BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Mata Pelajaran Pendidikan Al-Qur’an
3. Tujuan Mata Pelajaran Pendidikan Al-Qur’an
Adapun tujuan mata peljaran pendidikan Al-Qur’an untuk tingkat SD adalah:
a. Meningkatkan kompetensi peserta didik dalam membaca Al-Qur’an sesuai dengan keindahan Ilmu tajwid.
b. Meningkatkan kompetensi peserta didik untuk menulis ayat Al-Qur’an.
c. Meningkatkan kompetensi peerta didik untuk mengartikan dan memahami isi ayat-ayat Al-Qur’an.
d. Terbiasa mengamalkan isi Al-Qur’an, baik berkenaan dengan akidah, ibadah maupun akhlak.
e. Meningkatkan efektifitas baca tulis Al-Qur’an dan pemahaman di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat
f. Supaya anak cerdas
g. Supaya anak selamat dunia dan akhirat.
4. Fungsi Mata Pelajaran Pendidikan Al-Qur’an
Adapun fungsi mata pelajaran pendidikan Al-Qur’an adalah:
a. Mewujudkan generasi muslim yang cinta terhadap Al-Qur’an.
b. Memotivasi peserta didik dalam membaca, menulis, menghafal, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an.
c. Melanjutkan upaya tingkat kependidikan sebelumnya.
5. Ruang Lingkup/SK dan KD di SD
Ruang lingkup pendidikan Al-qur’an yang diajarkan kepada peserta didik adalah membaca, menulis, menghafal Ayat-ayat pendek serta menncontohkan nilai-nilai dalam Al-qur’an sekaligus melatih dan membiasakan membaca, menulis dan mengenal isi Al-qur’an dalam kehidupan sehari-hari, sasaran pendidikan Al-qur’an ini adalah peerta didik yang beragama Islam pada semua jalur dan jenjang pendidikan. (Dinas Pendidikan Propinsi Sumatra Barat, 2008:7)
Pendidikan Al-qur’an di sekolah adalah bagian dari kurikulum dan sudah menjadi mata pelajaran yang telah diselanggarakan Provinsi Sumatra Barat yang dilaksnakan dijenjang pendidikan formal atau non formal.Pendidikan Al-qur’an ini sudah dijadikan mata pelajaran di jenjang pendidikan formal, pendidikan Al-qur’an.Kurikulum dasar SDIT tetap berkiblat pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) 2006 yang melakukan pengembangan yang sesuai sesuai dengan nilai nilai Islam yang menjadi dasar pendidikan Islam.
Kurikulum pembelajaran Alqur,an ini siswa siswa harus mampu mengenal hukum bacaan yang sesuai denga Ilmu Tajwid.
Tabel 2.1
Silabus Mata Pelajaran Pendidikan Al-qur’an (PQ) di SD No Kelas
37
6. Materi Pendidikan Al-Qur’an di SD
Al-Qur’an Al-Karim dalam mengarahkan pendidikanya kepada manusia, memandang, menghadapi dan memperlakukan makhluk tersebut sejalan dengan
5.
39
unsur penciptanya, jasmani, akal, dan jiwa, atau dengan kata lain
”mengarahkannya menjadi manusia seutuhnya” karena itu materi-materi pendidikan yang disajikan oleh Al-Qur’an hampir selalu mengarah kepada jiwa, akal, dan raga manusia. (Qurais Shihab,2001:175)
Dalam penyajian materi pendidikannya, Al-Qur’an membuktikan kebenaran materi tersebut melalui pembuktian-pembuktian, baik dengan argumentasi-argumentasi yang dikemukakan maupun yang dapat dbuktikan sendiri oleh manusia melalui akalnya. (Qurais Shihab,2001:175)
Materi ajar adalah bahan ajar yang akan diberikan kepada pembelajar atau peserta didik, dimana materi ini berdasrkan kurikulum yang telah disusun sebelumya. (Adripen, Susi Herawati, 2007:54)
Materi pembelajaran merupakan inti pokok yang harus ada dalam proses pelaksanaan pembelajaran. Kalau diibaratkan sebuah kendaraan, materi itulah mesinya. Begitu juga dalam proses pelaksanaan pembelajaran, materi mempunyai peranan utama dalam menentukan berhasil atau tidaknya suatu pendidikan.
Adapun jenis materi yang diberikan kepada peserta didik di taman pendidikan Al-Qur’an adalah:
a. Materi Membca
Membaca berasal dari kata dasar ”baca”, berdasarkan kamus ilmiah jiwadan pendidikan, membaca merupakan ucapan lafadz bahasa lisan menurut peraturan-peraturan tertentu. Kata baca dalam bahasa Indonesia mengandung arti: melihat, memperhatikan, serta memahami isi dari yang tertulis dengan melisankan atau hanya dalam hari. (Depdibud RI, 1989)
Dalam literatur pendidikan islam istilah membaca mengandung dua penekanan yaitu: tilawah dan qira’ah, istilah tilawah mengandung makna mengikuti (membaca) apa adanya baik secara fisik maupun mengikuti jejak dan kebijaksanaan, atau membaca apa adanya sesuai dengan aturan bacaan yang benar dan baik. Sedangkan qiraati mengandung makna menyampaikan,
menelaah, membaca, meneliti,mengkaji, mendalami, mengetahui ciri-ciri atau mengungkapkan terhadap bacaan-bacaan yang tidak harus berupa teks tertulis, makna baca tidak sekedar tilawah tetapi juga qira’ah. M. Hasbi Ash Shidiqi mendefenisikan dalam bukunya bahwa Al-Qur’an menurut bahasa adalah bacaan atau yang dibaca. Al-Quran adalah ”mashdar” yang diartikan dengan arti isim maf’ul yaitu: maqru: yang dibaca.(Hasbi Ash Shiddiqi,1992:1)
Sebelum siswa dapat membaca (mengucapkan huruf,bunyi, atau lambang bahasa) dalam Al-Qur’an, terlebih dahulu santri harus mengenal huruf hijaiyah. Kemampuan mengenal dapat dilakukan dengan cara melihat dan memperhatikan guru menulis. Sedangkan latihan membaca dapat dilakukan dengan membaca kalimat yang disertai gambar atau tulisan.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membaca adalah pembelajaran membaca yang tidak ditekankan pada upaya memahami, tetapi ada pada tahap melafalkan lambang-lambang.
b. Materi Menulis
Menurut Rudy S. Iskandar menulis adalah kegiatan menuangkan simbol huruf, sedangkan huruf adalah bentuk-bentuk yang merupakan lambang bunyi seperti ”a” dari alat bunyi yang berada dalam rongga mulut dan mulut dibuka lebar, sedangkan huruf ”b” adalah lambang bunyi jika bibir atas dan bawah diketupkan. Jadi menulis adalah menuangkan simbol lambang dan bunyi. Menurut sabri kata tuli merupakan kata kerja yang memiliki arti melambangkan apa yang dilihat atau didengar baik berupa huruf maupun angka (Rudy S, Iskandar, 2002:27)
Adapun materi yang diajarkan pada mata pelajaran pendidikan Al-qur’an yaitu:
a. Huruf hijayyah
Huruf Hijaiyah atau huruf arab merupakan huruf yang sudah ada sejak dahulu yang digunakan oleh orang-orang muslim di seluruh penjuru dunia
41
untuk membaca Al-Quran. Jumlah Huruf Hijaiyah yang umumnya diketahui berjumlah 28 huruf, yaitu : يهىنولكفغعظطضصشسزررذخحجثتبا. Huruf-huruf Hijaiyah yang berjumlah 28 itu terbagi menjadi dua, yaitu huruf “Qamariyah” dan huruf “Syamsiyah”. Huruf Qamariyah atau huruf bulan adalah huruf yang dibaca secara jelas namun tetap mempertegas pembacaan dari huruf lam. Huruf Qamariyah ada 14 huruf, yaitu :كهىهابجحخعغفقsedangkan untuk huruf Syamsiyah atau huruf matahari adalah huruf yang menghilangkan pembacaan dari huruf lam. Huruf Syamsiyah ada 14 huruf, yaitu :تثدررزسشصضطظل. E-Journal (Putri Purwandari. E, 2017: 24)
b. Hukum Nun mati dan Tanwin
Nun bersukun adalah huruf Nun yang bertanda sukun
( ْ ى )
bersukun dikenal dengan sebutan Nun mati sedangkan menurut istilah adalah:
اًفْػقَكَك اَظَخ ُهُقِرَفُػتَك ًلاْصَكَك اًظْفَل ِمْس ِءلاا َرٍحَا ُقَحْلَػت َةًناِكاَس ْف وْن
Nun bersukun yang bertemu dengan akhir isim yang tampak dalam bentuk suara dan ketika washal, dalam tiak penulisan dan pada saat wakaf. Sedangkan Tanwin menuru bahasa adalah at-tashwit
(تي وصتا )
artinya suara seperti kicauan burung sesedangkan menurut istilah adalah :
اًفْػقَكَلا َك اَطَخ َلا ًلاْصَكَك اًظْفَل ُتَبْثَػت ُهَن ِءاَف ُنْيِو تا
Sedangkan Tanwin tetap nyata terdengar dalam pengucapan dan ketika washal, tidak dalam penlisan maupun wakaf. Ahmad Annuri (2006:83)
Menurut (Mahfan 2005:10-17). Hukum bacaan Nun Mati terbagi 4 yaitu sebagai berikut:
1) Izhar
Menurut bahasa berarti memperjelas atau menerangkan.Sedangkan menurut istilah Izhar adalah melafalkan huruf Izhar tanpa disertai dengung. Dalam ilmu tajwid Izhar terbagi 2 Izhar mutlak dan Izhar halqi yaitu sebagai berikut:
2) Izhar mutlak
Disebut Izhar mutlak karena huruf-huruf Izhar yang bertemu dengan Nun mati atau Tanwin bukan berasal dari kerongkongan. Izhar mutlak terjadi apabila Nun mati bertemu dengan ( و ) dan ( ي ) dalam satu kata Izhar semacam ini dalam Al-Qur,an hanya terdapat dalam empat tempat yaitu:
a)
اَيْػن ُّد ا
b)
ُف اَيْػنُػب
c)
ُف اَوْػنِص
d)
فا َوْػنِق
3) Izhar Halqi
Izhar halqi adalah artinya tenggorokan yaitu apabila Nun mati atau Tanwin bertemu dengan salah satu huruf Izhar dibaca terang, jelas, tegas, dan berbunyi “N” dengan tidak memakai gunnah (dengung ) disebut Izhar halqi karena huruf-hurufnya adalah huruf yang keluar dari tenggorokan. Huruf Izhar halqi terbagi enam yaitu:
غ خ ح ع ق ا
4) Idgham
Idgam menurut bahasa berarti memasukan sesuatu kedalam sesuatu sedangkan menurut istilah idgam adalah memasukan huruf yang sukun
43
kedalam huruf yang berharkat, sehingga menjadi suatu huruf yang bertasydid. Atau idgam adalah bunyi Nun mati atau Tanwin dilebur dan dimasukan kedalam salah satu huruf idgam huruf idgam ada enam yaitu:
ف ك ؿ ـ ر ي
idagam terbagi dua yaitu Idagam bigunnah dan bilagunnah yaitu sebagai berikut:(1) Idgham bilagunnah
Nun mati pada satu kata dan salah satu huruf Izhar pada kata yang lain terpisah. Contohnya:
(a)
ٍؿ َدْرَخ ْنِم
(b)
ْمُك ِْيْغ ْنِم
(c)
ْمُهُػبَسِح ْفِا
(d)
ْمِهِلَمَع ْنِم
(e)
َوُه ْف ا
(f)
هي ِحَا ْنِم
(2) Idgham Bigunnah
Idgham bilagunnah yaitu idgam yang memakai dengung (di hidung) syarat idgam bigunnah adalah apabila Nun mati atau Tanwin bertemu dengan salah satu hurufnya dalam dua kata terpisah. Huruf Idgam ada 4 yaitu:
وْمْىْي
contohnya:1)
ْلَمْعَػي ْنَمَف
2)
ْْيِعَم ْنِم
3)
َد ِج ُك ْنَم
5) Iqlab
Iqlab menurut bahasa artiya merubah sesuatu dari bentuknya.
Sedangkan menurut istilah Iqlab adalah perubahan bunyi Nun Mati menjadi mim yang tersembunyi disertai dengung, hal ini terjadi apabila ada Nun Mati atau Tanwin bertemu dengan huruf Ba contohnya:
(a)
ِْيَػب ْنِم
(b)
َْتَبْػنَأف
(c)
ْمِهِم اَم ِءاِب ٍس َانأ
(d)
مَنَهٍي ٍذَم ْوَػي
6) Ikhfa
Ikhfa menurut bahasa artinya menyembunyikan. Sedangkan menurut istilah adalah melafalkan huruf dengan menyembunyikan atau menyamarkan bunyi Nun Mati atau Tanwin dibaca dengung dengan huruf yang ada didepannya yaitu:
ض ت ؼ ز ط د س ؽ ش ج ؾ ث ذ ص
ظ
contohnya:(a)
ٍـ اَقِتْنا ك ٌذٍزَع
(b)
ِض ْر َلآ َا ِْفِ ٌء ْيَش
(c)
ِهِلْيِبَس ْنَع
(d)
ْمِِتِ َلاص ْنَع
c. Hukum Mim Mati
Menurut Ahmad Annuri (2010:95-96). Apabila terdapat Mim Sakinah (mim mati) maka hukum bacaannya ada tiga yaitu:
1. Ikhfa syafawi
45
Pertama Apabila huruf ba berada setelah mim yang bersukun.dan kedua terjadi antara dua kata. dan ketiga adalah terjadinya proses gunnah. Untuk mengetahui bahwa huruf Ikhfa syafawi hanya ada satu yaitu pada huruf ba )ب (contohnya:
ْمُه اَمَو ْؤُم ِب
َنْيِنِم
2. Idgham mimi
Memasukkan mim pertama ke mim kedua sehingga kedua mim tersebut menjadi satu mim yang bertsyidid, dengan tasydid yang agak lemah mewujudkan gunnah contohnya:
ِللاا ن وُد ْنِم مُكَل اَمَو ٌة دص ْؤُم مِهْيَلَع
3. Izhar syafawi
Apabila mim bersukun bertemu dengan huruf hijayyah selain Ba dan mim maka dinamakan izhar syafawi contohnya:
ْاَه يِفْ نُه –
اْ ىُنْاَكْ نُه نَا ْ
d. Mad Wajib muttasil dan Jais Munfashil
1) Mad wajib muttasil yaitu setiap mad asli (tabi’i) yang didepannya betemu dengan hamzah yang masih dalam satu kalimat Panjang bacaan dua setengah alif atau lima harkat.
2) Mad jais munfasil yaitu mad asli yang didepanya bertemu dengan hamzah namun berada pada kalimat lain. Panjang bacaanya ada dua macam yaitu boleh dibaca seperti mad wajib muttasil yaitu lima harkat dan dibaca seperti mad asli yaitu dua harkat. (Ismail Tekan, 2006:103-104)
46 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis dan Metode Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan (Field Research) yang bersifat kualitatif, yaitu suatu penelitian yang mengungkapkan serta menggambarkan kejadian yang terjadi di lapangan sebagaimana adanya di lokasi penelitian ini dilakukan. Lexy J. Moleong mengatakan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian (Lexy J. Moleong, 2006:6).
Sedangkan metode penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Selain itu, semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti(Lexy J.
Moleong, 2006: 11). Jadi dalam penelitian ini adalah penulis mencoba untuk menggambarkan pelaksanaa metode demontrasi pada pembelajajaran Alquran siswa di SD IT Masjid Raya Lantai Batu
B. Latar dan Waktu Penelitian
Penulis melakukan penelitian mulai bulan Juni sampai selesai dengan lokasi penelitian yaitu di SD IT Masjid Raya Lantai Batu.
C. Defenisi Operasional
Sebelum penulis menguraikan pembahasan ini lebih lanjut ada baiknya penuliskan jelaskan tentang defenisi istilah judul di atas sebagai berikut:
Pelaksanaan adalah suatu usaha atau proses meningkatkan sesuatu atau menggambarkan perubahan dari keadaan dari negatif ke positif. Jadi maksud penulis disini ialah cara meningkatkan atau melakukan suatu perubahan bacaan Alquran siswa dari yang tidak lancar menjadi lancar
47
Metode demonstrasi adalah suatu cara mengajar dengan mempertunjukan sesuatu. Hal yang dipertunjukan dapat berupa suatu rangkaian percobaan, suatu model, suatu keterampilan tertentu.yang dimaksud penulis adalah metode demonstrasi itu dengan cara praktek dan siswa terlibat aktif dalam belajar.
Metode demonstrasi adalah metode mengajar yang mengunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik, memperjelas pengertian tersebut dalam prakteknya dapat dilakukan oleh guru itu sendiri atau langsung oleh anak didik. Metode demontrasi adalah penyajian pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukan pada siswa suatu proses, stuasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajar, baik sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai dengan penjelasan lisan.
Mata pelajaran Al-qur’anadalah suatu mata pelajaran yang mempelajari Al-qur’an dengan cara membaca atau mempraktekkan suatu bacaan yang sesuai dengan hukum Ilmu Tajwid dan mata pelajaran Qira’at ini bertujuan mempelajari Alqur’an secara tepat dan benar yang sesuia dengan kaiadah-kaidah yang ditentukan dalam Ilmu Tajwid.
D. Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian Kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri.Oleh karena itu peneliti sebagai intrumen juga harus divalidasibeberapa jauh peneliti Kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya terjun kelapangan.Instrumen utamanya adalah peneliti sendiri, namun selanjutnya setelah fokus penelitian menjadi jelas, maka kemungkinan akan dikembangkan instrumen penelitian sederhana, yang diharapkan dapat melengkapi data dan membandingkan dengan data yang telah ditemukan melalaui observasi dan wawancara (Sugiyono, 2013: 222-224).
Dalam upaya mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka digunakanlah teknik pengumpulan data dengan cara:
1. Observasi
Observasi merupakan penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan terhadap objek, baik secara langsung maupun tidak langsung. Observasi dilakukan untuk menemukan data dan informasi dari gejala atau fenomena (kejadian atau peristiwa) secara sistematis dan didasarkan pada tujuan penyelidikan yang telah dirumuskan.
Dalam menggunakan teknik observasi, observasi dituntut untuk bisa merencanakan keseimbangan, keserasian,dan keharmonisan dalam menggunakan alat, pikiran, dan sikap kelakuannya dengan iktikad memperoleh hasil pengamatan yang sebenar-benarnya. Agar hal tersebut tercapai, maka petunjuk dalam melakukan observasi sebagai berikut:
a. Cari pengetahuan tentang hal yangakan diamati. Pengamatan dapat
melakukan observasi jika ia telah mempunyai pengetahuan terlebih dahulu tentang hal-hal yang akan diamatinya.
b. Pahami tujuan-tujuan umum dan khusus dan masalah-masalah penyelidikan untuk menentukan apa yang harus diamati.
c. Buat pencatatan-pencatatan sebagai berikut: (1) buat pencatatan dengan segera; (2) setiap gejala dicatat secara terpisah; (3) ketahuilah dan
kuasailah alat-alat pencatat yang dipergunakan; (4) susunlah catatan secara sistematis.
d. Adakan dan batasi dengan tegas macam-macam tingkat kategori yang dilakukan.
e. Adakan observasi secermat dan sekritis mngkin (Mahmud, 2011: 168-172).
Adapun observasi yang dilakukan adalah dengan mengamati Pelaksanaan MetodeDemontrasi pada mata pelajaran Qiara’at di SD IT Masjid Raya Lantai Batu Batusangkar.
2. Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan kepada responden dan mencatat atau merekam jawaban-jawaban
49
responden.Wawancara dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung dengan sumber data.Wawancara langsung diadakan dengan orang yang menjadi sumber data dan dilakukan tanpa perantara, baik tentang dirinya maupun tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Sedangkan wawancara tidak langsung dilakukan terhadap seseorang yang dimintai keterangan tentang orang lain.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan pada subjek penelitian, tetapi melalui dokumen (Mahmud, 2011:
183).Maksudnya memperoleh data langsung dari tempat penelitian yaitu dengan hasil belajar siswa.
E. Sumber Data
Pada dasarnya ada dua sumber data yang perlu diketahui yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.
1. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah sumber data pokok yang langsung dikumpulkan peneliti dari objek penelitian (Mahmud, 2011: 152). Dengan kata lain bahwa data primer merupakan data asli dari sumber tangan pertama.
Adapun yang menjadi sumber data primer pada penelitian ini adalah Guru yang mengajar Alqur’an SD IT Masjid Raya Lantai Batu Batusangkar.
Sumber data primer disini adalah:
a) Novrianto S.Pd b) Mulia Mandru S.Pd c) Lidia Dewi Asriani S.Pd d) Edo Saputra S.Pd
2. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber data tambahan yang menurut peneliti menunjang data pokok (Mahmud, 2011: 152).
F. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri mapun orang lain.
Analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis.Berdasarkan hipotesis yang dirumuskan berdasarkan data tersebut, selanjutnya dicarikan data lagi secara berulang-ulang sehingga selanjutnya dapat disimpulkan apakah hipotesis tersebut diterima atau ditolak berdasarkan data yang terkumpul.Bila berdasarkan data yang dapat dikumpulkan secara berulang-ulang dengan teknik triangulasi, ternyata hipotesis diterima, maka hipotesis tersebut berkembang menjadi teori (Sugiyono, 2013: 244-245).
Berbeda dengan penelitian kuantitatif analisis data kualitatif dilakukan pada tahap pra-lapangan, selama di lapangan, dan setelah data terkumpul.Analisis pra-lapangan dilakukan terhadap data yang diperoleh melalui grand-tour observation.Namun secara umum, analisis data kualitatif lebih banyak dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data dilapangan, bukan setelah data terkumpul. Teknik analisis data selama di lapangan yang banyak dipakai adalah model Miles dan Huberman.
Analisis data Model Miles dan Huberman meliputi proses tiga tahap, yang dilakukan secara interaktif, yaitu:
1. Data reduction (reduksi data)
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih
51
jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
2. Data Display (penyajian data)
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data.Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya.Yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif.
3. Conclusion / verification (penarikan kesimpulan dan verifikasi data)
Langkah ke tiga dalam analisis data kualitatif yaitu penarikan kesimpulan dan verifikasi.Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori (Sugiyono, 2013: 249-253).
Pada penelitian ini teknik analisis data yang dilakukan adalah pertama, mereduksi data yaitu merangkum hal-hal yang pokok dan yang penting, kemudian memberikan gambaran yang jelas tentang Pelaksanaan Demontrasi pada mata pelajaran Al-qur’an di SD IT Masjid Raya Lantai Batu Batusangkar. Kemudian yang kedua, melakukan penyajian data yaitu dengan cara membuat uraian singkat, dan dalam penelitian ini dilakukan dengan mendeskripsikan bagaimana Pelaksanaan MetodeDemontrasi pada mata pelajaran Al-qur’an di SD IT Masjid Raya Lantai Batu Batusangkar. Dan yang ketiga adalah mengambil kesimpulan dan verifikasi data, yaitu dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan obyek yang pada mulanya belum pernah ada, masih remang-remang sehingga setelah diteliti menjadi jelas. Dan dalam penelitian ini dilakukan penarikan kesimpulan dan verifikasi data tentang Pelaksanaan Demontrasi pada mata pelajaran Al-qur’an di SD IT Masjid Raya Lantai Batu Batusangkar.
G. TeknikPenjaminan Keabsahan Data
Untuk menguji keabsahan data menurut Lexi J. Moleong dapat dilakukan dengan Tri Anggulasi yaitu dengan cara membandingkan dengan berbagai sumber metode atau teori.
Adapun langkah-langkah menguji keabsahan data adalah sebagai berikut:
1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara
2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan yang dikatakan secara pribadi.
3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.
4. Membandingkan keadaan dan prespektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan masyarakat dari berbagai kelas.
5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen yang berkaitan (Lexy J. Moleong, 2006: 332).
Adapun teknik keabsahan data dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaat sesuatu yang lain, untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data sebelumnya. Penulis menggunakan teknik triangulasi ini karena penulis akan membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara yang berkaitan tentang Pelaksanaan Metode Demontrasi pada mata pelajaran Al-qur’an di SD IT Masjid Raya Lantai Batu Batusangkar.
53 BAB IV
TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Temuan Umum
PROFIL SEKOLAH 1. Identitas sekolah
Tabel 4.1
A NPSN : 69954029
B Nama Sekolah : Sekolah dasar Islam Terpadu (SDIT) Masjid Raya Lantai Batu
Batusangkar
C Alamat Sekolah : Jl. Lenggogeni Lantai Batu Nagari Baringin
D Kelurahan /desa : Lantai Batu
E Kecematan : Lima Kaum
F Kabupaten : Tanah Datar
G Provinsi : Sumatra Barat
H Telepon/ Hp :0752 573883 – 0852 7836 4460
I Jenjang : Sekolah Dasar
J Nama Ketua Yayasan : Afri Yendra Snp, SH.,MH.
K Status : Swasta
L Bangunan Sekolah :Milik Sendiri
M Lahan Sekolah : Milik Sendiri N Tahun Berdiri : 21 Mei 2014
O Izin Berdiri : 05 September 2016. NO:
01/IPPS/KPPT-2016 P Izin Operasional :422/261/Disdik/2016
Q Akriditasi : -
R Nama Kepalah Sekolah : Misriadi Spd.I
S Nama Pengawas : Jang Yuhel Supelmi S.Pd
2. Visi dan Misi
a. Membentuk generasi yang unggul dalam Ilmu, Teladan dalam Akhlaq b. Misi
1) Menanamkan akidah yang kokoh terhadap pendidik/tenaga kependidikan dan peserta didik
2) Membentuk kesolehan pribadi dan kesolehan sosial
2) Membentuk kesolehan pribadi dan kesolehan sosial