IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Deskripsi Variabel
4.3.2. Uji Deret Integrasi
Dalam hal hasil ADF test menunjukkan bahwa data time series yang diamati tidak stasioner dalam bentuk level, maka perlu dilakukan transformasi
melalui proses differencing agar data menjadi stasioner. Data dalam bentuk difference merupakan data yang telah diturunkan dengan periode sebelumnya, dimana bentuk derajat pertama (first difference) dapat dinotasikan dengan I(1) kemudian prosedur ADF test kembali dilakukan apabila data time series yang diamati masih belum stasioner pada derajat pertama sehinggga kembali dilakukan differencing yang kedua (second difference) untuk memperoleh data yang stasioner.
Tabel 4.2. Hasil Unit Root Test pada tingkat First Difference
No Dickey-Fuller test t-Statistic Prob. Keterangan 1. Sjt (Penawaran Jagung) -3.672240 0.0145 Stasioner 2. Pjt (Harga Jagung) -3.431096 0.0244 Stasioner 3. Pjt-1 (Harga Jagung t-1) -4.592920 0.0025 Stasioner 4. Lpj ( Luas Area Panen) -3.829653 0.0106 Stasioner 5. Hpu (Harga Pupuk Urea) -4.756246 0.0016 Stasioner Sumber : Hasil Olahan Eviews
Pada Tabel 4.2. dari hasil pengolahan diatas dapat dilihat dalam uji stasioneritas uji akar unit pada tingkat first difference yaitu menunjukkan Nilai ADF probabilitasnya pada semua variabel lebih kecil dari Ξ± = 0,05, ini menunjukkan bahwa variable Sjt, Pjt, Pjt-1, Lpj, dan Hpu stasioner pada tingkat first difference.
4.3.3. Uji Lag Lenght
Langkah selanjutnya adalah menetukan panjangnya lag yang optimal.
Dalam Distributed lag model, penentuan panjangnya lag merupakan hal yang penting karena lag yang terlalu panjang akan mengurangi banyaknya degree of freedom, sedangkan terlalu pendek akan mengarah pada kesalahan spesifikasi.
Dalam menentukan kandidat lag yang terpilih adalah panjang lag menggunakan kriteria Likehood Ratio (LR), Final Prediction Error (FPE), Akaike Information
Crition (AIC), Schwarz Information Crition (SC), dan Hannan-Quin Crition (HQ). Indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah Akaike Information Criterion (AIC).
Tabel 4.3. Hasil pengujian lag Optimal
Lag LogL LR FPE AIC SC HQ
0 -14.1604 NA 0.288821 1.595832 1.645539 1.604245 1 22.4722 65.5532* 0.006792* -2.15497* -2.05556* -2.13815*
Sumber : Hasil Olahan Eviews
Prinsip indikator tersebut adalah memberikan penalty atas penambahan regressor pada suatu persamaan termasuk dalam persamaan yang mengandung lag. Nilai terendah dari indikator AIC merupakan model yang paling baik. Dengan demikian, dalam menentukan panjang lag yang dipilih adalah kriteria AIC yang terkecil. Dari hasil pengolahan data pada Tabel 4.3. dapat dilihat bahwa dalam pengujian lag length pada harga jagung (Pjt) merupakan nilai AIC pada lag 1 adalah nilai terendah, maka lag yang digunakan dalam penelitian ini adalah lag 1.
4.3.4. Uji Kointegrasi
Uji kointegrasi dilakukan untuk mengetahui keberadaan hubungan antar variabel, khususnya dalam jangka panjang. Jika terdapat kointegrasi pada variabel variabel yang digunakan di dalam model, maka dapat dipastikan adanya hubungan jangka panjang diantara variabel. Metode yang dapat digunakan dalam menguji keberadaan kointegrasi ini adalah metode Johansen Cointegration.
Tabel 4.4. Hasil Uji Kointerasi
Unrestricted Cointegration Rank Test (Trace) Hypothesized
Sumber : Hasil Olahan Eviews
Dari hasil output diatas dapat dilihat bahwa nilai trace statistik lebih >
critical value yaitu 57.97890 > 47.85613, maka hipotesis alternatif yang menyatakan jumlah kointegrasi diterima sehingga dapat diketahui berapa jumlah persamaan yang terkointegrasi dalam system dan dalam jangka panjang terdapat kointegrasi didalam model persamaan tersebut.
4.4. Estimasi Distributed Lag Model dengan OLS
Penelitian ini menggunakan analisis distributed lag model, karena dalam penelitian ini variable dependen dipengaruhi oleh variable independent pada waktu t, dan dipengaruhi juga oleh variable independent pada waktu t-1, dan seterusnya.
Tabel 4.5. Estimasi Distributed Lag Model dengan OLS
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 4.034763 2.208691 1.826766 0.0877
Pjt(Harga Jagung) 0.050244 0.263000 0.191042 0.8511 Pjt-1 (Harga Jagungt-1) 0.656341 0.236989 2.769500 0.0143 Lpj(Luas panen jagung) 0.542799 0.192665 2.817318 0.0130 Hpu(Harga Pupuk Urea) -0.270403 0.239401 -1.129495 0.2764 Prob(F-statistic) 0.000000
Sumber : Hasil Olahan Eviews
Dari hasil output diatas maka didapatkan persamaan distributed lag model dalam bentuk logaritma natural sebagai berikut :
πΏππππ‘ = πΌ + π½1πππππ‘+ π½2πππππ‘β1+ π½3πππΏππ + π½4πππ»ππ’ + ππ‘
πΏππππ‘ = 4.034763+ 0.050244πππππ‘+ 0.656341πππππ‘β1 + 0.542799πππΏππ - 0.270403πππ»ππ’
4.4.1. Interpretasi Nilai Probability F-statistic
Nilai dari Prob F-statistic lebih kecil dari signifikansi Ξ± sebesar 0.05 yakni 0.000. Hal ini dapat diartikan bahwa secara bersama-sama/serentak variabelvariabel bebas dalam model yakni harga jagung (Pjt), harga jagung
sebelumnya (Pjt-1), luas area panen jagung (Lpj), dan harga pupuk urea (Hpu) memiliki pengaruh nyata terhadap variabel terikat penawaran jagung di Provinsi Sumatera Utara (Sjt) dengan signifikan Ξ± = 5 %
4.4.2. Interpretasi Nilai Probability Secara Parsial
Menurut Prayitno (2014) Uji t digunakan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel bebasnya secara sendiri-sendiri berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat dimana jika sig > 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak dan sebaliknya jika sig < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima.
1. Pengaruh Harga Jagung (Pjt) Terhadap Penawaran Jagung (Sjt)
Berdasarkan data yang diuraikan pada Tabel 4.5 nilai signifikan harga jagung sebesar 0.8511 yaitu lebih besar dibandingkan dengan Ξ± sebesar 0,05 (5%).
Dengan demikian H0 diterima, H1 ditolak. Ini menunjukkan bahwa harga jagung tidak berpengaruh nyata terhadap penawaran jagung. Berdasarkan nilai koefisien harga jagung memiliki hubungan positif dengan penawaran jagung yaitu sebesar 0.050244 maka setiap peningkatan harga jagung sebesar 1.000 Rupiah maka akan maningkatkan penawaran sebesar 5,02 ton. Harga jagung pada tahun t tidak mempengaruhi penawaran jagung karena untuk menjelaskan akan adanya respon kelambanan terhadap terjadinya perubahan-perubahan dalam harga maupun variabel-variabel yang lain terdapat selang waktu (time lag) antara keputusan untuk berproduksi dengan kenyataan produksi yang terjadi. Petani mendasari keputusannya pada pengalaman harga yang baru saja dihadapi. Maka produksi sekarang (Qt) karena adanya selang waktu (time lag) akan dipengaruhi harga masa lalu (Pt-1). Hal ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Rinda (2020) dengan judul βAnalisis Permintaan Dan Penawaran Komoditas Jagung Di
Kabupaten Tulungagungβ. Menurut Rinda, ketika harga jagung pada tahun t naik maka tidak akan mempengaruhi produsen untuk meningkatkan penawaran jagung tersebut. Karena ketika harga tahun t ditentukan petani juga sudah selesai panen, dan pedoman produksi pada tahun t berdasarkan harga jagung pada tahun sebelumnya.
2. Pengaruh Harga Jagung tahun sebelumnya (Pjt-1) Terhadap Penawaran Jagung (Sjt)
Berdasarkan data yang diuraikan pada Tabel 4.5 nilai signifikan harga jagung tahun sebelumnya sebesar 0.0143 yaitu lebih kecil dibandingkan dengan Ξ± sebesar 0,05 (5%). Dengan demikian H0 ditolak, H1 diterima. Ini menunjukkan bahwa harga jagung tahun sebelumya berpengaruh nyata terhadap penawaran jagung. Berdasarkan nilai koefisien harga jagung tahun sebelumnya memiliki hubungan positif dengan penawaran jagung yaitu sebesar 0.656341 maka setiap peningkatan harga jagung sebesar 1.000 rupiah maka akan meningkatkan penawaran sebesar 65,6 ton. Hasil ini menunjukkan bahwa variabel harga pada tahun sebelumnya berpengaruh terhadap penawaran jagung di Provinsi Sumatera Utara. Apabila harga jagung pada tahun sebelumnya tinggi maka jumlah jagung yang akan ditawarkan juga akan meningkat seiring dengan naiknya harga jagung.
Hal ini sesuai dengan teori Cobweb, menurut Gujarati (2004) dalam teori ini adanya anggapan kaitan antara jumlah yang diproduksi dipengaruhi oleh harga yang diharapkan. Harga yang tinggi akan mendorong produsen untuk meningkatkan produksi dan penawarannya. Jumlah penawaran yang besar menyebabkan harga turun (jatuh), selanjutnya harga rendah diikuti penawaran yang rendah dan seterusnya. Penawaran banyak komoditi pertanian
mencerminkan apa yang disebut fenomena cobweb, dimana penawaran bereaksi terhadap harga dengan keterlambatan satu periode waktu karena keputusan penawaran memerlukan waktu untuk penawarannya (periode persiapan) jadi pada awal musim tanam pada tahun ini petani dipengaruhi oleh harga yang terjadi pada tahun lalu.
Berdasarkan hasil penelitian ini berlaku teori Cobweb dan hukum penawaran dimana harga yang tinggi akan mendorong petani jagung di Provinsi Sumatera Utara untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas jagung yang dihasilkan dengan harapan kuantitas yang tinggi dapat memberikan keuntungan yang tinggi pula sedangkan semakin meningkatnya kualitas akan semakin meningkatkan permintaan jagung berkualitas dilihat dari bentuk biji dan kadar air pada jagung. Bentuk jagung yang rusak dan semakin tingginya kadar air dalam jagung mengakibatkan harga jagung juga akan semakin rendah.
Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Widy R (2011) dengan judul βAnalisis Penawaran Jagung di Kabupaten Groboganβ. Menurut Widy, bahwa harga jagung tahun sebelumnya berpengaruh terhadap penawaran jagung di Kabupaten Grobogan. Para petani di Kabupaten Grobogan lebih termotivasi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas jagung apabila harga jagung tinggi. Terlebih lagi semakin banyak permintaan jagung dari produsen agroindustri yang berbahan baku jagung di sekitar Kabupaten Grobogan seperti Pabrik pakan ternak. Hal ini juga mendorong para petani jagung karena adanya suatu jaminan pasar jagung dengan harga tinggi untuk para petani.
3. Pengaruh Luas Area Panen Jagung (Lpj) Terhadap Penawaran Jagung (Sjt)
Berdasarkan data yang diuraikan pada Tabel 4.5 nilai signifikan luas area panen jagung sebesar 0.0130 yaitu lebih kecil dibandingkan dengan Ξ± sebesar 0,05 (5%). Dengan demikian H0 ditolak, H1 diterima. Ini menunjukkan bahwa luas area panen jagung berpengaruh nyata terhadap penawaran jagung. Artinya semakin besar luas area panen jagung maka produksi akan meningkat dan akan semakin besar penawaran. Berdasarkan nilai koefisien luas area panen jagung memiliki hubungan positif dengan penawaran jagung yaitu sebesar 0.542799 maka setiap penambahan luas area panen sebesar 1 ha maka akan maningkatkan penawaran sebesar 54,2 ton. Sejalan dengan pendapat (Chairia, 2015) luas area panen merupakan faktor yang dapat mempengaruhi tingkat penawaran atau tingkat produksi suatu barang. Apabila luas suatu areal panen tidak dapat memenuhi produksi suatu barang, maka barang yang diproduksipun tidak dapat memenuhi jumlah permintaan yang diminta oleh masyarakat. Maka luas panen merupakan salah satu faktor utama dalam memenuhi produksi suatu barang untuk meningkatkan penawaran. Luas panen jagung yang meningkat akan meningkatkan penawaran jagung hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Hapsari (2011) dengan judul βAnalisis Penawaran Jagung di Kabupaten Groboganβ.
Menurut Hapsari, ketika terjadi kenaikan variabel luas panen jagung akan meningkatkan produksi jagung yang berdampak pada peningkatkan penawaran jagung.
4. Pengaruh Harga Pupuk Urea (Hpu) Terhadap Penawaran Jagung (Sjt) Berdasarkan data yang diuraikan pada Tabel 4.5 nilai signifikan harga pupuk urea sebesar 0.2764 yaitu lebih besar dibandingkan dengan Ξ± sebesar 0,05 (5%). Dengan demikian H0 diterima, H1 ditolak. Ini menunjukkan bahwa harga pupuk urea tidak berpengaruh nyata terhadap penawaran jagung. Berdasarkan nilai koefisien harga pupuk urea memiliki hubungan negative dengan penawaran jagung yaitu sebesar -0.270403 maka setiap kenaikan harga pupuk urea sebesar 1.000 rupiah maka akan menurunkan penawaran jagung sebesar 2,7 ton. Menurut Soekartawi (1993), besar kecilnya harga input juga akan mempengaruhi besar kecilnya input yang dipakai. Namun, pada kenyataannya penggunaan pupuk untuk budidaya jagung oleh para petani tidak terlalu dipengaruhi oleh kenaikan maupun penurunan harga pupuk urea. Hal tersebut dikarenakan pemupukan untuk tanaman jagung dibatasi oleh waktu yang tepat yaitu pemberian pupuk bersamaan dengan waktu tanam (pupuk dasar), setelah tanaman jagung berumur 3-4 minggu setelah tanam (pupuk susulan I) dan setelah tanaman jagung berumur 8 minggu atau setelah malai keluar (pupuk susulan II). Petani kemudian tidak meningkatkan penggunaan pupuk saat harga murah ataupun menguranginya pada saat harga meningkat sehingga berpengaruh terhadap jumlah yang ditawarkan.
Selama pupuk urea tersedia di pasar petani tetap akan menggunakan pupuk urea untuk produksinya. Sehingga harga pupuk pada tahun tanam tidak berpengaruh terhadap penawaran jagung di Provinsi Sumatera Utara. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Hapsari (2011) dengan judul βAnalisis Penawaran Jagung di Kabupaten Groboganβ. Menurut Hapsari, harga pupuk urea tidak mempengaruhi penawaran jagung di Kabupaten Grobogan. Pupuk urea banyak
digunakan oleh petani jagung di Kabupaten Grobogan untuk meningkatkan hasil panen mereka, sehingga mereka cenderung akan mencari pupuk urea untuk usahatani mereka sesuai dengan harga yang terjadi. Namun naik turunnya harga tidak mempengaruhi petani dalam menggunakan pupuk urea karena penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
4.5. Elastisitas Penawaran Jagung Provinsi Sumatera Utara
Di dalam penelitian ini, elastisitas penawaran digunakan untuk mengukur ketanggapan (responsiveness) jumlah jagung yang ditawarkan terhadap perubahan harga jagung itu sendiri. Terdapatnya lag dan penggunaan data time series menyebabkan elastisitas penawaran jagung pada jangka pendek dan elastisitas jangka panjang dapat dihitung.
Pada persamaan linear, cara menghitung elastisitas permintaan kedelai terhadap harga itu sendiri, pada jangka pendek dan jangka panjang dapat digunakan rumus sebagai berikut:
a. Elastisitas penawaran jangka pendek πΈππ = πΎπππππ πππ ππππππ π ππ‘ πΈππ = 0.050244
Pada elastisitas penawaran jangka pendek πΈππ < 1 yaitu 0.050244 < 1, maka bersifat tidak elastis yang berarti bahwa persentase perubahan penawaran lebih kecil dari pada persentase perubahan harga pada jangka pendek. Yang berarti bahwa setiap perubahan harga jagung 1% maka akan meningkatkan penawaran jagung sebesar 0.05%.
b. Elastisitas penawaran jangka panjang πΈππ = πΈππ + Koefisien regresi Xt β 1
πΈππ = 0.050244 + 0.656341 πΈππ = 0.706585
Pada elastisitas penawaran jangka panjang πΈππ < 1 yaitu 0.706585 <1, maka bersifat tidak elastis yang berarti bahwa persentase perubahan penawaran lebih kecil daripada prosentase perubahan harga pada jangka Panjang. Yang berarti bahwa setiap perubahan harga jagung 1% maka akan meningkatkan penawaran jagung sebesar 0,71%.
Prediksi harga yang dilakukan oleh petani pada saat pembudidayaan seringkali berbeda dengan harga pada saat musim panen tiba. Jika harga pada saat musim panen tinggi tidak dapat segera diikuti dengan perubahan jumlah penawaran jagung jika musim panen belum tiba, sehingga petani tidak dapat melakukan pengaturan faktor-faktor produksinya untuk meningkatkan penawaran.
Pada saat harga meningkat petani tidak bisa meningkatkan penawaran jagung jika belum musim panen, sehingga penawaran jagung juga tidak bisa memenuhi permintaan jagung pada konsumen. Di saat penawaran tidak bisa ditingkatkan akibat petani belum berada dimusim panen, maka akan terjadi impor jagung untuk meningkatkan penawaran jagung di Provinsi Sumatera Utara.
Berdasarkan Lampiran 1. Impor jagung di Sumatera Utara memiliki angka yg tinggi setiap tahunnya. Pada tahun 2019 Provinsi Sumatera Utara mengimpor jagung sebanyak 76.670 ton. Dan impor tertinggi terjadi pada tahun 2011 sebesar 305.818,81 ton. Artinya petani jagung di Provinsi Sumatera Utara belum bisa memenuhi penawaran jagung untuk memenuhi kebutuhan permintaan jagung di Provinsi Sumatera Utara.
V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan
1. Harga jagung tahun sebelumnya (Pjt-1) dengan nilai probability 0.0143 dan Luas area panen (Lpj) dengan nilai probability 0.0130 berpengaruh nyata terhadap penawaran jagung di Provinsi Sumatera Utara (Sjt), sedangkan harga jagung tahun t (Pjt) dengan nilai probability 0.8511dan harga pupuk urea (Hpu) dengan nilai probability 0.2764 tidak berpengaruh nyata terhadap penawaran jagung di Provinsi Sumatera Utara.
2. Elastisitas jangka pendek 0.050244 < 1, yang berarti bahwa setiap perubahan harga jagung 1% maka akan meningkatkan penawaran jagung sebesar 0.05%.
dan jangka Panjang 0.706585 <1, yang berarti bahwa setiap perubahan harga jagung 1% maka akan meningkatkan penawaran jagung sebesar 0,71%.
bersifat tidak elastis terhadap penawaran jagung di Provinsi Sumatera Utara.
5.2. Saran
1. Dalam rangka memenuhi permintaan yang selalu berkembang perlu dilakukan peningkatan luas panen jagung. Peningkatan luas areal panen dilakukan untuk elastisitas dan peningkatan penawaran jagung sehingga akan mengurangi impor jagung di Provinsi Sumatera Utara .
2. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai permintaan dan penawaran jagung dengan memperhitungkan ekspor, impor, dan stok jagung di Provinsi Sumatera Utara.
DAFTAR PUSTAKA
Ahman, Eeng dan Yana Rohmana. 2009. Teori Ekonomi Mikro. Bandung : LIPI Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2005. Agro Inovasi; Prospek dan
Arah Pengembangan Agribisnis: Jagung. Jakarta : Departemen Pertanian.
Bishop, CE dan WD Toussaint. 1986. Pengantar Analisa Ekonomi Pertanian. PT Mutiara Sumber Widya. Jakarta : Alih bahasa oleh Drs Wisnuadji, Harsojono, S.E, dan Drs. Suparmoko.
Daniel, M. 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta : UI Press.
Daniel, M. 2004. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta : Bumi Aksara.
Djojodipuro, M. 1991. Teori Harga. Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Firdaus, M. 2008. Manajemen Agribisnis. Jakarta : Bumi Aksara.
Gujarati, Damodar. 2004. Basics Econometrics, Fourth Edition. The Mc GrawHill Companies.
Hanafie, R. 2010. Pengantara Ekonomi Pertanian. Yogyakarta : Andi Offset.
Hapsari, Widy Retno. 2011. Analisis Penawaran Jagung di Kabupaten Grobogan.
Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.
Hariwibowo, Putra Aditama. 2013. Penawaran Bawang Putih Di Indonesia.
Universitas Brawijaya Malang
Irawati, D. J., R. P. Wibowo, and S. F. Ayu. "The impact of fluctuation of the price of food commodity on inflation in North Sumatera Province." IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. Vol. 260. No. 1. IOP Publishing, 2019.
Irmawati, Wahyu. 2019. Analisis Penawaran Jagung Manis (Zea mays L.
Saccharata) di Kota Tarakan. Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan.
Jasmin, Y.; Kesuma, S. I.; Wibowo, R. P. Production and prices forecasting analysis of red chili (Capsicum annuum L.) in North Sumatera in 2028. In:
IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. IOP Publishing, 2020. p. 012011.
Kasryno et al. 2006. Gambaran Umum Ekonomi Jagung Indonesia. Jakarta : Litbang Departemen Pertanian.
Lains, A. 2006. Ekonometrika II, Teori dan Aplikasi. Volume 16. Jakarta : Pustaka LP3ES.
Mubyarto. 1995. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta : LP3ES.
Nachrowi, Djalal dan Usman, H. 2005. Penggunaan Teknik Ekonometri. Jakarta:
PT. Raja Grafindo.
Oktavia, Henita Fajar. 2017. Respon Penawaran Jagung (Zea Mays) Di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Fakultas Pertanian, Universitas Borobudur.
Pindyck, Robert S. dan Daniel L Rubinfield. 2003. Mikro Ekonomi. Jakarta : PT Indeks.
Pratiwi, Dona Arum. 2018. Analisi Penawaran Ubi Kayu di Kabupaten Wonogiri.
Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.
Purwono dan Rudi Hartono. 2005. Bertanam Jagung Unggul. Jakarta: Penebar Swadaya.
Putri, Hervikarani Purnomo. 2010. Respon Penawaran Jagung Di Kabupaten Klaten. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.
Rahardja, Pratama, Mandala Manurung. 2008. Pengantar Ekonomi Mikro dan Makro. Jakarta : Fakultas Ekonomi UI.
Rukmana. H. R. 2008. Usaha Tani Jagung. Yogyakarta: Kanisius.
Sarnowo, H. 2014. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta : LAPS.
Setyowati. 2009. Analisis Penawaran Jagung di Jawa Tengah. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.
Sitinjak, Wahyunita. 2014. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Dan Penawaran Jagung Di Provinsi Sumatera Utara. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Soekartawi, 1993. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian : Teori dan Aplikasi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Sudiyono, A. 2004. Pemasaran Pertanian. Malang : UMM.
Sujiono, Rinda Nur Rohmah. 2021. Analisis Permintaan Dan Penawaran Komoditas Jagung Di Kabupaten Tulungagung. Fakultas Pertanian Universitas Jember.
Sukirno, Sadono. 2011. Mikro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta : Rajawali Pers.
Sukirno, Sadono. 2015. Mikroekonomi Teori Pengantar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Suprapto dan Marzuki Rasyid. 2002. Bertanam Jagung. Jakarta : Penebar Swadaya
Tupamahu, Yonette Maya. 2017. Respon Penawaran Kacang Tanah Di Indonesia. Fakultas pertanian UMMU-Ternate.
Wibowo, R. P., and T. Rizaldi. "Deficit irrigation for rice farming with production risk due to weather variability." IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. Vol. 260. No. 1. IOP Publishing, 2019b.
Wibowo, Rulianda P., et al. "Using a crop simulation model to understand the impact of risk aversion on optimal irrigation management." Transactions of the ASABE 60.6 (2017): 2111-2122.
Wibowo, Rulianda P., Taufik Rizaldi, and Ikhsan Siregar. "The impact of risk and uncertainty on irrigation decision for paddy production in North Sumatera Indonesia." IOP Conference Series: Materials Science and Engineering.
Vol. 648. No. 1. IOP Publishing, 2019a.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Penawaran Jagung di Sumatera Utara Tahun 2000-2019
Tahun
Produksi (Ton) Impor (Ton) Penawaran (Ton)
2000 666764 170816 837580
2001 634162 158026 792188
2002 640593 157352 797945
2003 687360 149477.53 836837.53
2004 712560 138951.07 851511.07
2005 735456 15534.46 750990.46
2006 682024 145215.4 827239.4
2007 804850 55064.98 859914.98
2008 1098969 40519.02 1139488.02
2009 1166548 102475.12 1269023.12
2010 1377718 100846.81 1478564.81
2011 1294645 305818.86 1600463.86
2012 1347124 217083.05 1564207.05
2013 1182928 253709 1436637
2014 1159795 265018 1424813
2015 1519407 120537 1639944
2016 1557462.8 112375 1669837.8
2017 1741257.4 86037 1827294.4
2018 1710784.9 84954 1795738.9
2019 1960424 76670 2037094
Lampiran 2. Harga Jagung di Sumatera Utara Tahun 2000-2019 Tahun Harga Jagung (Rp/Ton) Harga Jagung (Rp/Kg)
2000 970000 970
2001 1005000 1005
2002 1015000 1015
2003 1024000 1024
2004 1175000 1175
2005 1248000 1248
2006 1360000 1360
2007 1722000 1722
2008 2245000 2245
2009 2605000 2605
2010 2797000 2797
2011 3006000 3006
2012 3050000 3050
2013 3180000 3180
2014 3250000 3250
2015 3440000 3440
2016 3565000 3565
2017 3641000 3641
2018 3850000 3850
2019 4646000 4646
Lampiran 3. Luas Area Panen Jagung di Sumatera Utara Tahun 2000-2019
Lampiran 4.Harga Pupuk Urea Jagung di Sumatera Utara Tahun 2000-2019
Tahun Harga Pupuk Urea (Rp/Kg)
2000 1320
2001 1325
2002 1450
2003 1500
2004 1511
2005 1723
2006 1911
2007 2221
2008 2243
2009 2411
2010 2678
2011 2800
2012 3230
2013 3314
2014 3565
2015 3611
2016 3750
2017 3900
2018 4100
2019 4350
Lampiran 5. Hasil output penawaran jagung tingkat level
Lampiran 6. Hasil output Harga jagung tingkat level
Lampiran 7. Hasil output Harga jagung t-1 tingkat level
Lampiran 8. Hasil output Luas Area Panen jagung tingkat level
Lampiran 9. Hasil output Harga Pupuk Urea tingkat level
Lampiran 10. Hasil output penawaran jagung tingkat 1st
Lampiran 11. Hasil output Harga jagung tingkat 1st
Lampiran 12. Hasil output Harga jagungt-1 tingkat 1st
Lampiran 13. Hasil output Luas Area Panen jagung tingkat 1st
Lampiran 14. Hasil output Harga Pupuk Urea tingkat 1st
Lampiran 15. Hasil output Uji Lag Length
Lampiran 16. Hasil output Uji Kointegrasi
Lampiran 17. Hasil output Uji OLS