BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
B. Metode Regresi Linier Berganda
2. Uji Asumsi Klasik
Pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan terlebih dahulu menguji ada tidaknya pelanggaran terhadap asumsi-asumsi klasik. Regresi linier berganda memiliki syarat asumsi klasik yang harus dipenuhi sebelum data tersebut dianalisis yaitu sebagai berikut:
a) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji model regresi linier apabila ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya (Situmorang, 2009:78). Uji autokorelasi hanya dilakukan pada data time series (runtut waktu). Pengujian ada tidaknya problem autokorelasi dapat dilihat dari rasio statistik Durbin Watson (Yamin dan Heri, 2009:86).
Tabel 1.4
Tingkat Autokorelasi (Durbin Watson)
DW Kesimpulan
Kurang dari 1,10 Ada autokorelasi 1,10 – 1,54 Tidak ada kesimpulan 1,55 – 2,46 Tidak ada autokorelasi 2,47 – 2,90 Tidak ada kesimpulan b) Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas dapat dilihat dari rasio tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF) kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel
independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Tolerance adalah mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. VIF < 5 maka tidak terdapat persoalan multikolinearitas (Situmorang, 2009:104).
c) Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji model regresi apabila terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan kepengamatan lainnya. Varians dari satu residual pengamatan ke pengamatan lainnya jika tetap maka terjadi homoskedastisitas jika berbeda maka disebut heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang tidak terjadi heterokedastisitas (Situmorang, 2009:65). 3) Pengujian Kelayakan Model (Uji Goodness of Fit)
Adjusted R Square menunjukkan proporsi variabel dependen yang dijelaskan oleh variabel independen. Rasio yang semakin tinggi maka akan semakin baik bagi model regresi karena menandakan bahwa kemampuan variabel bebas menjelaskan variabel terikat juga semakin besar.
c. Pengujian Hipotesis
Uji hipotesis berguna untuk memeriksa atau menguji apakah koefisien regresi yang didapat signifikan. Ada dua jenis koefisien regresi yang dapat dilakukan yaitu uji F dan uji t.
1) Uji F
F test untuk menguji apabila variabel bebas secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan atau tidak signifikan dengan variabel terikat (Y).
Ho : = = 0, artinya secara simultan variabel CAR, NPL, LDR, GWM, BOPO, dan NIM tidak memenuhi model penelitian.
Ha : = 0, maka dianggap variabel
telah memenuhi model penelitian terhadap variabel independen. Pengambilan keputusan:
diterima jika ≤ pada α = 5% diterima jika > pada α = 5%
2) Uji t untuk menguji koefisien regresi secara parsial dari variabel terikat.
Ho : = 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel CAR, terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ha : ≠ 0, artinya terdapat pengaruh signifikan dari variabel CAR, terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ho : = 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel NPL, terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ha : ≠ 0, artinya terdapat pengaruh signifikan dari variabel NPL, terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ho : = 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel LDR, terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ha : ≠ 0, artinya terdapat pengaruh signifikan dari variabel LDR, terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ho : = 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel GWM, terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ha : ≠ 0, artinya terdapat pengaruh signifikan dari variabel GWM, terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ho : = 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel BO/PO, terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ha : ≠ 0, artinya terdapat pengaruh signifikan dari variabel BO/PO, terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ho : = 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel NIM, terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Ha : ≠ 0, artinya terdapat pengaruh signifikan dari variabel NIM, terhadap variabel pertumbuhan laba secara parsial.
Pengambilan keputusan:
diterima jika ≤ ≤ pada α = 5% diterima jika > > pada α = 5%
BAB II
URAIAN TEORITIS
A. Penelitian Terdahulu
Usman (2003) dalam Azizah (2007) meneliti pengaruh rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba pada bank-bank di Indonesia, dimana rasio-rasio yang digunakan adalah Quick Ratio, Loan To Deposit Ratio (LDR), Operating Profit Margin (OPM), Net Profit Margin (NPM), Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BO/PO), Return On Asset (ROA), Capital Adequacy Ratio (CAR), Leverage Multiplier, Credit Risk Ratio (CRR) dan Deposit Risk Ratio (DRR). Hasil menunjukkan bahwa Quick Ratio, ROA, Leverage Multiplier dan DRR merupakan variabel yang tepat digunakan untuk memprediksikan laba perusahaan di masa yang akan datang. Rasio BO/PO, LDR, OPM, NPM, CAR, CRR, mempunyai pengaruh yang negatif terhadap laba tahun mendatang.
Kartikasari (2006) dalam Haryanti (2007) meneliti prediksi pertumbuhan laba dengan menggunakan rasio keuangan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Surabaya dan menganalisis tujuh rasio keuangan yaitu Gross Profit Margin, Net Profit Margin, Return On Assets, Return On Equity, Cash Ratio, Primary Ratio, dan Capital Adequacy Ratio. Hasilnya menunjukkan bahwa tujuh rasio keuangan tersebut terbukti signifikan sebagai prediktor pertumbuhan laba satu tahun yang akan datang.
Ni Ketut (2007) meneliti pengaruh CAMEL terhadap kinerja perusahaan. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa Capital, Asset Quality, Management, Earning, dan Liquidity (CAMEL) pada tahun 1997 - 2001 berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA). Hasil analisis menunjukkan bahwa 6 variabel independen (X) yang terdiri atas CAR, RORA, NPM, OEOI, CML, LDR memiliki pengaruh terhadap ROA sebesar 52,8%.
B. Bank Umum
Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak (Undang–Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan). Bank berdasarkan kegiatan usahanya dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran (Triandaru, 2008:84).
Bank Umum merupakan bank yang bertugas melayani segenap lapisan masyarakat, baik masyarakat perorangan maupun lembaga-lembaga lainnya. Bank Umum menawarkan jasa yang bersifat umum, dalam arti dapat memberikan seluruh jasa perbankan yang ada. Jasa-jasa bank mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam. Bank Umum juga dikenal dengan nama bank komersil (commercial bank).
Kegiatan-kegiatan usaha yang dapat dilakukan Bank Umum yaitu (Triandaru, 2008:84):
1. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan dan/atau bentuk lainnya yang dapat dipersamakan dengan itu.
2. Memberikan kredit.
3. Menerbitkan surat pengakuan utang.
4. Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah (transfer).
5. Menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau meminjamkan dana kepada pihak lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel tunjuk, cek atau sarana lainnya.
6. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga (safe deposit box).
7. Melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
8. Melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit, dan kegiatan wali amanat.
9. Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak.
10.Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang dan peraturan perundangan lain yang berlaku.
Jenis-jenis bank terdiri dari (Kasmir, 2002:34): 1. Bank dari segi kepemilikannya
Bank ditinjau dari segi kepemilikan maksudnya adalah siapa saja yang memiliki bank tersebut.
a. Bank milik pemerintah
Bank milik pemerintah adalah bank yang akte pendirian maupun modalnya dimiliki oleh pemerintah, sehingga seluruh keuntungan bank ini dimiliki oleh pemerintah. Bank milik pemerintah daerah (Pemda) terdapat di daerah tingkat I dan tingkat II masing-masing propinsi.
b. Bank milik swasta nasional
Bank jenis ini seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh swasta nasional, misalnya Bank Danamon, Bank Central Asia, Bank Internasional Indonesia.
c. Bank milik asing
Bank jenis ini merupakan cabang dari bank yang ada di luar negeri, baik milik swasta asing maupun pemerintah asing, misalnya HSBC, Citibank dan Bank of Tokyo.
d. Bank milik campuran
Kepemilikan saham bank campuran dimiliki oleh pihak asing dan pihak swasta nasional. Kepemilikan sahamnya secara mayoritas dipegang oleh warga negara Indonesia. Contohnya, Bank Commonwealth, Bank Merincorp dan Bank Sakura Swadharma.
2. Bank dari segi status
Bank dilihat dari segi kemampuannya dalam melayani masyarakat baik dalam jumlah produk, modal maupun kualitas pelayanannya terbagi atas dua bagian yaitu:
a. Bank devisa
Bank devisa adalah bank yang dapat melaksanakan transaksi ke luar negeri atau yang berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan, misalnya Bank Mega, Bank CIMB Niaga dan Bank Ekonomi Raharja.
b. Bank non devisa
Bank non devisa merupakan bank yang belum mempunyai izin untuk melaksanakan transaksi sebagai bank devisa, misalnya Bank Dipo Internasional dan Bank Jasa Jakarta.
C. Pertumbuhan Laba
Kinerja suatu perusahaan merupakan hasil dari serangkaian proses dengan mengorbankan berbagai sumber daya. Parameter kinerja perusahaan salah satunya yaitu laba. Laba adalah kenaikan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban.
Menurut Arfan dan Herkulanus (2008:206-209), laba merupakan item laporan keuangan mendasar dan penting yang memiliki berbagai kegunaan dalam berbagai konteks. Laba secara umum diyakini sebagai dasar untuk:
1. Laba merupakan dasar untuk perpajakan dan pendistribusian kembali kesejahteraan diantara individual. Versi laba seperti ini dikenal sebagai laba kena pajak, dihitung sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh badan fiskal pemerintah.
2. Laba diyakini sebagai petunjuk bagi kebijakan dividen perusahaan dan penyimpanan. Laba merupakan indikator jumlah maksimum yang dapat didistribusikan sebagai dividen dan ditahan untuk ekspansi atau diinvestasikan kembali dalam perusahaan.
3. Laba dipandang sebagai petunjuk investasi dan pembuatan keputusan.
4. Laba diyakini sebagai sarana prediksi yang membantu dalam memprediksi laba masa mendatang.
5. Laba diyakini sebagai ukuran efisiensi. Laba merupakan ukuran pengelolaan manajemen atas sumber daya perusahaan dan efisiensi manajemen dalam menjalankan kegiatan perusahaan.
Laba yang diperoleh tidak dapat dipastikan, oleh karena itu dibutuhkan suatu prediksi pertumbuhan laba. Pertumbuhan laba adalah perubahan persentase kenaikan laba yang diperoleh perusahaan. Pertumbuhan laba yang baik, mengisyaratkan bahwa perusahaan mempunyai kinerja yang baik, yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai perusahaan. Dividen yang akan dibayar di masa mendatang besarnya sangat bergantung pada prospek pertumbuhan laba dan pertumbuhan perusahaan itu sendiri, semakin tinggi tingkat pertumbuhan laba perusahaan, maka semakin besar jumlah dividen yang akan dibayarkan.
Menurut Hanafi dan Halim dalam Haryanti (2007), pertumbuhan laba dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
1. Besarnya perusahaan
Perusahaan jika semakin besar maka ketepatan pertumbuhan laba yang diharapkan semakin tinggi.
2. Umur perusahaan
Perusahaan yang baru berdiri kurang memiliki pengalaman dalam meningkatkan laba, sehingga ketepatannya masih rendah.
3. Tingkat leverage
Perusahaan yang memiliki tingkat hutang tinggi, maka manajer cenderung memanipulasi laba sehingga mengurangi ketepatan pertumbuhan laba.
4. Tingkat penjualan
Tingkat penjualan di masa yang akan datang yang meningkat membuat pertumbuhan laba semakin tinggi.
5. Perubahan laba masa lalu
Perubahan laba di masa lalu jika semakin besar, semakin tidak pasti laba yang diperoleh di masa yang akan datang.
Menurut Anoraga dan Pakarti dalam Haryanti (2007) ada dua macam analisis untuk menentukan pertumbuhan laba yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal.
1. Analisis fundamental adalah analisis kinerja perusahaan berdasarkan data yang berasal dari perusahaan, baik berupa laporan keuangan, laporan tahunan maupun informasi lain mengenai seluk-beluk perusahaan (Raharjo, 2006:127).
Para analis fundamental mencoba memprediksikan pertumbuhan laba di masa yang akan datang dengan mengestimasi faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi pertumbuhan laba yang akan datang, yaitu kondisi ekonomi dan kondisi keuangan yang tercermin melalui kinerja perusahaan.
2. Analisis teknikal sering dipakai oleh investor, dan biasanya data atau catatan pasar yang digunakan berupa grafik. Analisis ini berupaya untuk memprediksi pertumbuhan laba di masa yang akan datang dengan mengamati perubahan laba di masa lalu. Teknik ini mengabaikan hal-hal yang berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan.
Analisis yang digunakan untuk menentukan pertumbuhan laba dalam penelitian ini adalah analisis fundamental. Analisis fundamental merupakan analisis yang berkaitan dengan kinerja perusahaan. Salah satu bagian dari analisis fundamental adalah analisis rasio yaitu analisis dengan menggunakan hubungan matematis antarvariabel keuangan yang satu dengan yang lain. Menurut Sartono (2001) dalam Yuniastuti (2009), analisis rasio dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan finansial masa lalu, masa sekarang dan untuk memproyeksikan hasil atau laba yang akan datang.
D. Permodalan (Capital)
Bank dalam menjalankan usahanya tidak terlepas dari modal yang harus dimilikinya. Modal merupakan salah satu faktor yang penting bagi bank dalam rangka pengembangan usaha dan menampung resiko kerugian (Judisseno, 2002:131).
Modal bank terdiri dari (Loen dan Sonny, 2008:96): i. Modal Inti
a. Modal disetor, yaitu modal yang telah disetor secara efektif oleh pemiliknya;
b. Agio saham, yaitu selisih lebih setoran modal yang diterima bank sebagai akibat dari harga saham yang melebihi nominal;
c. Cadangan umum, yaitu cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba ditahan yang mendapat persetujuan RUPS atau rapat umum anggota bagi bank yang berbadan hukum koperasi;
d. Cadangan tujuan, yaitu bagian laba setelah pajak yang disisihkan untuk tujuan tertentu yang mendapat persetujuan RUPS atau rapat umum anggota bagi bank yang berbadan hukum koperasi;
e. Laba ditahan, yaitu laba bersih yang oleh RUPS atau rapat umum anggota diputuskan untuk tidak dibagi;
f. Laba tahun lalu, yaitu 50% dari laba bersih tahun-tahun lalu dan belum ditentukan penggunaannya oleh RUPS atau rapat umum anggota;
g. Laba tahun berjalan, yaitu 50% dari laba yang diperoleh dalam tahun buku berjalan setelah dikurangi taksiran pajak;
h. Bagian kekayaan bersih anak perusahaan. ii. Modal Pelengkap
a. Cadangan revaluasi aktiva tetap, yaitu cadangan yang dibentuk dari selisih perasioan kembali aktiva tetap setelah mendapat persetujuan Direktorat Jenderal Pajak;
b. Cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan, yaitu cadangan yang dibentuk dengan membebani laba rugi tahun berjalan;
c. Modal kuasi, yaitu modal yang didukung oleh instrumen atau warkat yang memiliki sifat seperti modal;
d. Pinjaman subordinasi, yaitu pinjaman dari anak perusahaan yang harus memenuhi persyaratan dan mendapat persetujuan dari Bank Indonesia. Aspek permodalan merasio komponen-komponen sebagai berikut (Triandaru, 2008:53):
1. Kecukupan pemenuhan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) terhadap ketentuan yang berlaku.
2. Komposisi permodalan.
3. Tren ke depan atau proyeksi KPMM.
4. Aktiva produktif yang diklasifikasikan dibandingkan modal bank.
5. Kemampuan bank memelihara kebutuhan penambahan modal yang berasal dari keuntungan (laba ditahan).
6. Rencana permodalan bank untuk mendukung pertumbuhan usaha. 7. Akses kepada sumber permodalan.
8. Kinerja keuangan pemegang saham untuk meningkatkan permodalan.
Ketentuan modal minimum bank yang berlaku di Indonesia mengikuti standar Bank for International Settlement (BIS). Bank Indonesia mewajibkan setiap bank umum menyediakan modal minimum sebesar 8% dari Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR). CAR menunjukkan seberapa besar modal bank telah memadai untuk menunjang kebutuhannya dan sebagai dasar untuk
merasio prospek kelanjutan usaha bank bersangkutan. Semakin besar CAR maka akan semakin besar daya tahan bank yang bersangkutan dalam menghadapi penyusutan rasio harta bank yang timbul karena adanya harta bermasalah.
Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Perasioan Tingkat Kesehatan Bank Umum, semakin tinggi rasio CAR menunjukkan semakin sehat bank tersebut. Rasio modal yang lebih tinggi akan mengurangi tingkat aktivitas bisnis dan akan mengakibatkan turunnya laba bank (Hardanto, 2006:36).
E. Kualitas Aset (Asset Quality)
Non Performing Loans (NPL) adalah perbandingan antara kualitas aktiva produktif bermasalah (kredit bermasalah) terhadap aktiva produktif. Semakin besar jumlah kredit bermasalah dari seluruh kredit yang diberikan akan dapat menurunkan tingkat laba bank (Retnadi dan Eko, 2006:8). Kualitas aset adalah kualitas aktiva produktif. Aktiva produktif adalah penanaman dana bank baik dalam Rupiah maupun valuta asing dalam bentuk kredit, surat berharga, penempatan dana antarbank, penyertaan, termasuk komitmen dan kontinjensi pada transaksi rekening administratif (Judisseno, 2002:135).
Aspek kualitas aset merasio komponen-komponen sebagai berikut (Triandaru, 2008:53):
1. Aktiva produktif yang diklasifikasikan dibandingkan total aktiva produktif. 2. Debitor inti kredit di luar pihak terkait dibandingkan dengan total kredit.
3. Perkembangan aktiva produktif bermasalah (non performing asset) dibandingkan aktiva produktif.
4. Tingkat kecukupan pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP).
5. Kecukupan kebijakan dan prosedur aktiva produktif.
6. Sistem kaji ulang (review) internal terhadap aktiva produktif. 7. Dokumentasi aktiva produktif.
8. Kinerja penanganan aktiva produktif bermasalah.
Non Performing Loan (NPL) merupakan salah satu indikator kesehatan kualitas aset bank. Perasioan kualitas aset merupakan perasioan terhadap kondisi aset bank dan kecukupan manajemen risiko kredit. Istilah Non Performing Loan disebut juga kredit bermasalah. Kredit bermasalah adalah kredit yang kategori kolektibilitasnya di luar kolektibilitas kredit lancar dan kredit dalam perhatian khusus. Kredit bermasalah mencakup kredit kurang lancar, diragukan dan macet. Kredit merupakan kredit yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak termasuk kredit kepada bank lain).
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kredit bermasalah adalah sebagai berikut (Loen dan Sonny, 2008:107):
1. Faktor Eksternal
a. Keadaan ekonomi secara makro b. Fluktuasi kurs yang mencolok c. Peraturan/kebijakan pemerintah d. Persaingan dalam suatu sektor industri
e. Persaingan tidak sehat dan budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme f. Sistem perpajakan yang menghambat investasi
2. Faktor Internal Nasabah Bank a. Mismanagement
b. Kesulitan keuangan c. Kesalahan dalam produksi
d. Kesalahan dalam strategi pemasaran
e. Sengketa antara pemilik dengan direksi perusahaan 3. Faktor Internal Bank
a. Mark up yang dilakukan dengan sengaja b. Feasibility study yang direkayasa
c. Kolusi antara pejabat bank dengan nasabah
d. Kurang ketatnya monitoring kredit dan supervise proyek e. Kurangnya keahlian dalam menganalisis kredit
f. Surat sakti pemilik bank atau KKN dengan elite politik
g. Kesalahan dalam memilih sektor industri yang dibiayai dengan fasilitas kredit.
Implikasi bagi bank sebagai akibat dari timbulnya kredit bermasalah tersebut adalah (Loen dan Sonny, 2007:95):
1. Hilangnya kesempatan untuk memperoleh pendapatan dari kredit yang diberikan sehingga mengurangi perolehan laba.
2. Rasio Kualitas Aktiva Produktif atau Bad Debt Ratio menjadi semakin besar sehingga memperburuk kinerja bank.
3. Bank harus memperbesar cadangan untuk Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang diklasifikasikan sesuai ketentuan yang ditetapkan Bank Indonesia.
4. Return on Asset (ROA) akan menurun.
F. Rentabilitas (Earnings)
Aspek rentabilitas merasio komponen-komponen sebagai berikut (Triandaru, 2008:54):
1. Pengembalian atas aktiva (Return On Assets – ROA). 2. Pengembalian atas ekuitas (Return On Equity – ROE). 3. Margin bunga bersih (Net Interest Margin – NIM).
4. Biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BO/PO). 5. Pertumbuhan laba operasional.
6. Komposisi portofolio aktiva produktif dan diversifikasi pendapatan. 7. Penerapan prinsip akuntansi dalam pengakuan pendapatan dan biaya. 8. Prospek laba operasional.
Rasio yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Net Interest Margin (NIM)
Net Interest Margin (NIM) pada dasarnya adalah perbedaan antara pendapatan bunga (pinjaman, sekuritas) dan beban bunga (deposito, dana pinjaman). Kenaikan pendapatan dari periode ke periode akan meningkatkan pertumbuhan laba perusahaan (Yuwono, 2002:162). Biaya operasional yang tinggi menjadi penghambat bank untuk memangkas bunga kredit. Bank Indonesia akan
mengatur standar perhitungan margin bunga bersih perbankan agar lebih proporsional dan wajar terhadap semua komponen biaya guna mendorong penurunan bunga kredit turun lebih cepat.
2. Rasio Biaya Operasional/Pendapatan Operasional
Rasio BO/PO (Biaya Operasional Pendapatan Operasional), yaitu rasio biaya operasional yang dikeluarkan untuk menghasilkan pendapatan operasional. Kenaikan pendapatan dari periode ke periode akan meningkatkan pertumbuhan laba perusahaan (Yuwono, 2002:162). Rasio BO/PO digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Biaya operasional dihitung berdasarkan penjumlahan dari total beban bunga dan total beban operasional lainnya. Pendapatan operasional adalah penjumlahan dari total pendapatan bunga dan total pendapatan operasional lainnya.
G. Likuiditas (Liquidity)
Likuiditas bank adalah kemampuan bank untuk memenuhi kewajibannya, terutama kewajiban dana jangka pendek. Bank wajib menyediakan likuiditas yang cukup dan mengelolanya dengan baik, karena apabila likuiditas tersebut terlalu kecil maka akan mengganggu kegiatan operasional bank, namun demikian likuiditas juga tidak boleh terlalu besar, karena apabila jumlah likuditas terlalu besar maka akan menurunkan efisiensi bank sehingga berdampak pada rendahnya tingkat profitabilitas.
Aspek likuiditas merasio komponen-komponen sebagai berikut (Triandaru, 2008:54):
1. Aktiva likuid kurang dari 1 bulan dibandingkan pasiva likuid dari 1 bulan. 2. 1 – month maturity mismatch ratio.
3. Rasio pinjaman terhadap Dana Pihak Ketiga (Loan to Deposit Ratio – LDR). 4. Proyeksi arus kas 3 bulan mendatang.
5. Ketergantungan pada dana antarbank dan deposan inti.
6. Kebijakan dan pengelolaan likuiditas (Assets and Liability Management – ALMA).
7. Kemampuan bank untuk memperoleh akses kepada pasar uang, pasar modal, atau sumber-sumber pendanaan lainnya.
8. Stabilitas Dana Pihak Ketiga (DPK).
Rasio likuiditas yang digunakan sebagai alat analisis dalam penelitian ini yaitu Giro Wajib Minimum dan Loan to Deposit Ratio. Reserve Requirement atau lebih dikenal juga dengan Likuiditas Wajib Minimum atau giro dipelihara dalam bentuk giro di Bank Indonesia bagi semua bank (Margaretha, 2007:59). Mulai bulan Juli 2004, BI mengenakan kenaikan GWM berdasarkan jumlah DPK yang dimiliki setiap bank. Tujuan utama pengenaan GWM tambahan ini adalah untuk mengurangi likuiditas bank-bank besar (Retnadi dan Eko, 2006:260).
GWM merupakan perbandingan giro pada Bank Indonesia terhadap seluruh dana yang berhasil dihimpun atau disebut juga perbandingan jumlah alat likuid terhadap jumlah Dana Pihak Ketiga. Kebijakan kenaikan GWM akan langsung berpengaruh pada biaya dana yang pada akhirnya akan menurunkan laba
bank (Retnadi dan Eko, 2006:209). Alat likuid terdiri dari kas ditambah saldo rekening giro di Bank Indonesia. Dana Pihak Ketiga terdiri dari giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan dan kewajiban jangka pendek lainnya. Dana Pihak Ketiga (DPK) meliputi seluruh DPK dalam Rupiah ataupun valuta asing pada seluruh kantor bank yang bersangkutan di Indonesia.
Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) berkaitan dengan kemampuan bank