HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Uji Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Ho : Implementasi Layanan Konseling individu dengan Cognitive
Behaviour TherapyTidak Berpengaruh TerhadapPerilaku Membolos Peserta Didik di MTs GUPPI 2 Tanjungkarang Tahun Ajaran 2016/2017.
Ha : Implementasi Layanan Konseling individu dengan Cognitive
Peserta Didik di MTs GUPPI 2 Tanjungkarang Tahun Ajaran 2016/2017.
Untuk mengetahui apakah layanan konseling individu menggunakan CBT dengan teknik restrukturisasi kognitifberpengaruh terhadap perilaku membolos peserta didik dan seberapa besar skor perilakumembolos sebelum diberikan layanan konseling dan setelah diberikan layanan konseling dilakukan dengan menggunakan rumus analisis data t-test, dengan nilai distribusi yang ditentukan yaitu derajat kebebasan (df) N-1=3-1=2 dengan taraf signifikan (α) 0,5. Adapun hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut :
H0: µ1= µ2
Ha: µ1≠µ2
Berdasarkan hasil uji t paired samples t-test untuk data keseluruhan dari faktor-faktor perilaku membolos, setelah dilakukan layanan konseling individu menggunakan CBT dengan teknik restrukturisasi kognitifuntuk menurunkan perilaku membolos peserta didik, penghitungan perilakumembolos peserta didik dilakukan dengan menggunakan IBM-SPSS for windows versi 21, di dapat hasil sebagai berikut :
Tabel.13
Hasil Ujit Paired Samples T-Test
Paired Samples Test
Paired Differences Mean Std. Deviation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference t df Sig. (2-tailed) Lower Upper Pair 1 Total_PRE -Total_POST 10.667 2.082 1.202 5.496 15.838 8.875 2 .012 T-TEST PAIRS=Total_PRE WITH Total_POST (PAIRED)
/CRITERIA=CI(.9500) /MISSING=ANALYSIS.
Dari tabel dapat diketahui bahwa t adalah 8.875mean10.667, 95% confidence interval of the difference, lower = 5.496 dan upper = 15.838, kemudian thitung dibandingkan dengan ttabel df = 2, dengan ketentuan thitung < ttabel(8.875< 1.796)dikarenakan peneliti mengambil taraf signifikan α= 0.05 dengan nilai distribusi nilai satu arah untuk kriteria pengujian hipotesis yang peneliti ajukan, dengan demikian perilaku membolos peserta didik kelas VIII di MTs GUPPI 2 Tanjung Karang mengalami perubahan setelah diberikan layanan konseling individu. Jadi dapat disimpulkan bahwa layanan konseling individu menggunakan CBT dengan teknik restrukturisasi kognitif dapat berpengaruh dalam menurunkan perilakumembolos peserta didik MTs GUPPI 2 Tanjung Karang. Dari hasil uji t, hasil yang diperoleh menunjukkan adanya perubahan skor perilaku membolos setelah diberikan layanan konseling individu menggunakan CBT dengan teknik restrukturisasi kognitif. Peserta didik yang pada awalnya memiliki skor tinggi, setelah diberikan layanan konseling mengalami penurunan skor perilakumembolos menjadi sedang.
Tabel.14
Hasil Uji t Perilaku Membolos Peserta Didik Pada Indikator Keluarga
Paired Samples Test
Paired Differences T df Sig. (2-tailed) Mean Std. Deviation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Pair 1 Total_Pre_Klrg -Total_Post_Klrg 1.333 1.528 .882 -2.461 5.128 1.512 2 .270
T-TEST PAIRS=Total_Pre_Klrg WITH Total_Post_Klrg (PAIRED) /CRITERIA=CI(.9500)
/MISSING=ANALYSIS.
Berdasarkan tabel tersebut pada indikator keluarga dari hasil uji t test paired samples t-test, independent pretest dan posttest menurun. Pada indikator keluarga dinyatakan tidak signifikan karena, sign.2 tailed > 0.05 (0.270> 0.05). dilihat dari hasil rata-rata posttestdan pretestmenunjukkan mengalami penurunan sebesar 1.333. Hal ini menunjukkan pelaksanaan layanan konseling individu menggunakan CBT dengan teknik restrukturisasi kognitif dapat menurunkan perilaku membolos peserta didik.
Tabel.15
Hasil Uji t Perilaku Membolos Peserta Didik Pada Indikator Kurangnya Percaya Diri
Paired Samples Test
Paired Differences
t df Sig. (2-tailed) Mean DeviationStd. Std. Error Mean
95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Pair 1 Total_Pre_PD -Total_Post_PD 2.333 2.309 1.333 -3.404 8.070 1.750 2 .222
T-TEST PAIRS=Total_Pre_PD WITH Total_Post_PD (PAIRED) /CRITERIA=CI(.9500)
Berdasarkan tabel tersebut pada indikator kurangnya percaya diri dari hasil uji t test paired samples t-test, dinyatakan tidak signifikan karena, sign.2 tailed > 0.05 (0.222> 0.05). dilihat dari hasil rata-rata posttestdan pretest menunjukkan mengalami penurunan sebesar 2.333. Hal ini menunjukkan pelaksanaan layanan konseling individu menggunakan CBT dengan teknik restrukturisasi kognitif dapat menurunkan perilaku membolos peserta didik.
Tabel.16
Hasil Uji t Perilaku Membolos Peserta Didik Pada Indikator Perasaan Termarginalkan
Paired Samples Test
Paired Differences t df Sig. (2-tailed) Mean Std. Deviation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Pair 1 Total_Pre_Marginal -Total_Post_Marginal 2.000 2.000 1.155 -2.968 6.968 1.732 2 .225
T-TEST PAIRS=Total_Pre_Marginal WITH Total_Post_Marginal (PAIRED) /CRITERIA=CI(.9500)
/MISSING=ANALYSIS.
Berdasarkan tabel tersebut pada indikator perasaan yang termarginalkan dari hasil uji t test paired samples t-test, dinyatakan tidak signifikan karena, sign.2 tailed > 0.05 (0.225> 0.05). Dilihat dari hasil rata-rata posttestdan pretest menunjukkan mengalami penurunan sebesar 2.000. Hal ini menunjukkan pelaksanaan layanan konseling individu menggunakan CBT dengan teknik restrukturisasi kognitif dapat menurunkan perilaku membolos peserta didik.
Tabel.17
Hasil Uji t Perilaku Membolos Peserta Didik Pada Indikator Personal
Paired Samples Test
Paired Differences t df Sig. (2-tailed) Mean Std. Deviation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Pair 1 Total_Pre_Personal -Total_Post_Personal 2.333 1.528 .882 -1.461 6.128 2.646 2 .118
T-TEST PAIRS=Total_Pre_Personal WITH Total_Post_Personal (PAIRED) /CRITERIA=CI(.9500)
/MISSING=ANALYSIS.
Berdasarkan tabel tersebut pada indikator personaldari hasil uji t test paired samples t-test, dinyatakan tidak signifikan karena, sign.2 tailed > 0.05 (0.118> 0.05). Dilihat dari hasil rata-rata posttestdan pretest menunjukkan mengalami penurunan sebesar 2.333. Hal ini menunjukkan pelaksanaan layanan konseling individu menggunakan CBT dengan teknik restrukturisasi kognitif dapat menurunkan perilaku membolos peserta didik.
Tabel.18
Hasil Uji t Perilaku Membolos Peserta Didik Pada Indikator Sekolah
Paired Samples Test
Paired Differences t df Sig. (2-tailed) Mean Std. Deviation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Pair 1 Total_Pre_Sekolah -Total_Post_Sekolah 2.667 1.528 .882 -1.128 6.461 3.024 2 .094
T-TEST PAIRS=Total_Pre_Sekolah WITH Total_Post_Sekolah (PAIRED) /CRITERIA=CI(.9500)
/MISSING=ANALYSIS.
Berdasarkan tabel tersebut pada indikator sekolah dari hasil uji t test paired samples t-test, dinyatakan tidak signifikan karena, sign.2 tailed > 0.05 (0.094> 0.05). Dilihat dari hasil rata-rata posttestdan pretest menunjukkan mengalami penurunan
sebesar 2.667. Hal ini menunjukkan pelaksanaan layanan konseling individu menggunakan CBT dengan teknik restrukturisasi kognitif dapat menurunkan perilaku membolos peserta didik.
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis data, terlihat terdapat adanya penurunan pada perilakumembolos peserta didik kelas VIII di MTs GUPPI 2 Tanjung Karang. Dapat dilihat pada tabel dari hasil penelitian sebelum dan sesudah diberikannya layanan konseling individu menggunakan CBT dengan teknik restrukturisasi kognitif.
Selain itu dilakukan uji hipotesis menggunakan uji t paired sample t-test dan diketahui t adalah 8.875mean10.667, 95% confidence interval of the difference, lower = 5.496 dan upper = 15.838, kemudian thitung dibandingkan dengan ttabel df = 2, dengan ketentuan thitung < ttabel(8.875< 1.796)dikarenakan peneliti mengambil taraf signifikan α= 0.05 dengan nilai distribusi nilai satu arah untuk kriteria pengujian hipotesis yang peneliti ajukan, maka Ha diterima bahwa Implementasi Layanan
Konseling individu dengan Cognitive Behaviour TherapyBerpengaruh
TerhadapPerilaku Membolos Peserta Didik di MTs GUPPI 2 Tanjungkarang Tahun Ajaran 2016/2017.
Sedangkan perbandingan skor pretest61,33 dan posttest50.66 yang berarti terjadi penurunan sebesar 10,66. Hal ini, berarti menurunkan perilaku membolos peserta didik melalui konseling individu dengan menggunakan layanan konseling individu menggunakan CBT dengan teknik restrukturisasi kognitif dilakukan dengan
beberapa tahap konseling dengan enam kali pertemuan. Hal ini sesuai dengan penelitian Puti Ami Nurjanah dalam penelitiannya yang berjudul“Pengaruh Konseling Kognitif Perilaku dengan Teknik Restrukturisasi Kognitif Terhadap Harga Diri Peserta Didik Kelas VIII di MTsN 2 Bandar Lampung”,1dalam penelitian ini CBT dapat meningkatkan harga diri peserta didik.
Pemberian treatmentyang dilaksanakan selama 6 sesi dengan waktu pelaksanaan 1x45 menit dan jadwal pelaksanaan konseling berdasarkan kesepakatankonselor dan AM, MAJ, dan FWP.Dalam penelitian ini diterapkan layanan konseling individu menggunakan CBT dengan teknik restrukturisasi kognitif. Murk mendefinisikan restrukturisasi kognitif, yaitu teknik yang menghasilkan kebiasaan baru pada konseli dalam berfikir, merasa, bertindak dengan cara mengidentifikasi kebiasaan bermasalah, memberi label pada kebiasaan tersebut, dan menggantikan tanggapan/perspsi diri yang negatif/irasional menjadi lebih rasional/relistis.2Peneliti tertarik untuk menggunakan teknik restrukturisasi kognitif dari pendekatan konseling kognitif perilaku. Pemilihan ini didasari oleh latar belakang bahwa membolos merupakan sebuah evaluasi diri, dan memiliki esensi yang terletak pada keyakinan dasar yang negatif mengenai dirinya. Keyakinan dasar ini melibatkan kognisi individu. Oleh karena itu peneliti memandang intervensi yang melibatkan fungsi kognitif individu seperti konseling kognitif perilaku lebih sesuai untuk meningkatkan membolos. Tipe intervensi ini fokuspada identifikasi belief
11Puti Ami Nurjanah
(keyakinan) yang disfungsional dan mengubahnya menjadi belief yang lebih realistis.3
Setelah diberikan perlakuan sebanyak 6 kali pertemuan, peserta didik dapat memahami dan mengerti topik yang dibahas untuk itu peserta didik dapat mengaplikasikannya melalui sikap dan tindakannya dalam menilai dirinya secara positif. Secara indikator terjadi peningkatan membolos setelah diadakan konseling individu dengan tektik restrukturisasi kognitif., yaitu :
1. FaktorKeluarga
Dalam uji t yang dilakukan pada indikator keluarga dinyatakan tidak signifikan karena, sign.2 tailed > 0.05 (0.270> 0.05). hal ini berarti secara partial faktor keluarga tidak berpengaruh langsung terhadap perilaku membolos. Namu dilihat dari rata-rata pretest-posttest memiliki penurunan perilaku membolos. Hal ini mungkin kita pernah mendengar ada peserta didik yang tidak diperbolehkan masuk sekolah oleh orang tuanya. Untuk suatu alasan tertentu, hal ini dianggap paling efisien untuk mengatasi krisis atau permasalahan dalam keluarganya. Misalnya kakaknya sakit, sementara kedua orang tuanya harus pergi bekerja mencari nafkah. Untuk menemani kakaknya tersebut maka adiknya terpaksa tidak masuk sekolah. Untuk alasan tersebut boleh sang adik tidak masuk sekolah.
2. Kurangnya Percaya Diri
3Sarandria, 2012, Efektifitas Cognitive Behavioural Therapy (CBT) untuk Meningkatkan Self Esteem Pada Dewasa Muda. Tersedia di http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20315071-T31798-Efektifitas%20cognitive.pdf. Diakses tanggal 17 April 2016 jam 14.00)
Secara parsial berdasarkan uji t yang dilakukan pada indikator kurangnya percaya diri dari hasil uji t test paired samples t-test, dinyatakan tidak signifikan karena, sign.2 tailed > 0.05 (0.222> 0.05). Tetapi dilihat dari hasil rata-rata posttestdan pretest menunjukkan mengalami penurunan sebesar 2.33. hal ini, Karena rasa kurang percaya diri menjadi penghambat segala aktivitas. Faktor utama penghalang kesuksesan ialah kurangnya rasa percaya diri. Ia mematikan kreativitas peserta didik. Perasaan diri tidak mampu dan takut akan selalu gagal membuat peserta didik tidak percaya diri dengan segala yang dilakukannya. Ia tidak ingin malu, merasa tidak berharga, serta dicemooh sebagai akibat dari kegagalan tersebut. Perasaan rendah diri tidak selalu muncul pada setiap mata pelajaran. Terkadang peserta didik merasa tidak mampu dengan mata pelajaran matematika, tetapi mampu pada mata pelajaran biologi. Pada mata pelajaran yang peserta didik tidak suka, peserta didik cenderung berusaha untuk menghindarinya. 3. Perasaan yang Termarginalkan
Berdasarkan uji t pada indikator perasaan yang termarginalkan dari hasil uji t test paired samples t-test, dinyatakan tidak signifikan karena, sign.2 tailed > 0.05 (0.225> 0.05). tetapi dilihat dari hasil rata-rata posttestdan pretest menunjukkan mengalami penurunan sebesar 2.000. hal ini, Karena perasaan tersisihkan kadang muncul pada peserta didik, dibuat merasa bahwa ia tidak diinginkan atau diterima di kelasnya. Perasaan ini bisa berasal dari teman sekelas atau mungkin gurunya sendiri dengan sindiran atau ucapan. Peserta didik yang ditolak oleh teman-teman sekelasnya, akan merasa lebih aman berada di rumah. Ada peserta didik yang tidak
masuk sekolah karena takut oleh ancaman temannya. Ada juga yang diacuhkan oleh teman-temannya, ia tidak diajak bermain, atau mengobrol bersama. Penolakan peserta didik terhadap peserta didik lain dapat disebabkan oleh faktor tertentu, misalnya faktor SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan).
4. Faktor Personal
Berdasarkan uji t pada indikator personal dari hasil uji t test paired samples t-test, dinyatakan tidak signifikan karena, sign.2 tailed > 0.05 (0.118> 0.05). tetapi dilihat dari hasil rata-rata posttestdan pretest menunjukkan mengalami penurunan sebesar 2.333. hal ini Karena terkait dengan menurunnya motivasi atau hilangnya minat akademik peserta didik, kondisi ketinggalan pelajaran, atau karena kenakalan remaja.
5. Faktor yang Berasal dari Sekolah
Berdasarkan uji t pada indikator sekolah dari hasil uji t test paired samples t-test, dinyatakan tidak signifikan karena, sign.2 tailed > 0.05 (0.094> 0.05). tetapi dilihat dari hasil rata-rata posttestdan pretest menunjukkan mengalami penurunan sebesar 2.667. hal ini Karena, sekolah kurang memiliki kepedulian terhadap apa yang terjadi pada peserta didik. Awalnyapeserta didik membolos karena faktor personal atau permasalahan dalam keluarganya. Kemudian masalah muncul karena sekolah tidak memberikan tindakan yang konsisten, kadang menghukum kadang menghiraukannya. Ketidak konsistenan ini akan berakibat pada kebingungan peserta didik dalam berperilaku sehingga tak jarang mereka mencoba membolos lagi. Jika penyebab banyaknya perilaku membolos adalah faktor tersebut, maka
penanganan dapat dilakukan dengan melakukan penegakan disiplin sekolah. Peraturan sekolah harus lebih jelas dengansangsi-sangsi yang dipaparkan secara eksplisit, termasuk peraturan mengenai presensi peserta didik sehingga perilaku membolos dapat diminimalkan.