BAB I PENDAHULUAN
C. Tujuan Penelitian
Sehubungan dengan perumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan Fama-French Five Factor Model dalam menjelaskan portofolio di Indonesia. Berikut uraian tujuan penelitian ini.
1. Untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh terhadap excess return portofolio saham di Indonesia.
2. Untuk mengetahui pengaruh variabel Fama-French Five Factor Model terhadap excess return portofolio saham di Indonesia.
3. Untuk mengetahui kemampuan variabel Fama-French Five Factor Model dalam menjelaskan excess return portofolio saham di Indonesia.
16 D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Bagi penulis
Penulis dapat memperoleh gambaran untuk dapat menghitung dan memprediksi excess return portofolio menggunakan Fama-French Five Factor Model.
2. Bagi organisasi
Penelitian ini diharapkan dapat membantu organisasi dalam menghitung dan memprediksi excess return portofolio, khususnya menggunakan Fama-French Five Factor Model.
3. Bagi pembaca
Manfaat bagi pembaca dapat dijadikan bacaan untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan khususnya mengenai investasi saham dan memprediksi excess return portofolio serta memahami model yang digunakan.
17 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Investasi
1. Definisi Investasi
Investasi merupakan kegiatan penanaman modal pada suatu aset atau instrumen investasi di masa sekarang dan diharapkan dapat memberikan keuntungan sedemikian rupa di masa yang akan datang. Bodie, et al.
(2014: 5) mendefinisikan investasi sebagai komitmen saat ini akan uang atau sumber-sumber lain dengan harapan memperoleh keuntungan di masa depan.
Menurut Tandelilin (2010: 2) investasi bisa didefinisikan sebagai komitmen sejumlah uang atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini (present time) dengan harapan memperoleh manfaat (benefit) di kemudian hari (in future). Investasi juga bisa dilihat sebagai salah satu cabang ilmu yang mempelajari bagaimana mengelola kesejahteraan investor (investor’s wealth). Dalam konteks investasi, istilah kesejahteraan investor berarti kesejahteraan yang sifatnya moneter, bukannya kesejahteraan rohaniah yang sering kali sulit diukur. Kesejahteraan moneter bisa ditunjukkan oleh hasil penjumlahan pendapatan yang dimiliki saat ini dan nilai saat ini (present value) pendapatan diperoleh di masa datang. Menurut Komara (2016) investasi adalah penundaan konsumsi saat ini yang dilakukan untuk memperoleh nilai atau keuntungan yang lebih besar di masa yang akan datang (Komara, et al., 2016).
18 Investasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu investasi langsung (direct investing) dan investasi tidak langsung (indirect investing) (Jones, 2014: 22).
a. Investasi Langsung (Direct Investing) / Real Investment
Investasi langsung adalah “Investor buy and sell securities them selves, typically through brokerage accounts”. Investasi secara langsung bisa disebut juga sebagai investasi nyata (real investment). Hal ini disebabkan karena investasi langsung merupakan upaya mengelola uang atau aset secara langsung pada jenis atau bidang usaha tertentu.
Misalnya mendirikan pabrik, mendirikan toko atau membentuk perusahaan atau bisa pula berupa membeli tanah, rumah dan bangunan atau membeli emas dan sebagainya, yang kemudian dijual kembali.
b. Investasi Tidak Langsung (Indirect Investing)
Investasi tidak langsung adalah “Investor buying and selling of the shares of invesment companies which, in turn, hold portfolios of securities”. Investasi tidak langsung disebut juga sebagai investasi keuangan (financial invesment). Pada jenis investasi tidak langsung, investor tidak perlu hadir secara fisik, sebab pada umumnya tujuan utama dari investor bukanlah mendirikan perusahaan, melainkan karena membeli saham dengan tujuan untuk dijual kembali. Tujuan investor di sini adalah untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan rentang waktu yang tidak terlalu lama sudah bisa menikmati keuntungan.
Dengan kata lain jenis investasi seperti ini, yang diharapkan oleh
19 investor adalah capital gain. Untuk melakukan investasi, investor sangat perlu mempertimbangkan dua hal penting yaitu tingkat pengembalian (return), dan risiko (risk).
2. Tujuan Investasi
Menurut Tandelilin (2010: 8), secara sederhana tujuan orang melakukan investasi adalah untuk menghasilkan sejumlah uang di kemudian hari. Tapi tujuan investasi yang lebih luas adalah untuk meningkatkan kesejahteraan investor. Secara khusus, terdapat beberapa alasan mengapa orang melakukan investasi:
a. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa datang.
Seseorang yang bijaksana akan berpikir bagaimana meningkatkan taraf hidupnya dari waktu ke waktu atau setidaknya berusaha bagaimana mempertahankan tingkat pendapatannya yang ada sekarang agar tidak berkurang di masa yang akan datang.
b. Mengurangi tekanan inflasi.
Dengan melakukan investasi dalam pemilikan perusahaan atau objek lain, seseorang dapat menghindarkan diri dari risiko penurunan nilai kekayaan atau hak miliknya akibat adanya pengaruh inflasi.
c. Dorongan untuk menghemat pajak.
Beberapa negara di dunia banyak melakukan kebijakan yang bersifat mendorong tumbuhnya investasi di masyarakat melalui pemberian fasilitas perpajakan kepada masyarakat yang melakukan investasi pada bidang-bidang usaha tertentu.
20 3. Proses Investasi
Proses investasi menjelaskan bagaimana seharusnya seorang investor membuat keputusan investasi sekuritas yang bisa dipasarkan, seberapa ekstensif dan kapan sebaiknya dilakukan (William, et al., 1997: 11).
Terdapat 5 (lima) prosedur dalam membuat keputusan yang menjadi dasar proses investasi, yaitu:
a. Kebijakan Investasi
Langkah pertama adalah menentukan kebijakan investasi, meliputi penentuan kebijakan investor dan kemampuannya/kekayaannya yang dapat diinvestasikan. Langkah ini juga meliputi identifikasi kategori potensial dari aset finansial untuk portofolio. Identifikasi ini didasarkan pada beberapa hal: tujuan investasi, jumlah kekayaan yang akan diinvestasikan, dan status pajak dari investor.
b. Analisis Sekuritas
Analisis sekuritas meliputi penilaian terhadap sekuritas secara individual (atau beberapa kelompok sekuritas) yang masuk dalam kategori luas dari aset finansial yang sudah diidentifikasi sebelumnya.
Salah satu tujuan melakukan penilaian tersebut adalah untuk mengidentifikasi sekuritas yang salah harga (mispriced). Pendekatan terhadap analisis sekuritas dikategorikan ke dalam dua klasifikasi, yaitu analisis teknis dan analisis fundamental. Analisis teknis meliputi studi harga pasar saham dalam upaya meramalkan gerakan harga pada masa depan untuk saham perusahaan tertentu. Analisis fundamental dimulai
21 dengan pernyataan bahwa nilai intrinsik dari aset finansial sama dengan present value dari semua aliran tunai yang diharapkan diterima oleh pemilik aset. Analis saham fundamental berupaya meramalkan saat dan besarnya aliran tunai dan kemudian mengkonversikannya menjadi nilai sekarang (present value) dengan menggunakan tingkat diskon yang tepat.
c. Konstruksi Portofolio
Konstruksi portofolio melibatkan identifikasi aset khusus mana yang akan dijadikan investasi, juga menentukan berapa besar bagian dan investasi seorang investor pada tiap aset tersebut. Di sini masalah selektivitas, penentuan waktu dan diversifikasi perlu menjadi perhatian bagi investor.
d. Revisi Portofolio
Revisi portofolio berkenaan dengan pengulangan periodik dari tiga langkah sebelumnya. Sejalan dengan waktu, investor mungkin mengubah tujuan investasinya, yang pada gilirannya berarti portofolio yang dipegangnya tidak lagi optimal. Motivasi lain dari langkah ini adalah dengan berjalannya waktu, terjadi perubahan harga sekuritas sehingga sekuritas yang tadinya tidak menarik sekarang menjadi menarik dan bisa juga kebalikannya.
22 e. Evaluasi Kinerja Portofolio
Evaluasi kinerja portofolio meliputi penentuan kinerja portofolio secara periodik dalam arti tidak hanya return yang diperhatikan tetapi juga risiko yang dihadapi. Jadi diperlukan ukuran yang tepat tentang return dan risiko dan juga standar yang relevan.
B. Pasar Modal
1. Definisi Pasar Modal
Dalam UU Pasar Modal RI No. 8 butir 13 Tahun 1995 disebutkan bahwa pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan public yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.
Menurut Manurung dan Haymans (2008: 73) sekuritas pasar modal adalah sekuritas dengan waktu jatuh tempo lebih dari satu tahun, seperti saham, obligasi, dan hipotek. Pembiayaan perusahaan dalam jangka panjang biasanya menggunakan sekuritas obligasi, saham dan hipotek sebagai alat pembiayaan. Alat pembiayaan sekuritas obligasi, saham dan hipotek berhubungan dengan likuiditas perusahaan dan tingkat bunga.
Jika pembiayaan jangka panjang perusahaan menggunakan instrumen pasar uang maka likuiditas perusahaan akan terganggu. Akibatnya, perusahaan akan menggunakan instrumen pasar modal sebagai alat pembiayaan jangka panjang.
23 Tandelilin (2010: 26) menyatakan bahwa pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan sekuritas. Sunariyah (2006: 5) menyatakan bahwa pasar modal adalah suatu pasar (tempat berupa gedung) yang disiapkan guna memperdagangkan saham-saham, obligasi-obligasi, dan jenis surat berharga lainnya dengan memakai jasa perantara pedagang efek.
Partisipan dalam pasar modal terutama adalah pemerintah dan perusahaan. Pemerintah menjual obligasi jangka menengah dan jangka panjang untuk membiayai proyek pendidikan, transportasi, dan proyek-proyek pembangunan ekonomi lainnya. Pemerintah tidak pernah menjual saham karena pemerintah tidak dapat menjual klaim kepemilikan, sebaliknya perusahaan dapat menjual saham dan obligasi. Sama halnya dengan pasar uang, partisipan terbesar pasar modal adalah perusahaan dan individu.
Perdagangan sekuritas pada pasar modal terjadi pada pasar primer dan pasar sekunder. Pasar primer adalah pasar di mana penjualan sekuritas pasar modal ditempatkan pada pembeli pertama. Pembeli pertama atau pasar primer dari sekuritas pasar modal adalah perusahaan investasi, korporasi, atau individu investor dengan cara membeli semua sekuritas pasar modal. Jika satu perusahaan menjual sekuritas pasar modal pertama kali maka penjualan ini disebut penawaran perdana
24 kepada public (Initial Public Offering – IPO), sehingga IPO terjadi pada pasar primer.
Pasar sekunder adalah tempat penjualan dan pembelian sekuritas pasar modal yang dijual pada pasar primer. Pasar sekunder merupakan pasar yang lebih penting dari pasar primer karena investor ingin menjual sekuritas jangka panjang sebelum jatuh tempo pada pasar sekunder. Ada dua jenis organisasi pasar sekunder dari sekuritas pasar modal, yaitu pertukaran terorganisasi (organized exchange) dan pertukaran paralel (over-the-counter exchange). Pertukaran terorganisasi mempunyai suatu tempat di mana sekuritas pasar modal diperdagangkan, misalnya Bursa Efek Indonesia (BEI), New York Stock Exchage (NYSE), London Stock Exchange (LSE), dan lain-lain. Pertukaran paralel biasanya memperdagangkan sekuritas pasar modal melalui dealer tertentu, misalnya national association of securities dealers automated quotation system (Nasdaq) di Amerika Serikat (Manurung dan Haymans, 2009: 73-74).
Peranan pasar modal dalam suatu perekonomian negara adalah sebagai berikut (Sunariyah, 2006: 9):
a. Fungsi Tabungan (Saving Function)
Menabung dapat dilakukan di bawah bantal, celengan atau di bank, tetapi harus diingat bahwasanya nilai mata uang cenderung akan turun di masa yang akan datang.
b. Fungsi Kekayaan (Wealth Function)
25 Pasar modal adalah suatu cara untuk menyimpan kekayaan dalam jangka panjang dan jangka pendek sampai dengan kekayaan tersebut dapat dipergunakan kembali. Cara ini lebih baik karena kekayaan itu tidak mengalami depresiasi (penyusutan) seperti aktiva lain.
Contohnya, mobil, gedung, kapal laut, dan aktiva lainnya.
c. Fungsi Likuiditas (Liquidity Function)
Kekayaan yang disimpan dalam surat-surat berharga, bisa dilikuidasi melalui pasar modal dengan risiko yang sangat minimal dibandingkan dengan aktiva lain. Proses likuidasi surat berharga dengan biaya relatif murah dan lebih cepat. Dengan kata lain, pasar modal adalah ready market untuk melayani pemenuhan likuiditas para pemegang surat berharga.
d. Pasar Pinjaman (Credit Function)
Pasar modal merupakan fungsi pinjaman untuk konsumsi atau investasi.
2. Instrumen yang Diperdagangkan di Pasar Modal
Sebenarnya banyak sekali instrumen yang diperdagangkan di pasar modal, yang semuanya dapat diwakili oleh satu istilah, yaitu surat berharga. Yang termasuk surat berharga adalah saham, obligasi, right, warran dan reksadana. Instrumen-instrumen yang diperdagangkan di pasar modal adalah (Halim, 2015: 6):
26 a. Saham Biasa (Common Stocks)
Diantara surat-surat berharga yang dipasarkan di pasar modal, saham biasa (common stock) adalah yang paling dikenal masyarakat.
Diantara emiten (perusahaan yang menerbitkan surat berharga), saham biasa juga merupakan yang paling banyak digunakan untuk menarik dana dari masyarakat. Jadi saham biasa paling menarik, baik bagi pemodal maupun emiten. Secara sederhana, saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas tersebut. Bila membeli saham, maka akan menerima kertas yang menjelaskan bahwa pembeli memiliki perusahaan penerbit saham tersebut.
b. Saham Preferen (Preffered Stocks)
Saham preferen merupakan saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa. Saham preferen serupa dengan saham biasa karena dua hal, yaitu: mewakili kepemilikan ekuitas dan diterbitkan tanpa tanggal jatuh tempo yang tertulis di atas lembaran saham tersebut; dan membayar dividen. Sedangkan persamaan antara saham preferen dengan obligasi terletak pada tiga hal: ada klaim atas laba dan aset sebelumnya; dividennya tetap selama masa berlaku (hidup) dari saham; memiliki hak tebus dan dapat dipertukarkan (convertible) dengan saham biasa. Oleh karena saham
27 preferen diperdagangan berdasarkan hasil yang ditawarkan kepada investor, maka secara praktis saham preferen dipandang sebagai surat berharga dengan pendapatan tetap dan karena itu akan bersaing dengan obligasi di pasar. Walaupun demikian, obligasi di pasar menduduki tempat yang lebih senior dibanding dengan saham preferen.
c. Obligasi (Bonds)
Obligasi adalah surat berharga atau sertifikat yang berisi kontrak antara pemberi dana (dalam hal ini pemodal) dengan yang diberi dana (emiten). Jadi, surat obligasi adalah selembar kertas yang menyatakan bahwa pemilik kertas tersebut telah membeli utang perusahaan yang menerbitkan obligasi. Penerbit membayar bunga atas obligasi tersebut pada tanggal-tanggal yang telah ditentukan secara periodik, dan pada akhirnya menebus nilai utang tersebut pada saat jatuh tempo dengan mengembalikan jumlah pokok pinjaman ditambah bunga yang terutang. Pada umumnya, instrumen ini memberikan bunga yang tetap secara periodik. Bila bunga dalam sistem ekonomi menurun maka nilai obligasi naik. Sebaliknya, jika bunga meningkat maka nilai obligasi turun.
Obligasi konversi sekilas tidak ada bedanya dengan obligasi biasa, misalnya, memberikan kupon yang tetap, memiliki waktu jatuh tempo dan memiliki nilai pari. Hanya saja, obligasi konversi memiliki
28 keunikan, yaitu bisa ditukar dengan saham biasa. Pada obligasi konversi selalu tercatum persyaratan untuk melakukan konversi.
d. Right
Right merupakan surat berharga yang memberikan hak bagi pemodal untuk membeli saham baru yang dikeluarkan emiten. Right merupakan produk derivatif atau turunan dari saham. Kebijakan untuk melakukan right issue merupakan upaya emiten untuk menambah saham yang beredar, guna menambah modal perusahaan. Sebab dengan pengeluaran saham baru itu, berarti pemodal harus mengeluarkan uang untuk membeli right. Kemudian uang ini akan masuk ke modal perusahaan. Karena merupakan hak, maka investor tidak terikat harus membelinya. Ini berbeda dengan saham bonus atau dividen saham yang otomatis diterima oleh pemegang saham. Karena membeli right berarti membeli hak untuk membeli saham, maka kalau pemodal menggunakan haknya maka otomatis pemodal telah melakukan pembelian saham. Jadi imbalan yang akan didapat oleh pembeli right adalah sama dengan membeli saham, yaitu dividen dan capital gain. Ada risiko yang harus diterima oleh pemodal, baik mereka yang merealisasikan haknya atau tidak dalam right issue, yaitu risiko turunnya harga saham dan dividen per saham.
e. Warran
Warran seperti halnya right adalah hak untuk membeli saham biasa pada waktu dan harga yang sudah ditentukan. Biasanya warran dijual
29 bersamaan dengan surat berharga lain, misalnya obligasi atau saham.
Penerbit warran harus memiliki saham yang nantinya dikonversi oleh pemegang warran. Namun, setelah obligasi atau saham yang disertai warran memasuki pasar, baik obligasi, saham ataupun waran dapat diperdagangkan secara terpisah.
f. Reksadana
Reksadana merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Reksadana dirancang sebagai sarana untuk mengumpulkan dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas. Selain itu, reksadana juga diharapkan dapat meningkatkan peran pemodal lokal untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.
3. Indeks Pasar Modal
Indeks harga saham adalah indikator atau cerminan pergerakan harga saham. Indeks merupakan salah satu pedoman bagi investor untuk melakukan investasi di pasar modal, khususnya saham. Saat ini bursa efek memiliki 11 jenis indeks harga saham, yang secara terus menerus disebarluaskan melalui media cetak maupun elektronik. Menurut Indonesia Stock Exchange (2019), indeks-indeks tersebut adalah:
30 a. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Menggunakan semua Perusahaan Tercatat sebagai komponen perhitungan Indeks. Agar IHSG dapat menggambarkan keadaan pasar yang wajar, Bursa Efek Indonesia berwenang mengeluarkan dan atau tidak memasukkan satu atau beberapa Perusahaan Tercatat dari perhitungan IHSG. Dasar pertimbangannya antara lain, jika jumlah saham Perusahaan Tercatat tersebut yang dimiliki oleh publik (free float) relatif kecil sementara kapitalisasi pasarnya cukup besar, sehingga perubahan harga saham Perusahaan Tercatat tersebut berpotensi mempengaruhi kewajaran pergerakan IHSG.
IHSG adalah milik Bursa Efek Indonesia. Bursa Efek Indonesia tidak bertanggung jawab atas produk yang diterbitkan oleh pengguna yang mempergunakan IHSG sebagai acuan (benchmark). Bursa Efek Indonesia juga tidak bertanggung jawab dalam bentuk apapun atas keputusan investasi yang dilakukan oleh siapapun pihak yang menggunakan IHSG sebagai acuan (benchmark).
b. Indeks Sektoral
Menggunakan semua Perusahaan Tercatat yang termasuk dalam masing-masing sektor. Sekarang ini ada 10 sektor yang ada di BEI yaitu sektor Pertanian, Pertambangan, Industri Dasar, Aneka Industri, Barang Konsumsi, Properti, Infrastruktur, Keuangan, Perdangangan dan Jasa, dan Manufaktur.
31 c. Indeks LQ45
Indeks yang terdiri dari 45 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih berdasarkan pertimbangan likuiditas dan kapitalisasi pasar, dengan kriteria-kriteria yang sudah ditentukan. Review dan penggantian saham dilakukan setiap 6 bulan.
d. Jakarta Islamic Index (JII)
Indeks yang menggunakan 30 saham yang dipilih dari saham-saham yang masuk dalam kriteria syariah (Daftar Efek Syariah yang diterbitkan oleh Bapepam-LK) dengan mempertimbangkan kapitalisasi pasar dan likuiditas.
e. Indeks Kompas100
Indeks yang terdiri dari 100 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih berdasarkan pertimbangan likuiditas dan kapitalisasi pasar, dengan kriteria-kriteria yang sudah ditentukan. Review dan penggantian saham dilakukan setiap 6 bulan.
f. Indeks BISNIS-27
Kerjasama antara Bursa Efek Indonesia dengan harian Bisnis Indonesia meluncurkan indeks harga saham yang diberi nama Indeks BISNIS-27. Indeks yang terdiri dari 27 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih berdasarkan kriteria fundamental, teknikal atau likuiditas transaksi dan Akuntabilitas dan tata kelola perusahaan.
32 g. Indeks PEFINDO25
Kerjasama antara Bursa Efek Indonesia dengan lembaga rating PEFINDO meluncurkan indeks harga saham yang diberi nama Indeks PEFINDO25. Indeks ini dimaksudkan untuk memberikan tambahan informasi bagi pemodal khususnya untuk saham-saham emiten kecil dan menengah (Small Medium Enterprises / SME). Indeks ini terdiri dari 25 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih dengan mempertimbangkan kriteria-kriteria seperti: total aset, tingkat pengembalian modal (Return on Equity / ROE) dan opini akuntan publik. Selain kriteria tersebut di atas, diperhatikan juga faktor likuiditas dan jumlah saham yang dimiliki publik.
h. Indeks SRI-KEHATI
Indeks ini dibentuk atas kerjasama antara Bursa Efek Indonesia dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI). SRI adalah kependekan dari Sustainable Responsible Investment. Indeks ini diharapkan memberi tambahan informasi kepada investor yang ingin berinvestasi pada emiten-emiten yang memiliki kinerja sangat baik dalam mendorong usaha berkelanjutan, serta memiliki kesadaran terhadap lingkungan dan menjalankan tata kelola perusahaan yang baik. Indeks ini terdiri dari 25 saham Perusahaan Tercatat yang dipilih dengan mempertimbangkan kriteria-kriteria seperti: Total Aset, Price Earning Ratio (PER) dan Free Float.
33 i. Indeks Papan Utama
Menggunakan saham-saham Perusahaan Tercatat yang masuk dalam Papan Utama.
j. Indeks Papan Pengembangan
Menggunakan saham-saham Perusahaan Tercatat yang masuk dalam Papan Pengembangan.
k. Indeks Individual
Indeks harga saham masing-masing Perusahaan Tercatat.
C. Saham
1. Definisi Saham
Menurut Martono, et al. (2005) saham adalah surat bukti atau tanda penyertaan modal pada suatu perseroan terbatas. Artinya, pemilik saham juga memiliki bagian dalam perusahaan tersebut. Saham juga merupakan salah satu alternatif investasi yang dapat dilakukan oleh investor dengan cara membeli saham. Perusahaan yang menerbitkan saham disebut dengan emiten (Holilurohman, 2016).
Menurut Tandelilin (2010: 32) saham adalah sertifikat yang menunjukkan bukti kepemilikan perusahaan. Saham atau stocks adalah surat bukti atau tanda kepemilikan bagian modal pada suatu Perseroan Terbatas.
Menurut Manurung dan Haymans (2009), saham suatu perusahaan merupakan bagian dari kepemilikan. Investor memperoleh imbal hasil dari
34 saham berupa peningkatan harga dan dividen. Saham tidak mempunyai waktu jatuh tempo seperti obligasi, sehingga sekuritas saham sangat berisiko. Pemilik saham memperoleh hak residual claimant, yaitu klaim terhadap semua aset dan pendapatan sesudah semua klaim lain terpenuhi.
Artinya pemegang saham akan memperoleh kekayaan jika kondisi perusahaan semakin baik, sebaliknya pemegang saham tidak memperoleh kekayaan jika kondisi perusahaan semakin buruk. Hak lain dari pemegang saham adalah hak suara untuk menentukan manajer dan penjualan saham baru.
Darmadji, T. dan Fakhruddin, H. M. (2010: 8) menyatakan bahwa investasi pada saham memang memberikan harapan pengembalian dan tingkat keuntungan yang tinggi. Keuntungan yang diperoleh pemodal dengan memiliki saham adalah (Halim, 2015):
a. Dividen, yaitu pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham tersebut atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan.
b. Capital gain, yaitu selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder.
Kerugian investasi dalam bentuk saham adalah (Darmadji, T. dan Fakhruddin, H. M., 2010):
a. Tidak Mendapat Dividen
35 Perusahaan akan membagikan dividen jika operasi perusahaan menghasilkan keuntungan. Dengan demikian perusahaan tidak dapat membagikan dividen jika perusahaan tersebut mengalami kerugian.
b. Capital Loss
Dalam aktivitas perdagangan saham, tidak selalu pemodal mendapatkan
Dalam aktivitas perdagangan saham, tidak selalu pemodal mendapatkan