BAB III METODOLOGI PENELITIAN
E. METODE ANALISIS DATA
5. Uji Hipotesis
a. Uji Parsial (Uji t)
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satuvariabel penjelas/independen secara individual dalam
52 menerangkan variasi dependen (Ghozali, 2016). Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
Pengujian dengan uji t atau t test yaitu membandingkan antara t hitungdengan t tabel. Uji ini dilakukan dengan syarat :
1) Jika t hitung < t tabel, maka H0 diterima. Artinya variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
2) Jika t hitung > t tabel, maka H0 ditolak. Artinya variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
Pengujian juga dapat dilakukan melalui pengamatan signifikansi t padatingkat α yang digunakan (penelitian ini menggunakan tingkat α sebesar 5%).Analisis didasarkan pada perbandingan antara nilai signifikan t dengan nilaisignifikansi 0,05, di mana syarat-syaratnya adalah sebagai berikut :
a) Jika signifikansi t < 0,05, maka H0 ditolak. Artinya variabel independenberpengaruh signifikan terhadap variabel.
b) Jika signifikansi t > 0,05, maka H0 diterima. Artinya variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel.
b. Uji Simultan (Uji F)
Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabelindependen yang digunakan berpengaruh secara
bersama-53 sama terhadap satu variabel dependen (Ghozali, 2016). Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahuiapakah variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen secara signifikan. Pengujian dengan uji F atau F test yaitumembandingkan antara F hitung dengan F tabel. Uji ini dilakukan dengan syarat :
1) Jika F hitung < F tabel, maka H0 diterima. Artinya semua variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap variabeldependen.
2) Jika F hitung > F tabel, maka H0 ditolak. Artinya semua variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
Pengujian juga dapat dilakukan melalui pengamatan signifikansi F pada tingkat α yang digunakan (penelitian ini menggunakan tingkat α sebesar 5%). Analisis didasarkan pada perbandingan antara nilai signifikan t dengan nilaisignifikansi 0,05, di mana syarat-syaratnya adalah sebagai berikut :
a) Jika signifikansi F < 0,05, maka H0 ditolak. Artinya semua variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabeldependen.
b) Jika signifikansi F > 0,05, maka H0 diterima. Artinya semua variabelindependen secara bersam-sama tidak berpengaruh signifikan terhadapvariabel.
54 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
Ruang lingkup penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja reksa dana saham dan menganalisa apakah ada pengaruh secara parsial ataupun bersama-sama biaya operasi, umur reksa dana, ukuran dana, inflasi, pertumbuhan PDB terhadap kinerja reksa dana saham. Objek penelitian ini adalah reksa dana saham di Indonesia periode 2015-2019.
Sampel penelitian ini adalah reksa dana saham yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Teknik pengambilan sampel digunakan metode purposive sampling. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka sampel dalam
penelitian ini dipilih sesuai dengan karakteristik sebagai berikut :
1. Reksa dana saham yang beroperasi pada tahun 2015 dan masih tercatat di https://reksadana.ojk.go.id
2. Masih aktif sampai dengan Desember 2019
3. Perusahaan reksa dana saham yang memiliki umur reksa dananya lebih dari 2 tahun sejak tahun 2015
4. Perusahaan reksa dana saham yang berdenominasi IDR
Berdasarkan kriteria pemilihan sampel tersebut, maka diperoleh rincian pemilihan sampel sebanyak 57 sampel reksa dana saham di Indonesia.
Selengkapnya mengenai rincian pemilihan sampel penelitian dapat dilihat sebagai berikut :
55 Tabel 4.1
Rincian Pemilihan Sampel Penelitian
Kriteria Total
Jumlah reksa dana saham yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Januari 2015 sampai Desember 2019
432
Jumlah reksa dana saham yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tahun 2019
347
Jumlah reksa dana saham yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang aktif dari tahun 2013 - 2019
84
Jumlah reksa dana saham yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang aktif dari tahun 2013-2019 setelah seleksi eliminasi data ekstrem
57
Sumber : reksadana.ojk.go.id (data diolah)
B. STATISTIK DESKRIPTIF
Pada bagian ini akan dideskripsikan data penelitian meliputi hasil descriptive statistics dari program Eviews 11, mulai dari variabel independen hingga variabel dependen sebagai berikut :
56 Tabel 4.2
Statistik Deskriptif
Y X1 X2 X3 X4 X5
Mean -0.118175 0.048368 8.929825 0.041751 0.039800 0.086000 Median -0.120000 0.050000 8.000000 0.037000 0.035000 0.090000 Maximum 0.790000 0.150000 23.00000 0.106000 0.064000 0.100000 Minimum -0.750000 0.010000 2.000000 0.006000 0.030000 0.070000 Std. Dev. 0.281565 0.019689 4.988930 0.022520 0.012422 0.010216 Skewness 0.340023 2.012061 0.991064 0.658769 1.325937 -0.271545 Kurtosis 3.401492 13.45539 3.418412 3.057769 3.015300 1.955621 Jarque-Bera 7.405960 1490.416 48.73377 20.65354 83.51300 16.45488 Probability 0.024650 0.000000 0.000000 0.000033 0.000000 0.000267 Sum -33.68000 13.78500 2545.000 11.89900 11.34300 24.51000 Sum Sq.Dev. 22.51525 0.110096 7068.596 0.144033 0.043822 0.029640
Observations 285 285 285 285 285 285
Sumber : Statistik Deskriptif Eviews 11
Pada tabel 4.2 dapat dilihat bahwa N atau jumlah observasi sebanyak 285, dari 285 data sampel kinerja reksa dana saham (Y), nilai minimum sebesar -0.75, nilai maksimum sebesar 0.79, dari periode 2015-2019 diketahui nilai mean sebesar -0.118 dikarenakan beberapa sebab seperti data penelitian menggunakan fluktuasi dari NAV sehingga dapat bernilai negatif, selain itu dari tabel diatas juga dapat dilihat nilai minimum yang sebesar -0.75 jika nilainya negatifnya lebih banyak akan mengakibatkan data cenderung kearah negatif.
Biaya operasi (X1) dari 285 observasi diketahui bahwa nilai minimum sebesar 0.01, nilai maksimum sebesar 0.15, nilai mean dari periode 2015-2019 sebesar 0.048, serta nilai standar deviasi sebesar 0.019 artinya nilai mean biaya operasi periode 2015-2019 lebih besar dari nilai standar deviasi sehingga penyimpangan data yang terjadi rendah maka penyebaran nilainya merata.
57 Umur (X2) dari 285 observasi diketahui bahwa nilai minimum sebesar 2, nilai maksimum sebesar 23, nilai mean dari periode 2015-2019 sebesar 8.93, serta nilai standar deviasi sebesar 4.99 artinya nilai mean biaya operasi periode 2015-2019 lebih besar dari nilai standar deviasi sehingga penyimpangan data yang terjadi rendah maka penyebaran nilainya merata.
Ukuran dana (X3) dari 285 observasi diketahui bahwa nilai minimum sebesar 0.006, nilai maksimum sebesar 0.106, nilai mean dari periode 2015-2019 sebesar 0.042, serta nilai standar deviasi sebesar 0.023 artinya nilai mean biaya operasi periode 2015-2019 lebih besar dari nilai standar deviasi sehingga penyimpangan data yang terjadi rendah maka penyebaran nilainya merata.
Inflasi (X4) dari 285 observasi diketahui bahwa nilai minimum sebesar 0.03, nilai maksimum sebesar 0.064, nilai mean dari periode 2015-2019 sebesar 0.0398, serta nilai standar deviasi sebesar 0.0124 artinya nilai mean biaya operasi periode 2015-2019 lebih besar dari nilai standar deviasi sehingga penyimpangan data yang terjadi rendah maka penyebaran nilainya merata.
Pertumbuhan PDB (X5) dari 285 observasi diketahui bahwa nilai minimum sebesar 0.07, nilai maksimum sebesar 0.1, nilai mean dari periode 2015-2019 sebesar 0.086, serta nilai standar deviasi sebesar 0.01 artinya nilai mean biaya operasi periode 2015-2019 lebih besar dari nilai standar deviasi sehingga penyimpangan data yang terjadi rendah maka penyebaran nilainya merata.
58 C. UJI PENENTUAN MODEL ESTIMASI TERBAIK
Dalam penelitian yang menggunakan data panel, dimana untuk menginterprestasikan hasil analisisnya harus ditentukan menggunakan model yang paling tepat (CEM, FEM, REM), maka peneliti melakukan langkah pemilihan model yaitu dengan melakukan beberapa tahap :
1. Uji Chow
Uji Chow dilakukan untuk memilih antara Pooled Least Square atau Fixed Effect, dari hasil uji yang dilakukan mendapatkan hasil sebagai
berikut:
H0 : Model menggunakan estimasi Pooled Least Square.
H1 : Model menggunakan estimasi Fixed Effect.
Namun, dikarenakan Fix Effect Model tidak dapat ditampilkan maka model yang dipilih adalah Pooled Least Square atau Common Effect Model.
2. Uji Hausman
Uji Hausman dilakukan untuk memilih antara Random Effect atau Fixed Effect, dari hasil uji yang dilakukan mendapatkan hasil sebagai berikut:
H0 : Model menggunakan estimasi Random Effect.
H1 : Model menggunakan estimasi Fixed Effect.
Masih sama dengan Uji Chow, dikarenakan Fix Effect Model tidak dapat ditampilkan maka model yang dipilih adalah Random Effect Model.
59 3. Uji Lagrange Multiplier (LM)
Uji Lagrange Multiplier dilakukan untuk memilih antara Common Effect atau Random Effect, dari hasil uji yang dilakukan mendapatkan hasil sebagai berikut:
H0 : Model menggunakan estimasi Common Effect. (Both > 0.05) H1 : Model menggunakan estimasi Random Effect. (Both < 0.05)
Tabel 4.3
Uji Lagrange Multiplier
Hasil : Hasil olahan Eviews 11
Dari hasil tersebut hasil Both adalah 0.0449 dibawah 0.05 maka pada tingkat kesalahan 5% menolak H0 dan menerima H1 dimana model terbaik adalah menggunakan Random Effect Model.
60 D. MODEL EMPIRIS RANDOM EFFECT
Setelah mengestimasi dengan metode random effect maka didapat tentang pengaruh variabel X1, X2, X3, X4, dan X5 terhadap variabel Y, dapat dilihat dari persamaan yang terambil dari estimasi adalah sebagai berikut :
Y = -0.237976 + 0.60058X1 + 6.64410X2 + 4.59276X3, + 5.25914X4 – 3.61520X5
Persamaan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
Apabila variabel lain bernilai konstan maka nilai Y akan berubah dengan sendirinya sebesar konstanta yaitu -0.237976
Apabila variabel lain bernilai konstan maka nilai Y akan berubah sebesar 0.60058 setiap satu satuan X1
Apabila variabel lain bernilai konstan maka nilai Y akan berubah sebesar 6.64410 setiap satuan X2
Apabila variabel lain bernilai konstan maka nilai Y akan berubah sebesar 4.59276 setiap satuan X3
Apabila variabel lain bernilai konstan maka nilai Y akan berubah sebesar 5.25914 setiap satuan X4
Apabila variabel lain bernilai konstan maka nilai Y akan berubah
sebesar -3.612520 setiap satuan X5 E. UJI ASUMSI KLASIK
1. Uji Normalitas
Tujuan dari uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah residual berdistribusi normal atau tidak.
61 H0 : Residual berdistribusi normal
H1 : Residual tidak berdistribusi normal
Gambar 4.1 Uji Normalitas
Berdasarkan hasil olahan tersebut diperoleh nilai probability sebesar 0.09758 dimana nilainya lebih dari α = 0.05 yang berarti H0 diterima dan dapat disimpulkan bahwa residual berdistribusi normal sehingga asumsi normalitas terpenuhi.
2. Uji Asumsi Non-Multikolinearitas
Tujuan dari uji non-multikolinearitas adalah untuk mengetahui adanya korelasi antar variabel independen atau tidak. Dimana model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel indepedennya.
62
Sumber : Hasil olahan Eviews 11
Berdasarkan hasil olahan di atas, dapat dilihat bahwa nilai korelasi antar semua variabel independen berada dibawah 0.8 dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas dan asumsi non-multikolinearitas telah terpenuhi.
3. Uji Heterokedastisitas
Tujuan dari uji ini apakah dalam model regresi terjadi kesamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Variance
dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas.
Dikarenakan model terbaik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Random Effect Model dimana salah satu keuntungannya yakni menghilangkan heteroskedastisitas. Random Effect Model juga disebut dengan Error Component Model atau teknik Generalized Least Square.
63 Maka dari itu model ini dapat menyatakan bahwa asumsi heteroskedastisitas telah terpenuhi.
4. Uji Autokorelasi
Tujuan dari uji autokorelasi adalah untuk mengetahui adanya korelasi yang ada di dalam model prediksi dengan perubahan waktu atau tidak.
Model regresi yang baik terhindar dari masalah autokorelasi. Pengujian autokorelasi dapat dilakukan dengan Run Test sebagai berikut :
a. Apabila D-W < -2 atau D-W > +2 berarti terdapat autokorelasi b. Apabila -2 < D-W < +2 berarti tidak terdapat autokorelasi
Tabel 4.5 Uji Autokorelasi
Sumber : Hasil olahan Eviews 11
Berdasarkan hasil olahan di atas, diperoleh nilai Durbin-Watson stat sebesar 1.65168 yang artinya nilai D-W berada di antara -2 < D-W < +2, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi dan asumsi non-autokorelasi telah terpenuhi.
64 F. UJI PARSIAL (Uji t)
Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependennya.
H0 : Variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
H1 : Variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
Tabel 4.6 Random Effect Model
Sumber : Hasil olahan Eviews 11
Dari Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa untuk variabel independen biaya operasional (X1) memiliki tingkat prob sebesar 0.452 sehingga H0 diterima yang artinya nilai prob X1 lebih besar dari α=0.05, maka biaya operasional tidak berpengaruh terhadap kinerja reksa dana saham.
65 Variabel independen umur reksa dana (X2) memiliki hasil prob sebesar 0.984 sehingga H0 diterima yang artinya nilai prob X2 lebih besar dari α=0.05, maka umur tidak berpengaruh terhadap kinerja reksa dana saham.
Variabel independen ukuran dana (X3) memiliki hasil prob sebesar 0.000 yang berarti nilainya lebih kecil dari α=0.05, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima yaitu ukuran dana berpengaruh terhadap kinerja reksa dana saham.
Variabel independen inflasi (X4) memiliki hasil prob sebesar 0.0002 yang berarti nilainya lebih kecil dari α=0.05, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima yaitu inflasi berpengaruh terhadap kinerja reksa dana saham.
Variabel independen pertumbuhan PDB (X5) memiliki hasil prob sebesar 0.029 yang berarti nilainya lebih kecil dari α=0.05, namun hasil REM eviews menunjukkan nilai negatif yang artinya H1 ditolak yaitu pertumbuhan PDB tidak berpengaruh positif terhadap kinerja reksa dana saham.
G. UJI F dan R-SQUARED
Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah secara simultan variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependennya.
H0 : Variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
H1 : Variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
66 Tabel 4.7
Random Effect Model
Sumber : Hasil olahan Eviews 11
R-squared dalam model ini didapat adalah sebesar 0.1862 artinya sebesar
18,62% variabel bebas mampu menjelaskan model dan mempengaruhi variabel terikat. Sedangkan F-Statistic yang didapat dalam model ini sebesar 12.7675 dengan probabilitas sebesar 0.0000, dengan probabilitas sebesar 0.0000 dan lebih kecil dari α sebesar 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa secara bersama-sama variabel bebas X1, X2, X3, X4, dan X5 berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat yaitu kinerja reksa dana (Y).
H. PEMBAHASAN
Biaya operasional (X1) pada penelitian ini berdasarkan uji t, tidak berpengaruh terhadap kinerja reksa dana saham. Pengaruh yang positif dan tidak signifikan dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain pertimbangan para investor setelah melihat semua keuntungan reksa dana menyebabkan investor dapat membeli reksa dana tanpa mempertimbangkan biaya reksa dana.
Hasil ini sama dengan hasil penelitian terdahulu (Nugraha, 2011) yang menyatakan bahwa biaya operasional memiliki pengaruh positif tidak
67 signifikan juga. Hal ini juga disebabkan karena ukuran reksa dana yang besar secara keseluruhan menyebabkan hampir seluruh biaya operasional yang dibebankan oleh manajer investasi ke nasabahnya tidak berpengaruh signifikan bila dibandingkan dengan total uang berputar secara keseluruhan di pasar reksa dana saham.
Umur reksa dana (X2) pada penelitian ini berdasarkan uji t, tidak berpengaruh terhadap kinerja reksa dana saham. Hasil ini sama dengan hasil penelitian terdahulu (Asriwahyuni, 2017) yang menyatakan bahwa umur reksa dana tidak berpengaruh terhadap kinerja reksa dana saham di Indonesia. Hal ini disebabkan karena umur suatu reksa dana hanya menjadi informasi lama suatu reksa dana di dalam pasar reksa dana secara keseluruhan dan untuk pergerakan reksa dana baik itu akan naik atau turun masih menjadi masa depan yang belum dapat ditebak.
Ukuran dana reksa dana (X3) pada penelitian ini berdasarkan uji t, berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja reksa dana saham. Pengaruh yang positif dan signifikan bisa diartikan bahwa ukuran dana kelolaan dapat dijadikan rujukan oleh investor saat akan membeli reksa dana saham. Besaran ukuran dana yang dikelola oleh manajer investasi mencerminkan kepercayaan dari investor terhadap suatu reksa dana. Manajer investasi yang mengelola reksa dana dengan dana yang lebih besar akan memiliki kinerja yang lebih baik. Hal ini antara lain disebabkan karena adanya economies of scales, bargaining power serta peluang return yang lebih besar bagi reksa dana tersebut. Nilai Aktiva Bersih yang besar juga memberikan keleluasaan bagi manager investasi di
68 dalam berinvestasi ke dalam portofolio. Hasil ini tidak sama dengan penelitian terdahulu (Gusni, Silviana, & Faisal H. 2018) yang menyatakan bahwa ukuran dana tidak berpengaruh. Perbedaan ini mungkin disebabkan karena jumlah sampel yang digunakan peneliti sebelumnya berjumlah 19 dan lebih berfokus pada kemampuan manajer investasi, sedangkan pada penelitian ini murni menganalisis 57 sampel reksa dana saham untuk dilihat ada tidaknya hubungan antara faktor X dan Y-nya.
Inflasi (X4) pada penelitian ini berdasarkan uji t, berpengaruh positif signifikan terdapat kinerja reksa dana saham. Salah satu dampak dari inflasi terhadap perekonomian adalah bahwa inflasi memperburuk distribusi pendapatan. Golongan masyarakat yang mempunyai penghasilan tetap mengalami penurunan pendapatan riil, sementara pemilik modal akan semakin kaya. Karena sebagian besar dari pemilik sertifikat reksadana saham adalah investor institusi dan investor golongan menengah ke atas, maka dengan meningkatnya inflasi akan berpengaruh terhadap peningkatan harga-harga saham. Terdapat perbedaan hasil dengan penelitian terdahulu (Maulana, 2013) yang menyatakan bahwa inflasi berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja reksa dana saham. Walaupun kedua hasil menyatakan pengaruhnya, namun perbedaan positif dan negatif pada hasil ini bisa jadi disebabkan karena perubahan budaya investasi di Indonesia yang salah satu faktor pembedanya yaitu tahun penelitian itu sendiri.
Pertumbuhan PDB (X5) pada penelitian ini berdasarkan uji t, berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja reksa dana saham, sehingga membuat H1
69 ditolak. Hal ini bisa disebabkan karena PDB pada tahun penelitian, angka yang dihasilkan dari tahun ke tahun cenderung naik secara rupiah, namun secara persentase pertumbuhan terjadi fluktuasi yang berlawanan dengan fluktuasi kinerja reksa dana saham dalam penelitian ini. Hasil ini tidak sama dengan penelitian terdahulu (Sari, 2019) yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap reksa dana.
Perbedaan ini mungkin disebabkan karena perbedaan sumber data pada variabel independen dimana pada penelitian ini menggunakan konsep pertumbuhan NAB dari masing-masing reksa dana.
70 BAB V
KESIMPULAN A. KESIMPULAN
Penelitian ini meneliti pengaruh biaya operasional, umur reksa dana, ukuran dana, inflasi, pertumbuhan PDB terhadap kinerja reksa dana saham di Indonesia. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dengan data panel. Data sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 57 sampel selama 5 tahun 2015-2019. Berdasarkan hasil analisis dan pembahan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Variabel biaya operasional dalam penelitian ini tidak berpengaruh terhadap kinerja reksa dana saham periode 2015-2019. Dengan demikian dalam hipotesis 1, terima H0 atau tolak H1. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nugraha (2011) menunjukkan bahwa biaya operasional memiliki pengaruh positif tidak signifikan terhadap kinerja reksa dana.
2. Variabel umur dalam penelitian ini tidak berpengaruh terhadap kinerja reksa dana saham periode 2015-2019. Dengan demikian dalam hipotesis 2, terima H0 atau tolak H1. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Asriwahyuni (2017) menunjukkan bahwa umur reksa dana tidak berpengaruh terhadap kinerja reksa dana saham
71 3. Variabel ukuran dana dalam penelitian ini berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja reksa dana saham periode 2015-2019.
Dengan demikian dalam hipotesis 3, tolak H0 atau terima H1. Pengaruh yang positif dan signifikan bisa diartikan bahwa ukuran dana kelolaan dapat dijadikan rujukan oleh investor saat akan membeli reksa dana saham. Besaran ukuran dana yang dikelola oleh manajer investasi mencerminkan kepercayaan dari investor terhadap suatu reksa dana.
Manajer investasi yang mengelola reksa dana dengan dana yang lebih besar akan memiliki kinerja yang lebih baik. Hal ini antara lain disebabkan karena adanya economies of scales, bargaining power serta peluang return yang lebih besar bagi reksa dana tersebut. Nilai Aktiva Bersih yang besar juga memberikan keleluasaan bagi manager investasi di dalam berinvestasi ke dalam portofolio. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Gusni & Faisal (2018) menunjukkan bahwa ukuran dana tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja reksa dana saham. Perbedaan ini mungkin disebabkan karena jumlah sampel yang digunakan peneliti sebelumnya berjumlah 19 dan lebih berfokus pada kemampuan manajer investasi, sedangkan pada penelitian ini murni menganalisis 57 sampel reksa dana saham untuk dilihat ada tidaknya hubungan antara faktor X dan Y-nya.
4. Variabel inflasi dalam penelitian ini berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja reksa dana saham periode 2015-2019. Dengan demikian dalam hipotesis 4, tolak H0 atau terima H1. Salah satu dampak
72 dari inflasi terhadap perekonomian adalah bahwa inflasi memperburuk distribusi pendapatan. Golongan masyarakat yang mempunyai penghasilan tetap mengalami penurunan pendapatan riil, sementara pemilik modal akan semakin kaya. Karena sebagian besar dari pemilik sertifikat reksadana saham adalah investor institusi dan investor golongan menengah ke atas, maka dengan meningkatnya inflasi akan berpengaruh terhadap peningkatan harga-harga saham. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Maulana (2013) menunjukkan bahwa inflasi memberikan pengaruh negatif terhadap kinerja reksa dana. Walaupun kedua hasil menyatakan pengaruhnya, namun perbedaan positif dan negatif pada hasil ini bisa jadi disebabkan karena perubahan budaya investasi di Indonesia yang salah satu faktor pembedanya yaitu tahun penelitian itu sendiri.
5. Variabel pertumbuhan PDB dalam penelitian ini berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja reksa dana saham periode 2015-2019.
Dengan demikian dalam hipotesis 5, tolak H1. Hal ini bisa disebabkan karena PDB pada tahun penelitian, angka yang dihasilkan dari tahun ke tahun cenderung naik secara rupiah, namun secara persentase pertumbuhan terjadi fluktuasi yang berlawanan dengan fluktuasi kinerja reksa dana saham dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sari (2019) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja reksa dana saham di Indonesia. Perbedaan
73 ini mungkin disebabkan karena perbedaan sumber data pada variabel independen dimana pada penelitian ini menggunakan konsep pertumbuhan NAB dari masing-masing reksa dana.
B. IMPLIKASI
Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti mengharapkan penelitian ini dapat dijadikan implikasi bagi beberapa pihak diantaranya investor, manajer investasi, kalangan akademis, peneliti serta pembaca lainnya.
1. Bagi investor, dalam menganalisis kinerja reksa dana saham yang dilakukan oleh manajer investasi secara simultan dan parsial biaya operasi, umur reksa dana, ukuran dana, inflasi dan pertumbuhan PDB mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja reksa dana saham. Akan tetapi dalam penelitian ini biaya operasi dan ukuran tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja reksa dana saham. Oleh karena itu investor perlu memperhatikan kebijakan investasi yang berada di dalam prospectus masing-masing reksa dana serta kondisi perekonomian di
Indonesia agar dapat mengambil keputusan yang tepat sebelum melakukan investasi pada reksa dana saham.
2. Bagi manajer investasi, diharapkan mampu lebih transparan dalam
2. Bagi manajer investasi, diharapkan mampu lebih transparan dalam