• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Heteroskedastisitas

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH. Emilia Sri Wulandari (Halaman 74-0)

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Analisis Statistik Deskriptif

4.3.3 Uji Heteroskedastisitas

Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatter plot antara SRESID pada sumbu Y, dan ZPRED pada sumbu X. (Ghozali, 2016). Ghozali (2016) menyatakan dasar analisis adalah jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur, maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

Gambar 4.3 Uji Heteroskedastisitas

Perhatikan bahwa berdasarkan Gambar 4.3, tidak terdapat pola yang begitu jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

4.3.4 Uji Autokorelasi

Menurut Ghozali (2016:107) uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah terjadi korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Uji autokorelasi dalam penelitian ini digunakan uji Durbin-Watson. Berikut hasil berdasarkan uji Durbin-Watson.

Tabel 4.4

Uji Autokorelasi dengan Uji Durbin-Watson

Model Durbin-Watson

1 1.978

Sumber: Hasil olahan dari software SPSS 17.0 (2018)

Nilai statistik dari uji Durbin-Watson yang lebih kecil dari 1 atau lebih besar dari 3 diindikasi terjadi autokorelasi. Berdasarkan Tabel 4.4, nilai dari statistik Durbin-Watson adalah 1,978. Perhatikan bahwa karena nilai statistik Durbin-Watson terletak di antara 1 dan 3, yakni 1 < 1,978 < 3, maka asumsi non-autokorelasi terpenuhi. Dengan kata lain, tidak terjadi gejala autokorelasi.

4.4 Analisis Regresi Linier Berganda

Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan regresi linier berganda.

Analisis regresi berganda digunakan untuk menguji pengaruh dua atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen. Berikut hasil regresi linear berganda.

Tabel 4.5

Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 12.177 1.866 6.524 .000

Dana Perimbangan (X1) .210 .073 .174 2.855 .005 Pendapatan Pajak Daerah

(X2)

.195 .036 .462 5.339 .000

Ukuran Pemerintah (X3) .183 .074 .226 2.460 .015 Ukuran Legislatif (X4) .011 .017 .034 .651 .516

Sumber: Hasil olahan dari software SPSS 17.0 (2018)

Berdasarkan Tabel 4.5, diperoleh persamaan regresi linear berganda sebagai berikut.

Y = 12,177 + 0,210X1 + 0,195X2 + 0,183X3 + 0,011X4

Keterangan :

1. Diketahui nilai koefisien regresi dari dana perimbangan adalah 0.21, yakni bernilai positif. Dana perimbangan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan.

2. Diketahui nilai koefisien regresi dari pendapatan pajak daerah adalah 0.195, yakni bernilai positif. Pendapatan pajak daerah berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan.

3. Diketahui nilai koefisien regresi dari ukuran pemerintah adalah 0.183, yakni bernilai positif. Ukuran pemerintah berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan.

4. Diketahui nilai koefisien regresi dari ukuran legislatif adalah 0.011, yakni bernilai positif. Ukuran legislatif berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan.

4.5 Uji Hipotesis

4.5.1 Analisis Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi ( ) merupakan suatu nilai (nilai proporsi) yang mengukur seberapa besar kemampuan variabel-variabel bebas yang digunakan dalam persamaan regresi, dalam menerangkan variasi variabel tak bebas.

Tabel 4.6 Koefisien Determinasi

Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

1 .777a .604 .594

Sumber: Hasil olahan dari software SPSS 17.0 (2018)

Berdasarkan Tabel 4.6, diketahui nilai koefisien determinasi (Adjusted R-Square) adalah 0.594. Nilai tersebut dapat diartikan variabel dana perimbangan, pendapatan pajak daerah, ukuran pemerintah dan ukuran legislatif secara bersama-sama atau simultan mampu menjelaskan kinerja keuangan sebesar 59,4%, sisanya sebesar 40,6% dijelaskan oleh variabel yang tidak masuk dalam penelitian ini.

4.5.2 Uji Signifikansi Pengaruh Simultan (Uji )

Uji F bertujuan untuk menguji pengaruh variabel bebas secara bersama-sama atau simultan terhadap variabel tak bebas.

Tabel 4.7

Uji Pengaruh Simultan Uji

ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 40.637 4 10.159 60.984 .000a

Residual 26.654 160 .167

Total 67.291 164

Sumber: Hasil olahan dari software SPSS 17.0 (2018)

Berdasarkan Tabel 4.7, diketahui nilai F hitung 60,984 dan nilai Sig.

adalah 0,000. Nilai F Tabel, dengan df1 = 4 (X1, X2, X3, X4), df2 = 165 – 5 (X1, X2, X3, X4, Y) = 160 dan tingkat signifikansi 0,05 adalah F tabel = 2,428. F hitung 60,984 > nilai F tabel 2,428 (F tabel tersaji di lampiran). Nilai Sig. 0,000 < 0,05.

Maka dana perimbangan, pendapatan pajak daerah, ukuran pemerintah dan ukuran legislatif secara simultan atau bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan.

4.5.3 Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji t)

Tabel 4.8 menyajikan nilai koefisien regresi, serta nilai statistik t untuk pengujian pengaruh secara parsial.

Tabel 4.8

Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji )

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 12.177 1.866 6.524 .000

Dana Perimbangan (X1) .210 .073 .174 2.855 .005 Pendapatan Pajak Daerah

(X2)

.195 .036 .462 5.339 .000

Ukuran Pemerintah (X3) .183 .074 .226 2.460 .015 Ukuran Legislatif (X4) .011 .017 .034 .651 .516

Sumber: Hasil olahan dari software SPSS 17.0 (2018)

Berdasarkan Tabel 4.8, diketahui:

1. Nilai t hitung dana perimbangan berada pada daerah signifikan dan nilai Sig 0.005 < 0.05, maka dana perimbangan berpengaruh signifikan.

2. Nilai t hitung pendapatan pajak daerah berada pada daerah signifikan dan nilai Sig 0.000 < 0.05, maka pendapatan pajak daerah berpengaruh signifikan.

3. Nilai t hitung ukuran pemerintah berada pada daerah signifikan dan nilai Sig 0.015 < 0.05, maka ukuran pemerintah berpengaruh signifikan.

4. Nilai t hitung ukuran legislatif berada pada daerah tidak signifikan dan nilai Sig 0.516 > 0.05, maka ukuran legislatif tidak berpengaruh signifikan.

4.6 Pembahasan

4.6.1 Pengaruh Dana Perimbangan terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia

Hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah dana perimbangan berpengaruh terhadap kinerja pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada Tabel 4.8 untuk variabel dana perimbangan menunjukkan nilai signifikan diatas α= 5% yaitu 0.005, dan |t hitung = 2,855| > |t tabel = 1,974|, maka dana perimbangan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa dana perimbangan secara parsial berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Dengan hasil tersebut maka H1 diterima.

Berpengaruhnya dana perimbangan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten/kota di Indonesia masih sangat bergantung kepada pemerintah pusat guna memenuhi kebutuhan daerahnya. Sehingga dengan adanya bantuan dana dari pemerintah pusat akan membuat kinerja keuangan pemerintah semakin meningkat. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil

penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi (2017) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa dana perimbangan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan dan tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Prasasti (2016) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa dana perimbangan berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan.

Dana perimbangan yang meliputi dana bagi hasil pajak dan bukan pajak serta DAU dan DAK merupakan dana transfer dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dengan tujuan membiayai kelebihan belanja daerah.

Apabila realisasi belanja daerah lebih tinggi dari pada pendapatan daerah maka akan terjadi defisit. Oleh karena itu untuk menutupi kekurangan belanja daerah maka pemerintah pusat akan mentrasfer dana dalam bentuk dana perimbangan kepada pemerintah daerah.

4.6.2 Pengaruh Pendapatan Pajak Daerah terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia

Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah pendapatan pajak daerah berpengaruh terhadap kinerja pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada Tabel 4.8 untuk variabel pendapatan pajak daerah menunjukkan nilai signifikan diatas α= 5% yaitu 0.000 dan |t hitung = 5,339| > |t tabel = 1,974|, maka pendapatan pajak daerah berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pendapatan pajak daerah secara parsial berpengaruh positif terhadap kinerja

keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Dengan hasil tersebut maka H2 diterima.

Berpengaruhnya pendapatan pajak daerah terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten/kota di Indonesia selalu meningkatkan pendapatan pajak daerahnya. Sehingga membuat kinerja keuangan pemerintah semakin meningkat. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sesotyaningtyas (2012) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa pendapatan pajak daerah berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan dan tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Hamzah (2016) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa pendapatan pajak daerah tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

Didalam penelitian ini menunjukkan semakin tinggi pendapatan pajak daerah, maka semakin baik kinerja keuangan daerah pemerintah. Hal ini menunjukkan baiknya kinerja keuangan suatu daerah. Kinerja keuangan pemerintah daerah sendiri ditunjukkan dengan perbandingan total PAD yang meliputi pajak daerah. Apabila total penerimaan daerah sebagian besar berasal dari PAD maka kinerja keuangan pemerintah dapat dikatakan baik dalam mengoptimalkan pendapatan. Jika sebaliknya, maka dapat dikatakan kinerja keuangan pemerintah daerah belum baik atau belum optimal.

4.6.3 Pengaruh Ukuran Pemerintah terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia

Hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah Ukuran Pemerintah berpengaruh terhadap kinerja pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada Tabel 4.8 untuk variabel ukuran pemerintah menunjukkan nilai signifikan diatas α= 5% yaitu 0.015 dan |t hitung = 2,460| > |t tabel = 1,974|, maka ukuran pemerintah berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran pemerintah secara parsial berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Dengan hasil tersebut maka H3 diterima.

Berpengaruhnya ukuran pemerintah terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten/kota di Indonesia selalu melakukan peningkatkan sumber daya yang dimiliki untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sehingga membuat kinerja keuangan pemerintah semakin meningkat. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Achmad (2017) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa ukuran pemerintah daerah berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan dan tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Minarsih (2016) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa ukuran pemerintah tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

Total aset dapat mempengaruhi besar kecilnya ukuran pemerintah daerah tersebut. Artinya semakin besar total aset maka semakin besar pula

ukuran pemerintah daerahnya dan begitu juga sebaliknya, semakin kecil total aset maka semakin kecil pula ukuran pemerintah daerahnya. Hal ini akan berdampak pada kinerja pemerintah. Semakin besar ukuran pemerintah daerah maka akan semakin besar pula tuntutan terhadap pemerintah dalam peningkatan sumber daya yang dimiliki untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat ini tentunya diharapkan dapat meningkatkan kinerja pemerintah daerah tersebut.

4.6.4 Pengaruh Ukuran Legislatif terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia

Hipotesis keempat dalam penelitian ini adalah ukuran legislatif berpengaruh terhadap kinerja pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada Tabel 4.8 untuk variabel ukuran legislatif menunjukkan nilai signifikan diatas α= 5% yaitu 0.516 dan |t hitung

= 0,651| > |t tabel = 1,974|, maka ukuran legislatif berpengaruh tidak signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran legislatif secara parsial berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Dengan hasil tersebut maka H4 diterima.

Berpengaruhnya ukuran legislatif terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten/kota di Indonesia selalu melakukan pengawasan terhadap pemerintah daerah sehingga terjadi peningkatan kinerja pada pengelolaan keuangan pemerintah

daerah. Sehingga membuat kinerja keuangan pemerintah semakin meningkat.

Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Novianti, dkk (2016) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa ukuran legislatif berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan dan tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari (2016) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa ukuran legislatif tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

Lembaga legislatif atau DPRD merupakan lembaga yang memiliki potensi dan peran strategis terkait dengan pengawasan keuangan daerah.

Peranan dari lembaga legislatif terdapat dalam pembuatan kebijakan publik, termasuk penganggaran daerah. Lembaga legislatif harus memperhatikan seberapa besar pengeluaran pemerintah daerah yang akan dilakukan dan berapa pemasukan yang akan diterima. Pemerintah daerah yang menghasilkan pendapatan yang besar dengan pengeluaran yang kecil maka dapat dikatakan bahwa pemerintah daerah tersebut memiliki kinerja yang baik. Oleh karena itu, semakin banyak anggota legislatif diharapkan semakin dapat meningkatkan pengawasan terhadap pemerintah daerah sehingga terjadi peningkatan kinerja pada pengelolaan keuangan pemerintah daerah.

4.6.5 Pengaruh Dana Perimbangan, Pendapatan Pajak Daerah, Ukuran Pemerintah dan Ukuran Legislatif terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia

Hipotesis kelima dalam penelitian ini adalah dana perimbangan, pendapatan pajak daerah, ukuran pemerintah dan ukuran legislatif

berpengaruh secara simultan terhadap kinerja pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Hipotesis kelima yang diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa setelah dilakukan pengujian hipotesis secara simultan, berdasarkan tabel 4.7 terlihat bahwa hasil uji F menunjukkan nilai signifikan sebesar 0.000 yang lebih kecil dari signifikansi 0.05. Hasil dari Uji F menunjukkan bahwa dana perimbangan, pendapatan pajak daerah, ukuran pemerintah dan ukuran legislatif secara simultan memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Untuk melihat seberapa besar kemampuan variabel independen menggambarkan kinerja keuangan maka dilakukan uji koefisien determinasi, dan hasil uji koefisien determinasi menunjukkan bahwa variabel independen yaitu dana perimbangan, pendapatan pajak daerah, ukuran pemerintah dan ukuran legislatif mampu mempengaruhi kinerja keuangan sebesar 59,4%, sisanya 40.6%, dipengaruhi oleh variabel yang tidak masuk dalam penelitian ini.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dari pembahasan, dapat disimpulkan bahwa hasil uji simultan dengan menggunakan uji f dan uji parsial dengan menggunakan uji t, dana perimbangan, pendapatan pajak daerah, ukuran pemerintah dan ukuran legislatif secara simultan dan parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan.

5.2 Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Hanya terdapat 55 sampel dalam penelitian ini karena disebabkan kurangnya ketersediaan data sehingga tidak terlalu cukup menggambarkan kondisi keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia secara keseluruhan.

2. Penulis melakukan penelitian hanya dengan jangka waktu 3 tahun yaitu dari tahun 2014-2016.

3. Alat ukur kinerja keuangan tidak cocok dengan rasio efisiensi.

5.3 Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan bagi peneliti selanjutnya agar menambah variabel independen yang berkaitan dengan kinerja keuangan, agar dapat diketahui lebih banyak lagi, faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Abu. 2017. “Pengaruh Ukuran Pemerintah Daerah, Intergovernmental Revenue dan Hasil Audit BPK terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung”. Skripsi Akuntansi, Departen Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Lampung, Bandar Lampung.

Afiah, Nunuy Nur. 2009. Pengaruh Kompetensi Anggota DPRD Dan Kompetensi Aparatur Pemerintah Daerah Terhadap Pelaksanaan System Informasi Akuntansi. Working Paper In Accounting And Finance Padjajaran University.

Bastian, Indra. 2006, Sistem Perencanaan dan Penganggaran Pemerintahan Daerah di Indonesia, Salemba Empat, Jakarta

Bastian, Indra. 2006. Akuntansi Sektor Publik: Suatu Pengantar. Jakarta:

Erlangga.

Black, B. S., H. Jang, dan W. Kim. (2006). Predicting Firm’s Corporate

Elmi, Bachrul. 2002. Kebijakan Desentralisasi Fiskal Kaitannya dengan Hutang Luar Negeri Pemerintah Daerah Otonom. Kajian Ekonomi dan Keuangan, Vol. 6 No. 4.

Elmi, Bachrul. 2002. Keuangan Pemerintah Daerah Otonom di Indonesia.

Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Erlina, 2011. Metodologi Penelitian. Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam terbitan (KTD). Medan

Florida, Asha. 2007. “Analisis Pengaruh Pendapatan Asli Daerah PAD Terhadap Kinerja Keuangan Pada Pemerintah Kabupaten dan Kota Di Propinsi Sumatera Utara”. Skripsi Akuntansi, Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Sumatera Utara, Medan.

Ghozali, Imam. 2016. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS 23.

Semarang: BPFE Universitas Diponegoro.

Halachmi, Arie. 2005. Performance measurement is only one way of managing performance. International Journal of Productivity and Performance Management. Vol. 54: 502-516.

Halim, Abdul. 2007. Akuntansi Sektor Publik: Akuntansi Keuangan Daerah.

Jakarta: Salemba Empat.

Hamzah B. Uno, (2008), Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis di Bidang Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta

Hamzah, Ahmad Saidina. 2016. Pengaruh Dana Perimbangan, Pendapatan Pajak Daerah dan Size terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia. Accounting Analysis Journal 1.

Universitas Sumatera Utara.

Hidayat, Shodiq Nur dan Isroah. 2016. Pengaruh Karakteristik Keuangan, Ukuran Perusahaan, dan Inflasi Terhadap Return. Jurnal Profita, 6.

Jensen, M dan W. Meckling, 1976, Theory of the Firm; Managerial Behaviour, Agency Cost, and Ownership Structure, Jurnal of Financial Economics, p 305-360.

Kawedar, Warsito, dkk. 2008. Akuntansi Sektor Publik (Pendekatan Penganggaran Daerah dan Akuntansi Keuangan Daerah). Semarang:

Widya Karya.

Kristanto, Septian Bayu. 2009. Pengaruh Ukuran Pemerintahan, Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan Belanja Modal Sebagai Prediktor Kelemahan Pengendalian Internal. Jurnal Akuntansi, 9(1):41-62.

Kusumawardani, Media. 2012. Pengaruh Size, Kemakmuran, Ukuran Legislatif, Leverage terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah di Indonesia.

Accounting Analysis Journal 1 (1).

Mahmudi. 2010. Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Yogyakarta:

Unit Penerbit dan Percetakan.

Mahsun, Mohamad. 2006. Pengukuran Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta: BPFE Mandell, Lee M. 1997. Performance Measurements and Management Tools in

North Carolina Local Goverment. Public Administration Quarterly;

Spring 1997; Vol. 21: 96.

Mardiasmo, 2009, Akuntansi Sektor Publik, Yogyakarta: ANDI.

Marfiana, N. dan Lulus Kurniasih. 2013. Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah dan Hasil Pemeriksaan Audit BPK Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Jurnal. Universitas Sebelas Maret.

Minarsih, Ratna Ayu. 2015. “Pengaruh Size, Wealth, Leverage dan Interngovernmental Revenue terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah di Jawa Tengah”. Skripsi Akuntansi, Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Semarang.

Mustikarini, Widya Astuti, and Debby Fitriasari. 2012. Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah dan Temuan Audit BPK Terhadap Kinerja Pemerintah

Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun Anggaran 2007. Forum:

Simposium Nasional Akuntansi, Vol. 15.

Novianti, Dwi Fitri Puspa dan Daniati Putri. 2016. Pengaruh Ukuran Legislatif, Karakteristik Pemerintah Daerah dan Temuan Audit BPK terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah kabupaten/Kota di Sumatera Barat.

Jurnal Ekonomi dan Akuntansi. Universitas Bung Hatta.

Patrick, P. A. 2007. The Determinant of Organizational Inovativeness: The Adoption of GASB 34 in Pennsylvania Local Government. Unpublished Ph.D Dissertation. Pennsylvania: The Pennsylvania State University.

Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 (PP No. 58/2005) tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

Prasasti, Swastika Enjang. 2016. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Perimbangan terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota DIY. Accounting Analysis Journal 1. Universitas PGRI Yogyakarta.

Pratiwi, Tri Yuni. 2017. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan dan Belanja Modal terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Tengah. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.

Saragih, Juli Panglima. 2003. Desentralisasi Fiskal dan Keuangan Daerah dalam Otonomi. Cetakan Pertama. Penerbit Ghalia Indonesia: Jakarta

Sari, Indah Puspa. 2016. Pengaruh Ukuran Pemerintah Daerah, PAD, Leverage, Dana Perimbangan dan Ukuran Legislatif Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah di Provinsi Sumatera Utara. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Riau.

Sekaran, Uma. 2006. Research Methods for Business : “Metodologi Penelitian untuk Bisnis. Edisi 4. Jakarta : Salemba Empat.

Sesotyaningtyas, Mirna. 2012. Pengaruh Leverage, Ukuran Legislatif, Intergovernmental Revenue Dan Pendapatan Pajak Daerah Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah. Accounting Analysis Journal 1.

Universitas Negeri Semarang.

Setiawan, Wahyu. 2012. Pengaruh Akuntabilitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Terhadap Tingkat Korupsi Pemerintah Daerah di Indonesia. Skripsi. Universitas Diponegoro. Semarang.

Siregar, S. R. 2012. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertimbangan Opini Auditor atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Accounting Analysis Journal, 1(2).

Suhardjanto, Djoko dan Rena Rukmita Yulianingtyas. 2011. Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah Terhadap Kepatuhan Pengungkapan Wajib Dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Jurnal Akuntansi

& Auditing, 8(1):1-94

Sumarjo, Hendro. 2010. Pengaruh Karakteristik Pemerntah Daerah Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.

Sumiyarti dan Akhmad Fauzan Imamy. 2005. “Analisis Pengaruh Perimbangan Pusat-Daerah terhadap Perekonomian Kota Depok”. Media Ekonomi, Vol.

11, No. 2, h. 113-128

Surepno. 2013. Pengaruh Return on Equity (ROE), Ukuran (Size) dan Kemakmuran (Wealth) Pemerintah Daerah terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah di Indonesia. Skripsi. Semarang: Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang.

Susanti, Asri Diah. 2010. Demand Supply dan Praktik Social Disclosure di Indonesia. Skripsi. Surakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret. Tidak dipublikasi.

Suyono. 2010. Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah. Tesis. Surakarta:

Fakultas Ekonomi. Universitas Sebelas Maret.

Wood, L. 1998. Local Government Dollars & Sense (Rancho Palos Verdes, CA.:

Training Shoppe).

www.Antaranews.com, 2007 www.bps.go.id

www.djpk.kemenkeu.go.id www.kemendagri.go.id

LAMPIRAN 1

31 Kabupaten Labuhan Batu

Selatan -

32 Kabupaten Labuhan Batu

Utara Sampel 3

Utara

87 Kota Pekanbaru -

101 Kabupaten Tanjung Jabung

Barat - - -

102 Kabupaten Tanjung Jabung

Timur - - -

124 Kabupaten Ogan Komering

Ilir - -

125 Kabupaten Ogan Komering

Ulu - -

126 Kabupaten Ogan Komering

Ulu Selatan - -

127 Kabupaten Ogan Komering

Ulu Timur - -

128 Kabupaten Penukai Abab - - -

Lematang Ilir

149 Kabupaten Tulang Bawang

Barat - -

175 Kabupaten Subang - -

223 Kota Magelang -

271 Kabupaten Badung -

309 Kabupaten Timor Tengah

Selatan - - -

310 Kabupaten Timor Tengah

Utara - - -

317 Kabupaten Landak - -

329 Kabupaten Hulu Sungai

Selatan - -

330 Kabupaten Hulu Sungai

Tengah - -

369 Kabupaten Penajam Paser

Utara - - -

370 Kota Balikpapan -

371 Kota Bontang -

Kepulauan 443 Kabupaten Kepulauan Siau

Tagulandang Biaro - - -

459 Kabupaten Buru - -

460 Kabupaten Buru selatan - - -

461 Kabupaten Kepulauan Aru - - -

462 Kabupaten Maluku Barat

Daya -

463 Kabupaten Maluku Tengah -

464 Kabupaten Maluku Tenggara -

465 Kabupaten Maluku Tenggara

Barat -

466 Kabupaten Seram Bagian

Barat - -

467 Kabupaten Seram Bagian

Timur - -

502 Kabupaten Sarmi - - -

503 Kabupaten Supiori - - -

504 Kabupaten Tolikara - - -

505 Kabupaten Waropen -

506 Kabupaten Yahukimo - - -

507 Kabupaten Yalimo - -

508 Kota Jayapura Sampel 54

509 Kabupaten Fakfak - -

510 Kabupaten Kaimana - - -

511 Kabupaten Manokwari Sampel 55

512 Kabupaten Raja Ampat -

513 Kabupaten Sorong -

514 Kota Sorong -

LAMPIRAN 2

DATA VARIABEL PENELITIAN Data Variabel Dana Perimbangan

No. Nama

Kabupaten/Kota 2014 2015 2016

1 Kab. Aceh Tenggara 584.759.167.511 752.674.607.559 954.865.467.404 2 Kab. Labuhan Batu 641.297.033.851 707.284.674.013 1.005.470.238.990 3 Kab. Labuhan Batu

Utara 581.413.143.827 637.402.293.870 816.898.927.802 4 Kab. Tapanuli

Tengah 638.134.571.984 752.985.680.350 11.828.258.734 5 Kab. Pasaman 610.321.075.609 650.214.817.217 771.304.699.588 6 Kota Bukit Tinggi 452.713.545.419 449.872.722.059 547.829.867.933 7 Kota Pariaman 441.287.178.214 453.544.697.798 533.629.510.758 8 Kota Dumai 904.432.419.034 587.041.598.753 689.119.140.681 9 Kota Jambi 852.471.935.218 1.419.079.798.364 1.177.857.284.208 10 Kota Bengkulu 1.104.582.675.517 1.208.985.365.208 796.075.093.078 11 Kota. Palembang 1.545.294.767.722 1.461.824.825.500 1.863.736.788.542 12 Kab. Lampung

Utara 973.140.651.233 989.119.165.468 1.238.244.753.562 13 Kota Cilegon 564.516.830.612 578.569.089.759 891.105.528.340 14 Kota Tanggerang 1.093.831.122.465 1.057.756.756.159 1.247.006.679.649 15 Kab. Bogor 2.498.370.936.940 2.583.489.732.475 2.692.167.023.139 16 Kab. Kuningan 1.269.156.138.325 1.374.529.144.140 1.717.088.119.273 17 Kab. Majalengka 855.645.928.015 1.367.195.047.862 1.723.845.574.035 18 Kota Bandung 1.886.016.264.020 1.765.831.826.066 2.443.763.935.834 19 Kota Depok 971.981.431.339 975.526.903.366 1.118.681.655.636 20 Kota Sukabumi 570.490.506.596 571.878.632.516 702.120.023.658 21 Kab. Banyumas 1.358.535.407.338 1.411.687.077.480 1.869.097.347.790 22 Kab. Grobongan 1.130.745.214.336 1.186.214.542.310 1.489.835.250.799 23 Kab. Pekalongan 920.665.342.098 978.154.337.307 1.182.370.555.011 24 Kab. Wonosobo 824.656.337.009 836.382.532.154 1.079.170.500.015 25 Kota Semarang 1.274.767.390.279 1.270.371.271.674 1.644.277.729.716 26 Kota Surakarta 797.295.017.689 755.728.419.465 1.103.862.166.264 27 Kota Yogyakarta 663.712.266.941 652.748.113.159 875.430.545.057 28 Kab. Banyuwangi 1.387.611.468.719 1.494.315.803.224 1.847.137.392.967 29 Kab. Gresik 1.065.300.023.150 1.103.936.339.654 1.336.689.003.743 30 Kab. Jember 1.746.847.365.217 1.917.759.331.546 2.279.360.485.155 31 Kab. Jombang 1.131.290.917.695 1.170.782.676.685 1.479.449.655.860 32 Kab. Malang 1.831.998.927.025 926.364.574.783 2.308.269.278.031

33 Kab. Nganjuk 1.831.998.927.025 1.893.231.262.923 2.308.269.278.031 34 Kota Malang 1.132.151.189.738 1.166.956.491.647 1.438.057.806.688 35 Kota Surabaya 1.488.374.891.545 1.384.772.424.683 1.941.019.526.654 36 Kota Denpasar 693.247.533.041 681.684.333.083 878.197.108.565 37 Kota Mataram 677.658.718.414 757.189.767.596 981.706.491.599 38 Kota Kupang 678.891.118.902 824.897.190.785 974.516.327.489 39 Kota Pontianak 727.268.363.235 731.736.303.254 890.541.184.485 40 Kab. Tanah Laut 822.386.677.448 921.047.379.972 1.136.058.762.324 41 Kota Palangkaraya 689.110.637.755 707.089.412.100 786.324.243.634 42 Kota Samarinda 1.538.150.051.351 1.542.417.499.483 1.617.965.303.098 43 Kota Gorontalo 800.313.828.654 934.046.394.149 735.552.872.966 44 Kab. Bulu Kumba 751.301.933.742 893.750.208.116 1.102.336.310.869 45 Kab. Gowa 846.321.528.371 953.787.108.499 1.225.854.162.037 46 Kab. Sopeng 635.227.489.289 741.164.342.734 1.014.280.208.517 47 Kota Makasar 1.251.876.573.939 1.402.767.592.484 1.992.747.630.282

33 Kab. Nganjuk 1.831.998.927.025 1.893.231.262.923 2.308.269.278.031 34 Kota Malang 1.132.151.189.738 1.166.956.491.647 1.438.057.806.688 35 Kota Surabaya 1.488.374.891.545 1.384.772.424.683 1.941.019.526.654 36 Kota Denpasar 693.247.533.041 681.684.333.083 878.197.108.565 37 Kota Mataram 677.658.718.414 757.189.767.596 981.706.491.599 38 Kota Kupang 678.891.118.902 824.897.190.785 974.516.327.489 39 Kota Pontianak 727.268.363.235 731.736.303.254 890.541.184.485 40 Kab. Tanah Laut 822.386.677.448 921.047.379.972 1.136.058.762.324 41 Kota Palangkaraya 689.110.637.755 707.089.412.100 786.324.243.634 42 Kota Samarinda 1.538.150.051.351 1.542.417.499.483 1.617.965.303.098 43 Kota Gorontalo 800.313.828.654 934.046.394.149 735.552.872.966 44 Kab. Bulu Kumba 751.301.933.742 893.750.208.116 1.102.336.310.869 45 Kab. Gowa 846.321.528.371 953.787.108.499 1.225.854.162.037 46 Kab. Sopeng 635.227.489.289 741.164.342.734 1.014.280.208.517 47 Kota Makasar 1.251.876.573.939 1.402.767.592.484 1.992.747.630.282

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH. Emilia Sri Wulandari (Halaman 74-0)

Dokumen terkait