ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
3. Uji Hipotesis
a. Uji Adj R2
Pada model regresi berganda penggunaan adjusted R2 (Adj R2), atau koefisien determinasi yang telah disesuaikan, lebih baik dalam melihat seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen bila dibandingkan dengan R2 (koefisien determinasi). Kelemahan dalam menggunakan nilai R2 adalah karena adanya bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Selengkapnya mengenai hasil uji Adj R2 penelitian dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut.
Tabel 4.5 Hasil Uji Adj R2
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .998a .995 .995 .1129229
a. Predictors: (Constant), ln_dpk, ln_CAR, ln_SBI, ln_LDR, ln_npl, ln_M2, ln_ROA
b. Dependent Variable: kredit Sumber : Data sekunder diolah
Besarnya angka R square (R2) adalah 0.995, angka tersebut dapat digunakan untuk melihat besarnya pengaruh nilai CAR, ROA, LDR, NPL, DPK, Suku bunga SBI, dan Jumlah Uang Beredar terhadap penyaluran kredit di dunia perbankan dengan cara menghitung koefesien determinasi (KD) dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
97
KD = R2 x 100% KD = 0.995 x 100% KD = 99.5%
Angka tersebut mempunyai maksud bahwa pengaruh nilai CAR, ROA, LDR, NPL, DPK Suku bunga SBI, dan Jumlah Uang Beredar secara gabungan terhadap penyaluran kredit di perbankan adalah 99.5%, sedangkan sisanya sebesar 0.5% (100% - 99.5%) dipengaruhi oleh variabel – variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam penelitian. Adapun angka koefisien korelasi (R) menunjukkan nilai sebesar 0,998 yang menandakan bahwa hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen adalah kuat karena memiliki nilai R > 0,5.
b. Uji F
Uji F bertujuan untuk mengetahui apakah seluruh variabel independen secara bersama-sama (simultan) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Signifikansi model regresi pada penelitian ini diuji dengan melihat nilai signifikansi (sig.) yang ada di tabel 4.6. Selengkapnya mengenai hasil uji F penelitian dapat dilihat pada halaman selanjutnya.
98 Tabel 4.6 Hasil Uji F ANOVAb Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression 928.422 7 132.632 10401.204 .000a Residual 4.412 346 .013 Total 932.834 353
a. Predictors: (Constant), ln_dpk, ln_CAR, ln_SBI, ln_LDR, ln_npl, ln_M2, ln_ROA
b. Dependent Variable: kredit Sumber: Data sekunder diolah
Hasil Uji Hipotesis 1
Pengaruh CAR, ROA, LDR, NPL, DPK, Suku Bunga SBI, dan Jumlah Uang Beredar terhadap Penyaluran kredit.
Hasil uji hipotesis 1 dapat dilihat pada tabel 4.6 nilai F diperoleh 10401,204 dengan tingkat signifkansi 0,000, karena tingkat signifkansi lebih kecil dari 0,05 maka Ha diterima, sehingga dapat dikatakan bahwa CAR, ROA, LDR, NPL, DPK, Suku Bunga SBI dan Jumlah Uang Beredar berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit.
c. Uji t
Uji t bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh masing – masing variabel independen secara individual (parsial) terhadap variabel dependen. Apabila Thitung lebih besar Ttabel (Thit > Ttab) dan nilai signifikan Thitung lebih kecil
dari α : 5% (0,05) (sig < α), berarti terdapat pengaruh signifikan antara variabel independen secara parsial dengan variabel dependen. Dengan menggunakan metode regresianalisis regresi linier berganda. Signifikansi model regresi pada
99
penelitian ini diuji dengan melihat nilai sig. yang ada di tabel 4.7. Selengkapnya mengenai hasil uji t penelitian dapat dilihat sebagai berikut.
Tabel 4.7 Hasil Uji t
Sumber: Data sekunder diolah
Hasil Uji Hipotesis 2
Pengaruh Capital Adequacy Ratio terhadap penyaluran kredit.
Hasil uji hipotesis 2 dapat dilihat pada tabel 4.7, variabel car mempunyai tingkat signifikansi 0,000. Hal ini berarti menerima Ha1 sehingga dapat dikatakan bahwa car berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit karena tingkat signifikansi yang dimiliki variabel car lebih kecil dari 0,05.
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -31.950 1.244 -25.679 .000 ln_CAR .079 .020 .017 3.923 .000 ln_ROA .013 .010 .006 1.301 .194 ln_LDR .909 .021 .179 43.547 .000 ln_M2 1.411 .495 .013 2.852 .005 ln_SBI .024 .035 .003 .688 .492 ln_npl .031 .006 .022 5.462 .000 ln_dpk 16.084 .075 .955 213.554 .000
100 Hasil Uji Hipotesis 3
Pengaruh Return On Assets terhadap penyaluran kredit.
Hasil uji hipotesis 3 dapat dilihat pada tabel 4.7, variabel roa mempunyai tingkat signifikansi 0,194. Hal ini berarti menolak Ha2 sehingga dapat dikatakan bahwa roa tidak berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit karena tingkat signifikansi yang dimiliki variabel roa lebih besar dari 0,05.
Hasil Uji Hipotesis 4
Pengaruh Loan to Deposit Ratio terhadap penyaluran kredit.
Hasil uji hipotesis 4 dapat dilihat pada tabel 4.7, variabel ldr mempunyai tingkat signifikansi 0,000. Hal ini berarti menerima Ha3 sehingga dapat dikatakan bahwa ldr berpengaruh signifkan terhadap penyaluran kredit karena tingkat signifikansi yang dimiliki variabel ldr lebih kecil dari 0,05.
Hasil Uji Hipotesis 5
Pengaruh Jumlah Uang Beredar terhadap penyaluran kredit.
Hasil uji hipotesis 5 dapat dilihat pada tabel 4.7, variabel M2 mempunyai tingkat signifikansi 0,005. Hal ini berarti menerima Ha7 sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah uang beredar signifikan terhadap penyaluran kredit karena tingkat signifikan yang dimiliki variabel M2 lebih kecil dari 0,05.
101 Hasil Uji Hipotesis 6
Pengaruh Suku Bunga SBI terhadap penyaluran kredit.
Hasil uji hipotesis 6 dapat dilihat pada tabel 4.7, variabel sbi mempunyai tingkat signifikansi 0,492. Hal ini berarti menolak Ha6 sehingga dapat dikatakan bahwa sbi tidak berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit karena tingkat signifikansi yang dimiliki variabel sbi lebih besar dari 0,05.
Hasil Uji Hipotesis 7
Pengaruh Non Performing Loan terhadap penyaluran kredit.
Hasil uji hipotesis 7 dapat dilihat pada tabel 4.7, variabel npl mempunyai tingkat signifikansi 0,000. Hal ini berarti menerima Ha4 sehingga dapat dikatakan bahwa npl berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit karena tingkat signifkansi yang dimiliki variabel npl lebih kecil dari 0,05.
Hasil Uji Hipotesis 8
Pengaruh Dana Pihak Ketiga terhadap penyaluran kredit.
Hasil uji hipotesis 8 dapat dilihat pada tabel 4.7, variabel dpk mempunyai tingkat signifikansi 0,000. Hal ini berarti menerima Ha5 sehingga dapat dikatakan bahwa dpk berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit karena tingkat signifkansi yang dimiliki variabel dpk lebih kecil dari 0,05.
102
Berdasarkan tabel 4.7, maka diperoleh model persamaan regresi sebagai berikut.
Dimana :
Y = Penyaluran kredit
X1 = Capital Adequacy Ratio (CAR)
X2 = Return On Assets (ROA)
X3 = Loan to Deposit Ratio (LDR)
X4 = Jumlah Uang Beredar
X5 = Suku Bunga SBI
X6 = Non Performing Loan (NPL)
X7 = Dana Pihak Ketiga
Maka dapat dijelaskan bahwa (1) apabila X1, X2, X3, X4, X5, X6, dan X7 bernilai 0, maka nilai Y adalah 31,9 trilliyun maksudnya adalah jika 18 bank (sampel yang diambil) tidak melakukan operasional perbankan dapat dikatakan bahwa dalam periode 2005-2009 pertumbuhan sektor riil kekurangan penyaluran kredit sebesar 31,9 trilliyun .(2) X1= 0,079 maksudnya adalah setiap kenaikan 1% X1 akan menyebabkan perubahan Y sebesar 0,079 trilliyun. (3) X2= 0,013 maksudnya adalah setiap kenaikan 1 % X2 akan menyebabkan perubahan Y sebesar 0,013 trilliyun. (4) X3= 0,909 maksudnya adalah setiap kenaikan 1% X3 maka
Y = -31,950 + 0,079X1 + 0,013X2 + 0,909X3 + 1,411X4 + 0,024X5 +
103
akan menyebabkan perubahan Y sebesar 0,909 trilliyun. (5) X4= 1,411 maksudnya adalah setiap kenaikan 1 trilliyun X4 akan menyebabkan perubahan Y sebesar 1,411 trilliyun. (6) X5= 0,024 maksudnya adalah setiap kenaikan 1% X5 akan menyebabkan perubahan Y sebesar 0,024 trilliyun. (7) X6= 0,031 maksudnya adalah setiap kenaikan 1% X6 akan menyebabkan perubahan Y sebesar 0,031 trilliyun. (8) X7=16,084 maksudnya adalah setiap kenaikan 1 milliar X7 akan menyebabkan perubahan Y sebesar 16,084 trilliyun.
C. Interpretasi
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, secara rici mengenai hasil pengujian dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pengaruh Capital Adequacy Ratio terhadap penyaluran kredit
Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa tingkat signifikansi variabel CAR 0,000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa car berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit. Hubungan antara CAR dan kredit bersifat positif. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Luh Gede Meydianawathi (2007), Billy Arma Pratama (2010), Abdul Rosyid (2009) tetapi tidak mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Desi Arisandi (2009) menyatakan bahwa capital adequacy ratio tidak berpengaruh signifikan dengan penawaran kredit.
104
Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio permodalan yang
menunjukkan kemampuan bank dalam menyediakan dana untuk keperluan pengembangan usaha dan menampung risiko kerugian dana yang diakibatkan oleh kegiatan operasi bank (Ali, 2004). Semakin tinggi CAR maka semakin besar pula sumber daya financial yang dapat digunakan untuk keperluan pengembangan usaha dan mengantisipasi potensi kerugian yang diakibatkan oleh penyaluran kredit.
CAR juga menjadi indikator untuk melihat tingkat efisiensi dana modal bank yang digunakan untuk investasi. Apabila persentase CAR terlalu kecil (lebih rendah dari standar BI) maka bank tersebut termasuk ke dalam kategori bank tidak sehat, namun apabila persentase CAR terlalu besar berarti terlalu besar dana bank yang menganggur (idle fund). Ahmad Faishol (2007:153).
2. Pengaruh Return On Assets terhadap penyaluran kredit
Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa tingkat signifikansi variabel ROA 0,194 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa ROA tidak berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit. Hubungan antara ROA dan kredit bersifat positif. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan Desi Arisandi (2009), namun tidak mendukung hasil penelitian dari Luh Gede Meydianawathi (2007) yang menyatakan bahwa return on assets menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap penawaran kredit investasi dan kredit modal kerja.
105
Return On Assets merupakan indikator pengukur kinerja keuangan
perbankan karena roa digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan didalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Semakin besar nilai rasio return on assets maka menunjukkan tingkat rentabilitas usaha bank semakin baik atau sehat (Mahrinasari, 2003).
3. Pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap penyaluran kredit
Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa tingkat signifikansi variabel LDR 0,000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa LDR berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit. Hubungan antara ldr dan kredit bersifat positif. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan Abdul Rosyid (2009) yang menyatakan bahwa LDT berpengaruh signifikan terhadap penawaran kredit investasi.
Menurut Perry Warjiyo (2004:26), dalam kenyataannya perilaku penawaran kredit perbankan tidak hanya dipengaruhi oleh dana yang bersumber dari dana pihak ketiga, tetapi juga dipengaruhi oleh persepsi bank terhadap prospek usaha debitur dan kondisi perbankan itu sendiri. Maksimal LDR yang diperkenankan oleh Bank Indonesia adalah sebesar 110%.
4. Pengaruh Jumlah Uang Beredar terhadap penyaluran kredit
Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa tingkat signifikansi variabel jumlah uang beredar 0,000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa jumlah uang beredar berpengaruh signifikan terhadap penyaluran
106
kredit. Hubungan antara jumlah uang beredar dan kredit bersifat positif. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan Sesy Rizkiyanti Oktavia (2006) yang menyatakan bahwa jumlah uang beredar berpengaruh positif dan signifikan terhadap penawaran kredit.
Jumlah Uang Beredar memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhada penyaluran kredit. Artinya, apabila jumlah uang beredar mengalami peningkatan maka jumlah penyaluran kredit juga akan mengalami peningkatan.
5. Pengaruh Suku Bunga SBI terhadap penyaluran kredit
Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa tingkat signifikasi variabel SBI 0,492 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa suku bunga SBI tidak berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit. Hubungan antara suku bunga SBI dan kredit bersifat positif. Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Billy Arma Pratama (2010), namun tidak mendukung hasil penelitian Dewi Anggrahini (2006) dalam penelitiaannya mengenai analisis faktor-faktor yang mempengaruhi penyaluran kredit perbankan menyatakan bahwa suku bunga SBI berpengaruh positif terhadap kredit perbankan.
Menurut Samuelson (2001:227) tingkat diskonto (BI rate) digunakan sebagai tanda perubahan kebijaka utama pasar. Tingkat diskonto mengikuti bunga pasar untuk mencegah bank umum untuk mendapatkan untung yang lebih besar dari meminjam dengan tingkat diskonto yang rendah kemudian meminjamkan ke pasar dengan bunga yang lebih tinggi. Artinya, ketika suku bungaa diskonto naik maka bank umum akan
107
merespon dengan menaikkan suku bunga pembiayaan dan merubah suku bunga simpanan
SBI merupakan instrument yang menawarkan instrument yang menawarkan return yang cukup kompetitif serta bebas risiko (risk free) gagal bayar (Ferdian, 2008). Suku bunga SBI yang terlalu tinggi membuat perbankan betah menempatkan dananya di SBI ketimbang menyalurkan kredit (Sugema, 2010).
6. Pengaruh Non Performing Loan terhadap penyaluran kredit
Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa tingkat signifikansi variabel NPL 0,000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa NPL berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit. Hubungan antara NPL dan kredit bersifat positif. Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Billy Arma Pratama (2010), Desi Arisandi (2009), dan Abdul Rosyid (2009).
Non Performing Loan merupakan rasio yang dipergunakan untuk mengukur kemampuan bank dala meng-cover risiko kegagalan pengembalian kreditoleh debitur (Darmawan,2004). NPL mencerminkan risiko kredit, semakin tinggi tingkat NPL maka semakin besar pula risiko kredit yang ditanggung oleh pihak bank (Ali, 2004). Akibat tingginya NPL perbankan harus menyediakan pencadangan yang lebih besar sehingga pada akhirnya modal bank ikut terkikis. Padahal besaran modal sangat mempengaruhi besarnya ekspansi kredit. Besarnya NPL menjadi salah satu penyebab sulitnya perbankan dalam menyalurkan kredit (Sentausa,2009).
108
7. Pengaruh Dana Pihak Ketiga terhadap penyaluran kredit
Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa tingkat signifkansi variabel dpk 0,000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa dpk berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit. Hubungan antara dpk dan kredit bersifat positif. Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Luh Gede Meydianawathi (2007), Billy Arma Pratama (2010), Tatik Setiyati (2007), Desi Arisandi (2009), Nresna Iqlima (2009), dan Abdul Rosyid (2009). Menyimpulkan bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) merupakan faktor yang mendukung penyaluran kredit perbankan. Semakin besar DPK yang berhasil dihimpun maka semakin besar pula jumlah kredit yang disalurkan. Oleh karena itu Bank Umum harus melakukan penghimpunan DPK secara optimal. Hal ini dapat dilakukan antara lain melalui program reward yang menarik, sales people, dan
service people yang qualified, suku bunga simpanan yang menarik, dan jaringan layanan yang luas dan mudah diakses, guna menarik minat masyarakat untuk menyimpan dananya. Di sisi lain ketatnya persaingan dalam rangka penghimpunan dana (baik dengan sesama bank maupun dengan lembaga keuangan bukan bank) dan tuntutan sebagai business entity untuk meningkatkan peroleha laba, mendorong Bank Umum untuk mempergunakan DPK yang berhasil dihimpun dengan optimal. Penyaluran kredit merupakan alokasi DPK yang paling utama dalam menghasilkan keuntungan, disamping sebagai bentuk tanggung jawab moral perbankan atas DPK yang berhasil dihimpun dari masyarakat.
109