TINJAUAN PUSTAKA
C. Hasil Analisis Data
3. Uji Hipotesis
Uji korelasi yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah uji korelasi nonparametrik Spearman Brown, hal ini dilakukan karena uji asumsi normalitas tidak terpenuhi (salah satu variabel tidak normal).
Hipotesis yang menyatakan ada hubungan positif antara kesadaran kesetaraan jender dalam perkawinan dengan aspirasi karir pada karyawati dapat ditunjukkan oleh tabel analisis regresi di bawah ini:
Tabel 11
Hasil Uji Korelasi
Variabel rxy Sig
Kesadaran Kes. Jender 0,467 0,000
& Aspirasi Karir
__________________________________________________________________
Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara kesadaran kesetaraan jender dalam perkawinan dengan aspirasi karir, artinya hipotesis diterima.
D. Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil kesadaran kesetaraan jender dalam perkawinan subjek penelitian rata-rata sedang. Demikian halnya dengan profil aspirasi karir subjek (karyawati) juga rata-rata sedang.
Hasil analisis korelasi nonparametrik (Spearman Brown) terhadap variabel kesadaran kesetaraan jender dengan aspirasi karir pada karyawati menunjukkan adanya hubungan yang sangat erat, yaitu nilai rxy = 0,467 dengan nilai p=0,000 (p<0,01) yang berarti ada hubungan positif dan sangat signifikan antara kesadaran kesetaraan jender dalam perkawinan dengan aspirasi karir pada karyawati. Artinya semakin tinggi tingkat kesadaran kesetaraan jender dalam perkawinan pada karyawati maka akan diikuti semakin tingginya tingkat aspirasi karir pada karyawati.
Berdasarkan hasil uji hipotesis dalam penelitian ini menunjukan sebuah indikasi bahwa antara kesadaran kesetaraan jender dalam perkawinan dengan aspirasi karir karyawati berhubungan secara linier, positif dan sangat signifikan.
49
Dengan kata lain, seorang karyawati, sekaligus ibu rumah tangga yang berstatus sebagai istri, kemungkinan besar akan mendapatkan banyak kendala dalam berkarir di luar rumah jika dalam dirinya belum memiliki kesadaran kesetaraan jender dalam perkawainannya. Begitu juga sebaliknya, seorang karyawati yang juga sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga akan sedikit mengalami kendala dalam berkarir di luar rumah jika mereka memiliki kesadaran kesetaraan jender yang baik dalam perkawinan. Atau bahkan bisa dikatakan karyawati mampu memicu aspirasi karirnya jika antara dirinya dan keluarganya sama-sama memiliki kesadaran kesetaraan jender dalam perkawinan.
Menurut Anoraga (2005) salah satu penyebab aspirasi karir yang kurang pesat yang terjadi di kalangan kaum wanita dalam satu perusahaan adalah adanya bias jender dalam perkawinan yang berdampak pada dunia kerja. Hal ini tidak lepas dari kultur patriarki yang mempengaruhi pola pikir masyarakat. Perbedaan jender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki dan terutama terhadap kaum perempuan. Menurut Fakih (1999), ketidakadilan jender termanifestasikan dalam pelbagai bentuk ketidakadilan yaitu marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi anggapan tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotipe atau melalui pelabelan negatif, kekerasan, beban kerja yang panjang dan lebih banyak serta sosialisasi ideologi peran jender.
Ketidakadilan jender yang ada dalam suatu rumah tangga akan menghasilkan konflik diantara suami istri yang jika dibiarkan terus berlanjut akan mengakibatkan perceraian.
Seiring dengan perkembangan jaman, dan maraknya pendidikan serta kesempatan kerja bagi setiap orang, terbukalah kesempatan bagi perempuan untuk beremansipasi, misalnya dalam bekerja dan berkarir. Suami-istri saling memahami keadaan jaman yang cukup bersaing, butuh ketrampilan dan keuletan, serta pengetahuan dan kebutuhan hidup yang semakin tinggi, dimana faktor tersebut semakin mendorong individu, termasuk pasangan suami-istri untuk melakukan perubahan cara pandang serta bersikap terhadap perubahan jaman yang semakin kompleks. Istri tidak harus berperan di ranah domestik, tetapi juga ikut berperan di ranah publik, perubahan ini sudah tidak dapat dibendung lagi (Setyowati & Riyono, 2003).
Dukungan seorang suami termasuk juga kesadaran istri terhadap kesetaraan jender jelas akan memberikan keleluasaan bagi istri untuk bekerja dan berkarir di luar rumah, sehingga istri dapat lebih fokus pada pekerjaan yang digelutinya, termasuk meningkatkan aspirasi karir untuk berhasil dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Suami yang memiliki kesadaran untuk melakukan tugas-tugas domestik (sebagai salah satu bentuk kesetaraan jender) dan tidak memandangnya pada sudut pantas dan ketidakpantasan yang menjadi penyebab bias jender tentu akan sangat membantu keseimbangan tugas istri di dalam rumah maupun di luar rumah. Kondisi ini akan menyebabkan aspirasi karir meningkat dan termotivasi untuk mencapai keberhasilan.
Kondisi di atas akan berbeda jika seorang suami yang senantiasa membatasi ruang gerak istri atau tidak ada kesadaran dari pihak suami tentang kesetaraan jender, tentu akan menghambat kinerja, produktifitas kerja, serta
51
aspirasi karir istrinya. Oleh karenanya, kesadaran kesetaraan jender hendaknya dimiliki oleh laki-laki (suami) dan perempuan (istri) dengan tujuan untuk menciptakan kelenturan peran laki-laki maupun perempuan tanpa adanya penilaian pantas dan tidak pantas, sehingga seorang istri terdorong, termotivasi dan merasa mendapatkan dukungan dari keluarga, sehingga istri memiliki cita-cita, harapan-harapan dan keinginan yang kuat untuk diwujudkan dalam bentuk bekerja, berkarya atau berkarir di luar rumah atau pada sebuah perusahaan tertentu dengan sebaik-baiknya.
Aspirasi karir pada karyawati dapat dijelaskan oleh variabel kesadaran kesetaraan jender dalam perkawinan sebesar 59,2% (R Square = 0,592), sehingga dapat diketahui bahwa 40,8% aspirasi karir dapat dijelaskan oleh variabel bebas lainnya. Salah satu contohnya adalah hubungan antara masa kerja dengan aspirasi karir. Menurut Riyono & Setyowati, 2003 bahwa masa kerja mempunyai korelasi negaif yang sangat signifikan dengan aspirasi karir. Seorang yang telah lama bekerja disebuah perusahaan tertentu cenderung memiliki aspirasi yang menurun.
Dalam hal ini Hurlock (Setyowati & Riyono, 2003) menjelaskan bahwa masa kerja erat kaitannya dengan pengalaman. Pengalaman seseorang mempengaruhi aspirasinya dimana seseorang akan belajar menilai kemampuannya dengan melihat pengalamannya. Hasil penelitian yang dilakukan Setyowati dan Riyono (2003) menunjukkan bahwa semakin lama seseorang bekerja maka aspirasi karirnya menurun. Hal ini bisa jadi karena seseorang yang tadinya mempunyai aspirasi yang tidak realistik yaitu tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapinya di lokasi tempat bekerja mulai menurunkan aspirasi karirnya sejalan dengan
bertambahnya usia. Demikian halnya dengan jumlah anak. Berdasarkan laporan hasil penelitian Setyowati dan Riyono (2003), bahwa jumlah anak berkorelasi negatif dengan aspirasi karir secara sangat signifikan. Semakin banyak anak aspirasi karir karyawati semakin rendah. Hal ini disebabkan karena pilihan seorang wanita untuk tetap bekerja sambill mengasuh anak membuatnya dalam situasi sulit.
Secara teoritis, aspirasi karir dipengaruhi oleh beberapa hal,misalnya yang dijelaskan oleh Strauss & Sayless (1986), antara lain :
Pertama: Aspirasi karir karyawan berubah karena sebab-sebab dari dalam dan
luar. Sebab dari dalam misalnya faktor keluarga, kepribadian, sedangkan sebab dari luar misalnya kesempatan untuk promosi, lingkungan kerja. Kedua: Lokasi Pekerjaan, hal ini menjadi lebih penting dalam perencanaan karyawan karena mencerminkan perhatian yang meningkat terhadap mutu kehidupan. Ketiga:
Sistem terbuka, sifat pokok dari sistem ini adalah memberikan kebebasan luas bagi karyawan untuk memilih karir mereka.
Faktor-faktor di atas menjadi bagian dari variabel bebas yang turut mempengaruhi aspirasi karir seseorang. Namun yang menjadi dasar penting dari aspirasi karir yang berhubungan dengan kesadaran kesetaraan jender dalam perkawinan menurut penulis adalah faktor sistem terbuka, dimana setiap orang mendapatkan kesempatan yang sama dan terbuka untuk memilih, mengembangkan dan mencapai karir puncak yang dikehendaki setiap individu (karyawati). Selain itu, kesadaran untuk memberi kebebasan dan kesempatan oleh keluarga (suami-anak-orangtua) bagi karyawati (istri) untuk bekerja di luar rumah
53
juga menjadi penentu aspirasi karir karyawati. Hal ini berarti bahwa aspirasi karir juga sangat dipengaruhi oleh kesadaran kesetaraan jender, misalnya dalam lingkup keluarga tersebut.
54
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pertama : Ada hubungan positif yang sangat signifikan antara kesadaran
kesetaraan jender dalam perkawinan dengan aspirasi karir pada karyawati. Semakin tinggi kesadaran kesataraan jender dalam perkawinan, maka semakin tinggi aspirasi karir pada karyawati. Kedua : Rata-rata kesadaran kesetaraan jender dalam perkawinan subjek adalah sedang, demikian halnya dengan aspirasi karir pada karyawati (subjek) adalah rata-rata sedang.
B. Saran-saran
Berdasarkan dari hasil penelitian yang didapat, maka peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Bagi Subjek Penelitian (Karyawati Dinas Kehutanan Pontianak Kalbar)
Hendaknya senantiasa meningkatkan dan mempertahankan aspirasi karirnya supaya berhasil dalam pekerjaannya, yaitu dengan jalan melakukan komunikasi yang baik, cermat dan tepat berlandaskan wawasan yang berkeadilan jender.
Sehingga tidak perlu terjadi konflik dalam perkawinan yang diasumsikan disebabkan karena wanita berkarir di luar rumah, tetapi hendaknya terbangun sikap, sifat, dan perilaku yang saling memahami, menolong dan melengkapi
55
tugas-tugas kerumah-tanggaan yang harmonis antara suami-istri dan anggota keluarga lainnya.
2. Bagi Pimpinan Dinas Kehutanan Pontianak Kalbar
Hendaknya menciptakan suasana yang berkeadilan jender, misalnya dalam menerapkan program-program kerja yang melibatkan karyawan dan karyawati secara proporsional dan menghindari stereotipe yang memojokkan posisi karyawati. Karyawan dan karyawati memiliki kedudukan yang sama sebagai seorang pekerja dan dapat ditempatkan pada bidang-bidang yang sesuai dengan kemampuan dan ketrampilan. Suasana yang berkesetaraan jender berhubungan positif dengan aspirasi karir, atau bisa dikatakan bahwa suasana berkesetaraan jender dapat memicu aspirasi karir karyawati. Dalam hal ini lembaga atau perusahaan dapat diuntungkan karena aspirasi yang tinggi cenderung pada semangat pencapaian produktifitas yang tinggi dan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan.
3. Bagi Peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu referensi tentang kajian kesetaraan jender dengan aspirasi karir. Penelitian selanjutnya hendaknya dicari variabel lainnya yang dianggap ikut mempengaruhi aspirasi karir seseorang, baik dalam penelitian secara kuantitatif maupun secara kualitatif.