BAB II EKONOMI PEMBANGUNAN
B. Tujuan Utama Pembangunan
Tujuan dari pembangunan yang benar-benar sempurna memang tidaklah mudah untuk merumuskannya. Perdebatan mengenai hal ini sudah berlangsung sangat lama dan masing-masing orang berpegang pada keyakinannya masing-masing. Namun secara keseluruhan dapat terangkum
11
Jan-Erik Lane dan Svante Ersson, Ekonomi Politik Komparatif : Demokrasi dan Pertumbuhan Benarkah Kontradiktif, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada 2002) hal. 68
dalam pendapat Profesor Goulet dan tokoh-tokoh lain yakni terdapat tiga tujuan pembangunan.
Pertama kecukupan (sustenance), yang dimaksud kecukupan bukan
hanya menyangkut makanan, melainkan mewakili semua hal yang merupakan kebutuhan dasar manusia secara fisik. Kebutuhan dasar adalah segala sesuatu yang jika tidak dipenuhi akan menghentikan kehidupan seseorang. Kebutuhan dasar ini meliputi pangan, sandang, papan, kesehatan, dan keamanan. Jika satu saja dari sekian banyak kebutuhan dasar ini tidak dipenuhi, maka akan muncul kondisi keterbelakangan absolut.12
Kedua adalah jati diri (self-esteem) komponen universal yang kedua
dari kehidupan yang serba lebih baik adalah adanya dorongan dari diri sendiri untuk maju, untuk menghargai diri sendiri, untuk merasa diri pantas dan layak melakukan atau mengejar sesuatu.13 Pembangunan harus mampu memberikan penghargaan diri sebagai manusia, dan tidak digunakan sebagai alat dari orang lain. Artinya, pembangunan harus mampu mengangkat derajat manusia dan menciptakan kondisi untuk tumbuhnya jati diri (self-esteem)14.
Ketiga adalah kebebasan dari menghamba (freedom from servitude);
nilai universal terakhir yang harus terkandung dalam makna pembangunan adalah konsep kemerdekaan manusia. Kemerdekaan atau kebebasan di sini
12
Michael P Todaro, Pembanguan Ekonomi Dunia Ketiga (Edisi ke-enam jilid I), (Jakarta: P.T. Gelora Aksara Pratama : 1998) hal. 20
13
Ibid hal.. 20
14
Isu-isu Seputar Indeks Pembangunan Manusia Indonesia dengan Paradigma Humanizing Development , Drs. H. M Ladzi, M. Ag,. Hal 2
hendaknya diartikan secara luas sebagai kemampuan untuk berdiri tegak sehingga tidak diperbudak oleh pengejaran aspek-aspek materiil dalam kehidupan.15 Pembangunan harus membebaskan atau memerdekakan manusia dari penghambaan dan ketergantungan akan alam, kebodohan dan kemelaratan.16 Pembangunan dilakukan untuk tujuan peningkatan kebebasan setiap orang dari kungkungan atau tekanan-tekanan kepentingan yang ada. Ketiga inilah yang merupakan tujuan pokok yang harus digapai oleh setiap orang dan masyarakat melalui pembangunan. Ketiganya berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan manusia yang paling mendasar, yang terwujud dalam berbagai macam manifestasi di hampir semua masyarakat dan budaya sepanjang jaman.17
C. Pembangunan Ekonomi dalam Islam
1. Konsep Pembangunan Ekonomi dalam Khasanah Peradaban Islam
Istilah pembangunan dalam khasanah peradaban Islam dan dalam karya-karya klasik lazimnya dihubungkan dengan konsep „imârah al-ard (memakmurkan bumi) yang dipahami dari ayat al-qur‟an salah satunya surah
Hud ayat 61.18 Mayoritas penulis berpendapat bahwa kata al-„imârah
15
Michael P Todaro, Pembanguan Ekonomi Dunia Ketiga (Edisi ke-enam jilid I), (Jakarta: P.T. Gelora Aksara Pratama : 1998) hal. 21
16
Isu-isu Seputar Indeks Pembangunan Manusia Indonesia dengan Paradigma Humanizing Development , Drs. H. M Ladzi, M. Ag,. Hal 2
17
Michael P Todaro, Pembanguan Ekonomi Dunia Ketiga (Edisi ke-enam jilid I), (Jakarta: P.T. Gelora Aksara Pratama : 1998) hal. 19
18
Asmuni Mth, Konsep Pembangunan Ekonomi Islam. Jurnal Al-Mawarid Edisi X tahun 2003. Hal 128-129
(memakmurkan atau mengelola bumi untuk kemakmuran hidup manusia) identik dengan kata at-tanmiyah al-iqtisadiyah (pembangunan ekonomi)19
Artinya: “dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.], karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."
Walaupun dalam bahasa Arab modern arti kata dari isti‟mar diartikan penjajahan, isti‟mara adalah menjajah. Makna ini tidak dikenal dalam bahasa Al-Quran, dan memang ia merupakan penamaan yang tidak sejalan dengan kaidah bahasa Arab dan akar katanya.20
Kata isti‟mara pada ayat di atas terdiri dari huruf sin dan ta‟ yang dapat berarti meminta seperti dalam kata istighfara, yang berarti meminta
19
Ibid. hal 131
20
Dr. M. Quraish Shihab, M.A., Wawasan Al-Qur‟an: Tafsir Tematik atas Pelbagai Permasalahan Umat, (Bandung :Mizan) hal. 558
maghfirah (ampunan). Dapat juga kedua huruf tersebut berarti
“menjadikan” seperti pada kata hajar yang berarti “batu” bila digandengkan dengan sin dan ta‟ sehingga terbaca istahjara yang maknanya adalah menjadi batu.
Kata „amara dapat diartikan dengan dua makna sesuai dengan objek dan konteks uraian ayat. Surat Al-Tawbah (9): 17 dan 18 yang menggunakan kata kerja masa kini ya‟muru, dan ya‟muru dalam konteks uraian tentang masjid diartikan memakmurkan masjid dengan jalan membangun, memelihara, memugar, membersihkan, shalat, atau I‟tikaf di dalamnya. Sedangkan surat Al-Rum (30): 9 yang mengulangi dua kali kata kerja masa lampau „amaru berbicara tentang bumi, diartikan sebagai membangun bangunan, serta mengelolanya untuk memperoleh manfaatnya. Jika demikian, kata ista‟marakum dapat berarti “menjadikan kamu” atau “meminta/menugaskan kamu” mengolah bumi guna memperoleh manfaatnya.21
Masalah pembangunan juga dibahas secara mendalam oleh Ibn Khaldun dalam karyanya Al-Muqaddimah. Istilah yang digunakannya adalah
„Umran Al-„Alam. Walaupun sebagaian besar ilmuwan maupun masyarakat umum memaknai „Umran dengan istilah yang sudah popular yaitu “sosial”
21
Dr. M. Quraish Shihab, M.A., Wawasan Al-Qur‟an: Tafsir Tematik atas Pelbagai Permasalahan Umat, (Bandung :Mizan) hal. 558
(ijtima‟), “tamadun” (hadarah), dan “perkotaan” (madaniyyah). Namun yang dimaksud oleh Ibn Khaldun adalah makna yang lebih luas.
Pada hakikatnya, „Umran Al-„Alam merupakan suatu ilmu baru yang dinamis serta mengandung makna yang sangat luas, bukan saja dari segi sosial atau pembangunan yang bersifat fisik dan lokal, tetapi meliputi aspek
rohani dan jasmani yang bersifat “universal” untuk tujuan mencapai kebahagiaan dan kemakmuran manusia di dunia dan di akhirat. Teori `umran
al-`alam telah diperkenalkan oleh Ibn Khaldun untuk menangani krisis
politik dan sosio-ekonomi yang melanda masyarakat Islam di Asia Barat, khususnya di Andalus dan Afrika Utara pada abad ke-14M akibat terjadinya keruntuhan agama dan akhlak serta perpecahan sesama umat Islam disebabkan perbedaan mazhab, di satu pihak, serta dampak dan pengaruh pemikiran tradisionalis Islam yang diimpor dari kebudayaan dan pemikiran Persia dan Yunani kuno, di pihak yang lain. Pada waktu yang sama, umat Islam pada waktu itu tidak memahami hukum masyarakat (ilmu sosial masyarakat) dan alam yang sudah ditentukan oleh Allah Ta`ala serta kurang peduli terhadap pemeliharaan dan kelestarian alam sekitar yang berdampak pada kehidupan.22
Rasulullah Muhammad SAW sebagai pemegang otoritas tertinggi baik dalam bidang agama maupun negara sebenarnya telah meletakkan
22
Mahayudin Hj Yahaya, „Umran Al „Alam From the Perspective of Ibn Khaldun: A Paradigm Change, International Journal of West Asian Studies, Vol. 3, No. 1, hal. 3
dasar pembangunan ekonomi yang komprehensif atau telah menjalankan konsep „umran al-„alam. Dasar-dasar pembangunan yang diletakkan oleh Rasulullah mengintregasikan antara spirit duniawi dan spirit ukhrawi. Pembangunan aqidah dan akhlak atau attitude sebagai etos kerja menjadi prioritas utama.
Sebagai bentuk upaya membangun peradaban baru Rasulullah segera meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat pertama, membangun masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat. Masjid bukan hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, melainkan untuk berbagai pembinaan masyarakat serta untuk kegiatan muamalah di sekelilingnya. Kedua, menjalin ukhwah islamiyah antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar dalam bentuk membuat
entrepreneur partnership baik dalam mengembangkan pertanian maupun
perdagangan. Ketiga, Rasulullah membuat undang-undang yang mengatur hak dan kewajiban setiap individu masyarakat agar tercipta kehidupan yang tertib. Keempat, meletakkan dasar-dasar keuangan negara. Dalam hal ini didirikanlah Batul Mal sebagai pusat pengelolaan keuangan negara. Batul Mal menjadi pusat pengumpulan pendapatan negara yang berasal dari dana ziswaf serta retribusi dari negara. Kemudian dana yang dikumpulkan disalurkan untuk pembangunan infrastruktur, gaji pegawai, pendidikan serta pengentasan kemiskinan.23
2. Pembangunan Ekonomi Islam di Era Modern
23
Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya mengatur masalah ibadah, melainkan mengatur semua aspek dalam kehidupan salah satunya adalah muamalah. Muamalah mengatur berbagai aturan hubungan sesama manusia termasuk di dalamnya urusan ekonomi. Bahkan seorang orientalis paling terkenal bernama H.A.R Gibb mengatakan, “Islam is much more than a system of theology it‟s a complete civilization” (Islam bukan sekedar sistem theologi, tetapi merupakan suatu peradaban yang lengkap).
Prinsip-prinsip ekonomi dalam Islam pada dasarnya telah dipraktekkan pada zaman Rasulullah sampai para sahabat-sahabatnya walaupun belum ada penyusunan prinsip-prinsip ekonomi yang sistematis pada waktu itu. Tulisan-tulisan pemikiran tentang ekonomi ditulis dalam kitab-kitab filsafat maupun fiqh. Para cendekiawan muslim berusaha untuk mengidentifikasi pemikiran-pemikiran ekonomi Islam.24
Runtuhnya kekuasaan negara-negara Islam dan bahkan mengalami penjajahan oleh bangsa-bangsa Eropa menyababkan degradasi peradaban Islam yang sangat signifikan. Peradaban Islam seolah benar-benar tidak penah ada, termasuk dalam khazanah pemikiran ekonomi Islam. Josep Schumpeter misalnya mengatakan, adanya “Great Gap” dalam sejarah pemikian ekonomi selama 500 tahun yaitu masa yang dikenal sebagai the dark age. Dalam karyanya, “History of Economics Analysis”, ia menegaskan bahwa pemikir ekonomi muncul pertama kali di zaman Yunani Kuno pada abad 4 SM dan
24
bangkit kembali pada abad 13 M di tangan pemikir skolastik Thomas Aquinas.25
Negara-negara Islam yang sebagian besarnya baru merdeka pasca Perang Dunia II ternyata belum sepenuhnya bisa mengaktualisasikan sistem perekonomian yang sesuai ajaran Islam. Hal tersebut dikarenakan bangsa asing masih ikut campur tangan dalam berbagai hal, termasuk sistem ekonomi yang berbasis pada kapitalisme dan sekularisme. Penerapan sistem dari Barat ternyata tidak sepenuhnya berhasil dan cenderung gagal. Kondisi negara-negara muslim yang hampir seluruhnya masuk dalam kategori negara-negara berkembang (adapun negara yang maju dikarenakan kekayaan minyak mentah dan gas alam, maka dibutuhkan upaya untuk merubah struktur ekonomi kearah pembangunan jangka panjang yang berkelanjutan), dan sebagiannya lagi dalam kategori negara miskin.26
Negara-negara Islam pada umumnya tidak mampu menginternalisasi mesin pertumbuhan. Paradoks yang terjadi di negara muslim adalah bahwa mereka kaya akan sumber daya alam, namun ekonominya lemah dan miskin.27 Ilmuwan sering menyebut paradoks ini dengan kutukan sumber daya atau
“resorce curse”. Perkonomian mereka tegantung pada negara Barat dalam banyak hal, misalnya impor bahan makanan, barang-barang manufaktur,
25
Euis Amalia, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Depok : Gramata 2010) hal. 69
26
Dr. Abdel Rahman Yousri Ahmed, An Introduction to an Islamic Theory of Economic Development, 8th International Conference on Islamc Economic and Finance
27
Khurshid Ahmad, Studies In Islamic Economics, (Jeddah : International Centre for Research in Islamic Economics King Abdul Aziz University 1980) hal. 172
tekhnologi, dan lain-lain, disisi lain mereka mengekspor produk primer. Sebagiannya menderita karena efek dari warisan sistem ekonomi kolonial yang berlarut-larut, dan ini adalah contoh yang sempurna dari hubungan
“negara maju di pusat –negara miskin pinggiran”.28
Untuk menanggapi semua isu yang berkembang khususnya pada dunia Islam dan mencari upaya untuk mengatasinya permasalahan tersebut, pada
tahun 1976 Universitas King Abdul Aziz menggelar “International
Conference on Islamic Economics” yang pertama. Konferensi ini di hadiri
oleh 200 ekonom dan ulama dari seluruh dunia. Konferensi ini boleh dikatakan sebagai awal kebangkitan ilmu ekonomi Islam di era modern serta lahirnya ilmu ekonomi pembangunan Islam. Pokok-pokok bahasan dalam konferensi tersebut diantaranya konsep dan metodologi ekonomi Islam, produksi dan konsumsi dalam ekonomi Islam, peran negara dalam ekonomi
Islam, asuransi dengan konsep syari‟ah, bank bebas bunga, zakat dan
kebijakan fiskal, dan ekonomi pembangunan Islam.29 Ekonomi pembangunan menjadi topik yang sangat relevan mengingat resep pembangunan yang ditawarkan oleh barat nyatanya tidak sesuai dengan kondisi sosio-kultur negara muslim.
3. Pengertian Pembangunan Ekonomi Islam
28
Ibid hal. 172
29
Khurshid Ahmad, Studies In Islamic Economics, (Jeddah : International Centre for Research in Islamic Economics King Abdul Aziz University 1980) hal. xvii
Istilah pembangunan ekonomi yang dimaksudkan dalam Islam adalah “the process of allaviating poverty and provision of ease, comfort and
decency in life” (Proses untuk mengurangi kemiskinan serta menciptakan
ketentraman, kenyamanan dan tata susila dalam kehidupan).30 Sedangkan menurut DR. Abdel-Rahman Yousri Ahmed Pembangunan adalah perubahan struktural dalam lingkungan sosio-ekonomi, yang terjadi bersamaan dengan penerapan hukum Islam dan nilai-nilai etika, sehingga memacu kapasitas produktif manusia yang maksimal dan kemungkinan pemanfaatan terbaik dari sumber daya yang tersedia, dengan tujuan tercapainya keseimbangan antara aspek material dan spiritual.31
Atau jika kita mengacu pada literatur klasik bahwa pembangunan memiliki arti „umran al-„alammaka konsep dari Ibn Khaldun menjadi konsep pembangunan yang komprehensif. Di atas kaedah inilah maka Ibn Khaldun mendefinisikan `umran, sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Jabri, iaitu:
“Suatu fenomena sosial yang digerakkan oleh sekumpulan masyarakat yang
bekerjasama/bermuafakat di kawasan kota atau desa dalam sebuah negara yang berdaulat dan berpengaruh bagi tujuan memenuhi keperluan hidup yang bahagia dan makmur baik segi rohani atau jasmani bersamaan dengan penerapan ajaran agama dan akhlak serta hukum dan peraturan kejadian alam
30
http://www.agustiantocentre.com diakse pada tanggal 19 Februari 2014 10:40
31
Dr. Abdel Rahman Yousri Ahmed, An Introduction to an Islamic Theory of Economic Development, 8th International Conference on Islamc Economic and Finance
dan manusia ciptaan Allah Ta`alan” (Muhammad `Abid al-Jabri, 1992:132-138, 298)
Dapat disimpulkan bahwa pembangunan ekonomi yang dimaksud dalam islam adalah upaya yang dilakukan oleh sekumpulan masyarakat yang saling bekerja sama untuk mencapai kehidupan yang lebih baik disertai dengan pengamalan ajaran Islam yang universal demi kehidupan yang berkelanjutan.
D. Prinsip Utama dalam Ekonomi Pembangunan Islam
Menurut Umer Chapra tujuan dari suatu sistem ekonomi sangat dipengaruhi oleh pandangan-duniannya. Salah satunya adalah pertanyaan yang berkaitan dengan bagaimana alam semesta muncul, makna dan tujuan hidup manusia, kepemilikan dan penggunaan objektif sumber daya yang langka untuk kehidupan manusia, serta hubungan antar sesama manusia (termasuk hak dan kewajiban mereka) juga pada lingkungan. Sebagai contoh, jika pandangan mengenai alam semesta tercipta dengan sendirinya, maka akibatnya manusia tidak perlu bertanggungjawab pada siapapun dan hidup bebas sesukanya. Tujuan hidup mereka hanya sekedar mencari kesenangan, tanpa memperdulikan bagaimana cara mendapatkannya dan apa akibatnya bagi orang lain dan lingkungannya. Kemudian, pemenuhan kepentingan pribadi dan seleksi alam menjadi norma-norma yang paling logis dari kebiasaan. Jika diyakini bahwa manusia hanyalah pion-pion dalam papan catur sejarah dan kehidupan mereka ditentukan oleh kekuatan dari luar di
mana mereka tidak memiliki kontrol, sehingga meraka tidak bertangung jawab terhadap apa yang terjadi disekeliling mereka dan tidak perlu khawatir dengan ketidak adilan yang terjadi.32
Akan tetapi, jika keyakinannya bahwa manusia dan apapun yang dimilikinya diciptakan oleh Maha Pencipta dan mereka bertanggung jawab kepada-Nya, mereka mungkin tidak menganggap diri mereka benar-benar bebas untuk berkehendak sesuka hati atau seperti pion yang tak berdaya di papan catur sejarah. Lebih dari itu, mereka memiliki misi yang harus dijalankan, dan harus memanfaatkan sumber daya yang terbatas, serta saling peduli satu sama lain dan lingkungannya dalam rangka menjalankan misinya.33
Oleh karena cara pandang sangat mempengaruhi hasil akhir dari suatu sistem yang diterapkan maka Islam harus memiliki pandangan-dunia yang holistik mencangkup unsur kemanusian dan ketuhanan. Menurut Chapra prinsip utama dalam ekonomi pembangunan Islam adalah tauhid, khilafah, dan „adalah. Sementara menurut Khurshid Ahmad prinsip utama atau landasan filosofi ekonomi pembangunan Islam ada empat (4) yaitu; tauhid,
rububiyyah, khilafah, dan tazkiyah. Sedangkan Aidit Ghazali (1990) dalam
bukunya “Development: An Islamic Perspective” membagi filosofi dasar menjadi lima (5) yaitu; tauhid uluhiyah, tauhid rububiyyah,khilafah, tazkiyyah
32
Umer Chapra, Islam and Economic Development, (Islamabad Islamic Reseach Institute Press : 1993). Hal.
33
an-nas, dan al-falah. Walaupun terdapat beberapa perbedaan namun pada
dasarnya memiliki persamaan sumber yaitu Qur‟an dan Hadits dan juga tujuan
yang sama yakni maqashid syari‟ah.
Prinsip-prinsip ekonomi pembangunan dalam Islam yaitu;34
1. Tauhid Ulihiyyah, yaitu percaya pada Kemahatunggalan Allah dan semua
yang di alam semesta merupakan kepunyaan-Nya. Dalam konteks upaya pembangunan manusia harus sadar bahwa semua sumber daya yang tersedia adalah kepunyaan-Nya sehingga tidak boleh hanya dimanfaatkan untuk pemenuhan kepentingan pribadi.
2. Tauhid Rububiyyah, yaitu percaya bahwa tuhan sendirilah yang
menenrukan keberlanjutan dan hidup dari ciptaanya serta menurut siapa saja yang percaya kepada-Nya kepada kesuksesan. Dalam konteks upaya pembangunan, manusia harus sadar bahwa pencapaian tujuan-tujuan pembangunan tidak hanya bergantung pada upayanya sendiri, tetapi juga pada pertolongan Tuhan, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Pada satu titik ekstrem, sikap fatalistic tidak dibenarkan sementara pada titik ekstrem lainnya, kepercayaan sepenuhnya pada upaya-upaya manusia sendiri dianggap tidak adil bagi Sang Pencipta.
3. Khilafah, yaitu peranan manusia sebagai wakil Tuhan di bumi. Di
samping sebagai wakil atas segala sumber daya yang diamanatkan
34
Mudrajat Kuncoro, Ph.D, Masalah, Kebijakan, dan Politik: Ekonomika Pembanguan, (Jakarta : Penerbit Erlangga2010) hal. 23-24
kepadanya, manusia yang beriman juga harus menjalankan tanggung jawabnya sebagai pemberi teladan atau contoh yang baik bagi manusia lainnya.
4. Tazkiyyah an-nas, ini merujuk kepada pertumbuhan dan penyucian
manusia sebagai prasyarat yang diperlukan sebelum manusia menjalankana tanggung jawab yang ditugaskan kepadanya. Manusia adalah agen perubahan dan pembangunan (agent of change and
development). Oleh karena itu, perubahan dan pembangunan apa pun
yang terjadi sebagai akibat upaya manusia ditujukan bagi kebaikan lain dan tidak hanya bagi pemenuhan kepentingan pribadi.
5. Al-falah, yaitu konsep keberhasilan dalam Islam bahwa keberhasilan apa
pun yang dicapai di kehidupan dunia akan mempengaruhi keberhasilan di akhirat sepanjang keberhasilan yang dicapai semasa hidup di dunia tidak menyalahi petunjuk atau bimbingan yang telah Tuhan tetapkan. Oleh karena itu, tidak ada dikotomi di antara upaya-upaya bagi pembangunan di dunia ataupun persiapan bagi kehidupan akhirat.
6. „Adalah, tanpa disertai keadilan sosio-ekonomi, persaudaraan yang merupakan satu bagian integral dari konsep-konsep sebelumnya akan tetap menjadi konsep yang tidak memiliki substansi. Rasulullah sangat tegas dalam menghadapi perihal keadilan, bahkan Rasulullah menyamakan ketidakadilan dengan dzulm “kegelapan mutlak”. Ibnu Taimiyah juga menegaskan akan pentingnya keadilan. “Tuhan
menegakkan negeri yang adil meskipun kafir, tetapi tidak menegakkan negeri yang tidak adil meskipun beriman.35 Sementara untuk mewujudkan keadilan tersebut setidaknya harus dilakukan dengan cara ; (1) pemenuhan kebutuhan, (2) penghasilan yang diperoleh dari sumber yang baik, (3) distribusi pendapatan dan kekayaan yang adil, (4) pertumbuhan dan stabilitas.36
E. Tantangan Pembangunan dan Indikator Pembangunan 1. Tantangan Pembangunan
Tantangan dalam pembangunan di manapun dan dalam sistem apapun hampir semuanya memiliki permasalahan yang sama, yaitu; kemiskinan, ketimpangan pendapatan, pengangguran, kerusakan lingkungan, ketimpangan pembangunan, dan kerusakan moral masyarakat.
a. Kemiskinan
Kemiskinan adalah akar kata dari miskin dengan awalan ke dan
akhiran an yang menurut kamus bahasa Indonesia mempunyai persamaan arti dengan kefakiran yang berasal dari asal kata fakir dengan awalan ke dan akhiran an. Dua kata tersebut seringkali juga disebutkan secara bergandengan; fakir miskin dengan pengertian orang yang sangat kekurangan. Al-Qur‟an memakai beberapa kata dalam menggambarkan
kemiskinan, yaitu faqir, miskin, al-sail, dan al-mahrum,tetapi dua kata
35
M. Umer Chapra, Islam dan Tantangan Ekonomi, (Surabaya : Risalah Gusti 1999) hal. 229-230
36
yang pertama paling banyak disebutkan dalam ayat al-Qur‟an. Kata fakir
dijumpa dalam al-Qur‟an sebanyak 12 kali dan kata miskin disebut
sebanyak 25 kali,yang masing-masing digunakan untuk pengertian yang hampir sama.37
b. Ketimpangan
Ketimpangan dibagi menjadi dua, ketimpangan pendapatan dan ketimpangan pembangunan antar daerah. Ketimpangan pendapatan adalah kesenjangan dalam distribusi pendapatan antara antara kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi masyarakat dan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Sedangkan penyebab ketimpangan pembangunan antar daerah adalah konsentrasi kegiatan ekonomi yang tinggi di daerah tertentu, misalnya di Indonesia pembangunan lebih terpusat di pulau jawa tepatnya Jakarta. Ekonomi daerah dengan konsentrasi kegiatan ekonomi tinggi cenderung tumbuh pesat. Sedangkan daerah dengan tingkat ekonomi yang rendah cenderung mempunyai tingkat pembanguan dan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah.
c. Pengangguran
Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan
37
M Amin Abdullah, Usaha Memahami Kemiskinan Secara Multidimensional Ditinjau dari Agama, diakses dari www.aminabd.wordpress.com diakses pada tanggal 23 Maret 2014
pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran