HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5. Hasil Uji Validitas Pada Variabel Prestasi Belajar (Y)
4.2.6. Uji Hipotesis
Berdasarkan hipotesis penelitian ini yang tercantum pada BAB II, maka hipotesis tersebut dapat terjawab dengan melihat hasil dari uji t, yaitu :
1. H1 ”Diduga Gaya Belajar berpengaruh positif terhadap prestasi belajar mahasiswa dalam mata kuliah Pemeriksaan Akuntansi II” tidak teruji kebenarannya, karena hasil uji t menunjukkan bahwa tingkat signifikan (sig) pada variabel ini lebih dari 5%.
2. H2 ”Diduga Motivasi berpengaruh positif terhadap prestasi belajar mahasiswa dalam mata kuliah Pemeriksaan Akuntansi II” tidak teruji kebenarannya, karena hasil uji t menunjukkan bahwa tingkat signifikan (sig) pada variabel ini lebih dari 5%.
3. H3 ”Diduga Lingkungan berpengaruh positif terhadap prestasi belajar
mahasiswa dalam mata kuliah Pemeriksaan Akuntansi II” tidak teruji kebenarannya, karena hasil uji t menunjukkan bahwa tingkat signifikan (sig) pada variabel ini lebih dari 5%.
4. H4 ”Diduga Intelectual Skill berpengaruh positif terhadap prestasi belajar mahasiswa dalam mata kuliah Pemeriksaan Akuntansi II” teruji kebenarannya, karena hasil uji t menunjukkan bahwa tingkat signifikan (sig) pada variabel ini kurang dari 5% dan koefisien regresinya bertanda positif.
4.3. Pembahasan
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yang diteliti pada penelitian ini adalah gaya belajar, motivasi, lingkungan dan intellectual skill. Berikut ini pembahasan masaing-masing variabel :
1. Gaya belajar
Gaya belajar merupakan cara atau metode yang digunakan mahasiswa
untuk menambah pemahamannya dalam suatu bidang studi. Gaya belajar cenderung menguasai prilaku mahasiswa pada setiap kali melakukan kegiatan, karena menimbulkan kebiasaan dan kebiasaan mengandung motivasi yang kuat. Pada dasarnya mahasiswa belajar karena adanya kebutuhan untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan. Kemampuan mahasiswa berbeda antara satu dengan yang lainnya, demikian pula dengan gaya belajar tiap orang. Gaya belajar menentukan kualitas hasil belajar. Gaya belajar yang tidak maksimal mengakibatkan hasil belajar yang tidak maksimal juga. Semakin sering seseorang belajar dengan giat maka semakin besar peluang untuk memperoleh prestasi yang lebih baik. Dengan demikian ada pengaruh positif antara gaya belajar dengan prestasi belajar.
Namun, penelitian ini tidak sesuai dengan uraian di atas, dimana penelitian ini menyebutkan bahwa gaya belajar tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar, berarti peningkatan gaya belajar tidak memberikan kontribusi yang nyata terhadap peningkatan prestasi belajar. Hal ini membuktikan bahwa mahasiswa yang memiliki gaya belajar yang tinggi belum tentu memiliki prestasi belajar
yang tinggi pula, sebaliknya mahasiswa yang memiliki gaya belajar yang rendah belum tentu memiliki prestasi belajar yang rendah pula, ini disebabkan kecenderungan kepuasan sebagian sebagian besar mahasiswa diukur dari kelulusan pada mata kuliah tersebut, sehingga mereka tidak memperdulikan kecenderungan gaya belajarnya. Hal ini berakibat setelah selesai ditempuhnya suatu mata kuliah, mahasiswa akan cenderung lupa.
Kemungkinan lain, adalah dosen seringkali tidak mengidentifikasi gaya belajar mahasiswa untuk menentukan strategi pembelajarannya disebabkan jumlah mahasiswa dalam satu kelas relatif besar. Perbandingan teori dan praktek seringkali tidak memperhatikan gaya belajar mahasiswa, sepanjang strategi latihan/praktek telah dilaksanakan, padahal tidak semua mahasiswa memiliki gaya belajar pemahaman konsep melalui praktek atau pengalaman. Untuk itu, gaya belajar seharusnya menyesuaikan dengan karakteristik mata kuliah, sehingga dapat dirumuskan strategi pembelajaran yang beragam. Dimungkinkan, factor-faktor tersebut lebih mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa.
2. Motivasi
Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar. Jadi adanya motivasi merupakan indikator kesungguhan dan kuntinuitas yang mengarah pada objek tertentu. Berprestasi adalah hasil yang dicapai atau diperoleh oleh siswa setelah menerima materi pelajaran yang berupa penguasaan/kemampuan yang biasannya ditunjukkan dengan nilai/angka yang diberikan oleh guru.
Konsep berprestasi menurut Mc Celland (dalam Risnawati, 2007: 17) adalah sebagai suatu usaha untuk mencapai sukses, yang bertujuan untuk berhasil dalam berkompetisi dengan suatu ukuran keunggulan. Ukuran keunggulan yang dimaksud dalam hal ini dapat berupa prestasi orang lain, tetapi dapat juga berupa motivasi belajar tinggi, yang mempunyai sikap yang positif terhadap situasi yang dapat mendukung terjadinnya motivasi belajar.
Selanjutnya Mc Celland dalam berbagai percobaan menunjukkan bahwa
individu yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi dihadapkan pada tugas-tugas yang cenderung melakukannya semakin baik, sehingga apabila mereka berhasil, mereka tampak antusias untuk menyelesaikan tugas-tugas yang lebih berat dan lebih baik lagi.
Motivasi mempuyai dua fungsi dalam proses pembelajaran yaitu mendorong mahasiswa untuk beraktivitas dan berfungsi sebagai pengarah. Tingkah laku yang ditunjukkan setiap individu pada dasarnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan atau untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. (Sanjaya, 2008: 253). Memperhatikan fungsi tersebut, maka jelas motivasi dapat menentukan keberhasilan suatu proses pembelajaran dalam mata kuliah Pemeriksaan Akuntansi II. Dengan demikian ada pengaruh positif antara motivasi dengan prestasi belajar.
Namun, penelitian ini tidak sesuai dengan uraian di atas, dimana penelitian ini menyebutkan bahwa motivasi tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar, berarti peningkatan motivasi tidak memberikan kontribusi yang nyata terhadap peningkatan prestasi belajar. Hal ini membuktikan bahwa mahasiswa yang
memiliki motivasi yang tinggi belum tentu memiliki prestasi belajar yang tinggi pula, sebaliknya mahasiswa yang memiliki motivasi yang rendah belum tentu memiliki prestasi belajar yang rendah pula.
3. Lingkungan
Lingkungan mempengaruhi prestasi belajar dalam berkonsentrasi untuk belajar. Pelajar akan memaksimalkan kemampuan dan konsentrasinya, jika pelajar akan mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap konsentrasin dan dapat memaksimalkan konsentrasi, mereka mampu menggunakan kemampuannya pada saat suasana yang tepat. Lingkungan belajar yang efektif adalah sebuah lingkungan belajar yang produktif, dimana sebuah lingkungan sesuai dengan kebutuhan para pelajar. Semakin mahasiswa berinteraksi dengan lingkungan, semakin mahir mahasiswa tersebut mengatasi situasi-situasi yang menantang dan semakin mudah mahasiswamempelajari informasi baru (DePotter&Hernacki, 2001: 81). Dengan demikian ada pengaruh positif antara kebiasaan belajar dengan prestasi belajar.
Namun, penelitian ini tidak sesuai dengan uraian di atas, dimana penelitian ini menyebutkan bahwa lingkungan tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar, berarti lingkungan yang kondusif tidak memberikan kontribusi yang nyata terhadap peningkatan prestasi belajar. Hal ini membuktikan bahwa lingkungan yang kondusif belum tentu menyebabkan peningkatan prestasi belajar, sebaliknya lingkungan yang tidak kondusif belum tentu menyebabkan prestasi belajar menurun.
4. Intellectual skill
Pengaruh kemampuan intelektual Terhadap Prestasi Belajar didasari oleh Teori Kualitas Intelegensi yang dikemukakan oleh Eurrhus Frederic Skinner pada tahun 1974 berdasarkan percobaan Thordike terhadap tingkah laku binatang-binatang dan anak-anak dalam situasi belajar, menggiring Burrhus Frederic Skinner untuk berpendapatbahwa ”kualitas intelek tergantung kepada kuantitas hubungan dari syarat-syarat penghubung”. Bahwa tingkah laku adalah sebagai hasil pengaruh dari stimuli-stimuli atas organisme untuk mempelajari sesuatu bahan baru akan menjadi lebih mudah apabila telah dimiliki sejumlah gabungan pengalaman-pengalaman yang sama yang dibutuhkan pada situasi baru, yang telah di bentuk dalam praktek sebelumnya.
Penelitian yang dilakukan sebelumnya menyebutkan bahwa kemampuan intelektual memegang peranan besar terhadap tinggi rendahnya taraf prestasi belajar. Kemampuan intelektual tersebut dipengaruhi oleh kualitas hubungan dari stimulus untuk mempelajari sesuatu bahan baru. Semakin sering hubungan tersebut maka kemampuan intelektual akan semakin baik. Dengan meningkatnya kualitas tersebut ia dapat menyelesaikan tugas dengan hasil yang baik.
Dari hasil penjelasan tersebut dapat dibuat kesimpulan bahwa keahlian intelektual memegang peranan besar terhadap tinggi rendahnya taraf prestasi belajar, misalnya mahasiswa yang cerdas dan didukung dengan sering belajar menyelesaikan soal-soal ujian akan lebih baik prestasinya dibandingkan mahasiswa yang cerdas tetapi kurang sering belajar menyelesaikan soal-soal ujian.
Penelitian ini sesuai dengan uraian di atas, dimana penelitian ini menyebutkan bahwa intellectual skill berpengaruh terhadap prestasi belajar, berarti intellectual skill yang tinggi memberikan kontribusi yang nyata terhadap peningkatan prestasi belajar.
4.3.1. Implikasi
Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa gaya belajar, motivasi dan lingkungan tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar, sedangkan Intellectual skill
berpengaruh terhadap prestasi belajar. Sehingga hasil penelitian ini memberikan implikasi, sebagai berikut :
1. Untuk meningkatkan pengaruh gaya belajar terhadap prestasi belajar, sebaiknya :
a. Bagi dosen, dalam hal merancang strategi pembelajaran hendaknya memperhatikan karakteristik input seperti kecenderungan gaya belajar. Penting bagi dosen untuk menyadari gaya mengajarnya agar tidak terdapat kesenjangan diantara dosen dan mahasiswa, serta memotivasi mahasiswa agar orientasi kelulusan menyertai kepuasan terhadap proses pembelajaran, tidak hanya nilai dari mata kuliah tersebut.
b. Bagi mahasiswa, hendaknya menyadari preferensi gaya belajar untuk memilih cara belajar yang paling efektif sesuai kebutuhannya.
2. Untuk meningkatkan pengaruh motivasi terhadap prestasi belajar, sebaiknya : a. Menciptakan kebutuhan mahasiswa atas aktivitas belajar
b. Menempatkan mahasiswa dalam kondisi mau tidak mau akan memaksanya belajar
c. Setiap mahasiswa harus mempunyai kemauan dan komitmen serta hasrat untuk menjaga agar motivasi tetap disadari keberadaannya.
3. Untuk meningkatkan pengaruh lingkungan terhadap prestasi belajar, sebaiknya universitas menciptakan lingkungan yang kondusif demi tercapainya prestasi belajar, dengan meningkatkan cara proses belajar mengajar dan menambah sarana prasarana yang menunjang terhadap aktivitas pembelajaran.