• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS PUTUSAN HAKIM DALAM MEMUTUS

B. Studi Putusan Nomor 75/Pid.Sus/2018/PN.SBG

4. Tuntutan Jaksa Penuntut Umum

1) Terdakwa FIRAWATI MORANA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Penghinaan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 310 ayat (1) KUHP;

2) Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa berupa pidana penjara selama 2 (dua) bulan dengan perintah Terdakwa ditahan;

3) Menetapkan pada Terdakwa membayar biaya perkara sejumlah Rp5.000,00(lima ribu rupiah);

5. Fakta Hukum dan Pertimbangan Hakim

Hakim yang mengadili perkara ini dalam putusannya mempertimbangkan yang pokoknya menerangkan sebagai berikut:

1) Bahwa berdasarkan keterangan Saksi-saksi dan Terdakwadiperoleh fakta-fakta hukum sebagai berikut:

- Bahwa pada hari Selasa tanggal 19 September 2017 sekira pukul 16.30 WITA di halaman rumah Saksi Aspia K. Morana beralamat di Kelurahan Kali Kecamatan Biau Kabupaten Buol, Terdakwa telah melakukan penghinaan terhadap Saksi korban Rismawati;

- Bahwa Terdakwa mengatakan kepada Saksi korban Rismawati “Ris, walaupun saya kurus kering saya tidak seperti kau suka merebut suaminya orang, gatal memang kau seperti binatang lebih bagus binatang, memang gatal kau punya pepek“

- Bahwa Terdakwa melakukan penghinaan kepada Saksi korban Rismawati di halaman depan rumah Saksi Aspia K. Morana dan dengan suara yang dapat di dengar oleh banyak orang di sekitar tempat tersebut;

- Bahwa akibat penghinaan tersebut, Saksi korban Rismawati merasa terhina atas perkataan Terdakwa tersebut;

- Bahwa Terdakwa selain melakukan penghinaan terhadap Saksi korban Rismawati, Terdakwa juga sempat melemparkan batu ke atap rumah Saksi Aspia K. Morana;

2) Segala sesuatu yang termuat dalam beritaacara persidangan perkara ini, untuk menyingkat putusan ini dianggap telahtermuat dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan putusan ini.

3) Majelis Hakim akan mempertimbangkanapakah berdasarkan fakta-fakta hukum tersebut diatas, Terdakwa dapat dinyatakan telah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya.

4) Memperhatikan fakta-fakta hukum tersebut diatas memilih langsung dakwaan sebagaimana diatur dalam Pasal 310 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yang unsur-unsurnya adalah sebagai:1. Barang siapa;2. Dengan sengaja;3. Merusak kehormatan atau nama baik seseorang dengan jalan menuduhmelakukan sesuatu perbuatan dengan maksud yang nyata akan tersiarnyatuduhan itu;

5) Ad.1 Unsur Barang siapa;barang siapa atau siapa saja pada dasarnyamenunjukkan pada siapa orangnya yang harus bertanggungjawab atas perbuatanatau kejadian yang didakwakan itu atau setidaknya mengenai siapa orangnya yangmenjadi Terdakwa dalam perkara ini. tegasnya, kata barang siapa menurut bukupedoman pelaksanaan tugas dan administrasi buku II, edisi revisi tahun 2004,halaman 208 dari Mahkamah Agung Republik Indonesia dan putusan MahkamahAgung Republik Indonesia Nomor 1398 K/Pid/1994, tanggal 30 Juni 1995,terminologi kata barang siapa atau HIJ sebagai siapa saja yang harus dijadikanTerdakwa atau dader atau setiap orang sebagai subjek hukum (pendukung hakdan kewajiban) yang dapat diminta pertanggungjawaban dalam segalatindakannya.

6) Dengan demikian konsekuensi logis anasir ini, makaadanya kemampuan bertanggungjawab (toerekeningsvaandaar-heid) tidak perludibuktikan lagi oleh karena setiap subjek hukum melekat erat dengan kemampuanbertanggungjawab sebagaimana ditegaskan dalam memorie van toelichting (MvT);berdasarkan uraian pertimbangan tersebut di atas,Majelis Hakim berpendapat bahwa unsur barang siapa telah terpenuhi secara sahmenurut hukum;

7) Ad.2 Unsur dengan sengaja;Menimbang, bahwa Undang-undang tidak memberikan pengertian tentangapa yang dimaksud dengan sengaja, akan tetapi praktek peradilan untuk dapatmengetahui arti kesengajaan, dapat diambil dari Memorie van Toelichting (MvT)yaitu pidana pada umumnya hendaknya dijatuhkan hanya pada barang siapamelakukan perbuatan yang dilarang, dengan dikehendaki dan diketahui. Dalampengertian ini disebutkan bahwa kesengajaan diartikan sebagai menghendaki danmengetahui (willens en wetens) artinya seseorang yang melakukan suatu tindakandengan sengaja, harus menghendaki serta menginsafi tindakan tersebut dan atauakibatnya. jadi dapatlah dikatakan, bahwa dengan sengaja berarti menghendakidan mengetahui apa yang dilakukan serta menyadari tentang apa yang dilakukandan akibat yang akan timbul dari padanya.

8) Perbuatan yang dilakukan Terdakwa terhadap Saksikorban tersebut merupakan bentuk kesengajaan sebagai maksud (opzet alsoogmerk) karena Terdakwa menghendaki perbuatan tersebut beserta akibatnya;bahwa oleh karena perbuatan tersebut dikehendaki olehTerdakwa disamping mengetahui dan menyadari tentang apa yang dilakukan itudan akibat yang akan timbul

daripadanya;Menimbang, bahwa berdasarkan uraian pertimbangan tersebut di atas,Majelis Hakim berpendapat bahwa unsur dengan sengaja telah terpenuhi secarasah menurut hukum;

9) Ad.3 Unsur menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan jalanmenuduh melakukan sesuatu perbuatan dengan maksud yang nyata akan tersiarnya tuduhan itu; bahwa yang dimaksud dengan menyerang kehormatan ataunama baik seseorang adalah bahwa seseorang dengan perbuatannya hendakmempermalukan seseorang lainnya, keadaan buruk mana apabila diketahui oranglain atau orang banyak menyebabkan seseorang yang dinyatakan itu merasa maluatau tidak enak hati, R. Susilo menyebutkan bahwa penghinaan yaitu menyerangnama baik atau kehormatan seseorang. orang yang diserang biasanya merasamalu dan kehormatan yang diserang disini hanya mengenai kehormatanseseorang sebagai manusia;

10) Terdakwa mengatakan kalimat yang membuat Saksikorban Rismawati merasa malu tersebut terjadi di halaman rumah Saksi Aspia K.Morana yang mana tempat tersebut adalah tempat umum dan pada saat Terdakwamengatakan hal tersebut kepada Saksi korban Rismawati banyak orang yangmendengar dan melihatnya, sehingga hal tersebut dapat diketahui oleh khalayakumum, sementara Terdakwa mengetahui kalimat yang dikeluarkan tersebutkepada diri Saksi korban Rismawati adalah tidak benar;bahwa berdasarkan uraian pertimbangan tersebut di atas,Majelis Hakim berpendapat bahwa unsur menyerang kehormatan atau namabaik seseorang dengan jalan menuduh melakukan sesuatu perbuatandengan maksud yang nyata akan tersiarnya tuduhan itu telah terpenuhi secarasah menurut hukum.

11) Dalam persidangan Majelis Hakim tidak menemukan halhal yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana, baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf, maka Terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya; Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa tidak ditahan dan menurut pendapat Majelis Hakim tidak cukup alasan untuk menahan, maka Terdakwa tidak ditahan sampai perkara ini dinyatakan berkekuatan hukum tetap;

12) Untuk menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa, maka perlu dipertimbangkan terlebih dahulu keadaan yang memberatkan dan keadaan yang meringankan bagi diri Terdakwa; Keadaan yang memberatkan :Perbuatan Terdakwa menyebabkan Saksi korban Rismawati merasa malu;Terdakwa tidak menyesali perbuatannya;Keadaan yang meringankan :Terdakwa belum pernah di hukum;Terdakwa bersikap sopan di persidangan;Terdakwa sebagai Ibu mempunyai Anak untuk diberi nafkah;

13) Suatu konsekuensi dari suatu perbuatan yang melanggarhukum, haruslah dikenakan pidana yang layak dan pantas sesuai denganperbuatannya, bahwa maksud dan tujuan pemidanaan itu sendiri semata-matadimaksudkan tidaklah untuk membuat seseorang menderita ataupun sebagaitindakan pembalasan atas perbuatannya, akan tetapi pemidanaan itu sendiriharuslah memberi manfaat bagi anggota masyarakat pada umumnya dankhususnya berguna pula bagi pribadi Terdakwa agar tidak lagi mengulangiperbuatannya;bahwa oleh karena Terdakwa dijatuhi pidana maka haruslahdibebani membayar biaya perkara;

6. Putusan Hakim

MENGADILI:

1) Menyatakan Terdakwa FIRAWATI MORANA tersebut diatas, telah terbuktisecara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pencemaran nama baik sebagaimana dalam dakwaan alternatif kesatu;

2) Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjaraselama 1 (satu) bulan;

3) Membebankan kepada Terdakwa membayar biaya perkara sejumlahRp5.000,00 (lima ribu rupiah).

7. Analisis Putusan Hakim 1. Dakwaan

Dakwaan merupakan dasar penting dalam hukum acara pidana, karena berdasarkan hal yang dimuat dalam surat itu, hakim akan memeriksa perkara itu.

Pemeriksaan didasarkan kepada surat dakwaan dan menurut Nederburg, pemeriksaan tidak batal jika batasan-batasan nya dilampaui, namun putusan hakim hanya boleh mengenai peristiwa-peristiwa yang terletak dalam batasan-batasan itu, dalam hal ini ada beberapa pengertian surat dakwaan menurut para ahli sebagai berikut:

- Harun M Husein

Surat dakwaan adalah surat yang diberi tanggal dan ditandatangani oleh penuntut umum, yang memuat uraian tentang identitas lengkap terdakwa, perumusan tindak pidana yang didakwakan dengan unsure-unsur tindak pidana sebagaimana dirumuskan dalam ketentuan pidana yang bersangkutan, disertai uraian tentang waktu dan tempat tindak pidana

dilakukan oleh terdakwa, surat yang menjadi dasar dan batas ruang pemeriksaan disamping pengadilan.

- M. Yahya Harahap

Surat dakwaan adalah surat atau akta yng memuat rumusan tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa yang disimpulkan dan ditarik kesimpulan dari hasil penyidikan, dan merupakan dasar serta landasan bagi hakim dalam pemeriksaan di muka sidang pengadilan.

Surat dakwaan menempati posisi sentral dan strategis dalam pemeriksaan perkara pidana di pengadilan, karena itu surat dakwaan sangat dominan bagi keberhasilan pelaksanaan tugas penuntutan. Ditinjau dari berbagai kepentingan yang bekaitan dengan pemeriksaan perkara pidana, maka fungsi surat dakwaan dapat dikategorikan:

- Bagi pengadilan/hakim, surat dakwaan merupakan dasar dan sekaligs membatasi ruang lingkup pemeriksaan, dasar pertimbangan dalam penjatuhan keputusan;

- Bagi penuntut umum, surat dakwaan merupakan dasar pembuktian/analisis yuridis, tuntutan pidana dan penggunaan upaya hukum;

- Bagi terdakwa/ penasihat hukum, surat dakwaan merupakan dasar untuk mempersiapkan pembelaan.

Berdasarkan Putusan Nomor 2/Pid. B/2018/PNBul dakwaan yang di gunakan oleh Jaksa Penuntut Umum adalah dakwaan Alternatif. Dakwaan alternatif adalah dakwaan yang tersusun dari beberapa tindak pidana yang didakwakan antara tindak pidana yang satu dengan tindak pidana yang lain

bersifat saling mengecualikan. Dala dakwaan ini, terdakwa secara faktual didakwakan lebih dari satu tindak pidana, tetapi pada hakikatnya ia hanya didakwa satu tindak pidana saja. Biasanya dalam penulisannya menggunakan kata

„atau‟. Dasar pertimbangan penggunaan dakwaan alternatif adalah karena penuntut umum belum yakin benar tentang kualifikasi atau pasal yang tepat untuk diterapkan pada tindak pidana tersebut , maka untuk memperkecil peluang lolosnya terdakwa dari dakwaan, dipergunakan bentuk dakwaan alternative.

Biasanya dakwaan demikian, dipergunakan dalam hal antara kualifikasi tindak pidana yang satu dengan yang lain menunjukkan cirri yang sama atau hamper bersamaan, misalnya pencurian atau penadahan, penipuan dengan penggelapan, pembunuhan atau penganiayaan, atau pemerkosaan atau pencabulan.

Dakwaan alternatif yang digunakan oleh Jaksa Penuntut Umum primairnya adalah Pasal 310 ayat (1) tentang Pencemaran nama baik dan alternatifnya adalah pasal 311 ayat (1) tentang fitnah. Jika di analisis berdasarkan hasil penyidikan dan fakta persidangan terkemukakanlah bahwasanya pelaku dan saksi korban sudah tidak akur sejak lama dan pernah bertengkar 2 (dua) tahun yang lalu, tetapi akhirnya damai. Hal ini tentu menjadi pertanda bahwa antara pelaku dan saksi korban masih sama sama menyimpan dendam sehingga setiap ejekan yang keluar langsung dibesar-besarkan, apalagi berdasarkan keterangan terdakwa, saksi korban pernah mencoba mengganggu rumah tangga terdakwa.

Dakwaan yang dijatuhkan Jaksa Penuntut Umum kepada terdakwa dirasa sudah sangat tepat, dengan menggunakan dakwaan alternatif, antara Pencemaran nama baik dan fitnah, karena kebenaran tentang apa yang dikatakan oleh sipelaku belum terbukti, sehingga apa yang didakwakan Jaksa sudah sangat tepat.

2. Putusan Hakim

Putusan ialah pernyataan hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan oleh hakim dalam sidang terbuka bentuk umum, sebagai hasil dari pemeriksaan perkara. Putusan dijatuhkan kepada pelaku yang terbukti bersalah, putusan yang dijatuhkan berupa pemidanaan sebagai mana yang diatur dalam pasal 10 KUHP, yaitu:

1. Pidana Pokok a. Hukuman Mati b. Pidana Penjara c. Pidana Kurungan d. Pidana Denda 2. Pidana Tambahan

a. Pencabutan Hak tertentu b. Perampasan hak tertentu c. Pengumuman putusan hakim

Adapun mengenai kualifikasi urutan-urutan dari jenis pidana tersebut didasarkan pada berat ringannya pidana yang diaturnya, yang terberat adalah yang disebutkan terlebih dahulu (pasal 69 KUHP)

Dalam putusan No. 2/Pid. B/2018/PNBul, terdakwa dijatuhi hukuman pidana penjara selama 1 (satu) bulan. Andi Hamzah menegaskan bahwasanya penjara merupakan bentuk pidana yang berupa kehilangan kemerdekaan. Pada umumnya hukuman penjara dijalani dalam suatu ruangan tertentu. Pada masa lalu, pidana penjara dipesoalkan di dunia barat, apakah si terhukum ditempatkan secara terpisah, yakni terasing dari sipelaku lainnya, ataukah tidak karena penjara

tersebut terbuat dari beton yang kokoh dan kuat, sehingga para pelaku terasing dari pergaulan masyarakat luas.50

Adapun tujuan dijatuhkannya pidana terhadap seseorang adalah dimaksudkan untuk mencegah terjadinya pengulangan tindak pidana, mencegah orang lain melkukan perrbuatan pidana yang sama seperti yang dilakukan sipelaku, menyediakan saluran-saluran untuk mewujudkan motif balas51

Roger hood berpendapat bahwa sasaran pidana disamping untuk mencegah si terpidana atau pembuat potensial melakukan tindak pidana juga untuk, pertama memperkuat kembali nilai-nilai sosial, kedua menentramkan rasa takut masyarakat terhadap kejahatan.52

Jika kita lihat lagi dalam putusan tersebut diatas, apa yang menjadi pertimbangan hakim dengan menjatuhkan vonis terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Penghinaan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 310 ayat (1) KUHP; yang dimana dalam Pasal 310 ayat (1) memiliki unsur sebagai berikut:

1. Barang siapa;

2. Dengan sengaja;

3. Merusak kehormatan atau nama baik seseorang dengan jalan menuduh melakukan sesuatu perbuatan dengan maksud yang nyata akan tersiarnya tuduhan itu.

Berdasarkan unsur tersebut, terdakwa sudah memenuhi segala unsurnya dan sudah memenuhi unsur untuk dikatakan telah melakukan perbuatan sebagaimana tertulis dalam Pasal 310 ayat (1) KUHP tentang Pencemaran nama

50 Marlina, Hukum Penitensier, (Bandung: Refika Aditama), 2011, hlm. 87

51Ibid, hlm. 23

52 Muladi dan Arif, Op.Cit, hlm. 21

baik. Tetapi terdakwa di vonis hakim selama 1 bulan penjara menurut analisis penulis belum sesuai dengan tujuan yang diharapkan dalam proses pemidanaan.Hukuman selama satu bulan menurut penulis terlalu ringan untuk dijatuhkan kepada pelaku melihat hinaan yang disampaikan terdakwa menggunakan bahasa-bahsa yang sangat kasar dan didengar oleh banyak orang yang.

Dengan fakta-fakta hukum yang diperoleh selama proses persidangan, tentu hakim seharusnya lebih peka terhadap keadaan yang terjadi, kondisi yang meringankan dan memberatkan bukan hanya berasal dari pelaku, tapi juga dari korban itu sendiri, penulis berpikir bahwa hukuman yang dijatukan hakim belum tentu akan menimbulkan efek jera, dan tujuan tujuan lain yang diinginkan oleh dilaksanakannya proses pemidanaan.

Jika kita bandingkan antara dakwaan jaksa dan putusan hakim ada sedikit perbedaan diantara keduanya, yaitu Tuntutan jaksa berbeda dengan putusan hakim, dan putusan hakim tersebut 1 bulan lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum, dimana Jaksa menuntut pelaku selama dua bulan, sedangkan Hakim memutus satu bulan. hal ini pun penulis berpikir masih kurang tepat, dimana pertimbangan hakim yang petama bahwa pelaku melakukan penghinaan dengan bahasa yang kasar dan tidak pantas dengan suara yang keras sambil membawa parang dan batu.Yang kedua pelaku korban tentunya merasa malu karena apa yang disampaikan terdakwa didengar oleh banyak orang dan anak-anak. namun hakim tidak melihat pertimbangan dari sisi korban, dimana korban mengalami trauma dan menanggung malu, seharusnya hal ini dapat menjadi pemberatan dan penambahan hukuman bagi pelaku, karena perbuatan korban

dianggap dapat menimbulkan keadaan yang berkelanjutan, bahkan setelah sipelaku di penjara, maka seharusnya hakim perlu mempertimbangkan dari sisi korban itu sendiri diluar daripada kesalahan yang ditimbulkan oleh pelaku, demi terciptanya keaadilan dan keamanan serta memberikan efek jera yang nyata kepada masyarakat.

B. Studi Putusan Nomor 75/Pid.Sus/2018/PN.Sbg 1. Identitas Terdakwa

Dalam Putusan Nomor 75/Pid.Sus/2018/PN.Sbg pengadilan Negeri Sibolga mengadili perkara pidana dengan acara pemeriksaan biasa dalam tingkat pertama menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam perkara terdakwa :

a. Nama Lengkap : Humisar Charles Pardede Alias Charles Pardede;

b. Tempat Lahir/ Tanggal Lahir : Medan/6 September 1976

c. Umur : 41 Tahun

d. Jenis Kelamin : Laki-Laki

e. Kebangsaan : Indonesia

f. Tempat Tinggal : Jalan Padang Sidempuan Lubuk Tukko Kelurahaan Lubuk Tukko Kecamatan Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah

g. Agama : Kristen

h. Pekerjaan : Wartawan

2. Posisi Kasus

Dalam Perkara Nomor 75/Pid.Sus/2018/PN.Sbg Pengadilan Negeri Sibolga menjelaskan bahwa Bahwa pada hari Selasa tanggal 04 Oktober 2016 sekira pukul 17.00 Wib saat korban berada dirumahnya di Jalan Merdeka Nomor 5 Barus Kecamatan Barus Kabupaten Tapanuli Tengah Darwinsyah Hutagalung menelpon korban dan memberitahukan bahwa ada status Facebook milik terdakwa HUMISAR CHARLES PARDEDE yang isinya mencemarkan nama baik korban. Bahwa tidak berapa lama sesudah Darwin menelpone korban, Darwinsyah Hutagalung pun datang bersama Akhmad Syukri Nazry Penarik kerumah korban, selanjutnya oleh korban bersama Darwinsyah Hutagalung dan Akhmad Syukri Nazry Penarik membuka website www.facebook.comuntuk memastikan kebenaran muatan kata-kata atau kalimat yang bernada penghinaan dan atau pencemaran nama baik terhadap korban.

Bahwa setelah website www.facebook.comberhasil dibuka, bernar korban melihat kata-bata atau kalimat yang telah diposting oleh terdakwa Humisar Charles Pardede di akun facebooknya Humisar Charles Charles tertanggal 03 Oktober 2016 pukul 23.40 Wib dengan kalimat sebagai berikut :Wakil ketua DPRD Tapteng, Awaluddin Rao, ST :Pengangkatan TKS Medis menjadi Honor Daerah sebanyak 375 orang Sarat kepentingan dan Suap, setiap orang yang diangkat menjadi honor Daerah diduga dipungli 30 juta yang tidak menyanggupi tidak jadi diangkat menjadi Honda.

Bakhtiar Ahmad Sibarani coba suap saya 200 juta dan oknum Kadis Kesehatan sosorkan 10 jatah TKS kepada saya asalkan pada pembahasan P-APBD Tapteng 2016 ikut sayabahas selaku wakil Ketua DPRD Tapteng, demikian

dikatakan wakil Ketua DPRD Tap-Teng, Senin (3/10) dibilangan Parkiran Kantor DPRD Tapteng usai membahas P-APBD Tapteng.

Kalau sudah begini yang terjadi di Lembaga DPRD Tapteng saat ni dan di Pemkab Tapteng semua harus makai uang, kita masyarakat berkata apa...?????

Selanjutnya pada tanggal 05 Oktober 2016 pukul 10.35 Wib Humisar Charles Pardede kembali memposting kalimat di akun facebooknya Humisar Charles charles dengan kata-kata sebagai berikut:

Ketua DPRD Tapteng Bakhtiar Ahmad Sibarani Vs Wakil Ketua DPRD Tapteng Awaluddin Rao, ST : menurut wakil ketua DPRD Tapteng, Awaluddin Rao, ST dia tawarkan Bakhtiar Ahmad uang sebesar Rp.200 juta dan 10 TKS agar d pembahasan P-APBD Tapteng 2016 disejutui oleh Awaluddin Rao, ST akan tetapi tawaran coba suap itu ditolaknya mentah-mentah dan membuat Bakhtiar Ahmad Sibarani menjadi galau dan bila hasil pengesahan pengangkatan Tenaga Kerja Sukarela (TKS) menjadi Honor Daerah (Honda), hal ini diungkapkan Rao dihadapan seluruh SKPD Tapteng dan Sekda Drs. Hendrik Susanto Lumbantobing saat rapat pembahasan P-APBD 2016 di gedung DPRD.

Rao dan Bakhtiar berdebat dan terdengar keluar kata-kata Bakhtiar menantang Rao agar melaporkan Bakhtiar ke KPK, Polisi soal adanya indikasi suap pengangkatan Honda sebanyak 375 orang yang terdengar adanya dana pelican untuk pengangkatan TKS.Disamping itu Rao, mengatakan saya selaku wakil Ketua DPRD sangat prihatin nantinya kepada para Honda Tapteng yang diangkat sebanyak 375 orang itu dan nantinya hanya menerima gaji / honor selama 2 bulan saja yang selebihnya Rao tidak tahu. Sembari Rao mengharapkan kepada sejumlah Honda yang telah menyerahkan uang Rp.30 Juta itu kepada para

calo-calo yang kita duga merupakan orang suruhan Bakhtiar.Kita menduga Bakhtiar Ahmad Sibarani dalam hal pengangkatan Honda yang tujuannya untuk menggalang dana pribadinya untuk kepentingan Pemilukada Tapteng 2017-2022 karena kita mengetahui sosok Baktiar merupakan calon Bupatei Tapteng.Disini saya salut kepada Baktiar,karena dia telah mampu memberikan iming-iming kepada masyarakat Tapteng dengan menjanjikan seseorang dapat diangkat menjadi Honda dan dia mengharapkan agar para Honda tersebut nantinya memberikan dukungan kepada pasangan Bakhtiar-Darwin (Badar).

Dalam kasus ini kiranya aparat hukum yang ada di NKRI, kiranya menyikapi persoalan ini dan mengusut dugaan suap para TKS yang diangkat menjadi Honda dan bila perlu rekening pribadi milik Bakhtiar Ahmad Sibarani diawasi oleh PPATK dan KPK. (****). Bahwa atas kata-kata atau kalimat yang telah diposting oleh terdakwa melalui akun facebooknya Humisar Charles Charles tersebut korban merasa keberatan, karena kehormatan dan nama baik korban menjadi tercemar apalagi saat kejadian korban menjabat sebagai Ketua DPRD Kab Tapanuli Tengah sehingga hal tersebut dapat mengurangi kepercayaan masyarakat kepada korban, hingga akhirnya korban melaporkan peristiwa ini ke pihak Kepolisian gunaproses penyidikan lebih lanjut;

3. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam Pidana” dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan atau pencemaran nama baik “ dalam Pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 ayat (3) UU RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas

UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dalam dakwaan tunggal;

4. Tuntutan Jaksa Penuntut Umum

Dalam Putusan Nomor 75/Pid.Sus/2018/PN.Sbg Jaksa Penuntut Umum menuntutnya yang pada pokoknya sebagai berikut :

1) Menyatakan terdakwa Humisar Charles Pardede alias Charles Pardede bersalah melakukan tindak pidana “dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/ atau mentransmisikan dan/ atau membuat dapat diaksesnya informasi Elektronik dan/ atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan atau pencemaran nama baik” sebagaimana diatur dan diancam pidana pasal27 ayat (3) Jo pasal 45 ayat (3)UU RI No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronikdalam dakwaan tunggal;

2) Menjatuhkan pidana penjara terhadap Terdakwa Humisar Charles Pardede alias Charles Pardede tersebut oleh karena itu dengan pidana penjara selama 3 (tiga) tahun dan 6 (enam) bulan penjara dan denda sebesar Rp.200.000.000,-(dua ratus juta rupiah) subsider 6 (enam) bulan kurungan;

3) Menyatakan barang bukti berupa :

-4 (empat) lembar print out status akun facebook atas nama Humisar Charles Charles yang diposting pada tanggal 03 Oktober 2016 yang intinya berisikan kata-kata penghinaan atau pencemaran nama baik terhadap Bakhtiar Ahmad

-4 (empat) lembar print out status akun facebook atas nama Humisar Charles Charles yang diposting pada tanggal 03 Oktober 2016 yang intinya berisikan kata-kata penghinaan atau pencemaran nama baik terhadap Bakhtiar Ahmad

Dokumen terkait