2.1 Perpustakaan Umum
2.1.1 Tujuan Perpustakaan Umum
Demikian pentingnya peranan perpustakaan umum bagi kecerdasan bangsa sehingga UNESCO mengeluarkan manifesto perpustakaan umum pada tahun 1972. Adapun manifesto Perpustakaan Umum UNESCO, (Sulistyo-Basuki, 1991) menyatakan bahwa perpustakaan umum mempunyai 4 tujuan utama sebagai berikut :
1. Memberikan kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan merekan ke arah kehidupan yang lebih baik.
2. Menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat dan murah bagi masyarakat, terutama informasi mengenai topik yang bergurna dan sedang hangat dibicarakan dalam kalangan masyarakat (informasi mutakhir).
3. Membantu warga untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga yang bersangkutan akan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya, bantuan yang diberikan adalah dengan menyediakan bahan pustaka yang sesuai. Fungsi ini disebut sebagai fungsi pendidikan seumur hidup. Pendidikan sejenis ini hanya dapat dilakukan oleh perpustakaan umum karena perpustakaan umum merupakan satu-satunya pranata kepustakawanan yang terbuka bagi umum. Perpustakaaan nasional juga terbuka untuk umum, namun untuk memanfaatkannya tidak selalu terbuka langsung bagi perorangan, adakalanya harus melalui perpustakaan lain.
4. Bertindak selalku agen kultural, artinya perpustakaan umum merupakan pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya.
Perpustakaan umum bertugas menumbuhkan apresiasi budaya masyarakat sekitarnya dengan cara menyelenggarakan pameran budaya, ceramah, pemutaran film, dan penyediaan informasi yang dapat meningkatkan keikutsertaan, kegemaran dan apresiasi masyarakat terhadap segala bentuk seni budaya.
Selain beberapa tujuan yang harus dicapai seperti tersebut di atas, perpustakaan umum juga mempunyai misi agar tidak ditinggalkan oleh anggotanya.
Menurut Blasius (2002) misi perpustakaan umum adalah berikut ini : a. Menciptakan dan menguatkan kebiasaan membaca sejak dini.
b. Mendukung pelaksanaan pendidikan formal dan perorangan yang belajar mandiri.
c. Memberikan peluang bagi pengembangan kreativitas.
d. Merangsang imajinasi dan kreativitas kaum muda.
e. Mempromosikan warisan budaya, penemuan ilmiah, dan inovasi.
f. Menyediakan akses pada ekspresi budaya.
g. Membina dialog antar budaya dan mendukung keanekaragaman budaya.
h. Membantu budaya lisan.
i. Menjamin akses atas semua jenis informasi ke masyarakat bagi semua warga.
j. Menyediakan cukup informasi bagi perusahaan, asosiasi, dan kelompok pemerhati setempat.
k. Memberikan kemudahan dalam pengembangan keterampilan dan ketidakbutaan informasi dan komputer.
l. Membantu dan aktif dalam kegiatan pemberantasan buta huruf pada semua tingkatan.
2.1.2 Tugas Perpustakaan Umum
Untuk mencapai suatu tujuan perpustakaan umum harus dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Adapun tugas perpustakaan umum menurut Yusup (1995: 24) adalah :
1. Mengumpulkan segala macam media cetak dan karya lainnya yang dihasilkan oleh daerah yang tercakup dalam wilayah koordinasinya.
2. Menghimpun semua jenis informasi kemudian mengolahnya untuk kepentingan pemanfaatan bagi masyarakat banyak, yaitu anggota masyarakat yang secara administratif terjangkau dalam pelayanannya.
3. Mengelola sumber-sumber informasi yang beragam pula sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang bervariasi.
Sedangkan dalam Buku Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Umum (2000: 5), Tugas pokok perpustakaan umum adalah menyediakan, mengolah, memelihara dan mendayagunakan koleksi bahan pustaka, menyediakan sarana pemanfaatannya dan melayani masyarakat pengguna yang membutuhkan informasi dan bahan bacaan. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa tugas perpustakaan umum adalah menghimpun semua informasi, mengolah, memelihara dan mendayagunakan koleksi bahan pustaka untuk kepentingan pemnfaatan bagi masyarakat umum.
Pendapat lain dikemukakan oleh Yusuf (1996: 18) menyatakan bahwa tugas pokok perpustakaan umum adalah sebagai berikut :
1. Perpustakaan umum disediakan oleh pemerintah dan masyarakat untuk melayani kebutuhan bahan pustaka masyarakat.
2. Perpustakaan umum menyediakan bahan pustaka yang dapat menumbuhkan kegairahan masyarakat untuk belajar dan membaca sedini mungkin.
3. Mendorong masyarakat untuk terampil memilih bacaan yang sesuai dengan kebutuhannya dalam meningkatkan pengetahuan untuk menunjang pendidikan formal, nonformal, dan informal.
4. Menyediakan aneka ragam bahan pustaka yang bermanfaat untuk dibaca agar dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat yang layak sehingga dapat berpartisipasi dalam pembangunan nasional.
Berdasarkan uraian pendapat di atas dapat diketahui bahwa tugas perpustakaan umum adalah melayani kebutuhan masyarakat dengan menyediakan berbagai ragam bahan bacaan yang bermanfaat yang dapat mendorong masyarakat
untuk terampil membaca sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat sehingga dapat berpartisipasi dalam pembangunan nasional.
2.2 Pustakawan
Kata pustakawan berasal dari kata “pustaka”. Dengan demikian penambahan kata “wan” diartikan sebagai orang yang pekerjaannya atau profesinya terkait erat dengan dunia pustaka atau bahan pustaka. Dalam bahasa Inggris pustakawan disebut sebagai “librarian” yang juga terkait erat dengan kata
“library”. Sejak tahun 1988 pemerintah Indonesia mengakui profesi pustakawan sebagai jabatan fungsional.
Menurut Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI,2006 ) dikatakan bahwa yang disebut pustakawan adalah seseorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu pengetahuan, dokumentasi dan informasi yang dimiliki melalui pendidikan.
Sedangkan menurut kamus istilah perpustakaan karangan Lasa, HS pustakawan adalah: tenaga profesional dan fungsional di bidang perpustakaan, informasi maupun dokumentasi. Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan disebutkan bahwa : pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperolehnya melalui pendidikan dan pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.
Dari ketiga pendapat di atas dapat diketahui bahwa pustakawan yang profesional di bidang perpustakaan telah memberikan pelayanan sesuai tugas
lembaga induknya berdasarkan ilmu pengetahuan, dokumentasi dan informasi yang dimiliki melalui pendidikan.
Poerwadarminta (2006: 44) menambahkan bahwa pustakawan adalah ahli perpustakaan. Dengan pengertian tersebut berarti pustakawan sebagai tenaga yang berkompeten dibidang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi. Selanjutnya Aziz (2006: 44) menambahkan bahwa: Perpustakan merupakan tenaga profesi dalam bidang informasi, khususnya informasi publik, informasi yang disediakan merupakan informasi publik melalui lembaga kepustakawanan yang meliputi berbagai jenis perpustakaan.
Pustakawan merupakan tenaga fungsional yang statusnya seharusnya tidak berbeda dengan tenaga profesional lainnya seperti guru, dosen, hakim, dokter, jaksa dan sebagainya.Pustakawan merupakan suatu profesi. Seperti tenaga profesional lainnya, pustakawan juga memiliki jenjang pendidikan yang harus dilalui dari D2, D3, S1, S2 hingga S3 sekalipun.
Pustakawan juga memiliki karir dan jenjang kepangkatan. Pustakawan jika ingin meningkatkan karirnya, mereka harus mengikuti serangkaian pelatihan yang intensif. Pelatihan-pelatihan yang diikutinya merupakan proses pembelajaran yang sesuai dengan bidang keahlian kepustakawanan yang tidak diketahui atau dipahami oleh orang awam. Semakin tinggi pendidikan dan karir yang diraih oleh pustakawan, semakin berkualitas nilai pustakawan tersebut.
Jenjang jabatan fungsional pustakawan terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok pustakawan Tingkat Terampil (PTT) dan kelompok Pustakawan Tingkat Ahli (PTA). Pustakawan Tingkat Terampil adalah pustakawan yang
memiliki dasar pendidikan untuk pengangkatan pertama kali serendah-rendahnya Diploma II (D2) Perpustakaan, Dokumentasi dan Informasi atau Diploma bidang lain yang disetarakan(Muin, 2014: 196).
Pustakawan Tingkat Terampil terdiri dari : a. Pustakawan Pelaksana
b. Pustakawan Pelaksana Lanjutan c. Pustakawan Penyedia
Pustakawan Tingkat Ahli (PTA) adalah pustakawan yang memiliki dasar pendidikan untuk pengangkatan pertama kali serendah-rendahnya sarjana (S1) Perpustakaan, Dokumnetasi dan informasi atau sarjana bidang lain yang disetarakan.
Pustakawan Tingkat Ahli terdiri dari:
a. Pustakawan pertama b. Pustakawan Muda c. Pustakawan madya d. Pustakawan Utama
Hal yang melandasi profesi pustakawan adalah sebagaimana yang tertera dalam undang-undang No 43 tahun 2007 tentang perpustakaan pasal 29 ayat 2 yang berbunyi “pustakawan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi kualifikasi sesuai dengan standar nasional perpustakaan”
Pasal 30 dalam undang-undang tersebut disebutkan “Perpustakaan Nasional, perpustakaan Umum Pemerintah, Perpustakaan Umum Provinsi,
Perpustakaan Umum kabupaten/Kota dan Perpustakaan Perguruan Tinggi dipimpin oleh Pustakawan atau oleh tenaga ahli dalam bidang perpustakaan”.
Dari isi Undang-Undang tersebut tertulis jelas bahwa pustakawan merupakan tenaga profesional terdidik. Oleh karena itu, para pustakawan harus memiliki rasa kebanggaan dan layak disetarakan dengan profesi lainnya.Masyarakat kita juga seharusnya memahami dan mengakui profesi pustakawan.Hal penting yang juga harus dipahami bahwa tidak semua orang yang bekerja di perpustakaan itu kemudian disebut pustakawan. Banyak orang yang sebenarnya bukan atau belum layak menyandang profesi pustakawan bekerja diperpustakaan dan sering kali dipanggil dengan sebutan pustakawan.
Dari beberapa pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pustakawan merupakan tenaga profesi dalam bidang informasi, yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang.
2.3 Profesi Pustakawan
Menurut Harefa (2004: 121) kata profesi berasal dari kata latin, yaitu professus yang makna semula dihubungkan dengan sumpah atau janji yang bersifat keagamaan dan pengakuan. Sedangkan menurut Arifin (2008: 58), Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan yang memerlukan keterampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan yang rumit dari manusia serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut.
Profesi juga diartikan Markus Willy (2005: 518), sebagai sesuatu pekerjaan berjenjang karir yang membutuhkan pendidikan dan keterampilan dalam melakukannya.
Good’s Dictionary of Educationmendefinisikan profesi sebagai susatu pekerjaan yang meminta persiapan spesialisasi yang relatif lama di Perguruan Tinggi dan dikuasai oleh suatu kode etik yang khusus. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesi diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (seperti keterampilan, kejururan, dan sebagainya) tertentu.
Dari penyataan yang dikemukakan oleh bebrapa ahli diatas dapat disimpulkan bahwa profesi merupakan pekerjaan yang harus dikerjakan dengan bermodal pendidikan, keahlian, keterampilan dan spesialiasi tertentu yang berlandaskan disiplin etika dan sumpah atau janji untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Profesi pustakawan sering kali menjadi sebuah pertanyaan bagi masyarakat. Tak banyak orang yang mengenal dan mengetahui siapa itu pustakawan dan apa pekerjaannya. Masyarakat umumnya tahu bahwa di perpustakaan ada pekerja yang memberikan layanan informasi, namun seringkali mereka tidak tahu siapakah yang disebut pustakawan itu.
Surat Keputusan Menteri Negara Penertiban Aparatur Negara No.18/MENPAN/1988 tentang Angka kredit bagi jabatan pustkawan dan diperbaharui dengan SK Menpan No.33 Tahun 1990 yang kemudian diperbaharui kembali dengan SK Menpan No.132 Tahun 2002. Para ahli atau pemerhati
pustakawan pun secara jelas mengakui eksistensi pustakawan sebagai suatu profesi. Berikut ini merupakan ciri-ciri dari profesi, yaitu:
1. Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoritis Seseorang profesional harus memiliki pengetahuan teoritis dan keterampilan menegenai bidang teknik yang ditekuni dan bisa diterapkan dalam pelaksanaanya atau prakteknya dlam kehidupan sehari-hari.
2. Asosiasi.
Profesional Merupakan suatu badan organisasi yang biasanya diorganisasikan oleh anggota profesi yang bertujuan untuk meningkatkan status para anggotanya.
3. Pendidikan yang Ekstensi.
Profesi yang prestisius biasanya memerlukan pendidikan yang lama dalam jenjang pendidikan tinggi. Seorang profesional dalam bidang teknik mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi baik itu dalam suatu pendidikan formal ataupun non formal.
4. Ujian Kompetisi.
Sebelum memasuki organisasi profesional, biasanya ada persyaratan untuk lulus dari suatu tes yang menguji terutama pengetahuan teoritis.
5. Pelatihan Institusional.
Selain ujian, juga biasanya dipersyaratkan untuk megikuti pelatihan institusional dimana calon profesional mendapatkan pengalaman praktis sebelum menjadi anggota penuh organisasi. Peningkatan keterampilan melalui pengembangan profesional juga dipersyaratkan.
6. Lisensi.
Profesi menetapkan syarat pendaftaran dan proses sertifikasi sehingga hanya mereka yang memiliki lisensi bisa dianggap bisa dipercaya.
7. Otonomi Kerja.
Profesional cenderung mengendalikan kerja dan pengetahuan teoretis mereka agar terhindar dari adanya intervensi dari luar.
8. Kode Etik.
Organisasi profesi biasanya memiliki kode etik bagi para anggotanya dan prosedur pendisiplinan bagi mereka yang melanggar aturan.
9. Mengatur Diri.
Organisasi profesi harus bisa mengatur organisasinya sendiri tanpa campur tangan pemerintah. Profesional diatur oleh mereka yang lebih senior, praktisi yang dihormati, atau mereka yang berkualitas paling tinggi.
10. Layanan Publik da Altruism.
Diperolehnya penghasilan dari kerja profesinya dapat dipertahankan selama berkaitan dengan kebutuhan publik, seperti layanan dokter berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat.
11. Status dan Imbalan yang tinggi.
Profesi yang paling sukses akan meraih status yang tinggi, prestise, dan imbalan yang layak bagi para anggotanya. Hal tersebut bisa dianggap
sebagai pengakuan terhadap layanan yang mereka berikan bagi masyarakat.
Pustakawan profesional adalah tenaga yang memiliki sertifikat atau diploma setingkat diploma 2 dalam ilmu perpustakaan, sedangkan teknisi merupakan tenaga perpustakaan yang berpendidikan SLTA ke bawah dengan pendidikan kepustakawanan satu tahun atau kurang.
Hal senada dinyatakan oleh Tjitropranoto (1995: 29) yang menggambarkan tenaga profesional pustakawan berdasarkan keahlian dan ketrampilan dengan ciri sebagai berikut :
1. Mempunyai metodologi, teknik analisis, serta teknik dan prosedur kerja yang didasarkan pada disiplin ilmu pengetahuan dan atau pelatihan teknis tertentu dengan sertifikasi.
2. Memiliki etika profesi yang ditetapkan oleh organisasi profesi.
3. Dapat disusun dalam suatu jenjang jabatan berdasarkan : tingkat keahlian bagi jabatan fungsional keahlian, tingkat keterampilan bagi jabatan fungsional keterampilan.
4. Pelaksanaan tugas bersifat mandiri.
5. Jabatan fungsional tersebut diperlukan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi organsasi.
Senada dengan itu, Arifin (2006: 29 menjabarkan profesionalisme dalam tiga watak kerja yang merupakan persyaratan dari setiap kegiatan pemberian jasa profesi ialah:
a. Kerja seorang profesional bertekad untuk merealisasikan kebijakan demi tegaknya kehormatan profesi yang digeluti dan oleh
karenanya tidak terlalu mementingkan imbalan upah material.
b. Kerja seorang profesional itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas tinggi yang dicapai melalui proses pendidikan dan atau pelatihan yang panjang, ekslusif,dan berat.
c. Kerja seorang profesional diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral harus menundukkan diri pada sebuah mekanisme kontrol berupa kode etik yang dikembangkan dan disepakati bersama didalam sebuah organisasi profesi.
Pengertian sederhana istilah profesional adalah segala hal yang berkaitan dengan profesi, yaitu memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya (Supriyanto, 2003: 4). Kartosedono (2003:2) menambahkan bahwa tanggung jawab utana pelaksanaan tugas pustakawan profesional dituntut adanya keikhlasan, kejujuran, dan pengabdian dalam melayani masyarakat pemakai perpustakaan, serta mempunyai tanggung jawab pada publik.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka dapat dartikan bahwa profesi pustakawan adalah suatu profesi yang menunjukkan tugas, bertnggung jawab, memiliki wewenang dan hak pustakawan didasarkan pada keahlian dan keterampilan dalam melaksanakan kegiatan perpustakaan, dokumentasi dan informasi yang bersifat mandiri. Keahlian dan keterampilan di bidang perpustakaan atau kompetensi memadai yang dipersyaratkan di bidang perpustakaan menandakan profesi pustakawan menempati posisi dalam katagori profesi yang profesional.
2.3.1 Etika Profesi
Etika berasal dari bahasa asing yaitu Ethic(s) bahasa Inggris atau Ethica dalam bahasa Latin, Ethique dalam bahasa Prancis, Ethikos dalam bahasa Yunani Kuno (Greek) yang artinya kebiasaan-kebiasaan terutama yang berkaitan dengan tingkah laku manusia. Etika (ethics) mempunyai pengertian standar tingkah laku atau perilaku manusia yang baik, yakni tindakan yang tepat, yang harus dilaksanakan oleh manusia yang sesuai dengan ketentuan moral pada umumnya.
Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk dan tanggung jawab.
Rubin (2004: 324) menyatakan bahwa etika bagi para profesional di bidang informasi merupakan salah satu bentuk penegasan terhadap nilai-nilai dari pelayanan, termasuk didalamnya adalah keharusan menghormati sesama, yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup bermasyarakat.
Dalam Code of Professional Ethics (APA,2003: 4), suatu etika profesi menuntut memiliki prinsip-prinsip yang menjadi bagian dari kewajiban moral anggotanya yang berupa:
a. Respect for nights and dignity of the person, yaitu prinsip yang selalu menghormati hak dan martabat manusia.
b. Competence, yaitu kemampuan dan keahlian yang sesuai dengan bidang kerja yang ditekuni.
c. Responsibility, yaitu tanggungjawab dalam setiap pelaksanaan tugas-tugas.
d. Integrity, yaitu tidak terpisah-pisah antara hak dan kewajiban, selalu ada keseimbangan anatara tuntutan hak dan pelaksanaan kewajiban di setiap tugasnya.
Sedangkan Rindjin (2004: 65) menyatakan bahwa etika mempunyai tiga makna, yaitu:
1. Etika (kebiasaan, watak) sesungguhnya mengacu pada masing-masing pribadi seseorang yang mempunyai kebiasaan, akhlak atau watak tertentu. Dalam perjalanan hidup seseorang proses pembentukannya berlangsung secara perlahan, tetapi berkelanjutan, sehingga terbentuk kebiasaan dan kemudian menjadi watak yang kuat.
2. Etika dalam bentuk jamak, berarti adat istiadat, yaitu norma-norma yang dianut oleh kelompok, golongan atau masyarakat tertentu mengenai perbuatan baik dan buruk.
3. Etika adalah studi tentang prinsip-prinsip perilaku yang baik dan yang buruk.
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa etika secara umum adalah ilmu yang mengajarkan tentang baik dan buruk dalam mengendalikan pola perilaku hidup manusia baik secara pribadi maupun sebagai kelompok yang sesuai dengan
norma-norma hukum atau kaidah-kaidah yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.
2.4 Kode Etik
Kode etik terdiri dari dua kata yaitu kode dan etik, dalam bahasa Inggris terdapat berbagai makna dari kata code diantaranya tingkah laku, perilaku, peraturan perundang-undangan, dan kata ethic bermakna sejumlah aturan moral atau prinsip prilaku untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah.
Sulystyo Basuki (2001: 23) kode etik sebagai sistem norma, nilai, dan aturan profesional tertulis secara tegas menyatakan apa yang benar atau salah.
Harrolds Librarian’s Glossalry and Reference Books (Harold, 1995: 518) mencantumkan definisi kode etik, yaitu: “A document setting out the norms of professional conduct and behavior required of members of a professional association”. Dengan kata lain bahwa kode etik adalah suatu dokumen yang berisi norma moral dan perilaku seorang profesional yang mengacu pada kesepakatan anggota asosiasi profesionalnya.
Martono (1993: 16) mengatakan bahwa kode etik merupakan persetujuan bersama yang berasal dari para anggota profesi itu sendiri untuk mengarahkan mereka, sesuai dengan nilai-nilai ideal yang diharapkan.
Sedangkan dalam ALA Glosseary of Library and Information Science pada tahun 1983 disebutkan bahwa kode etik adalah pernyataan standar profesi yang ideal yang dianut oleh kelompok profesional atau organisasi profesi untuk menuntun anggotanya dalam mengemban tanggungjawab profesionalnya.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional yang telah diakui, disepakati dan diterapkan oleh masing-masing anggota dari kelompok profesi tersebut.
Dalam kode etik pustakawan Indonesia Pasal 1, kode etik pustakawan Indonesia merupakan:
1. Aturan tertulis yang harus dipedomani oleh setiap pustakawan dalam melaksanakan tugas profesi sebagai pustakawan.
2. Etika profesi pustakawan yang menjadi landasan moral yang dijunjung tinggi, diamalkan dan diamankan oleh setiap pustakawan.
3. Ketentuan mengatur pustakawan dalam melaksanakan tugas kepada diri sendiri, sesama pustakawan, pengguna, masyarakat dan negara.
Sehingga dapat dikemukakan bahwa pengertian dari kode etik adalah seperangkat standar aturan tingkah laku yang dibuat oleh organisasi profesi yang menjadi landasan perilaku anggotanya dalam menjalankan tugas dan profesinya.
2.4.1 Tujuan Kode Etik
Pada dasarnya tujuan kode etik suatu profesi adalah untuk kepentingan anggota dan kepentingan organisasi. Hermawan dan Zen (2006: 84) memberikan penjabaran mengenai tujuan kode etik dari suatu organisasi profesi yaitu :
1. Menjaga Martabat dan Moral Profesi.
Salah satu hal yang harus dijaga oleh suatu profesi adalah martabat dan moral. Agar profesi itu mempunyai martabat yang perlu dijaga dan dipelihara adalah moral. Profesi yang mempunyai martabat dan moral yang tinggi, sudah pasti akan mempunyai citra atau image yang tinggi pula di masyarakat. Untuk itu, profesi membuat kode etik yang akan mengatur
sikap dan tingkah laku anggotanya, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Oleh karena itu kode etik profesi sering disebut juga sebagai kode kohormatan profesi, jika kode etik dilanggar maka nama baik profesi akan tercemar, berarti merusak martabat profesi.
2. Memelihara Hubungan Antar Profesi.
Kode etik juga dimaksudkan untuk memelihara hubungan antar anggota.
Dalam kode etik diatur hak dan kewajiban kepada antar sesama anggota profesi. Satu sama lain saling hormat menghormati dan bersikap adil, serta berusaha meningkatkan kesejahteraan bersama. Dengan adanya aturan tersebut diharapkan mampu mendukung keberhasilan bersama.
3. Memelihara Hubungan Anggota Profesi.
Dalam kode etik dirumuskan tujuan pengabdian profesi, sehingga anggota profesi mendapat kepastian dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Oleh karena itu, biasanya kode etik merumuskan ketentuan bagaimana anggota profesi melayani masyarakat. Dengan adanya ketentuan itu, para anggota profesi dapat meningkatkan pengabdiannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, bangsa dan tanah air serta kemanusiaan.
4. Meningkatkan Mutu Profesi.
Untuk meningkatkan mutu profesi, kode etik juga memuat kewajiban agar para anggota profesinya berusaha untuk memelihara dan meningkatkan mutu profesi. Selain itu, kode etik juga mengatur kewajiban agar para anggotanya mengikuti perkembangan zaman. Setiap anggota profesi berkewajiban memelihara dan meningkatkan mutu profesi, yang pada umumnya dilakukan dalam wadah organisasi profesi.
5. Melindungi Masyarakat Pemakai.
Profesi, seperti hal profesi pustakawan adalah melayani masyarakat.
Melalui kode etik yang dimiliki, dapat melindungi pemakai jasa. Ketika ada anggota profesi melakukan sesuatu yang tidak patut dilakukan sebagai pekerja profesional, maka kode etik adalah rujukan bersama.
Sejalan dengan pendapat Hermawan dan Zen, pendapat lain tujuan dari kode etik menurut Soepardan (2007: 40) menyatakan bahwa tujuan kode etik adalah sebagai berikut :
1. Menjunjung Tinggi Martabat dan Citra Profesi.
Image pihak luar atau masyarakat terhadap satu profesi perlu dijaga untuk mencegah pandangan merendahkan atau meremehkan profesi tersebut.
Image pihak luar atau masyarakat terhadap satu profesi perlu dijaga untuk mencegah pandangan merendahkan atau meremehkan profesi tersebut.