• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.6 Metode Analisis Data

3.6.2 Uji Asumsi Klasik

Uji normalitas data bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

regresi yang baik adalah yang memilki distribusi normal atau mendekati normal.

Alat analisis yang digunakan pada penelitian ini dalam uji normalitas adalah uji

Kolmogorov – Smirnov. Alat ini digunakan untuk memberikan angka-angka yang

lebih detail untuk menguatkan apakah terjadi normalitas atau tidak dari data-data

yang digunakan. “Normalitas terjadi apabila hasil dari Asyimp. Sign Kolmogorov

– Smirnov lebih dari 0,05”, (Ghozali, 2011:165).

2. Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independent). “Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen”, (Ghozali, 2011:105). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas di

dalam model regresi dapat dilihat dari nilai Tolerance dan Variance Inflation

Factor (VIF). Pedoman suatu model regresi yang bebas dari multikolonieritas adalah mempunyai nilai VIF kurang dari 10 dan nilai Tolerance lebih besar dari

0,10.

3. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui terjadinya

penyimpangan model karena varian gangguan antara satu observasi. Model

regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi

heteroskedastisitas. Cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas

dapat dilakukan dengan melihat grafik plot nilai prediksi variabel terikat yaitu

ZPRED dengan residulnya SRESID. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas

antara SRESID dan ZPRED. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada

membentuk pola tertentu yang teratur maka mengindikasikan telah terjadi

heteroskedastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas

dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas

(Ghozali, 2011:139).

3.6.3 Analisis Regresi Linier Berganda

“Analisis linier berganda adalah metode statistik untuk menguji pengaruh antara satu variabel terikat dengan lebih dari satu varaibel bebas”, Ghozali (2011:7). Analisis ini digunakan untuk mengetahui persamaan regresi pengaruh

surat pemberitahuan pajak terutang, pelayanan perpajakan dan kesadaran wajib

pajak terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar Pajak Bumi dan

Bangunan Perdesaan dan Perkotaan di Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes.

Untuk mengetahui pengaruh antar variabel bebas digunakan persamaan regresinya

dengan rumus:

Y = + + Dengan pengertian:

Y = nilai estimasi Y (Kepatuhan Wajib Pajak)

= Koefisien regresi (konstanta)

1 = Koefisien regresi SPPT

= Koefisien regresi Pelayanan Perpajakan

= koefisien regresi Kesadaran Wajib Pajak

X1 = Variabel Surat Pemberitahuan Pajak Terutang X2 = Variabel Pelayanan Perpajakan

X3 = Variabel Kesadaran Wajib Pajak

= Variabel independen lainnya (error)

Perhitungan regresi linier berganda dilakukan menggunakan program

SPSS For Windows Release 16.0 dengan melihat output pada kolom coefficient

bagian beta.

3.6.4 Pengujian Hipotesis Penelitian 1. Uji Parsial (Uji t)

“Uji parsial digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen” (Ghozali, 2011:178). Pengujian dilakukan dengan menggunakan significance level 0,05 (a=5%). Uji t digunakan

untuk menguji koefisien regresi secara parsial dari variabel independennya.

Kriteria uji yang digunakan adalah:

1. Jika nilai signifikan < (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. 2. Jika nilai signifikan > (0,05), maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Hipotesis yang diajukan yaitu:

1) H0 = X1, X2, X3 = 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.

2) Ha = X1, X2, X3 tidak sama dengan 0, artinya terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.

2. Uji Simultan (Uji F)

“Uji pengaruh simultan digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama sama atau simultan mempengaruhi variabel dependen” (Ghozali, 2011:177). Uji F digunakan untuk mengetahui apakah semua

variabel independen (SPPT, pelayanan perpajakan dan kesadaran wajib pajak)

mempunyai pengaruh yang sama terhadap variabel dependen (kepatuhan wajib

pajak). Pengujian dilakukan dengan menggunakan nilai signifikansi, yang terdapat

pada tabel Analysis of Variance (ANOVA) yang dihitung melalui SPSS For

Windows Release 16.0.

Kriteria uji yang digunakan adalah:

1. Jika nilai signifikasi < (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima.

2. Jika nilai signifikan > (0,05), maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Hipotesis yang diajukan yaitu:

1. Ha diterima artinya SPPT, pelayanan perpajakan dan kesadaran wajib pajak

secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.

2. Ha ditolak artinya artinya SPPT, pelayanan perpajakan dan kesadaran wajib

pajak secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib

pajak.

3. Koefisien Determinasi (Uji R2)

Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengukur ketepatan yang paling baik dari analisis regresi berganda. Jika nilai R2 mempunyai interval antara 0 R2 1. Semakin besar R2 ( mendekati 1), semakin baik hasil untuk model regresi tersebut dan semakin mendekati 0, maka variabel independen secara

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Analisis Deskriptif Persentase

Analisis deskriptif persentase ini bertujuan untuk mendeskripsikan

masing-masing indikator dalam setiap variabel agar lebih mudah dipahami.

Analisis deskriptif persentase dalam penelitian ini digunakan mengetahui

gambaran dari masing-masing variabel dalam penelitian ini yaitu SPPT (X1),

pelayanan perpajakan (X2), kesadaran wajib pajak (X3) dan kepatuhan wajib

pajak (Y). Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 104 responden Wajib

Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan. Deskripsi dari tiap variabel

dapat diketahui dari analisis deskripstif persentase yang disajikan sebagai berikut:

1. Kepatuhan Wajib Pajak

Kepatuhan Wajib Pajak Bumi dan Bangunan dari penelitian ini diperoleh

dari kuesioner penelitian dengan jumlah pernyataan sebanyak 3 butir. Masing-

masing butir pernyataan memiliki 5 alternatif jawaban yaitu jawaban SS (sangat

setuju) dengan skor 5, S (setuju) dengan skor 4, KS (kurang setuju) dengan skor 3,

TS (tidak setuju) dengan skor 2 dan STS (sangat tidak setuju dengan skor 1.

Kriteria penilaian skor untuk variabel kepatuhan wajib pajak ada 5 alternatif yaitu

sangat baik, baik, kurang baik, tidak baik, dan sangat tidak baik. Adapun hasil

analisis deskriptif persentase untuk variabel kepatuhan wajib pajak diperoleh hasil

Tabel 4.1

Hasil Deskriptif Persentase Variabel Kepatuhan Wajib Pajak Interval Skor Persentase Kriteria Jumlah

Frekuensi Persentase 84% < % Skor ≤100% Sangat Baik 58 56,00%

68%< % Skor ≤84% Baik 19 18,00%

52%< % Skor ≤68% Kurang Baik 25 24,00%

36%< % Skor ≤52% Tidak Baik 2 2,00%

20%< % Skor ≤ 36% Sangat Tidak Baik 0 0%

Jumlah 104 100%

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan Tabel di atas menunjukan bahwa dari 104 responden yang

menjadi sampel menunjukan bahwa sebanyak 58 responden atau dengan

persentase 56% menyatakan bahwa kepatuhan wajib pajak dalam kriteria sangat

baik. Kemudian kriteria baik sebesar 18% atau 19 responden, kriteria kurang baik

sebesar 24% atau 25 responden dan kriteria tidak baik sebesar 2% atau 2

responden sedangkan kriteria sangat tidak baik 0%. Hasil rata-rata persentase

analisis deskriptif variabel kepatuhan wajib pajak masuk dalam kriteria baik yaitu

sebesar 79,74%. Hal ini menggambarkan bahwa kepatuhan wajib pajak baik.

Secara lebih rinci variabel kepatuhan wajib pajak dibagi dalam tiga

indikator, yaitu membayar pajak sesuai dengan kewajiban/jumlah pajak terutang,

tepat waktu dalam membayar pajak sebelum jatuh tempo dan tidak memiliki

tunggakan. Lebih jelas mengenai deskripsi variabel Kepatuhan Wajib Pajak dapat

dilihat dari deskripsi per indikator yang akan diuraikan satu per satu sebagai

a. Deskripsi Indikator Membayar pajak sesuai dengan kewajiban/jumlah pajak terutang

Deskripsi dari indikator ini berdasarkan kuesioner dari responden dalam

penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.2

Hasil Deskriptif Persentase Indikator Membayar Pajak Sesuai dengan Kewajiban/Jumlah Pajak Terutang

Interval Skor

Persentase Kriteria

Jumlah

Frekuensi Persentase

84% < % Skor ≤100% Sangat Baik 11 11,54%

68%< % Skor ≤84% Baik 65 62,50%

52%< % Skor ≤68% Kurang Baik 24 23,08%

36%< % Skor ≤52% Tidak Baik 3 2,88%

20%< % Skor ≤ 36% Sangat Tidak Baik 0 0%

Jumlah 104 100%

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Tabel 4.2 menunjukan bahwa dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui

bahwa sebanyak 65 responden atau 62,50% masuk dalam kriteria baik, sedangkan

kriteria sangat baik 12 responden atau 11,54%, kriteria kurang baik 24 responden

atau 23,08% dan kriteria tidak baik 3 responden atau 2,99%. Rata-rata jawaban

dari 104 responden untuk indikator ini sebesar 76,54% dan termasuk dalam

kategori baik.

b. Deskripsi Indikator Tepat Waktu dalam Membayar Pajak Sebelum Jatuh Tempo

Deskripsi dari indikator ini berdasarkan kuesioner dari responden dalam

Tabel 4.3

Hasil Deskriptif PersentaseIndikator Tepat Waktu dalam Membayar Pajak Sebelum Jatuh Tempo

Interval Skor

Persentase Kriteria

Jumlah

Frekuensi Persentase

84% < % Skor ≤100% Sangat Baik 17 16,35%

68%< % Skor ≤84% Baik 61 58,65%

52%< % Skor ≤68% Kurang Baik 22 21,15%

36%< % Skor ≤52% Tidak Baik 4 3,85%

20%< % Skor ≤ 36% Sangat Tidak Baik 0 0%

Jumlah 104 100%

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan tabel 4.3 tersebut, menunjukan bahwa hasil penelitian

tersebut dapat diketahui bahwa sebanyak 17 responden (16,35%) masuk dalam

kriteria sangat baik, 61 responden (58,65%) masuk dalam kriteria baik, 22

responden (21,15%) masuk dalam kriteria kurang baik, sedangkan 4 responden

(3,85%) masuk dalam kriteria tidak baik dan kriteria sangat tidak baik 0

responden (0%) atau tidak ada responden yang menjawab. Rata-rata jawaban

responden untuk indikator tepat waktu membayar pajak sebelum jatuh tempo

mempunyai nilai rata-rata skor 77,50% termasuk dalam kriteria baik.

c. Deskriptif Indikator Tidak Mempunyai Tunggakan Pajak

Deskripsi dari indikator ini berdasarkan kuesioner dari 104 responden

Tabel 4.4

Hasil Deskriptif PersentaseIndikator Tidak Mempunyai Tunggakan Pajak Interval Skor

Persentase Kriteria

Jumlah

Frekuensi Persentase

84% < % Skor ≤100% Sangat Baik 55 52,38%

68%< % Skor ≤84% Baik 23 21,90%

52%< % Skor ≤68% Kurang Baik 24 22,86%

36%< % Skor ≤52% Tidak Baik 2 1,90%

20%< % Skor ≤ 36% Sangat Tidak Baik 0 0%

Jumlah 104 100%

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Tabel 4.4 tersebut menunjukan bahwa hasil penelitian tersebut diketahui

bahwa sebanyak 55 responden (52,38%) masuk dalam kriteria sangat baik, 23

responden (21,90%) masuk dalam kriteria baik, 24 responden (22,86%) masuk

dalam kriteria kurang baik, sedangkan 2 responden (1,90%) masuk dalam kriteria

tidak baik dan kriteria sangat tidak baik sebesar 0% atau tidak ada responden yang

menjawab pada kriteria ini. Rata-rata persentase untuk indikator tidak mempunyai

tunggakan pajak diperoleh rata-rata jawaban dari 104 responden sebesar 85,19%

dan termasuk dalam kategori sangat baik.

2. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)

Data mengenai Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) diperoleh dari

kuesioner penelitian ini dengan indikator yang terdiri dari 7 butir pernyataan.

Masing-masing butir pernyataan memiliki 5 alternatif jawaban yaitu jawaban SS

(sangat setuju) dengan skor 5, S (setuju) dengan skor 4, KS (kurang setuju)

dengan skor 3, TS (tidak setuju) dengan skor 2 dan STS (sangat tidak setuju

dengan skor 1. Kriteria penilaian skor untuk variabel kepatuhan wajib pajak ada 5

Adapun hasil analisis deskriptif untuk variabel SPPT dari jawaban kuesioner

dapat diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.5

Hasil Deskriptif PersentaseVariabel Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Interval Skor

Persentase Kriteria

Jumlah

Frekuensi Persentase

84% < % Skor ≤100% Sangat Baik 15 14,00%

68%< % Skor ≤84% Baik 28 27,00%

52%< % Skor ≤68% Kurang Baik 47 45,00%

36%< % Skor ≤52% Tidak Baik 14 13,00%

20%< % Skor ≤ 36% Sangat Tidak Baik 0 0%

Jumlah 104 100%

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan Tabel 4.6 menunjukan bahwa dari hasil penelitian tersebut

dapat diketahui bahwa jawaban responden menyatakan SPPT telah masuk dalam

kriteria sangat baik sebanyak 15 responden (14%), kriteria baik sebanyak 28

responden (27%), kriteria kurang baik sebanyak 47 responden (45%) sedangkan

14 responden (13%) masuk dalam kriteria tidak baik sedangkan kriteria sangat

tidak baik sebesar 0% atau tidak ada responden yang menjawab bahwa SPPT

sangat tidak baik. Rata-rata persentase untuk variabel Surat Pemberitahuan Pajak

Terutang diperoleh rata-rata jawaban dari 104 responden sebesar 67,83% yang

termasuk dalam kriteria kurang baik.

Berdasarkan data tersebut analisis deskriptif Surat Pemberitahuan Pajak

Terutang masuk dalam kriteria kurang baik yaitu dilihat dari rata-rata persentase

sebesar 67,83%. Hal ini menggambarkan bahwa SPPT yang diterima oleh Wajib

menunjang kepatuhan wajib pajak dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan

Perdesaan dan Perkotaan.

Secara lebih rinci variabel SPPT dibagi dalam 7 indikator. Analisis

deskriptif persentase untuk masing-masing indikator SPPT adalah sebagai berikut:

a. Deskriptif Indikator Data Wajib Pajak pada SPPT

Deskripsi dari indikator Data Wajib Pajak pada SPPT berdasarkan

kuesioner dari responden dalam penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.6

Hasil Deskriptif Persentase Indikator Data Wajib Pajak pada SPPT Interval Skor

Persentase Kriteria

Jumlah

Frekuensi Persentase

84% < % Skor ≤100% Sangat Baik 14 13,46%

68%< % Skor ≤84% Baik 62 59,62%

52%< % Skor ≤68% Kurang Baik 19 18,27%

36%< % Skor ≤52% Tidak Baik 8 7,69%

20%< % Skor ≤ 36% Sangat Tidak Baik 1 0,96%

Jumlah 104 100%

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa hasil penelitian tersebut

dapat diketahui bahwa responden paling banyak menjawab dalam indikator ini

59,62% atau 62 responden dalam kriteria baik, adapun sebanyak 14 responden

(13,46%) dalam kriteria sangat baik, 19 responden (18,27%) dalam kriteria kurang

baik dan 8 responden (7,69%) dalam kriteria tidak baik sedangkan responden

paling sedikit adalah 0,96% atau 1 responden dalam kriteria sangat tidak baik.

Rata-rata persentase untuk indikator Data wajib pajak pada SPPT dengan 104

b. Deskriptif Indikator Luas Tanah pada SPPT

Deskripsi dari indikator Luas Tanah pada SPPT berdasarkan kuesioner

dari responden dalam penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.7

Hasil Deskriptif Persentase Indikator Luas Tanah pada SPPT Interval Skor

Persentase Kriteria

Jumlah

Frekuensi Persentase

84% < % Skor ≤100% Sangat Baik 13 12,50%

68%< % Skor ≤84% Baik 42 40,38%

52%< % Skor ≤68% Kurang Baik 38 36,54%

36%< % Skor ≤52% Tidak Baik 11 10,58%

20%< % Skor ≤ 36% Sangat Tidak Baik 0 0%

Jumlah 104 100%

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan tabel diatas, menunjukan bahwa hasil penelitian tersebut

dapat diketahui sebanyak 13 responden (12,50%) termasuk dalam kriteria sangat

baik, 42 responden (40,38%) termasuk dalam baik, 38 responden (36,54%)

termasuk dalam kriteria kurang baik, 11 responden (10,58%) termasuk dalam

kriteria tidak baik dan kriteria sangat tidak baik sebesar 0% atau tidak ada

responden yang menjawab pada kriteria ini. Rata-rata persentase untuk indikator

luas tanah pada SPPT diperoleh rata-rata sebesar 70,96% termasuk dalam kriteria

baik.

c. Deskriptif Indikator Luas Bangunan Pada SPPT

Deskripsi dari indikator Luas Bangunan pada SPPT berdasarkan kuesioner

Tabel 4.8

Hasil Deskriptif PersentaseIndikator Luas Bangunan pada SPPT Interval Skor

Persentase Kriteria

Jumlah

Frekuensi Persentase

84% < % Skor ≤100% Sangat Baik 11 10,58%

68%< % Skor ≤84% Baik 38 36,54%

52%< % Skor ≤68% Kurang Baik 42 40,38%

36%< % Skor ≤52% Tidak Baik 13 12,50%

20%< % Skor ≤ 36% Sangat Tidak Baik 0 0%

Jumlah 104 100%

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan tabel 4.8 menunjukan dari hasil penelitian tersebut diketahui

bahwa sebanyak 11 responden (10,58%) termasuk dalam kriteria sangat baik, 38

responden (36,54%) termasuk dalam baik, 42 responden (40,38%) termasuk

dalam kriteria kurang baik, 13 responden (12,5%) termasuk dalam kriteria tidak

baik dan kriteria sangat tidak baik sebesar 0% atau tidak ada responden yang

menjawab bahwa SPPT dalam indikator luas bangunan pada SPPT sangat tidak

baik. Rata-rata persentase untuk indikator luas bangunan pada SPPT diperoleh

rata-rata jawaban dari 104 responden sebesar 69,04% dan termasuk dalam kriteria

baik.

d. Deskriptif Persentase NJOP Tanah pada SPPT

Deskripsi dari indikator NJOP Tanah pada SPPT berdasarkan kuesioner

Tabel 4.9

Hasil Deskriptif Persentase Indikator NJOP Tanah pada SPPT Interval Skor

Persentase Kriteria

Jumlah

Frekuensi Persentase

84% < % Skor ≤100% Sangat Baik 10 9,62%

68%< % Skor ≤84% Baik 29 27,88%

52%< % Skor ≤68% Kurang Baik 51 49,04%

36%< % Skor ≤52% Tidak Baik 14 13,46%

20%< % Skor ≤ 36% Sangat Tidak Baik 0 0%

Jumlah 104 100%

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan tabel 4.9, menunjukan dari hasil penelitian tersebut dapat

diketahui bahwa sebanyak 10 responden (9,62%) termasuk dalam kriteria sangat

baik, 29 responden (27,88%) termasuk dalam baik, 51 responden (49,04%)

termasuk dalam kriteria kurang baik, 14 responden (13,46%) termasuk dalam

kriteria tidak baik, kriteria sangat tidak baik sebesar 0% atau tidak ada responden

yang menjawab bahwa SPPT dalam indikator NJOP tanah pada SPPT sangat tidak

baik. Rata-rata persentase untuk indikator NJOP tanah pada SPPT diperoleh rata-

rata jawaban dari 104 responden sebesar 66,73% dan termasuk dalam kriteria

kurang baik.

e. Deskriptif Persentase Indikator NJOP Bangunan pada SPPT

Deskripsi dari indikator NJOP Bangunan pada SPPT berdasarkan

kuesioner dari responden dalam penelitian ini diperoleh hasil pada tabel sebagai

Tabel 4.10

Hasil Deskriptif Persentase Indikator NJOP Bangunan pada SPPT Interval Skor

Persentase Kriteria

Jumlah

Frekuensi Persentase

84% < % Skor ≤100% Sangat Baik 11 10,58%

68%< % Skor ≤84% Baik 31 29,81%

52%< % Skor ≤68% Kurang Baik 44 42,31%

36%< % Skor ≤52% Tidak Baik 18 17,31%

20%< % Skor ≤ 36% Sangat Tidak Baik 0 0%

Jumlah 104 100%

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan tabel 4.10 menunjukan dari hasil penelitian tersebut dapat

diketahui bahwa sebanyak 11 responden (10,58%) termasuk dalam kriteria sangat

baik, 31 responden (29,81%) termasuk dalam baik, 44 responden (42,31%)

termasuk dalam kriteria kurang baik, 18 responden (17,31%) termasuk dalam

kriteria tidak baik. Kriteria sangat tidak baik sebesar 0% atau tidak ada responden

yang menjawab bahwa SPPT dalam indikator NJOP bangunan sangat tidak baik.

Rata-rata persentase untuk indikator NJOP bangunan pada SPPT diperoleh rata-

rata jawaban dari 104 responden sebesar 66,73% dan termasuk dalam kriteria

kurang baik.

f. Tempat pembayaran pajak yang tertera di SPPT

Deskripsi dari indikator tempat pembayaran pajak yang tertera di SPPT

berdasarkan kuesioner dari responden dalam penelitian ini diperoleh hasil sebagai

Tabel 4.11

Hasil Deskriptif Persentase Indikator Tempat Pembayaran Pajak yang Tertera di SPPT

Interval Skor

Persentase Kriteria

Jumlah

Frekuensi Persentase

84% < % Skor ≤100% Sangat Baik 9 8,65%

68%< % Skor ≤84% Baik 19 18,27%

52%< % Skor ≤68% Kurang Baik 22 21,15%

36%< % Skor ≤52% Tidak Baik 53 50,96%

20%< % Skor ≤ 36% Sangat Tidak Baik 1 0,00%

Jumlah 104 100%

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan tabel 4.11 menunjukan dari hasil penelitian tersebut dapat

diketahui bahwa sebanyak 9 responden (8,65%) termasuk dalam kriteria sangat

baik, 19 responden (18,27%) termasuk dalam baik, 22 responden (21,15%)

termasuk dalam kriteria kurang baik, 53 responden (50,96%) termasuk dalam

kriteria tidak baik sedangkan 1 responden (0,96%) termasuk dalam kriteria sangat

tidaka baik. Rata-rata persentase untuk indikator tempat pembayaran pajak yang

terteara di SPPT diperoleh rata-rata jawaban dari 104 responden sebesar 56,54%

dan termasuk dalam kriteria kurang baik.

g. Deskriptif Persentase Indikator Tanggal Jatuh Tempo yang Tertera pada SPPT

Deskripsi dari indikator tanggal jatuh tempo yang tertera pada SPPT

berdasarkan kueisioner dari responden dalam penelitian ini diperoleh hasil sebagai

Tabel 4.12

Hasil Deskriptif Persentase Indikator Tanggal Jatuh Tempo yang Tertera pada SPPT

Interval Skor

Persentase Kriteria

Jumlah

Frekuensi Persentase

84% < % Skor ≤100% Sangat Baik 13 12,50%

68%< % Skor ≤84% Baik 30 28,85%

52%< % Skor ≤68% Kurang Baik 56 53,85%

36%< % Skor ≤52% Tidak Baik 5 4,81%

20%< % Skor ≤ 36% Sangat Tidak Baik 0 0%

Jumlah 104 100%

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan tabel 4.12 menunjukan dari hasil penelitian tersebut dapat

diketahui bahwa sebanyak 13 responden (12,50%) termasuk dalam kriteria sangat

baik, 30 responden (28,85%) termasuk dalam baik, 56 responden (53,85%)

termasuk dalam kriteria kurang baik, 5 responden (4,81%) termasuk dalam

kriteria tidak baik. Kriteria sangat tidak baik sebesar 0% atau tidak ada reponden

yang menjawab bahwa SPPT dalam indikator tanggal jatuh tempo yang tertera

sangat tidak baik. Rata-rata persentase untuk indikator tanggal jatuh tempo yang

tertera pada SPPT diperoleh rata-rata jawaban dari 104 responden sebesar 70,19%

dan termasuk dalam kriteria baik.

3. Pelayanan Perpajakan

Data mengenai pelayanan perpajakan diperoleh dari kuesioner penelitian

ini diukur dengan indikator yang terdiri dari 5 butir pernyataan. Masing-masing

butir pernyataan memiliki 5 alternatif jawaban yaitu jawaban SS (sangat setuju)

dengan skor 5, S (setuju) dengan skor 4, KS (kurang setuju) dengan skor 3, TS

penilaian skor untuk variabel pelayanan perpajakan ada 5 alternatif yaitu sangat

baik, baik, kurang baik, tidak baik, dan sangat tidak baik. Berdasarkan

perhitungan analisis deskriptif persentase untuk variabel pelayanan perpajakan

adalah sebagai berikut:

Tabel 4.13

Hasil Deskriptif Persentase Variabel Pelayanan Perpajakan Interval Skor

Persentase Kriteria

Jumlah

Frekuensi Persentase

84% < % Skor ≤100% Sangat Baik 23 22,00%

68%< % Skor ≤84% Baik 24 23,00%

52%< % Skor ≤68% Kurang Baik 30 30,00%

36%< % Skor ≤52% Tidak Baik 26 25,00%

20%< % Skor ≤ 36% Sangat Tidak Baik 0 0%

Jumlah 104 100%

Sumber: data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan Tabel 4.13 menunjukan bahwa dari hasil penelitian tersebut

dapat diketahui dari 104 responden yang menjadi sampel, responden yang

menyatakan pelayanan perpajakan masuk dalam kriteria sangat baik sebanyak 23

responden (22%), kriteria baik sebanyak 24 responden (23%), kriteria kurang baik

sebanyak 31 responden (30%), dan sebanyak 26 responden (25%) termasuk dalam

kriteria tidak baik sedangkan kriteria sangat tidak baik sebesar 0% atau tidak ada

responden yang menjawab bahwa pelayanan perpajakan sangat tidak baik. Rata-

rata persentase untuk variabel pelayanan perpajakan diperoleh rata-rata jawaban

dari 104 responden sebesar 68,46% dan termasuk dalam batas minimum kriteria

Secara lebih rinci variabel Pelayanan Perpajakan dibagi dalam 5 indikator.

Analisis deskriptif persentase untuk masing-masing indikator Pelayanan

Perpajakan adalah sebagai berikut:

a. Deskriptif Persentase Mekanisme Penyampaian SPPT

Deskriptif dari indikator Mekanisme Penyampaian SPPT berdasarkan

kuesioner dari responden dalam penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.14

Hasil Deskriptif Persentase Indikator Mekanisme Penyampaian SPPT Interval Skor

Persentase Kriteria

Jumlah

Frekuensi Persentase

84% < % Skor ≤100% Sangat Baik 11 12,58%

68%< % Skor ≤84% Baik 43 41,35%

52%< % Skor ≤68% Kurang Baik 40 38,46%

36%< % Skor ≤52% Tidak Baik 10 9,62%

20%< % Skor ≤ 36% Sangat Tidak Baik 0 0%

Jumlah 104 100%

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan tabel 4.14 menunjukan bahwa hasil penelitian tersebut dapat

diketahui sebanyak 11 responden (10,58%) termasuk dalam kriteria sangat baik,

43 responden (41,35%) termasuk dalam baik, 40 responden (38,46%) termasuk

dalam kriteria kurang baik, 10 responden (9,62%) termasuk dalam kriteria tidak

baik dan kriteria sangat tidak baik sebesar 0% atau tidak ada responden yang

menjawab bahwa pelayanan perpajakan dalam indikator mekanisme penyampaian

SPPT sangat tidak baik. Rata-rata persentase untuk indikator mekanisme

penyampaian SPPT diperoleh rata-rata jawaban dari 104 responden sebesar

b. Deskriptif Persentase Indikator Mekanisme Pembayaran SPPT

Deskriptif dari indikator Mekanisme Pembayaran SPPT berdasarkan

kuesioner dari responden dalam penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.15

Hasil Deskriptif Persentase Indikator Mekanisme Pembayaran SPPT Interval Skor

Persentase Kriteria

Jumlah

Frekuensi Persentase

84% < % Skor ≤100% Sangat Baik 21 20,19%

68%< % Skor ≤84% Baik 33 31,73%

52%< % Skor ≤68% Kurang Baik 41 39,42%

36%< % Skor ≤52% Tidak Baik 9 8,65%

20%< % Skor ≤ 36% Sangat Tidak Baik 0 0%

Jumlah 104 100%

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan tabel 4.15 menunjukan bahwa dari hasil penelitian tersebut

Dokumen terkait