HASIL DAN PEMBAHASAN
13. Tumbuhan Penghasil Lain-lain
Dari 12 kategori pengklasifikasian tumbuhan berdasarkan kegunaannya, terdapat 20 jenis di PT SKK, 18 jenis di PT PIP dan 12 jenis tumbuhan di PT PGM yang belum masuk dalam klasifikasi kegunaan. Jenis-jenis ini memiliki spesialisasi kegunaan tersendiri. Ada yang berguna sebagai tumbuhan pencegah erosi, terdapat pada jenis serang (Cratoxylum glaucum) dari famili Hypericaceae. Jenis ini terkenal dengan nama lokal serang, ditemukan pada lokasi PT SKK dan PT PIP. Ada juga yang digunakan sebagai bahan pembuat dayung, yaitu pada
jenis melaban putih (Tristania maingayi) dari famili Myrtaceae. Jenis ini ditemukan di setiap lokasi areal studi. Kemudian terdapat jenis simpur daun besar (Dillenia grandifolia) dari famili Dilleniaceae yang bermanfaat sebagai bahan pembuat pentul korek api. Untuk deskripsi lebih lanjut mengenai detail kategori ini dapat dilihat di Tabel 25.
Tabel 25 Daftar jenis tumbuhan penghasil lain-lain di areal studi No Nama Ilmiah Nama Lokal Bagian yang
dimanfaatkan Penggunaan Perusahaan 1 Erechthites
valerianifolia
Sentrong, sintrong
Pohon Tanaman Pagar 1 2 Dillenia grandifolia Simpur daun
besar
Batang Pentul korek api
1, 2, 3 3 Hevea brasiliensis Getah Pohon Pencegah erosi 1, 2, 3 4 Tristania maingayi Melaban putih Batang Dayung 1, 2, 3 5 Coffea robusta Kopi Biji Minuman 1 6 Trema orientalis Meregang Pohon Pohon peneduh 1, 2 7 Vitex pubescens Papak, kepapa Pohon Tanaman Pagar 1, 2, 3 8 Elaeis guneensis Sawit Palem Minyak nabati 1, 2 9 Calophyllum
pulcherrimum
Bintangur Pohon Pencegah erosi tanah
2, 3 10 Combretocarpus
rotundatus
Perepat Pohon Fungsi ekologi 2 11 Ficus benjamina Kayu ara Pohon Pohon peneduh 1, 2, 3 12 Aquilaria
malaccensis
Garu, kayu garu, gaharu
Akar Bahan baku
sabun dan shampo
2, 3
13 Dyera lowii Jelutung Getah Bahan permen karet
2, 3
Keterangan: 1= PT Sawit Kapuas Kencana, 2= PT Paramitra Internusa Pratama, 3= PT Persada Graha Mandiri
Sumber: Identifikasi dari Pustaka Heyne (1987)
Jenis-jenis tumbuhan penghasil lain-lain yang telah diidentifikasi di areal studi ini dapat dijadikan sebagai informasi dan pengetahuan lebih bagi masyarakat di sekitar areal studi
5.2.2 Keterkaitan Budaya Masyarakat Dayak terhadap Hutan dan Pembangunan Kebun Kelapa Sawit
Suku Dayak merupakan suku asli yang menetap dan tinggal di pulau Kalimantan, salah satu wilayah penyebarannya yaitu di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Suku dayak yang ditemukan pada areal studi di Kabupaten Kapuas Hulu digolongkan kedalam empat suku yaitu: 1) Dayak Iban yang terdapat di Kecamatan Empanang, Puring Kencana (PT SKK) dan Kecamatan Silat hilir (PT PGM), 2) Dayak Tanju yang tersebar di Kecamatan Semitau (PT
PIP), 3) Dayak Kantuk yang terdapat di Kecamatan Puring Kencana (PT SKK), Kecamatan Silat hilir dan Semitau (PT PIP), dan 4) Dayak Sebaru yang tersebar di Kecamatan Silat hilir (PT PGM).
Keberadaan hutan pada masing-masing kawasan dijaga oleh masyarakat, karena disadari bahwa ketersediaan air pada sungai tersebut sangat dipengaruhi oleh keutuhan hutan. Selain untuk kebutuhan air, masyarakat suku dayak yang terdapat di areal studi juga memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan untuk keperluan kesehatan mereka, karena tempat tinggal yang terletak di bukit-bukit dan daya beli masyarakat terhadap obat-obat modern yang rendah. Beberapa jenis tumbuhan obat yang digunakan oleh Etnis Dayak di sekitar areal studi yaitu jenis tumbuhan rugan (Cassia alata L.), gerunggang (Cratoxylum arborescens (Vahl.) BI.), kemalai (Leea indica (Burm.f.) Merr.), rumput mawai (Ageratum conyzoides
L.), dan jambu beras (Psidium guajava L.). Jenis tumbuhan rugan (Cassia alata
L.) digunakan untuk mengobati penyakit gatal, kudis dan kurap dengan daun sebagai bagian yang dimanfaatkan. Kemudian jenis gerunggang (Cratoxylum arborescens (Vahl.) BI.) digunakan untuk mengobati penyakit koreng dan luka dengan akar sebagai bagian yang dimanfaatkan (Sangat et al. 2000). Jenis tumbuhan obat lainnya yang dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak di areal studi secara lengkap disajikan pada Lampiran 11.
Salah satu kegiatan Suku Dayak yang dapat mengganggu kelestarian tumbuhan berguna adalah budaya kegiatan berladang. Ukur dalam Widjono (1995) menjelaskan bahwa sistem perladangan merupakan salah satu ciri pokok kebudayaan Dayak. Ave dan King dalam Arman (1994), mengemukakan bahwa tradisi berladang (siffing cultivation atau swidden) orang Dayak sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang mereka dan merupakan kegiatan mata pencaharian utama.
Dalam konteks pengelolaan sumberdaya hutan berwawasan kearifan tradisional, pada dasarnya di kalangan orang Dayak memiliki cara-cara tertentu dalam memperlakukan kawasan hutan. Menurut Bamba (1996), orang Dayak memandang alam tidak sebagai aset atau kekayaan, melainkan sebagai rumah bersama. Konsep rumah bersama ini terlihat dalam setiap upacara yang mendahului kegiatan tertentu yang berkaitan dengan memanfaatkan hutan, dimana
selalu terdapat unsur permisi atau minta izin dari penghuni hutan yang akan digarap.
Dalam berladang, Suku Dayak umumnya yang mejadi prioritas utama bukan produktivitas tetapi adanya keanekaragaman tanaman yang ditanam. Hal ini dapat dipahami karena suku Dayak bersifat subsisten. Keanekaragaman ini diberlakukan dalam semua jenis usaha pertanian termasuk juga dalam usaha kebun karet. Dalam kegiatan berladang yang ditanam tidak hanya tanaman padi, tetapi juga ditanam berbagai jenis sayur-mayur yang umurnya relatif pendek dibandingkan dengan umur padi. Jenis tanaman lainnya yang ditanami yaitu tengkawang, durian, langsat, nangka, rambai, rambutan, kelapa, pinang dan pisang. Pohon-pohon itu juga merupakan pertanda bahwa hutan tersebut sudah ada yang mengolahnya dan jika orang lain ingin membuka ladang di tempat itu, haruslah minta izin kepada yang pertama kali membuka hutan itu. Setelah seluruh tahapan dalam kegiatan berladang itu dilakukan hingga selesai panen, sebagian bekas ladang itu mereka tanam kembali dengan pohon karet, sedangkan bagian lain dibiarkan tumbuh menjadi hutan kembali agar suatu saat dapat dibuka menjadi ladang.
Rata-rata masyarakat di sekitar areal studi sangat mengharapkan adanya pembangunan areal ijin lokasi kelapa sawit, karena terdapat beberapa posisi dusun di sekitar areal studi yang terisolir (aksesibilitas rendah, sumber pendapatan terbatas, dan fasilitas sosial sangat minim). Dengan pembangunan areal ijin lokasi kelapa sawit masyarakat mengharapkan adanya peningkatan dibidang transportasi, komunikasi, pendidikan, lapangan kerja dan pendapatan.
Terdapat beberapa masalah tentang kepemilikan lahan oleh masyarakat di sekitar areal studi yang berhubungan dengan lahan lokasi perkebunan kelapa sawit. Sebagian besar lahan masyarakat yang terdapat di areal studi tidak dilengkapi dengan surat-surat kepemilikan, karena merupakan lahan adat yang telah diwariskan secara turun menurun. Batas antar lahan pada umumnya berupa batas alam seperti sungai atau pohon. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh Tim Terpadu (2010a, 2010b, 2010c), sangat jarang terjadi konflik batas lahan antar pemilik lahan maupun dengan pihak lain.