelitian sebelumnya. Surfaktan diketahui dapat menurunkan absorban dan dapat mencegah pengendapan protein serum.
5.5 Uji Presisi
Uji presisi untuk pemeriksaan albumin ini menggunakkan reagen albumin buatan sendiri dan reagen albumin komersial yang dilakukan 1 hari untuk mendapatkan 20 data kontrol serum normal dan 20 data kontrol serum patologis (Lampiran 5). Dari hasil pengolahan data didapatkan hasil perhitungan sebagai berikut :
Tabel 5.2 Data Hasil Uji Presisi Kontrol Reagen Buatan sendiri Reagen Komersial
Rerata 3.03 4.37 3.11 4.51
Standar
Deviasi (SD) 0.040 0.039 0.060 0.097
Coefficient of
Varian (CV) % 1.333 0.870 1.933 2.165
37
Presisi merupakan kedekatan hasil pemeriksaan berulang yang dilakukan di bawah kondisi pengukuran yang sama (Dan & Perhitungannya, 2004; United Nations Office on Drugs and Crime, 2009) . Kriteria penerimaan uji presisi untuk short term imprecision adalah apabila nilai CV% lebih kecil dari 2.5. Dimana 2.5 diperoleh dari perhitungan 0.25 dikalikan dengan TEa albumin yang bernilai 10%.
Berdasarkan data diatas nilai CV% pada kedua kontrol serum lebih kecil dari 2.5 sehingga uji presisi untuk kedua konsentrasi dapat diterima. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa nilai kesalahan acak atau random error yang terjadi masih dalam batas yang ditetapkan.
5.6 Uji Akurasi
Pengujian akurasi dilakukan dengan melakukan pemeriksaan albumin dengan menggunakan reagen albumin buatan sendiri sebagai metode uji dan dengan menggunakan reagen albumin komersial sebagai metode pembanding.
Pengujian akurasi dilakukan dengan menggunakan kontrol serum normal yang dibuat kedalam 5 konsentarsi yang berbeda, dimana setiap konsentrasinya dilakukan pengulangan sebanyak 4 kali sehingga secara keseluruhan didapatkan 40 data untuk metode uji dan 40 data untuk metode pembanding (Lampiran 6).
Data kemudian diplotkan pada grafik Difference plot dan Scatter plot untuk menilai rentang, outliers, dan regresi linear kedua metode. Berikut merupakan grafiknya :
Gambar 5. 1 Difference Plot
-0.20 -0.10 0.00 0.10 0.20 0.30
0 10 20 30 40 50
Bias
Data ke-
Difference Plot
38
Gambar 5.2 Scatter Plot
Dari grafik Difference Plot terlihat adanya perbedaan nilai akurasi antara nilai konsentrasi albumin metode pembanding dengan metode uji sebesar -0.03 yang menyebabkan bias karakteristik. Bias tersebut dapat dipertanggungjawabkan dengan melakukan koreksi apabila memiliki presisi yang baik koefisien korelasi >
0.99.
Dari grafik Scatter Plot didapatkan persamaan garis regresi dengan nilai r sebesar 0.9925 dan dari hasil uji sebelumnya bahwa presisi bernilai baik sehingga memenuhi kriteria untuk dilakukan koreksi. Koreksi dilakukan dengan cara menghitung selisih anatara konsentrasi metode uji dengan konsentrasi metode pembanding. Selisih tersebut kemudian di plotkan pada grafik Difference plot dan scatter plot. Berikut grafiknya setelah dilakukan koreksi :
Gambar 5.3 : Difference plot Setelah Koreksi
y = 1.1082x - 0.4453 R² = 0.9851
2.80 3.30 3.80 4.30 4.80
2.8 3.3 3.8 4.3 4.8
Metode Uji
Metode Pembanding
Scatter Plot
-0.20 -0.10 0.00 0.10 0.20 0.30
0 10 20 30 40 50
Bias
Data Ke-
Difference Plot
39
Gambar 5.4 : Scatter Plot Setelah Koreksi
Berdasarkan perhitungan uji akurasi didapatkan nilai rata-rata bias setelah koreksi antara kedua metode menjadi 0.00 g/dL sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan akurasi di antara kedua metode.
Berdasarkan grafik scatter plot diatas didapatkan bawa nilai r > 0.9924, sehingga kita dapat melakukan perhitungan regresi linear sederhana dan estimasi kesalahan sistematik (SE) dan kesalahan acak (RE) untuk mendapatkan Total Error pada konsentrasi Medical Decision Levels (MDL).
Dari perhitungan regresi linear sederhana pada konsentrasi MDL 3.10 g/dL didapatkan SE sebesar 2.66% dan RE sebesar 5.11% sehingga nilai TE sebesar 7.77%. Nilai TE tersebut kurang dari nilai TEa sebesar 10%, sehingga kinerja metode uji pada konsentrasi MDL tersebut diterima.
Pada konsentrasi MDL 4.57 g/dL didapatkan SE sebesar 1.68% dan RE sebesar 3.35% sehingga nilai TE sebesar 5.02%. Nilai TE tersebut kurang dari nilai TEa sebesar 10%, sehingga kinerja metode uji pada konsentrasi MDL tersebut juga diterima. Kemudian dibuat Method Decision Chart untuk menilai kinerja suatu metode. Berikut merupakan hasilnya :
y = 1.1082x - 0.4181 R² = 0.9851
2.80 3.30 3.80 4.30 4.80
2.8 3.3 3.8 4.3 4.8
Metode Uji
Metode Pembanding
Scatter Plot
40
Gambar 5.5 Medical Decision Chart
Dari Gambar tersebut terlihat bahwa kinerja metode pada konsentrasi MDL 3.10 g/dL berada pada daerah Excellent dan kinerja metode pada konsentrasi MDL 4.57 g/dL berada pada daerah world class. Artinya, Suatu metode dengan
"kinerja yang sangat baik" mudah dikelola dalam layanan rutin bahkan dengan rotasi yang meluas dari banyak operator dan dapat dikendalikan dengan biaya minimum, biasanya dengan prosedur QC satu aturan dan minimum 2 pengukuran kontrol per run.
5.7 Uji Linearitas
Pada uji linearitas dilakukan pemeriksaan albumin metode BCG dengan menggunakan reagen buatan sendiri dan reagen komersial untuk mendapatkan 25 data absorban yang di dapatkan dari 5 konsentrasi serum kontrol (lampiran 7).
Selanjutnya data tersebut dilakukan uji statistik yaitu koefisien korelasi r dan uji One Way Anova. Ke 25 data diplotkan pada Scatter plot untuk mendapatkan persamaan garis regresi yang menunjukkan hubungan antara absorban dengan konsentrasi.
0.0 2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 12.0
0.00 2.00 4.00 6.00
Obse rv e d In ac cu ra cy , % B ia s
Observed Imprecision, % CV
Medical Decision Chart dengan TEa 10%
6 Sigma (World Class) 5 Sigma (Excelent) 4 Sigma (Good) 3 Sigma (Marginal) 2 Sigma (Poor) Level 1 Level 2
41
Gambar 5.6 : Scatter plot Konsentrasi – Absorban dengan Menggunakan Reagen Buatan Sendiri
Gambar 5.7 : Scatter plot Konsentrasi – Absorban dengan Menggunakan Reagen Komersial
Dari grafik tersebut didapatkan persamaan regresi dengan nilai koefisien korelasi sebsar 0.989 untuk reagen buatan sendiri dan 0.9901 untuk reagen komersial. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara nilai absorban dengan nilai konsentrasi
Pada uji linearitas dilakukan juga pengujian terhadap adanya perbedaan nilai absorban pada setiap konsentrasi serum kontrol yang dilakukan dengan uji one way anova. Dari hasil uji statistic didapatkan nilai probabilitas (P) untuk uji anova sebesar 0.000 baik untu reagen buatan sendiri maupun reagen komersial yang
Scatter Plot Konsentrasi - Absorban
y = 0.149x + 0.0554
Scatter Plot Konsentrasi - Absorban
42
menyebabkan Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai absorban pada setiap konsentrasi..
Kriteria penerimaan uji linearitas apabila nilai koefisien korelasi r lebih dari 0.975 dan nilai probabilitas untuk uji anova kurang dari 0.05. dari uji statistic yang telah dilakukan didapatkan nilai r sebesar 0.989 dengan probabilitas sebesar 0.000 untuk reagen buatan sendiri dan 0.990 dengan probabilitas sebesar 0.000 untuk reagen komersial, sehingga dapat disimpulkan bahwa uji linearitas dapat diterima.
Linearitas didefinisikan sebagai kemampuan metode untuk mendapatkan hasil yang sebanding dengan konsentrasi analit. Sehingga apabila uji ini dilakukan dapat mengorelasikan antara respon alat atau metode dan konsentrasi yang diharapkan dapat linear. Hal tersebut dapat dilihat pada gambaran secara matematis oleh koefisien korelasi pada regresi linear. Linearitas juga menunjukkan fungsi kalibrasi yang mencangkup pengukuran instrument atau metode secara keseluruhan, dan fungsi keakuratan dari analit yang diperiksa (Dan
& Perhitungannya, 2004; Irish National Accreditation Board (INAB), 2012;
Society & Biochemistry, 2004; United Nations Office on Drugs and Crime, 2009) Berdasarkan hasil penelitian koefisien korelasinya >989, sehingga dapat diasumsikan bahwa kemampuan metode reagen buatan sendiri ini linear, hasil yang didapatkan sebanding dengan konsentrasi analit yang ada di dalam sampel dan hasilnya tersebut akurat.
5.8 Uji Reportable Range
Pengujian reportable range dilakukan untuk mengetahui konsentrasi tertinggi yang memberikan nilai TE lebih besar dari nilai TEa. Penentuan konsentrasi tertinggi dilakukan dengan cara menghitung rentang nilai observasi dari setiap konsentrasi. Konsentrasi yang diuji yaitu 3.10; 3.67; 4.06; 4.45; dan 4.71. Dari masing-masing konsentrasi diperiksa konsentrasi albuminnya menggunakan reagen komersial dan reagen buatan sendiri sebanyak 5 kali pengulangan, sehingga didaptkan 25 data konsentrasi albumin menggunakan reagen komersial dan 25 data konsentrasi albumin menggunakan reagen buatan sendiri (lampiran 8).
43
Berdasarkan hasil perhitungan yang terdapat pada lampiran 8 setiap konsentrasi memiliki rentang observasi yang sama dengan rentang idealnya, yang menandakan bahwa metode tersebut dapat diterima. Dari hasil pengukuran juga dibuat scatter plot antara konsentrasi nilai kontrol yang ada di kit dengan nilai kontrol hasil observasi, sehingga didapatkan garis regresi sebagai berikut
Gambar 5.8 : Scatter Plot Reportable Range Menggunakan Reagen Buatan Sendiri
Gambar 5.9 :Scatter Plot Reportable Range Menggunakan Reagen Komersial
Dari scatter plot didapatkan persamaan garis untuk masing-masing penggunaan reagen buatan sendiri dan reagen komersial, diman keduanya memiliki nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0.9917 dan 0.9929. Nilai koefisen
y = 1.0484x - 0.3375 R² = 0.9834
2.5 3 3.5 4 4.5 5
2.5 3 3.5 4 4.5 5
Nilai Kontrol Hasil Observasi
Nilai Kontrol Kit
Scatter Plot Pemeriksaan Albumin Menggunakan Reagen Buatan Sendiri
Terhadap Kontrol
y = 0.9101x + 0.2393 R² = 0.9858 2.53
3.54 4.55
2.5 3 3.5 4 4.5 5
Nilai Kontrol Hasil Observasi
Nilai Kontrol Kit
Scatter Plot Pemeriksaan Albumin Menggunakan Reagen Komersial
Terhadap Kontrol
44
korelasi yang >0.99 menunjukkan hubungan yang kuat antara kedua nilai konsentrasi.
Reportable range merupakan batas terendah sampai batas tertinggi yang dapat dilaporkan secara kuantitatif oleh metode dengan keakuratan, ketelitian dan linearitas yang dapat diterima. Reportable range merupakan limit dari linearitas 3,7,24,31
Kriteria penerimaan pengujian reportable range adalah apabila rentang nilai konsentrasi tertinggi melebihi atau sama dengan rentang nilai normal parameter albumin 3.5-5.2 g/dL. Pada hasil penelitian didapatkan bahwa konsentrasi tertinggi yang diobservasi yaitu 4.71 g/dL memiliki rentang nilai yang lebih besar untuk yang menggunakan reagen buatan sendiri, dan untuk yang menggunakan reagen komersial sama dengan rentang nilai ideal, sehinggaa dapat dikatakan bahwa pengujian reportable range ini dapat diterima .
5.9 Uji Limit Deteksi dan Limit Kuantitas
Uji limit deteksi (LOD) dilakukan dengan cara mengukur absorban blanko reagen albumin buatan sendiri sebanyak 20 kali (Lampiran 9). Konsentrasi LOD diperoleh dari persamaan garis regresi Y = a + bx, dimana Y adalah absorban limit deteksi, a adalah intersept, b adalah slope dan x adalah konsentrasi limit deteksi. Absorban limit deteksi diperoleh dengan cara menghitung rerata absorban blanko ditambah dengan 3 kali standar deviasi. Dari hasil pengolahan data didapatkan rerata pengukuran absorban blanko menggunakan reagen buatan sendiri sebesar 0.11295 dan standar deviasi sebesar 0.0015. sehingga didapatkan konsentrasi LOD sebesar 0.89 g/dL dan konsentrasi LOQ sebesar 2.28 g/dL.
Pengujian limit deteksi dan limit kuantitas dimaksudkan untuk memperkirakan konsentrasi terendah yang dapat diukur oleh suatu metode. Limit deteksi menunjukkan bahwa hasil konsentrasi analit terendah yang dapat bereaksi dengan reagen yang lebih besar dibandingkan dengan blanko. Limit kuantitas menunjukkan konsentrasi terendah analit di dalam bahan pemeriksaan dan ditentukan dengan presisi dan akurasi yang diterima (Eurachem, 1998; Society &
Biochemistry, 2004; United Nations Office on Drugs and Crime, 2009; Validation et al., n.d.).
45
Kriteria penerimaan uji LOD dan LOQ adalah jika LOD dan LOQ tidak lebih besar dari nilai konsentrasi terendah kadar albumin yaitu 3.5 g/dL, sehingga dapat dikatakan bahwa pengujian limit deteksi dan limit kuantitas dapat diterima.
Reagen buatan sendiri dapat mengukur konsentrasi terendah analit dalam bahan pemeriksaan dengan presisi dan akurasi yang baik.
5.10 Uji Recovery
Uji Recovery dilakukan dengan cara mengukur konsentrasi albumin pada enam bahan pemeriksaan dengan menggunakan kontrol serum normal. Bahan pemeriksaan tersebut dibedakan menjadi baseline sample dan spike sample.
Uji Recovery dilakukan dengan cara mengukur konsentrasi albumin pada enam bahan pemeriksaan dengan menggunakan kontrol serum normal. Bahan pemeriksaan tersebut dibedakan menjadi baseline sample dan spike sample.