• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Koperasi Simpan Pinjam

2. Tujuan koperasi simpan pinjam

Tujuan koperasi simpan pinjam adalah ;

a. Membantu keperluan kredit para anggota dengan syarat-syarat

yang ringan

b. Mendidik para anggota agar giat menyimpan secara teratu

sehingga membentuk modal sendiri

c. Mendidik anggota hidup behemat dengan menyisihkan

sebagian dari pendapatan mereka.22 3. Akad dalam koperasi Rumah Sejahtera

1. Akad murabahah

a. Pengertian akad murabahah

Murabahah (al-bai’ bi tsaman ajil) lebih dikenal dengan murabahah. Murabahah, yang berasal dari kata ribhu

(keuntungan). 23 akad Murabahah adalah transaksi jual beli suatu barang sebesar harga perolehan barang ditambah

dengan marjin yang di sepakati dua belah pihak, dimana

penjual menginformasikan terlebih dahulu harga perolehan

kepada pembeli.24

Murabahah adalah salah satu kontak jual beli yang

sangat umum dalam praktik dagang islam. Ini di kenal juga

sebagai jual beli dengan tambahan biaya. Kontrak ini di

22 Abdulah Safe’i,”Tinjauan Terhadap Kedudukan Dan Perannya Dalam Pemberdayaan

ekonomi Kerakyatan”,Jurnal Media Syai’ah,Vol.14,No.1, 2012,hal.47-50

23 Adiwarman A. Karim, “Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan”(Jakarta : PT Raja Grafindo Perdasa, 2013), hal.98

33

defenisikan dengan jual beli dimana objek yang dijual

dengan harga sebagaimana harga belinya di tambah profit

margin yang di nyatakan. 25

Karena dalam defenisinya disebut adanya “keuntungan yang disepakati” karakteristik murabahah adalah sipenjual harus memberitahu pembeli tentang harga pembelian

barang dan menyatakan jumlah keuntungan yang

ditambahkan pada biaya tersebut.26 b. Rukun akad murabahah

Rukun adalah suatu yang wajib dalam suatu transaksi

misalnya ada penjual dan pembeli. Tampa adanya penjual

dan pembeli, maka jual beli tidak akan ada. Ekonomi islam

dan ahli-ahli fiqih, menganggap murabahah sebagai bagian

dari jual beli. Secara umum kaidah yang digunakan adalah

jual beli.

Rukun jual beli ada 3 yaitu :

1) Akad (ijab dan kabul)

2) Orang orang yang berakad (penjual dan pembeli)

3) Ma’kud alaih (objek akad)

c. Syarat murabahah

1) Ada penjual dan pembeli

2) Berakal

25 Agus Triyanta, “Hukum Perbankan Syariah”, (Malang : Setara Press, 2016), hal.55 26 Adiwarman A. Karim, “Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan”(Jakarta : PT Raja Grafindo Perdasa, 2013), hal.113

34

3) Dengan kehendak sendiri

4) Keadaan tidak mubazir

Keadaan yang tidak mubazir adalah yang berguna dan

tidak berlebihan

5) Baliq

Baliq adalah orang yang telah mencapai kedewasaan

6) Uang dan benda yang di beli

7) Suci

8) Ada manfaat

9) Keadaan barang tersebut dapat di serahkan

10) Keadaan barang tersebut kepunyaan penjual atau

kepunyaan yang di wakilkan

11) Barang tersebut diketahui penjual dan pembeli dengan

terang zat

12) Bentuk kadar (ukuran)

13) Sifat-sifatnya sehngga tidak terjadi mengecewakan27 2. Akad ijarah

Secara bahasa, al-ijarah berasal dari kata al-ajru yang

berarti al-iwad, yakni ganti dan upah, sewa jasa atau imbalan.

Sebagian ulama mengartikan ijarahseabagai upah sementara

sebagian yang lain menyebutnya dengan sewa-menyewa.28

27 Irianto, “Akad Murabahah, Implementasi dan Tantangan”, Jurnal Valid, Vol.13 No.1, 2016

28 Firman Setiawan, “Al-Ijarah Al-a’mal Al-mustarakah Dalam Perspektif Ekonomi

35

Transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat

(hak guna), bukan perpindahan kepemilikan (hak milik). Jadi

pada dasarnya prinsip ijarah sama saja dengan prinsip jual beli,

tapi perbedaannya terletak pada objek transaksinya. Bila pada

jual beli objek transaksinya barang, pada ijarah objek

transaksinya adalah barang maupu jasa. Menurut Fatwa Dewan

Syariah Nasional, ijarah adalah akad perpindahan hak guna

(manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu

melalui pembayaran sewa/upah, tampa diikuti perpindahan

kepemilikan barang itu sendiri. Dengan demikian, dengan akad

ijarah tidak ada perubahan kepemilikan , tapi hanya

perpindahan hak guna saja dari yang menyewakan kepada

penyewa.29

Jadi, akad ijarah adalah transaksi sewa menyewa atas suatu

barang atau jasa antara pmilik objek sewa termasuk

kepemilikan hak pakai atas objek sewa dengan penyewa untuk

mendapatkan imbalan atas objek sewayang disewakan.30

Aturan umum yang harus di pandang dalam kontrak sewa

ini adalah bahwa objek yang di sewa ini adalah bahwa objek

yang di sewa adalah barang yang dapat menghasilkan manfaat

namun objek barangnya tetap utuh, namun jika barang tersebut

29 Adiwarman A. Karim, “Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan”(Jakarta : PT Raja Grafindo Perdasa, 2013), hal.137-138

36

menjadi tidak utuh lagi karena manfaat yang di ambil itu, maka

tidak dapat menjadi objek sewa.31

Rukun ijarah menurut Jumhur ada 4 yaitu:

1) Aqidain ( dua orang yang berakad), yaitu ajir dan

musta’jir. Dalam sewa menyewa (sewa atas manfaat), ajir adalah penyewa dan musta’jir adalah yang

menyewakan. Sedangkan dalam upah mengupah, ajir

adalah pekerja/pemberi jasa dan musta’jir adalah

pengupah/penerima jasa. Ajir yang bekerja pada

seseorang atau beberapa orang tertentu ajir khas

(pekerja khusus) dan yang bekerja pada orang banyak,

tidak terbatas pada orang-orang tertentu disebut ajir

musytarak ( pekerja umum)

2) Shighat yaitu ijab dan qabul. Ijarah haus dilakukan

dengan rela sma rela, maka ijab dan qabul ini

menunjukan adanya kerelaan dari aqidain

3) Manfaat, yaitu manfaat yang ditrima oleh penyewa. Jika

akadnya berupa sewa barang, maka manfaat dari nilai

gna dari barang tersebut, dan jika akad nya adalah sewa

jasa/upah mengupah maka yang dimaksud manfaat

adalah pekerjaan yang diberikan oleh pemberi jasa.

37

4) Ujrah, yaitu biaya sewa sebagai ganti dari manfaat yang

di terima oleh penyewa atau upah yang diberikan oleh

penerima jasa kepada pemberi jasa.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam akad ijarah

yakni sebagai berikut :

1) Syarat terjadi akad

Untuk melakukan akad ijarah ini, aqid di

syaratkan di syaratkan harus berakal. Maka orang gila

dan anak kecil yang belum mumayyiz tidak sah

melakukan akad ini. Ulama’ hanafiyah tidak mempersyratkan harus baligh bagi aqid. Namun

menurut syafi’iyah, aqid harus baligh, sebab baligh adalah salah satu syarat seseorang mencapai batas

taklif. Sedangkan menurut mlikiyah, tamyiz merupakan

syarat untuk melakukan akad, tetapi baligh merupakan

syarat bagi berlakunya akad tersebut. Sehingga ketika

seorang anak yang mumayyiz melakukan akad ijarah

terhadap hartanya, maka akad tersebut hukumnya sah,

namun untuk melaksanakannya harus menunggu

38

2) Syarat pelaksanaan akad

Disyaratkan dalam pelaksanaan ijarah yaitu

kepemilikan dan hak kuasa penuh atas berang yang

disewakan. Oleh karena itu , ijarah al-fudhuli (ijarah

yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kuasa

penuh atau mendapatkan ijin dari pemilik barang

tersebut) tidak dapat dilksanakan.

3) Syarat sahnya ijarah

Syarat sahnya ijarah adalah sebagai berikut :

a) Kerelaaan aqidain, kerelaan ini dapat ditunjukkan

dengan ijab kabul. Karena itu tidak sah melakukan

akad ijarah bagi orang yang dipaksa.

b) Manfaat yang harus trtentu dan diketahui bersama

sehingga mencegah timbulnya perselisihan antara

aqidain.

c) Barang atau jasa yang disewakan dapat

dimanfaatkan, baik secara nyata maupun secara

syar’i.

d) Manfaat yang di akad harus diperbolehkan secara

syar’i. Maka tidak sah pengupah berzina, dan membunuh orang lain

e) Pekerjaan yang menjadi objek akad ijarah bukan

39

sebelum akad ijarah dilakukan, sepet melakukan

sholat fardhu, haji puasa dan lain-lain.

f) Ajir tidak boleh mengambil manfaat dari pekerjanya

g) Manfaat harus yang dimaksudkan dengan akad

sesuai dengan fungsi ma’qud alaih. Maka tidak sah menyewa pohon untuk dijadikan tempat jemuran

4) Syarat manfaat

Ada beberapa syarat dari manfaat ma’qud alaih yang

harus dipenuhi, yaitu :

a) Dibolehkan. Maka sesuatu yang dilarang tidak sah

menjadi manfaat dalam akad ijarah

b) Menerima manfaat melebihi mu’awadlah

c) Manfaat harus bernilai

d) Dimiliki

e) Tidak mengharuskan memberikan benda, seperti

menyewakan pohon untuk di ambil buahnya

f) Dapat diserahkan

g) Harus benar-benar memberikan manfaat bagi

musta’jir. Mka tidak sah mengupah seseorang untuk melakukan sholat fardhu bagi dirinya

h) Diketahui, yakni ada kejelasan mengenai spesifikasi

dan kadarnya

40

Syarat ujrah adalah sebagai berikut :

a) Ujrah harus berupa harta yang berharga dan kadar

nilainya diketahui.

b) Ujrah tidak boleh berupa manfaat yang sejenis

dengan ma’qud alaih. Seperti menyewa tempat tinggal dengan ujroh tempat tinggal.

6) Ta’liq akad ijarah

Sebagaimana tidak sahnya menguntungkan

akad jual beli pada suatu yang lain, maka demikian juga

dengan akad ijarah menurut hanafiyah. Namun

demikian, sah menurut jumhur apabila akad ijarah

didasarkan pada zaman mustaqbal (masa yang akan

datang), atau didasarkan pada tanggungan. Sepeti

ketika seseorang berkata, “aku tetapkan sebagai tanggunganmu untuk membawakan barang-barang ini

ke negara ini pada bulan ini.32

Dokumen terkait